: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Teknik Baru Ekstraksi Atsiri


Administrator, 10 September 2019

Teknologi konvensional memburuhkan waktu lama, tak ramah lingkungan. dan merusak senyawa.

 

Di alam terdapat tiga golongan minyak, yakni mineral. nabati dan hewani, serta atsiri. Yang terakhir berupa cairan lembut, kental di suhu ruangan, tapi mudah menguap sehingga memberi aroma khas sebagai bahan dasar wangi-wangian.

"Minyak ini diperoleh dan ekstrak atau penyulingan bunga, biji, daun, kulit batang, kayu, dan akar tumbuh-tumbuhan,“ kata peneliti dari Pusat Penelitian kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan lndonesia, Anny Sulaswatty, kepada Tempo, Ahad lalu.

Senyawa utama atsiri seperti eugenol, sitronelal, sitronelol, geraniol, isopulegol, patchouli alcohol, sinamaldehid, miristisin, vetiverol, dan gingerol dapat digunakan dalam berbagai sektor komersial, antara lain pangan, farmasi, kosmetik, dan industri kimia.

"Ini menandakan bahwa kebutuhan adanya metode yang tepat dan memiliki standar dalam memurnikan berbagai komponen utama atsiri diperlukan sehingga dapat dikembangkan menjadi bahan aktif lainnya,“ ujar Anny.

Menurut Anny, teknologi konvensional yang ada saat ini umumnya membutuhkan waktu lama, kurang ramah lingkungan, dan berpotensi memicu kerusakan senyawa. Sementara itu, beberapa metode alternatif terbaru yang ada cukup stabil.

“Tapi sampai saat ini tidak ada metode tunggal yang dianggap sebagai standar untuk mengekstrak senyawa utama dari tumbuhan dan bahan alam, termasuk atsiri," kata dia.

Ekstraksi komponen utama atsiri dapat dilakukan dengan berbagai prosedur. Salah satunya melalui metode non-konvensiunal lebih ramah lingkungan dengan penurunan penggunaan bahan kimia sintetis dan organik. Waktu operasional berkurang serta kualitasnya lebih baik.

Upaya ini telah dikembangkan selama 20 tahun untuk meningkatkan hasil keseluruhan dan selektivitas komponen utama dari bahan alam, "Pada saat yang sama, ekstraksi metode konvensional, seperti Soxhlet, masih dianggap sebagai salah satu metode referensi untuk membandingkan keberhasilan metodologi yang baru dikembangkan," kata Anny.

Penelitian untuk meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi ekstraksi atsiri ini dilakukan di LIPl sejak 1990. Harapannya, indonesia dapat menjadi pelaku industri atsiri yang efektif, efisien, dan berdaya guna.

”Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri lndonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, bahan aditif makanan, serta perasa makanan," ujar Anny.

Masalah utama ekstraksi konvensional adalah lamanya waktu yang dibutuhkan dan persyaratan kemurnian pelarut yang mahal. "Juga penguapan bahan pelarut, selektivitas ekstraksi yang rendah, dari dekomposisi termal dari senyawa termolabil.“

Untuk mengatasi masalah ini, Anny menjelaskan, teknik ekstraksi baru dan prospektif mulaigencar diperkenalkan. Teknik-teknik ini disebut teknik ekstraksi non-konvensional.

Beberapa teknik yang cukup prospektif adalah teknik ekstraksi perlakuan awal ultrasonikasi atau ekstraksi yang dibantu enzim, ekstraksi dengan bantuan gelombang mikro, ekstraksi fluida superkritis, dan ekstraksi fluida bertekanan. "Beberapa teknik ini dianggap sebagai 'teknik hijau' sesuai dengan standar Environmental Protection Agency, Amerika Serikat." ujar dia.

Pemanfaatan teknologi non-konvensional, menurut Anny. perlu diterapkan melalui kerja sama dengan industri, "Salah satunya telah dilakukan pengembangan green additives berbasis turunan minyak atsiri yang dapat menurunkan kadar air dalam solar iungga is persen dan menghemat bahan bakar hingga 8 persen," kata dia. 

(Afrilia Suryanis/Koran Tempo)

 

Sumber : http://koran.tempo.co/read/445664/teknik-baru-ekstraksi-atsiri

ZONA INTEGRITAS