: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

NAPARBA, Kolaborasi LIPI dengan University of Siegen dan Koc University


Administrator, 29 April 2021

Serpong, Humas LIPI. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menekankan bahwa pemeriksaan (testing) merupakan hal yang sangat penting dalam mengendalikan penyebaran pandemi suatu penyakit. Keberadaan tes cepat (rapid test) pada masa pandemi COVID-19 menunjukkan betapa pentingnya fungsi dari sebuah tes cepat dalam diagnosis medis. Namun, media diagnostik untuk semua jenis patogen belum sepenuhnya tersedia. Bekerja sama dengan University of Siegen Jerman dan Koc University Turki, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan proyek NAPARBA (nanoparticle-based point-of-care detection of antibiotic-resistant bacteria).

Proyek kerja sama riset NAPARBA merupakan kolaborasi dari tiga negara yaitu Indonesia, Jerman dan Turki dengan skema pendanaan dari SouthEastAsia-Europe Joint Funding Scheme (SEA-EU JFS) for Research and Innovation. Melalui Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI, LIPI melakukan kerja sama terkait pendekatan deteksi berbasis nanoteknologi untuk mendeteksi  penyakit yang disebabkan oleh bakteri pathogen secara cepat dan tepat, terutama bakteri yang memiliki resistensi tinggi terhadap antibiotik. “Contoh dari bakteri yang sifatnya resisten terhadap antibiotik adalah Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), hal ini merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang telah mendunia, sehingga metode deteksi dan screening senyawa-senyawa antimikrobial sangat diperlukan,” ungkap Siti Nurul Aisyiyah Jenie, peneliti dari P2 Kimia LIPI yang mengetuai kerja sama riset NAPARBA.

Disayangkan, metode deteksi yang sudah ada saat ini sangat mahal dan membutuhkan fasilitas laboratorium yang canggih serta orang-orang yang terlatih. “Dengan proyek NAPARBA ini diharapkan dapat dikembangkan rapid test yang memiliki kebaruan sehingga dapat mendeteksi bakteri secara selektif dan juga resistensi bakteri tersebut terhadap antibiotik,” terang Ais, panggilan akrabnya. “Dalam rapid test ini digunakan nanopartikel khusus yang memiliki sifat fluoresens, luminesensi, dan magnetik, yang selanjutnya dimodifikasi secara kimiawi sehingga mampu mendeteksi DNA bakteri secara spesifik,” imbuhnya.

Ke depannya, metode ini memungkinkan untuk mendeteksi bakteri dan resistensinya yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada pasien hanya dalam beberapa menit, seperti MRSA dan dan bakteri lain pada implan di dalam tubuh seperti katup jantung buatan, alat pacu jantung, dan kateter. Kelebihan dari rapid test berbasis nanopartikel ini adalah penggunaannya yang mudah dan dapat digunakan di mana saja. “Selain itu, metode ini tidak memerlukan peralatan elektrik atau penambahan pelarut tertentu, sehingga dapat digunakan di area yang terpencil terutama di negara-negara berkembang,” ujar Aisyiyah. Pengembangan prototype rapid test NAPARBA ini direncanakan akan selesai pada tahun 2023. (whp/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS