Berita

Kini Limbah Plastik Mudah Terurai


19 November 2009

Jakarta- Melalui teknologi nano (nanotechnology), kemasan plastik dapat menjadi sangat ramah lingkungan karena sangat mudah terurai oleh mikroba yang ada dalam tanah. "Dengan nanoteknologi, plastik kemasan yang sebelumnya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai, menjadi mudah terurai hanya dalam 4-8 minggu, bahkan lebih cepat lagi," kata Sekjen Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI), Dr. Agus Haryono, di sela Konferensi Internasional "Advanced Materials and Practical Nanotechnology" di Jakarta. Plastik kemasan nanoteknologi yang disebut sebagai plastik "biodegradable" hasil riset bersama MNI itu, dibuat dengan mencampurkan kalsium karbonat dalam bentuk partikel nano dengan ukuran puluhan nanometer ke dalam bahan kemasan plastik polietilen (PE) atau polipropilen (PP) hingga 70 persen. "Kemasan plastik nanoteknologi mudah terurai karena dengan ukurannya yang sangat kecil, luas permukaanya menjadi lebih lebar, kontak dengan mikroba dalam tanah jauh lebih banyak," kata Pakar Kimia Polimer LIPI itu. Nanoteknologi berkaitan dengan bagaimana cara mengatur material, sruktur dan fungsi zat pada skala nano (satu nanometer sama dengan satu meter dibagi satu milyar -red) sehingga menghasilkan materi dengan struktur dan fungsi baru. Namun sayangnya, ujar dia, kemasan plastik nanoteknologi yang dibuat oleh mikroba ini masih lebih mahal dibanding kemasan plastik biasa sehingga akan sulit dilirik masyarakat meski sangat bagus untuk lingkungan."Tapi kami sudah mencoba mendorong Kementerian Lingkungan Hidup untuk membuat peraturan tentang pemanfaatan kemasan plastik biodegradable ini," kata dia. Menurut Agus, jika perusahaan plastik kemasan bisa memproduksi dua persen saja kemasan plastik biodegradable ini dari total produksi plastik PE dan PP-nya, sudah sangat bagus.Agus mengatakan, ada dua metode pembuatan kemasan plastik nanoteknologi, yakni secara kimia dan secara fisika. Secara kimia yaitu dengan melarutkan dan ditambahkan zat kimia tertentu sehingga muncul dalam bentuk bubuk seukuran nano atau dengan cara fisika yaitu dengan menghancurkan zat-zat dengan alat "high energy milling." Ketua Umum MNI Dr Nurul Taufiqurochman mengatakan, nanoteknologi saat ini sudah semakin diaplikasikan ke berbagai bidang seperti di bidang kosmetik, pengobatan, tekstil, bahan bangunan, teknologi informasi dan komunikasi dan lain-lain. (dew) sumber: www.technologyindonesia.com

