: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Ngabuburit Bicara Covid-19: “Munasain, Tradisional Knowledge, and Science”


Administrator, 20 Mei 2020

Serpong, Humas LIPI. Memperingati “Hari jadi Museum Etnobotani Indonesia (sekarang Munasain) dan Hari Museum Internasional” yang jatuh pada 18 Mei, Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain) melaksanakan kegiatan ngabuburit tahun 2020 yang diisi acara bincang-bincang atau “talkshow” dengan tema Covid-19: Munasain, Traditional Knowledge, and Science, pada Senin (18/5), melalui media Webinar Zoom dan melalui Live Youtube.

Webinar ini disampaikan oleh pembicara Prof. Dr. Andria Agusta, Profesor Riset Kimia Bahan Alam, Pusat Penelitian Kimia LIPI, membagi informasi tentang "Bisakah Obat Herbal Mengatasi Covid-19"?, dan Dr. Herry Yogaswara, Doktor Ekologi Manusia, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, memaparkan tentang "Strategi Masyarakat Adat Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19: Dari Ritual Hingga Pengetahuan Tradisional Pengobatan".

Sebagai pemandu jalannya acara, Pranata Humas Madya – Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI, Ir. Sugiarti bertindak sebagai moderator.

Acara ngabuburit Munasain diikuti oleh lembaga riset, lembaga pemerintah, lembaga swasta, perguruan tinggi, universitas negeri, sekolah, komunitas, rumah sakit, umum, dan rekan media.

Dalam sambutan dan paparan Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Atit Kanti mengucapkan  selamat kepada tim pengelola Munasain, yang dulunya bernama sejarah alam Indonesia kini berusia ke-38 tahun. Munasain selama empat tahun ini sudah melakukan transformasi menjadi “museum yang lebih modern” dengan konten berbagai macam pendekatan yang didukung oleh banyak pihak.

Sekarang, pengelolaan Munasain sudah digandengkan dengan mitra Dyandra. Kapuslit Atit berharap ini menjadi salah satu titik tolak ukur Munasain menjadi lebih dikenal. Beliau menitipkan pesan kepada humas LIPI untuk bersama-sama mempromosikan Munasain.

Kapus P2 Biologi mengucapkan terima kasih kepada narasumber Prof. Dr. Andria Agusta. Beliau sudah sangat lama bekerja dengan berbagai macam bahan alam yang membantu Indonesia menemukan jenis-jenis obat yang baru dalam berbagai macam bentuk. Kemudian Dr. Herry Yogaswara yang menyampaikan bagaimana ilmu pengetahuan tradisional (traditional knowledge) bergandengan dengan ilmu ilmiah (science). Jadi kedua topik tersebut melihat Covid dari dua sisi yang berbeda.

“Mari kita lupakan sejenak bagaimana Covid merusak kehidupan dunia, bagaimana virus ini tidak dapat dikendalikan, bagaimana kita tidak bisa mengendalikan manusia untuk diam di rumah. Acara ini salah satu webinar yang pola dan coraknya sangat menarik,” terangnya.

Sebagai informasi, LIPI turut membantu pemerintah dalam program penuntasan Covid-19. Yaitu dengan dengan berbagai program, seperti pelatihan (training), proses deteksi, bergabung dengan tim deteksi Covid-19 Indonesia, dan melakukan proses deteksi virus dengan bekerja sama dengan rumah sakit. Selain itu, LIPI juga mengembangkan obat tradisional, peralatan-peralatan sterilisasi, vaksin, dan RT VCR lab.

Dari segi sains akhirnya manusia tergiring untuk mencoba beradaptasi dengan penyakit. Sementara dari sisi sosial di tengah kepanikan orang, ternyata kreatifitas peneliti juga bisa dipacu dengan sangat cepat.

Dengan dukungan pimpinan LIPI, LIPI siap bekerja sama dengan seluruh stakeholder baik universitas, perusahaan swasta, media, para pelajar universitas, untuk ikut berperan bersama-sama mengembangkan dan mempelajari apa sebenarnya Covid-19 dari berbagai macam aspek.

Pembicara pertama, Prof Adria Agusta menjelaskan tentang obat herbal untuk Covid-19, kemudian secara rinci bagaimana proses kimia, metode untuk mengatasi Covid-19, obat maupun pengetahuan tradisional di Indonesia.

Berdasarkan website dari WHO, bahwa saat ini belum ada obat yang bisa digunakan untuk mencegah maupun untuk mengobati Covid-19.

Pemanfaatan herbal untuk mengatasi Covid-19 sudah diterapkan di Indonesia oleh masyarakat. Contohnya di Maluku, ada tradisi baukup/bertangas yang merupakan metode pencegahan Covid-19 dengan menggunakan bahan herbal berupa daun pala, buah pala, daun nangka belanda, daun cengkih, daun kayu putih, kayu putih, lengkuas, dan jahe.

Sementara Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan sebuah produk tumbuhan kayu putih atau melaleuca leucadendron yang diklaim dapat menjadi obat untuk mengatasi Covid-19. Herbal melaleuca leucadendron telah diujikan pada virus influenza dan virus beta atau gamma corona, tapi belum diujikan pada SARS-Cov-2.

Kemudian pada laman media sosial, sangat banyak herbal lainnya yang diklaim dapat mengatasi Covid-19 seperti herbal yang mengandung kurkumin, yang disebut empon-empon seperti kunyit, temulawak, dan sejenisnya. Selain itu ada kulit jeruk, jambu biji merah, daun kelor mengkudu; meniran; jintan hitam. Khasiat herbal tersebut diklaim sebatas berdasarkan docking study yaitu dari simulasi dengan komputer.

Prof. Andria berkesimpulan bahwa banyak bahan obat alami/obat herbal yang diklaim dapat digunakan untuk mengatasi infeksi SARS-Cov-2 penyebab Covid-19, baik dari peneliti di institusi resmi maupun masyarakat umum. Namun pada kenyataannya klaim tersebut didasarkan pada data dengan uji menggunakan virus yang berbeda sama sekali.

“Sangat perlu dipahami bahwa tidak ada suatu bahan obat yang bersifat universal yang dapat membunuh atau pun menghambat replikasi segala macam virus. Oleh karena itu pengujian dengan menggunakan virus SARS-Cov-2 adalah sangat penting untuk dibuktikan dan segera dilakukan,” tambahnya.

Pembicara kedua, Dr. Herry Yogaswara sebagai social scientist (peneliti sosial) menceritakan bahwa tugasnya adalah menjelaskan hal yang rumit seperti sains dari sisi kimia atau biologi, secara lebih mudah kepada masyarakat tradisional.

“Jangan sampai hal-hal yang sifatnya ilmu pengetahuan dipertentangkan dengan pengetahuan lokal. Kita saling belajar, antara para ahli ilmu sosial dengan penduduk lokal, kemudian dari teman-teman ilmu alam, ilmu teknik,” ujar Dr. Herry.

Bagaimana masyarakat yang kental dengan herbal, diterjemahkan oleh peneliti ilmu sosial, antroplogi, sosiologi. Tentang fungsi-fungsi yang ada di masyarakat dijelaskan kepada publik yang lebih luas.

Pada isu tentang masyarakat adat dan Covid-19, masyarakat adat di berbagai negara, berbagai tempat, kehidupan kesehariannya termasuk rentan. Sebagai contoh, ada ritual keseharian yang seringkali menggunakan asap. Hal itu bisa merusak sistem pernapasan. 

Oleh karena itu, LIPI hadir di tempat masyarakat adat untuk menyampaikan bagaimana nilai-nilai tradisional yang baik. Misalnya bagaimana membangun rumah tradisional yang secara arsitektural diterima masyarakat adat namun juga sehat.

Masyarakat adat umumnya terbatas terhadap akses kesehatan karena mereka hidup di lokasi yang terisolasi. Akses air juga sangat terbatas. Bagi peneliti sosial, yang terpenting adalah memberikan edukasi publik kepada masyarakat adat. Bagaimana ketika mereka melakukan ritual, juga harus melaksanakan jaga jarak (social distancing) dalam kelompok. Selain itu, penggunaan herbal di lokasi masyarakat menjadi penting untuk dipromosikan.

Masyarakat adat bisa bertahan hingga saat ini karena adanya pengetahuan berdasarkan kearifan lokal. Contohnya masyarakat tradisional di Banten yang mempunyai sistem pertanian yang tidak monokultur. Mereka menggarap pertanian lahan kering, lahan sawah, pertanian kebun campuran dan talun.

Perubahan itu akan selalu hadir di dalam masyarakat adat, termasuk yang sangat tradisional sekali pun. Berupa ‘kearifan lokal dalam dunia yang dinamis”. (har/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS