: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Bioplastik Pengganti Plastik Konvensional


Administrator, 24 Oktober 2021

Serpong - Peneliti Bioplastik M. Ghozali menjadi narasumber pada sesi acara Indonesia Menyapa, Radio RRI Pro 3 FM yang disiarkan secara podcast. Diungkapkan oleh Ghozali, bioplastik terbuat dari bahan baku biomassa. Biomassa adalah bahan baku yang terbuat dari sari pati singkong, sari pati jagung, sari pati aren, atau kayu. Setelah itu sari pati atau kayu diubah menjadi selulosa dan akhirnya terbentuk menjadi bioplastik.

“Bioplastik dapat diolah dari  bahan baku pisang, atau dari tanaman lain yang  mengandung sari pati. Semua dapat diolah menjadi  bioplastik. Pada masa kini  bioplastik  sudah mengalami perkembangan dan sudah beredar secara luas di Indonesia,” jelas Ghozali.

Ditambahkan oleh Ghozali, kegunaan bioplastik yaitu sebagai single use (sekali pakai). “Ke depannya diiharapkan bioplastik dapat digunakan masyarakat, untuk  menggantikan plastik konvensional. Bioplastik single use, pada masa sekarang ini masih dalam tahap diarahkan ke arah sekunder (riset untuk mengganti plastik konvensional yang sudah ada). Belum sampai di tahap akhir, yaitu sebagai bioplastik yang dapat digunakan sebagai kemasan pembungkus makanan sehari hari,” urainya.

Perbedaan plastik dan bioplastik, yaitu bioplastik dapat terurai. Sedangkan plastik konvensional memerlukan waktu yang lama untuk terurai di alam. “Penting ditumbuhkan kesadaran di masyarakat untuk mengurangi atau meninggalkan plastik konvensional sekali pakai karena sulit terurai,” ungkap Ghozali.

Dirinya mengharapkan perlunya pihak pemerintah untuk membuat sistem yang bagus tentang pengolahan kembali plastik konvesional di masyarakat. “Yaitu dengan cara setelah plastik konvesional selesai digunakan, langsung dikumpulkan untuk didaur ulang, sehingga berubah bentuk menjadi barang lain,” ucap peneliti Pusat Riset Kimia Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kini riset bioplastik di BRIN sudah dapat membuat bioplastik, namun dalam skala kecil. Bukan diproduksi dalam skala besar untuk industri.

Menurut Ghozali, saat ini pembuatan bioplastik untuk riset dan sektor rumahan mudah dilakukan karena hanya diperlukan peralatan tertentu sampai terbentuk bioplastik. “Pembuatan ini hanya untuk digunakan sendiri, bukan untuk digunakan oleh masyarakat umum. Karena jika ingin mengolah bioplastik yang dapat digunakan oleh masyarakat umum, bioplastiknya harus memenuhi syarat tertentu sesuai aturan pemerintah,” terangnya.

Dari segi biaya pembuatan, Ghozali berpendapat bahwa lebih mahal untuk membuat biolastik. “Hal ini disebabkan pada proses pembuatan bioplastik dari biomassa jenis polietilen (PE) dan polipropilen (PP), sari pati harus dicampur dengan beberapa bahan baku lain. Sedangkan untuk pembuatan plastic konvensional, hanya perlu sejenis bahan baku saja. Namun dari segi kualitas, bioplastik yang terbuat dari tandan sawit , memiliki kualitas lebih tinggi dari plastik konvensional,” ujarnya.

Dipaparkan Ghozali, sudah ada negara lain yang telah memanfaatkan bioplastik dalam kehidupan sehari hari. Yaitu Eropa dan Amerika Selatan. Sedangkan negara Brazil sudah mendirikan pabrik bioplastik.

Meskipun dalam pembuatan plastik konvensional memerlukan bahan bakar sedikit saja, namun plastik konvensional memerlukan waktu terurai yang lama. Hal ini yang menyebakan plastik konvensional menjadi kurang ramah lingkungan. “Sementara pembuatan bioplastik memerlukan bahan bakar yang lebih banyak, namun lebih ramah lingkungan karena mudah terurai dan tidak merusak lingkungan,” kata Ghozali.

Baginya, masih ada kendala dalam penggunaan bioplastik dalam skala besar di kehidupan sehari-hari sebagai pembungkus makanan. Karena belum adanya dukungan dari pemerintah berupa kebijakan. Kebijakan  tersebut diperlukan agar dapat dilaksanakan oleh semua elemen masyarakat.

Ghozali bertekad untuk mengembangkan riset bioplastik dan tidak ada kata terlambat. “Jika sudah berhasil, saya akan terus meneruskan risetnya. Diharapkan masyarakat lebih bijak jika memakai plastik dan pihak industri mau memakai riset yang telah dilakukan oleh peneliti,” pungkas Ghozali. (mfn/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS