: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Kiprah Perempuan Indonesia Sebagai Peneliti Nanoemulsi


Administrator, 21 April 2021

Serpong, Humas LIPI. Turut memperingati Hari Kartini, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada Rabu (21/4) mengadakan webinar Hari Kartini 2021: Perempuan Indonesia Memperkuat Bangsa. Para perempuan perlu menyadari potensinya, agar bisa berkontribusi dalam segala bidang dan berperan dalam perkembangan generasi selanjutnya. Yenny Meliana, Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI) menjadi salah satu pembicara perempuan di acara ini.

Yenny mengawali pemaparannya dengan menampilkan hasil-hasil risetnya selama berkarir sebagai peneliti di P2 Kimia LIPI. Karena ketertarikannya, Yenny aktif mengembangkan riset dengan sistem emulsi, khusunya nanoemulsi. “Saat ini saya mengembangkan riset untuk produksi dan komersialisasi nano solid parfum aromaterapi berbasis minyak atsiri di Indonesia yang mendapatkan pendanaan dari RISPRO LPDP,” ujarnya. “Doakan semoga nano solid parfum minyak atsiri segera bisa diluncurkan,” lanjutnya.

Di masa pandemi COVID-19, Yenny juga turut melakukan riset terkait COVID-19, yaitu hand sanitizer atau antiseptik pembersih tangan. “Kami mengembangkan hand sanitizer berdasarkan formula WHO, namun kami tambahkan dengan minyak atsiri, nanosilver, dan bahan pelengkap lainnya hingga produk tersebut dapat aman dan nyaman digunakan,” jelasnya.

Penerima National Fellowship Awards for Women in Sciences - L'Oreal UNESCO ini kemudian menjelaskan gambaran perempuan peneliti di dunia. “Jika berdasarkan survei yang dilakukan UNESCO, perempuan peneliti berjumlah 30 persen, namun ternyata berbeda jika kita melihat kondisi di suatu negara atau kawasan,” ungkapnya.

“Bagaimana kondisi di Indonesia, menurut data tahun 2017, jumlah perempuan peneliti di LIPI sebanyak 41 persen dan jumlah dosen perempuan di perguruan tinggi berjumlah 44,2 persen,” ujarnya. “Hal ini cukup menggembirakan bagi kita perempuan peneliti di Indonesia,” imbuhnya.

Peneliti Kimia Makromolekul ini lalu menjabarkan apa yang menjadi peluang dan tantangan terbesar bagi perempuan peneliti. “Saat ini sudah cukup baik fasilitas dan infrastruktur, tidak kalah dengan di luar negeri, yang perlu kita tingkatkan adalah bagaimana mengkomunikasikan hasil riset ilmiah dengan cara lebih sederhana, kemudian yang utama adalah hasil inovasi harus bisa dimanfaatkan,” urainya.

Yenny melanjutkan dengan kriteria atau prinsip yang harus dimiliki bagi perempuan yang ingin jadi peneliti. “Pertama harus punya kepakaran, mau selalu belajar, tidak pernah merasa diri kita paling pintar, lalu harus punya etos kerja, ikhlas, jujur, dan istiqomah,” tuturnya. “Kunci sukses ada empat, 4T, timing (waktu), team work (koordinasi), targeted and time schedule (target dan jadwal kerja), serta trust (saling percaya),” pesannya.

Di akhir presentasi, Yenny memiliki pesan bagi para prempuan di Indonesia. “Untuk rekan-rekan perempuan Indonesia, pesan saya, kalau kita yakin kita bisa, pantang menyerah, insya Allah yang kita lakukan akan berkah, tutup Yenny. (adl)

ZONA INTEGRITAS