Berita

Di Seminar Kesetaraan Gender, Agus Beberkan Potensi Perempuan Terpapar Zat Kimia Saat Daur Ulang Limbah


Administrator, 22 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Surabaya] Ketimpangan gender di berbagai sektor pekerjaan masih terjadi di Indonesia. Hal ini tidak terkecuali berlaku juga untuk industri yang terkait plastik dan daur ulang plastik. Demikian kesan yang didapat oleh peneliti P2 Kimia, Dr. Agus Haryono, saat diundang melakukan presentasi dan diskusi di acara Seminar Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Limbah Kerasan (rigid) Plastik. Bertempat di Hotel Luminor Surabaya, Rabu (21/3), even tersebut membuka forum diskusi antar peneliti, pegiat, aktivis sampah, praktisi daur ulang, hingga kelompok PKK. Secara sekilas, peserta seminar didominasi 80% oleh para perempuan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh UNDP (United Nations Development Program) yang bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian. Tujuannya adalah untuk mensosialisasikan bahaya PBDEs (polybrominated diphenyl ethers) dan UPOPs (Unintentional Persistent Organic Pollutants) yang sudah dilarang di dunia.

“PBDEs adalah zat penghambat nyala api, yang ditambahkan di berbagai alat elektronik, spare part kendaraan, tekstil tahan api dan sebagainya,“ ungkap Agus saat memberikan penjelasan. “Barang-barang bekas seperti komputer, laptop, kabel, sofa, korden tahan api, ketika masuk proses daur ulang, maka ibu-ibu yang bekerja memilah sampah, berpotensi terkena pajanan zat berbahaya PBDEs terlebih dahulu,“ lanjut peneliti madya yang juga Kepala P2 Kimia LIPI ini.

“Adapun UPOPs, termasuk dioksin dan furan bisa timbul akibat pembakaran yang tidak sempurna. Ibu-ibu rumah tangga kerap membakar sampah rumah tangga, termasuk plastik, yang jika dibakar berpotensi menimbulkan dioksin dan furan yang beracun, “ pungkas peneliti yang pernah dianugerahi sebagai salah seorang penemu paten terbanyak di Indonesia ini.

Di industri daur ulang plastik, jumlah pekerja yang dominan adalah perempuan. Perempuan dinilai lebih teliti dan sabar dalam melakukan pemilahan sampah plastik.

Agus selanjutnya memaparkan berbagai potensi senyawa kimia berbahaya dan potensi dampaknya. Diantaranya, berpotensi mengurangi berat bayi waktu lahir, menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, memperpendek waktu keluarnya ASI dan sebagainya.

“Oleh karenanya, para perempuan ini harus diberikan informasi yang cukup agar bisa terhindar dari pajanan bahan kimia yang berbahaya dalam industri daur ulang plastik,“ terang Agus mewanti-wanti. <ARS/ p2k>

ZONA INTEGRITAS