Berita

Hadiri Konferensi ASEAN di Thailand, Nina Jabarkan Riset Pangan Fungsional Indonesia


Administrator, 23 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Bangkok] Pertumbuhan riset terkait bahan alam dan pangan fungsional telah meningkat cukup pesat di berbagai belahan dunia, termasuk di kawasan ASEAN. Sinergitas untuk saling mengidentifikasi potensi dan pemanfaatannya bagi kepentingan bersama pun menjadi isu penting. Hal inilah yang mendorong Kementerian Riset dan Teknologi (MOST) Thailand untuk menyelenggarakan Workshop “ASEAN Biodiversity Resources of Functional Foods for Noncommunicable Diseases (NCDs)”. Bertempat di Royal Orchid Sheraton, Bangkok (20-22 Maret 2018), acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari even “ASEAN Next 2018: Rising STI Networking for Innovative ASEAN” dari tanggal 11-23 Maret 2018.

Dalam workshop ini, Pemerintah Thailand mengundang dan membiayai para ilmuwan dari berbagai negara sebagai narasumber pembicara. Mereka diundang untuk membahas perspektif pengembangan riset pangan fungsional guna NCDs di masing-masing negara. Tampak hadir di acara tersebut antara lain pembicara dari negara-negara ASEAN, Jepang, Korea dan Amerika. Masing-masing negara ASEAN mengirimkan dua perwakilan.  Indonesia diwakili oleh Dr. Nina Artanti, peneliti senior bidang bahan alam dan pangan di Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI dan Dr. Ainia Herminiati, peneliti senior dari Pusat Teknologi Tepat Guna LIPI.

Dikutip dari laman World Health Organization (WHO), Non Communicable Diseases (NCDs) atau lebih dikenal sebagai penyakit kronis, merupakan penyakit yang muncul sebagai pengaruh genetis, fisiologi, lingkungan dan perilaku. Tipe utama penyakit ini adalah penyakit kardiovaskular (serangan jantung dan stroke), kanker, penyakit pernafasan kronis (seperti asma) dan diabetes.

“WHO memperkirakan, lebih dari 40 juta orang meninggal akibat penyakit ini, 30% diantaranya berasal dari negara berpenghasilan menengah ke bawah, termasuk di ASEAN,” ujar Prof. Jintana Sattayai dari Khon Kaen University Thailand yang tampil sebagai salah seorang pembicara kunci. “Tahun 2008, Indonesia, Vietnam dan Thailand merupakan tiga negara dengan jumlah penderita tertinggi penyakit NCDs ini, yang mencapai sekitar 70% kawasan ASEAN, “ lanjutnya.

Beberapa faktor telah teridentifikasi untuk menurunkan resiko NCDs melalui pangan, misal melalui asupan buah dan sayuran, ikan serta diet. Salah satu upaya upaya yang tengah digalakkan untuk menekan NCDs adalah lewat pengembangan pangan fungsional. Bentuk pangan fungsional misalnya makanan alami yang kandungannya telah teridentifikasi, atau makanan yang telah diproses seperti diperkaya, dimodifikasi/ diubah, dihilangkan/ dikurangi, diganti, dan sebagainya untuk fungsi kesehatan tertentu. 

“Di Indonesia, biodiversitas yang melimpah berpeluang untuk lebih dimanfaatkan dalam pengembangan riset, tren dan peluang pasar pangan fungsional“ papar Dr. Nina Artanti, saat berbicara di hari kedua. “Apalagi dengan tingginya angka NCDs di negara kami, maka pengembangan riset pangan fungsional terkait NCDs menjadi semakin perlu digalakkan, sehingga NCDs dapat dicegah lebih dini“ tegas Koordinator Kelompok Penelitian Kimia Pangan di P2 Kimia LIPI ini.

Lebih lanjut, peneliti yang menyelesaikan S3-nya di Ehime University, Jepang ini, bersama dengan Dr. Ainia Herminiati, menceritakan bagaimana kelompok penelitiannya di P2 Kimia LIPI dan kelompok penelitian lainnya di LIPI juga di berbagai litbang dan perguruan tinggi di Indonesia turut aktif dalam memanfaatkan biodiversitas Indonesia baik berupa tanaman, hewan dan mikroba dari daratan dan lautan untuk mengembangkan riset pangan fungsional yang diharapkan dapat menghasilkan produk makanan/minuman fungsional, dan produk nutrasetikal untuk berbagai penyakit degenaratif. Kegiatan ini, diharapkan dapat membantu program prioritas pemerintah Indonesia di bidang pangan dan kesehatan.

Setelah menampilkan beberapa pembicara lainnya, acara konferensi ditutup dengan diskusi untuk merangkum jenis penyakit menular utama dan biodiversitas yang digunakan untuk mengatasinya serta masalah yang dialami di negara-negara ASEAN.  Pada hari terakhir, dillakukan studi lapangan ke Thailand Institute of Scientific and Technological Research (TISTR) dan Perusahaan The Mighty Co. <aars/p2 kimia>

ZONA INTEGRITAS