: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

LIPI Sampaikan Metode Screening untuk Kandidat Obat Herbal Covid-19 dalam Webinar Tematik ICTS


Administrator, 11 Mei 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Innovation Centre for Tropical Sciences (ICTS) berinisiasi menyelenggarakan webinar tematik bertema “Potensi Sumber Daya Genetik Tanaman Lokal Indonesia untuk Penanggulangan Covid-19”, pada Minggu (10/5), melalui media Webinar Zoom dan melalui Live Youtube. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menyampaikan temuan dan pengembangan riset dan teknologi kepada masyarakat dan para praktisi.

Webinar ini disampaikan oleh oleh pemateri Akhmad Saikhu (Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Kementerian Kesehatan), dan Teni Ernawati (Peneliti Pusat Penelitian Kimia – LIPI). Sebagai pemandu jalannya acara, peneliti Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian, Aqwin Polosoro bertindak sebagai moderator.

Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, antara lain lembaga penelitian, perguruan tinggi, industri, kementerian pertanian, dan para praktisi.

Pembicara pertama, Akhmad Saikhu menyampaikan informasi-informasi dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan oleh kementerian kesehatan seperti riset tanaman obat dan jamu (ristoja), serta potensi-potensi obat sebagai immunodulator dan antiviral.

“Dalam masa pandemi Covid-19 ini perlu dilakukan penelitian dan kajian secara cepat dan tepat, agar bisa menurunkan angka kesakitan maupun kematian akibat virus ini dengan memanfaatkan tanaman obat asli Indonesia sebagai bagian dari upaya penanggulangan Covid-19,” jelas Akhmad Saikhu.

Akhmad Saikhu menginformasikan tanaman obat maupun terapi yang sangat dibutuhkan. Tanaman obat yang berpotensi untuk penelitian diantaranya sambiloto, kunyit, temulawak, meniran, jambu biji, timi, vitex, jeruk, tanaman br-katekin, kelor, serta ramuan SJ untuk kebugaran.

Untuk efek terapi yang dituju untuk penanganan Covid-19 adalah sebagai antivirus, imunomodulator, antioksidan, dan ekspektoran peningkat permeabilitas pembuluh darah.

Beliau berpesan bahwa dalam pandemi ini harus berkolaborasi dan bekerja sama, sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat, menemukan kandidat-kandidat obat baru, kandidat-kandidat ramuan baru yang dapat digunakan masyarakat Indonesia.

Pembicara kedua, Teni Ernawati memberikan pemaparan tentang metode screening senyawa aktif dalam herbal sebagai kandidat obat Covid-19.

Sebelum memasuki metode screening, Teni memapaparkan bagaiman penelitian dan pengembangan obat herbal antara lain penemuan dan pengembangan obat baru, pengujian praklinis, pengujian klinis, persetujuan BPOM (Badan Pengawasa Obat dan Makanan), hingga monitoring keamanan obat di pasaran.

Selanjutnya tahapan-tahapan screening yang dimulai dari pemilihan, menemukan/mengidentifikasi, mengkarakterisasi, pengujian praklinis, hingga pengujian klinis.

“Sejak difasilitasi oleh CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) di P2 Kimia LIPI, produk herbal itu akan diproduksi atau diedarkan ke masyarakat, sebaiknya dari awal penelitian dari mulai praklinis harus mulai konsultasi dan pendampingan dengan BPOM agar riset yang dilakukan itu tidak mengulang lagi, karena biaya yang dikeluarkan cukup besar, sehingga ketika memulai praklinis, membuat protokol yang bisa dilihat oleh BPOM,” ungkap peneliti Puslit Kimia LIPI.

Kemudian tahap pengujian klinis adalah ranahnya para dokter. Jadi pengujian klinis ini setelah diteliti, harus dikonsultasikan dengan dokter, bagaimana membuatnya untuk masuk ke tubuh pasien, serta tahap monitoring dan keamanan obat.

Selanjutnya Teni memaparkan pendekatan maupun metode screening dalam penemuan obat yang digunakan secara ilmiah dalam tahapan-tahapan tersebut.

Dalam metode screening, yang umum digunakan pertama adalah Hingh-throughput screening (HTS). Metode ini menggunakan sampel dan herbal untuk Covid-19. Dalam penelitian, LIPI menggunakan daun benalu dan daun keteteng.

Kedua, mengunakan penapisan komputansi/insilico virtual screening yang tidak memerlukan herbal, tetapi dengan screening senyawa-senyawa secara komputasi.

Di tempat lain seperti Unair dan UI, telah melakukan screening dari herbal-herbal yang ada untuk senyawa-senyawa yang memiliki aktifitas sebagai Covid-19. Sedangkan di P2 Kimia – LIPI untuk mempersempit penelitiannya, LIPI melakukan screening dari hasil yang telah Unair dan UI lakukan,  sehingga mempersempit lagi ruang lingkupnya dari database yang sudah dilakukan.

Keuntungan yang menggunakan insilico adalah tidak menggunakan bahan-bahan herbal, tetapi dikonfirmasi dari hasil lab. Hal ini untuk mempermudah dan mempercepat proses penelitian dan pengembangan di bidang herbal.

Untuk kandidat Covid-19 ini, LIPI menggunakan protein-protein SARS-Cov-2, yang tersedia di Protein Data Bank, diantaranya 6lu7, 2GTB, 5R7Y, 6YB7, 3M3, dan lain-lain. Kemudian karena virus itu bermutasi, bisa juga dilihat di mana terjadi perubahan mutasi tersebut menggunakan hemoglobin modeling.

Peneliti Teni berharap dengan program percepatan BPOM, konsultasi, bimbingan, pengembangan produk herbal akan lebih cepat lagi. Selain itu, dalam penelitian herbal ini membutuhkan konsorsium agar semakin banyak institusi yang ikut bergabung untuk mempercepat proses mendapatkan produk herbal untuk Covid-19.

“Kami juga membuka peluang kerja sama penelitian guna mendukung proses penelitian herbal dengan para stakeholder, baik industri, perguruan tinggi, maupun lembaga yang terkait dengan penelitian herbal,” tambahnya. (har/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS