: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Pentingnya Tikus Putih dan Mencit untuk Penelitian


30 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Meski kerap dianggap sebagai hama, siapa sangka tikus berperan penting pada ilmu pengetahuan. Satwa pengerat ini sering dipakai sebagai media percobaan bagi para peneliti untuk merumuskan obat bagi penyakit hingga pengujian suplemen makanan. Redaksi CNN Indonesia dengan Rosella Mencit dan LIPI meliput mengenai pentingnya Tikus Putih dan Mencit, pada lembaga penelitian dan bagaimana dan bagaiamana proses produksi atau pengembangbiakan. Acara yang dipandu oleh Ryan Fernando, Produser Lapangan CNN Indonesia, menampilkan lika-liku berternak tikus putih dan mencit dalam segmen sehari menjadi, pada Minggu (29/8) melalui CNN-Indonesia dan Trans 7. Tikus putih atau Norway Rat berasal dari Tiongkok dan menyebar ke Asia Tenggara. Mengutip data Foundation for Biomedical Research Amerika Serikat, 95% hewan percobaan di laboratorium adalah tikus. “Uji tikus itu sebagai uji keamanan suatu kandidat obat atau  kandidat vaksin. Kita akan membedah atau dibuka hewan itu dan kita akan melihat pengaruhnya terhadap organ hati, organ ginjal, paru bahkan memang dia kalau kita bedah hewan ini memiliki kemiripan morpologi tetapi ukurannya kecil,” jelas Marissa Angelina Peneliti Madya P2 Kimia – LIPI. Selain tikus putih, juga ada mencit. Hewan dengan nama latin Mus musculus adalah anggota dari Muridae atau tikus-tikusan yang berukuran kecil. Ukuran tikus putih bisa mencapai 40 sentimeter. Namun ukuran mencit jauh lebih kecil dengan panjang 12 hingga 20 sentimeter. Tidak ada makanan khusus untuk tikus putih, karena hewat pengerat ini merupakan omnivora alias pemakan segala. Makan tikus harus mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta serat kasar. Ada dua cara pengembangbiakan tikus putih yaitu inbreeding atau outbreeding. Inbreeding atau perkawinan sedarah yang biasanya dihindari oleh para peternak karena presentase terjadi kecacatan lebih tinggi dibanding perkawinan tidak sedarah atau outbreeding. Namun ada juga peneliti yang membutuhkan tikus jenis ini salah satunya untuk meneliti tikus dengan imun lebih lemah dari tikus kebanyakan. Tikus yang digunakan untuk penelitian minimal berusia 3 bulan atau masuk kategori dewasa. Tikus putih yang dijual ke laboratorium berbobot 150 - 200 gram per ekor, sementara Mencit memiliki bobot 20 - 30 gram per ekor. Sejumlah lembaga penelitian masih menggunakan tikus sebagai salah satu media penelitian. Marissa menyebut, beberapa penelitian yang dilakukan diantaranya adalah ingin melihat apakah daun ketepeng badak dapat meningkatkan imunitas seseorang. “Sebelumnya kita ujikan pada mencit sebelum kita berikan kepada manusia. Selain itu kita juga melakukan uji terhadap tanaman mengkudu sebagai anti hipertensi,“ pungkasnya. (hrd)

Baca

Penyematan Jabatan Fungsional serta Satyalancana di Puspiptek untuk Lingkungan BRIN


27 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Pada Jumat (27/8), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan Pelantikan dan Pengambilan Sumpah/Janji Jabatan Fungsional serta Penyematan Satyalanca Karya Satya  (SLKS) di Auditorium Pusat Pendidikan  dan Pelatihan, Puspiptek, Serpong. Pengambilan Sumpah/Janji tersebut dipimpin oleh Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dan turut disaksikan oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dalam arahannya, Kepala BRIN menuntut para peserta yang telah dilantik dapat bekerja secara baik. “Saya berharap saudara-saudara sekalian dapat bekerja secara profesional, sesuai dengan kompetensi kemampuan, dan kepakarannya demi mewujudkan merah putih yang lebih prima, melalui badan riset dan inovasi nasional, bagi kepentingan bangsa dan negara kita,” pesannya. Ada 66 pejabat fungsional yaitu 31 dari LAPAN, 14 dari BATAN, 11 dari LIPI, dan 10 dari BRIN. Terdiri dari tiga pejabat fungsional Ahli Utama, empat Ahli Madya, 14 Ahli Muda , 30 Ahli Pertama, serta 13 Tunjangan Keterampilan . “Khusus Kepada fungsional Ahli Utama saya ucapkan selamat  sehingga telah mampu mencapai karier tertinggi, bagi seorang pejabat fungsional. Di satu sisi pencapaian karier tertinggi ini adalah bentuk perhatian terhadap kemampuan, kapasitas, dan kompetensi,” ujar Handoko di hadapan para peserta pelantikan. Dirinya melanjutkan bahwa hal tersebut memberikan tanggung jawab tambahan untuk membina generasi di bawahnya. “Di sisi lain, kepakaran bapak ibu yang telah memasuki dan mengikuti jenjang karier utama, harus dapat membina para pejabat fungsional dengan jejang di bawahnya sehingga kelak akan mampu menjadi penerus yang memiliki kapasitas dan kompetensi yang lebih baik sebagai seorang ASN,” tambahnya. Handoko berharap kepada para pejabat yang baru dilantik dapat segera menjalankan tugas dan fungsinya dengan lebih semangat dan penuh tanggung jawab. “Terlebih di dalam upaya kita dalam BRIN untuk membangun riset dan inovasi yang lebih baik kiprahnya tidak hanya bagi BRIN tetapi juga komunitas secara nasional. Bangsa dan negara kita saat ini sedang menunggu kiprah dari bapak ibu yang ada di BRIN,” tegasnya Dalam acara tersebut juga ada penyerahan penghargaan Satyalancana Karya Satya di lingkungan BRIN, BPPT, LIPI, dan BATAN. “Saya juga mengucapkan selamat kepada penerima SLKS, atas pengabdiannya selama 10, 20, 30 tahun secara terus menerus kepada bangsa dan negara kita,” ucapnya. Dari BRIN, BATAN, BPPT, dan LIPI berjumlah 842 orang . 481 orang diantaranya untuk masa bakti 10 tahun, 88 orang  masa bakti 20 tahun, dan 232 orang dengan masa bakti 30 tahun. Sementara untuk penerima SLKS kepada LAPAN telah dilaksanakan pada 17 Agustus 2021 yang lalu. Dalam acara tersebut yang diselenggarakan melalui daring dan luring, terdapat perwakilan penerima penghargaan dari Pusat Penelitian Kimia. Sivitas Nino Rinaldi mewakili pelantikan jabatan fungsional Peneliti Ahli Utama dan Arthur Ario Lelono mewakili penerima Satyalanca Karya Satya. (hrd/ ed. adl)

Baca

Sivitas Kimia LIPI Raih Penganugerahan Penghargaan di Acara HUT LIPI ke-54


27 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Memperingati hari ulang tahun ke-54, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyeleggarakan acara “Kiprah LIPI di usia 54 Tahun” yang digelar pada Kamis (26/8) secara virtual. Tema pada diusung pada peringatan hari  ulang tahun LIPI kali ini adalah “Semangat Inovasi, Solusi untuk Negeri”. Salah satu rangkaian acaranya adalah Penganugerahan Penghargaan bagi Pegawai Di Lingkungan LIPI Tahun 2021. Dua orang sivitas Pusat Penelitian Kimia LIPI, yakni Siti Nurul Aisyiyah Jenie dan Athanasia Amanda Septevani berhasil meraih penghargaan tersebut. Siti Nurul Aisyiyah Jenie, yang akrab dipanggil Ais, memperoleh Penghargaan Kategori PNS Inspiratif di Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI. Dirinya mengungkapkan rasa terima kasih atas penghargaan yang ia terima. “Saya mengucapkan terima kasih kepada LIPI, khususnya Pusat Penelitian Kimia di Kedeputian IPT, yang telah memberikan kepercayaannya kepada saya dan tim untuk terus berkarya,” ungkap Ais. Peneliti yang berperan aktif dalam bidang Kimia Material dan Nanoteknologi itu telah menghasilkan  206 sitasi publikasi internasional (h-index 8) dan 3 paten granted. “ Ia juga pernah meraih Toray ISTF Research Grant 2021, ASEAN-EU Joint Funding Scheme (JFS)/LPDP kolaborasi Internasional 2020, Loreal-Unesco Fellowship 2017, Best Paper Asia Future Conference 2018 dan Penghargaan Peneliti Terbaik III LIPI 2017. Menanggapi tantangan di masa banyak perubahan dan transformasi organisasi serta pandemi seperti sekarang ini, Ais menyampaikan, “Sebagai peneliti, kami masih terus difasilitasi dan diberikan ruang untuk menghasilkan ide-ide dan inovasi baru yang diharapkan bisa menjadi solusi untuk negeri ini,” ujarnya. “Justru dengan adanya kendala dan perubahan-perubahan inilah, akan lahir peneliti-peneliti tangguh dengan semangat pantang menyerah untuk Indonesia tumbuh dan terus maju,” dirinya melanjutkan. Ia berharap karya-karya ilmiah yang dihasilkan dapat berdampak tidak hanya untuk komunitas lingkungan akademis saja tapi juga untuk masyarakat luas pada umumnya. “Semoga dengan penghargaan ini kami menjadi insan yang lebih baik, lebih bermanfaat dan menghasilkan karya-larya ilmiah yang lebih optimal lagi,” harap Ais. Sementara itu, Athanasia Amanda Septevani berhasil mendapatkan Penghargaan Kategori PNS The Future Leader di Kedeputian IPT LIPI. “Saya sangat berterima kasih dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan LIPI untuk menerima penghargaan ini. Apresiasi ini memberikan semangat baru sekaligus tantangan untuk terus berkarya di dunia penelitian dalam menghasilkan suatu manfaat bagi komunitas akademisi bahkan masyarakat,” ungkap Amanda. Peneliti yang berperan aktif dalam bidang Nanoteknologi berbasis Biorefinery ini telah menghasilkan 356 sitasi internasional (h-index 7) dan 7 paten tersertifikasi dan produk inovasi Micro Fibre Cellulose skala komersial 1 Ton. Ia juga pernah mengukir prestasi dalam Penghargaan 99 Most Inspiring Women in Indonesia by GlobeAsia - 2019 dan  L’Oreal UNESCO for Woman in Science National Fellowship Awards – 2018 serta memperoleh research grant internasional dari KWEF–Jepang 2020, IAS–UK 2019, dan Global Research Project IERI–Korea Selatan 2019. Amanda berharap agar riset di Indonesia semakin maju dan inovatif. "Karena riset merupakan salah satu landasan penting pertumbuhan dan daya saing ekonomi suatu negara, yang diharapkan mampu menjadi solusi aktif dan inovatif dalam menjawab perubahan kebutuhan masyarakat yang sangat pesat di era revolusi industri 4.0," ungkapnya. Menurutnya, hal ini menjadi tanggung jawab dari semua pihak, termasuk dukungan pemerintah untuk menjadikan penelitian sebuah sektor prioritas dengan memperbesar anggaran untuk penelitian. Serta juga didukung peran aktif pihak industri dalam mengembangkan bersama berbagai produk inovatif berbasis hasil riset di Indonesia. “Dalam kiprah LIPI di usianya yang ke 54 tahun, semoga semangat inovasi dan bakti LIPI semakin dikenal dan bermanfaat untuk masyarakat Indonesia maupun internasional,” pungkas Amanda. (whp)

Baca

Riset Bioetanol dan Co-firing Biomassa untuk Ketahanan Energi


01 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Yenny Meliana, dari Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI), menyampaikan materi dengan judul “Riset Biomassa di LIPI untuk Pemanfaatan Energi: Bioetanol dan Co-firing” dalam Webinar Pekan Inovasi Energi Baru Terbarukan Indonesia, BPPT, pada Kamis, (29/7). Yenny Meliana berbagi tentang biomassa di LIPI untuk mendukung ketahanan energi dalam riset bioetanol dan co-firing. Yenny berbicara mengenai biomassa untuk energi yang jenisnya sangat banyak. “Ada yang ke arah bioetanol, biodisel, bioavtur, dan juga implementasi co-firing atau pencampuran biomassa berupa wood pellet (pelet kayu) dan saw dust (serbuk gergaji),” jelasnya. Kepala P2 Kimia – LIPI mengungkapkan, kebijakan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) masih 11%  untuk target tahun 2025. Seperti yang dijelaskan oleh Menteri ESDM (energi dan sumber daya mineral), bagaimana mencapai pembauran energi sebesar 23% pada tahun 2025. Berdasarkan analisis outlook energy, Indonesia hanya mencapai 13,3% pada tahun 2020, dan diprediksi pada tahun 2025, masih hanya 14,6%. Hal ini jauh dari target Indonesia yang berharap mencapai 23%. Lebih lanjut Yenny menjabarkan bagaimana mengakselerasi bauran tersebut, apalagi untuk menuju net zero emmision (nol bersih emisi) pada tahun 2060. Salah satu caranya adalah dengan penggunaan biomassa di dalam co-firing PLTU (pembangkit listrik tenaga uap). “Di P2 Kimia LIPI sebagai unggulan iptek untuk bioetanol generasi kedua (G2), kami banyak melakukan riset ke arah bioetanol dari tandan kelapa sawit. Bagaimana konversi dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) telah dapat memproduksi bioetanol hingga mencapai kemurnian > 99,5%,” ujarnya. Selain itu, Yenny menyampaikan di P2 Biomaterial LIPI melakukan riset biopelet yang merupakan limbah biomassa dari serbuk kayu, kakao, minyak sawit, dan limbah kopi. “Limbah biopelet ini rendah emisi, tinggi kalori, dan rendah biaya dengan efesiensi 40% dibandingkan dengan penggunan biogas,” ucapnya. Menurutnya, potensi biomassa terbesar masih berasal dari residu pertanian, seperti kelapa sawit, kelapa, karet, tebu, jagung, dan limah biomassa padat. “Teman-teman LIPI sudah mengkaji berapa banyak potensi biomassa seperti jerami padi, sekam, bagas tebu, tongkol jagung, dan pelepah sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang memiliki potensi yang paling besar,” ungkap Yenny. “Ke depannya, dari TKKS bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk co-firing dari batubara. Potensi biomassa industri sawit itu mulai dari tandan, pelepah, sabuk, TKKS, daun, palm oil mill effluent (POME), dan cangkangnya,” ucap doktor lulusan National Taiwan University of Science and Technology. Sementara itu, LIPI juga melakukan riset LCA co-firing, yaitu studi produksi pelet sorgum untuk pembangkit listrik di Indonesia dengan metode LCA. “Untuk studi LCA ini, dilakukan evaluasi potensi penghematan gas rumah kaca, dan terjadi pengurangan emisi dari gas rumah kaca dalam pembangkit listrik batu bara,” pungkas peneliti teknik kimia polimer ini. (hrd/ ed. adl)

Baca

Material Bahan Anorganik Menjadi Platform Deteksi


28 Juli 2021

  Saat ini nanopartikel telah banyak dimanfaatkan untuk bidang tekstil, biomedis, perawatan kesehatan, industri, elektronika, lingkungan, pertanian dan pangan, serta energi terbarukan. Tim peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI tengah mengembangkan bahan material anorganik berbasis nanopartikel untuk menjadi platform deteksi dibidang biosensor dan lingkungan. Nanopartikel yang digunakan menjadi platform deteksi ini memiliki banyak keunggulan, diantaranya proses deteksi yang simple, dapat digunakan portable, materialnya yang stabil, selektif, sensitif, dan dapat mengefisienkan waktu dan biaya. Dalam bidang biomedis, tengah dilakukan pengembangan dan optimasi dari sistem deteksi cepat (rapid test) antibody COVID-19 menggunakan lateral flow immunoassay (LFIA) detection kit yang telah dimodifikasi dengan Nanopartikel Silika Berfluoresensi (FSNP). Rapid test antibody COVID-19 ini diharapkan dapat langsung digunakan pada sampel darah orang yang terduga terinfeksi COVID-19. Di bidang lingkungan, telah dikembangkan sensor kolorimetri berbasis Nanopartikel Emas (AuNPs) yang dapat digunakan untuk mendeteksi dengan cepat (< 5 menit) dan selektif Fe3+. AuNPs dimodifikasi dengan turunan benzoat yang berperan ganda yakni sebagai reduktor dan stabilisator. Sensor ini menunjukkan presisi dan akurasi yang baik untuk mendeteksi Fe3+ di air sawah, sungai, dan laut. (ASA)

Baca

Potensi Nanomaterial Berbasis Silika Alam sebagai Platform Biosensor


23 Juli 2021

Serpong, Humas LIPI. Siti Nurul Aisyiyah Jenie, peneliti Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI), menyampaikan materi dengan judul “Aplikasi Nanomaterial Berbasis Silika Alam sebagai Platform Biosensor: Potensi dan Tantangannya” dalam Webinar Series ke-3 IBASC Departemen Teknik Kimia Mesin – Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Jumat, (23/7). Aisyiyah Jenie menjelaskan apa itu nanoteknologi dan juga penerapannya dalam biosensor juga nano material berbasis silika. Biosensor menurut IUPAC tahun 1999 adalah sebuah perangkat yang menggunakan reaksi biokimia tertentu yang dimediasi oleh enzim terisolasi, sistem imun, jaringan, organel atau seluruh sel untuk mendeteksi senyawa kimia biasanya dengan sinyal listrik, termal atau optik. Aisyiyah Jenie mengatakan bahwa biosensor sudah banyak digunakan di berbagai aplikasi seperti in-situ bio dan pemrosesan kimia, homeland security, pemantauan lingkungan, teknologi pangan, dan yang paling besar adalah medis dan bioteknologi.  ”Biosensor saat ini sangat dibutuhkan di bidang medis dan bioteknologi. Kebutuhan di bidang tersebut didorong karena dua hal yaitu kebutuhan kesehatan (clinical needs) dan keinginan market (market drive),” ujar Ais kerap disapa. Ais menjelaskan, clinical needs menginginkan biosensor yang bisa mengembangkan metode on site screening, bisa menghasilkan diagnosis awal, memperoleh info yang sedetail dan sesensitif mungkin tentang obat apa yang akan masuk ke tubuh kita, dan memantau kondisi kesehatan kita seperti herd immunity (kekebalan kawanan) yang akan tercapai dengan bisa dibantu oleh keberadaan biosensor. Selain itu ada market drive-nya juga. “Sebenarnya industri menginginkan biosensor yang seperti apa? Industri menginginkan biosensor yang mudah digunakan untuk masyarakat, tidak hanya digunakan di rumah sakit, tidak hanya dokter, perawat, tetapi bisa digunakan oleh orang awam,” terangnya. Ada sensor yang sudah diimplankan ke dalam tubuh. ”Karena sifatnya sudah masuk ke dalam tubuh kita, yaitu perlu material yang khusus apabila kita ingin mengembangkan implantable sensor,” ujar Ais. “Juga ada, point of care (POC) yaitu mengambil sampel dari tubuh kita kemudian ditaruh ke dalam biosensor itu contohnya seperti rapid test antigen atau rapid test anti body. Jadi seperti sensor glucose, sensor rapid test anti body, dan sebagainya,” urainya. Ditambah dengan metode high throughput analysis. yang artinya bisa dianalisis sekaligus dengan jumlah sampel yang banyak dan waktu yang cepat. “Dengan semua sifat-sifat superior ini, berati kita harus mengembangkan semua badan sensor dengan platform material yang cerdas. Di sinilah nanoteknologi bermain,” paparnya.  Jadi biosensor yang diinginkan itu, biasanya sifat atau parameternya antara lain rapid, cepat, ultra sensitif, ultra selektif, akurat (sesuai dengan kegunaan dan waktu yang digunakan). Kemudian harganya terjangkau (economical), dan bisa diproduksi berulang-ulang dengan jangka waktu yang lama dan metode yang lama. Kuncinya ada di pengembangan nanoplatform atau nanomaterial yang bisa digunakan atau diaplikasikan sebagai biosensor disebut nano-biosensor. Nano-biosensor adalah metode alternatif yang lebih bernilai dibandingkan dengan metode konvensional yang dikembangkan di laboratorium untuk analisis klinis maupun analisis lingkungan (Sumber: Weis, C, et al, 2020, ACS Nano)  “Agar bisa mengembangkan nanobiosensor, kita harus bekerja sama dengan orang-orang di bidang biologi, bioteknologi, teknik kimia, teknik material, ilmu komputansi, dan fisika,” ungkap Koordinator Kelompok Penelitian Bahan Kimia dan Katalis. Dasar dari nano-biosensor adalah bahan organik yang difungsionalisasikan dengan materi biologis seperti enzim, antibodi, juga dengan DNA/RNA. Kemudian alat tersebut dapat mengetahui atau menerjemahkan menjadi sebuah sistem deteksi berupa elektrokimia, optik, mass sensitive, kemudian menjadi sebuah sistem deteksi sendiri. Sistem dari nano-biosensor terdiri dari target analisis sebagai sampel uji seperti darah, air liur, dan urin yang akan dikenal biomarker-nya seperti DNA/RNA, enzim, antibodi, atau bahkan sampai sel. Kemudian target dari analisis akan ditangkap oleh materi anorganik atau nano material yang dimodifikasi dengan bio-recognation element (elemen bio-rekognisi) yang diterjemahkan pada sistem deteksi yaitu electrochemical, optical, mass sensitive, yang dapat diinterpretasikan dalam bentuk data kemudian dimasukkan dalam bentuk angka. Klasifikasi dari nano-biosensor bisa berdasarkan mekanisme transduksi atau bisa juga berdasarkan elemen bio-rekognisi. Kalau berdasarkan sistem deteksinya berupa elektrokimia, optik, mass sensitive. Jika berdasarkan biorecognition elements atau elemen apa yang akan difungsikan di atas nano-material, berupa enzyme based biosensor, DNA/RNA based biosensor, immune based nano-biosensor, atau cells based nano-biosensor untuk mengenali sel secara keseluruhan. Ais menjelaskan bahwa penelitiannya berfokus pada diagnosis berbasis silika (nanomaterial berbasis silika). Hal ini sebagai alternatif yang menjanjikan untuk polimer dan bahan nano lainnya, untuk aplikasi biomedis karena sifat fisik, kimia, dan optiknya yang unik. (hrd/ ed. adl)

Baca

Peran LIPI sebagai Pengkaji Bahan Kimia Konvensi Rotterdam


21 Juli 2021

Serpong, Humas LIPI. Yenny Meliana dari Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI), pada Senin (19/7) menyampaikan materi dengan judul Peran LIPI sebagai tim Pengkaji Bahan Kimia dalam Focus Group Discussion Implementasi Konvensi Rotterdam di Indonesia. Kepala P2 Kimia tersebut memaparkan perkembangan peran LIPI dan implementasi di Indonesia. Melly, demikian kerap disapa merupakan salah satu anggota tim yang mereviu bahan-bahan kimia yang disebut Chemical Review Committee (CRC) di Konvensi Rotterdam. CRC adalah badan tambahan dari Konvensi Rotterdam yang dibentuk untuk meninjau bahan kimia dan formulasi pestisida, sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Konvensi dalam Annex II dan IV. CRC membuat rekomendasi kepada Konferensi Para Pihak/ Conference of Parties (COP) untuk mencantumkan bahan kimia tersebut dalam Annex III. Sebagai anggota CRC, Melly banyak berperan penting untuk membuat rekomendasi juga mendapat pengalaman dengan negara-negara lain. “Kriteria membuat daftar bahan-bahan kimia dalam Annex III sangat banyak pertimbangan seperti bukti kejadian, formulasi yang serupa, pembatasan penanganan, dan sebagainya,” ujar Kepala P2 Kimia – LIPI. Pemerintah Indonesia sudah meratifikasi atau menjadi anggota dalam Konvensi Rotterdam, dan menjalankan kewajiban di dalam konvensi tersebut.  Konvensi Rotterdam yang telah diratifikasi melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2013, tentang prosedur persetujuan atas dasar informasi awal untuk bahan kimia dan pestisida berbahaya tertentu dalam perdagangan internasional dan implementasinya di Indonesia. Pada Konvensi Rotterdam tidak ada pelarangan dan ditekankan bagaimana melakukan perdagangan internasional baik ekspor atau pun impor. Bagaimana penerapannya di Indonesia, sudah diatur di dalam peraturan nasional dalam UU No. 10 Tahun 2103. Sedangkan peraturan pemerintah (PP) telah terkait pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3), sejak tahun 2021. “Jika bahan kimia dicantumkan di Annex III Konvensi Rotterdam, bukan berarti dilarang di dalam perdagangan internasional, tetapi bila ingin melarang diserahkan ke negara masing-masing,” ungkapnya. “Seperti Indonesia, jika kita ingin mendaftarkan bahan-bahan kimia yang ada di daftar Annex III, itu masih boleh dilakukan melalui perdagangan internasional antar negara. Syaratnya, harus berbagi informasi berkenaan dengan bahan kimia tersebut, kemudian jumlahnya, digunakan buat apa. Apabila di negara Indonesia atau negara lain memperketat atau melarang, tujuannya untuk melindungi dalam negeri negara masing-masing,” jelasnya. Konvensi Rotterdam membahas bahan kimia yang ada di dunia.  “Bahan kimia yang ada indikasi mengganggu kesehatan dan lingkungan. Seperti lebih ke arah pestisida atau bahan-bahan yang banyak digunakan untuk industri. Kemudian yang secara data atau secara kajian ilmiah itu bisa memberikan efek-efek yang tidak baik untuk manusia dan lingkungan,” tutup Melly. Dalam FGD tersebut, hadir Yunik K. Purwandari dari Direktorat Pengelolaan B3, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan topik kebijakan dan implikasi ratifikasi Konvensi Rotterdam di Indonesia. Turut hadir pula Awidya Santikajaya, Counsellor Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB (PTRI) di Jenewa, yang membahas implementasi konvensi Rotterdam di Indonesia dalam Kancah Global. (hrd/ ed. adl)

Baca

Mengajak Diaspora Berkarir Membangun Iptek Nasional


19 Juli 2021

Serpong, Humas LIPI. Pada tahun ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka kesempatan berkarir dan berkarya bagi para diaspora serta talenta unggul untuk memajukan riset dan inovasi Indonesia. Sebanyak 325 formasi yang terdiri dari 221 formasi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) dan 104 formasi Calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK) siap diisi oleh para anak bangsa lulusan S3 terbaik dari dalam maupun luar negeri. Terkait hal tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai salah satu institusi riset yang tergabung dalam BRIN, melalui Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), bekerja sama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), menyelenggarakan acara ‘Karpet Merah’ Diaspora, Berkarir Keren bagi Peneliti BRIN, secara daring, pada Sabtu (17/7). “Kami ingin memberikan wawasan tentang sosialisasi penerimaan CASN, sekaligus mendapatkan masukan dari diaspora terutama terkait ekosistem riset di Indonesia. Agar nantinya diaspora tertarik untuk bergabung ke BRIN,” jelas Agus Haryono selaku Deputi IPT – LIPI sekaligus pelaksana harian Kepala LIPI. “Saat ini kami sedang berbenah untuk membuat ekosistem riset dan inovasi nasional menjadi lebih bagus,” lanjutnya. Agus mengenalkan LIPI dan kedeputian IPT. “Kedeputian IPT terdiri dari enam pusat penelitian yaitu Fisika, Kimia, Metalurgi dan Material, Tenaga Listrik dan Mekatronik, Elektronika dan Telekomunikasi, serta Informatika. Riset dan inovasi yang dilakukan terdiri dari alat kesehatan, teknologi kendaraan listrik, teknologi material, kemudian bahan alam untuk obat, pangan fungsional, yang dikembangkan terutama pada penanganan Covid-19,” terangnya. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dalam arahannya mengatakan bagaimana lembaga riset Indonesia mencoba memiliki sejarah dan pengalaman membuat vaksin dari riset. “Kita belum siap dalam bekontribusi menangani pandemi,” ujarnya. “Pandemi ini sebagai pembelajaran kita semua termasuk pemerintah. Bahwa kita harus siap untuk berbagai aset pengetahuan dengan baik, melalui uji klinis obat, fitofarmaka, imunomodulator. Dan ternyata kita belum melakukan itu dan belum banyak orang yang tahu bagaimana melakukannya, apalagi vaksin,” ungkap Handoko. Terkait vaksin untuk Covid-19, dirinya meminta semua tim melakukan berbagai platform yang bisa dicoba dilakukan. “Pertama, kita harus menguasai riset vaksin agar bisa dipakai segera. Kedua kita harus mempunyai cukup sumber daya manusia (SDM) dan keahlian, karena risetnya membutuhkan berbagai keahlian dalam berbagai bidang. Kemudian diharapkan setiap orang itu mendidik generasi-generasi berikutnya yang mempunyai kapasitas,” terangnya. BRIN berupaya mengintegrasikan seluruh sumber daya baik itu SDM, infrastktur, maupun anggarannya yang terbuka untuk semua. Baik universitas, industri, dan dari siapa pun yang dapat membuka kolaborasi. “Para diaspora kita harapkan kiprahnya untuk bisa bergabung dengan kami di BRIN. Mari bersama-sama menjadi saksi sejarah iptek di negara Indonesia,” ajak Kepala BRIN. Dua narasumber yang merupakan PNS Kedeputian IPT LIPI formasi diaspora tahun 2018, hadir pada acara ini. Keduanya adalah Eddwi Hesky Hasdeo Pusat Penelitian Fisika – LIPI, yang saat ini melaksanakan postdoc di Luxembourg, dan Osi Arutanti Pusat Penelitian Kimia - LIPI, yang pernah S3 dan postdoc di Hiroshima University, Jepang. Bagi Hesky, bekerja di LIPI merupakan tantangan. Dengan disediakan alat-alat laboratorium, peneliti ditugaskan mencari anggaran untuk kemajuan riset, dan bahan-bahan, agar LIPI mempunyai aset yang dikelola dan dibuka untuk umum. “Kalau kalian tidak bisa mendapatkan dana riset berarti kalian tidak berkualitas,” ujar Hesky mengulangi ucapan L.T. Handoko yang saat itu menjadi Deputi IPT. ”Wah itu benar-benar tantangan, apakah kita mau ditantang seperti itu?” ucapnya. Di awal kariernya di LIPI tahun 2018, Hesky merasakan kebingungan mengerjakan segala sesuatu sendirian dan hanya menulis satu proposal. Kemudian membangun grup komputasi pada tahun 2019 hingga sekarang. Tahun 2020, jumlah paper di kelompok penelitiannya berjumlah 19, kemudian tahun ini sudah 12 dan akan terus bertambah. “Karena saat ini di LIPI saya tidak hanya memiliki tim yang sangat solid, tetapi memiliki mahasiswa-mahasiswa yang sangat bertalenta. “Saya memiliki kebebasan, saya memiliki semua macam sumber daya, berkolaborasi dengan berbagai macam universitas dalam dan luar negeri menjadi satu paper. Kita mempunyai sarana dan prasarana yang memadai,” menurut Hesky. Menurutnya, berkarir di BRIN itu memiliki jejang karier yang baik, dengan ada kebebasan dan posisi permanen. “Coba saja dulu karena belum tentu kesempatan ini akan datang lagi tahun depan dan meskipun Indonesia sedang masa pandemi, ada perekrutan besar-besaran,” pesan Hesky bagi para diaspora. Sementara Osi Arutanti, pada tahun pertama masuk ke LIPI, dirinya mengamati kegiatan, lingkungan kerja, fasilitas apa saja yang bisa dimanfaatkan, dan membuat rencana. “Sehingga saya dapat mengembangkan ilmu yang didapat di LIPI, kemudian membuat rencana kerja jangka pendek maupun jangka panjang,” jelasnya. Pada tahun berikutnya, tahun 2019, dirinya baru memulai mencari segala macam kebutuhannya. “Alhamdulillah P2 Kimia memberikan penelitian kebebasan berekspresi dan termasuk memilih bergabung ke kelompok penetian. Dan saya bergabung ke keltian kimia material dan Katalis,” ungkap Osi. “Selama di LIPI, saya dan tim bisa membangun kolaborasi nasional maupun internasional. Mendapatkan pendanaan riset, penghargaan L’oreal, melakukan seminar konferensi, dan bisa bergabung dengan organisasi-organisasi riset di Indonesia,” terang peraih L’oreal Women in Science tahun 2019 ini. Menurutnya, Indonesia masih memiliki harapan di tengah keterbatasan dan stigma-stigma negatif tentang dunia penelitian. “Senior-senior dan guru-guru saya membuktikan bahwa mereka bisa independen di dalam dunia penelitian dengan mempunyai laboratorium yang mumpuni, punya kolabotor yang keren-keren, produktif dalam publikasi internasional,” tuturnya optimis. “Intinya kita harus tetap kreatif, produktif, dan proaktif. Saya percaya apa pun kebijakan berubah kita pasti dengan mudah untuk beradaptasi,” tegasnya. “Pulang adalah sebuah pilihan. Pilihlah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Karena berkarya bisa dari manapun, dan berkarya di Indonesia bukan sebuah kemustahilan,” pungkasnya. Sebagai informasi, dalam acara ini turut hadir pembicara dari The University of Tokyo sekaligus Ketua Umum I4, Muhammad Aziz, dan Syaefudin Jaelani, Doctoral Researcher, Utrect Universiteit, Belanda, serta dipandu oleh moderator Dyah Rachmawati Sugiyanto dari Biro Kerja sama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat - LIPI. (hrd/ ed. adl)

Baca

P2 Kimia LIPI dan FMIPA UNEJ Inisiasi Kolaborasi MBKM


09 Juli 2021

Serpong, Humas LIPI. Program Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) yang telah diluncurkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020, merupakan upaya menyiapkan lulusan pendidikan tinggi yang tangguh dalam menghadapi perubahan. Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia - LIPI) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Jember (FMIPA UNEJ) mengadakan pertemuan virtual untuk membahas kerja sama terkait penyelenggaraan magang mahasiswa, pertukaran dosen dan ahli, serta riset kolaborasi, pada Jumat (9/7). Dalam acara diskusi, Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, menyampaikan apresiasinya atas pertemuan yang diinisiasi oleh pihak UNEJ. “Dengan adanya pertemuan daring di hari Jumat yang baik ini, kami rasa lebih cepat untuk membahas naskah kerja sama, sebelum ada implementasi lebih lanjut,” ujarnya. Acara yang dihadiri Ketua Jurusan Kimia FMIPA UNEJ, Bambang Piluharto, membahas rencana kerja sama, untuk implementasi MBKM. LIPI dan UNEJ menyetujui untuk menunjuk koordinator dari masing-masing pihak. “Dari pihak LIPI koordinator adalah Akhmad Darmawan Koordinator Program Kimia LIPI,” ujar Yenny. Sementara dari pihak UNEJ adalah Ketua Jurusan Kimia. Berdasarkan usul Yenny terkait koordinator tersebut, disepakati untuk menambah pasal Pelaksanaan dalam naskah kerja sama tersebut. Mengenai penandatangan, LIPI dan UNEJ telah menentukan tanggal penandatangan dan rencana penandatangan melalui Zoom. “Tanda tangan kami usulkan dilakukan melalui desk-to-desk,” ujar Bambang yang diamini oleh pihak LIPI. “Hasil dari pembahasan kerja sama ini akan kami rapikan dalam naskah kerja sama, baru akan kami sampaikan ke LIPI,” ujarnya. Diharapkan setelah pemeriksaan kedua belah pihak, menyetujui naskahnya, maka akan dilakukan penandatanganan di tempat yang terpisah. Sebagai informasi, UNEJ merupakan perguruan tinggi negeri yang terletak di Jember, Jawa Timur. FMIPA awalnya berupa laboratorium yang melayani praktikum bidang ilmu MIPA di UNEJ.  Gedung laboratorium itu terdiri atas Lab. Dasar Matematika, Lab. Dasar Fisika, Lab. Dasar Kimia, dan Lab. Dasar Biologi. Pada tanggal 17 Juni 1993, dibentuk Pengelola Persiapan Pembukaan Fakultas MIPA. Persiapan ini menghasilkan rencana pembentukan 4 sub bidang studi (Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi). Jurusan Kimia FMIPA UNEJ saat ini memiliki program S1. Laboratorium yang dimiliki Jurusan Kimia adalah Laboratorium Kimia Dasar, Biokimia, Instrumen, Kimia Analitik, Kimia Anorganik, dan Kimia Fisik. (adl)

Baca

Memajukan Riset Bahan Alam Indonesia melalui Diaspora


09 Juli 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Indonesia (LIPI), Abdi Wira Septama menjadi salah satu pembicara dalam Webinar Sosialisasi Seleksi penerimaan Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) 2021 secara virtual pada hari Kamis (8/7), yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). BRIN membuka kesempatan berkarir dan berkarya bagi para diaspora serta talenta unggul untuk memajukan riset dan inovasi Indonesia. Hal ini merupakan langkah BRIN untuk mempercepat dan memperkuat riset-riset dan inovasi di Indonesia.  Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dalam sambutannya mengatakan dirinya juga dahulunya sebagai diaspora. Ia berharap sebagian besar periset bisa kembali bekerja di Indonesia. “Kita memerlukan para periset yang handal yang sudah memiliki jam terbang, sudah siap untuk menjadi periset mandiri untuk bekerja di laboratorium-laboratorium di Indonesia. Karena kalau tidak ada periset yang handal tentu  akan menjadi masalah yang sangat besar,” tambahnya. Lulusan dari Hiroshima University, Jepang tersebut mengajak peneliti diaspora yang saat ini berkarir di berbagai lembaga riset luar negeri untuk kembali ke Indonesia. “Periset dengan standar global memulai dengan jejaring dan keahlian yang dimiliki, bukan menunggu diberi topik riset,” pesannya. Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Abdi Wira Septama, turut berbagi pengalamannya menjadi CPNS LIPI melalui jalur diaspora pada tahun 2018. Ia menyampaikan perjalanan risetnya di luar negeri dan saat ini di Indonesia. “Alhamdulillah, pada waktu sebagai CPNS baru, sudah diberikan dana penelitian, sehingga bisa melakukan penelitian,” ungkapnya. “Memang seperti disampaikan oleh Pak Handoko, bahwa kita sudah harus punya dana penelitian sendiri. Namun saat pulang ke Indonesia,  belum tahu alur atau mekanisme mendapatkan grant tersebut. Alhamdulillah dengan jejaring dan pengalaman senior di luar negeri, kendala tersebut bisa teratasi,” terang lulusan doktor dari Prince of Songkla University, Thailand. “Atmosfer riset dan infrastruktur riset sudah semakin bagus dan pendanaan riset di Indonesia semakin baik, jelasnya. “Selain itu, Indonesia memiliki sumber daya alam yang berpotensi untuk dijadikan sumber obat yang harusnya diolah dan dikembangkan oleh anak bangsa,” lanjut Abdi. “Kemudian topik penelitian saya di bidang natural product drug discovery, penemuan atau pengembangan obat-obat baru untuk mengobati infeksi dari bahan alam. Kita tahu Indonesia memiliki biodiversitas atau kekayaan alam yang sangat luar biasa. Saya ingin mengeksplorasi kekayaan alam itu untuk bisa dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat,” tutur peneliti bidang farmasi ini. Abdi menambahkan ada keunggulan bekerja di LIPI atau BRIN saat ini. “Keuntungan bekerja di LIPI, saat masuk jenjang karir PNS peneliti, enaknya hasil pekerjaan sebelum bergabung ke LIPI, seperti paper, poin-poin tersebut bisa diakumulasikan menjadi angka kredit untuk diajukan saat kenaikan jenjang fungsional yang lebih tinggi,” urainya yang pernah berkarir sebagai Senior Lecturer, Unit of Pharmacology, Faculty of Medicine, University Sultan Zainal Abidin, Malaysia. “Kita bisa berkontribusi untuk memajukan riset di Indonesia untuk meningkatkan daya saing bangsa,” tegasnya. (adl, whp)

Baca

Pengetahuan Tradisional untuk Pengembangan Obat Bahan Alam Indonesia


01 Juli 2021

Serpong, Humas LIPI. Andria Agusta, peneliti Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI), pada Rabu (30/6) menyampaikan materi dengan topik “Pengetahuan Tradisional untuk Menunjang Pengembangan Obat Bahan Alam (OBA) Indonesia” dalam Webinar Nasional Fakultas MIPA, Universitas Nusa Bangsa. Andria memaparkan pengetahuan terkait obat-obatan tradisional yang ada di Indonesia. Andria menjelaskan, dalam peraturan dari BPOM, ada istilah bahan yang biasa digunakan, yaitu jamu, obat tradisional, obat asli Indonesia, dan obat herbal. Dari istilah tersebut agar tidak menimbulkan simpang siur maka disatukan namanya menjadi obat bahan alam (OBA) Indonesia. ”Berdasarkan pengembangannya, OBA Indonesia kemudian dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yaitu jamu, obat herbal terstandar (OHT), dan fitoformaka (FF),” ujarnya. Profesor riset LIPI ini menyampaikan bagaimana memanfaatkan pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat. “Dari informasi pengetahuan inilah yang perlu digali, dimanfaatkan, dan dibuktikan secara ilmiah di laboratorium, baru kemudian diaplikasikan untuk pengembangan bahan obat,” ungkapnya. Untuk pengembangan OHT dan FF, aspeknya mencakup dari pertanian, termasuk bagaimana memproduksi bahan bakunya, mengolah bahan baku, hingga menjadi obat tradisional. “Termasuk pada pasca produksi dan distribusinya ke masyarakat, secara regulasi semua diatur oleh BPOM,” ucapnya. Andria kemudian menjabarkan bagaimana caranya menemukan suatu bahan obat (drug discovery). “Salah satu jalur yang bisa kita tempuh dalam pengembangan bahan obat itu adalah dengan menggali pengetahuan-pengetahuan tradisional masyarakat Indonesia. Seperti bagaimana mereka memanfatkan tumbuh-tumbuhan di hutah sekitar mereka untuk pengobatan. Pengetahuan tradisional itu digali dan dijadikan dasar untuk pengembangan bahan obat ke depannya,” ungkapnya. WHO pada laman web resminya menyatakan bahwa obat tradisional, terapi pelengkap pengobatan konvensional atay non medis (complementary dan alternative medicine), bisa digunakan sebagai dasar untuk pengembangan riset farmasi modern. “Jelas sudah diakui oleh WHO bahwa pengetahuan-pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat tradisional itu sangat bernilai sebagai input untuk pengembangan obat-obat modern,” tegasnya. Menurut Andria, pengembangan bahan obat alam dapat dilakukan dengan pendekatan reverse pharmacology (farmakologi terbalik) untuk mengefisienkan waktu dan dana. “Salah satunya adalah dengan pendekatan ilmiah yang mengintegrasikan catatan klinis terdokumentasi/pengalaman hits (calon obat yang akan dikembangkan menjadi obat), menjadi leads (petunjuk/calon obat yang sudah dipelajari bagaimana karakternya) untuk studi eksplorasi multidisiplin dan selanjutnya mengembangkan menjadi kandidat obat dengan penelitian eksperimental dan klinis,” urainya. Andria menerangkan metode reserve pharmacology dimulai dari pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat atau pengalaman manusia dalam menggunakan bahan-bahan alam tersebut. Kemudian dilakukan pengujian/penelitian pada hewan. Serta melihat senyawa aktif didalamnya dan  dikembangkan untuk pengembangan obat selanjutnya pada manusia. “Dalam proses reserverse pharmacology, keamanan merupakan salah satu aspek yang paling diutamakan, bahwa obat tradisional ini keamanannya seperti apa,” ujarnya.  “Di LIPI, kami sudah melakukan berbagai eksplorasi di berbagai tempat dari tahun 2015-2017 yang dinamakan ekspedisi Bioresources  di pulau Enggano - Bengkulu, Pulau Sumba, dan pulau Simeulue – Aceh. LIPI berhasil menjumpai beberapa tumbuhan yang kerap kali digunakan oleh masyarakat tradisional untuk menjaga kesehatannya bahkan juga digunakan sebagai bahan pangan alternatif,” jelas doktor lulusan universitas Jepang ini. Andria dalam pemaparannya turut menyampaikan tumbuhan-tumbuhan yang berhasil diidentifikasi LIPI oleh sebagai OBA. “Antara lain Gembolo (Dioscorea bulbifera) dari Enggano yang memiliki berbagai macam fungsi seperti sebagai untuk sintesis, corticosteroids,  estrogen, bahan-bahan konstrasepsi, antitumor, dan penurunan gula darah,” terangnya. “Subang-subang dari Enggano untuk mengatasi malaria, melawan infeksi jamur Pythium insidiosum. Jamur kayu pycnoporus cinnabarinus dari Enggano, untuk mengobati peradangan pada leher bayi. Helmintostachys zeylanica dari Enggano berfungsi sebagai antioksidan, imunomodulator, antiinflamasi, antitumor, hepatoprotektor, dan afrodisiak. Hedychium coronarium zingiberaceae, Sumba, sebagai obat rematik,” imbuhnya. “Senyawa kimia penting Angiopteris avecta dari Sumba dan Kalimantan, serta beberapa daerah di Indonesia yang memiliki aktivitas antikanker dan anti HIV-1 RT. Kemudian Acrosticum aureum dari Simeulue, untuk mengobati luka, bisul, tukak lambung, asma, cacingan, konstipasi, dan meredakan rasa sakit. Terutum putih dan terutum merah (Lumniztera spp.) bersifat sebagai antimikroba, antiinflamasi, neuroprotektif, antihepatotoksik, antikolestatik, antifibrogenik, antikarsinogenik, sitotoksik, dan antivirus,” lanjutnya. Sebagai penutup, Andria mengatakan bahwa penelitian pengembangan bahan obat dari bahan alam ini merupakan suatu kegiatan yang multidisiplin yang tidak hanya bisa diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. “Ahli kimia sendiri untuk membuat obat akan sangat sulit melakukannya, perlu berkolaborasi dengan bidang-bidang ilmu yang lainnya seperti biologi, farmasi, dan lain-lain,” simpulnya. “Jika kita melakukan riset drug discovery, kunci utamanya adalah kolaborasi. Mari kita berkolaborasi untuk memajukan penelitian bahan obat di negeri kita sendiri,” ajak Andria. (hrd/ed. adl)

Baca

Komunikasi Sains, Membumikan Ilmu Pengetahuan ke Masyarakat


23 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Banyak penelitian telah dilakukan para peneliti Indonesia untuk menjawab permasalahan yang ada di masyarakat. Namun terkadang hanya sampai publikasi dalam jurnal ilmiah atau disampaikan dalam forum-forum ilmiah. Di sisi lain, ide-ide penelitian perlu disampaikan kepada masyarakat agar bisa diimplementasikan di kehidupan sehari-hari. “Oleh karena itu, komunikasi sains menjadi sangat penting bagi peneliti,” ungkap Plh. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono dalam webinar “Mengapa Komunikasi Sains Penting bagi Akademisi dan Peneliti” pada Selasa (23/6). Dirinya mengatakan penyampaian hasil penelitian kepada masyarakat juga merupakan tugas seorang peneliti. ”Komunikasi sains yang baik dari peneliti akan membantu masyarakat dalam menghadapi permasalahan dan pengambil kebijakan dalam mengambil keputusan penting,” jelas Agus. Hal serupa juga disampaikan oleh Fito Rahdianto, pembicara dari media The Conversation Indonesia. Ia menyampaikan bahwa sains belum selesai jika tidak dikomunikasikan. “Hal ini mencerminkan pentingnya bukan hanya riset tetapi juga cara mengomunikasikan hasil riset agar dapat dipahami oleh masyarakat,” tuturnya. “Dengan adanya komunikasi sains, selain mempermudah masyarakat umum dan pengambil kebijakan, permanfaat hasil riset juga dapat ditingkatkan dengan adanya komersialisasi dengan cakupan yang menjadi semakin luas,” ujar Roni Maryana, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI yang membagikan pengalamannya dalam menerbitkan artikel populer sebagai salah satu bentuk komunikasi sains. Intan Suci Nurhati, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI juga menyampaikan pentingnya membumikan sains dan mendekatkannya ke masyarakat. “Tugas kita sebagai peneliti adalah menjadi komunikator sains. Peran komunikator sains adalah mengedukasikan masyarakat tentang riset, menginformasikan khalayak umum dan memberikan pemahaman kepada pemangku kebijakan dan negosiator,” terang Intan. “Di sisi lain, komunikasi sains juga merupakan forum kita belajar dua arah di mana kita bisa mengeksplorasi bigger pictures dari berkomunikasi dengan masyarakat dan mendapatkan arah riset baru,” pungkasnya. (whp/ ed:drs)

Baca

Nanoteknologi untuk Pendeteksi Bakteri


22 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia, Siti Nurul Aisyiyah Jenie menjadi narasumber webinar Talk Series pada Senin (21/6). Judul paparan yang disampaikan oleh Aisyiyah yaitu “Pendekatan Nanoteknologi dalam Pengembangan Platform Deteksi Bakteri”. Acara ini digagas oleh Organization for Woman in Science for the Developing World (OWSD). OWSD adalah organisasi yang berada di bawah UNESCO. Dalam presentasinya, Siti Nurul Aisyiyah Jenie memaparkan kegiatan risetnya saat ini. “Saya dan tim sedang mengembangkan alat pendeteksi bakteri dengan pendekatan nanoteknologi,” ungkapnya. “Saya tertarik untuk meneliti karena adanya tren resistensi terhadap mikroba atau bakteri di masa sekarang. Tingkat kematian manusia tinggi karena adanya resisten mikroba ini. Resisten ini dapat disebabkan  karena seringnya  menggunakan antibiotik,” jelasnya. Aisyiyah telah menemukan suatu cara singkat bagaimana mendeteksi seseorang memiliki bakat resisten terhadap bakteri atau tidak. “Biasanya untuk mendeteksi apakah seseorang resisten terhadap suatu bakteri tertentu, memerlukan biaya yang cukup mahal. Karena diperlukan laboratorium yang sarananya modern, tenaga kesehatan yang terlatih, serta alat yang akurat dan tepat waktu. Kemudian waktu yang diperlukan sampai ada hasil, memerlukan waktu yang cukup lama,” urainya. Aisyiyah mengungkapkan bahwa alat yang dia temukan adalah alat pendeteksi bakteri yang memakai pendekatan nanoteknologi, yang ultra sensitif dan akurat. “Keunggulannya adalah harganya cukup terjangkau. Selain itu tidak mudah rusak dan awet, sehingga dapat dipakai sampai  beberapa generasi,” pungkasnya. Dalam acara tersebut, presiden OSWD, Sri Fatmawati, menyampaikan bahwa Talk Series ini adalah acara yang diadakan untuk para peneliti yang ingin berbagi ilmu. “Tiap bulan Talk Series menyajikan narasumber yang berbeda beda, yakni para perempuan peneliti yang menjadi member OWSD, dari berbagai organisasi atau institusi,” ujarnya. “Semoga Talk Series dapat menjadi salah satu platform, yang menjadi akses baru bagi masyarakat di luar OWSD,” imbuhnya. “Saya harap para peneliti wanita dapat bermanfaat ilmunya,” pesannya. Sebagai informasi, OWSD memiliki lima tujuan. Pertama, mewadahi ilmuwan perempuan Indonesia dalam penelitian ilmiah, teknologi, pengajaran, dan kepemimpinan. Kedua, meningkatkan prestasi ilmuwan perempuan Indonesia. Ketiga, meningkatkan kolaborasi dengan komunitas ilmiah internasional organisasi pemerintah dan non-pemerintahan. Keempat mendukung peran perempuan Indonesia dalam pembangunan kesejahteraan masyarakat. Kelima yaitu pemberdayaan perempuan Indonesia melalui kegiatan dan program OWSD  Indonesia. (mfn/ ed. adl)

Baca

Peneliti Kimia LIPI Terpilih dalam Program COMSTECH Research Fellowship


16 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Aprilia Nur Tasfiyati dari Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terpilih untuk mengikuti COMSTECH Consortium of Excellence (CcoE) Research Fellowship / Training Program tahun 2021. Institusi yang Aprilia akan kunjungi adalah The International Center for Chemical and Biological Sciences (ICCBS) di Karachi, Pakistan yang akan berlangsung selama enam minggu. Awalnya rencana program tersebut adalah enam bulan, namun durasinya diperpendek menjadi enam minggu,” ujarnya. Dirinya menjelaskan terkait kondisi pandemi Covid-19, program COMSTECH 2021 tersebut belum mulai dilaksanakan. “Tadinya dijadwalkan dimulai pada bulan Maret, lalu diundur menjadi Mei, dan hingga bulan Juni masih menunggu visa,” ungkapnya saat diwawancarai Humas LIPI pada Kamis (16/6). Topik pelatihan penelitian yang ia pilih adalah aplikasi spektroskopi massa (mass spectrometry) sebagai alat analisa di bidang proteomik dan metabolomik, serta aplikasi kromatografi cair spektrometri massa (LCMS) dan Kromatografi gas spektrometri massa (GCMS) untuk analisa senyawa marker dari bahan alam dan produk ekstrak komersial. Nantinya ia serta sejumlah peserta dari negara lain akan bekerja sama dengan ahli di bidang tersebut yaitu Profesor Syed Ghulam Musharra dari ICCBS. “Peserta yang terpilih dalam program ini adalah peserta dari negara-negara yang tergabung dalam OIC (Organisation of Islamic Cooperation),” jelasnya. Aprilia mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk berkolaborasi dan mempelajari ilmu baru dari para ahli di ICCBS. “Harapannya semoga kesempatan ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk menambah wawasan serta mempelajari bidang baru, terutama aplikasi tingkat lanjut dari aplikasi spektroskopi masssa,” ungkap peneliti dengan kepakaran kimia analitik ini. “Hal ini agar kemudian bisa diaplikasikan untuk memperluas cakupan penelitian kimia di LIPI,” lanjutnya. “Semoga kolaborasi antara peneliti LIPI dan ICCBS dapat berlanjut di bidang penelitian yang lebih luas,” tutupnya. (whp/ ed. adl)

Baca

Berbagi Manfaat Zakat di LIPI Kawasan Serpong


11 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Unit Pengelola Zakat (UPZ) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendatangi LIPI Kawasan Serpong sebagai lanjutan kegiatan serupa di LIPI Kawasan Jakarta, Cibinong, Subang, dan Bandung pada Kamis (10/6). Para mustahik yang menjadi penerima manfaat adalah eks pegawai honorer dari satuan kerja Pusat Penelitian Fisika, Pusat Penelitian Kimia, Pusat Penelitian Metalurgi dan Material, serta Pusat Penelitian Teknologi Pengujian. Bertempat di ruang rapat Pusat Penelitian Teknologi Pengujian LIPI Serpong, acara penyaluran zakat profesi dari para muzaki sivitas LIPI ini dihadiri langsung oleh Pelaksana Harian Kepala LIPI, Agus Haryono. Turut hadir pula Kepala Pusat Penelitian Fisika, Kepala Pusat Penelitian Kimia, serta Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material. Dalam sambutannya, Plh Kepala LIPI menyampaikan terima kasihnya kepada pengurus UPZ LIPI yang telah berkontribusi tinggi dalam progam Zakat LIPI. “Kami ucapkan terima kasih kepada pengurus UPZ LIPI dan juga LIPI Peduli. Jika program zakat profesi ini sifatnya rutin per bulan, LIPI Peduli adalah program LIPI yang sifatnya lebih insidentil seperti kejadian bencana,” terangnya. Apresiasi juga diucapkan dirinya kepada sekitar 400-an pegawai LIPI yang telah menyisihkan gajinya untuk program UPZ LIPI. “Terima kasih kepada pegawai LIPI yang telah rela menitipkan zakatnya melalui UPZ LIPI, ungkapnya. “Pegawai LIPI ada 4000-an orang, jadi baru sekitar 10 persen yang bergabung, semoga ke depannya ada lebih banyak sivitas LIPI yang ikut dalam program UPZ LIPI atau pun LIPI Peduli,” imbuhnya. Menjelang konsolidasi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) antara LIPI dan tiga lembaga lainnya, Agus berharap agar program UPZ bisa semakin besar, “Jika bergabung, pegawai BRIN akan mencapai 11.000-an orang, semoga bisa menjangkau penerima manfaat yang lebih besar lagi dengan berbagai program bantuan yang bermanfaat,” tuturnya. Ketua UPZ LIPI dan tim LIPI Peduli, Yusuar, menyampaikan bahwa LIPI dalam pengelolaan zakatnya, bekerja sama dengan lembaga pemerintah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). “Penyaluran zakat dari sistemnya LIPI disampaikan ke BAZNAS, lalu dikembalikan lagi ke LIPI agar bisa disalurkan lagi ke lingkungan LIPI. Semoga bantuan ini yang mungkin jumlahnya tidak besar, dapat bermanfaat bagi teman-teman yang pernah bekerja di LIPI,” jelasnya di depan 47 mustahik. Dirinya menyampaikan harapan akan ada tambahan bantuan yang bisa diterima oleh para mustahik apabila ke depan LIPI bergabung Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). “Masing-masing dari lembaga yang bergabung dengan BRIN sudah punya bagian pengelolaan zakat, jika nanti bergabung tentu akan semakin banyak program yang bisa diberikan, selain bantuan untuk teman-teman eks honorer, beasiswa pendidikan, bantuan dana usaha, atau kegiatan dakwah,” pungkasnya. (mfn, adl)

Baca

Material Alami dan Hayati sebagai Obat Anti Kanker


04 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI), Siti Nurul Aisyiyah Jenie,  menjadi pembicara utama dalam Webinar Series yang diadakan Pusat Riset dan Inovasi Material Hayati dan Material Alami Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Penjaminan Mutu (LP3) Institut Teknologi Sumatera (ITERA) pada Jumat (4/6). Dalam acara yang bertema “Pengembangan Material Alami dan Material Hayati sebagai Obat Anti Kanker”, Aisyiyah Jenie mempresentasikan risetnya yang berjudul “Silika Mesopori Berbasis Mineral Alam: Modifikasi dan Potensinya sebagai Platform Deteksi Biormarker Kanker”. Ais, demikian kerap disapa, mengungkapkan bahwa dirinya dan tim telah melakukan riset mengenai riset silika mesopori untuk deteksi kanker hingga saat ini. “Kasus kanker kebanyakan terindikasi pada pasien yang sudah berada pada stadium dua atau tiga. Saat pada stadium ini tingkat kematian pasien tinggi dan biaya pengobatannya relatif mahal,” ujarnya. Bersama tim peneliti bidang material, Ais mengembangkan pembuatan alat deteksi dini kanker yang menggunakan bahan anorganik dari material alam dengan pendekatan nanoteknologi. “Kami mencoba mengembangkan nanosilika mesopori dari silika geotermal atau panas bumi, bekerja sama dengan peneliti LIPI dan luar LIPI,” ujarnya. Metode yang digunakan untuk mensintesis dan memodifikasi silika mesopori dari alam berbasis platform nano adalah dengan menggunakan metode sol-gel. “Metode sol-gel lebih mudah, tanpa pelarut, tanpa asam basa kuat, tanpa temperatur yang ekstrim, dan biaya efektif,” terang peraih L’Oreal – Unesco For Women in Science National Fellowship Awards tahun 2017 ini. Pembicara kedua, Rahmat Kurniawan, Dosen program studi Kimia ITERA dan menjelaskan mengenai obat kanker serta kemoterapi berbasis alam agar efek sampingnya lebih aman. “Selama ini obat-obat kanker selain membunuh sel-sel yang sakit, juga membunuh sel-sel yang sehat,” ungkapnya. Dirinya menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berpotensi dijadikan obat kanker. “Ada tanaman tapak dara yang menghasilkan senyawa alkaloid penghasil basa yang pahit penghasil obat anti kanker,” ucap Sekretaris Pusat Riset dan Inovasi Material Hayati dan Material Alami (Purino MHMA) ini. “Apabila untuk obat, senyawa organik bahan alam ini bisa termetabolisme dengan tubuh sebelum mencapi sel target, oleh karena itu namun perlu material drug delivery system (sistem pengantaran obat) yang mungkin bisa dilakukan berkolaborasi dengan riset Bu Ais,” ujar Rahmat. Webinar yang menghadirkan narasumber dari P2 Kimia LIPI dan Purino MHMA ITERA ini merupakan kolaborasi yang akan ditindaklanjuti oleh kolaborasi berupa kerja sama riset dari peneliti atau mahasiswa program studi Kimia ITERA. “Semoga ke depannya bisa terjalin kolaborasi antara LIPI dan ITERA, untuk obat kanker atau penyakit lainnya,” tutup Acep Furqon Ketua LP3 ITERA. (mfn, adl)xs

Baca

Inisiasi Kunjungan PEM Akamigas Cepu ke Kimia LIPI


04 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Dalam rangka mendukung program merdeka belajar, perwakilan Politeknik Energi dan Mineral Akamigas (PEM Akamigas) Cepu, Blora, Jawa Tengah, mengunjungi Pusat Penelitian Kimia - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) pada Kamis (3/6). Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI serta peneliti Kimia yang memiliki penelitian bidang migas, Yan Irawan. Institusi yang berada di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Energi dan Sumber Daya Mineral – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ini bermaksud meninjau fasilitas, penjajakan kerja sama, dan magang riset. “Tujuan dari kami ke Kimia LIPI adalah untuk melihat fasilitas yang ada, kerja sama riset dengan peneliti, serta magang mahasiswa PEM Akamigas sesuai program merdeka belajar,” jelas Arif Nurrahman, Kepala Program Studi Teknik Pengolahan Migas. Kepala Laboratorium Hilir Migas dan Mineral PEM Akamigas, Tun Sriana, mengungkapkan bahwa ada rencana kunjungan mahasiswa ke LIPI, namun menyesuaikan dengan kondisi pandemi. “Karena masih dalam kondisi pandemi, saat ini baru kami dulu yang menginisiasi, ke depannya kami ingin mengajak mahasiswa untuk melakukan kunjungan dengan mengikuti protokol kesehatan yang ada,” ujarnya. Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, menyambut baik rencana kolaborasi dengan PEM Akamigas. “Kami senang sekali apabila kerja sama antara antara Puslit Kimia dengan PEM Akamigas. Untuk LIPI sendiri, di wilayah Serpong ada Puslit Fisika serta Puslit Metalurgi dan Material. Di LIPI juga telah ada paket-paket program merdeka belajar yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk magang di sini,” terangnya. (adl)

Baca

Propolis, Anugerah Tuhan melalui Sarang Lebah


03 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Andrianopsyah Mas Jaya Putra, peneliti dari Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI)/ Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), menjadi narasumber di webinar berjudul "Propolis : Anugerah dari Tuhan melalui Sarang Lebah". Webinar tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Nano Center Indonesia (NCI), pada Rabu (2/6). Dalam presentasinya, Andrianopsyah menjelaskan bahwa propolis berasal dari bahasa Yunani, yang artinya getah dari sarang lebah. “Propolis berasal dari getah pohon yang dikumpulkan oleh lebah, lalu propolis digunakan oleh lebah untuk membungkus sarangnya,” ujarnya. Dirinya menyampaikan bahwa propolis mengandung minyak atsiri yang memiliki aroma yang khas. “Propolis mengandung senyawa organik golongan flavonoid, makin gelap warna propolis, makin banyak kandungan flavonoid di dalamnya,” terangnya. “Senyawa flavonoid berfungsi sebagai anti oksidan, pencerah kulit, tabir surya, imunodulator, anti-virus, anti-kanker, anti-diabetes, anti-kolesterol, penurun tekanan darah, penurun kadar asam urat, dan membantu mengatasi obesitas dan kelelahan,” urai Andrianopsyah. Menurut lulusan doktor dari Universitas Indonesia ini, Indonesia telah melakukan penelitian tentang penggunaan propolis untuk penanggulangan infeksi akibat COVID-19 sejak tahun 2020. “Selain hasil itu, berdasarkan jurnal internasional yang terbit pada  tahun 2014, dijelaskan bahwa propolis dapat  membantu mengobati penyakit DBD (dengue),” tuturnya. “Dibandingkan dengan madu, propolis hanya perlu dosis sedikit untuk menimbulkan efek anti-bakteri. Telah ditemukan pula khasiat propolis  untuk  membantu mengobati gusi berdarah, tukak lambung, dan luka luar,” imbuh peneliti bidang Farmasi ini. Sebagai pamungkas, Andrianopsyah mengungkapkan ada perbedaan antara propolis dalam negeri dan luar negeri. “Propolis Indonesia mengandung senyawa flavonoid lebih beragam karena berasal dari tanaman yang beragam. Sementara propolis luar negeri komposisinya lebih konsisten karena berasal dari tanaman yang sejenis. Namun keduanya memiliki khasiat yang hampir setara,” jelasnya. (mfn/ ed. adl)

Baca

Aplikasi Bahan Alam dalam Industri Kesehatan dan Kosmetik


02 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Indonesia memiliki banyak biodiversivitas yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pembuat obat yang alami. Indonesia dan Pakistan, juga Malaysia sebagai negara dengan populasi muslim yang besar, memiliki potensi bekerja sama mengembangkan produk obat berbahan alami. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Organization of Islamic Cooperation Standing Committee on Scientific and Technological Cooperation (COMSTECH) Pakistan, menginisiasi ‘International Webinar on Natural Products and Tropical Medicine’, pada Rabu, (2/6). Pada topik kedua, Marissa Angelina, peneliti Pusat Penelitian Kimia – LIPI, memandu paparan terkait produk alami dan aplikasi industri kesehatan dan kosmetik Pembicara pertama Nadeem Khalid dari CEO (chief executife officer) dari Herbion Pakistan menyampaikan bagaimana mengembangkan dan memulai Herbion Natural di Pakistan. Nadeem menceritakan kisah sukses produksi, pemasaran, pengembangan, perluasan pemasaran hingga Malaysia, Kanada, Singaura, Rusia, Ukraina, dan beberapa negara lainnya. Herbion Natural memproduksi dan memasarkan produk berkualitas tinggi dengan harga terjangkau secara global, dan komitmen kepemimpinan di seluruh dunia di bidang industri perawatan kesehatan Pembicara kedua, Kalala Tilaar dari Martha Tilaar Group yang terkenal akan merek-merek kosmetik, menyampaikan bagaimana berkolaborasi dan menggabungkan kekayaan alam di Indonesia dengan riset untuk mengantarkan produk kepada konsumen dengan komunitas lokal dan pasar global. "Saat ini di perusahaan sedang mengembangkan strategi 'win-win partnership', agar terjadi hubungan saling menguntungkan antara perusahaan dengan komunitas petani," ujarnya. Sementara pembicara ketiga, akademisi dan praktisi Edi Meiyanto dari Universitas Gadjah Mada menyampaikan bagaimana meningkatkan produk nasional dengan menggunakan sumber daya lokal untuk produk farmasi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. “Saat ini tren produk bahan alam adalah nutrasetikal dan kosmeseutikal. Nutraseutikal merupakan produk pangan yang berkhasiat untuk kesehatan, sementara kosmeseutikal adalah produk kosmetik berbahan aktif alami yang memiliki manfaat bagi kesehatan, seperti produk anti-aging dan pencerah kulit,” ungkapnya. (hrd, adl)

Baca

Eksplorasi Jamur Endofit Indonesia sebagai Bahan Obat Alami


02 Juni 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Andria Agusta, menyampaikan hasil penelitiannya yang berjudul Exploration of Anti-Effective Metabolites from Indonesia Endophytic Fungi, pada ‘International Webinar on Natural Products and Tropical Medicine’, Rabu, (2/6). Dalam pemaparannya, Andria menjelaskan riset mengenai jamur endofit yang dilakukan oleh dirinya beserta timnya. “Jamur endofit adalah jamur mikro yang secara internal hidup pada jaringan tumbuhan inangnya,” jelasnya mengawali. Dirinya menjabarkan bahwa Indonesia memiliki jamur endofit yang berada di seluruh daerah yang tersebar dari wilayah barat Sumatra hingga timur Papua. “Dimulai tahun 2006-2021, kami telah mengeksplorasi 1833 jamur,” ungkapnya. “Selama ini kami masih fokus di wilayah Barat dan di masa depan kami akan coba dari Indonesia Timur,” imbuhnya. Andria telah melakukan percobaan isolasi jamur di laboratorium. “Salah satu contoh sukses adalah isolasi dari tanaman teh, Camellia sinensis, yakni biokonversi katekin dari teh menjadi 4-hidroksi derivatif dengan jamur endofit Diaporthe sp. E., yang menghasilkan antioksidan,” urainya. Malaria saat ini masih menjadi salah satu penyakit menular yang jumlah kasusnya tinggi di Indonesia. “Di laboratorium, kami melakukan biokonversi obat antimalaria, artemisinin, dari tanaman Artemisia vulgaris, menggunakan jamur endofit Colletotricum sp.,” tutur Andria. Bersama timnya, Andria melakukan isolasi metabolit jamur endofit dari seluruh tumbuhan Indonesia, untuk antibakteri, antioksidan, antijamur, antimikroba, dan sebagai obat lainnya. “Kandungan metabolit aktif jamur endofit dari Albertisia papuana berpotensi digunakan sebagai antikanker dan obat kardiovaskular,” ungkapnya. Sejak tahun 2006 hingga sekarang, sebanyak lebih dari 1700 jamur endofit hasil eksplorasi telah berhasil diskrining sebagai antimikroba dan antioksidan. Pada masa pandemi Covid-19, Andria berujar ada lebih dari 100 ekstrak jamur endofit diskrining. “Terdapat dua jenis jamur menunjukan potensi sebagai anti SARS-CoV-2,” ucapnya. “Ada caranya bagaimana mengekstrak jamur endofit dalam skala besar, karena kalau dalam proses uji coba in vivo (menggunakan mencit) butuh jumlah dosis ekstrak yang cukup besar. Bisa dengan melakukan produksi kultivasi jamur di laboratorium,” ujarnya. Bagi Andria, aspek yang sangat penting dalam kultivasi adalah penggunaan media. “Butuh media yang tepat untuk menghasilkan metabolit sekunder dari jamur endofit. Kami coba menggunakan berbagai media, karena harus mengira-ngira yang tepat, termasuk temperaturnya,” ungkapnya. “Di LIPI juga tersedia fasilitas koleksi kultur untuk jamur, bakteri, dan mikroba lainnya, agar kita dapat dengan mudah mengisolasi jamur endofit," jelasnya. (adl)

Baca
ZONA INTEGRITAS