: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Baju Hazmat Antimikroba Lapis Nanopartikel


01 Maret 2021

Serpong, Humas LIPI. Sejak pandemi Covid-19, masyarakat Indonesia menjadi familiar dengan istilah baju hazmat (hazardous material suit). Baju hazmat ini wajib digunakan oleh tenaga kesehatan (nakes) sebagai alat pelindung diri (APD), saat menangani pasien Covid-19. Mengamati hal tersebut, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joddy Arya Laksmono, tertarik melakukan  riset tentang APD, dengan mengenalkan pakaian hazmat yang antimikroba dengan teknologi nano. “Kami menanamkan materi antimikroba pada hazmat tersebut, agar bisa nyaman dipakai sekaligus melindungi dari mikroba-mikroba, khususnya bakteri, jamur, dan virus,” ujar Joddy pada acara dialog To The Point, Radio RRI Pro 3, Minggu, (28/2) via Zoom. Dirinya menjelaskan bahwa umumnya pori-pori pakaian hazmat itu ukurannya sangat kecil, sehingga sirkulasi udara pada hazmat agar terhambat. Pada riset hazmat, bahan yang dikembangkan sifatnya breathable (mudah bernapas), agar selain aman, juga nyaman digunakan oleh para tenaga kesehatan. “Seperti kita ketahui, tenaga medis sekali pakai bisa memakai hazmat sampai 6-7 jam, dan itu cukup menguras tenaga karena panas pada tubuh kurang dapat dikeluarkan pada baju Hazmat, jadi kami kembangkan APD yang sirkulasi udaranya baik,” urainya Dengan dipandu oleh penyiar Desi Natalia, Joddy menggambarkan bahwa kain yang breathable itu memiliki pori-pori. “Kami menggunakan kain yang berpori dengan berdiameter lebih besar dibandingkan bakteri, kemudian kami lindungi pori tersebut dan lapisan pada kainnya menggunakan bahan yang memiliki sifat antimikroba,” terangnya. Menurut Joddy, alat pelindung diri ini sudah siap digunakan oleh para nakes atau dokter yang bekerja di ruang operasi. “Bahan material ini sudah uji SARS-Cov-2 dan memiliki potensi penghambatan terhadap pertumbuhan Covid-19 di atas 80%, artinya kalau kita tanamkan di dalam bahan tekstil atau bahan hazmatnya, saya cukup yakin bisa menghambat pertumbuhan Covid yang berasal dari airborne atau penyebaran lewat udara,” tegas Joddy. Dalam menjalankan kegiatan ini, Joddy yang berlatar berlakang teknik kimia berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu. Baik dari segi biologi, material, virus, dan tekstil yang berasal dari instansi LIPI, ITB, dan UGM. Sementara untuk biaya harga baju hazmat, Joddy menjelaskan biaya produksi bisa di bawah harga normal karena pasokan dalam negeri cukup untuk bahan baku pembuatan pakaian hazmat antimikroba. “Perkiraan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) sekitar 70 persen, jadi ini bisa menekan biaya produksinya, sehingga harganya pun bisa lebih murah,” jelasnya. Bagaimana cara kerja lapisan antimikroba, Joddy menjabarkan secara sederhana proses pelapisan nanopartikel ini melindungi pakaian hazmat. “Dalam komposisi hazmat antimikroba, ada semacam partikel yang terlarut di dalam suatu wadah berbahan dasar air, kemudian hazmat yang akan digunakan dilapiskan dengan menggunakan nanopartikel yang memiliki sifat antimikroba,” terangnya. Sebagain penutup, Joddy menyampaikan bahwa penelitian ini juga bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) yaitu rumah sakit UI yang bersedia untuk dilakukan uji klinis. “Jadi pertama kami akan memproduksi sejumlah hazmat, kemudian kami bagikan kepada para tenaga kesehatan di RS UI, lalu dilihat dan diuji efektivitasnya,” tutup Koordinator kelompok penelitian Kimia Makromolekul ini. (hrd, mfn/ ed. adl)

Baca

Solusi Sampah Plastik Melalui Daur Ulang dan Material Alternatif Ramah Lingkungan


28 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Sampah plastik menjadi masalah global yang krusial. Berangkat dari masalah tersebut, lebih dari 60 negara mengambil langkah praktis dengan melakukan pembatasan penggunaan sampah plastik. Pelarangan plastik idealnya perlu diimbangi dengan pengelolaan sampah dan insentif finansial untuk mengubah kebiasaan konsumen dan pelaku industri, sehingga nantinya dapat didorong terbentuknya model sirkular dalam produksi plastik, dari sampah plastik kembali menjadi plastik lagi. Muhammad Ghozali, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Kimia - LIPI) menyebutkan ada dua solusi dalam mengatasi sampah plastik, yaitu secara kuratif dan preventif. “Cara kuratif meliputi reuse (penggunaan kembali), reduce (pengurangan), recycle (daur ulang), dan bank sampah. Sedangkan cara preventif adalah dengan mengubah kebiasaan masyarakat dengan menerapkan smart behaviour (kebiasaan cerdas) dan mengembangkan material yang bersifat biodegradasi,“ terang Ghozali. Peneliti Kimia Polimer ini menerangkan salah satu inovasi yang telah dikembangkan oleh Puslit Kimia LIPI, yaitu material biodegradasi. Riset yangdilakukan oleh dirinya dan tim menghasilkan produk inovasi ramah lingkungan, diantaranya berupa pelet, kantong plastik yang bisa terbiodegradasi (biodegradable plastic), dan wadah makanan yang terbuat dari biofoam sebagai pengganti sterofoam. Selain itu, kertas hasil dari limbah biomassa (biopaper) juga bisa  dikembangkan menjadi kertas laminasi bioplastik pengganti kertas minyak dan gelas kertas (paper cup). “Dengan adanya inovasi ini, kami berharap bisa mengurangi penebangan hutan di Indonesia yang disebabkan karena produksi pembuatan kertas,” ujarnya. Di Indonesia, sudah cukup banyak yang bergerak di industri daur ulang, termasuk industri daur ulang botol plastik untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat. Salah satunya adalah PT. Plasticpay Teknologi Daurulang yang bergerak dalam bidang pengumpulan sampah botol plastik dengan memakai aplikasi bernama PlasticPay. Suhendra Setiadi, CEO dari PT. Plasticpay Teknologi Daurulang mengatakan tujuan utama dari produk daur ulang adalah memperpanjang siklus hidup dari sebuah produk sehingga bisa dikembangkan kembali menjadi produk lain yang bermanfaat. “Harapan kedepannya adalah ketika fungsi produk telah menjadi tidak seusia dengan tujuan awalnya, akan ada teknologi atau terobosan terbaru dari peneliti-peneliti kita di Indonesia, agar produk tersebut bisa dikembangkan kembali dan tetap bisa bermanfaat,” harapnya. Acara webinar ini diselenggarakan dalam memperingati minggu Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2021, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) mengadakan webinar “Solusi Pengelolaan Sampah Terintegrasi dari Aspek Teknis Melalui Daur Ulang dan Bioplastik” pada hari Kamis (25/2). Topik yang diangkat adalah bagaimana menyelesaikan tantangan sampah plastik melalui pendekatan daur ulang serta bioplastik, baik dalam kapasitas kita sebagai individu maupun sebagai entitas bisnis atau lembaga. (whp/ ed. adl)

