Berita

Agus Berbicara di Temu Teknologi Bali: Nanoteknologi Masa Depan Pertanian


Administrator, 08 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Denpasar] Jam menunjukkan pukul 09.30 pagi. Hari itu (21/03/2017), puluhan partisipan telah memasuki ruang pertemuan Gedung Wanita Santi Graha Kota Denpasar, Bali. Mereka menghadiri acara Temu Teknologi: Nanoteknologi Masa Depan Pertanian. Para partisipan yang hadir berasal dari universitas, praktisi pertanian, kelompok tani, penyuluh pertanian, pimpinan dan staf Dinas Pertanian Denpasar, serta media lokal.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan pembacaan doa dari Pandita agama Hindu. Kemudian kata sambutan disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian Denpasar yang mewakili Walikota Denpasar..

“Pertanian saat ini menghadapi tantangan berat, seperti alih fungsi lahan dan serangan hama, “ ujar Kepala Dinas Pertanian Denpasar. “Oleh karena itu, perlu dukungan teknologi untuk pertanian sebagai solusi ketahanan pangan dan perbaikan berkelanjutan, khususnya di kota Denpasar, “ ungkapnya yang dilanjutkan dengan membuka acara secara resmi.

Moderator kemudian mengambil alih untuk memulai presentasi oleh narasumber. Narasumbernya adalah Dr. Eng. Agus Haryono, Kepala Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonenesia (P2K-LIPI). Dr. Agus mengawali paparan presentasinya dengan menjelaskan pemanfaatan nano teknologi untuk pertanian. Contoh teknologi yang disampaikan merupakan produk hasil penelitian LIPI dan peneliti Indonesia lainnya. Contohnya adalah (1) teknologi pupuk terbaru control release fertilizer untuk beberapa bulan. (2) Biopestisida dari konsorsium bakteri. (3) Nanogel methyl eugenol sebagai atraktan lalat buah. (4) Coating benih dengan nano-Zne. (5) Coating buah dengan ekstrak batang pisang, (6) Pencucian produk pertanian dengan ozon, bermanfaat untuk pertanian, perternakan, pertanian, air bersih.

“Coating buah dengan ekstrak batang pisang bermanfaat untuk menunda kematangan buah hingga tiga minggu, “ jelas Agus. “coating bisa dipakai saat buah masih ada di tanaman, sebagai solusi saat panen raya dan ekspor, “ papar lulusan Waseda University ini.

Memasuki sesi tanya jawab, sesi dilangsungkan dalam tiga sesi. Rata-rata peserta antusias untuk bertanya kepada narasumber. Selain dapat penjelasan, penanya juga berhak memilih souvenir produk nanoteknologi yang disiapkan oleh tim dari P2K-LIPI. Produk-produk yang dapat dibawa pulang antara lain, pestisida nabati, nano kosmetik, nano propolis, dan buku tentang nanoteknologi.

“Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan terkait teknologi nano dan pestisida kimia, “ ungkap Ibu Ela, peserta dari Dinas Pertanian.

Ibu Ela kemudian merinci pertanyaannya. Diantaranya mengenai ketersediaan produk nano di pasaran, teknologi nano pada pestisida nabati dan pesitisida kimia dan teknologi nano untuk memperbaiki struktur tanah. Agus lalu menjawab pertanyaan ini satu persatu-satu. Dijelaskan olehnya, produk nano yang dipasarkan di Indonesia terdaftar di website kementerian pertanian, jika tidak ada berarti produk ilegal. Sebagai salah satu anggota komisi pestisida, Agus menambahkan, produk pestisida umumnya dari luar bukan indonesia. “Pestisida ada yang kimia dan yang nabati. Teknologi nano yang dikembangkan mendorong slow release yang berbeda dengan yang ada saat ini, “ jelasnya. Terkait struktur tanah, “Memperbaiki tekstur tanah paling baik adalah dengan pupuk hayati. Konsorsium mikroba P, N, K di LIPI salah satunya adalah bertujuan memperbaiki tanah. Peneliti LIPI sudah ada yang meneliti di lahan tandus marginal, “ ungkapnya lebih jauh.

Perwakilan peserta dari universitas juga antusias untuk bertanya. Terutama ingin mengetahui bagaimana agar dapat bekerjasama dengan LIPI terkait nanoteknologi. Yudia Irni dari Universitas Mahasaraswati, misalnya, bertanya mengenai harga teknologi nanoteknologi yang mahal untuk petani urban farming mandiri. Rektornya ingin kerjasama dengan LIPI terkait agribisnis. Agus menjawab bahwa LIPI sangat welcome untuk kerjasama. Mengenai harga, produk nanoteknologi per botol memang mahal, tapi dilihat dari penggunaan pasti lebih hemat, karena lebih efisien. Arif dari Universias Udayana berpendapat bahwa mahasiswa di kampusnya tertarik akan nanoteknologi, namun untuk ukuran daerah, masih dirasa teknologi yang mahal. Agus menanggapi hal ini dengan menyampaikan bahwa Indonesia perlu pertanian berbasis organik, karena indonesia sangat kaya akan hayati. Pupuk hayati buatan Dr Anton di LIPI, sebagai contoh, mengumpulkan mikroba dari seluruh Indonesia. Di samping itu, di LIPI ada pelatihan pupuk hayati skala 100 L. Lebih murah. “Sudah saatnya kita mengubah mindset. Sehingga bisa beralih dari pupuk kimia ke pupuk hayati, “ terangnya.

Pertanyaan dari pelaku usaha pertanian, petani dan penyuluh pertanian, antara lain bagaimana aplikasi nanoteknologi yang bisa dilakukan skala rumah tangga. Tentu dapat dipraktikkan teknologi atraktan lalat buah, coating buah, aplikasi nano pestisida, nano pupuk. Petani umumnya ingin lihat hasilnya, bagaimana kalau produk LIPI bisa digunakan di lahan pertanian di Denpasar. Penerapan ini peting, agar hasil penelitian LIPI tidak hanya teori, perlu kajian di demplot-demplot. Aplikasi teknologi nano bisa diterapkan juga di peternakan, yakni pemberian pakan aditif vitamin, supaya lebih terserap ke tubuh hewan ternak.

Menjelang pukul 12.00 waktu setempat, moderator menutup proses diskusi tanya jawab. Ada kesimpulan yang diperoleh yakni (1) nanoteknologi dapat memberikan kontribusi positif untuk kesejahteraan petani, (2) perlu sosialisasi lebih intens untuk nanoteknologi, (3) kerjasama antara LIPI dengan universitas yang mempunyai Fakultas Pertanian, serta penyuluh pertanian, (4) ada contoh riil dari demplot nano. Acara terakhir adalah tukar-menukar cenderamata dari Dinas Pertanian Denpasar dengan Pusat Penelitian Kimia LIPI serta foto bersama, serta ditutup dengan pembacaan doa. Setelah acara resmi telah ditutup, diskusi non formal terus berlanjut antara peserta dengan narasumber terkait topik nanoteknologi. (adl/ p2kimia)

ZONA INTEGRITAS