: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Mencari Pencegah Osteoporosis Hingga ke Jepang


Administrator, 28 Juli 2009

Osteoporosis, penyakit yang banyak menggerogoti tulang perempuan, sudah sampai tingkat mengkhawatirkan. Berdasarkan data Yayasan Osteoporosis Internasional, satu dari tiga perempuan Indonesia terserang penyakit ini. Dra. Sri Pudjiraharti, M.Si. (50), peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Lipi) menebarkan kabar gembira. Ia sedang meneliti senyawa yang mampu membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh. "Proses penyerapan kalsium di dalam tubuh memerlukan waktu. Dengan dibantu DFA III, diharapkan penyerapan kalsium akan lebih cepat," tutur Pudji. Kalsium adalah zat yang diperlukan tulang agar tetap kuat meski di usia tua. Berbicara rumusan kimia dengan ilmuwan yang satu ini bagaikan sedang berbicara bumbu masakan sehari-hari, enteng dan tidak terlalu njlimet. Pudji mampu menerjemahkan penelitiannya dalam bahasa populer. "Yang saya teliti adalah bidang bahan alam dan farmasi, arahnya fungsional food yaitu mempelajari bahan pangan yang mempunyai efek kesehatan," katanya menjelaskan. Beberapa temannya di lembaga penelitian ini lebih banyak meneliti kacang-kacangan, seperti kacang kedelai. Pudji sendiri lebih memusatkan perhatiannya pada manfaat umbi bunga dahlia. Dari penelitiannya itu, Pudji menemukan senyawa DFA III. Senyawa ini adalah jenis gula, tepatnya dua buah fruktosa yang berikatan satu sama lain. Sebagai komponen bahan makanan (food stuff), senyawa ini memiliki sifat yang menguntungkan. Di antaranya, mudah larut dalam air, tingkat kemanisannya separuh sukrosa sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pemanis rendah kalori dan aman untuk penderita diabetes dan stabil terhadap panas, asam, serta kelembapan tinggi. Selain memiliki sifat-sifat yang baik sebagai food stuff , DFA III juga memiliki fungsi sebagai prebiotik, yaitu tidak diserap oleh sistem pencernaan dalam tubuh. Ia dimetabolisme oleh mikroorganisme dalam usus sebagai sumber nutrisi (karbohidrat). Hal ini dapat menjaga keseimbangan mikroflora dalam usus sebagai pertahanan terhadap masuknya mikroba patogen (yang merugikan). "DFA III telah diteliti dapat membantu penyerapan kalsium dalam usus sehingga diproyeksikan sebagai pangan fungsional untuk mencegah osteoporosis di masa mendatang," kata Pudji. Senyawa DFA III dapat dibuat melalui reaksi enzimatik dari substrat inulin. Inulin ini diperoleh dari umbi bunga dahlia. Di Jepang, inulin diproduksi dari artobakteri, sedangkan Pudji menggunakan Nonomuraea sp. Tak memilih kaya Di Jepang jenis senyawa ini sudah dikonsumsi, padahal tingkat kerusakan tulang manusia di negara ini jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia. Kegemaran akan ikan sebagai lauk-pauk membuat penduduk negara ini memiliki tingkat kesehatan tulang yang lebih baik dari penduduk Indonesia. Di Indonesia? Pengetahuan tentang osteoporosis pun terbilang baru. Selain itu, kesadaran mengonsumsi ikan sebagai salah satu sumber kalsium pelawan osteoporosis masih rendah. Jika kelak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, penelitian Pudji akan sangat berguna. Sebagai ilustrasi, dari data yang ada, diperoleh kenyataan bahwa terdapat 200 juta penderita osteoporosis di seluruh dunia (studi Cumming et al, 1989). Penderita osteoporosis di Eropa, Jepang, Amerika sebanyak 75 juta penduduk, sedangkan Cina mencapai 84 juta penduduk. Di Indonesia, prevalensi osteoporosis bagi perempuan berumur kurang dari 70 tahun sebanyak 18-36%, sedangkan pada pria 20-27%. Bagi perempuan berumur di atas 70 tahun sebanyak 53,6%, sedangkan kaum pria di tingkat umur yang sama sebanyak 38%. "Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia terserang osteoporosis atau keropos tulang," kata Pudji menyitir data dari Yayasan Osteoporosis Internasional. Dijelaskan Pudji, Yayasan Osteoporosis Internasional juga memperkirakan lebih dari 50% osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di Asia pada tahun 2050. Mereka yang terserang rata-rata berusia di atas 50 tahun. Kelak DFA III ini selain dibuat dalam bentuk suplemen juga bisa ditambahkan ke dalam makanan, terutama produk susu. "Ini dimungkinkan karena DFA III mudah larut dalam air," kata Pudji. Untuk penelitiannya ini, Pudji terpaksa meninggalkan ketiga anaknya Chemy Presilla Chintami (24), Mischa Indah Mariska (19) dan Rahmanda Mulia Destiawan (13). "Sebetulnya tidak terlalu lama, hanya tiga bulan. Selebihnya bisa dilakukan di sini," kata Pudji. Tenggelam dalam penelitian ini baginya penting sekali. "Saya ingin mendapatkan sesuatu yang baru, sesuatu yang nantinya akan bermanfaat bagi banyak orang," katanya. Kesempatan menemukan "sesuatu" itu diperolehnya lewat hubungan kerja sama Indonesia Jepang dalam bidang penelitian. Pada program "Japan Society of Science Programme" ini , semua orang boleh melamar, mengajukan diri untuk menggarap penelitian sebagai salah satu syarat menempuh program S-3. Tahun ini hanya dua lamaran yang diterima, termasuk proposal Pudji. Berhasil maju menjadi peneliti yang terpilih program tersebut, tidak membuat hidung Pudji mengembang. Ia menganggapnya sebagai bagian dari tugas dan pengabdiannya selaku peneliti. Di Indonesia, profesi peneliti memang masih berada dalam tahap mengabdi pada ilmu, jauh dari komersialisasi. Ketika beberapa peneliti kebanjiran rezeki karena penelitiannya berhasil dipatenkan dan dikomersialkan, itu adalah efek samping belaka. "Kalau mau kaya, ya kerja saja di industri," kata Pudji sambil tertawa. Cuka buah Dari pandangan pertama, orang akan langsung menilai perempuan asli Brebes ini adalah tipe perempuan sabar dan telaten. Bukan karena sebagai orang Jawa sifat tersebut dimilikinya. Menurut Pudji, modal utama menjadi seorang peneliti memang harus sabar. "Jangan gampang menyerah. Percobaan itu tidak sekali lalu langsung berhasil," katanya. Kesabarannya bukan saja teruji lewat ribuan percobaan yang gagal. Namun, juga kesabaran hati saat penemuannya membuahkan hasil, namun tak bisa dikembangkan lebih jauh. Salah satu ujian kesabarannya adalah saat berhasil menemukan cuka atau vinegar yang terbuat dari buah mete. Dari sisi keamanan, cuka ini jauh lebih aman dibandingkan cuka biasa. "Kadar asamnya hanya mencapai empat persen, sedangkan cuka biasa hingga 25 persen," tuturnya. Pemilihan buah mete dilakukan Pudji sebagai upaya memanfaatkan buah tersebut. Buah mete atau sering disebut jambu monyet ini umumnya hanya dimanfaatkan bijinya, sedangkan buahnya jarang dikonsumsi karena rasanya yang kecut dan agak sepet. Kendati lebih aman bagi lambung, kenyataannya cuka ini tak bisa dibuat massal. "Harganya lebih mahal dari cuka biasa," katanya tentang penyebab penelitiannya tak bisa dikomersialkan. Menjadi peneliti tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ia masuk ke Sekolah Pengatur Analisa Bandung karena ia suka sekali dengan pelajaran kimia. Hobi pada pelajaran yang satu ini bersambung hingga Pudji masuk Jurusan Biokimia ITB. "Nggak tahu ya, kok saya suka sekali dengan ilmu yang satu ini. Mungkin karena ada hubungannya dengan banyaknya reaksi biokimia dalam tubuh," ujarnya. Program S-2 nya pun pada bidang dan perguruan tinggi yang sama. Mengalir bagai air adalah hidup yang dijalaninya. Merantau ke Bandung karena diajak oleh adik ayahnya, membuat ia menemukan jalan hidupnya. "Beres sekolah langsung diterima di sini (LIPI). Ya terus menjadi seperti sekarang," katanya. Dan ia tak pernah menyesali hanyut dalam aliran hidup seperti itu. Menemukan jodoh bernama Djumawan dan melahirkan tiga anak membuat hidupnya lengkap. Terasa lebih lengkap lagi ketika penelitiannya berguna bagi banyak orang. (Ella/"PR"/Uci Anwar) *** www.pikiran-rakyat.com

ZONA INTEGRITAS