: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Naik Pangkat Daun Sukun


Administrator, 19 November 2009

SERPONG - Jonathan berkenalan dengan khasiat seduhan daun sukun dari seorang kawan. Segala pikiran positif dan mind power sudah dikerahkannya, tapi ternyata hanya seduhan berasa sedikit sepat itulah yang mampu mengusir bayang-bayang ngeri tumor tumbuh di balik lehernya yang terasa kaku. Penasaran dengan khasiat daun penyelamatnya itu, Jonathan menyelidik ke perpustakaan di dunia maya. "Ternyata ada juga yang menyatakan daun ini berguna untuk penyakit jantung, ya, jadi saya minum terus saja sampai sekarang," katanya berbagi. Sukun (Artocarpus altilis) memang tak cuma dikenal dengan buahnya yang enak. Daunnya sudah secara empiris--berdasarkan pengalaman--terbukti bisa menolong mengatasi penyakit tekanan darah tinggi dan juga kencing manis. Sebagian bahkan menyebut khasiatnya yang sampai ke organ hati, gigi, serta gatal-gatal dan pembengkakan di kulit. Pengalaman seperti inilah yang membuat tim peneliti dari Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyertakan jenis daun lebar-lebar itu di antara 42 jenis tanaman yang dikenal berkhasiat sebagai obat jantung ke Universitas Zhejiang di Cina. "Berkedok" program pengembangan kemampuan biomedical engineering, tim yang terbagi menjadi tiga gelombang dalam periode 2004-2007 itu membandingkan daun sukun, di antaranya, dengan pepaya, belimbing, dan bawang putih. Lewat serangkaian uji in vitro menebeng peralatan modern milik universitas itu, tim mendapati bahwa ekstrak daun sukun memang yang paling efektif. Analisis, antara lain, dilakukan dengan sel endotel (pembentuk lapisan dalam pembuluh darah) untuk kasus atherosclerosis atau penumpukan lemak dalam pembuluh darah dan sel otot jantung untuk kasus hipertensi. "Aktivitas proliferasi dan viabilitas sel di kedua kasus itu terjadi paling tinggi dengan bantuan ekstrak daun sukun," kata Nina Artanti, peneliti bidang kimia bahan alam yang menjadi anggota tim, di kantornya, Selasa lalu. Ekstrak daun terpilih tersebut lalu diuji lebih jauh dengan teknik kromatogafi untuk dicari senyawa aktifnya. Hak paten yang keluar pada 2007 atas ekstrak total flavonoid dan fitosterol daun sukun sebagai obat kardiovaskuler dan teknik produksinya adalah buah rangkaian uji lanjutan itu. Hak paten terdaftar atas nama Leonardus Broto Sugeng Kardono, Kepala Pusat Penelitian Kimia, dan anak buahnya, Tjandrawati Mozef, selain Kepala LIPI Umar Anggara Jenie dan tiga orang dari Universitas Zhejiang. Kini, dua tahun berselang dari kerja sama itu, Broto, Nina, Tjandrawati, dan yang lainnya di Pusat Penelitian Kimia berancang-ancang menjejak ke tahap uji klinis--mencoba dosis tertentu pada pasien penyakit jantung kardiovaskuler. Tujuannya adalah membuat khasiat daun sukun menjelma menjadi obat yang bisa diresepkan. "Kami sudah presentasi di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita," kata Broto di sela-sela kesibukannya menerima tamu, Selasa lalu. Nina menjelaskan, mereka berani melangkah ke uji klinis karena uji pada tikus (in vivo)--yang sebagian dilakukan di Zhejiang--menunjukkan bahwa keempat senyawa aktif yang dimurnikan dari ekstrak daun sukun itu aman dikonsumsi. Dosis mematikannya tergolong besar, hingga 16 gram per kilogram berat badan (si tikus). "Tikus yang diberi obat terus-menerus selama tiga bulan, setelah dibedah, darahnya diambil, di cek enzim-enzimnya, morfologi jantung, ginjal, dan hati, juga tidak menunjukkan adanya efek samping," Nina menjelaskan. Menurut Nina, uji efektivitas juga menunjukkan hasil yang bagus. Uji ini dilakukan dengan cara membandingkan tikus ketika diberi obat-obatan lain, mulai dari aspirin, propanolol, sampai obat herbal ginkgo biloba. "Ekstrak memiliki aktivitas mendekati atau setara dengan obat-obatan itu," katanya. Dosis yang diberikan dalam uji terhadap hewan percobaan itu sebesar 50 miligram per kilogram berat tikus. Untuk uji klinis, tentu harus dihitung ulang formulanya yang pas untuk manusia. Begitu pula formula tabletnya, "Karena, kan, tidak mungkin mencekoki ekstrak ini ke manusia seperti melakukannya ke tikus," kata Nina. Khusus untuk formula tablet, Nina menyebut faktor waktu hancur dan reaksinya yang tidak menghalangi ekstrak diserap tubuh. "Ini memang tidak susah-susah banget. Akhir tahun ini kami targetkan formula tablet dan ekstrak terstandar itu sudah didapat," kata Nina. WURAGIL Uji Klinis Uji klinis tidak mudah dan tidak singkat. Andai kerja sama dengan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita atau dengan pihak lain disepakati, Broto menjelaskan, harus dilakukan presentasi dulu di hadapan anggota Komisi Etik. Lolos dari komisi itu, uji baru bisa dilakukan, pertama-tama, terhadap orang sehat. Uji pertama ini untuk memastikan keamanan calon obat tersebut. Baru, setelah itu, uji klinis mulai melibatkan orang sakit dengan jumlah terbatas. "Fase ketiga melibatkan orang sakit di multilokasi, dan yang terakhir berupa uji post market, pemantauan setelah obat dipasarkan," profesor riset di bidang kimia organik yang baru pekan lalu dikukuhkan itu menjelaskan. Uji klinis juga tidak murah. Ini, menurut Nina, berkaitan dengan alat yang diperlukan, misalnya untuk memantau akumulasi lemak pada aorta atau pembuluh darah besar yang mengalirkan darah dari jantung. Ini pulalah yang menyebabkan produk fitofarmaka (obat-obatan dari bahan tanaman) lokal masih bisa dihitung dengan jari. "Kebanyakan adalah obat sintesis (dari bahan kimia) yang diproduksi dan diuji di luar negeri dan tinggal dipasarkan oleh perusahaan farmasi di Tanah Air," katanya. Khusus untuk ekstrak daun sukun sebagai bakal obat jantung, ada setidaknya lima macam uji selain akumulasi lemak. Laju pengendapan, kekentalan, pembekuan, dan acute ischemia juga harus dikaji dan dibanding-bandingkan. "Kami harus pilih satu saja," kata Broto. Sambil menunggu kesepakatan skema kerja sama, khususnya yang terkait dengan pendanaan, antara atasannya dan pihak rumah sakit, Nina memilih menyibukkan diri dengan formulasi ekstrak dan tablet yang akan dipakai. Dengan 300 miligram per tablet, ia menghitung, dibutuhkan 5 kilogram ekstrak aktif etil asetat yang memuat senyawa aktif untuk keperluan uji klinis nanti. Sebagai pembanding, untuk 300 gram (0,3 kilogram) ekstrak yang dihasilkan untuk skala penelitian di laboratorium, diperlukan 15 kilogram daun kering. "Rasanya kami masih bisa memenuhi kebutuhan itu dari pohon sukun yang tumbuh di sekitar sini," katanya. Nina menambahkan, karakter daun juga dicari yang sama dengan yang telah diuji in vitro dan in vivo. sumber : www.korantempo.com

ZONA INTEGRITAS