: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Pemanfaatan Limbah Sawit Bagi Masyarakat


Administrator, 23 Maret 2021

Serpong, Humas LIPI. Secara mengejutkan bulan ini pemerintah mengeluarkan limbah kelapa sawit dari daftar limbah berbahaya dan beracun (B3). Mengapa pemerintah melakukannya? Apakah masyarakat, lingkungan, dan kesehatan tidak menjadi perhatian pemerintah?

Kepala Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yenny Meliana menjelaskan, limbah penyulingan kelapa sawit atau limbah spent bleaching earth (SBE) hanya mengandung alumina, silika, dan CAO yang benar-benar produk alam bumi.  “SBE sudah diekstrak kandungan minyaknya, dari 20-30% menjadi di bawah 3%, sesuai ketentuan KLHK, sehingga termasuk limbah non-B3, dan lebih mudah pemanfaatannya, karena tidak mengandung minyak serta logam berat,” jelasnya di acara siaran langsung Green Talk : Benang Kusut Limbah Berbahaya, Berita Satu TV, pada Senin (22/3).

SBE merupakan limbah padat yang berasal dari proses pemurnian minyak kelapa sawit. “Jadi dalam proses kelapa sawit kita punya potensi neraca massa kelapa sawit,” ujar Melly kerap disapa. “Riset yang kami lakukan dari limbah kelapa sawit menghasilkan tandan buah segar, kemudian ada produk utamanya yang akan menghasilkan minyak itu sendiri, lalu ada minyak biji sawit dan juga ada crude palm oil (CPO) minyak sawitnya,” urai peneliti P2 Kimia – LIPI.

Menurut Melly, selain produk utama, ada pula produk samping dari kelapa sawit, yakni tandan kosong kelapa sawit, serat, cangkang, limbah cair pomin, dan seterusnya. “Secara riset, semua produk samping dapat langsung dimanfaatkan untuk suatu produk yang lebih berguna,” ungkap Melly.

“Terkait serat, para peneliti LIPI telah melakukan riset menghasilkan produk micro fiber cellulose dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS), aplikasinya sebagai serat optik,” sebutnya. “Kami juga melakukan riset TKKS sebagai bahan bakar untuk bioetanol generasi dua yang setara dengan bensin, jadi yang kami lakukan bisa seperti pemanfatan SBE,” lanjut Melly.

Dirinya menjabarkan bahwa secara riset, SBE dengan kadar minyak lebih dari tiga persen, bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk energi, selain itu SBE bisa diolah sebagai bahan non-B3 dengan kadar di bawah tiga persen. “SBE bisa dimanfatkan menjadi produk-produk yang bisa digunakan lagi, dengan nilai ekonomi yang lebih, dan layak bagi lingkungan, telah ditentukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa harus di bawah tiga persen,” terangnya.

Lulusan program doktor teknik kimia National Taiwan University of Science and Technology ini mendukung tentang masalah limbah SBE untuk dilakukan kajian ke dalam aspek lingkungan, penempatan, dan kesehatannya. “Penempatan limbah ini memang masih tahap pengawasan dan kajian teknisnya akan terus dilakukan, sebelum dapat dibuang langsung ke lingkungan,” tutupnya. (hrd/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS