Berita

Peneliti P2 Kimia Kembali Memboyong L’ORÉAL–UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards


Administrator, 09 November 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Bertempat di Kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Kamis (9/11/2017), L’Oréal Indonesia bekerjasama dengan dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU Kemendikbud) kembali menganugerahkan penghargaan tahunan L’ORÉAL–UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 untuk ke-14 kalinya. Kali ini penghargaan diberikan kepada empat orang perempuan peneliti hebat yang mampu berperan mengubah masa depan dunia medis di Indonesia. Adalah Dr. Siti Nurul Aisyiyah Jenie, salah satu peneliti P2 Kimia yang berhasil memboyong penghargaan tersebut. Bertemakan 'Saya ingin berperan dalam mengubah masa depan dunia medis Indonesia', Ais, sapaan akrabnya, menghadirkan sebuah penelitian di bidang material sains yang berjudul Pengembangan nanopartikel berfluoresens berbasis silika alami Indonesia untuk bioimaging optik.

Tahun ini acara penganugerahan turut dihadiri oleh Ir. Ira Nurhayati Djarot, M.Sc, Ph.D Direktur Sistem Riset dan Pengembangan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dr. Ir. Bastari Kepala Pusat Data dan Statistik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Marlina Moegijono Putri, SE Kepala Sub Bidang Fasilitas Gender di Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Shahbaz Khan, Ph.D Direktur UNESCO, serta Prof. Dr. Arief Rachman Ketua Harian KNIU Kemendikbud Perwakilan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI).

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Arief Rachman mengungkapkan posisi peneliti dan penelitian di Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. “Jumlah peneliti per 1 juta populasi di Malaysia mencapai angka 7.000, diikuti Singapura di angka 2.590, sementara Indonesia hanya berada di angka 1.071. Jumlah peneliti di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Indonesia harus mengejar ketertinggalan tersebut. Menghadapi perkembangan era yang sangat dinamis ini, tuntutan untuk memahami sains dan teknologi semakin tinggi. Dunia pun perlu mengubah pemikirannya bahwa sains, teknologi, teknik, dan matematika bukanlah lahan pria saja. Perempuan pun harus berkecimpung di dunia ini dan memilihnya sebagai karir mereka kedepannya.”

Sebagaimana diketahui bersama bahwa efek globalisasi berdampak pada semua aspek kehidupan, termasuk dunia medis. Berbagai penyakit baru dan mematikan muncul tanpa bisa diprediksi akibat gaya hidup dan perubahan lingkungan yang terus berkembang. Tak hanya dunia, Indonesia juga harus menghadapi tantangan ini dan membutuhkan strategi khusus untuk mencegah, mengobati, dan melindungi masyarakat dalam bidang kesehatan. Para perempuan peneliti ini dapat membantu memperbaiki teknik deteksi dini penyakit mematikan, menurunkan biaya pengobatan, mengembangkan prosedur medis yang aman guna peningkatan kualitas hidup. Tentu ini menjadi penting, melihat bagaimana hal tersebut dapat membawa perubahan bagi negara.

Ditemui secara terpisah, Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono menyampaikan perasaan bangganya kepada Aisyah. "Tentu saya sangat senang bahwa salah satu srikandi dari P2 Kimia kembali memboyong prestasi yang sangat membanggakan ini. Pastinya ini akan mendorong semangat rekan-rekan peneliti lainnya, khususnya peneliti wanita Indonesia untuk terus berkarya dan menorehkan prestasi-prestasinya di kancah global. Sekali lagi saya sampaikan selamat kepada Ais atas pencapaian ini," ungkap Agus sekaligus memberikan harapannya. <es, p2k; ed: sjw>

ZONA INTEGRITAS