: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Penanganan Sampah Medis Plastik dengan Rekristalisasi


Administrator, 23 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Sampah medis plastik berupa alat pelindung diri seperti masker, pelindung wajah, sarung tangan, penutup kepala, dan sebagainya sangat mewabah di era pandemi Covid-19. Lalu penanganan apa yang harus dilakukan?

Dyah, salah satu teman pemilah, dari Instagram (IG) @pilahsampah tertarik sekali membaca artikel yang terbit di harian Kompas, 15 Februari 2021, mengenai bagaimana mengolah sampah medis plastik dengan metode rekristalisasi. Di dalam artikel disebutkan metode rekristalisasi dinilai mudah dan tidak membutuhkan energi tinggi. Komunitas pilah sampah sendiri selama ini programnya adalah mengajak masyarakat  untuk turut serta dalam memilah dan mengolah sampahnya dari lingkungan masing-masing.

Menurut Dyah, saat ini banyak dari teman pemilah yang bertanya-tanya tentang sampah medis terutama masker, yang merupakan barang wajib dikenakan hampir sepanjang hari. Menjawab hal tersebut, salah satu peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI Sunit Hendrana memberikan pencerahan mengenai teknologi yang dikembangkan di akhir tahun 2020 kemarin.

Sunit menjelaskan, sampah medis semacam masker terbuat dari bahan plastik. Maka kalau kita buang dapat menimbulkan masalah lain selain kuantitasnya, juga menimbulkan masalah mikroplastik.

Metode rekristalisasi bisa dijadikan salah satu alternatif dalam pengolahan sampah medis plastik. Teknologi ini berfungsi memurnikan plastik menjadi serbuk seperti kristal dan bisa digunakan kembali sebagai sumber bahan baku ulang untuk produk plastik karena tingkat kemurniannya di atas 90%.

Metode ini dapat diterapkan pada hampir semua jenis plastik, selain masker medis yang berjenis poripropilena (PP), juga GeNose berbahan poliviniklorida (PVC) dan polietilana (PE), busa berbahan polistirena (PS), dan sampel lainnya. “Semua limbah medis yang unsur penyusunnya adalah senyawa plastik PE (polietilen), PP (polipropilen), PVC (poli vinil klorida), PS (polistirena), PMMA (poli metil metakrilat), PC (polikarbonat), itu bisa diolah dengan rekristalisasi kecuali polietilena tereftalat (PET) karena akan kesulitan mendapatkan pelarut yang sesuai,” tambah Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Penelitian Kimia Makromolekul.

Dalam menangani sampah plastik atau menonaktifkan virus sampah, menurutnya yang perlu diperhatikan adalah dengan tahap penguapan yaitu menyediakan toples atau wadah yang tertutup dan transparan, agar matahari bisa masuk, dan antiseptik, kemudian dipanaskan hingga menguap.

Sementara ini, Sunit menyarankan sampah medis  yang sudah dikumpulkan, dipilah agar dapat disalurkan dengan metode rekristalisasi di skala komunitas atau lingkungan sendiri, sehingga tidak harus tersentral, tetapi desentralisasi pengolahan sampah. “Artinya kita bisa mengolah sampah medis plastik yang kita hasilkan dari kita sendiri, lingkungan komunitas, sehingga tidak harus ke pusat pengolahan sampah medis yang jaraknya jauh dan sebagainya,” ujarnya.

Metode teknologi rekristalisasi sebenarnya bukanlah temuan baru, melainkan teknologi di tahun 1970-an. Dari teknologi inilah Sunit dan tim memberikan sentuhan inovasi, dengan aplikasinya untuk memurnikan plastik. Yakni memisahkan plastik dan memurnikan plastik dengan cara dilarutkan dan diendapkan. “Jadi dari sampel-sampel seperti masker medis yang direkristalisasi, kita bisa menentukan bagaimana bentuk produk akhirnya, jika ingin bentuk serbuknya halus atau kasar, kita bisa mengatur di dalam proses,” terang pakar polimer ini dalam IG Live @pilahsampah pada Rabu (17/2).

(hrd/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS