Berita

Hadirkan Peraih Nobel Perdamaian 2013, P2 Kimia LIPI Tuan Rumah Studium General OPCW


Administrator, 27 Juli 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Dalam beberapa hari terakhir, media nasional ramai memberitakan tentang kunjungan Direktur Jendral Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons/OPCW (Organisasi Pelarangan Senjata Kimia), Ahmet Üzümcü ke tanah air. 

"Indonesia telah meratifikasi Konvensi Senjata Kimia sejak tahun 1998 dan telah menjadi pendukung aktif Konvensi Senjata Kimia," demikian Üzümcü dalam pernyataan tertulis Jumat petang atau Sabtu (29/7/2017) WIB sebagaimana dilansir dari kumparan.com. 

Diawali kunjungan kerja pada hari Kamis (27/7), Üzümcü bertemu dengan sejumlah pejabat seperti Menteri Luar Negeri RI (Retno L.P. Marsudi), Menteri Perindustrian RI (Airlangga Hartato) dan para pemangku kepentingan lainnya. Selanjutnya Üzümcü menghadiri acara web seminar (webinar) yang diselenggarakan di Jakarta. Webinar ini diadakan LIPI bekerja sama dengan Himpunan Kimia Indonesia (HKI), Responsible Care Indonesia (RCI), Universitas Indonesia, United States Chemical Security Program (US SCP), dan United States Civilian Research and Development Foundation for the Independent States of the Former Soviet Union (US CRDF) Global. Acara ini bertemakan "Chemical Security Webinar for Indonesia-Chemical Management Regulations, Tools and Best Practices".

 "Tidak ada alat yang bisa mendeteksi penyalahgunaan bahan kimia berbahaya. Yang ada adalah sistem yang dibuat untuk mengamankannya agar tidak membahayakan masyarakat," kata Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono usai acara webinar tersebut. 

Agus menambahkan, bahan kimia yang awalnya bukan merupakan B3 jika dilakukan pencampuran tertentu bisa menjadi B3 atau sebaliknya. Misalnya saja asam sulfat yang bersifat korosif dan melelehkan tulang, atau pestisida yang bisa menjadi senjata kimia. 

LIPI berperan mendukung aktivitas otoritas nasional (otnas) KSK Indonesia melalui pengembangan kapasitas laboratorium nasional terkait analisa bahan kimia berbahaya. Selain itu, LIPI juga aktif dalam mendiseminasikan pentingnya keselamatan dan keamanan kimia di Indonesia. 

Studium Generale di P2 Kimia LIPI 

Pada hari Jum’at (28/7), diplomat senior Turki tersebut menjadi pembicara di acara Studium General di Pusat Penelitian Kimia LIPI. Tema yang diusung di acara studium general tersebut adalah “The Role of Science in the Implementation of Chemical Weapons Convention (Peranan Sains dalam Penerapan Konvensi Pelarangan Senjata Kimia)”.

 Acara ini dihadiri oleh tamu undangan khusus yang terdiri dari para pejabat pemerintahan dan industri, termasuk LIPI, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Industri, Responsible Care Indonesia (RCI) dan Federasi Industri Kimia Indonesia (FIKI). Di samping itu, sejumlah peneliti senior dan junior dari P2 Kimia LIPI maupun pusat penelitian lainnya di Kawasan Puspiptek juga turut hadir menyimak kuliah tamu dari Dirjen OPCW tersebut.

 Sebelum memberikan ceramahnya, Üzümcü disambut di ruang VIP bersama Wakil Kepala LIPI, Dr. Bambang Subiyanto, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, Dr. L.T. Handoko, Kepala P2 Kimia dan para tamu undangan khusus. Dirjen OPCW tersebut berdiskusi terkait program terbaru pengembangan dan penerapan konvensi senjata kimia. Dibahas pula beberapa potensi kerjasamanya di masa datang. Usai ramah tamah, rombongan beralih ke ruang seminar utama di lantai 2. Di sini, Üzümcü memberikan kuliahnya terkait “Ethics in Sciences” kepada sekitar 100 orang yang telah hadir.

 “His Excellency Ahmet Üzümcü telah menjadi Direktur Jendral OPCW sejak tahun 2009 dan terpilih lagi pada tahun 2013, “ papar moderator Dr. Ir. Wuryani saat membacakan sekilas profil pembicara hari itu. Wuryani sendiri merupakan peneliti senior P2 Kimia LIPI yang aktif terlibat di kegiatan OPCW sejak organisasi tersebut berdiri (tahun 1997). Pada tahun 2013, OPCW tempat Wuryani dan Üzümcü bernaung menerima anugerah nobel perdamaian dari PBB. 

 “Para ilmuwan bertanggung jawab mengembangkan invensi yang sesuai kode etik dan norma-norma universal, “ tegas Üzümcü. “Dengan demikian kita semua bisa berpartisipasi mewujudkan dunia yang bebas dari senjata kimia, “ harapnya.

 Indonesia telah berpartisipasi dalam berbagai upaya pencegahan senjata kimia, diantaranya meratifikasi konvensi senjata kimia dilakukan pada 1998 melalui Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 1998, membentuk Otnas KSK melalui Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2017 dan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2017. Di samping itu, Indonesia telah pula memiliki UU Nomor 9 Tahun 2008 terkait Penggunaan Bahan Kimia dan Pelarangan Bahan Kimia sebagai Senjata Kimia.

 Otoritas Nasional Indonesia Senjata Kimia diketuai Menteri Perindustrian berdasar Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2017. LIPI sendiri (Deputi IPT) merupakan salah satu anggota Otnas tersebut bersama Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Pertanian, Kepolisian RI, Kementerian Perdagangan, dan sebagainya.

 Usai sesi ceramah dan tanya jawab, kuliah diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta. <aars/ p2 kimia> 

Catatan: sumber berita lainnya dapat dilihat antara lain di antaranews.com, Kementerian Luar Negeri RI, LIPI, viva.co.id, kumparan.com, dan lain-lain.

ZONA INTEGRITAS