: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Manfaat Keanekaragaman Hayati Indonesia sebagai Sumber Pangan Fungsional


Administrator, 20 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Indonesia merupakan negara mega-biodiversitas. Sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar, Indonesia memiliki 17% dari total keanekaragaman hayati di dunia. Keanekaragaman hayati ini berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber pangan fungsional bagi peningkatan kesehatan dan juga kesejahteraan masyarakat. “Keanekaragaraman hayati yang kita miliki dapat kita eksplor untuk pengembangan pangan fungsional di Indonesia”, ungkap Nina Artanti, peneliti Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menjadi salah satu pembicara utama dalam acara konferensi ilmiah “International Symposium on Applied Chemistry” (ISAC) dengan tema “Natural Medicine and Nutraceutical” pada hari Kamis (19/11).

 “Pangan fungsional merupakan bahan pangan yang tidak hanya bernutrisi dan memiliki fungsi gizi tetapi juga memiliki fungsi kesehatan, khususnya untuk pencegahan penyakit,” jelas Profesor Riset LIPI pada acara yang berlangsung secara virtual tersebut. Dirinya menjelaskan sumber pangan fungsional dapat berasal dari sumber daya tumbuhan dan sumber daya hewan di Indonesia.

 Dari sumber daya tumbuhan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, kelompok umbi-umbian kurang dimanfaatkan secara maksimal. Padahal umbi-umbian seperti singkong, kentang, ubi, gadung, garut, ganyong, uwi, gembili, gembolo, porang, suweg, walur, iles-iles, dan talas bisa dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional. Umbi-umbian tersebut memiliki nilai fungsional karena mengandung pati resisten, inulin, antosianin, glokomanan, dan indeks glikemik yang rendah, sehingga cocok untuk penderita diabetes. “LIPI melalui Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam dan Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna melakukan riset pada kelompok umbi-umbian untuk dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional,” ungkap Nina.

 Selanjutnya, tanaman seperti kucai berguna sebagai anti hipertensi, daun kelor sebagai anti diabetes, pegagan untuk meningkatkan daya ingat, serta labu siam yang bermanfaat untuk penyakit batu ginjal, sistem pernafasan, sistem pencernaaan, dan juga sirkulasi darah karena kaya akan polifenol, asam askorbat, dan karotenoid. Beras hitam, buah merah papua, berbagai jenis pisang dan biji dari buah-buahan eksotis Indonesia lainnya juga bisa dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional karena kaya akan protein, serat, dan karbohidrat. 

Selain itu, sumber daya hewan juga bisa menjadi sumber pangan fungsional yang memiliki kandungan bioaktif. Misalnya trenggiling yang berpotensi menjadi bahan baku obat dengan kandungan omega-3 dalam EPA dan DHA yang mengurangi risiko kanker, menurunkan peradangan, hipertensi, artritis, serta menjaga fungsi otak. Binatang amfibi lainnya, seperti katak juga memiliki kandungan alkaloid yang dapat digunakan sebagai pengganti morfin untuk menghilangkan nyeri dan juga sebagai obat antidiabetes. Hewan lainnya yang juga memiliki kandungan bioaktif antara lain lebah, ular weling, dan teripang. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kecap, tauco, oncom, tapai, dadih, brem, tuak dan nata juga dapat dijadikan pangan fungsional karena memiliki kandungan asam yang baik untuk tubuh.

Beberapa riset pangan fungsional juga telah dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kimia seperti formulasi pangan pintar dengan asam folat untuk bayi dan balita, minyak kelapa dengan teknik fermentasi, ragi tempe, minuman fungsional berbasis sayuran terfermentasi, minuman fermentasi jambu biji merah, dan selai jahe merah. Untuk ke depannya Nina berharap berbagai bahan yang menjadi sumber pangan fungsional dapat berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk makanan dan biomedis. “Semoga kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui hasil penelitian dan adanya kerja sama dari industri” ujarnya. (whp/ ed. adl)

Sebagai informasi, acara ISAC 2020 berlangsung pada tanggal 18-19 November 2020. Acara virtual ini menghadirkan 6 pembicara utama yaitu Prof. Dr. Muhammad Iqbal Choudhary dari International Center for Chemical and Biological Sciences, University of Karachi Pakistan, Prof. Dr.rer.nat. Gunawan Indrayanto dari Fakultas Universitas Surabaya, Dr. Ambara Rachmat Pradipta dari Department of Chemical Science and Engineering, Tokyo Institute of Technology Japan, Prof. Dr. Nilesh Nirmal dari Institute of Nutrition, Mahidol University Thailand dan Prof. Dr. Nina Artanti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI.

ZONA INTEGRITAS