: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Webinar Hari Bumi untuk Penanganan Sampah/Limbah Medis Covid-19


Administrator, 23 April 2020

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Tim Teknis Komisi Pestisida RI, menyelenggarakan Webinar Hari Bumi: Penanganan Sampah/Limbah Medis Terkait Covid-19, pada Rabu (22/4). Webinar ini disampaikan oleh beberapa pembicara yaitu Rosa Vivien Ratnawati (Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Ajeng Arum Sari (Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih -  LIPI), Taufikurahman (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati - Institut Teknologi Bandung/Anggota Tim Teknis Komisi Pestisida RI), dan Yusuf Nur Wiajayanto (Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI). Sebagai pemandu jalannya acara, peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Deni Shidqi Khaerudini , bertindak sebagai moderator.

Acara yang bertepatan dengan Hari Bumi tersebut diikuti oleh praktisi lingkungan hidup, peneliti, dosen, dan mahasiswa.

Deputi Ilmu Pengetahuan Bidang Teknik LIPI, Agus Haryono, dalam sambutannya berpendapat bahwa Limbah infeksius berdampak menularkan penyakit yang dapat mengganggu pelayanan kesehatan ke masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan antisipasi dampak negatif dari limbah infeksius.

“Di sungai atau di pantai yang tadinya tidak ada limbah masker, sekarang ditemukan. Di sinilah diperlukan peran kita untuk meringankan beban masyarakat dan negara dalam penanganan COVID-19,” ujar Deputi IPT.

Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) mengkategorikan limbah infeksius selain dari fasilitas pelayanan kesehatan. Kategori tersebut adalah limbah infeksius yang berasal dari rumah tangga yang terdapat Orang Dalam Pemantauan (ODP) serta sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga.

Berdasarkan penggolongan tersebut, sampah masker dan sarung tangan sekali pakai tidak hanya mencemari lingkungan namun dapat mengancam 300 ribu petugas persampahan yang bertugas di rumah-rumah warga dan 600 ribu pemulung. “Perlu pengelolaan dengan standar tertentu agar tidak menimbulkan permasalahan baru,” jelas Agus.

Pembicara pertama, Ajeng Arum Sari menyampaikan tentang Teknologi Thermal untuk Pemusnahan Limbah Penanganan Covid-19. Bahwa cara pengelolaan limbah infeksius di fasilitas pelayanan kesehatan tentu berbeda dengan di lingkungan perumahan. “Limbah infekius fasillitas pelayanan kesehatan harus disimpan dalam kemasan tertutup paling lama dua hari setelah dihasilkan,” ungkapnya.

“Limbah ini setelah disimpan harus dimusnahkan dengan fasilitas insinerator dengan suhu pembakaran 800 derajat celcius. Pemusnahan juga dapat menggunakan autoclave dengan pembakaran pada suhu 56°C/75°C/120-140°C. Teknologi ini direkomendasikan karena tidak menimbulkan kerugian dan tidak mahal,” ujar Ajeng.

Sementara pada lingkungan perumahan, sampah masker, tisu, dan sarung tangan dipisahkan dari sampah biasa lalu digunting. “Sampah tersebut kemudian direndam di dalam larutan disinfektan sebelum dikemas khusus, lalu diberi tanda, dan dibuang,” tambahnya.

Pembicara kedua, Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan mengenai Penanganan Sampah/Limbah Medis Covid-19. “Di seluruh Indonesia hanya ada 110 rumah sakit yang memiliki insenerator sesuai standar dan telah berizin padahal pengelolaan limbah infeksius sangat penting di masa pandemi,” jelas Dirjen KLHK tersebut.

“Banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak memiliki insinerator karena tidak adanya lahan juga terlalu dekat dengan masyarakat sehingga dikuatirkan menimbulkan emisi yang mengganggu. Kendala-kendala ini diminimalisir oleh pemerintah salah satunya lewat kemitraan dengan Badan Usaha Milik Negara,” jelas Vivien.

“Selain itu, kami mendorong percepatan izin insenerator oleh rumah sakit dan mengoptimalisasikan pengolahan limbah oleh jasa pengangkut dan pengolah B3,” tutupnya.

Pembicara berikutnya adalah Taufikurahman dari SITH – ITB/Anggota Tim Teknis Komisi Pestisida RI dengan tema ‘Mitigasi Risiko Penggunaan Disinfektan Kimia untuk Sterilisasi Virus SARS-Cov-2’. Bahan kimia perlu ditangani dengan benar, karena banyak masyarakat yang meracik bahan disinfektan sendiri. Kebanyakan material yang digunakan untuk disinfektan dinyatakan oleh WHO memiliki efek samping untuk kesehatan manusia seperti alkohol, klorin, atau hidrogen peroksida.

Saat ini marak di Indonesia penggunaan disinfektan dalam bilik sterilisasi atau sterilization chamber. Fenomena ini dipicu keberhasilan negara lain seperti di Vietnam. “Penggunaan bahan disinfektan kimia pada bilik sterilisasi yang tidak sesuai, bisa berdampak pada kesehatan apabila digunakan dalam jangka panjang,” terang Taufikurahman.

Pembicara terakhir adalah Yusuf Nur Wijayanto dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI dengan topik ‘Sinar UV-C untuk Sterilisasi Limbah Penanganan COVID-19’. Teknologi yang dikembangkan di laboratoriumnya ini diberi nama Simple Smart UV-C Sanitizer (SiSUSAN). SiSusan merupakan alat strelisasi ruangan portable yang dapat dikendalikan dengan ponsel pintar. SiSUSAN dikembangkan secara sederhana dengan memanfaatkan sinar UV untuk membunuh virus atau bakteri. “Tidak hanya mudah digunakan, SiSUSAN juga murah, sehingga cocok digunakan di lingkungan rumah tangga, puskesmas, sekolah, dan kantor,” ujar Yusuf. (har, adl/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS