: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Kadar E coli harus 0 per 100 Mililiter Air


Administrator, 13 November 2009

Air merupakan sumber kehidupan yang tidak bisa dipisahkan dari faktor kesehatan. Konsumsi yang tidak memperhatikan higienitas akan menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia. Padahal, dalam satu hari, seorang manusia dianjurkan untuk mengkonsumsi minimal delapan gelas air putih.

Banyak faktor yang bisa menyebabkan kurangnya higienitas air. Beberapa di antaranya adalah lokasi sumber air, apakah dekat dengan permukiman penduduk atau sulit dijangkau.

Selain itu tergantung pula dengan proses angkut. Pada fase ini, pencemaran sangat mungkin terjadi akibat bersentuhan dengan tangan manusia dan gesekan selama perjalanan ke depot air.

Setelah itu kualitas depot air itu sendiri, apakah pengelola cukup terlatih untuk menyajikan air yang steril dari kuman.

Menurut peneliti teknologi lingkungan Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Rom Haryadi, sumber pencemaran bisa datang dari udara, lingkungan sekitar, dan tanah. Pencemaran sangat mungkin disebabkan oleh logam berat.

Menurutnya, sebagian logam berat, seperti timah dan tembagabiasa terdapat dari sumber mata air, karena logam merupakan mineral yang berasal dari dalam Bumi. Namun dalam jumlah yang melebihi standar, beberapa jenis logam berat yang dikonsumsi dalam jangka waktu tertentu, seperti merkuri bisa menyebabkan penyakit kanker dan mendapat keturunan yang abnormal.

Selain logam berat, kuman pun menjadi sumber pencemar air minum. Mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja manusia dapat menularkan beragam penyakit bila masuk tubuh manusia.

Menurut Hari, dalam 1 gram tinja terkandung 1 miliar partikel virus infektif, yang mampu bertahan hidup selama beberapa minggu pada suhu di bawah 10 derajat celcius.

“Terdapat empat mikroorganisme patogen yang terkandung dalam tinja yaitu virus, Protozoa, cacing, dan bakteri yang umumnya diwakili oleh jenis Escherichia coli (E coli),” ujar Hari.

Walau empat mikroorganisme itu dinilai sebagai sumber pencemaran air minum, namun biasanya yang menjadi indikator utama adalah keberadaan bakteri E Coli. “Apabila tidak ditemukan E coli, maka air tersebut secara mikrobiologis dinyatakan tidak tercemar.”

Jika masuk ke dalam tubuh, sebagian besar mikroorganisme patogen tersebut tidak memberikan gejala secara jelas. Setelah tinja memasuki badan air, E coli akan mengkontaminasi tubuh dan bahkan pada kondisi tertentu dapat mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh dan tinggal di dalam pelvix ginjal dan hati.

Sesuai Permenkes Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, dipersyaratkan bahwa kadar E coli dalam air minum adalah 0 per 100 mililiter (ml) air harus dipenuhi.

”Padahal secara kasat mata sangat sulit untuk menentukan apakah air minum sudah tercemar atau belum,” kata Hari.

Pencemaran tingkat parah baru bisa dipantau lewat penglihatan jika fisik air berubah. Bila air tidak jernih, berwarna tertentu, ada kotoran melayang, dan berbau, maka bisa dikatagorikan sebagai air tidak layak minum.(not/L-4)

sumber : http://www.koran-jakarta.com

ZONA INTEGRITAS