Ketikan kata kunci untuk mencari

Senjata Kimia


Menurut Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW, https://www.opcw.org/), “Istilah senjata kimia dapat diterapkan pada setiap bahan kimia yang memiliki sifat toxic (racun), atau juga prekursornya, yang dapat menyebabkan kematian, cedera, kelumpuhan sementara atau iritasi pada indera manusia sebagai akibat dari terpapar bahan tersebut. Amunisi senjata atau perangkat pengiriman yang dirancang untuk mengirimkan senjata kimia, baik yang terisi atau tidak terisi, juga dianggap senjata kimia.“

 

Dalam peperangan modern, senjata kimia pertama kali digunakan dalam Perang Dunia I (1914-18), di mana senjata gas menyebabkan cedera lebih dari satu juta korban dan membunuh sekitar 90.000 orang. Bertahun-tahun kemudian, senjata kimia telah digunakan berkali-kali, terutama dalam Perang Iran-Irak (1980-1988). Amerika Serikat dan Uni Soviet, selama dekade konfrontasi mereka dalam Perang Dingin (1945-1991), membangun sejumlah besar persediaan senjata kimia. Akhir dari Perang Dingin tersebut, dibuatlah kesepakatan untuk melarang semua senjata kimia dari jenis-jenis yang telah dikembangkan selama Perang Dunia I (generasi pertama), Perang Dunia II (generasi kedua), dan Perang Dingin (generasi ketiga).

 

Layaknya senjata nuklir dan senjata biologis, senjata kimia juga diklasifikasikan sebagai senjata pemusnah massal. Senjata pemusnah massal sangat efektif dalam melumpuhkan musuh karena potensi ledakan, sifat racun, atau sifat membakarnya. Senjata kimia dapat tersebar luas dalam bentuk gas, cair dan padat, dan dapat dengan mudah menimpa ke banyak orang, selain dari target yang diinginkan. Gas syaraf, gas air mata dan semprotan merica adalah tiga contoh senjata kimia modern


Komponen beracun (toxic) dari senjata kimia disebut agen kimia (chemical agents). Bahan kimia beracun, yang telah digunakan sebagai senjata kimia, atau yang telah dikembangkan untuk digunakan sebagai senjata kimia, dapat dikategorikan sebagai agen tersedak (choking agents), agen melepuh (blister agents), agen darah (blood agents), atau agen saraf (nerve agents), berdasarkan cara kerjanya (yaitu rute penetrasi dan pengaruhnya terhadap tubuh manusia). Contohnya adalah sebagai berikut: agen tersedak - klorin dan fosgen, agen melepuh - mustard, agen darah - hidrogen sianida, agen saraf – gas sarin, soman, VX.

 

Beberapa bahan kimia yang beracun, dan/atau prekursornya, juga digunakan secara global di industri. Misalnya, bahan kimia beracun digunakan sebagai bahan baku dasar, atau sebagai agen anti-neoplastik, yang mencegah perkalian sel, atau sebagai fumigan, herbisida atau insektisida. Bahan kimia tersebut dianggap sebagai senjata kimia jika diproduksi dan ditimbun dalam jumlah yang melebihi persyaratan untuk tujuan yang tidak dilarang menurut Konvensi Senjata Kimia di bawah OPCW.

Grup Agen Kimia dari Senjata Kimia

Daya tinggal telah dipaparkan

Efek reaksi ke manusia

Agen penyebab tersedak

 

 

Klorin (Cl)

Rendah

Bervariasi

Phosgene (PG)

Rendah

Tertunda

Diphosgene (DP)

Rendah

Tertunda

Chloropicrin (PS)

Rendah

Tertunda

Agen penyebab melepuh

 

 

Sulfur mustard (H, HD)

Sangat tinggi

Tertunda

Nitrogen mustard (HN)

Tinggi

Tertunda

Phosgene oxime (CX)

Rendah

Segera

Lewisite (L)

Tinggi

Cepat

Agen darah

 

 

Hidrogen sianida (AC)

Rendah

Cepat

Cyanogen chloride (CK)

Rendah

Cepat

Arsine (SA)

Rendah

Tertunda

Agen saraf

 

 

Tabun (GA)

Tinggi

Sangat Cepat

Sarin (GB)

Rendah

Sangat Cepat

Soman (GD)

Sedang

Sangat Cepat

Cyclosarin (GE, GF)

Sedang

Sangat Cepat

VX

Sangat tinggi

Cepat

Bahan-bahan kimia, yang secara eksplisit ditentukan dalam Konvensi Senjata Kimia oleh OPCW untuk tujuan pemantauan, mencakup berbagai senyawa dan mencakup agen kimia, serta prekursornya. Senyawa-senyawa kimia ini  tercantum dalam tiga daftar Schedule di Lampiran Konvensi tentang bahan kimia. Masing-masing Schedule ini memiliki persyaratan verifikasi yang berbeda.


Schedule 1 :

Bahan kimia termasuk yang telah atau dapat dengan mudah digunakan sebagai senjata kimia; dan sangat terbatas, digunakan untuk tujuan selain senjata kimia (jika ada). Bahan kimia di Schedule 1 ini tunduk pada pembatasan yang sangat ketat, termasuk plafon untuk produksi satu ton per tahun per negara anggota Konvensi OPCW, plafon pada kepemilikan total pada suatu waktu tertentu satu ton per negara anggota, persyaratan perizinan, dan pembatasan transfer. Pembatasan ini berlaku untuk fasilitas industri yang relatif sedikit yang menggunakan bahan kimia Schedule 1. Sebagai contoh, beberapa bahan kimia Schedule 1 digunakan sebagai bahan dalam sediaan farmasi atau sebagai bahan diagnostik. Misalnya, saxitoxin di Schedule 1, digunakan sebagai standar kalibrasi dalam program pemantauan keracunan kerang paralitik, dan juga digunakan dalam penelitian neurologis. Ricin, bahan kimia di Schedule 1 lainnya, telah digunakan sebagai alat penelitian bio-medis. Bahan kimia Schedule 1 lainnya biasanya diproduksi dan digunakan untuk tujuan perlindungan, seperti untuk menguji peralatan pelindung senjata kimia dan indikator agen kimia.

Schedule 2:

Bahan-bahan kimia, termasuk juga yang merupakan prekursor, atau dalam beberapa kasus dapat digunakan sebagai agen senjata kimia, namun memiliki sejumlah kegunaan komersial lainnya (seperti bahan dalam resin, penghambat api, aditif, tinta dan pewarna, insektisida, herbisida, pelumas dan beberapa bahan baku untuk produk farmasi). Sebagai contoh, BZ adalah bahan kimia neurotoksik yang tercantum dalam Schedule 2, yang juga merupakan perantara industri dalam pembuatan obat-obatan seperti klindinium bromida. Thiodiglycol adalah prekursor gas mustard sekaligus bahan dalam tinta berbasis air, pewarna dan beberapa resin. Contoh lain adalah DMMP, bahan kimia yang terkait dengan prekursor agen saraf tertentu yang digunakan sebagai flame retardant pada tekstil dan produk plastik berbusa.


Schedule 3:

Bahan-bahan kimia, termasuk yang dapat digunakan untuk memproduksi, atau dapat digunakan sebagai senjata kimia, namun banyak digunakan untuk tujuan damai (termasuk plastik, resin, bahan kimia pertambangan, fumigan penyulingan minyak bumi, cat, pelapis, agen anti-statis dan pelumas). Di antara bahan kimia beracun yang tercantum dalam Schedule 3 adalah fosgen dan hidrogen sianida, yang telah digunakan sebagai senjata kimia, namun juga digunakan dalam pembuatan resin polikarbonat dan plastik poliuretan, serta bahan kimia pertanian tertentu. Trietanolamina, bahan kimia prekursor untuk nitrogen mustard gas, ditemukan dalam berbagai deterjen (termasuk shampo, bak mandi busa dan pembersih rumah tangga) serta digunakan dalam desulfurisasi aliran gas bahan bakar.

 

Schedule: Kode yang mengidentifikasi bahan kimia beracun dan prekursornya dengan 3 digit angka dan satu huruf A atau B (misalnya 2B04, 3A01) seperti yang ditunjukkan dalam Lampiran Bahan Kimia dalam 
Konvensi Senjata Kimia:

Angka pertama mengidentifikasi Schedule: 2 atau 3

Huruf A berarti bahan kimia beracun (toxic chemicals) dan huruf B berarti prekursor

Dua digit terakhir mengidentifikasi nomor masuk bahan kimia di daftar Schedule. (Misalnya, 3B17 mengidentifikasi bahan kimia yang merupakan prekursor yang tercantum dalam Schedule 3 dengan nomor 17 (Nama Kimia "Trietanolamina").

 

Nama IUPAC: Nama kimia sistematik berdasarkan nomenklatur yang dikembangkan oleh International Union of Pure and Applied Chemistry (misalnya nama IUPAC dari Trietanolamina adalah 2,2 ', 2' '-Nitrilotrietanol)

 

Kode CAS RN (Chemical Abstracts Service Registry Number) adalah bilangan unik
untuk identifikasi yang dibuat oleh Chemical Abstracts Service (CAS) dari American Chemical Society. Kode ini dipisahkan oleh tanda hubung menjadi tiga bagian (misalnya Kode CAS RN dari Trietanolamina adalah 102-71-6).

 

Kode HS: Kode Sistem Harmonisasi, yakni Nomenklatur Sistem Harmonisasi Internasional
terdiri dari judul dan subjudul dan numeriknya kode yang dikelola oleh Organisasi Pabean Dunia (WCO) (misalnya kode HS (2017) Thiodiglycol adalah 2930.70).