: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Eksplorasi Jamur Endofit Indonesia sebagai Bahan Obat Alami


Administrator, 02 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Andria Agusta, menyampaikan hasil penelitiannya yang berjudul Exploration of Anti-Effective Metabolites from Indonesia Endophytic Fungi, padaInternational Webinar on Natural Products and Tropical Medicine’, Rabu, (2/6). Dalam pemaparannya, Andria menjelaskan riset mengenai jamur endofit yang dilakukan oleh dirinya beserta timnya. “Jamur endofit adalah jamur mikro yang secara internal hidup pada jaringan tumbuhan inangnya,” jelasnya mengawali.

Dirinya menjabarkan bahwa Indonesia memiliki jamur endofit yang berada di seluruh daerah yang tersebar dari wilayah barat Sumatra hingga timur Papua. “Dimulai tahun 2006-2021, kami telah mengeksplorasi 1833 jamur,” ungkapnya. “Selama ini kami masih fokus di wilayah Barat dan di masa depan kami akan coba dari Indonesia Timur,” imbuhnya.

Andria telah melakukan percobaan isolasi jamur di laboratorium. “Salah satu contoh sukses adalah isolasi dari tanaman teh, Camellia sinensis, yakni biokonversi katekin dari teh menjadi 4-hidroksi derivatif dengan jamur endofit Diaporthe sp. E., yang menghasilkan antioksidan,” urainya.

Malaria saat ini masih menjadi salah satu penyakit menular yang jumlah kasusnya tinggi di Indonesia. “Di laboratorium, kami melakukan biokonversi obat antimalaria, artemisinin, dari tanaman Artemisia vulgaris, menggunakan jamur endofit Colletotricum sp.,” tutur Andria.

Bersama timnya, Andria melakukan isolasi metabolit jamur endofit dari seluruh tumbuhan Indonesia, untuk antibakteri, antioksidan, antijamur, antimikroba, dan sebagai obat lainnya. “Kandungan metabolit aktif jamur endofit dari Albertisia papuana berpotensi digunakan sebagai antikanker dan obat kardiovaskular,” ungkapnya.

Sejak tahun 2006 hingga sekarang, sebanyak lebih dari 1700 jamur endofit hasil eksplorasi telah berhasil diskrining sebagai antimikroba dan antioksidan. Pada masa pandemi Covid-19, Andria berujar ada lebih dari 100 ekstrak jamur endofit diskrining. “Terdapat dua jenis jamur menunjukan potensi sebagai anti SARS-CoV-2,” ucapnya.

“Ada caranya bagaimana mengekstrak jamur endofit dalam skala besar, karena kalau dalam proses uji coba in vivo (menggunakan mencit) butuh jumlah dosis ekstrak yang cukup besar. Bisa dengan melakukan produksi kultivasi jamur di laboratorium,” ujarnya.

Bagi Andria, aspek yang sangat penting dalam kultivasi adalah penggunaan media. “Butuh media yang tepat untuk menghasilkan metabolit sekunder dari jamur endofit. Kami coba menggunakan berbagai media, karena harus mengira-ngira yang tepat, termasuk temperaturnya,” ungkapnya. “Di LIPI juga tersedia fasilitas koleksi kultur untuk jamur, bakteri, dan mikroba lainnya, agar kita dapat dengan mudah mengisolasi jamur endofit," jelasnya. (adl)

ZONA INTEGRITAS