Baca

Naik Pangkat Daun Sukun


19 November 2009

SERPONG - Jonathan berkenalan dengan khasiat seduhan daun sukun dari seorang kawan. Segala pikiran positif dan mind power sudah dikerahkannya, tapi ternyata hanya seduhan berasa sedikit sepat itulah yang mampu mengusir bayang-bayang ngeri tumor tumbuh di balik lehernya yang terasa kaku. Penasaran dengan khasiat daun penyelamatnya itu, Jonathan menyelidik ke perpustakaan di dunia maya. "Ternyata ada juga yang menyatakan daun ini berguna untuk penyakit jantung, ya, jadi saya minum terus saja sampai sekarang," katanya berbagi. Sukun (Artocarpus altilis) memang tak cuma dikenal dengan buahnya yang enak. Daunnya sudah secara empiris--berdasarkan pengalaman--terbukti bisa menolong mengatasi penyakit tekanan darah tinggi dan juga kencing manis. Sebagian bahkan menyebut khasiatnya yang sampai ke organ hati, gigi, serta gatal-gatal dan pembengkakan di kulit. Pengalaman seperti inilah yang membuat tim peneliti dari Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyertakan jenis daun lebar-lebar itu di antara 42 jenis tanaman yang dikenal berkhasiat sebagai obat jantung ke Universitas Zhejiang di Cina. "Berkedok" program pengembangan kemampuan biomedical engineering, tim yang terbagi menjadi tiga gelombang dalam periode 2004-2007 itu membandingkan daun sukun, di antaranya, dengan pepaya, belimbing, dan bawang putih. Lewat serangkaian uji in vitro menebeng peralatan modern milik universitas itu, tim mendapati bahwa ekstrak daun sukun memang yang paling efektif. Analisis, antara lain, dilakukan dengan sel endotel (pembentuk lapisan dalam pembuluh darah) untuk kasus atherosclerosis atau penumpukan lemak dalam pembuluh darah dan sel otot jantung untuk kasus hipertensi. "Aktivitas proliferasi dan viabilitas sel di kedua kasus itu terjadi paling tinggi dengan bantuan ekstrak daun sukun," kata Nina Artanti, peneliti bidang kimia bahan alam yang menjadi anggota tim, di kantornya, Selasa lalu. Ekstrak daun terpilih tersebut lalu diuji lebih jauh dengan teknik kromatogafi untuk dicari senyawa aktifnya. Hak paten yang keluar pada 2007 atas ekstrak total flavonoid dan fitosterol daun sukun sebagai obat kardiovaskuler dan teknik produksinya adalah buah rangkaian uji lanjutan itu. Hak paten terdaftar atas nama Leonardus Broto Sugeng Kardono, Kepala Pusat Penelitian Kimia, dan anak buahnya, Tjandrawati Mozef, selain Kepala LIPI Umar Anggara Jenie dan tiga orang dari Universitas Zhejiang. Kini, dua tahun berselang dari kerja sama itu, Broto, Nina, Tjandrawati, dan yang lainnya di Pusat Penelitian Kimia berancang-ancang menjejak ke tahap uji klinis--mencoba dosis tertentu pada pasien penyakit jantung kardiovaskuler. Tujuannya adalah membuat khasiat daun sukun menjelma menjadi obat yang bisa diresepkan. "Kami sudah presentasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita," kata Broto di sela-sela kesibukannya menerima tamu, Selasa lalu. Nina menjelaskan, mereka berani melangkah ke uji klinis karena uji pada tikus (in vivo)--yang sebagian dilakukan di Zhejiang--menunjukkan bahwa keempat senyawa aktif yang dimurnikan dari ekstrak daun sukun itu aman dikonsumsi. Dosis mematikannya tergolong besar, hingga 16 gram per kilogram berat badan (si tikus). "Tikus yang diberi obat terus-menerus selama tiga bulan, setelah dibedah, darahnya diambil, di cek enzim-enzimnya, morfologi jantung, ginjal, dan hati, juga tidak menunjukkan adanya efek samping," Nina menjelaskan. Menurut Nina, uji efektivitas juga menunjukkan hasil yang bagus. Uji ini dilakukan dengan cara membandingkan tikus ketika diberi obat-obatan lain, mulai dari aspirin, propanolol, sampai obat herbal ginkgo biloba. "Ekstrak memiliki aktivitas mendekati atau setara dengan obat-obatan itu," katanya. Dosis yang diberikan dalam uji terhadap hewan percobaan itu sebesar 50 miligram per kilogram berat tikus. Untuk uji klinis, tentu harus dihitung ulang formulanya yang pas untuk manusia. Begitu pula formula tabletnya, "Karena, kan, tidak mungkin mencekoki ekstrak ini ke manusia seperti melakukannya ke tikus," kata Nina. Khusus untuk formula tablet, Nina menyebut faktor waktu hancur dan reaksinya yang tidak menghalangi ekstrak diserap tubuh. "Ini memang tidak susah-susah banget. Akhir tahun ini kami targetkan formula tablet dan ekstrak terstandar itu sudah didapat," kata Nina. WURAGIL Uji Klinis Uji klinis tidak mudah dan tidak singkat. Andai kerja sama dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita atau dengan pihak lain disepakati, Broto menjelaskan, harus dilakukan presentasi dulu di hadapan anggota Komisi Etik. Lolos dari komisi itu, uji baru bisa dilakukan, pertama-tama, terhadap orang sehat. Uji pertama ini untuk memastikan keamanan calon obat tersebut. Baru, setelah itu, uji klinis mulai melibatkan orang sakit dengan jumlah terbatas. "Fase ketiga melibatkan orang sakit di multilokasi, dan yang terakhir berupa uji post market, pemantauan setelah obat dipasarkan," profesor riset di bidang kimia organik yang baru pekan lalu dikukuhkan itu menjelaskan. Uji klinis juga tidak murah. Ini, menurut Nina, berkaitan dengan alat yang diperlukan, misalnya untuk memantau akumulasi lemak pada aorta atau pembuluh darah besar yang mengalirkan darah dari jantung. Ini pulalah yang menyebabkan produk fitofarmaka (obat-obatan dari bahan tanaman) lokal masih bisa dihitung dengan jari. "Kebanyakan adalah obat sintesis (dari bahan kimia) yang diproduksi dan diuji di luar negeri dan tinggal dipasarkan oleh perusahaan farmasi di Tanah Air," katanya. Khusus untuk ekstrak daun sukun sebagai bakal obat jantung, ada setidaknya lima macam uji selain akumulasi lemak. Laju pengendapan, kekentalan, pembekuan, dan acute ischemia juga harus dikaji dan dibanding-bandingkan. "Kami harus pilih satu saja," kata Broto. Sambil menunggu kesepakatan skema kerja sama, khususnya yang terkait dengan pendanaan, antara atasannya dan pihak rumah sakit, Nina memilih menyibukkan diri dengan formulasi ekstrak dan tablet yang akan dipakai. Dengan 300 miligram per tablet, ia menghitung, dibutuhkan 5 kilogram ekstrak aktif etil asetat yang memuat senyawa aktif untuk keperluan uji klinis nanti. Sebagai pembanding, untuk 300 gram (0,3 kilogram) ekstrak yang dihasilkan untuk skala penelitian di laboratorium, diperlukan 15 kilogram daun kering. "Rasanya kami masih bisa memenuhi kebutuhan itu dari pohon sukun yang tumbuh di sekitar sini," katanya. Nina menambahkan, karakter daun juga dicari yang sama dengan yang telah diuji in vitro dan in vivo. sumber : www.korantempo.com

Baca

Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia 2009


19 November 2009

"Regulasi Pengadaan dan Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya dalam Rangka Mendukung Riset dan Industri” akan diadakan pada tanggal : 19 Desember 2009 Gedung Widya Graha Lantai 1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Gatot Subroto No. 10 JAKARTA RUANG LINGKUP Topik-topik yang akan dibahas dalam kegiatan ini adalah: Regulasi pengadaan dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Kebutuhan bahan kimia berbahaya untuk meningkatkan level of knowledge dalam pengembangan dan pendidikan IPTEK unggul nasional. Kajian litbang penanganan bahan kimia berbahaya di industri, lembaga penelitian, dan perguruan tinggi. Kegiatan Litbang di Lembaga Penelitian , Perguruan Tinggi dan Industri. TUJUAN Kegiatan Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia Tahun 2009 ini bertujuan mendapatkan keseragaman regulasi dan rekomendasi kemudahan pengadaan dan penggunaan bahan kimia berbahaya untuk mempercepat peningkatan level of knowledge dalam pengembangan dan pendidikan IPTEK unggul nasional. PESERTA Kegiatan Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia Tahun 2009 ini akan dihadiri sekitar 200 orang peserta yang terdiri dari peserta penyaji poster (poster dalam ukuran A0, panjang 90 cm – lebar 65 cm), para tamu undangan, dan peserta pendengar. Peserta lainnya adalah peninjau dari litbang, perguruan tinggi dan industri terkait serta perwakilan cabang Himpunan Kimia Indonesia, baik di lingkungan pemerintah maupun swasta LATAR BELAKANG Dalam suatu negara, hasil pengembangan teknologi mampu meningkatkan daya saing industrinya secara signifikan. Pemerintah dan para penggiat industri berupaya terus-menerus meningkatkan level of knowledge teknologi yang mereka miliki untuk lebih unggul dalam persaingan di era global dewasa ini. Oleh karena itu penguasaan teknologi terkini untuk dapat dikaitkan dan diselaraskan dalam industri nasional merupakan suatu keniscayaan. Masuk ke dalam abad 21, perubahan paradigma telah terjadi dalam memandang teknologi itu sendiri, dimana sifat-sifat dan kinerja material selama ini sudah dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga menjadi lebih efektif, efisien dan berdaya guna. Dalam gilirannya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kimia tentu perlu dukungan sumber daya manusia yang handal dan bahan kimia yang lengkap dan mencukupi. Dari agenda seminar yaitu kemudahan pengadaan dan penggunaan bahan kimia berbahaya, terutama untuk pengembangan dan pendidikan iptek dengan memanfaatkan potensi yang tersebar di Nusantara terhadap bahan kimia untuk kepentingan industri makanan, minuman, dan obat merupakan hal yang perlu didiskusikan dalam Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia Tahun 2009 dengan mengedepankan tema “Regulasi Pengadaan dan Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya dalam Rangka Mendukung Riset dan Industri”. PEMBICARA 1. Menristek 2. Dirjen IKAH 3. Deputi Badan POM 4. Deputi KLH / B3 5. PT. Sucofindo 6. LIPI (Inspektur OPCW Periode 1999-2009) 7. Deputi Bidang Peng. SIPTEKNAS 8. Koordinator Forum Ketua-Ketua Jurusan Kimia se-Indonesia Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Sekretariat Seminar Nasional dan Kongres HKI 2009 Pusat Penelitian Kimia – LIPI Telp : 021 – 7560549, Fax : 021 – 7560929 E-mail : HKI-2009@kimiawan.org C/P : Dr. S. Tursiloadi Informasi lebih lanjut dapat dilihat dalam leaflet-seminar-hki-2009 BIAYA REGISTRASI Peserta : - Industri / Umum / Lembaga Penelitian & Perguruan Tinggi Rp. 300.000 - Mahasiswa Rp. 150.000 Telah ditransfer melalui Bank BNI TAPLUS Kantor Cabang Fatmawati Acc. No. 0162593845 A.n Silvester Tursiloadi Dibayar pada saat seminar Kegiatan Seminar Nasional dan Kongres Himpunan Kimia Indonesia Tahun 2009 ini diselenggarakan pada: Waktu : Sabtu, 19 Desember 2009 , Tempat : Gedung Widya Graha Lt 1 Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia Jl. Gatot Subroto No. 10 – Jakarta Pendaftaran Seminar Paling lambat 15 Desember 2009

Baca

Malaysia Patenkan Produk Herbal


17 November 2009

Hasil penelitian buah Aglaia silvestris, tanaman perdu endemik Kalimantan, berhasil dipatenkan lebih dulu oleh Malaysia. Padahal periset Indonesia bersama ilmuwan Amerika Serikat lebih dulu menemukan manfaat herbal tanaman tersebut untuk antileukemia. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Pusat Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Leonardus Broto Sugeng Kardono pada orasi pengukuhan profesor riset bidang kimia organik di LIPI. Kardono menjelaskan,"Malaysia beralasan bahwa sumber daya genetik tersebut berasal dari Serawak." Malaysia sangat mengetahui potensi pasar produk tersebut sehingga berusaha mematenkan terlebih dulu, ungkap Kardono. Pada tahun 2000, Kardono bersama ilmuwan Universitas Illinois, Amerika Serikat, berhasil mengidentifikasi buah Aglaia silvestris mengandung senyawa rocaglamide yang menunjukkan aktivitas antikanker prostat dan antileukemia.Penelitian dilanjutkan tahun 2002 untuk reidentifikasi yang dilakukan bersama Ilmuwan Australia, dan senyawa tersebut diberi nama Aglaia foveolata .Hasil reidentifikasi tersebut menghasilkan senyawa antikanker prostat dan antileukemia. ”Indonesia kaya akan tumbuhan obat. Namun, kalah cepat dengan Malaysia untuk urusan mematenkannya,” keluh Kardono. Dari sumber daya hayati di Indonesia baru diperoleh sebanyak 49 senyawa potensial obat,” kata Kardono.(naw) sumber: www.technologyindonesia.com

Baca

Research Group: Analytical Chemistry


18 November 2009

Latar Belakang Pentingnya Penelitian Kimia Analitik: Berbagai kasus terkait kemampuan pengujian bidang kimia seperti kasus-kasus penolakan komoditas ekspor oleh negara-negara tujuan, penyalahgunaan bahan-bahan kimia bukan untuk pangan yang ditambahkan ke dalam bahan pangan. Kandungan bahan-bahan kimia berbahaya baik dalam bahan pangan maupun di lingkungan yang melebihi ambang batas; serta membanjirnya produk-produk impor dengan kualitas yang rendah dan mengandung bahan berbahaya masih sering terjadi di Indonesia. Mengingat berbagai permasalahan tersebut di atas, maka peningkatan kompetensi pengujian dengan menggunakan  prinsip prinsip metrologi kimia perlu dilakukan untuk menghasilkan data-data yang akurat, tertelusur  dan diterima oleh semua pihak baik di tingkat nasional maupun internasional. Oleh karena itu desiminasi   ketertelusuran untuk memperoleh komparibilitas hasil pengujian melalui penyediaan bahan acuan menjadi tantangan bagi Pusat Penelitian Kimia – LIPI khususnya laboratorium metrologi kimia. Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Tujuan: Menyiapkan PP Kimia LIPI   sebagai laboratorium nasional merologi kimia melalui kegiatan  pengembangan bahan acuan  dalam  upaya  untuk menjamin hasil pengukuran yang valid. Fungsinya:  mendesiminasikan  ketertelusuran pengukuran  ke laboratorium  pengujian sehingga  dapat menjamin  akurasi dan komparabilitas hasil pengujian nasional yang akhirnya  dapat diakui internasional . Sasaran : Membuat bahan acuan bersertifikat yang tertelusur ke Standar International sesuai dengan  ISO  guide 34 dan 35.   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: Membuat bahan acuan   bersertifikat yang tertelusur ke standar Internasional sesuai dengan iso Guide 34 dan 35 yang terdiri dari   Bahan acuan : logam dalam  larutan standar murni, logam dalam air minum, logam dalam tepung beras ,anion dalam air minum ,anion dalam  larutan standar murni, Residu pestisida dalam  buah , benzoate dalam makanan ,melamin dalam susu , Poly Aromatik Hidrokarbon dalam makanan  olahan ,  Buffer pH sekunder  ,  daya hantar listrik elektrolit gas untuk  kendaraan bermotor dan gas rumah kaca .    Potensi Pengguna Penelitian Keltian: Seluruh laboratorium  pengujian kimia ( Industri Dalam Negeri, Pemerintah dan swasta )

Baca

Research Group: Biomass Energy and Environment


18 November 2009

Latar Belakang Pentingnya Penelitian Energi Biomassa dan Lingkungan: Saat ini Indonesia mempunyai tantangan besar untuk meningkatkan kemandirian di bidang energi dalam rangka mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Selama ini sistem penyediaan energi nasional berorientasi pada penggunaan energi fosil, sedangkan pemanfaatan energi non-fosil/energi baru terbarukan (EBT) masih sangat rendah. Penggunaan energi fosil memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca yang tidak saja menyebabkan gangguan lingkungan terutama bertambahnya polusi udara tetapi yang utama adalah meningkatkan pemanasan global (global warming). Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, memiliki potensi biomasa yang sangat melimpah. Biomassa dari limbah pertanian dan kehutanan belum banyak dimanfaatkan.  Limbah ini dapat dikonversi menjadi bioenergi, seperti bahan bakar nabati (BBN) yang berfungsi untuk mensubstitusi bahan bakar yang berasal dari minyak (BBM). Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Keltian ini dikembangkan untuk berkontribusi dan membantu pemerintah, masyarakat dan industri guna (i) Mengembangkan energi biomassa sebagai energi alternatif ramah lingkungan,  (ii) berpartisipasi dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca yang berakibat pada pemanasan global, (iii) Mencegah penurunan kualitas lingkungan hidup, udara, tanah dan badan air yang diakibatkan oleh aktivitas pembangunan dan kegiatan industri  .   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: Kegiatan Penelitian pada kelompok ini  terdiri dari lima sub Kelti yaitu : 1)      Konversi Biomassa kegiatan difokuskan untuk menghasilkan Bioenergi ramah lingkungan seperti bahan bakar cair dan gas.  Proses konversi melalui cara fermentasi, gasifikasi, termokimia dll. 2)      Kilang Hayati : Melakukan kegiatan yang terintegrasi antara proses konversi biomassa untuk menghasilkan bahan bakar, dan bahan-bahan kimia dari biomassa sebagai  ko-produk kimia adi (fine chemicals). 3)      Pengelolaan Limbah Proses : Melakukan pengelolaan limbah proses konversi biomassa dan kilang hayati 4)      Kajian dampak lingkungan : Melakukan kajian dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan konversi biomassa dan kilang hayati. 5)      Pengembangan metoda analisis lingkungan : Melakukan pengembangan dan menyediakan metoda analisis untuk karakterisasi bahan, produk dan limbah kegiatan konversi biomassa dan kilang hayati   Potensi Pengguna Penelitian Keltian: Pemerintah, Masyarakat, Transportasi, Agro Industri , Industri kosmetik // // // //

Baca

Presentasi Food Safety


18 November 2009

Title: Presentasi Food SafetyLocation: Ruang Rapat lantai 2, PP Kimia LIPI SerpongDescription: Presentasi Food Safety Pembicara : Dr. Anri Tenri A. Karossi Start Time: 13:30Date: 2009-11-20

Baca

SEMINAR BTPK


18 November 2009

Title: SEMINAR BTPKLocation: Meeting Hall, Lantai 2 PP Kimia LIPI SerpongDescription: SEMINAR BTPK Penyaji : Ryanto Heru Nugroho Judul Presentasi : \"Produksi Asam Laktat Dengan Metode Fermentasi\" Start Time: 9:00Date: 2009-11-20

Baca

Research Group: Catalysis and Macromolecular


18 November 2009

Latar Belakang Pentingnya Penelitian katalis dan Makromolekul Pengembangan katalis maju dan makromelekul diarahkan untuk mengelola dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia secara signifikan. Dengan memperkuat kemampuan peneliti dalam bidang katalis maju dan makromelekul akan memberikan kontribusi yang besar dalam kemajuan bangsa Indonesia. Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Tujuan • Teknologi dan produksi katalis maju untuk konversi sumber daya alam Indonesia • Pengembangan dan sintesa makromolekul untuk industri kimia   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: 1)  Sintesa katalis untuk produksi kimia adi dan pengembangan makromelekul untuk pelapisan, adsorben dan bahan pengemas. 2) Implementasi penelitian katalisis dan makromolekul dalam bidang kesehatan   Potensi Pengguna Penelitian Keltian: Industri kimia adi, industri katalis dan adsorben, industri kapal, industri bahan makanan dalam kemasan, industri polimer, industri kosmetik, rumah sakit.

Baca

Research Group: Active Pharmaceutical Ingredients


17 November 2009

  Latar Belakang Pentingnya Penelitian Bahan Baku Obat: 1. Masih banyak kejadian penyakit di masyarakat Indonesia, antara lain: penyakit degeneratif dan infeksi. 2. BBO sebagian besar masih diimpor, sedangkan sumberdaya hayati yang berlimpah belum termanfaatkan secara optimal untuk BBO. Tujuan/ Fungsi/ Sasaran Keltian: Tujuan: untuk menemukan dan mengembangkan BBO dari tumbuhan, mikroba dan biota laut untuk penyakit degeneratif dan infeksi. Fungsi: sebagai sarana membangun kompetensi dan sinergi di antara para peneliti di bidang penemuan dan pengembangan BBO. Sasaran: memperoleh BBO untuk penyakit antibakteri, antikanker, antidiabetes, antidengue, antihiperkolesterolemia, dan antimalaria.   Kegiatan Penelitian Utama Kelti/ Sub Kelti disertai Deskripsi Singkat: 1. Subkeltian BBO Degeneratif Alami Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. uji klinik ekstrak daun sukun sebagai fitofarmaka antidiabetes dan antikolesterol b. pencarian antidiabetes dari biota laut c. pengembangan Macaranga spp. sebagai antihiperkolesterolemia d. formulasi sediaan herbal untuk antidiabetes 2. Subkeltian BBO Degeneratif Sintetik Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. sintesis turunan butirolakton dari Aspergillus terreus untuk BBO antidiabetes b. sintesis senyawa dimer turunan fenol untuk antiabetes 3. Subkeltian BBO Infeksi Alami Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. pengembangan senyawa antimalaria alami b. pengembangan obat herbal terstandar untuk antidengue c. pengembangan mikroba endofitik biota laut sebagai antikanker d. pengembangan biota laut sebagai antibakteri e. pengembangan bahan baku obat antikanker alami 4. Subkeltian BBO Infeksi Sintetik Subkeltian ini melakukan kegiatan: a. pengembangan turunan andrografolida sebagai antimalaria b. pengembangan turunan artemisinin sebagai antimalaria   Potensi Pengguna Penelitian Keltian: 1. Industri obat dalam negeri 2. Kementerian Kesehatan – RI 3. Masyarakat // // // //  

Baca

Development of Electrospun Nanofibrous Structures for Conductive, Antibacterial and Biomedical Applications


16 November 2009

Title: Development of Electrospun Nanofibrous Structures for Conductive, Antibacterial and Biomedical ApplicationsLocation: Ruang Rapat Lantai IV, Ged. 80 PP Kimia - LIPI BandungStart Time: 9:30Date: 2009-11-10End Time: 11:00

Baca

Konferensi Internasional Nanoteknologi dan Anugerah “Nano Award” 2009.


14 November 2009

Masyarakat Nano Indonesia dengan dukungan Kementerian Ristek menyelenggarakan ajang pertemuan ilmiah Internasional : “2nd ICAMPN : International Conference on Advanced and Practical Nanotechnology” yang bertemakan “Technology for better tomorrow” bertempat di gedung BPPT Jakarta tgl 11 - 12 Nov 2009. Mewakili Menteri Riset dan Teknologi Dr. Ir, Idwan Suhardi selaku Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek menyambut positif berlangsungnya ajang konferensi Internasional yang dihadiri sejumlah tokoh pakar nanoteknologi dari negara Asia-Pasifik yang berhimpun dalam Asia Nano Forum yakni a.l; Singapore, Malaysia, Korea Selatan, Kanada, Jepang, Australia selain ahli nanoteknologi dari Indonesia. Dibandingkan negara-negara maju yang telah lebih dahulu giat melaksanakan riset nanoteknologi maka riset bidang rekayasa teknologi canggih di Indonesia relatif masih berusia balita. Ketua Masyarakat Nanoteknologi Indonesia yang juga berprestasi tinggi selaku pakar bidang nantoteknologi Dr. Nurul Taufiqu Rochman, M.Eng ---ilmuwan penerima anugerah Habibie Award 2009--- meyakini bahwa riset nanoteknologi di tanah air dapat menjadi jawaban atas tantangan MDG : “Millennium Development Goals 2015” bagi negara berkembang layaknya Indonesia, khususnya dalam sektor-sektor pelayanan kesehatan, kelestarian lingkungan hidup, dan energi; oleh karenanya memandang amat perlu untuk memasyarakatkan informasi perihal penggunaan dan pencapaian nanoteknologi guna dapat diangkat sebagai perhatian bagi segenap khalayak masyarakat nasional. Sederet nama ahli Indonesia yang memaparkan presentasi dalam ajang konferensi, a.l: - Dr. Agus Haryanto (LIPI) dengan topik Nano-material based biodegradable food packaging. - Prof. Dr. Ismunandar (ITB) : Advanced Materials based on Metal Oxyde. - Dr. Eniya Listiani Dewi (BPPT) : Novel Polyelectrolyte for Alternative Hydrogen Fuel Cells. - Dr. Ratna Nuryadi (BPPT) : Nano device. Ahli nanoteknologi Internasional yang berperanan aktif dalam ajang konferensi yakni; Prof. Tomohiko Yamazaki, Ph.D sebagai tokoh representasi Asia Nano Forum. Nama-nama pakar pemrasaran paparan lainnya a.l : Prof. Dr. Hidekazu Tanaka ( Tokyo Institute of Technology - Jepang ), Prof. Michiharu Tabe (Shizouka University - Japan ), Prof. Dr. Yoshimitsu Uemura (Universitas Petronas - Malaysia), Prof. Dr Lu Li ( NUS - Singapore ), Prof. Dr. Kei Saito ( Monash University - Australia ), Prof. Abdellah Ajji ( Ecole Polytechnique of Montreal - Canada ), dll. Selain pembahasan topik perihal status terkini perkembangan aplikasi nanoteknologi dan strategi kebijakan pengembangan nanoteknologi di setiap negara Asia Nano Forum; paparan pembahasan yang diketengahkan meliputi topik-topik nanoteknologi dalam penerapan praktis serta berbagai perangkat di masa depan maupun yang siap diambang produksi seperti: Nano Foods & Food Packaging, Nano Catalysts, Nano Medicine & Pharmacy, Nanomaterials Synthesis & Processing, Nano Imaging & Sensor, Nano Devices & Characterizations, dan Energy & Environment. Dalam istilah praktis per definisi nanotechnology, adalah bidang ilmu rekayasa teknologi yang bertalian dengan material berdimensi mikrosopik ---teristimewa rekayasa manipulasi molekul--- yakni ujud materi dengan batasan ukuran lebih kecil daripada 100 nanometer. | nanometer ( nm ) dimensi ukuran senilai 1-per-1.000.000.000 meter ( m ) | Acara pamungkas konferensi pada hari kedua yakni pemberian anugerah “Nano Award” 2009 dari Masyarakat Nano Teknologi Indonesia yang didahului pemutaran film aktivitas kegiatan pemasyarakatan yang berjudul “4 Years of MNI : Developing Nation through Nanotechnology”. Sumber: http://www.iptek.net.id

Baca

LIPI Kukuhkan Tiga Profesor Riset


14 November 2009

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengukuhkan tiga orang Profesor Riset, masing-masing Dr. Hary Harjono, Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono, dan Drs. Daliyo, dalam sidang Majelis Profesor Riset yang digelar di Gedung Widya Graha LIPI, Jakarta, Jumat (13/11). Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono dikukuhkan sebagai Profesor Riset bidang Kimia Organik, Dr. Hery Harjono sebagai Profesor Riset Bidang Geologi dan Geofisika, dan Drs. Daliyo, MA dikukuhkan sebagai Profesor Riset Bidang Penduduk. Dr. Leonardus Broto Sugeng Kardono yang berasal dari Puslit Kimia LIPI, dalam pengukuhan tersebut menyampaikan orasinya berjudul ”Pengembangan Bahan Baku Obat Berbasis Sumber Daya Hayati”. Ia menjelaskan, Indonesia sebagai salah satu negara Megabiodiversity memiliki potensi sumber daya alam hayati yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan untuk kemudian dilakukan teknik-teknik sintesa maupun semisintesa, sehingga dapat menghasilkan sumber atau bahan baku obat baru. Beberapa diantaranya telah berhasil diisolasi dan dikembangkan serta diuji sekitar 49 buah senyawa potensial obat. Menurutnya, usaha untuk memperluas dampak keanekaragaman kimia senyawa bahan alam pada proses penemuan obat, dilakukan melalui dua jalur kimia utama. Pertama, dilakukan penyederhanaan campuran kompleks dan meningkatkan dampak komponen minor dalam uji aktivitas melalui pembentukan pustaka senyawa-senyawa bahan alam. Kedua, pendekatan menggunakan kekuatan sintesa kombinatorial untuk meningkatkan strukturnya dimana sifatnya yang unik senyawa bahan alam bisa terlihat. ”Dengan hadirnya teknologi rekayasa genomik, metabolomik dan sintesa kimia, memberi harapan yang menarik akan kemungkinan baru untuk memanfaatkan keragaman senyawa kimia yang luar biasa dari bahan alam untuk menghasilkan obat baru,” katanya. Sementara Drs. Daliyo, MA yang berasal dari Puslit Kependudukan LIPI. dalam pengukuhan itu menyampaikan orasi ilmiah berjudul ”Relevansi Penelitian Ketenagakerjaan dengan Pembangunan”. Ia memaparkan, sampai Februari 2009, tingkat pengangguran terbuka masih mencapai 8,14 persen sementara peningkatan ekonomi nasional pada tahun 2007-2008 baru mencapai 6,4 persen, yang mencerminkan tingkat kemiskinan belum mengalami penurunan. Menurutnya, konsep labor utilization merupakan konsep pengukuran pendayagunaan angkatan kerja (labour utilization concept) yang masih paling cocok untuk negara/wilayah dimana sektor pertanian dan sektor informal masih cukup dominan seperti di Indonesia. Konsep pendayagunaan angkatan kerja tidak hanya mampu mengukur besarnya tingkat pengangguran terbuka (open unemployment), dan setengah pengangguran karena jumlah jam kerja yang di bawah normal (underutilization by hours), namun juga mengukur jumlah jam kerja dan sekaligus produktivitasnya/pendapatannya (underutilization by income). Oleh karena itu, konsep tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengukur peran pembangunan ekonomi terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat melalui terbangunnya kesempatan kerja luas dan layak. Sementara Dr. Hery Harjono yang berasal dari Puslit Geoteknologi LIPI menyampaikan orasinya berjudul ”Geodinamika dan Pola Kegmpaan Busur Jawa-Sumatera”. (T. Gs/toeb) Kominfo, 13 November 2009

Baca

Paten Herbal Didului Malaysia


14 November 2009

 Jakarta, Kompas - Paten herbal dari hasil penelitian buah Aglaia silvestris, tanaman perdu endemik Kalimantan, didahului Malaysia. Padahal periset Indonesia bersama ilmuwan Amerika Serikat lebih dulu menemukan manfaat herbal tanaman tersebut untuk antikanker prostat dan antileukemia. ”Malaysia mengetahui potensinya besar sehingga dengan dana yang dimilikinya berusaha memberikan paten terlebih dahulu,” kata Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Leonardus Broto Sugeng Kardono, Jumat (13/11), seusai menyampaikan orasi pengukuhan profesor riset bidang kimia organik di LIPI. Selain Kardono, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Hery Harjono serta Daliyo dari Pusat Penelitian Kependudukan LIPI juga dikukuhkan sebagai profesor riset, pada acara yang dipimpin Kepala LIPI Umar Anggoro Jenie itu. Kardono menyampaikan bahwa pada tahun 2000 dia bersama ilmuwan Universitas Illinois, Amerika Serikat, berhasil mengidentifikasi buah Aglaia silvestris mengandung senyawa rocaglamide yang menunjukkan aktivitas antikanker prostat dan antileukemia. Pada tahun 2002 dilanjutkan penelitian reidentifikasi Aglaia silvestris oleh ilmuwan Australia. Hasil reidentifikasi berhasil dan mengubah namanya menjadi Aglaia foveolata. ”Penelitian ilmuwan Australia itu juga menemukan senyawa antikanker prostat dan antileukemia pada Aglaia foveolata. Malaysia kemudian buru-buru membeli hasil riset Australia itu dan membuat patennya,” kata Kardono. Alasan Malaysia untuk mematenkan adalah karena sumber daya genetik yang diambil ilmuwan Australia berasal dari wilayah Serawak. Menurut Kardono, riset sebelumnya sudah dilakukan di wilayah Kalimantan Tengah oleh periset Indonesia bersama Amerika Serikat. Namun, tidak sampai pada upaya mematenkan. ”Indonesia kaya akan tumbuhan obat. Namun, kalah cepat dengan Malaysia untuk urusan mematenkannya,” kata Kardono. Standardisasi jamu Salah satu upaya mengidentifikasi senyawa aktif herbal, Kardono di Pusat Penelitian Kimia LIPI membuat standardisasi jamu. Standardisasi dan pengendalian mutu jamu meliputi deskripsi morfologi, histologi, dan organoleptik. Kemudian identifikasi analisis kualitatif (metode kimia dan kromatografi), uji kemurnian, susut pengeringan, total abu, abu yang larut dalam asam, kandungan ekstrak, kandungan minyak asiri, dan lain-lain. ”Dari sumber daya hayati di Indonesia sudah diperoleh sebanyak 49 senyawa potensial obat,” kata Kardono. Geologi dan geofisika Dalam orasi pengukuhan profesor riset bidang geologi dan geofisika, Hery Harjono menyatakan, pendekatan seismologi, paleoseismologi, ataupun melalui pemantauan global positioning system (GPS) dapat digunakan untuk mengetahui lokasi rawan gempa dan perkiraan besarnya kekuatan gempa. ”Perkiraan waktu akan terjadinya gempa belum bisa ditentukan,” kata Hery. Kepala LIPI Umar Anggoro Jenie mengatakan bahwa Hery pada Juli 2004 pernah mengingatkan potensi gempa besar di barat Sumatera melalui sebuah brosur yang disampaikannya di DPR. Pada akhir tahun 2004 benar terjadi gempa besar dan tsunami di Aceh. Profesor riset lain yang dikukuhkan di bidang kependudukan adalah Daliyo. Dia mengungkapkan, tingkat konsumsi yang mendorong pertumbuhan ekonomi saat ini bukan dari masyarakat kelas bawah. Konsep pendayagunaan tenaga kerja masih paling cocok untuk negara pertanian. (NAW) sumber: http://cetak.kompas.com

Baca

Analisis Air Minum


30 Oktober 2009

Saya mau menganalisis air minum dalam kemasan? saya harus menghubungi siapa ya? Terima Kasih Dina-Bandung -- Silahkan hubungi ULJAK(Unit Layanan Jasa Analisis Kimia) tlp : (022) 2530031

Baca

ANTI BREAST CANCER ACTIVITY OF ETHYL ACETATE EXTRACT OF FERMENTATION BROTH EMPLOYING ENDOPHYTIC FUNGI TAXUS SUMATRANA ISOLATES


16 Oktober 2009

Fermentation broths of TSC 18 and TSC 22 fungi isolates obtained from Taxus sumatrana plant were investigated for their in vitro anti breast cancer activity against T47D cell line. The isolates were further identified by PCR and sequencing methods. In the fermentation experiments, the growth curves were constructed by plate count method and the pH change were recorded, while glucose and protein dynamics of the broth were determined by Nelson-Somogy and Lowry methods respectively. Anti-cancer activity was assessed by SRB (Sulforhodamine B) method. The investigation indicates the fermentation broth both isolates possessed the anticancer activity with IC50 of 42.6 ppm for TSC 18 and 55.7 ppm for TSC 22. Cisplatin which is used as a reference compound gave IC50 of 15.9 ppm . The PCR and tree view program proved that TSC 18 is Phomopsis sp. strain MAFF-238472 and TSC 22 is Coprinopsis cinerrea strain NBRC30628. Author : A.T.Karossi*, A.Poniah **, L.Z. Udin* dan S.Rieny ** * Research Centre for Chemistry – LIPI, Bandung, Indonesia **Faculty of Mathematics and Science – UNPAD- Bandung, Indonesia Source : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Pemekatan Protein Dalam Susu dan Kecap Menggunakan Membran Serat Berongga.


16 Oktober 2009

Pemekatan protein yang terdapat dalam susu segar dan kecap (manis dan asin) telah dilakukan menggunakan membran serat berongga polisulfon yang berbeda “molecular weight cut – off” (MWCO)nya. Membran yang digunakan dalam percobaan ini mempunyai MWCO sebesar 66.000, 87.000 dan 149.000 Dalton. Percobaan dilakukan pada sistim aliran umpan yang kontinyu dan parameter yang diamati adalah protein, gula dan NaCl. Koefisien rejeksi membran terhadap protein bervariasi tergantung pada jenis sampel yang diamati. Protein susu direjeksi oleh membran diatas 98 % tetapi gula lolos kepermeat. Koefisien rejeksi terhadap protein kecap manis jauh lebih rendah dibandingkan protein susu. Koefisien rejeksi tertinggi untuk kecap manis adalah sebesar 48 % dengan membran yang mempunyai MWCO 66.000 Dalton. Koefisien rejeksi membran terhadap protein kecap asin lebih kecil dibandingkan sampel kecap manis. Untuk kecap asin koefisien rejeksi membran terhadap protein tertinggi yaitu sebesar 27 % pada membran dengan MWCO 66.000 Dalton. Koefisien rejeksi membran terhadap NaCl pada larutan umpan kecap manis dan asin berkisar antara 8,74 sampai 23,96 %. Kata Kunci : Membran serat berongga, ultrafiltrasi, protein, susu, kecap. Penulis : Syahril Ahmad - Pusat Penelitian Kimia Sumber : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Aktivitas Antioksidan dan Toksisitas Ekstrak Air dan Etanol Daun Benalu ( Dendrophthoe pentandra L. Miq) yang Tumbuh pada Berbagai Inang


16 Oktober 2009

Benalu banyak digunakan secara tradisional di Indonesia sebagai tumbuhan obat, salah satunya sebagai anti kanker. Kanker merupakan salah satu penyakit degeneratif yang diakibatkan oleh adanya radikal bebas yang berlebihan dalam tubuh dimana antioksidan dapat mengurangi resiko terjadinya penyakit degeneratif. Benalu dilaporkan memiliki kandungan senyawa golongan flavonoid yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Potensi ini perlu diteliti sehingga pemafaatannya dapat lebih dikembangkan. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode “DPPH free radical scavenger” dan toksisitas dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) telah dilakukan pada ekstrak air dan etanol benalu (Dendropthoe pentandra (L.) Miq.) yang tumbuh pada berbagai inang (belimbing, mangga, kenanga, duku, sirsak, kepel, mahkota dewa, dan teh). Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan air benalu pada semua inang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan (nilai IC50 antara 6.4 - 51.8 µg/mL). Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa ekstrak etanol benalu pada inang kenanga, sirsak, kepel, dan mahkota dewa mempunyai efek toksik terhadap larva A. salina dengan nilai LC50 dibawah 1000 µg/mL, sedangkan ekstrak etanol pada inang yang lainnya dan ekstrak air tidak menunjukkan efek toksik terhadap larva A. salina (LC50 > 1000 µg/mL). Kata kunci: benalu, Dendrophtoe, DPPH, anti oksidan, toksisitas, penyakit degeneratif. Penulis : Nina Artanti1, Retno Widayati2, Sofa Fajriah1 1) Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia 2) Jurusan Farmasi Institut Sains dan Teknologi Nasional Sumber : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

PREPARATION OF IN - HOUSE COCOA FLOUR RMs AND DETERMINATION OF ITS Cd CONTENT BY USING GFAAS


16 Oktober 2009

In-house cocoa flour RMs instead of CRMs was prepared and checked of its homogeneity and stability. Due to CRMs are limited availability in terms of matrices of concern and costly (high production cost) making in-house coca flour RMs is alternatively used for daily quality control in the laboratory. The analysis method for reliable checking of homogeneity and stability of cadmium content in the in-house cocoa flour RMs was studied. The effects of magnesium nitrate and lanthanum/magnesium nitrate as chemical modifiers in the determination of cadmium in cocoa flour by GFAAS were studied as well. Detection limit of method was estimated to be 0.07 µg L-1(calculated as 3Sy/x/slope of calibration curve) and calibration curve of working range was linear. The results analysis for candidate of in-house cocoa flour RMs reveals the consistence results and no variability between and within-bottle observed at 95% limit of confidence and stabile during the period of time observed. author : Anna E. Persulessy - Analytical Chemistry Laboratory, Research Center for Chemistry, Bandung-Indonesia email : anna_ep@ yahoo.com source : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca

Uji Potensi Aktivitas Anti Kanker Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)


16 Oktober 2009

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui potensi aktivitas antikanker dari ekstrak daun pandan wangi menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Ekstrak dibuat dengan cara maserasi menggunakan tiga macam pelarut, yaitu butanol, etil asetat, dan petroleum eter. Uji toksisitas dilakukan dengan menggunakan larva udang Artemia salina Leach yang berumur 48 jam. Efek toksik masing-masing ekstrak diidentifikasi dengan presentase kematian larva udang menggunakan analisis probit (LC50). Ekstrak aktif kemudian diuji kandungan fitokimianya dan senyawa bioaktif yang disarankan menggunakan GC-MS. Hasilnya menunjukkan ekstrak etil asetat bersifat toksik (LC50 : 288,4 ppm). Senyawa yang terkandung dalam ekstrak etil asetat yang diduga toksik adalah senyawa terpenoid dan steroid. Kata kunci : Ekstrak Daun Pandan Wangi, BSLT, Artemia salina Leach, Fitokimia, dan GC-MS Penulis : Dede Sukandar, Sandra Hermanto, dan Emi Lestari - Program Studi Kimia Jurusan MIPA Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email : ds_tea2007@yahoo.com Sumber : Jurnal Kimia Terapan Indonesia vol 11 no.1, Juni 2009

Baca
ZONA INTEGRITAS