: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Material Alami dan Hayati sebagai Obat Anti Kanker


Administrator, 04 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI), Siti Nurul Aisyiyah Jenie,  menjadi pembicara utama dalam Webinar Series yang diadakan Pusat Riset dan Inovasi Material Hayati dan Material Alami Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Penjaminan Mutu (LP3) Institut Teknologi Sumatera (ITERA) pada Jumat (4/6).

Dalam acara yang bertema “Pengembangan Material Alami dan Material Hayati sebagai Obat Anti Kanker”, Aisyiyah Jenie mempresentasikan risetnya yang berjudul “Silika Mesopori Berbasis Mineral Alam: Modifikasi dan Potensinya sebagai Platform Deteksi Biormarker Kanker”.

Ais, demikian kerap disapa, mengungkapkan bahwa dirinya dan tim telah melakukan riset mengenai riset silika mesopori untuk deteksi kanker hingga saat ini. “Kasus kanker kebanyakan terindikasi pada pasien yang sudah berada pada stadium dua atau tiga. Saat pada stadium ini tingkat kematian pasien tinggi dan biaya pengobatannya relatif mahal,” ujarnya.

Bersama tim peneliti bidang material, Ais mengembangkan pembuatan alat deteksi dini kanker yang menggunakan bahan anorganik dari material alam dengan pendekatan nanoteknologi. “Kami mencoba mengembangkan nanosilika mesopori dari silika geotermal atau panas bumi, bekerja sama dengan peneliti LIPI dan luar LIPI,” ujarnya.

Metode yang digunakan untuk mensintesis dan memodifikasi silika mesopori dari alam berbasis platform nano adalah dengan menggunakan metode sol-gel. “Metode sol-gel lebih mudah, tanpa pelarut, tanpa asam basa kuat, tanpa temperatur yang ekstrim, dan biaya efektif,” terang peraih L’Oreal – Unesco For Women in Science National Fellowship Awards tahun 2017 ini.

Pembicara kedua, Rahmat Kurniawan, Dosen program studi Kimia ITERA dan menjelaskan mengenai obat kanker serta kemoterapi berbasis alam agar efek sampingnya lebih aman. “Selama ini obat-obat kanker selain membunuh sel-sel yang sakit, juga membunuh sel-sel yang sehat,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berpotensi dijadikan obat kanker. “Ada tanaman tapak dara yang menghasilkan senyawa alkaloid penghasil basa yang pahit penghasil obat anti kanker,” ucap Sekretaris Pusat Riset dan Inovasi Material Hayati dan Material Alami (Purino MHMA) ini.

“Apabila untuk obat, senyawa organik bahan alam ini bisa termetabolisme dengan tubuh sebelum mencapi sel target, oleh karena itu namun perlu material drug delivery system (sistem pengantaran obat) yang mungkin bisa dilakukan berkolaborasi dengan riset Bu Ais,” ujar Rahmat.

Webinar yang menghadirkan narasumber dari P2 Kimia LIPI dan Purino MHMA ITERA ini merupakan kolaborasi yang akan ditindaklanjuti oleh kolaborasi berupa kerja sama riset dari peneliti atau mahasiswa program studi Kimia ITERA. “Semoga ke depannya bisa terjalin kolaborasi antara LIPI dan ITERA, untuk obat kanker atau penyakit lainnya,” tutup Acep Furqon Ketua LP3 ITERA.

(mfn, adl)xs

ZONA INTEGRITAS