: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Yenny Meliana Bagikan Pengalaman Riset Kimia hingga Raih Aneka Penghargaan


Administrator, 09 Maret 2022

Serpong, Humas BRIN. Memperingati hari Perempuan Sedunia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar webinar Talk to Scientist (TTS) yang menghadirkan narasumber para perempuan hebat dalam riset, pada Selasa (8/3) secara virtual. Mereka telah berprestasi dalam memperoleh penghargaan internasional.

Dalam acara ini, Yenny Meliana dari Pusat Riset Kimia Maju – BRIN, Yenny Meliana. Melly, demikian kerap disapa merupakan peraih Hitachi Award 2021 – Outstanding Innovation Award. Sebelumnya, Melly merupakan Finalis WAITRO Inovation Award 2021.

Plt. Kepala Pusat Riset Kimia Maju ini berbicara tentang aktifitas ilmiah, dan kegiatan riset. Pada tahun 2017 merupakan pertama kali ditunjuk sebagai observer pada acara formil PBB di Roma.

“Acara tersebut merupakan salah satu pelajaran berharga buat saya. Saya langsung terpukau bagaimana suatu sidang sekelas PBBmasing-masing menyampaikan argumen dan pendapatnya  dengan sangat bagus, menghormati, menghargai bagaimana pendapat pihak lain maupun negara lain,” kenangnya.

Melly menjelaskan bahwa para perwakilan PBB memberi argumentasi berdasarkan fakta dan data secara ilmiah. ”Sejak itu, sayaingin terlibat di acara seperti ini. Kemudian saya masih datang lagi sebagai observer (pengamat), dan tahun 2019 diadakan di Indonesia,” kata anggota Chemical Review Committee untuk Rotterdam Convention tersebut.

Kemudian Melly menjelaskan bagaimana salah satu titik ketika mendapatkan penghargaan, bisa menjadi titik untuk meningkatkan istiqomah dan kepercayaan diri. Salah satunya ketika mendapatkan dari L’Oreal For Women in Science tahun 2016.

Saat ini, Melly berfokus  pada riset nanoemulsi dengan aplikasinya ke arah kosmetik dari bahan-bahan alam. “Sejak pandemi, pertumbuhan market untuk kosmetik ternyata paling banyak di daerah Asia. Jadi memang di Asia banyak wanita maupun pria Asia paling heboh dengan kosmetik, ungkap pakar nanoemulsi ini.

Dari pengalaman ilmiahnya, Melly mengingat faktor kunci sukses dengan 4T, yaitu:

  1. Timing work. Melakukan pemilihan waktu yang tepat, dan pemilihan waktu yang sesuai. Jadi seperti saat ini sedang Covid, maka kita bisa berkontribusi riset ke arah Covid dan kalau bisa di-speed up karena kebutuhannya sekarang sehingga temponya kita sesuaikan.
  2. Team work. Bekerja akan jauh lebih efektif bersama tim. Termasuk apa yang saya dan teman-teman kerjakan selama dengan cepat ini merupakan hasil dari tim.
  3. Target dan Time schedule. Melakukan kegiatan arah riset itu perlu perencanaan dan mitigasi masalah.
  4. Trust. Kita tidak takut ilmunya diambil demikian sebaliknya. Terpenting untuk suatu kesuksesan riset adalah saling percaya dengan sesama tim maupun atasan, percaya dengan stakeholder, dan mitra. Karena semua itu untuk kebermanfaatan bersama.

Untuk itu Melly mengutip pepatah dari Confucius, ‘if you are the smartest person in the room, then you are in the wrong room’.

“Jadi ada banyak manfaat untuk mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang lebih pintar dari kita. Jadi kita harus kejar mimpi kita, dengan tetap terus berusaha, belajar, dan meningkatkan kemampuan kita karena ilmu tidak pernah ada habisnya,” tutup Melly.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Sekretaris Utama, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan bahwa Hari Perempuan Internasional diperingati untuk menyoroti wanita dan hak-hak mereka. “Tujuan utama peringatan ini adalah hari global yang merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik perempuan. Hari Perempuan Internasional kini telah menjadi monumen dalam merayakan seberapa jauh perempuan mempunyai peranan besar dalam masyarakat bahkan peran yang lebih esensial untuk kemajuan global, salah satunya dalam bidang sains dan teknologi,” kata Nur.

Nyatanya, lanjut Nur, UNESCO merilis data bahwa partisipasi perempuan dalam bidang ilmu pengetahuan masih kurang dari total 30 persen periset di seluruh dunia. Dengan kehadiran BRIN yang baru dengan proses penggabungan periset di Indonesia, saat ini BRIN memiliki pegawai 12.672 orang, dengan presentase 65% periset pria dan 13% periset perempuan.

Transisi organisasi yang menjadikan semua periset di tanah air konsolidasi, diharapkan membangun semangat sinergisme, optimisme, dan produktivitas periset di tanah air. Dengan tata kelola manajemen Iptek yang dibangun dan diniatkan untuk menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang semakin kondusif di tanah air.

TTS hari ini mengangkat topik “Women In Sains” dengan tujuan menggali lebih jauh pengalaman dan tantangan para narasumber di risetnya masing-masing, dan menjadi sarana motivasi, inspirasi bagi seluruh periset khususnya perempuan dan generasi muda. “Karena saat ini perbendaan gender di tanah air bukanlah suatu hambatan,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS