: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Ekstraksi Benalu Menjadi Obat 


Administrator, 12 September 2019

 

Hasil uji bioaktivitas menjadi pembuktian ilmiah penunjang data empiris. 

 

Indonesia memiliki banyak bahan herbal yang telah digunakan secara turun-temurun. Tapi ihwal khasiatnya baru sebatas "katanya". Nina Artanti, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan uji bioaktivitas diperlukan untuk membuktikan khasiat bahan herbal tersebut secara ilmiah. 

"Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting, baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal maupun dalam pengembangan sebagai obat," kata Nina, Senin lalu. Ada berbagai macam uji bioaktivitas, yakni antioksidan, anti-diabetes, sitotoksik, dan anti-bakteri. 

Nina menjelaskan bahwa kebanyakan penelitian mengenai manfaat obat herbal dilakukan dengan ekstraksi memakai pelarut organik. Adapun cara tradisional adalah diseduh dan direbus. "Penelitian memakai ekstrak air perlu dilakukan. Sebab, kandungan senyawa yang terekstrak dalam air mungkin berbeda dengan pelarut organik." 

Salah satu materi herbal yang banyak dipakai untuk pengobatan alternatif penyakit kanker adalah benalu. Hasil penelitian terhadap ekstrak air benalu nangka (Macrosolen cochinchinensis) menunjukkan aktivitas antioksidan in vitro serta anti-kanker in vitro dan in vivo. 

Ekstrak ini relatif tidak toksik berdasarkan hasil uji toksisitas in vitro dengan metode brine shrimp lethality test (BSLT) dan toksisitas akut in vivo pada mencit. 

"Meski M. cochinchinensis satu famili dengan Dendrophthoe pentandra, yaitu Loranthaceae, tak terdapat kandungan senyawa utama quercitrin (quercetin-3-ramnosida) saat tumbuh pada inang nangka atau inang lainnya," kata Nina. 

Hasil hidrolisis ekstrak air benalu nangka menunjukkan terbentuknya quercetin, yang berarti ekstrak air ini mengandung glikosida quercetin lainnya. Di Eropa, benalu spesies Viscum album digunakan sebagai obat alternatif kanker. 

"Obat-obatan ini bahkan sudah bermerek dagang, seperti Iscador, Helixor, dan Eurixor, yang sudah dalam tahap uji klinis," ujar dia. 

Dalam penelitian sebelumnya, beberapa ekstrak air mendidih atau ekstrak pelarut organik benalu Indonesia (Dendrophthoe pentandra) menunjukkan berbagai bioaktivitas, seperti antioksidan, anti-diabetes, dan sitotoksik, terhadap sel kanker ataupun larva udang. 

"Sedangkan ekstrak pelarut organik selaginella (cakar ayam) menunjukkan bioaktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara," kata Nina. 

Uji bioaktivitas menggunakan pendekatan langsung preparasi seduhan dan rebusan sebagai sampel yang diuji tanpa melalui proses pengeringan ekstrak akan membantu memberi gambaran langsung aktivitas herbal tersebut. 

"Hasil analisis empat sampel seduhan daun benalu dari famili Loranthaceae dan satu sampel seduhan cakar ayam (Selaginella sp.) menunjukkan semua sampel benalu memiliki aktivitas antioksidan, anti-diabetes, dan sitotoksisitas tinggi," ucap Nina. 

Sementara itu, sampel cakar ayam menunjukkan aktivitas yang secara signifikan lebih rendah pada benalu. "Benalu dari famili Loranthaceae dan cakar ayam menunjukkan aktivitas antioksidan, anti-diabetes, dan anti-kanker." 

Tumbuhan ini sudah lama digunakan, sehingga aman diformulasi sebagai obat herbal ataupun minuman kesehatan. Selain itu, seduhan dan rebusan campuran benalu (D. curvata) dan cakar ayam menunjukkan aktivitas anti-kanker in vitro sehingga dapat dikembangkan sebagai teh herbal pencegah kanker. 

Nina menjelaskan, untuk keanekaragaman hayati yang secara umum telah dikonsumsi oleh masyarakat sebagai obat herbal, seperti benalu dan cakar ayam, hasil uji bioaktivitas dapat menjadi pembuktian ilmiah yang menunjang data empiris. 

"Hal ini akan membuat manfaat obat herbal lebih meyakinkan untuk dipromosikan sehingga dapat meningkatkan nilai komersial," ujar dia.

(Afrilia Suryanis/Koran Tempo)

Link terkait : http://koran.tempo.co/read/445738/ekstraksi-benalu-menjadi-obat

 

 

 

ZONA INTEGRITAS