: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Supervisi PUI Bioetanol G2 di Puslit Kimia LIPI


Administrator, 05 Juli 2019

Serpong, Humas LIPI. Supervisi Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Dua (G2) dilaksanakan pada Rabu (3/7/2019) di Ruang Rapat lantai 2 Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2K - LIPI), Serpong. Acara diawali dengan sambutan Dini Chandra Sekar yang mewakili Pelaksana Tugas (Plt.) Kapus P2K - LIPI. Dini menyampaikan selamat datang dan selamat bekerja kepada para hadirin dan supervisor yang diwakili Paulus Tjakrawan dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Galuh Endah Palupi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), dan Kartika Hasanah dari sekretariat PUI. Kemudian Galuh dari Kemenristekdikti turut memberikan sambutan, yang dilanjutkan paparan laporan oleh Arief A.R. Setiawan tentang kemajuan PUI Bioetanol G2 di tahun ketiga dan hambatan seiring reorganisasi sedang dilakukan di LIPI.

Sesi berikutnya adalah diskusi dan masukan dari supervisor. Paulus menanggapi perubahan organisasi merupakan hambatan yang prinsipil dan solusinya cukup terasa karena jumlah struktur dan sumber daya manusia (SDM) berkurang drastis, bahkan Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian merangkap Plt. Kepala P2K. Saat ini penelitian masih bisa memakai tenaga teknisi yang ada. Namun untuk diseminasi yang ada dalam struktur sekarang tidak ada lagi sehingga kekurangan SDM, sehingga perlu dicarikan solusi dalam masa transisi ini.

“Produk-produk turunan dari proses bioetanol perlu ada kerjasama untuk tahap penelitian,” jelas Paulus. Terkait kerjasama pemanfaatan pilot plant bioetanol harus menggandeng Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit, saran Paulus sebelum kerjasama  harap menemui tim seleksi BPDP sawit, yaitu Darmono, lalu melakukan presentasi produk bioetanol dan turunannya. Sementara untuk diseminasi ke industri bisa mengundang asosiasi industri. Saat pengajuan dana ke BPDP untuk peralatan informal pun, perlu didorong selain dana pemeliharan.

Terkait Standar Operasional Prosedur (SOP), diupayakan agar secepatnya dibuat SOP yang tersentralisasi mengikuti pusat. “Penerapan Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP)  diharapkan segera terealisasi tahun ini,” tambah Paulus. Beliau juga menyarankan peneliti untuk mengikuti pelatihan public speaking, karena tanpa kemampuan bicara, sulit bagi pihak lain untuk percaya. 

“Usulan dari Paulus perlu ditindaklanjuti, peneliti perlu dibekali dengan presentasi cara menjual, jadi bukan sekedar presentasi,” ujar Galuh. Menurutnya, bioetanol masih masih sangat dibutuhkan, karena isunya tidak hanya lingkungan tetapi juga ekonomi karena bisa mengurangi defisit perdagangan. Tak lupa Kartika dari sekretariat PUI mengingatkan bahwa laporan pertanggungjawaban dilakukan setiap bulan, dana bisa untuk membeli bahan namun tidak untuk honor bulanan. (es/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS