Berita

P2 Kimia Tandatangani Kontrak dengan Kemenristekdikti Guna Kembangkan Riset Ekstraktor Artemisinin untuk Obat Malaria


Administrator, 17 April 2018

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Penyakit Malaria di Indonesia masih menjadi ancaman mematikan, terutama di wilayah Indonesia Timur. Menurut data Annual Parasite Incidence (API) per provinsi tahun 2016, ada 6 besar wilayah yang masih endemis malaria dan masuk ke dalam zona merah, seperti Papua (39,93 persen), Papua Barat (10,20 persen), NTT (5,17 persen), Maluku (3,83 persen), Maluku Utara (2,44 persen) dan Bengkulu (1,36 persen).

Menghadapi kenyataan ini, Pemerintah mendorong sinergi semua pihak untuk turut memerangi malaria. Kementerian Kesehatan menginisiasi Konsorsium Riset Nasional Kemandirian Bahan Baku Obat Malaria Dihidroartemisinin guna mengembangkan bahan baku obat malaria. Konsorsium ini beranggotakan antara lain badan litbang Kementerian Kesehatan, Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementerian Pertanian, satuan kerja Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan PT Indofarma. Di antara satuan kerja LIPI yang terlibat adalah Kebun Raya Cibodas, Pusat Penelitian Biotek dan Pusat Penelitian Kimia.

Melalui program pendanaan riset oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), konsorsium mendapatkan dukungan dana penelitian. Sekitar 1-2 Milliar rupiah dana digelontorkan ke konsorsium ini, yang dipecahkan berdasarkan kegiatan masing-masing anggota konsorsium.

Pusat Penelitian (P2) Kimia juga memperoleh bantuan dana ini guna pengembangan lebih lanjut ekstraktor artemisinin HFC134 Sistem Tertutup untuk obat malaria. Riset ini dikoordinasi oleh Dr. Arthur Ario Lelono, peneliti bahan baku obat dan farmasi di P2 Kimia.

“Ekstraktor yang kami kembangkan bertujuan untuk mengisolasi senyawa bahan baku obat tanpa memerlukan pelarut dan lebih selektif terhadap senyawa yang ditargetkan,“ jelas Arthur yang juga merupakan Kepala Bagian Tata Usaha P2 Kimia LIPI.

Lebih lanjut, Arthur mengungkapkan, ekstraktor HFC134 yang timnya kembangkan memiliki keunggulan lain berupa proses ekstraksi yang cepat, aman dan efisien. Di samping itu, ekstraktor ini juga sesuai untuk senyawa yang sensitif terhadap panas sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk senyawa lain termasuk minyak atsiri.

“Desain ekstraktor ini memang dikembangkan agar siap untuk diimplementasikan di industri dengan biaya yang ekonomis,“ pungkas pria yang menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 nya di Ehime University, Jepang ini.

Penandatangan kontrak riset ini dilakukan dalam program bertajuk “Penandatangan Perjanjian Kerja Sama Pendanaan Inovasi Industri & Inovasi Perguruan Tinggi”. Acara diselenggarakan oleh Kemenristekdikti di Auditorium BPPT Jakarta (17/4). Sejumlah universitas, lembaga litbang dan industri yang proposalnya terpilih turut hadir di kegiatan ini. Dari P2 Kimia, Dr. Agus Haryono selaku Kepala menandatangani kontrak riset dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Medy Eka Suryana, S.IP M.M.

“Pendanaan ini makin memperkokoh peran LIPI termasuk P2 Kimia dalam mendukung riset bahan baku obat malaria di Indonesia,“ ujar Agus seusai penandatanganan. Agus menambahkan, ekstraktor yang tengah dikembangkan merupakan alat yang sangat efisien, hampir 40 kali lipat lebih efisien daripada metode ekstraksi solven yang konvensional. <aars/ p2kimia>

ZONA INTEGRITAS