Penelitian Kimia dan Teknologi Lingkunagn : Pengembangan Energi Terbarukan dari Limbah Industri Pangan dan Biomassa

Tahun : 2011

Dipa : Tematik TA 2011

Abstrak : Pemanfaatan etanol sebagai bahan bakar bukan hal baru dan telah diterapkan di banyak negara. Bioetanol merupakan etanol (C2H5OH) yang memanfaatkan biomassa sebagai bahan baku. Beberapa jenis tanaman budidaya, antara lain jagung, gandum, bit gula, singkong, sorgum manis, dan tebu, telah umum dimanfaatkan dalam produksi etanol. Pemanfaatan tanaman ini secara langsung untuk bahan bakar hayati (BBH) dikategorikan sebagai BBH generasi pertama (first generation biofuel). 
BBH generasi kedua (second generation biofuel) memanfaatkan biomassa berupa residu nonpangan seperti sampah kebun, limbah kayu, tongkol jagung, jerami, dan tandan kosong kelapa sawit. Produksi BBH generasi kedua, termasuk bioetanol, umumnya masih belum dapat diaplikasikan secara komersial karena produktivitasnya yang masih rendah. Pemanfaatan limbah cair sebagai bahan baku bioetanol dapat dikategorikan sebagai BBH generasi kedua karena memanfaatkan residu, salah satunya limbah industri pangan, diantaranya industri tahu, susu, cokelat, biskuit, dan lainnya.
Limbah cair proses pembuatan tahu misalnya, masih mengandung zat organik yang cukup tinggi serta mempunyai pH yang mendekati pH optimal proses fermentasi, sehingga berpotensi sebagai bahan baku bioetanol. Meskipun demikian, kandungan zat organik ini masih lebih rendah dari konsentrasi yang biasa diaplikasikan pada fermentor skala industri, sehingga dibutuhkan modifikasi proses untuk mendapatkan hasil yang optimal. 
Selain limbah pangan, limbah biomassa juga dapat menjadi alternatif sumber energi. Biomassa diambil dari limbah pertanian, limbah industri pengolahan kayu, limbah peternakan, dan limbah rumah tangga. Proses terjadinya biomassa adalah dimulai ketika tanaman menyerap energi dari matahari. Melalui proses fotosintesis dengan memanfaatkan air dan unsur hara dari dalam tanah serta CO2 dari atmosfer akan menghasilkan bahan organik untuk memperkuat jaringan dan membentuk daun, bunga, atau buah. Sementara itu, karena tidak mampu berfotosintesis sendiri, hewan memanfaatkan energi yang telah berubah bentuk menjadi daun, rumput atau yang lain dari bagian tumbuhan secara langsung untuk hidupnya. Sedangkan secara tidak langsung, misalnya hewan carnivora, prinsipnya tetap memanfaatkan energi yang telah berubah bentuk menjadi daging pada hewan lain.
Pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang ada di Indonesia, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara (PLTU-B), PLTU-Minyak, PLTU-Gas, Gas Combined Cycle, dan PLTG semua berkapasitas besar, antara 50-600 MW. Sementara, pembangkit listrik berbahan bakar non fosil, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) mempunyai kapasitas yang rendah (La Ode, 2006). Hal inilah yang mendorong perlunya dibangun alternatif bahan bakar untuk pembangkit listrik, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTB). Adapun tujuan umum penelitian adalah; pemanfaatan limbah industri pangan sebagai bahan baku produksi bioetanol serta pemanfaatan bioetanol hasil fermentasi limbah industri pangan menjadi bahan bakar nabati (“green fuel”) dan menyediakan alternatif pengolahan air limbah untuk industri kecil. Selain itu pemanfaatan limbah biomassa menjadi sumber alternatif energi terbarukan.

Anggota Penelitian :

ZONA INTEGRITAS