: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Dampak Pestisida terhadap Kesehatan dan Lingkungan


Administrator, 04 November 2021

Serpong – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (OR IPT BRIN), Dr. Agus Haryono, M.Sc., menyampaikan kuliah umum secara virtual di Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), pada Rabu (3/11). Acara ini merupakan bagian dari Program Webinar dalam Rangka Peningkatan Reputasi Akademik Departemen Kimia FMIPA UI. Topik kuliah yang disajikan yaitu Dampak Penggunaan Pestisida Kimia terhadap Kesehatan dan Lingkungan.

Mengawali pemaparan, Agus menjelaskan tentang pestisida menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43 Tahun 2019.  “Pestisida yang berarti semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus memiliki delapan fungsi, yaitu, pertama untuk memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, kedua untuk memberantas rerumputan, ketiga untuk mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan, keempat untuk mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman, kelima untuk  memberantas hama luar pada hewan piaraan dan ternak, keenam untuk memberantas hama air, ketujuh untuk  memberantas hama dalam rumah tangga, bangunan, dan alat-alat pengangkutan, dan terakhir untuk memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi,” jelasnya.

Selanjutnya Agus menerangkan istiliah yang ada dalam pengawasan pestisida. “Pengawasan pestisida serangkaian kegiatan pemeriksaan terhadap produksi, peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida agar terjamin mutu dan efektivitasnya, tidak mengganggu kesehatan dan keselamatan manusia serta kelestarian lingkungan hidup dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ungkap Kepala OR IPT BRIN.

Peneliti Ahli Utama ini mengatakan bahwa formulasi dan bahan aktif dalam pestisida itu penting untuk diawasi kandungannya. “Formulasi adalah campuran bahan aktif dengan bahan lainnya dengan kadar dan bentuk tertentu yang mempunyai daya kerja sebagai pestisida sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Sementara bahan aktif adalah bahan kimia sintetik atau bahan lalami yang terkandung dalam bahan teknis atau formulasi pestisida yang memiliki daya racun atau pengaruh biologis lain terhadap organisme sasaran. Dalam menguji kadar bahan aktif pestisida inilah diperlukan bahan aktif standar yang murni sebagai pembanding dalam proses analisis,” urainya.

Lulusan Doktor dari dari Jepang ini menjelaskan bahwa banyak bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan dalam perdagangan internasional. “Ada Konvensi Stockholm yang mengatur polutan organik resisten yang dilarang, juga ada Konvensi Rotterdam yang mengatur tentang peredaran pestisida yang berbahaya namun masih belum dilarang di dunia internasional,” ujarnya. “Misalnya jika negara A ingin mengekspor ke negara B harus ada perjanjian dulu apakah negara B itu bisa menerima. Tujuannya adalah agar distribusi pestisida yang dampaknya bahaya itu bisa teratur dan tercatat dengan baik,” imbuhnya.

Dirinya menjelaskan bahwa pestisida memiliki dampak bagi kesehatan apabila digunakan dalam jangka panjang. Misalnya penggunaan pestisida berlebihan yang di daerah pertanian bisa menyebabkan munculnya penyakit kanker. Namun menurut Agus, saat ini semakin tinggi kesadaran masyarakat akan bahaya pestisida kimia, maka peluang riset biopestisida atau pestisida nabati semakin meningkat. “Peluang pasar bagi industri biopestisida semakin baik serta ditambah dengan dukungan pemerintah,” terangnya. Sebagai peneliti, dirinya berpesan agar para peserta mahasiswa juga bisa meneliti formula pestisida yang ramah lingkungan. “Agar industri tidak hanya menggunakan lisensi formula yang diimpor dari luar negeri,” pesannya.

(mfn, adl)

ZONA INTEGRITAS