Standardisasi Ekstrak Pegagan, Centella Asiatica Sebagai Obat Herbal Terstandar Hepatoprotektor.

Tahun : 2015

Dipa : Tematik TA 2015

Abstrak : Penyakit hepatitis masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini disebabkan karena peradangan jaringan hati yang disebabkan oleh adanya infeksi atau non infeksi. Hepatitis yang disebabkan karena infeksi biasanya terjadi karena virus, terutama virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2007 diketahui bahwa prevalensi HBsAg sebesar 9,7 persen pada pria dan 9,3 persen pada wanita, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 45-49 tahun sebesar 11,9 persen. Sementara prevalensi penderita hepatitis C sebesar 0,8 persen, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 55-59 tahun, yaitu sebesar 2,12 persen. Hepatitis B, C, D dapat menimbulkan keadaan infeksi yang menetap yang akan menjadi hepatitis kronis, sirosis, dan kanker hati. Kerusakan hati juga dapat diakibatkan oleh alkohol, obat-obatan (asetaminofen, allopurinol, parasetamol, eritromisin dll), bahan beracun (Amanita phalloides) serta penyakit autoimun.
Hepatoprotektor adalah suatu senyawa obat yang dapat memberikan perlindungan pada hati dari kerusakan yang ditimbulkan oleh racun, obat, dan lain-lain. Ketergantungan obat di Indonesia yang sangat tinggi membuat sebagian masyarakat Indonesia tidak mampu menjangkaunya dan memilih pengobatan alternatif dengan menggunakan tanaman obat tradisional. Kekayaan alam Indonesia, khususnya tumbuhan merupakan sumber senyawa bioaktif yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat atau bahan obat.
Melalui kerjasama riset antara LIPI dengan Zhejiang University, China dalam hal pengembangan tanaman obat Indonesia, telah terseleksi 3 tanaman potensial, yaitu sukun (Artocarpus altilis) untuk penyakit kardiovaskular, dlingo (Acorus calamus) untuk penyakit diabetes dan pegagan (Centella asiatica) sebagai sumber senyawa hepatoprotektor. Pada tahun 2011 dan 2012 telah dilakukan penelitian farmakologi dan farmakokinetika terhadap tanaman sukun dan akan dikembangkan menjadi fitofarmaka melalui dana program kompetitif obat LIPI untuk tahun 2013 dan 2014. Sementara melalui dana DIPA Pusat Penelitian Kimia akan dikembangkan obat herbal terstandar berbasis pegagan sebagai hepatoprotektor untuk tahun 2013 dan obat herbal terstandar berbasis dlingo sebagai antidiabetes untuk tahun 2014.
Uji in vivo dan in vitro terhadap ekstrak tanaman pegagan telah menunjukkan hasil yang sangat baik. Ekstrak etil asetat 17,5 mg/kg BB dan butanol 228,8 mg/kg BB pegagan dibuktikan mempunyai efek hepatoprotektor pada uji in vivo menggunakan mencit yang diinduksi oleh CCl4. Ekstrak etil asetat mampu menurunkan kadar enzim alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST) sebesar 56 persen dan 44 persen berturut-turut, sementara ekstrak butanol mampu menurunkan kadar enzim AST sebesar 3 persen. Pemeriksaan histopatologi organ hati yang diberi perlakuan CCl4 menunjukkan efek hepatoprotektor pada penambahan ekstrak etil asetat dan butanol pegagan, dimana tidak tampak adanya nekrosis dan pembentukan vakuola.
Studi toksisitas akut terhadap ekstrak etil asetat dan butanol pegagan pada mencit menunjukkan bahwa hingga dosis 5 g/kg BB tidak tampak gejala toksisitas pada hewan uji.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa tanaman pegagan berpotensi untuk dikembangkan sebagai obat herbal terstandar.

Anggota Penelitian :

1. Tjandrawati
ZONA INTEGRITAS