Baca

Riset Nanopartikel Perak untuk APD Tenaga Medis


25 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Joddy Arya Laksmono, mengembangkan inovasi nanopartikel perak atau nanosilver, untuk kebutuhan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis. Nanosilver tersebut memiliki bentuk kristal, konsentrasi, stabilitas, dan ukuran partikel yang dikembangkan melalui rekayasa teknologi proses kimia. Dari beberapa literatur penelitian, telah dilakukan investigasi terhadap beberapa jenis material yang mempunyai fungsi sebagai antibakteri. Material-material tersebut diantaranya tembaga, seng, titanium, magnesium, emas, alginat, dan perak. Joddy menyampaikan bahwa nanosilver diketahui mempunyai aktivitas anti bakteri karena memiliki luas permukaan yang besar untuk melakukan kontak dengan sangat baik terhadap mikroorganisme. Selama proses difusi berjalan, nanosilver mendekat pada membran sel bakteri dan melakukan penetrasi ke dalam mikroba. “Dari hasil penelitian, nanosilver memiliki kemampuan antimikroba terhadap bakteri, virus, dan mikroorganisme eukariotik,” ujarnya saat diwawancarai Humas LIPI. Saat ini Joddy dan tim sedang dilakukan proses penelitian mengenai proses impregnasi partikel nanosilver pada kain bahan APD. “Distribusi nanosilver serta proses ikatan kimia-fisik yang terjadi pada permukaan kain APD menjadi hal yang mendapatkan perhatian utama dalam penelitian, karena berkaitan dengan efektivitas dan unjuk kinerja dari nanosilver, sebagai material antimikroba pada permukaan kain APD,” jelasnya. Lebih lanjut, Joddy menjelaskan bahwa membran bakteri mengandung protein, dengan senyawa sulfur sebagai komponen utamanya. Nanosilver melakukan interaksi dengan protein ini, kemudian berinteraksi lagi dengan fosfor yang mengandung senyawa-senyawa seperti DNA. “Pada saat nanosilver masuk ke dalam sel mikroorganisme, terbentuk daerah dengan berat molekul yang rendah di tengah gumpalan bakteri, gumpalan ini berfungsi untuk melindungi DNA. Selanjutnya nanosilver melakukan difusi dan menyerang rantai pernafasan mikroorganisme, hingga pada akhirnya sel tersebut menjadi mati,” urai Joddy. Partikel perak dengan ukuran nano atau nanosilver ini memiliki sifat yang unik karena pengaruh dari ukuran kuantum dan permukaannya. “Dengan sifat yang unik ini, aplikasi dari nanosilver sangat luas seperti untuk tekstil antibakteri, sedangkan polimer yang mengandung nanosilver dapat diaplikasikan pada kulkas, penanak nasi, film plastik, botol vakum, kontainer plastik, dan tempat sampah, selain itu juga dapat diaplikasikan pada bidang optik mikroskop, “ terang lulusan program doktoral dari Universitas Indonesia ini. (har/ ed. adl)

Baca

Perkembangan Teknologi dan Regulasi Bioetanol


23 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Saat ini sekitar 40% kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia berasal dari impor, terutama jenis bensin. Hal ini memberikan kontribusi terhadap CAD (current account defisit) nasional sebesar 9.3 Billion US dolar pada tahun 2019. Sementara itu, Indonesia dikaruniai jumlah biomassa yang melimpah, diantaranya biomassa sawit yang potensial menjadi bahan green gasoline dan bioetanol. Dalam rangka menginformasikan potensi bioetanol tersebut, maka Pusat Unggulan Iptek (PUI) Pusat Penelitian Bioetanol G2 – Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) dan PT Mipcon Group menggelar Webinar Series 1 bertema “The Latest Improvement, Regulation & Technology Development for Global Bioethanol and Industry,” pada Senin (22/2) secara virtual. Sebagai pembukaan, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono, menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian aktivitas di LIPI dan menjadi pusat unggulan bioetanol generasi kedua. Forum ini dapat mempertemukan para peneliti, praktisi, akademisi, dan indsutri untuk saing berbagi informasi dan hasil penelitian. “Kami berharap kegiatan ini menjadi akselerasi penelitian dan inovasi yang berkelanjutan, khususnya untuk industri bioetanol dan biofuel,” ujarnya. “Tidak hanya berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bioetanol dan biofuel, tetapi juga menjadi kesempatan baru dalam meningkatkan penelitian dan pengembangan teknologi masa depan, serta peluang kolaborasi masa depan antara para akademi, peneliti, dan industri,” lanjutnya. Senada dengan Deputi, President Director PT Mipcon Konsultan Utama Imam Baehaqi turut menyampaikan bahwa pengembangan energi terbarukan khususnya bioetanol untuk bahan bakar sudah lama dibicarakan dan disinggung oleh banyak pihak. Meskipun pada kenyataannya selalu  ada pertentangan yang harus dihadapi untuk bisa secara berkelanjutan menjadi alternatif sumber bahan energi terbarukan. “Kami menyadari bahwa banyak tantangan yang harus dipecahkan, oleh karena itu riset-riset yang mendukung pengembangan teknologi untuk industri bioetanol menjadi ikut berkembang hingga saat ini. Baik yang berfokus kepada intensifikasi proses yakni bagaimana membuat proses produksi bioetanol menjadi efektif, maupun yang berfokus kepada ekstensifikasi proses yakni memperbanyak varian-varian bahan baku, agar produk bioetanol menjadi lebih kompetitif sebagai sumber energi,” urai Imam. “Kita semua mengharapkan agar webinar ini bisa menumbuhkan keyakinan bersama semua praktisi, peneliti, akademisi bahwa bioetanol ini bisa menjadi sumber energi terbarukan dan berkelanjutan di negara Republik Indonesia,” tambahnya. Pada kesempatan yang sama Yanni Sudiyani dari P2 Kimia LIPI mengatakan bahwa Bioetanol adalah sumber energi potesial untuk mengurangi bensin untuk pemanfaatan transportasi. Kegiatan penelitian dari aspek bahan baku, lingkungan, dan ekonomi telah dilakukan di banyak negara juga di Indonesia. “Industri bioetanol Indonesia ada yang memanfaatkan bahan pangan sebagai bahan baku, sementara itu, perguruan tinggi, dan lembaga peneltian dan pengembangan telah melakukan penelitian untuk menghasilkan bioetanol generasi kedua atau ketiga,” ungkapnya. “Rencana pemerintah Indonesia adalah meningkatkan pemanfaatan campuran bioetanol dan bensin untuk transportasi hingga 15% pada tahun 2025. Perkembangan teknologi di setiap generasi merupakan tantangan bagi lembaga penelitian dan pengembangan lokal dalam mengembangkan teknologi produksi bioetanol dengan memanfaatkan biomassa lokal,” imbuh Profesor Riset LIPI tersebut. Pada webinar yang digagas oleh P2 Kimia LIPI dan PT Mipcon juga menampilkan oleh beberapa narasumber yaitu Dadang Kusdiana (Director General of EBTKE Ministry of Energy and Mineral Resources), Noguchi Ryozo (Faculty of Life and Environmental Sciences, Jepang), dan Lakhadive Umesh Ramesh (Director, Crab & Taur Pte. Ltd, Singapura). Acara ini dipandu oleh pembawa acara Wijayanti Herlis (BKHH LIPI) serta moderator Roni Maryana (P2 Kimia LIPI) dan Muhammad Rizal (PT Mipcon). (hrd/ ed. adl)

