: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Sapa Media, Mengenal Lebih dalam RT-LAMP


Administrator, 19 Januari 2022

Serpong - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Sapa Media secara daring dengan media massa nasional pada Senin (17/1) lalu. Acara yang merupakan kolaborasi Pusat Riset Kimia BRIN dan Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan BRIN ini bertujuan untuk memperkenalkan produk Reverse Transcription Loop Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP), yang telah memperoleh izin edar dalam mendeteksi Covid-19, dan diakui dapat mendeteksi virus varian Delta dan Omicron yang sedang berkembang di beberapa negara termasuk Indonesia.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada para peneliti maupun majanemen dimana RT-LAMP telah memperoleh izin edar regular yang berlaku lima tahun, hal ini akan mempermudah para peneliti dalam mengembangkan RT-LAMP ini ke tahap selanjutnya yaitu pengujian saliva. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada media yang telah hadir pada acara ini, dengan harapan pemberitaan sampai ke masyarakat, sehingga dapat mengentahui hasil dari penemuan peneliti, yang nantinya akan bermanfaat untuk masyarakat terutama tenaga kesehatan di rumah sakit dalam rangka penanganan Covid-19,” ungkap Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (OR IPT) Agus Haryono.

Agus Haryono juga menyampaikan bagaimana industri dapat memanfaatkan hasil riset BRIN. “Banyak industri yang telah membeli lisensi produk kita, sehingga negara mendapatkan royalti sebesar 2,75 miliar pada tahun 2021. Berdasarkan peraturan Kementerian Keuangan, periset berhak mendapatkan royalti dari lisensi yang didapat negara dari hasil penelitian, bahkan ada tim yang mendapatkan imbal hasil sampai 400 juta dalam satu tahun,” ujarnya.

Kepala Pusat Riset Kimia BRIN, Yenny Meliana memberi pengantar mengenai fungsi RT-LAMP.  “Adanya izin edar RT-LAMP, maka Indonesia sekarang memiliki alternatif baru untuk mendeteksi Covid-19. Di beberapa negara, metode RT-LAMP ini sudah diakui setara dengan PCR dalam mendeteksi Covid-19,” tuturnya.

Peneliti BRIN, Tjandrawati Mozef, menjelaskan bahwa penelitian ini terlaksana karena pada saat awal pandemi kebutuhan akan kit untuk pendeteksi Covid-19 sangat terbatas di pasaran dan harganya cukup mahal. “Berdasarkan hal itu, kami para peneliti memulai penelitian tentang RT-LAMP yang berlangsung selama dua tahun terakhir. RT-LAMP memiliki kelebihan diantaranya tahapan sederhana dalam mendeteksi data, dilakukan secara mudah, dan efektif di lapangan. Keunggulan lainnya adalah hasil reaksi dapat diamati dengan cepat, selama kurang lebih 40 menit, hemat biaya karena proses dilakukan dengan alat dan reagen yang minimum, yang terpenting kit ini dibuat di dalam negeri” penjelasan dari peneliti BRIN Tjandrawati Mozef. 

Tjandrawati Mozef menambahkan prinsip kerja RT-LAMP. “Pada prinsipnya sistem kerja RT-LAMP dengan PCR hampir sama, yang membedakan adalah pada saat mendeteksi virus dan proses amplifikasi dengan menggunakan enzim polymerase. Reaksi RT-LAMP berlangsung secara isothermal atau konstan dan dilihat dengan adanya kekeruhan secara visual maupun dengan alat, saat ini kami juga sedang mengembangkan alat untuk melihat kekeruhan sampel,” urainya.

Peneliti Kimia ini menambahkan bahwa saat ini riset pengujian melalui saliva sedang dikembangan tetapi masih diperlukan validasi dari sisi klinis untuk memperoleh data yang lebih banyak lagi dari pengujian RT-LAMP, dengan harapan agar metode ini lebih kuat lagi. “Virus tidak dapat dihilang secara 100 persen, sehingga deteksi virus tetap dibutuhkan kedepannya. RT-LAMP bisa sebagai metode alternatif untuk mengujian molekuler dari SARS-Cov-2 dengan keunggulannya,” ucapnya.

PT Biosains Medika Indonesia, mitra BRIN, mengembangkan kit tersebut dengan merek dagang Qi-LAMP-O. Selain harga yang diharapkan lebih murah dari PCR dan ketepatan serta hasil deteksinya lebih cepat. Kepala Pusat Riset Kimia berharap RT-LAMP terus dikembangkan terkait mengujian melalui saliva. “Karena kita ingin tingkatkan validasinya. Dikuasainya teknologi kunci ini kita siap menghadapi tantangan apapun kedepannya yang berkenaan dengan virus, bakteri, dan mikroorganisme  yang pasti Indonesia tangguh dan pasti Indonesia bisa,” pungkasnya. (esw/ ed: adl)

ZONA INTEGRITAS