: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Baju Hazmat Antimikroba Lapis Nanopartikel


Administrator, 01 Maret 2021

Serpong, Humas LIPI. Sejak pandemi Covid-19, masyarakat Indonesia menjadi familiar dengan istilah baju hazmat (hazardous material suit). Baju hazmat ini wajib digunakan oleh tenaga kesehatan (nakes) sebagai alat pelindung diri (APD), saat menangani pasien Covid-19.

Mengamati hal tersebut, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joddy Arya Laksmono, tertarik melakukan  riset tentang APD, dengan mengenalkan pakaian hazmat yang antimikroba dengan teknologi nano. “Kami menanamkan materi antimikroba pada hazmat tersebut, agar bisa nyaman dipakai sekaligus melindungi dari mikroba-mikroba, khususnya bakteri, jamur, dan virus,” ujar Joddy pada acara dialog To The Point, Radio RRI Pro 3, Minggu, (28/2) via Zoom.

Dirinya menjelaskan bahwa umumnya pori-pori pakaian hazmat itu ukurannya sangat kecil, sehingga sirkulasi udara pada hazmat agar terhambat. Pada riset hazmat, bahan yang dikembangkan sifatnya breathable (mudah bernapas), agar selain aman, juga nyaman digunakan oleh para tenaga kesehatan. “Seperti kita ketahui, tenaga medis sekali pakai bisa memakai hazmat sampai 6-7 jam, dan itu cukup menguras tenaga karena panas pada tubuh kurang dapat dikeluarkan pada baju Hazmat, jadi kami kembangkan APD yang sirkulasi udaranya baik,” urainya

Dengan dipandu oleh penyiar Desi Natalia, Joddy menggambarkan bahwa kain yang breathable itu memiliki pori-pori. “Kami menggunakan kain yang berpori dengan berdiameter lebih besar dibandingkan bakteri, kemudian kami lindungi pori tersebut dan lapisan pada kainnya menggunakan bahan yang memiliki sifat antimikroba,” terangnya.

Menurut Joddy, alat pelindung diri ini sudah siap digunakan oleh para nakes atau dokter yang bekerja di ruang operasi. “Bahan material ini sudah uji SARS-Cov-2 dan memiliki potensi penghambatan terhadap pertumbuhan Covid-19 di atas 80%, artinya kalau kita tanamkan di dalam bahan tekstil atau bahan hazmatnya, saya cukup yakin bisa menghambat pertumbuhan Covid yang berasal dari airborne atau penyebaran lewat udara,” tegas Joddy.

Dalam menjalankan kegiatan ini, Joddy yang berlatar berlakang teknik kimia berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu. Baik dari segi biologi, material, virus, dan tekstil yang berasal dari instansi LIPI, ITB, dan UGM.

Sementara untuk biaya harga baju hazmat, Joddy menjelaskan biaya produksi bisa di bawah harga normal karena pasokan dalam negeri cukup untuk bahan baku pembuatan pakaian hazmat antimikroba. “Perkiraan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) sekitar 70 persen, jadi ini bisa menekan biaya produksinya, sehingga harganya pun bisa lebih murah,” jelasnya.

Bagaimana cara kerja lapisan antimikroba, Joddy menjabarkan secara sederhana proses pelapisan nanopartikel ini melindungi pakaian hazmat. “Dalam komposisi hazmat antimikroba, ada semacam partikel yang terlarut di dalam suatu wadah berbahan dasar air, kemudian hazmat yang akan digunakan dilapiskan dengan menggunakan nanopartikel yang memiliki sifat antimikroba,” terangnya.

Sebagain penutup, Joddy menyampaikan bahwa penelitian ini juga bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) yaitu rumah sakit UI yang bersedia untuk dilakukan uji klinis. “Jadi pertama kami akan memproduksi sejumlah hazmat, kemudian kami bagikan kepada para tenaga kesehatan di RS UI, lalu dilihat dan diuji efektivitasnya,” tutup Koordinator kelompok penelitian Kimia Makromolekul ini. (hrd, mfn/ ed. adl)

ZONA INTEGRITAS