Berita

Meriah dan Mencerahkan, Science Show P2 Kimia dalam LIPI Goes to School Perdana


16 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] “Kimia itu menyenangkan”. Itulah kesan yang ingin disampaikan P2 Kimia LIPI melalui Chemistry Science Show ke siswa tingkat menengah. Prakarsa itu  disambut baik oleh Biro Kerjasama Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH). BKHH kemudian menjadikan Chemistry Science Show P2 Kimia sebagai salah satu bagian LIPI Goes To School edisi perdana. Ini merupakan sebuah ajang untuk mempromosikan program program LIPI kepada sekolah menengah. Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) sebagai ajang tahunan yang telah digelar LIPI selama beberapa dasawarsa terakhir dirasa perlu ditingkatkan. Hal untuk membangkitkan gairah generasi muda Indonesia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian yang sistematis. Maka lewat LIPI Goes to School, BKHH memperkenalkan dua program yang lebih anyar, Pekan Inovasi Remaja Nasional (PIRN) dan National Young Innovation Award (NYIA). Hal ini disampaikan dengan sangat interaktif oleh Kepala Sub Bidang Pengayaan Ilmiah Masyarakat BKHH, Yutainten, pada acara LIPI Goes to School. Acara digelar hari Kamis (4 Mei 2017) di SMAN 105 Jakarta. LIPI Goes to School yang dikemas khas ala anak muda terbukti efektif pada sekitar 100 orang siswa yang hadir. Mereka tak hanya berasal dari SMAN 105 Jakarta, namun juga sekolah sekitarnya seperti SMA N 15 Jakarta dan SMA N 11 Jakarta. Terbukti dari kemampuan siswa dalam menjawab selingan pertanyaan berhadiah yang dibuat Yuta. “LIPI punya 2 lomba karya ilmiah, sebutkan dan apa perbedaannya?”, ujar Yutainten memberikan pertanyaan. “LKIR dan NYIA, “ jawab Nafsah, salah satu siswi yang hadir. “LKIR mensyaratkan rentang usia peserta namun untuk NYIA syaratnya hanya di bawah 18 tahun, lanjutnya. Nafsiah pun mendapatkan bingkisan souvenir dari LIPI. Antusiasme juga terlihat dari cepatnya para siswa menghafal “Tepuk LIPI PASTI”, tepuk tangan khas untuk memperkenalkan karakter LIPI. LIPI yang Profesional, Adaptive, Scientific integrity, Teamwork dan Innovative. Chemistry Science Show yang ditampilkan peneliti P2 Kimia LIPI melanjutkan kemeriahan dan antusiasme siswa. Beberapa siswa masih setengah tidak percaya kalau sebenarnya, bahan bakar mesin diesel dan sabun dibuat dari minyak goreng. Namun setelah menyaksikan langsung proses pembuatannya, semua percaya kalau mereka juga bisa membuat biodiesel dan sabun sendiri. Dalam paparan yang lebih mendalam, Peneliti P2 Kimia mengingatkan bahwa Indonesia saat ini sudah menjadi negara yang memproduksi minyak sawit terbesar di dunia. Namun pengembangannya minyak sawit tidak boleh berhenti sampai disitu. "Nilai tambah minyak sawit Indonesia perlu ditingkatkan melalui teknologi pemanfaatan minyak sawit untuk diubah menjadi produk yang lebih berharga, “ ujar Teuku Beuna Bardant, peneliti muda P2 Kimia. “Untuk itulah LIPI berusaha menggairahkan siswa sekolah menengah untuk lebih peka terhadap potensi Indonesia dan ikut serta dalam memanfaatkan potensi tersebut, “ sambungnya. Dan, pemanfaatan minyak sawit ini hanya salah satu contohnya. Pemaparan tentang biodiesel dan sabun memberikan contoh nyata bagi siswa bahwa untuk untuk bisa menerapkan suatu teknologi, tidak cukup hanya menguasai satu bidang atau satu pelajaran saja. Sehingga secara tidak langsung mengingatkan siswa bahwa selagi muda, pelajari semuanya, jangan memilih berdasarkan yang disukai saja, karena kita tidak tahu ilmu mana yang kelak justru kita butuhkan dalam mengembangkan teknologi atau bahkan karir. Misalnya pada penjelasan tentang biodiesel, siswa dijelaskan mulai dari thermodinamika pembakaran internal dalam mesin hingga proses atomisasi bahan bakar dan hubungannya dengan viskositas bahan bakar. Asingnya istilah istilah ilmiah itu menjadi teratasi setelah melihat sendiri contoh proses atomisasi. Sujarwo, peneliti P2 Kimia lainnya yang turut membantu, menyemprotkan minyak goreng pada nyala api. Minyak goreng tidak teratomisasi sehingga tidak terjadi pembakaran. Namun saat biodiesel hasil produksi saat itu disemprotkan ke nyala api, terjadi ledakan kecil yang disambut meriah oleh para siswa. Antusiasme dan kepuasan siswa terlihat hingga akhir acara. Besar harapan bahwa program LIPI Goes to School menjadi sebuah program yang langgeng, dan terus menginspirasi siswa dengan semangat muda untuk mengembangkan teknologi yang memanfaatkan potensi bangsa di kemudian harinya. <ES dan TBB/ p2 kimia>

Baca

Di FGD Kemenprin dan UNDP, Agus Jabarkan Upaya Menekan PBDEs pada Limbah dan Plastik


15 Mei 2017

  [Berita P2 Kimia, Tangerang] Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK), Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bekerjasama dengan United Nations Development Program (UNDP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada hari Jum’at (12 Mei 2017). FGD di Tangerang tersebut mengusung judul “Kajian dan Pengujian Polybrominated Diphenyl Ethers (PBDEs) yang Berasal dari Proses Produksi Kegiatan Daur Ulang dan Pengolahan Limbah Plastik” PBDEs adalah salah satu senyawa umum yang lazim digunakan untuk membuat beragam bahan-bahan tahan api, termasuk tekstil, pakaian, kemasan botol, pembungkus kabel, furnitur, karpet, dsb. Sejumlah penelitian di berbagai dunia telah mengungkap potensi bahaya PBDEs terhadap kesehatan manusia lingkungan. Beberapa jenis PBDEs yang telah diteliti menunjukkan bahwa zat-zat tersebut dapat mengganggu hormon, menurunkan kecerdasan, menimbulkan kanker, dan lain-lain. Sejumlah negara di Uni Eropa dan Amerika juga telah mengeluarkan regulasi guna melarang penggunaan PBDEs. Dalam FGD tersebut, Kemenperin mengundang Dr. Agus Haryono, peneliti senior bidang kimia polimer sebagai narasumber utama untuk memaparkan lebih lanjut penelitian terkait PBDEs. Tak kurang 50 peserta yang berasal dari instansi pemerintah dan industri, terutama yang bergerak di bidang pengolahan limbah dan plastik, turut menyimak paparan Agus dengan seksama. Agus menyampaikan paparan berjudul “Reducing Releases of Polybromodiphenyl Ethers (PBDEs) and Unintentional Persistent Organic Pollutants (UPOPs) Originating from Unsound Waste Management and Recycling Practices and The Manufacturing of Plastics in Indonesia” Kalau diterjemahkan kurang lebih artinya “Upaya mengurangi pelepasan PBDEs dan UPOPs yang Berasal dari Pengolahan Limbah dan Praktek Daur Ulang yang Kurang Higienis dan Pengolahan Plastik di Indonesia”. “Penelitian kami menggunakan sampel berupa produk yang beredar di pasaran, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Jawa dan Sumatra, serta industri daur ulang plastik, “ terang Agus yang juga merupakan Kepala Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI ini. “Pengujian dilakukan menggunakan alat lab kami untuk mengidentifikasi kandungannya, “ lanjutnya. Agus selanjutnya merinci hasil penelitian timnya. Dia juga mengungkapkan sejumlah PBDEs yang masih diproduksi maupun sudah dilarang di berbagai negara. Beberapa upaya untuk menekan PBDEs pun tak lupa diterangkan olehnya. <aars/ p2k>

Baca

Torehan Kinerja Emas di Peringatan 55 Tahun P2 Kimia LIPI


09 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Jum’at, 10 Februari 2017, telah berkumpul banyak orang berpakaian olah raga di halaman depan Gedung Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI. Pagi itu, mereka tengah bersiap melaksanakan rangkaian peringatan 55 tahun perjalanan P2 Kimia LIPI (27 Januari 1962 – 27 Januari 2017). Hujan rintik rintik yang tidak kunjung reda membuat panitia melaksanakan rencana cadangan. Bertempat di ruang pilot plant belakang, senam bersama seluruh sivitas pun tetap dilangsungkan.  Senam bersama dipimpin instruktur berpengalaman Ci Lily. Setelah acara senam bersama, hujan pun reda, dan para peserta kembali ke depan. Di ruang parkir depan, telah tersedia sejumlah stand dengan aneka ragam dagangannya. Beberapa yang dijual diantaranya pakaian muslim, pakaian anak-anak, sepatu, lauk pauk, cemilan kering, kebab, sosis bakar, empek-empek, dan aneka ragam makanan lainnya. Makanan ini ternyata digemari oleh para pengunjung.  Tak lupa pertunjukkan band lokal P2 Kimia turut mengiringi acara. Sejumlah karyawan pun didapuk menjadi penyanyi dadakan. Acara dilanjutkan dengan lomba menyusun baut bertingkat yang dilakukan secara berpasangan. Kegiatan ini memang dikoordinasi oleh Bidang Sarana Penelitian, sehingga lomba yang digelar pun cukup unik. Dengan tekun, para peserta menyusun satu persatu baut hingga enam tingkat. Mereka dinyatakan menang jika baut sudah tersusun rapi dan stabil selama beberapa waktu. “Ya, sayang sekali, “ keluh penonton histeris, melihat salah satu peserta sudah berhasil menyusun hingga tingkat lima tapi roboh. Setelah berjibaku cukup lama, akhirnya pasangan Dr. Rosi Ketrin dan Dra. Puspa Dewi N.  berhasil menyelesaikan tantangan ini paling awal. Mereka, bersama dua pasangan lain mendapatkan bingkisan hadiah kemenangan. Lomba berikutnya, masih terkait sarana prasarana P2 Kimia, adalah menyusun puzzle. Puzzle itu bergambarkan alat-alat laboratorium yang ada di P2 Kimia. Di lomba ini, Luthfiana Nurul H. dan Dillani Putri Ramadhaningtyas berhasil menjadi pemenang pertama. Usai lomba, panitia membagikan sejumlah doorprize hiburan. Doorprize tidak hanya diberikan untuk karyawan peserta kegiatan, tapi juga penjaga stand bazaar. Torehan Kinerja Emas Menginjak acara inti, para karyawan berkumpul di ruang lobby dan halaman P2 Kimia. Di sini, Kepala P2 Kimia, pejabat struktural dan koordinator kelompok penelitian akan menandatangani perjanjian kinerja. Perjanjian ini memuat rencana target capaian P2 Kimia tahun 2017. “Kita patut bersyukur, P2 Kimia telah berhasil mencapai target kinerja tahun lalu, bahkan diantaranya menorehkan prestasi terbaik, “ buka Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia LIPI. “Pertama, jumlah publikasi kita adalah terbanyak se-kedeputian IPT, “ lanjut Agus. “Kedua, jumlah paten kita mencapai tertinggi se-LIPI, “ terang doktor lulusan Waseda University, Jepang ini. Tepuk tangan riuh langsung bergema. Para peneliti tampak senang mendengar penjelasan Agus. Tepuk tangan ini masih berlanjut saat Kepala P2 Kimia melanjutkan beberapa capaian lainnya, termasuk kerjasama penelitian, pemasyarakatan iptek, lengkapnya laporan administrasi, dsb. “Ini semua bisa tercapai berkat dukungan dan kerjasama kita semua. Dan semoga capaian ini bisa ditingkatkan di tahun 2017, “ pungkasnya. Kepala P2 Kimia membacakan target kinerja tahun 2017. Selanjutnya, dilakukan penandatanganan perjanjian kinerja dengan para pejabat struktural dan koordinator keltian. Menjelang siang, acara diakhiri dengan makan bersama. Sejumlah pedagang bazaar pun mulai berkemas menutup dagangannya. (ES & aars/ P2 Kimia)

Baca

Dua Peneliti P2 Kimia Terima Anugerah Toray Jepang 2017


09 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Jalinan kerjasama di bidang Industri selama lebih dari 40 tahun telah meyakinkan Industri Toray untuk berkontribusi dalam pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia. Sebagai agenda tahunan, Indonesian Toray Science Foundation (ITSF) mengadakan ceremony tahunan sebagai puncak apresiasi industri Toray (Jepang) terhadap pengembangan riset dan sains Indonesia. ITSF mengadakan seminar ilmiah/presentasi hasil penelitian pendanaan ITSF Tahun 2016 (7 Maret 2017) dan penganugerahan bagi pemenang terpilih (8 Maret 2017) dari beberapa program terkait pengembangan sains dan IPTEK di Indonesia, diantaranya: Science Education Award, Science & Technology Award, dan Science & Technology Grant. Pusat penelitian kimia (P2K) LIPI adalah salah satu pusat penelitian di Indonesia yang beberapa kali telah terpilih menjadi pemenang pada program Science & Technology Grant. Tahun 2017, dua peneliti P2K LIPI terpilih menjadi penerima dana pendukung pengembangan penelitian pada program Science & Technology Grant. Keduanya adalah peneliti berprestasi yang sudah memiliki pengalaman dalam dunia penelitian yang fokus pada lingkungan dan teknologi proses, yaitu: Ajeng Arum Sari, PhD  dan Nino Rinaldi, PhD. Ajeng memiliki judul penelitian The development of environmental friendly immobilized activated carbon from black liquor sludge and enzyme of white rot fungi to degrade organic pollutant. Sementara Nino mengusung penelitian Development of Synthetic Layered Materials using Titanate and Manganate as Catalysts for the Upgrading Pyrolysis Bio-Oil Process. “Penghargaan ini merupakan apresiasi tak ternilai dan mendorong para peneliti P2 Kimia untuk terus berkiprah secara nyata, “ terang Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia saat mengungkapkan kebahagiaannya. Selain penganugerahan, Keynote speaker yang dihadirkan saat itu: Suharyo Sumowidagdo, PhD (peneliti LIPI dari Pusat Penelitian Fisika yang terlibat dalam kolaborasi riset LIPI-CERN/ALICE) menyampaikan motivasi bagi semua undangan terutama akademisi dan peneliti. Suharyo Sumowidagdo, PhD mendorong peneliti nasional untuk melakukan jalinan riset kerja sama dengan jaringan riset internasional untuk meningkatkan kualitas riset nasional yang membantu percepatan pemecahan isu-isu nasional atau penguatan riset fundamental yang mungkin di masa mendatang dapat menjadi sebuah perwujudan yang mendukung perkembangan teknologi dan zaman dari peradaban manusia pada abad mendatang. Selain itu, hal ini juga dapat memperkenalkan dunia riset nasional pada dunia riset internasional melalui peneliti-peneliti nasional yang juga berkompeten dan memiliki kapabilitas selayaknya peneliti internasional. (FA/ p2kimia)

Baca

Peringati Hari Perempuan International, Peneliti P2 Kimia Diliput Media


09 Mei 2017

Memperingati Hari Perempuan international yang jatuh 8 Maret 2017, sejumlah peneliti LIPI termasuk dari Pusat Penelitian Kimia menjadi iiputan media sebagai figur keberhasilan perempuan. Berikutan liputan lengkapnya.   Peneliti Perempuan Berperan Signifikan Untuk Perubahan Para peneliti perempuan selama ini memberikan peran yang signifikan dalam bidang sains. Karena itu Hari perempuan internasional 2017 yang jatuh pada Rabu, 8 Maret 2017 ini layak diperingati untuk mengapresiasi keberhasilan kaum perempuan di berbagai bidang termasuk sains. Hal tersebut diutarakan Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nur Tri Aries Suestiningtyas. Dia menuturkan para peneliti perempuan menempati posisi penting dalam kemajuan peradaban bangsa. "Sejumlah hasil karya dan temuan penelitian telah berhasil diberikan oleh perempuan di bangsa ini untuk perkembangan sains di Indonesia," ujarnya di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima "PR". Dia menjelaskan, berdasarkan data Sistem Informasi Pegawai (SIMPEG), saat ini LIPI memiliki peneliti perempuan sebanyak 723 orang yang tersebar di 48 satuan kerja seluruh Indonesia. "LIPI memiliki sederet kisah inspiratif dari peneliti perempuan tersebut yang diharapkan bisa memotivasi perempuan Indonesia lainnya,” katanya. Karena itu, pihaknya pada Rabu, 8 Maret 2017 ini menyelenggarakan diskusi Hari Perempuan Sedunia 2017 dengan tema “Peneliti Perempuan untuk Perubahan”. Diskusi tersebut menurut dia juga diharapkan dapat mendorong peran mereka untuk lebih signifikan lagi dalam dunia sains, dan juga memberikan motivasi bagi generasi muda. Sejumlah peneliti perempuan yang dimiliki LIPI diantaranya adalah Evy Ayu Arida (Peneliti Bidang Zoologi), Ratih Asmana Ningrum (Peneliti Bidang Bioteknologi), Neni Sintawardani (Peneliti Bidang Teknologi Sanitasi Lingkungan), dan Yenny Meliana (Peneliti Bidang Kimia). Evy Ayu Arida adalah Peneliti Bidang Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, penelitian yang ditekuninya seputar hewan melata atau herpetofauna. Sejak bergabung pada 2000 sebagai peneliti, bidang herpetofauna masih sangat minim peminat. Namun, hingga saat ini bidang tersebut ditekuninya. Evy meraih gelar Master of Science, Flinders University Adelaide, Australia pada 2005 dan Doktor rerum naturalium, Rheinische Friedrich-Wilhelms- Universität Bonn, Jerman pada 2011. Sementara itu Ratih Asmana Ningrum adalah Peneliti Muda Bidang Bioteknologi Kesehatan di Pusat Penelitian Bioteknologi. Ratih fokus melakukan riset di laboratorium protein terapeutik dan vaksin. Pada 2012, ia telah berhasil meraih gelar Doktor bidang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, Ratih sempat memperoleh penghargaan program National Fellowship Loreal UNESCO for Women in Sciences 2013 dengan kategori Life Sciences. Adapun Neni Sintawardani adalah Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI. Penelitian yang dilakukannya adalah teknologi sanitasi lingkungan dan salah satu temuannya yakni Biotoilet Berpengaduk Manual. Fokus penelitian Neni bertujuan agar memudahkan masyarakat miskin memiliki akses sanitasi yang memadai dan air bersih. Neni meraih gelar Doktor bidang process engineering di Hohenheim University, Jerman. Sedangkan Yenny Meliana merupakan Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Sejak bergabung sebagai peneliti pada 2005, Yenny telah fokus pada riset bidang kimia. Lewat penemuan pada Pengembangan Bahan Baku Obat Malaria dengan Teknologi Nano, ia berhasil memperoleh penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oréal – UNESCO for Women In Sciences National Fellowship Awards for Woman 2016. Yenny meraih gelar doktor bidang Chemical Engineering di National Taiwan University of Science and Technology, Taiwan.***     Para Ilmuan Perempuan LIPI Berbagi Kisah di Hari Perempuan Internasional Peran perempuan dalam membangun negara semakin diakui. Kesetaraan gender yang kerap diperjuangkan membuat perempuan berani membuktikan potensi yang dimilikinya.  Dalam bidang keilmuan, perempuan juga menempati posisi penting sebagai peneliti. Hal ini terlihat dari banyaknya perempuan yang menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Sedunia, yang jatuh pada Rabu (8/3) sejumlah perempuan peneliti dari LIPI berbagi kisah inspiratis mereka kepada para perempuan, dan akademisi. Para peneliti itu antara lain, Evy Ayu Arida (peneliti bidang zoologi), Ratih Asmara Ningrum (peneliti bidang bioteknologi), Neni Sintawardani (peneliti bidang lingkungan), dan Yenny Meliana (peneliti bidang kimia). Evy Ayu Arida, peneliti bidang zoologi ini fokus pada proyek penelitian tentang hewan melata atau reptil. Baginya, pekerjaan yang identik dengan laki-laki itu sangat menyenangkan. "Saya berhadapan dengan hewan melata. Hal yang menjijikkan bagi perempuan, tapi saya menikmati itu. Dan saat saya melakukan pekerjaan ini, tidak ada perlakuan yang berbeda kepada saya," ujar Evy, Rabu (8/3) di Gedung LIPI, Semanggi, Jakarta Selatan. Hal serupa juga dialami tiga peneliti lainnya. Mereka menganggap menjadi peneliti di Indonesia adalah tugas yang mulia. "Saya bukan berasal dari universitas ternama, tidak seperti teman-teman peneliti yang lain. Tapi saya mampu menjadi peneliti LIPI," ucap Ratih Asmara Ningrum. Peneliti senior di bidang lingkungan, Neni Sintawardani menilai menjadi seorang peneliti di Indonesia memiliki tantangan tersendiri. "Kalau di daerah maju, semuanya serba mudah, perlengkapan penelitian tersedia. Tapi di mana tantangannya, justru peneliti itu harus kreatif di tengah keterbatasan," ungkapnya. Sementara peneliti bidang kimia, Yenny Meliana mengaku sempat menghadapi bermacam kendala saat menyelesaikan program doktornya. "Saya bukan dari kalangan orang yang mampu melanjutkan kuliah sendiri. Saya mendapatkan beasiswa. Beasiswa itu sifatnya terbatas, nggak bisa santai-santai. Saya harus menghabiskan waktu lima setengah tahun untuk menyelesaikan S3, beasiswa cuma tiga tahun, untuk menyelesaikan sisanya saya harus bekerja agar bertahan hidup," tukas Yenny.     Hari Perempuan Internasional Ini Empat Peneliti Wanita Handal di LIPI Hari perempuan internasional adalah perayaan internasional yang diperingati untuk mengapresiasi keberhasilan kaum perempuan di berbagai bidang termasuk sains. Sebagai bentuk penghargaan LIPI kepada perempuan Indonesia khususnya peneliti perempuan yang telah berkontribusi memajukan sains, maka LIPI menggelar diskusi publik untuk mendorong peran peneliti agar lebih signifikan lagi. Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan, saat ini berdasarkan data  Sistem Informasi Pegawai (SIMPEG) memiliki peneliti perempuan sebanyak 723 orang yang tersebar di 48 satuan kerja seluruh Indonesia. “LIPI memiliki sederet kisah inspiratif dari peneliti perempuan tersebut yang diharapkan bisa memotivasi perempuan Indonesia lainnya,” terang Nur saat memberikan sambutan dalam acara diskusi publik dengan tema 'Peneliti Perempuan untuk Perubahan', Rabu (8/3/2017). Adapun peneliti perempuan yang membagi kisah inspiratifnya yakni Evy Ayu Arida (Peneliti Bidang Zoologi), Ratih Asmana Ningrum (Peneliti Bidang Bioteknologi), Neni Sintawardani (Peneliti Bidang Teknologi Sanitasi Lingkungan), dan  Yenny Meliana (Peneliti Bidang Kimia). Evy Ayu Arida adalah Peneliti Bidang Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, penelitian yang ditekuninya seputar hewan melata atau herpetofauna. Sejak bergabung pada 2000 sebagai peneliti, bidang herpetofauna masih sangat minim peminat. Namun, saat ini bidang tersebut ditekuninya. Evy meraih gelar Master of Science, Flinders University Adelaide, Australia pada 2005 dan Doktor rerum naturalium, Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn, Jerman pada 2011. Ratih Asmana Ningrum merupakan Peneliti Muda Bidang Bioteknologi Kesehatan di Pusat Penelitian Bioteknologi. Ratih fokus melakukan riset di laboratorium protein terapeutik dan vaksin. Pada 2012, ia telah berhasil meraih gelar Doktor bidang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, Ratih sempat memperoleh penghargaan program National Fellowship Loreal UNESCO for Women in Sciences 2013 dengan kategori Life Sciences. Neni Sintawardani adalah Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI. Penelitian yang dilakukannya yakni teknologi sanitasi lingkungan dan salah satu temuannya yakni Biotoilet Berpengaduk Manual. Fokus penelitian Neni bertujuan agar memudahkan masyarakat miskin memiliki akses sanitasi yang memadai dan air bersih. Neni meraih gelar Doktor bidang process engineering di Hohenheim University, Jerman. Yenny Meliana merupakan Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Sejak bergabung sebagai peneliti pada 2005, Yenny telah fokus pada riset bidang kimia. Lewat penemuan pada Pengembangan Bahan Baku Obat Malaria dengan Teknologi Nano, ia berhasil memperoleh penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oréal – UNESCO for Women In Sciences National Fellowship Awards for Woman 2016. Yenny meraih gelar doktor bidang Chemical Engineering di National Taiwan University of Science and Technology, Taiwan. Seperti diketahui, kesetaraan gender yang saat ini menjadi fenomena sosial telah menempatkan perempuan dalam posisi penting untuk kemajuan peradaban bangsa. Sebagai contoh, kontribusi wanita saat ini telah dirasakan dalam bidang sains. Sejumlah hasil karya dan temuan penelitian telah berhasil diberikan oleh perempuan untuk perkembangan sains di Indonesia. "Ini sebagai bentuk apresiasi kepada peneliti perempuan Indonesia dan memberikan motivasi bagi generasi muda," tukas Nur.

Baca

Lewat Seni Ilmu Pengetahuan, P2 Kimia LIPI dan L’Oreal Promosikan Peran Perempuan Indonesia


09 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] L’Oréal-UNESCO FWIS 2016 pada 4 November 2016 silam telah memberikan penghargaan bagi ilmuwan perempuan yang memiliki semangat untuk membangun Indonesia di bidang ekonomi, kesehatan dan lingkungan. Yenny Melliana, peneliti muda Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI menjadi salah satu ilmuwan Indonesia yang mendapatkan penghargaan tersebut lewat penelitiannya “Studi Nanocrystal Dan Nanodispersi Bahan Baku Obat Antimalaria Artemisinin”. Sebagai penerima anugrah L’Oréal-UNESCO FWIS, Yenny menerima bantuan pendanaan penelitian dan kesempatan untuk berbagi ilmu. P2 Kimia pada 16 maret 2017 dipercaya menjadi penyelenggara seminar Sosialisasi Program L’Oreal – UNESCO for Women in Science. Acara ini sebagai salah satu wahana bagi para penerima dan penyelenggara anugrah L’Oreal untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam pengembangan seni ilmu pengetahuan. Dalam kegiatan ini, dihadirkan tiga pembicara kunci, yaitu Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd. (Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Kemdikbud), Ariadne L Juwono, M.Eng. Ph.D. (Staf Akademik Fakultas MIPA UI) dan Melanie Masriel (Kepala Komunikasi PT L’oreal Indonesia). Acara dihadiri oleh para peneliti wanita dari 15 instansi, diantaranya LIPI, BPPT dan BATAN. Dosen dosen dari Swiss-German University dan Universitas Padjadjajaran juga turut hadir dalam seminar Sosialisasi Program L’Oreal – UNESCO ini.  L’Oreal – UNESCO Fellowship di Indonesia telah dimulai sejak 2004 dengan kerjasama dan dukungan penuh dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Prof. Dr. Arief Rachman sebagai Ketua Harian KNIU Kemdikbud juga turut memberikan sambutan dalam acara sosialisasi tersebut. L’Oreal – UNESCO for Women in Science sendiri merupakan program dukungan untuk peneliti wanita Indonesia yang berusia di bawah 40 tahun untuk berkiprah lebih cemerlang dalam bidang penelitiannya masing masing melalui mekanisme kompetisi. Bidang penelitian yang dimaksud diutamakan untuk Life Science, Material Science, Engineering atau Matematika. Para peneliti wanita terpilih ini kemudian akan berkompetisi di tingkat internasional mewakili Indonesia. Hingga tahun 2017, L’Oreal – UNESCO Fellowship telah memberikan penghargaan pada 45 peneliti Indonesia dan 5 di antaranya telah menerima penghargaan di tingkat Internasional Selain itu, L’Oreal – UNESCO Fellowship juga memperkenalkan program L’Oreal Girl in Science yang ditujukan kepada Mahasiswi S1 dari fakultas sains selain fakultas social dan humaniora. Hasrat mahasiswi dalam bidang sains dan cita cita untuk berkarir menjadi perempuan peneliti Indonesia akan dinilai berdasatkan essay dengan tema “ How Can You Contribute to Advancement of Science in Indonesia”. L’Oreal Sorority ini Science menjadi program kunci yang menghubungkan dua program di atas dan telah berlangsung selama 10 tahun di Indonesia. Melalui Program ini diharapkan para mahasiswi dapat menimba ilmu sebaik-baiknya tanpa khawatir akan dukungan finansial sehingga dapat lebih memfokuskan energinya untuk mewujudkan cita cita sebagai peneliti besar yang ia damba dambakan. <TBB/ p2kimia>

Baca

Workshop Penulisan Ilmiah Internasional, Upaya P2 Kimia Angkat Martabat Bangsa Lewat Publikasi


08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Ford Lumban Gaol, pembicara dalam pelatihan ini yang saat ini menjabat sebagai wakil direktur IEEE Indonesia, membuka bahasannya dengan sedikit cerita saat menghadiri pertemuan IEEE di tingkat ASEAN. Dalam 3 menit waktu yang disediakan untuknya menyampaikan sambutan, Ford kala itu berujar, “Jika dibandingkan jumlah masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai peneliti di Indonesia, maka akan setara dengan jumlah masyarakat Singapura yang dalam usia produktif saat ini. Dan jika dibandingkan jumlah sarjana Master dan Doktor di Indonesia yang begelut di bidang akademik dan penelitian saat, maka bisa jadi setara dengan jumlah masyarakat Malaysia dalam usia produktif saat ini. Sehingga, tinggal masalah waktu untuk Indonesia bisa memiliki jumlah publikasi yang lebih banyak daripada yang negara negara Anda miliki. Jika saat ini perhitungan berdasarkan persentase jumlah penduduk, memang terlihat paling kecil. Tetapi yang terlihat paling kecil itu adalah bagian dari sebuah negara yang besarnya mungkin sulit untuk bisa Anda bayangkan!” Pada acara makan malam di hari yang sama, Direktur IEEE ASEAN menyatakan kekagumannya atas kelihaian Ford dalam mencuplik fakta dan mengemasnya sehingga menggugah para pendengar. Kelihaian inilah yang diharapkan bisa ditularkan pada para peserta Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Internasional yang diselenggarakan pada hari Kamis dan Jumat, 20 – 21 April 2017. Demikian harapan tersebut disampaikan oleh Dr Arthur Lelono sebagai perwakilan Kepala Pusat Penellitian (P2) Kimia LIPI dalam sambutannya saat membuka acara. Peserta pelatihan berasal dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Swiss German University dan Universitas Haluoleo, walaupun didominasi oleh peneliti P2 Kimia dan beberapa pusat penelitian LIPI seperti PP Fisika dan PP Metalurgi. Antusiasme peserta terlihat dari 32 peserta hadir yang melebihi dari jumlah yang direncanakan. Workshop ini juga memberikan panduan untuk mengajukan proposal pada penyandang dana yang bertaraf internasional. Tidak hanya memerlukan kemampuan berbahasa Inggris yang memadai, menulis proposal dan artikel ilmiah sejatinya membutuhkan kemampuan dalam mengulik fakta fakta unik dan bermanfaat. Fakta unik dan bermanfaat ini selanjutnya dikemas untuk diselaraskan tidak hanya dengan cita cita dasar penyandang dana namun juga dengan kemashlahatan bangsa Indonesia. Pada hari berikutnya, pelatihan memberikan panduan lengkap dalam menyusun kutipan dan daftar pustaka sesuai dengan Mendeley. Pelatihan dipandu oleh salah seorang peneliti muda berprestasi P2 Kimia, Dr Andrianopsyah Mas Jayaputra. Penggunaan software Mendeley akan sangat membantu para peneliti dalam mengikuti aturan penulisan artikel di berbagai jurnal ilmiah internasional yang seringkali memiliki aturan yang berbeda. Selain itu, penulisan referensi dengan Mendeley membantu pendataan dalam deteksi dan rekapitulasi sitasi. Jika semua penulisan referensi sesuai aturan, maka penulis dengan mudah mengetahui kapan tulisannya dikutip penulis lain dan sebaliknya. Setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta terutama yang merupakan peneliti P2 Kimia LIPI diharapkan memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan jumlah publikasi artikel ilmiah di jurnal yang bertaraf internasional. Dengan demikian akan membantu terwujudnya P2 Kimia LIPI sebagai salah satu Pusat Unggulan IPTEK (PUI) sebagai cita cita jangka menegah, dan mewujudkan negara Indonesia yang lebih bermartabat di hadapan dunia akademisi dan ilmu pengetahuan sebagai cita cita jangka panjangnya. <TBB/ p2kimia>

Baca

Di KLHK, Edi Ungkap potensi LCA Guna Dukung Pengambilan Kebijakan


08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan (Pustanlinghut), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) “Penerapan SNI ISO 14040:2016 dan SNI ISO 14044:2017 tentang Manajemen lingkungan- Penilaian Daur Hidup”. Bertempat di Gedung Rimbawan, Manggala  Wanabakti, KLHK, Jakarta, acara diadakan selama 2 hari (5-6 April 2017). Bimtek tersebut dihadiri sekitar 50 orang yang terdiri dari para peneliti dan pengambil kebijakan di lingkungan KLHK. Kementerian/ Lembaga lain yang diundang diantaranya Kementerian Perindustrian, Pertanian, Energi Sumber Daya dan Mineral, Kelautan dan Perikanan, Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Tenaga Kerja, Luar Negeri, Badan Perencanaan Nasional, Badan Standarisasi Nasional, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. “Bimtek ini dimaksudkan untuk mengkaji implementasi ISO 14040/44 terutama pemanfaatan LCA di level pengambilan kebijakan, “ terang Ir. Noer Adi Wardojo, M.Sc, Kepala Pustanlinghut saat memberikan sambutan pembukanya. Di sesi pertama, Noer selanjutnya menerangkan beberapa contoh penerapan LCA untuk mendukung kebijakan, baik di dalam maupun luar negeri. “Aplikasi ini misalnya untuk ekolabel tipe 1 dan 3, untuk efisiensi produksi, penurunan emisi, dst.,” terangnya lebih lanjut. Dalam sesi tersebut, peneliti P2 Kimia LIPI, Dr.  Edi Iswanto Wiloso, juga turut diundang menjadi pembicara. Edi yang juga ketua Indonesian Life Cycle Assessment Network (ILCAN) menyampaikan pengantar konsep LCA dan beberapa studi kasus penggunaannya di luar negeri terkait dengan daya saing komoditi ekspor. “Indonesia termasuk tertinggal dalam menerapkan LCA, dibandingkan negara tetangga seperti Thailand maupun Singapura, “ terang doktor lulusan Leiden University, Belanda ini. Edi kemudian menyampaikan beberapa contoh aplikasi LCA di bidang energi, bangunan, kelautan dan sebagainya. Pembicara selanjutnya adalah Dr. Jessica Hanafi. Pengajar Universitas Pelita Harapan ini menyampaikan materi metodologi LCA. “Ada empat tahapan metode LCA, yaitu Penentuan Tujuan dan Ruang Lingkup, Inventori Daur Hidup, Penilaian Dampak Daur Hidup dan, Interpretasinya, “ terang Jessica yang juga merupakan pengurus ILCAN ini. Jessica selanjutnya menguraikan lebih rinci keempat tahap metode tersebut. Peserta tampak antusias mengikuti bimtek ini. Beberapa dari mereka mengajukan pertanyaan secara berulang dan dijawab satu persatu oleh para pembicara. Di awal dan akhir acara, para peserta mengerjakan tes singkat untuk mengetahui tambahan pemahaman materi yang diberikan. <aars/p2 kimia>

Baca

Kunjungan STKIP Surya ke P2 Kimia LIPI


08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Rabu, 12 April 2017,  25 orang mahasiswa didampingi 2 dosen pengajar kimia dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan  (STKIP) Surya mengunjungi  P2 kimia LIPI. “Tujuan kunjungan kami adalah untuk mengenal  lebih dekat  laboratorium analisa kimia , seperti NMR, FTIR, HPLC, Mass Spektrofotometer dan ATG/DTA, “ ujar dosen pembimbing STKIP Surya. Rombongan diterima oleh tim pendamping yang dikoordinasi oleh Eni Suryani, S.P. Rombongan langsung dipecah ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok mengunjungi laboratorium di P2 Kimia secara bergantian.   Mahasiswa STKIP Surya 90% didominasi mahasiswa  dari  Indonesia bagian timur, terutama Papua. Sekolah ini memang telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah agar masyarakatnya mendapat kesempatan pemerataan pendidikan. Para mahasiswa tampak sangat antusias dan  terlihat ceria saat berkunjung ke P2 kimia LIPI. “Kami dapat mengenal laboratorium  instrument analisa kimia lebih dekat, “ terang salah seorang diantaranya.Diharapkan ilmu yang didapatkan akan bermanfaat untuk menambah wawasan  ilmu pengetahuan.  (ES/ p2kimia) [Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Rabu, 12 April 2017,  25 orang mahasiswa didampingi 2 dosen pengajar kimia dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya mengunjungi  P2 kimia LIPI. “Tujuan kunjungan kami adalah untuk mengenal  lebih dekat  laboratorium analisa kimia , seperti NMR, FTIR, HPLC, Mass Spektrofotometer dan ATG/DTA, “ ujar dosen pembimbing STKIP Surya. Rombongan diterima oleh tim pendamping yang dikoordinasi oleh Eni Suryani, S.P. Rombongan langsung dipecah ke dalam beberapa kelompok. Tiap kelompok mengunjungi laboratorium di P2 Kimia secara bergantian.   Mahasiswa STKIP Surya 90% didominasi mahasiswa  dari  Indonesia bagian timur, terutama Papua. Sekolah ini memang telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah agar masyarakatnya mendapat kesempatan pemerataan pendidikan. Para mahasiswa tampak sangat antusias dan  terlihat ceria saat berkunjung ke P2 kimia LIPI. “Kami dapat mengenal laboratorium  instrument analisa kimia lebih dekat, “ terang salah seorang diantaranya.Diharapkan ilmu yang didapatkan akan bermanfaat untuk menambah wawasan  ilmu pengetahuan.  (ES/ p2kimia)

Baca

Peneliti LIPI Sarankan Penjualan Air Keras Diperketat


08 Mei 2017

VIVA.co.id – Awal hari ini, publik terkejut dengan insiden penyiraman air keras pada penyidik KPK Novel Baswedan. Air keras memang tergolong bahan yang berbahaya karena sifatnya yang korosif. Jika terpapar air keras, logam sampai kulit, sampai tulang bisa rusak. Meski sifatnya korosif, air keras punya sejumlah manfaat. "Air keras itu asam kuat, banyak digunakan di industri kimia untuk reaksi kimia," jelas peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono kepada VIVA.co.id, Selasa 11 April 2017. Dalam penerapannya, air keras juga dipakai untuk air aki. Selain di industri kimia, ujar Agus, air keras juga dimanfaatkan sebagai formulasi pestisida. Air keras dipakai sebagai bahan tambahan dalam pembuatan atau pengolahan pestisida. Bicara air keras terdapat beberapa macam. Agus menyebutkan, air keras di antaranya meliputi asam klorida (HCL), asam sulfat (H2SO4), asam posfat (H3PO4). Dia mengatakan, air keras secara definisi merupakan asam kuat yang memiliki konsentrasi tinggi, bersifat korosif dan derajat keasamannya rendah. Doktor kimia lulusan Waseda University, Jepang itu menjelaskan, untuk HCL konsentrasi asamnya biasanya 35-37 persen, H2SO4 (96 persen) dan H3PO4 (70 persen). "Dengan tingkat konsentrasi itu maka pasti korosif," ujarnya. Agus membenarkan HCL memang ada dalam tubuh manusia. Tapi, jangan khawatir, HCL di dalam tubuh punya kadar konsentrasi yang sangat rendah sehingga tak membahayakan manusia. HCL diproduksi dalam lambung manusia. "HCL itu pada dasarnya gas ya, bentuknya yang larut dalam air. HCL di dalam tubuh itu kadarnya 0,0 sekian persen. Hanya kandungan kecil," jelas pria asal Jawa Timur itu. Menurutnya, HCL di dalam lambung bisa berisiko bagi manusia, jika kadarnya asamnya naik meninggi. "Maka kalau tingkat asamnya tinggi, jadinya asam lambung," tuturnya. Mengingat sifatnya korosif yang membahayakan tubuh, maka Agus berpesan yang penting dalam hal ini adalah pemakaiannya yang benar. Dia berpandangan, peredaran air keras perlu diatur dan diawasi seiring dengan maraknya kejahatan dengan menggunakan bahan tersebut. Saat ini, untuk memperoleh air keras semua orang bisa membelinya secara bebas di toko kimia, tanpa membawa izin khusus. "Makanya perlu itu pembelian air keras itu harus pakai izin khusus bisa polisi, maksudnya izin untuk penggunaannya untuk apa," kata dia. sumber: viva.co.id   Cegah Penyalahgunaan Air Keras, LIPI Sarankan Bentuk Chemical Security BANDUNG, (PRFM) - Maraknya penyalahgunaan air keras membuat sejumlah pihak merasa khawatir. Pasalnya keberadaan zat kimia tersebut bila tidak digunakan dengan semestinya bisa berdampak buruk bagi orang lain. Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono mengatakan, seharusnya pemerintah Indonesia bisa mengendalikan penjualan air keras ini dengan membentuk chemical security. Agus menuturkan, fungsi chemical security ini penting lantaran bisa mencegah peredaran air keras di kalangan masyarakat. "Memang kita perlu menerapkan chemical security ini. Supaya ada deteksi untuk menanggulangi peredaran air keras . Memang nyatanya kedepan harus ada chemical security untuk mencegah adanya kejahatan dan kecelakaan," ujarnya saat on air di Radio PRFM, Selasa (11/4/2017). Agus pun menuturkan, pihaknya sudah berulang kali melakukan penelitian tentang bahayanya air keras ini. Namun, hal itu belum bisa dikatakan berhasil bila tidak adanya badan yang mengontrol keberadaan zat kimia tersebut. "Kami kalau  penelitian sudah lakukan. Tapi kami mewanti -wanti agar chemical security harus bisa diterapkan di masyarakat luas. Bahkan perusahaan logistik bahan kimia itu perlu diawasi juga," pungkasnya menutup. Sumber: PR FM 107.5 News Channel

Baca

Gelar FGD Pengembangan Kompetensi, P2 Kimia Mantapkan Strategi Menjadi Pusat Unggulan Iptek Bioetanol Generasi Kedua


12 April 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong]. Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM). Bertempat di Gedung 452 Puspiptek Serpong, acara diadakan selama sehari penuh pada tanggal 20 Maret 2017. “Acara ini diselenggarakan P2 Kimia sebagai bagian dari program Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Kedua, “ terang Prof. Dr. Yanni Sudiyani, koordinator PUI saat menerangkan latar belakang acara. P2 Kimia LIPI pada tahun 2017 ini bersama sejumlah instansi litbang lainnya telah terpilih oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi menjadi Pusat Unggulan Iptek. Riset yang dikembangkan untuk menjadi unggulan adalah bioetanol generasi kedua. Pemilihan ini berdasarkan sejumlah indikator diantaranya kapasitas intern lembaga, kapasitas riset dan kapasitas diseminasi hasil litbang. “Melalui FGD ini, saya harapkan kita dapat merumuskan strategi pengembangan kompetensi SDM yang tepat guna menjadi Pusat Unggulan Iptek yang berkualitas, “ ujar Dr. Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI saat membuka acara. Tak kurang 38 orang diundang dalam kegiatan ini. Mereka adalah para pejabat struktural, koordinator kelompok penelitian, peneliti senior, perencana strategis dan anggota Tim PUI Bioetanol Generasi Kedua. Sedangkan rapat dimoderatori sekaligus dipimpin oleh Dr. Ir. Syahrul Aiman, peneliti senior P2 Kimia. “Dalam merumuskan strategi, kita harus memahami betul target apa yang ingin dicapai, kebutuhan untuk melaksanakan dan kondisi kita saat ini, “ papar Syahrul yang juga pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI ini. Para peserta acara kemudian berdiskusi lebih lanjut untuk memformulasikan rencana peningkatan kompetensi. Beberapa program yang diusulkan misalnya pendidikan lanjutan, pelatihan spesifik maupun workshop. Hasil diskusi kemudian dituangkan dalam bentuk rekomendasi. Menjelang penghujung acara, beberapa rekomendasi yang dihasilkan langsung dibacakan kembali oleh Syahrul. Rekomendasi ini akan dikaji lebih lanjut dan dirumuskan implementasinya di Rapat Koordinasi (Rakor) P2 Kimia yang akan diadakan beberapa hari kemudian. <aars/ p2 kimia>.

Baca

Peneliti Perempuan Berperan Signifikan Untuk Perubahan


04 April 2017

JAKARTA, (PR).- Para peneliti perempuan selama ini memberikan peran yang signifikan dalam bidang sains. Karena itu Hari perempuan internasional 2017 yang jatuh pada Rabu, 8 Maret 2017 ini layak diperingati untuk mengapresiasi keberhasilan kaum perempuan di berbagai bidang termasuk sains. Hal tersebut diutarakan Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas (BKHH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Nur Tri Aries Suestiningtyas. Dia menuturkan para peneliti perempuan menempati posisi penting dalam kemajuan peradaban bangsa. "Sejumlah hasil karya dan temuan penelitian telah berhasil diberikan oleh perempuan di bangsa ini untuk perkembangan sains di Indonesia," ujarnya di Jakarta, dalam siaran pers yang diterima "PR". Dia menjelaskan, berdasarkan data Sistem Informasi Pegawai (SIMPEG), saat ini LIPI memiliki peneliti perempuan sebanyak 723 orang yang tersebar di 48 satuan kerja seluruh Indonesia. "LIPI memiliki sederet kisah inspiratif dari peneliti perempuan tersebut yang diharapkan bisa memotivasi perempuan Indonesia lainnya,” katanya. Karena itu, pihaknya pada Rabu, 8 Maret 2017 ini menyelenggarakan diskusi Hari Perempuan Sedunia 2017 dengan tema “Peneliti Perempuan untuk Perubahan”. Diskusi tersebut menurut dia juga diharapkan dapat mendorong peran mereka untuk lebih signifikan lagi dalam dunia sains, dan juga memberikan motivasi bagi generasi muda. Sejumlah peneliti perempuan yang dimiliki LIPI diantaranya adalah Evy Ayu Arida (Peneliti Bidang Zoologi), Ratih Asmana Ningrum (Peneliti Bidang Bioteknologi), Neni Sintawardani (Peneliti Bidang Teknologi Sanitasi Lingkungan), dan Yenny Meliana (Peneliti Bidang Kimia). Evy Ayu Arida adalah Peneliti Bidang Zoologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, penelitian yang ditekuninya seputar hewan melata atau herpetofauna. Sejak bergabung pada 2000 sebagai peneliti, bidang herpetofauna masih sangat minim peminat. Namun, hingga saat ini bidang tersebut ditekuninya. Evy meraih gelar Master of Science, Flinders University Adelaide, Australia pada 2005 dan Doktor rerum naturalium, Rheinische Friedrich-Wilhelms- Universität Bonn, Jerman pada 2011. Sementara itu Ratih Asmana Ningrum adalah Peneliti Muda Bidang Bioteknologi Kesehatan di Pusat Penelitian Bioteknologi. Ratih fokus melakukan riset di laboratorium protein terapeutik dan vaksin. Pada 2012, ia telah berhasil meraih gelar Doktor bidang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, Ratih sempat memperoleh penghargaan program National Fellowship Loreal UNESCO for Women in Sciences 2013 dengan kategori Life Sciences. Adapun Neni Sintawardani adalah Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI. Penelitian yang dilakukannya adalah teknologi sanitasi lingkungan dan salah satu temuannya yakni Biotoilet Berpengaduk Manual. Fokus penelitian Neni bertujuan agar memudahkan masyarakat miskin memiliki akses sanitasi yang memadai dan air bersih. Neni meraih gelar Doktor bidang process engineering di Hohenheim University, Jerman. Sedangkan Yenny Meliana merupakan Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Sejak bergabung sebagai peneliti pada 2005, Yenny telah fokus pada riset bidang kimia. Lewat penemuan pada Pengembangan Bahan Baku Obat Malaria dengan Teknologi Nano, ia berhasil memperoleh penghargaan di bidang ilmu sains, teknologi dan matematika dari L’Oréal – UNESCO for Women In Sciences National Fellowship Awards for Woman 2016. Yenny meraih gelar doktor bidang Chemical Engineering di National Taiwan University of Science and Technology, Taiwan.***

Baca

Perdalam Iptek, SMA Santa Laurensia Bertandang ke P2 Kimia


24 Januari 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Sejumlah 23 siswa siswi kelas XI MIPA yang didampingi Dra. M.M. Risyati selaku guru pembimbing mengunjungi Pusat Penelitian Kimia, LIPI pada hari Selasa, 24 Januari 2017. Kedatangan mereka untuk memperdalam ilmu pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah melalui belajar dan praktek di laboratorium. Sekolah Santa Laurensia didirikan dengan menanamkan sebuah penghormatan intrinsik bagi kehidupan serta gairah belajar dalam lingkungan bilingual.  Santa laurensia memiliki motto Educatio Puerilis Renovatio Mundi Est, yaitu memberikan pendidikan pada kaum muda untuk mengubah dunia dan memberikan sistem pendidikan holistik dengan perspektif global untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi, critical thinking dan problem solving, komunikasi serta kolaborasi. Setiba di P2 Kimia, rombongan dibagi menjadi 8 kelompok yang mengunjungi tiap lab secara bergiliran. Lab yang dikunjungi adalah Lab pilot plant bioetanol, Lab NMR, Lab Spektro, Lab Particle Size Analyzer, Lab Bahan Alam dan Farmasi, Lab Termokimia, Lab FTIR, dan Lab Katalis. Di tiap lab, mereka langsung mendapatkan pengarahan langsung dari para peneliti yang berada di labnya. “Rasa pengetahuan anak-anak saat ini makin tinggi yang dilihat dari pengetahuan mereka terhadap peralatan yang ada, “ kesan Dr. Yenny Meliana, Kabid Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian yang turut menerima rombongan. <ES/ p2 kimia>  

Baca

Jajaki Kerjasama, Swiss German University Kunjungi P2 Kimia


10 Januari 2017

 [Berita P2 Kimia, Serpong] Sejumlah petinggi Swiss German University (SGU) berkunjung ke Pusat Penelitian Kimia LIPI (Selasa, 10 Jan 2017). “Kedatangan kami bertujuan menjajaki potensi kerjasama penelitian, terutama di bidang life science technology, “ terang  Dr. Dipl. -Ing. Samuel P. Kusumocahyo, dekan Fakultas Life Sciences and Technology,  dalam sambutannya. Samuel datang dengan membawa para kepala jurusan maupun perwakilan dari tiap jurusan di bawah koordinasinya, seperti jurusan Biomedical Engineering, jurusan Teknik Kimia, jurusan Teknologi Pangan dan jurusan Lingkungan dan Energi Berkelanjutan. “Kami sangat terbuka dan menyambut baik kerjasama penelitian dengan pihak SGU, “ terang Dr. Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian yang diiamini oleh Dr. Heru Susanto, Kasubbid Diseminasi dan Kerjasama. Turut hadir dalam pertemuan itu para peneliti junior senior, termasuk dari Kelompok Penelitian (Keltian) Kimia Pangan, Keltian Teknologi Proses dan Katalis, serta Keltian Kimia Lingkungan dan Biomassa. Acara dilanjutkan dengan diskusi teknis terkait judul penelitian yang akan dikerjasamakan antara kedua belah pihak. <aars/ p2 kimia>

Baca

Terobosan Dr Yenny Meliana Buat Obat Antimalaria Gunakan Teknologi Nano


12 Desember 2016

  [Jawa Pos, Serpong] MASUK laboratorium kantor Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terlihat puluhan tabung reaksi tertata rapi. Beberapa berisi cairan aneka warna. Di salah satu meja kerja laboratorium, Yenny Meliana terlihat sedang memperhatikan suatu reaksi kimia. Matanya tertuju pada peralatan kromatografi kolom yang terdiri atas beberapa tabung kaca. Perempuan kelahiran Curup, Rejang Lebong, Bengkulu, 17 Oktober 1976, itu lantas menyudahi kegiatannya. Dia lalu menjelaskan risetnya yang bertujuan membuat formulasi obat paling ampuh untuk mengatasi serangan malaria. Dia menuturkan, saat ini obat yang digunakan untuk malaria adalah pil kina. Dalam perkembangannya, parasit protozoa yang menyebabkan malaria sudah mulai kebal terhadap pil kina "Sehingga kita butuh formulasi obat baru yang lebih kuat," jelasnya. Istri Rocky Alfanz itu menjelaskan, riset yang dilakukan adalah pengembangan dari riset yang sudah berjalan di Pusat Penelitian Kimia LIPI. Riset yang sudah berjalan tersebut adalah membuat bahan baku obat antimalaria. Bahan baku obat antimalaria yang dia teliti berasal dari tanaman Artemisia annua. Bentuk daun pohon yang berasal dari Tiongkok itu mirip kenikir. Di dalam prosesnya, pohon itu dikeringkan, lantas diambil ekstraknya yang disebut artemisinin yang umumnya berbentuk gumpalan kristal. Besarnya bergantung, kadang bisa sebesar kepalan orang dewasa. Setelah ekstrak pohon Artemisia annua itu berhasil diproduksi, dilakukan proses kembali sehingga menghasilkan dihydroartemisinin (DHA). Proses menjadikan ke DHA itu penting karena kalau masih dalam bentuk kristal, bahan baku obat tersebut tidak bisa larut dalam air. "Yang namanya obat oral itu, lebih efektif khasiatnya jika bahannya larut dalam air," tutur perempuan yang masuk LIPI pada 2005 itu. Proses itu bisa memakan waktu sampai 55 hari. Selain itu, dibutuhkan biaya tambahan untuk membeli zat-zat kimia lainnya. Sistem pembuatan obat antimalaria yang memakan waktu sampai 55 hari dan berbiaya mahal tersebut pernah disodorkan ke dunia industri. Namun, respons dari dunia industri tidak menggembirakan. Dengan ongkos produksi yang begitu besar, bahan baku obat itu tidak menarik untuk diproduksi masal. Menurut dia, obat untuk malaria harus terjangkau. Dia memperkirakan, harga setiap setrip obat malaria yang ideal adalah Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Tetapi, jika proses pembuatan bahan baku obat antimalaria masih menggunakan sistem dari kristal ke DHA, dibutuhkan biaya besar. Akhirnya dia menggunakan teknologi nano untuk membuat bahan baku obat antimalaria. Soal itu, Yenny sudah memiliki pengalaman luas. Dia pernah membuat krim antiselulit dari ekstrak tanaman pegagan. Tanaman yang biasanya digunakan sebagai lalapan kuliner Sunda itu efektif mengatasi selulit ringan sampai berat. Lulusan program doktor teknik kimia National Taiwan University of Science and Technology itu menjelaskan, peran teknologi nano yang dilakukan adalah menjadikan kristal ekstrak tanaman Artemesia annua itu berukuran superkecil. Satu nano adalah satu per miliar meter. "Sebagai gambaran, nano itu ukurannya diameter sehelai rambut masih dipecah-pecah lagi," tutur kepala Bidang Diseminasi dan Pengolahan Hasil Penelitian, Pusat Penelitian Kimia, LIPI, tersebut. Meski ekstrak tanaman itu diolah dengan teknologi nano, khasiatnya tidak boleh berkurang. Pengolahannya tidak boleh berada di suhu 40 derajat Celsius karena kandungannya bisa rusak. Ada banyak keunggulan ketika kristal ekstrak tanaman Artemisia annua itu bisa diubah menjadi ukuran nano. Di antaranya, bisa mengepras waktu pengolahan dari sebelumnya 55 hari. Selain itu, hasil pengolahan dengan teknologi nano bisa membuat penggunaan bahan baku obat menjadi lebih cepat. "Karena wujudnya sangat kecil, bisa langsung larut dalam air. Sehingga tidak perlu tambahan-tambahan zat kimia," katanya. Meski nanti wujud bahan baku obat antimalaria tersebut serbuk yang sangat halus, Yenny mengatakan cukup mudah dikonsumsi. Nanti tinggal dilakukan proses penyatuan atau perekatan sehingga menyerupai tablet. Ketika ditelan, tablet itu larut dengan air di tubuh manusia. Atas riset bahan obat antimalaria berbasis teknologi nano itu, Yenny berhasil menjadi pemenang L'Oreal Indonesia for Woman in Science 2016. Pada ajang riset untuk perempuan-perempuan di bawah usia 40 tahun itu, Yenny menjadi satu di antara empat pemenang. Setelah Yenny melakukan presentasi, dewan juri merespons positif. Risetnya itu dinilai memiliki manfaat besar bagi umat manusia. Kemudian, pemanfaatan teknologi nano untuk membuat obat antimalaria merupakan riset terbaru. Dia mengatakan, riset obat antimalaria dari tanaman Artemisia annua itu memiliki target besar. Yakni, pada 2019-2020 sudah dilakukan produksi masal. Artinya, saat ini Indonesia sudah memiliki bahan baku obat nasional untuk antimalaria. "Kita optimistis mengejar target itu," kata dia. Sebagai gambaran, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2010 menunjukkan adanya 2 juta orang penderita malaria. Berdasar jumlah itu, dibutuhkan 720 kg serbuk ekstrak tanaman Artemisia annua. Untuk menghasilkan ekstrak sebanyak itu, dibutuhkan 450 ton tanaman Artemisia annua kering. Arthur Lelono, mitra kerja Yenny di Pusat Penelitian Kimia LIPI, menuturkan bahwa target itu digarap secara konsorsium. Selain LIPI, pihak yang terlibat adalah Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Pertanian (Kementan), ITB, dan Indofarma. Untuk menyiapkan bahan utama pembuatan bahan baku obat itu, saat ini sudah dilakukan pembudidayaan tanaman asal Tiongkok tersebut di dua tempat. Yakni, di lahan milik Balai Besar Penelitian Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2PTO2T) Kemenkes di daerah Tawangmangu serta lahan milik LIPI di Cibodas. Arthur menuturkan, penggunaan ekstrak tanaman iklim subtropis itu sudah mendapatkan pengakuan dari WHO. Negara-negara dengan kasus malaria yang tinggi saat ini berlomba membuat formulasi obat antimalaria. "Pada prinsipnya, nanti tetap digabung dengan bahan pembuat pil kina," jelasnya. Tujuannya, mengatasi parasit malaria yang mulai kebal obat pil kina. (*/c10/oki) sumber: http://www.jawapos.com/read/2016/12/11/70162/-terobosan-dr-yenny-meliana-buat-obat-antimalaria-gunakan-teknologi-nano

Baca

Sosialisasi Pembinaan Kehumasan Pemerintah (Tematik bakohumas)


05 Desember 2016

[Berita P2 Kimia, Cibinong] Senin, 5 Desember 2016 di gedung konservasi PKT Kebun Raya Bogor LIPI diadakan Sosialisasi Pembinaan Kehumasan Pemerintah (Tematik Bakohumas) dengan tema “Peran dan peningkatan profesionalisme SDM kehumasan Pemerintah”.  Acara ini diikuti 150 peserta dari berbagai satker LIPI dan kelembagaan kementrian pemerintah.  Dari P2 Kimia diwakili oleh Eni Suryani, S.P.   “Dengan mengucap bismillahirohmanirohiim acara ini saya buka,” ujar Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Sekretaris Utama (Sestama) LIPI saat membuaka acara. “selamat menjalani dan semoga bermanfaat,” lanjutnya.   Acara diteruskan dengan beberapa presentasi yang dibagi dalam 2 (dua) sesi yang dimoderatori oleh Isrard, SH. MH, staf Biro Kerjasama Hukum dan Hubungan Masyarakat (BKHH) LIPI. Sesi pertama diisi dengan presentasi dari praktisi/ tim komunikasi presiden, yaitu Shinta Puspitasari. Beliau menerangkan peran humas pemerintah dalam mengkomunikasikan program pemerintah. “Pranata humas itu tidak berdiri masing-masing, tapi saling bersinergi untuk meningkatkan peran kehumasan pemerintah, “ tekan Shinta. Presentasi kedua dari sesi pertama dibawakan oleh Kepala BKHH, Rr. Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A. Beliau memaparkan terkait peran humas LIPI dalam layanan public. “Pranata humas di masing-masing satker harus bisa menjadi pembeda diantara satker. Juga harus mempromosikan satker sehingga dikenal masyarakat, “ papar Ibu yang menyelesaikan program studi S2 di Australia ini. Pada sesi kedua diisi dengan 3 presenter dengan moderator Purwadi. Presentasi pertama berasal dari Kepala Biro Humas dan Hukum, Kemenpan RB yaitu Herman Suryatman. Herman yang pernah menjabat Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Sumedang ini membawakan makalah terkait “Humas pemerintah dan kebijakan nasional”,  Presentasi kedua dibawakan oleh Kepala BOSDM Heru Santoso yang menerangkan “Tantangan dan upaya pembinaan SDM jabatan fungsional pranata humas LIPI” “Untuk menjadi Pranata Humas harus diawali dulu dengan mengikuti diklat Pranata Humas.  Jenjang dan angka kredit diatur oleh PP no 6 th 2014,” jelas Heru. Presentase terakhir dibawakan oleh kepala PKT Kebun Raya Bogor, Dr. Didik Widyatmoko yang memaparkan optimalisasi peran pranata humas LIPI dengan studi kasus PKT Kebun Raya Bogor.  Kebun Raya Bogor memiliki paling banyak pranata humas diantara satker-satker di LIPI yaitu 15 orang. Kegiatan untuk pengembangan diri sudah berjalan diantaranya pelatihan bahasa Inggris dan pelatihan pengenalan sejarah kebun Raya Bogor. Acara ditutup oleh kepala BKHH, Nur Tri Aries Suestiningtyas yang dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke griya anggrek dan taman koleksi tumbuhan obat. Penulis berita: Eni Suryani, S.P.

Baca

Analitycal Instrumentation Workshop 2016 Untuk Mahasiswa Swiss German University


23 November 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Pusat Penelitian Kimia LIPI kembali mengadakan workshop peralatan analisa kimia. Kali ini pesertanya adalah mahasiswa jurusan Teknik Farmasi dan Teknologi Pangan Swiss German University. Workshop dilaksanakan 1 hari pada hari Rabu, 23 November 2016, dengan jumlah peserta workshop ada 43 mahasiswa.  Mereka antusias dengan acara ini karena masih berhubungan dengan mata kuliah analytical instrument di kampus SGU yang dibawakan oleh Dr.rer. nat. Filliana Santoso yang saat acara ini berlangsung turut mendampingi sampai selesai. Beberapa peralatan yang dipelajari diantaranya  NMR, GCMS, HPLC, Spektrofotometri, dan FTIR. Para Peneliti P2 kimia yang sudah terlatih mengoperasikan alat-alat analisa pun menerangkan cara kerja, fungsi dan hasil keluaran dari alat.  Beberapa peralatan dan peneliti yang memberikan pelatihan diantaranya NMR oleh Gian Primahana.M.T, HPLC oleh Hendris Hendarsyah, GCMS oleh Salahudin, Spektrofotometri oleh Mimin Mintarsih, dan FTIR oleh Yenni Apriliani. “Semoga kerjasama ini bias berlanjut dan membantu mahasiswa mengenali alat secara analisa secara langsung, “ ujar Dr. Agus Haryono saat memberikan kata pengantar. Penulis berita: Eni Suryani/ P2 Kimia

Baca

Nihonggo de Utaimasho: Asyiknya Berbagi Ilmu dan Bernyanyi di FRISK Jum’at


02 Desember 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Friday Sharing of Knowledge (FRISK), sebuah acara diskusi ilmiah rutin yang dikemas santai, berlangsung seru hari Jumat kemarin (2 Desember 2016).  Acara yang dimulai pukul 14 ini dihadiri oleh para peneliti senior maupun yunior di P2 Kimia. Namun dalam tiga edisi terakhir ini nampak pula empat orang mahasiswa Chiba University Jepang yang tengah melakukan kerja praktek di Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI. Pertemuan kali ini bertemakan “Catalyst Spots Life” yang mengangkat tiga pembicara kunci. Pembicara pertama adalah Ando Kei yang menyampaikan presentasi berjudul “Heterogeneous [CuCl4]2-/ NiZn catalyst and its application for oxidatice coupling reaction”. Ando mengungkapkan pentingnya membuat katalis heterogen baru tanpa ligan organik. Pembicara selanjutnya adalah Nobutaka Yamanaka dan Kurusu Ryota. Dua mahasiswa ini menyampaikan berbagai tempat wisata menarik di Jepang ("Japanese Sightseeing Spots"). “Misalnya Genbaku Dome. Bangunan yang berada di Hiroshima ini merupakan situs yang dilindungi dunia sebagai simbol penghormatan dan perdamaian untuk menghapuskan senjata nuklir.” Terang Ryota. Tak lupa, Yamanaka mengajak para penonton untuk bernyanyi. Lagu yang ditampilkan adalah “Donnatokimo (Anytime)” dan “Ai wo komete hanataba wo (A bouquet of flowers with love)”. Para peserta tampak antusias berusaha mengikuti lirik lagu yang relatif baru bagi mereka tersebut. Namun ada juga yang langsung mengenali. Prof. Tursiloadi misalnya. Profesor lulusan Jepang tersebut langsung maju ke depan dan ikut bernyanyi dengan lantang. Pembicara terakhir adalah Zatil Afrah Athalliah, M.Sc. Peneliti di Kelompok Penelitian Kimia Pangan ini menceritakan pengalamannya selama menempuh studi dan suka duka hidup di Amerika Serikat.

Baca

Kuliah Tamu Dosen Queen University Inggris di P2 Kimia LIPI


07 November 2016

[Berita P2 Kimia, Serpong] Hari Senin pagi (7/11), Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI menerima kunjungan delegasi dari Queen University Belfast (QUB), Inggris. Delegasi terdiri dari tiga orang, yaitu Dr. Peter Nockemann (pengajar senior jurusan kimia dan teknik kimia QUB), Heather Taylor (Staf senior hubungan internasional QUB) dan Nourma Prisilia (Edlink+ConneX, perwakilan QUB di Indonesia). “Selamat datang kepada delegasi Queen University di tempat kami, “ sambut Dr. Nino Rinaldi, Kepala Bagian Sarana Penelitian P2 Kimia yang mewakili Kepala P2 Kimia. “Ini merupakan suatu kesempatan berharga bagi kita semua untuk berbagi informasi penelitian terkini dan peluang kerjasamanya, “ imbuhnya. Nino selanjutnya memperkenalkan satu per satu rekan rekan peneliti senior dan junior yang turut hadir di ruang pertemuan. Di antara sekitar 30-an peneliti tampak hadir pula para koordinator kelompok penelitian. Selanjutnya diperkenalkan pula profil kegiatan di P2 Kimia LIPI. “Kami sangat mengapresiasi kesempatan yang diberikan, “ ujar Heather Taylor. “Kunjungan kami ini dimaksudkan untuk menjajaki peluang kerjasama penelitian dan tawaran studi lanjut untuk para peneliti yang berminat, “ terangnya. Taylor kemudian memutarkan video profil Queen University yang berdurasi sekitar 6 menit. Dalam video tersebut, terekam sejumlah kesan puas dan bangga dari para alumni QUB yang berasal dari Indonesia dan Asia Tenggara. “Para peneliti yang tertarik belajar di tempat kami dapat menghubungi kami langsung atau perwakilan kami yang ada di Indonesia, “ terang Taylor lebih lanjut. Usai sesi perkenalan, acara dilanjutkan dengan kuliah tamu oleh Dr. Peter Nockemann. Pengajar senior di bidang kimia material dan inorganik tersebut menjelaskan berbagai peluang penelitian di instansinya. “Queen University termasuk 8 besar universitas riset terbaik di Inggris, “ papar Nockemann. “Khusus untuk penelitian di bidang kimia, universitas kami menduduki peringkat terbaik pertama dilihat dari impact factornya, “ lanjutnya. Nockemann kemudian memaparkan beberapa potensi penelitian yang tengah dan akan dikembangkan. Penelitian tersebut mencakup bidang kimia lingkungan, farmasi dan kesehatan, kimia pangan, dan sebagainya. Usai presentasi, para peneliti langsung mengajukan sejumlah pertanyaan. Pertanyaan tersebut bervariasi baik terkait teknis penelitian, kerjasama dan peluang studi lanjutan. Menjelang siang, acara diakhiri dengan pemberian tanda mata dari P2 Kimia yang diserahkan oleh Nino Rinaldi.        

Baca

Struktur Organisasi


22 November 2016

   

Baca
ZONA INTEGRITAS