: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Pusat Penelitian Kimia Selenggarakan International Workshop on Biomass for Biofuels


Administrator, 19 Oktober 2017

Bahan bakar nabati (BBN) dianggap memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi karena menggunakan bahan baku limbah pertanian dan kehutanan. BBN ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu mengeliminasi emisi gas penyebab efek rumah kaca.

[Berita P2 Kimia, Serpong] Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia melalui peraturan No. 12 tahun 2015 telah menetapkan bahwa pemanfaatan bahan bakar nabati atau biofules yaitu biodiesel, bioetanol, khususnya bioetanol (E100) sebagai campuran bahan bakar minyak di tahun 2020 pada berbagai jenis sektor yang terdiri dari usaha mikro, usaha perikanan, usaha pertanian, transportasi dan pelayanan umum (PSO), transportasi non PSO dan Industri dan komersial adalah masing-masing sebanyak 20%. Hal ini meningkatkan gairah dan animo peneliti dan pelaku industri di bidang bahan bakar nabati untuk lebih mempercepat implementasi penggunaan bioetanol, salah satunya sebagai bahan bakar nabati.

Prof. Dr. Yanni Sudiyani, Peneliti Utama Bioetanol Biomassa Lignoselulosa dari Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengungkapkan bahwa peningkatan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) di Indonesia yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah memperlihatkan dukungan dan keseriusan pemerintah yang begitu besar terhadap pemanfaatan bahan bakar nabati di Indonesia.    

“Pada saat ini, biofuels khususnya biodiesel dan bioetanol memang menjadi primadona. Orang-orang sudah mulai concern terhadap lingkungan. Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Kandungan oksigen yang tinggi (35 %), emisi gas karbon monoksidanya juga lebih rendah 19-25 % sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer”, ungkap wanita yang merupakan profesor riset tersebut.   

Melimpahnya biomassa, khususnya lignoselulosa di Indonesia membuka kesempatan besar terwujudnya bahan bakar yang lebih cost-effective. Karena bahan bakunya bioetanol generasi dua ini adalah limbah pertanian dan kehutanan yang nota bene adalah sampah.  Berbeda dengan bioetanol generasi satu yang dihasilkan dari pati yang terdapat dalam bahan pangan, bioetanol generasi dua dari lignoselulosa tidak akan menyebabkan krisis harga bahan baku. Walaupun memang teknologi proses bioetanol generasi satu lebih mudah dan murah karena tidak memerlukan perlakuan awal. Struktur lignoselulosa yang kompleks memerlukan perlakuan awal yang cukup sulit dan tidak murah. Pusat penelitian Kimia LIPI sedang mengembangkan teknologi kilang hayati (Biorefinery) dengan cara memanfaatkan limbah produksi menjadi bahan kimia adi dengan nilai tambah (added value). Dengan teknologi ini, diharapkan dapat menekan biaya produksi seminimal mungkin. 

Sejak tahun 2011, dengan menggunakan Pilot Plant berkapasitas 10 liter/hari, Pusat Penelitian Kimia sudah berhasil memproduksi bioetanol kemurnian tinggi sebesar 99,5%. Kemudian mulai 2017 ini, Kementerian RISTEK DIKTI menunjuk Pusat Penelitian Kimia sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Bioetanol Genereasi Dua.

Pusat Penelitian Kimia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri (PPBBI) dan dukungan dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menyelenggarakan International Workshop on Biomass for Biofuels dengan tema “Future Prospects of Biomass Towards Sustainable Energy”. Workshop diselenggarakan selama dua hari dari Kamis sampai Jumat (19–20/10/2017) di Gedung Graha Widya Bakti PUSPIPTEK dan Pusat Penelitian Kimia. Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari kalangan peneliti, akademisi dan pelaku industri tersebut berisi lecture dari para pakar biofuel, salah satunya adalah Prof. M. J. Taherzadeh dari University of Boras, Swedia. Pembicara kunci lainnya yaitu Prof. Yutaka Nakashima dari Hiroshima University-Jepang, Dr. Paripok Phitsuwan dari King Mongkut's University-Thailand,  Ir. Rida Mulyana, M.Sc. dari Kementrian ESDM, Prof. Dr. Ir. Erliza Hambali dari IPB, Dr. Tito Prakoso dari ITB, Dr. Haznan Abimanyu dan Dr. Edi Wiloso dari Pusat Penelitian Kimia. Untuk lebih mengenalkan kegiatan penelitian pengembangan biofuel di Pusat Penelitian Kimia, dilakukan juga demo pilot plant untuk memproduksi bioetanol dari tandan kosong kelapa sawit. Tidak hanya untuk memperkenalkan prospek teknologi bioenergi dari biomassa lignoselulosa, workshop ini diharapkan menjadi ajang pertemuan para akademisi, peneliti dan pelaku industri dalam dan luar negeri untuk saling sharing informasi dan berkolaborasi dalam pengembangan teknologi produksi biofuels di masa yang akan datang. <db/ p2k>

ZONA INTEGRITAS