: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

YANNI PENELITI UTAMA P2 KIMIA DIKUKUHKAN SEBAGAI PROFESOR RISET DI LIPI


Admin, 17 Desember 2014

orasi[Berita P2 Kimia] Kualitas kompetensi dan sumber daya manusia di Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI semakin meningkat dengan bertambahnya satu orang profesor riset. Yanni Sudiyani, salah seorang peneliti utama di P2 Kimia, dikukuhkan sebagai profesor riset bidang Biologi pada hari Senin (15/12). Pengukuhan dilakukan oleh Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor riset Prof. Iskandar Zulkarnain. Selain Yanni, dua orang peneliti utama LIPI lainnya, yaitu Dr. Herman Hidayat dan Dr. Endang Turmudi dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan juga dikukuhkan sebagai profesor riset bidang sosiologi di Auditorium Utama LIPI. Pengukuhan ini menjadikan Yanni profesor riset nasional yang ke-453 dari 9.113 peneliti di Indonesia atau yang ke 113 di LIPI. Di P2 Kimia-LIPI, selain Yanni, ada tiga orang profesor yang masih aktif seperti Prof. L. Broto Kardono, Prof. M. Hanafi dan Prof. S. Tursiloadi. Selain itu, beberapa profesor lainnya sudah purna tugas seperti Prof. Soefjan Tsauri, Prof. Soemardi (alm), Prof. Soemanto (alm) dan Prof. A.T. Karossi.

Dalam orasi pengukuhannya, Yanni mempresentasikan tentang "Pengembangan Teknologi Pengolahan Biomassa Limbah Lignoselulosa untuk Pembuatan Bioetanol Generasi Ke dua". Yanni menyoroti pentingnya biofuel atau bahan bakar nabati sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan karena sumber energi yang berasal dari fosil semakin menipis dan diramalkan akan habis dalam beberapa dekade kedepan.  Biofuel yang populer saat ini adalah bioetanol dan biodiesel.

 Bioetanol generasi kedua (G2) menggunakan bahan baku yang berasal dari lignoselulosa seperti limbah pertanian, kehutanan atau perkebunan yang jumlahnya melimpah di Indonesia. Bioetanol generasi pertama (G1) menggunakan bahan baku yang berasal dari karbohidrat sehingga dikhawatirkan ada kompetisi dengan bahan pangan dan pakan.  Diversifikasi sumber energi memanfaatkan limbah lignoselulosa menjadi hal penting. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dipilih sebagai salah satu bahan baku limbah lignoselulosa karena potensinya yang paling besar di Indonesia.

“Jika dikelola 20%-nya saja, yaitu 5,6 juta ton, maka (tandan kosong kelapa sawit) berpotensi menghasilkan energi sekitar 104 juta GJ setara dengan kebutuhan BBM untuk 3 juta mobil per tahun,” papar alumnus master dan doktor di Kyoto University tersebut.

Yanni yang menyelesaikan S1 dari jurusan Biologi FMIPA UNPAD menjelaskan teknologi proses pengolahan bioetanol generasi ke dua dianggap masih sulit dan mahal. “Ini karena adanya lignin sebagai inhibitor, dan harga enzim yang masih cukup mahal merupakan tantangan,” jelas ibu dari tiga orang anak ini.

Berkat kerja keras dan kerja sama yang ada, penelitian yang dikembangkan pun berbuah nyata. Sejumlah parameter untuk mendapatkan kondisi proses produksi yang optimal telah diperoleh, seperti konsentrasi substrat, suhu sakarifikasi, konsentrasi enzim, dsb. Penelitian tersebut diaplikasikan pada pilot plant bioetanol skala 10 liter kerjasama dengan Korea International Cooperation Agency (KOICA), Korea Institute of Science and Technology (KIST) dan Changhae Energeering. Pilot plant bioetanol generasi kedua ini merupakan yang pertama di Indonesia dan diresmikan pada tanggal 1 Mei 2012 oleh Menristek, Kepala LIPI, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Presiden KOICA dan Kepala KIST.

Di samping itu, Yanni bersama timnya tengah melakukan penelitian kilang  hayati sawit, pemanfaatan Co-product lignin dari sisa pretreatment TKKS. Lignin dapat dimanfaatkan antara lain untuk poliuretan, serat karbon, surfaktan dan epoksi.

Peneliti yang telah menghasilkan lebih dari 90 publikasi nasional dan internasional ini bersama mitra  konsorsium Bioetanol G2  Departemen  Teknik Kimia-UI, juga tengah melakukan penelitian Biorefinery (kilang hayati sawit) pemanfaatan Saccharomyces cerevisiae Co-Product TKKS  untuk bahan baku kosmetik.

Berdasarkan hasil yang diperoleh mulai skala laboratorium dan skala pilot plant, Yanni merekomendasikan pengembangan untuk skala yang lebih besar lagi. Untuk meningkatkan keekonomian produksi bioetanol G2, proses produksi juga harus dekat dengan sumber bahan baku dan konsep kilang hayati (biorefinery) penting diterapkan.

“Pemerintah hendaknya terus meningkatkan dukungan dalam bentuk kebijakan peraturan, insentif industri dan dana penelitian bagi pengembangan dan penerapan bioetanol di Indonesia,” ujar Profesor yang pernah mendapatkan penghargaan JSPS dan medali Ronpaku dari Jepang serta CSIRO LIPI Award dari Australia ini memberikan rekomendasi di akhir orasinya.

Seusai orasi Yanni dan dua profesor riset yang lain, Kepala LIPI, Prof. Iskandar Zulkarnain kemudian memberikan sambutan. Iskandar mengapresiasi capaian penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan ketiga orang tersebut. Selain itu, Iskandar juga menekankan agar mereka dapat membimbing dan mengarahkan para peneliti muda untuk mengembangkan lebih banyak riset yang bermanfaat di masyarakat.

ZONA INTEGRITAS