: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Pentingnya Tikus Putih dan Mencit untuk Penelitian


Administrator, 30 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Meski kerap dianggap sebagai hama, siapa sangka tikus berperan penting pada ilmu pengetahuan. Satwa pengerat ini sering dipakai sebagai media percobaan bagi para peneliti untuk merumuskan obat bagi penyakit hingga pengujian suplemen makanan. Redaksi CNN Indonesia dengan Rosella Mencit dan LIPI meliput mengenai pentingnya Tikus Putih dan Mencit, pada lembaga penelitian dan bagaimana dan bagaiamana proses produksi atau pengembangbiakan. Acara yang dipandu oleh Ryan Fernando, Produser Lapangan CNN Indonesia, menampilkan lika-liku berternak tikus putih dan mencit dalam segmen sehari menjadi, pada Minggu (29/8) melalui CNN-Indonesia dan Trans 7.

Tikus putih atau Norway Rat berasal dari Tiongkok dan menyebar ke Asia Tenggara. Mengutip data Foundation for Biomedical Research Amerika Serikat, 95% hewan percobaan di laboratorium adalah tikus. “Uji tikus itu sebagai uji keamanan suatu kandidat obat atau  kandidat vaksin. Kita akan membedah atau dibuka hewan itu dan kita akan melihat pengaruhnya terhadap organ hati, organ ginjal, paru bahkan memang dia kalau kita bedah hewan ini memiliki kemiripan morpologi tetapi ukurannya kecil,” jelas Marissa Angelina Peneliti Madya P2 Kimia – LIPI.

Selain tikus putih, juga ada mencit. Hewan dengan nama latin Mus musculus adalah anggota dari Muridae atau tikus-tikusan yang berukuran kecil. Ukuran tikus putih bisa mencapai 40 sentimeter. Namun ukuran mencit jauh lebih kecil dengan panjang 12 hingga 20 sentimeter. Tidak ada makanan khusus untuk tikus putih, karena hewat pengerat ini merupakan omnivora alias pemakan segala. Makan tikus harus mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta serat kasar.

Ada dua cara pengembangbiakan tikus putih yaitu inbreeding atau outbreeding. Inbreeding atau perkawinan sedarah yang biasanya dihindari oleh para peternak karena presentase terjadi kecacatan lebih tinggi dibanding perkawinan tidak sedarah atau outbreeding. Namun ada juga peneliti yang membutuhkan tikus jenis ini salah satunya untuk meneliti tikus dengan imun lebih lemah dari tikus kebanyakan. Tikus yang digunakan untuk penelitian minimal berusia 3 bulan atau masuk kategori dewasa. Tikus putih yang dijual ke laboratorium berbobot 150 - 200 gram per ekor, sementara Mencit memiliki bobot 20 - 30 gram per ekor.

Sejumlah lembaga penelitian masih menggunakan tikus sebagai salah satu media penelitian. Marissa menyebut, beberapa penelitian yang dilakukan diantaranya adalah ingin melihat apakah daun ketepeng badak dapat meningkatkan imunitas seseorang. “Sebelumnya kita ujikan pada mencit sebelum kita berikan kepada manusia. Selain itu kita juga melakukan uji terhadap tanaman mengkudu sebagai anti hipertensi,“ pungkasnya. (hrd)

ZONA INTEGRITAS