Baca

Rekristalisasi untuk Daur Ulang Limbah Masker Sekali Pakai


17 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Sunit Hendrana Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memaparkan salah satu pengembangan LIPI tentang Metode Daur Ulang Limbah Medis Plastik dengan Rekristalisasi dalam webinar ‘Pengelolaan Limbah Masker Di Masa Pandemi Covid-19!’: Jangan Buang Maskermu pada Selasa (16/2). “Dengan cara rekristalisasi maka hasil daur ulang sampah seperti masker, APD dan sebagainya  dapat kembali digunakan kembali dengan kualitas yang sama,” ujarnya. Sunit yang berasal dari Kelompok Penelitian Kimia Polimer ini mengungkapkan bahwa dirinya dan tim telah biasa melakukan pemurnian plastik dengan cara rekristalisasi. “Ketika kami melakukan penelitian dengan plastik, harus bisa dipastikan sampel plastik itu murni tidak ada bahan aditif dan lainnya, oleh karena itu kami melakukan rekristalisasi untuk memurnikan,” terangnya. Pada Oktober tahun 2020, tim Sunit memulai melakukan rekristalisasi sampah medis karena sampah jenis ini lebih memiliki potensi berbahaya menjadi sampah mikroplastik dan juga mencemari ekosistem sampah lautan lainnya. “Proses daur ulang plastik dengan rekristalisasi ini meliputi pemotongan plastik, pelarutan plastik, pencampuran dengan anti pelarut, pengendapan pada anti pelarut, serta pemisahan pelarut dan anti pelarut, maka akan diperoleh suatu plastik murni tanpa degradasi yang memiliki manfaat dan fungsi sebagai plastik dengan kualitas serupa,” urai peneliti ahli utama ini. Terdapat sejumlah jenis plastik limbah medis yang dapat didaur ulang menggunakan metode rekristalisasi menurut Sunit. “Yang dapat diterapkan melalui metode rekristalisasi adalah jenis plastik polyyethylene (PE), polypropylene (PP), polyvinyl chloride (PC), dan polystyrene (PS),” ungkap peneliti lulusan The  University of Queensland, Australia ini. Sunit Hendrana menjadi salah satu narasumber dalam webinar yang diselenggarakan untuk menyongsong Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2021 yang jatuh pada Hari Sabtu 20 Februari 2021. Belum usainya pandemi Covid-19, LIPI bekerja sama dengan Satuan Tugas Penanganan Covid nasional dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, serta Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), membahas banyaknya limbah medis yang dihasilkan dari penanganan Covid-19. Seiring meningkatnya angka penyebaran penyakit Covid-19, limbah medis pun turut meningkat. Hal ini tidak hanya dihasilkan dari aktivitas fasilitas kesehatan namun juga dari penggunaan alat pelindung diri (APD) di masyarakat sehari-hari, seperti masker sekali pakai. Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas berharap, gerakan peduli sampah medis nasional menjelang hari peduli sampah ini, bisa menjadi gerakan bersama seluruh lapisan masyarakat, yang dimulai dari sampah rumah tangga di sekitar kita. Hal ini harus menjadi gerakan seperti halnya beberapa tahun terakhir masyarakat berupaya mengurangi pemakaian plastik. Kampanye penggunaan plastik dan pengelolaan limbah secara bijak ini sudah harus menjadi gaya hidup kita semua. Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI Ajeng Arum Sari menyampaikan bahwa hal yang perlu diperhatikan adalah masih minimnya pengetahuan dan sarana pengelolaan limbah APD dari masyarakat. Dua hal tersebut bisa memungkinkan munculnya risiko pencemaran lingkungan dan meningkatkan penyebaran virus SARS-Cov-2. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Agus Haryono, mengajak para pemangku kepentingan untuk melakukan sinergi. Masker merupakan polemik karena jika dibuang merupakan bahan plastik yang terurainya membutuhkan waktu ratusan tahun, tetapi kalau dikumpulkan bagaimana menghindari potensi infeksiusnya. Melalui webinar ini diharapkan dapat terbentuk konsep pengelolaan limbah masker yang dipahami masyarakat, rumusan akselerasi penerapan riset dan inovasi teknologi pengelolaan limbah masker di masyarakat dan industri, serta dapat memberikan peluang kerja sama antara peneliti dan masyarakat, serta industri untuk penerapan teknologi pengelolaan limbah masker. Sebagai informasi, panelis yang turut hadir dalam webinar ini adalah Lia Partakusuma (Satgas BNPB), Akbar Hanif Dawam A. (Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI), Arifin Nur (Puslit Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI), Herlian Eriska Putra (Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI), Prima Mayaningtias (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat), Hery Yusmandra (Manajer Program Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia), serta Ratih Asmana Ningrum (Puslit Bioteknologi LIPI). Acara ini dipandu oleh pembawa acara Suci Rahayu dan Dyah R. Sugiyanto selaku moderator dari Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI. (har, ed. adl)

Baca

Info Webinar Bioetanol Seri 1 Kolaborasi LIPI - MIPCON


16 Februari 2021

UndanganWebinar Series 1 Pusat Unggulan IPTEK Bioetanol G2 - Pusat Penelitian Kimia LIPI dan MIPCON Group yang didukung oleh Katzen, mengundang partisipasi Bapak/Ibu/Saudara untuk mengikuti webinar : "The Latest Improvement, Regulator & Technology Development for Global Bioethanol and Biofuel Industry"  Pembicara : Dr. Dadan KusdianaDirector General of EBTKE, Ministry of Energy and Mineral Resources, Indonesia Ryozo Noguchi, Ph.DAssociate Professor, University of Tsukuba, Japan Prof. Dr. Yanni SudiyaniResearch Professor, Research Center for Chemistry LIPI, Indonesia Lakhadive Umesh RameshDirector, Crab & Taur Pte.Ltd, Singapore Moderator : Roni Maryana, Ph.D (LIPI) Muhammad Rizal, ST (MIPCON) Waktu Pelaksanaan : Senin, 22 Februari 2021, Pkl. 08.30-13.00 WIB via ZOOM  Live Streaming di YouTube Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Channel Registrasi Gratis :http://bit.ly/LIPI-MIPCON-WEBINAR Link Zoom akan diberikan pada H-3 (Jumat, 19 Februari 2021) via e-mail / WA masing-masing Benefit : e-certificate Doorprize (buku, voucher, merchandise) Terima kasih atas partisipasinya.. #bioetanol #energi #iptek #inovasi

Baca

Komisi VII DPR RI Tinjau dan Apresiasi Produk Riset Mutakhir LIPI


15 Februari 2021

Cibinong. Humas LIPI. Di Masa Persidangan III Tahun Sidang 2020-2021, Anggota Dewan dari Komisi VII DPR RI, dipimpin langsung oleh Ketuanya, Sugeng Suparwoto meninjau produk riset mutakhir LIPI yang sudah memiliki paten dan siap untuk dikomersialisasi di Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK (PPII) LIPI,  Kompleks Cibinong Science Center-Botanical Garden (CSC-BG), pada Kamis (11/2). “Apresiasi terhadap kinerja yang tengah dan akan dilakukan oleh LIPI,” tutur Haeny Laela Relawati RIni W., anggota Komisi VII DPR RI. “Namun demikian, masih ada tantangan terutama korelasi dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk pemetaan detail kawasan dan rencana tata ruang LIPI untuk memperdalam aspek antara budidaya tumbuh kembang dan reklamasi kawasan pantai,” tambahnya. Sebagai informasi, tinjauan Komisi VII DPR RI ke PPII LIPI adalah kelanjutan tinjauan pada pagi harinya di Badan Informasi Geospasial (BIG), masih di Kompleks CSC-BG LIPI. Pada kesempatan tersebut, Kepala LIPI LT. Handoko memberikan penjelasan tentang pengelolaan Kawasan CSC dan riset di bidang energi, pembangunan dan pengembangan infrastruktur strategis IPTEK di beberapa kampus LIPI. “LIPI sedang membangun dan mengembangkan fasilitas Cibinong Science Technopark (C-STP), Kawasan Geodiversitas (Karangsambung), Laboratorium Teknologi Tepat Guna (TTG) Subang, Infrastruktur Basic Bandung, Green house Biodiversitas Cibinong, pengelolan armada kapal riset, hasil penelitian energi dan energi terbarukan, dan alat-alat kesehatan dalam penanganan Covid-19,” papar Handoko. Saat tinjauan ke PPII LIPI, Handoko kembali menjelaskan kepada seluruh Tim Komisi VII DPR RI terkait produk-produk hasil riset yang berasal dari beberapa satuan kerja di LIPI yang dipamerkan antara lain dari Pusat Penelitian (Puslit) Biomaterial yaitu bambu laminasi, biodegradable food, biopelet, bioinsektisida, beton poros, dan bioplastic. Sementara dari Puslit Bioteknologi LIPI yaitu produk riset kultur artemisia annua, tepung dan mie mocaf kaya betakaroten, padi gogo, starter inoka, pribiomix T-10, imonumodulator, dan teripang. Tak ketinggalan produk riset dari Puslit Biologi yaitu pupuk POH dan monascus. Tak kalah menariknya adalah produk riset Puslit Limnologi yaitu budi daya udang galah yang cukup menyita perhatian. Udang yang juga dikenal sebagai lobster air tawar tersebut  ditempatkan dalam aquarium besar yang disebut apartement seperti dituturkan penelitinya, Bambang Teguh. Selain itu produk mutakhir LIPI lainnya yang berasal dari Puslit Fisika, Kimia dan Metalurgi LIPI pun dipamerkan, yakni ATTACT, RT LAMP dan yang termutakhir adalah Destromed, alat penghancur limbah jarum suntik. Pada kesempatan yang sama hadir mendampingi Kepala LIPI, Plt. Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Yan Rianto sekaligu Kepala Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK LIPI. Selain itu hadir pula Plt. Deputi Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Ristek/BRIN, Muhammad Dimyati dan Sekretaris Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kementerian Ristek/BRIN, Lanjar. (YL ed SL)  

Baca

Dialog Riset Rekristalisasi untuk Daur Ulang Limbah Plastik Medis


08 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Jumlah limbah plastik medis meningkat semenjak pandemi. Selama ini metode pengolahan limbah plastik dengan cara dilelehkan. Melalui metode ini plastik dibakar dan dijadikan pelet. Sementara Peneliti Utama Pusat Penelitian Kimia LIPI Sunit Hendrana melakukannya dengan metode rekristalisasi. Metode ini diklaim lebih murah, lebih mudah, dan hasil daur ulang plastiknya baik. Bagaimana cara mengolah sampah plastik medis ini dengan metode rekristalisasi? Berikut rekaman dialog Sunit Hendrana tentang risetnya bersama penyiar RRI Pro 3 FM dapat didengarkan pada link berikut : https://drive.google.com/file/d/1F2MoFkj2YVVEatDeOvf_KznGYGjn8QR_/view?usp=sharing (mfn, adl)

Baca

Daur Ulang Limbah Medis COVID-19


25 Januari 2021

Serpong, Humas LIPI. Peningkatan jumlah kasus COVID-19 memicu peningkatan sampah medis. Terjadi kenaikan jumlah limbah medis sebanyak 30% di masa pandemi ini, dengan kisaran produksi limbah medis tiap rumah sakit rata-rata 1 kilogram per harinya.  Sementara itu penanganan limbah medis di Indonesia masih menemui permasalahan karena terbatasnya fasilitas pengolahan. Limbah medis COVID-19- tidak hanya mempunyai risiko penularan terhadap orang lain, tetapi juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Untuk mengatasi lonjakan limbah infeksius tersebut, peneliti Pusat Penelitan Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sunit Hendrana menawarkan solusi untuk penanganan limbah medis COVID-19.  Sunit menyebutkan limbah medis yang terbuat dari plastik seperti masker berpotensi menimbulkan pencemaran yang sanggat besar terutama microkplastik. Umur plastik bisa mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. “Solusinya adalah dengan pengolahan recycle melalui cara kristalisasi polimer untuk mendapatkan kembali plastik aslinya, agar bisa didaur ulang kembali,” ungkap Sunit dalam siaran virtual Trijaya Hot Topic Petang Virtual pada hari Jumat (22/1) .  Dirinya menjelaskan bahwa Pusat Penelitian Kimia LIPI telah mengembangkan pengolahan limbah dengan metode kristalisasi polimer skala laboratorium, untuk mendaur ulang limbah plastik medis dengan cara aman, hasilnya bernilai, dan dengan dampak lingkungan yang minim. “Menggunakan prinsip sifat plastik secara umum, kristalisasi polimer akan dapat membunuh virus dengan melalui dua tahapan, yaitu pemanasan dalam suhu 115 derajat Celsius dan pencampuran pelarut berupa alkohol,” jelasnya.  Dengan metode kristalisasi polimer, lapisan atas dan bawah masker yang mengandung plastik bisa didaur ulang. “Kualitas plastik hasil daur ulang yang berupa serbuk plastik ini masih baik dan bisa diolah kembali, secara prinsip polimer, metode ini juga bisa dilakukan pada baju APD, selang infus, botol infus dan bagian plastik jarum plastik,” imbuhnya.  Lia G. Partakusuma, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), mendukung pengembangan pengolahan limbah tersebut selama teruji aman dan efektif membunuh kuman. "Selama secara ilmiah bisa dibuktikan, kami siap mendukung, karena selain bisa berguna dan lebih efisien, dapat mengurangi biaya pengolahan limbah medis, mengingat pengolahan menggunakan insinerator yang cukup mahal,” terang Lia. Dari sisi regulasi, Sinta Saptarina Siemiarno, Direktur Penilaian Kinerja Pengolaan Limbah BS3 dan Limbah Non B3 dan Limbah Non B3 KLHK, juga mendukung teknik pengolahan limbah dari LIPI. “Kami sangat terbuka dengan adanya teknologi pengolahan yang lebih baik dan dengan pencemaran yang lebih minimal. Kalaupun ada izin atau ketentuan-ketentuan yang belum dipenuhi di masa pandemi ini, kami dapat memberikan diskresi selama ada justifikasi ilmiah,” tuturnya,  Sunit menegaskan bahwa LIPI sudah memulai dan siap untuk mengembangkan teknologi pengolahan limbah medis yang lebih efektif dan efisien. “Hal ini kami lakukan supaya bisa mengurangi dampak limbah plastik, baik dari risiko penularan maupun dampaknya terhadap lingkungan,” jelas Peneliti Ahli Utama bidang Polimer ini. (whp/ ed. adl)  

Baca

Rekristalisasi, Metode Daur Ulang Plastik Limbah Medis


14 Januari 2021

Serpong, Humas LIPI. Dalam masa pandemi Covid-19, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan metode daur ulang sampah medis dengan cara rekristalisasi. Metode unik ini menghasilkan plastik daur ulang berupa serbuk dan minim kerusakan struktur, sehingga dapat digunakan lagi untuk keperluan yang sama. Plastik banyak digunakan untuk alat proteksi diri dan masker medis bagi masyarakat dan petugas kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Hal ini  menimbulkan dampak bagi lingkungan akibat meningkatnya sampah medis. Sejak pertengahan tahun 2020, Sunit Hendrana, Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI mencoba berinovasi melalui metode pengolahan sampah plastik yang disebut rekristalisasi. “Metode rekristalisasi mudah dilakukan karena dapat dilakukan tanpa proses sterilisasi terlebih dahulu,” ujarnya. Metode daur ulang limbah plastik rekristalisasi ini meliputi tahapan-tahapan terdiri dari pemotongan plastik, bila diperlukan, pelarutan plastik, pengendapan pada antipelarut, dan penyaringan. “Metode ini menghasilkan suatu plastik murni tanpa degradasi, yang dapat digunakan lagi sebagai plastik untuk tujuan medis, dengan kualitas yang serupa,” jelas Sunit. Proses rekristalisasi memungkinkan terjadi degradasi yang sangat rendah karena tidak adanya shear (geser) ­dan stress (tekanan) seperti pada proses daur ulang biasa. Hal ini menghasilkan plastik kristal yang dapat digunakan lagi dengan kualitas sangat baik. “Metode ini dapat diterapkan pada hampir semua jenis plastic, seperti  PP (polipropilena), PE (polietilana), PS (polistirena), PVC (polivinilklorida), PC (polikarbonat), dan PMMA (polimetil metakrilat),” tambah Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Penelitian Kimia Polimer. Sunit berharap hasil penelitian ini dapat diterapkan dan berguna dalam menyelesaikan masalah sampah medis akibat pandemi yang tengah terjadi. Dirinya  juga berkomitmen untuk tetap menjaga ekosistem lingkungan dengan mendaur ulang sampah plastik medis agar sampah plastik dapat berkurang. (har/ ed. adl)

Baca

Semangat CPNS di Acara Pengenalan Puslit Kimia LIPI


11 Januari 2021

Serpong, Humas LIPI. Pusat Penelitian Kimia (Puslit Kimia) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan acara perkenalan enam Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), di ruang Mangenese, Puspiptek, Serpong, pada Senin (11/1). Keenam CPNS tahun 2020 adalah Indriyati, M. Eka Prasetya, Zetryana P.T., Kiki Kurniawan, Agustina Sus Andreani, dan Saepurahman. Mereka merupakan lulusan dari universitas dalam dan luar negeri. Pada kesempatan tersebut, Kepala P2 Kimia, Yenny Meliana menyampaikan keenam CPNS ini memiliki portofolio yang sangat hebat. “Semangat, bisa bekerja sama, dan dapat membantu sesuatu menjadi lebih baik lagi untuk LIPI,” ujar Kapuslit dalam acara yang dihadiri perwakilan manajemen P2 Kimia LIPI dan pengelola layanan kawasan LIPI. “Tetap berkinerja selama pandemi apa pun tantangan, mengikuti protokol kesehatan, target output tetap dikejar, dan lebih lagi berprestasi. Tunjukkan kepada dunia, bahwa pusat penelitian Kimia bisa berkontribusi secara global,” pesan Melly kerap disapa. CPNS Agustina Sus Andreani atau Susi mengungkapkan bahwa P2 Kimia - LIPI merupakan institusi yang dirinya inginkan dari dahulu. “Sebelumnya saya pernah melakukan penelitian dan uji nanomaterial di sini,” ungkapnya. “Saya ikut seleksi CPNS kemarin lolos, kesan pertama saya sangat semangat, excited untuk bergabung di Puslit Kimia. Saya juga sudah menyiapkan beberapa hal yang bisa saya lakukan, melakukan penelitian ketika saya sudah bergabung di LIPI,” tambahnya antusias. Selain mendengarkan paparan mengenai P2 Kimia dari Koordinator Penelitian Kimia, para koordinator pengelola layanan Kawasan Serpong turut memaparkan sekilas mengenai tugas dan fungsi layanan yang ada, baik layanan IT dan Jaringan, Utilitas, Bisnis dan Inovasi, Kerja Sama dan Humas, serta Kepegawaian. (har, adl)

Baca

Biopolimer, Material Ramah Lingkungan sebagai Solusi Problematika Global


21 Desember 2020

Serpong, Humas LIPI. Pencemaran lingkungan menjadi topik yang tiada habisnya diperbincangkan. Tak lain karena hal ini terkait erat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Pencemaran tanah, sungai, dan laut terus terjadi di seluruh dunia hingga mengancam ekosistem. Muhammad Ghozali, peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Kimia – LIPI), mencari solusi dari berbagai polusi ini dan memaparkannya pada acara webinar bertajuk Bio-based Polymer and Its Applications (Biopolimer dan Aplikasinya), pada Senin (21/12). Webinar kolaborasi antara LIPI dan Osaka University yang dilakukan secara daring ini, bertujuan mendiseminasikan hasil-hasil riset yang dilakukan LIPI terkait biopolimer atau polimer organik berikut aplikasinya. Selain Ghozali, hadir dua narasumber lainnya yaitu Fredina Destyorini dari Puslit Fisika LIPI dan Yu-I Hsu dari Department of Applied Chemistry, Osaka University. Ghozali menyampaikan bahwa sebagai seorang peneliti harus melakukan sesuatu untuk menangani problem lingkungan di masyarakat. “Ada dua macam tindakan yang bisa dilakukan, yaitu kuratif dan preventif. Kuratif antara lain dengan recycle, reuse, reduce, bank sampah dan TPS (Tempat Pembuangan Sampah). Sementara preventif dengan melakukan kebiasaan baik dan memanfaatkan produk biodegradable (terurai secara organik),” terangnya.  Dirinya lantas memaparkan berbagai produk plastik biodegradable berbahan dasar singkong untuk keperluan pengemasan. “Cara membuat plastik organik ini adalah dengan mengubah tepung singkong menjadi pellet melalui extruder. Pellet ini kemudian dijadikan lapisan tipis hingga menjadi plastik organik biodegradable,” jelasnya. Ghozali memanfaatkan limbah tapioka padat menjadi biofoam yang dapat terurai hanya dalam tempo dua minggu, serta kertas non-wood yang berfungsi mengurangi perusakan hutan. Narasumber kedua, Fredina Destyorini, memaparkan pemanfaatan limbah biomassa sebagai sumber karbon yang dapat diperbarui dan aplikasinya dalam peralatan elektrokimia. Fredina menjelaskan latar belakang penelitiannya dari berbagai problematika seperti pemanasan global, polusi lingkungan, pembuangan limbah, dan pengurangan energi fosil. “Kami mengembangkan peralatan energi elektrokimia dari limbah biomassa berupa fuel cell, baterai ion-litium, dan kapasitor super,” ujarnya. Limbah biomassa merupakan pionir karbon yang memiliki keunggulan struktur yang sangat berpori, ketersediaan berlimpah, dan dapat diperbarui (renewable). “Karbon itu merupakan unsur dengan struktur yang beragam, luas permukaan yang banyak, pengendalian yang kuat, dan stabilitas bahan kimia yang baik,” lanjut Fredina. Yu-I Hsu sebagai narasumber terakhir menyampaikan presentasi berjudul Development of novel stimulus responsive hydrogels using bio-based biodegradable polymers. Hsu mengembangkan material yang memacu regenerasi sel dari biodegradable polymer. Penelitian ini menjadi terobosan di dunia medis yang senantiasa menuntut inovasi di berbagai segmen. (nh/ ed. adl)

Baca

Penyemprotan Disinfektan di Puslit Kimia LIPI Serpong


17 Desember 2020

Serpong, Humas LIPI. Penyebaran virus Corona sampai detik ini masih menjadi kekhawatiran masyarakat, baik di Indonesia maupun negara-negara lainnya. Hal ini terjadi karena jumlah yang tertular atau positif Covid-19 semakin naik karena cara penularannya pun semakin bervariasi. Perkembangan terakhir, terdeteksi bahwa penyebaran virus corona ini paling banyak bukan di mal atau pun pasar, akan tetapi di perkantoran. Kantor menjadi salah satu tempat penyebaran virus corona diakibatkan kondisi perkantoran yang  umumnya berupa ruangan tertutup, terdiri dari berbagai orang dengan berbagai aktivitas yang datang dari berbagai tempat, jarak area kerja yang berdekatan, serta adanya peralatan kantor yang seringkali dipakai bersama. Beberapa cara untuk menekan laju penyebaran virus Corona di perkantoran yakni secara berkala diadakan penyemprotan disinfektan, pengadaan tempat cuci tangan, dan hand sanitizer, sehingga mata rantai penyebaran virus ini bisa diputus. Melihat kondisi ini, pada Rabu (16/12), Biro Umum Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BU – LIPI) dan tim vendor PT GKM bekerja sama melakukan penyemprotan disinfektan di Pusat Penelitian Kimia dan kantor pengelola layanan LIPI Kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Proses penyemprotan ini dipimpin oleh Didin Zaenudin, selaku Koordinator BU Kawasan Serpong “Penyemprotan ini dilakukan untuk menjaga kesehatan dan memberikan kenyamanan, serta rasa aman kepada para  pegawai, mengingat di kantor LIPI Kawasan Serpong sering mendapat banyak tamu,” ujarnya. “Penyemprotan ini dilakukan secara berkala untuk satuan kerja LIPI yang berada di kawasan Serpong,” imbuhnya. Sebagai informasi, produk disinfektan yang digunakan untuk penyemprotan ini adalah hasil kegiatan penelitian dari P2 Kimia sendiri. (ip/ ed. adl)

Baca

Ragam Riset Obat Herbal dan Suplemen Anti Covid-19 LIPI


26 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) telah melakukan beragam riset dan inovasi dalam upaya penanggulangan virus Corona. Berbagai klaster penelitian dibentuk untuk mengklasifikasikan riset-riset dari barbagai satuan kerja di bawah Kedeputian IPT. Guna berbagi informasi perkembangan seputar riset Covid-19, Kedeputian IPT kembali menggelar sharing session dengan narasumber dari eksternal LIPI, sekaligus pemonitoran dan pengevaluasian riset Covid-19 Klaster Obat dan Suplemen Anti Covid-19, pada Kamis (26/11). Sharing session klaster obat dan suplemen anti Covid-19 ini dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia (P2K) LIPI, Yenny Meliana. Yenny mengemukakan harapannya agar acara ini bisa memberikan transparansi ke publik terkait apa yang sudah dilakukan LIPI. Dirinya juga berpesan agar para peneliti tetap semangat, tetap sehat bekerja di masa pandemi. “Semoga riset LIPI dapat memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujarnya. Di sesi pleno acara ini hadir dua orang narasumber yaitu Tepy Usia dan Chaidir dengan moderator Rizna Triana Dewi. Tepy menjelaskan langkah-langkah strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di bidang obat tradisional dalam mendukung penanganan Covid-19. Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik - BPOM ini mengatakan Indonesia sangat kaya akan potensi bahan alam. “Ada 30.000 lebih spesies tanaman, yang menempatkan Indonesia ke dalam lima besar negara megabiodiversitas,” ungkapnya. “Terdapat ramuan 25.821, tumbuhan obat 2.670 spesies tersebar pada 303 etnis di 24 provinsi, serta lebih dari 400 etnis di Indonesia memanfaatkan tumbuhan sebagai obat,” imbuhnya. BPOM melakukan dua strategi dalam mendukung penanganan pandemi Covid-19. Pertama, pendampingan uji pra klinik dan uji klinik. Kedua, komunikasi, informasi, dan edukasi bagi masyarakat dan pelaku usaha. “Kepada pelaku sejak awal sudah disediakan mekanisme pendampingan dengan berlandaskan pada scientific justification dan independensi,” terang Tepy. “BPOM secara terus-menerus melakukan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan obat bahan alam termasuk suplemen kesehatan untuk penanggulangan Covid-19, “pungkasnya. Narasumber kedua, Chaidir menyampaikan riset jamu dan obat herbal untuk penanggulangan Covid-19. Kepala Program Teknologi Obat Herbal, Pusat Teknologi Farmasi dan Medika – Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) sekaligus Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Humas BPPT ini mengatakan bahwa belum terdapat vaksin dan antiviral untuk pencegahan dan penanggulangan infeksi SARS-CoV-2. "Dari hasil penelitian tanaman obat menunjukkan ada potensi jamu atau obat herbal dalam pencegahan penyakit akibat infeksi virus," ungkapnya. “Manfaat jamu atau obat herbal merupakan hasil keseluruhan kandungan polikimia metabolit sekunder terhadap berbagai target,“ tambahnya. Sebagai penutup, Chaidir berharap agar LIPI dapat memimpin kegiatan penelitian di Indonesia guna menemukan formula obat anti Covid-19. Selanjutnya di sesi presentasi ada tujuh orang peneliti yang menyampaikan perkembangan kegiatan risetnya yaitu Marissa Angelina (Potensi Ekstrak Daun Ketepeng Badak dan Daun Benalu Sebagai Obat Herbal Anti-viral Covid), Yati Maryati (Pengembangan Minuman Kesehatan Berbasis Jambu Biji Merah untuk Meningkatkan Sistem Imunitas Tubuh), Andria Agusta (Pencarian Anti-virus SARS-CoV-2 dari Kehati Indonesia), Hani Mulyani (Selai Marmalade 2 in 1 dari Rempah Lokal Terfermentasi untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Selama Pandemi Covid-19). Keempatnya merupakan Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI. Tiga presenter berikutnya yaitu Ambar Yoganingrum dari Pusat Penelitian Informatika LIPI (Identifikasi Protein Target pada Kondisi Hyperinflammation Penderita Covid-19: Pendekatan in silico), Diah Ratnaningrum dari Loka Penelitian Teknologi Bersih-LIPI (Pembuatan Hand Sanitizer berdasarkan WHO Berbahan Dasar Alkohol Sebagai Antiseptik dengan Aroma Jeruk) dan Rifki Sadikin dari Pusat Penelitian Informatika LIPI (Komputasi Berkinerja Tinggi untuk Pemodelan Machine Learning, Pemetaan Farmakofor, dan Penambatan Molekuler untuk Penemuan Kandidat Senyawa Potensial Antivirus SARS-CoV-2). Antusiasme peserta sangat terasa dalam sesi diskusi yang dipandu oleh Sofa Fajriah dari P2K-LIPI. Beragam pertanyaan dan tanggapan diajukan guna mencari jawaban persoalan Covid-19. Acara ditutup kembali oleh Yenny Meliana, dengan semangat dan harapan akan perkembangan riset selanjutnya dalam menangani SARS-CoV-2. (nh/ ed. adl)

Baca

P2 Kimia LIPI dengan P2IB – ITI dan PT MPA Kerja Sama Pengembangan Serat Mikro Selulosa dari Limbah Sawit


23 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Indonesia memiliki area perkebunan kelapa sawit yang luas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 14,32 juta hektar. Hasil samping dari perkebunan sawit adalah limbah kelapa sawit. Limbah sawit dapat berupa limbah cair dari industri pengolahan sawit dan limbah padat kelapa sawit dapat berupa tandan kosong, cangkang dan sabut. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dihasilkan dari produksi CPO (crude palm oil) sawit. Saat ini TKKS belum dimanfaatkan secara maksimal, umumnya hanya sebagai kompos. Athanasia Amanda Septevani dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) mengembangkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) untuk membuat micro fibre cellulose (MFC) atau serat mikro selulosa. Penelitian MFC tersebut sudah teruji dalam skala laboratorium dan memiliki paten terdaftar. Sebagai informasi, P2 Kimia LIPI merupakan Pusat Unggulan IPTEK Bioetanol Generasi 2 yang memiliki pilot plant sebagai fasilitas pengolahan biomassa khususnya lignoselulosa. Dalam rangka mengembangkan risetnya untuk diaplikasikan pada skala industri, maka pada Senin (24/11), di P2 Kimia LIPI Serpong diadakan pertemuan tiga pihak antara P2 Kimia LIPI dengan Pusat Inovasi dan Inkubasi Bisnis Institut Teknologi Indonesia (PI2B - ITI) dan PT Mandiri Palmera Agrindo (PT MPA) untuk kerja sama Pengembangan Produk Micro Fiber Cellulose dari Tandan Kosong Kelapa Sawit. Proses penandatanganan naskah kerja sama tiga pihak ini pun sudah dilakukan melalui sistem desk-to-desk pekan lalu. Acara ini dihadiri oleh Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, peneliti P2 Kimia LIPI Athanasia Amanda Septevani, Yan Irawan, serta Yenny Apriliany Devy. Penanggungjawab pihak P2IB, hadir Dr. Aniek Sri Handayani, yang mendapat amanat dari ITI sebagai Kepala PI2B dan Pak Ismoyo dari Bidang Otomotif ITI. Perwakilan dari PT MPA adalah Freddy Martubongs (Direktur Utama) dan Toni Karnawan (Direktur Keuangan). Turut hadir dalam acara ini bagian Kerja Sama dan Humas Kawasan Serpong LIPI. Dalam sesi perkenalan, masing-masing perwakilan menceritakan peran atau kontribusinya dalam kerja sama. PT MPA bertindak sebagai penyedia bahan baku TKKS dari pabriknya di Sulawesi, PI2B - ITI di bagian pemasaran MFC untuk konsumen industri seperti industri kertas, dan P2 Kimia sebagai pemilik teknologi MFC dari skala laboratorium untuk dikembangkan pada pilot plant Bioetanol G2 P2 Kimia sebelum nanti produk akhirnya diujicobakan pada industri.  Pada sesi diskusi pertemuan ini, dibahas kendala yang mucul dalam proses awal pengolahan TKKS di P2 Kimia yang baru mulai berjalan. Pihak P2IB - ITI dan PT MPA juga P2 Kimia sama-sama berupaya memberikan solusi agar kendala-kendala tersebut bisa diatasi dengan baik. Kemudian, pertemuan ini dilanjutkan dengan ketiga pihak tersebut berfoto bersama dan mengunjungi fasilitas pilot plant Kimia LIPI untuk melihat tahapan awal proses pembuatan MFC. (adl)

Baca

Manfaat Keanekaragaman Hayati Indonesia sebagai Sumber Pangan Fungsional


20 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Indonesia merupakan negara mega-biodiversitas. Sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar, Indonesia memiliki 17% dari total keanekaragaman hayati di dunia. Keanekaragaman hayati ini berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber pangan fungsional bagi peningkatan kesehatan dan juga kesejahteraan masyarakat. “Keanekaragaraman hayati yang kita miliki dapat kita eksplor untuk pengembangan pangan fungsional di Indonesia”, ungkap Nina Artanti, peneliti Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menjadi salah satu pembicara utama dalam acara konferensi ilmiah “International Symposium on Applied Chemistry” (ISAC) dengan tema “Natural Medicine and Nutraceutical” pada hari Kamis (19/11).  “Pangan fungsional merupakan bahan pangan yang tidak hanya bernutrisi dan memiliki fungsi gizi tetapi juga memiliki fungsi kesehatan, khususnya untuk pencegahan penyakit,” jelas Profesor Riset LIPI pada acara yang berlangsung secara virtual tersebut. Dirinya menjelaskan sumber pangan fungsional dapat berasal dari sumber daya tumbuhan dan sumber daya hewan di Indonesia.  Dari sumber daya tumbuhan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, kelompok umbi-umbian kurang dimanfaatkan secara maksimal. Padahal umbi-umbian seperti singkong, kentang, ubi, gadung, garut, ganyong, uwi, gembili, gembolo, porang, suweg, walur, iles-iles, dan talas bisa dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional. Umbi-umbian tersebut memiliki nilai fungsional karena mengandung pati resisten, inulin, antosianin, glokomanan, dan indeks glikemik yang rendah, sehingga cocok untuk penderita diabetes. “LIPI melalui Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam dan Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna melakukan riset pada kelompok umbi-umbian untuk dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional,” ungkap Nina.  Selanjutnya, tanaman seperti kucai berguna sebagai anti hipertensi, daun kelor sebagai anti diabetes, pegagan untuk meningkatkan daya ingat, serta labu siam yang bermanfaat untuk penyakit batu ginjal, sistem pernafasan, sistem pencernaaan, dan juga sirkulasi darah karena kaya akan polifenol, asam askorbat, dan karotenoid. Beras hitam, buah merah papua, berbagai jenis pisang dan biji dari buah-buahan eksotis Indonesia lainnya juga bisa dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional karena kaya akan protein, serat, dan karbohidrat.  Selain itu, sumber daya hewan juga bisa menjadi sumber pangan fungsional yang memiliki kandungan bioaktif. Misalnya trenggiling yang berpotensi menjadi bahan baku obat dengan kandungan omega-3 dalam EPA dan DHA yang mengurangi risiko kanker, menurunkan peradangan, hipertensi, artritis, serta menjaga fungsi otak. Binatang amfibi lainnya, seperti katak juga memiliki kandungan alkaloid yang dapat digunakan sebagai pengganti morfin untuk menghilangkan nyeri dan juga sebagai obat antidiabetes. Hewan lainnya yang juga memiliki kandungan bioaktif antara lain lebah, ular weling, dan teripang. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kecap, tauco, oncom, tapai, dadih, brem, tuak dan nata juga dapat dijadikan pangan fungsional karena memiliki kandungan asam yang baik untuk tubuh. Beberapa riset pangan fungsional juga telah dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kimia seperti formulasi pangan pintar dengan asam folat untuk bayi dan balita, minyak kelapa dengan teknik fermentasi, ragi tempe, minuman fungsional berbasis sayuran terfermentasi, minuman fermentasi jambu biji merah, dan selai jahe merah. Untuk ke depannya Nina berharap berbagai bahan yang menjadi sumber pangan fungsional dapat berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk makanan dan biomedis. “Semoga kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui hasil penelitian dan adanya kerja sama dari industri” ujarnya. (whp/ ed. adl) Sebagai informasi, acara ISAC 2020 berlangsung pada tanggal 18-19 November 2020. Acara virtual ini menghadirkan 6 pembicara utama yaitu Prof. Dr. Muhammad Iqbal Choudhary dari International Center for Chemical and Biological Sciences, University of Karachi Pakistan, Prof. Dr.rer.nat. Gunawan Indrayanto dari Fakultas Universitas Surabaya, Dr. Ambara Rachmat Pradipta dari Department of Chemical Science and Engineering, Tokyo Institute of Technology Japan, Prof. Dr. Nilesh Nirmal dari Institute of Nutrition, Mahidol University Thailand dan Prof. Dr. Nina Artanti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI.

Baca

Kemenkes Berbagi Perkembangan Inovasi Alat Kesehatan di Acara LIPI


14 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPT – LIPI) menyelenggarakan Sharing Session riset Covid-19 Kluster Pengujian Covid-19 pada Kamis (12/11). Acara yang menghadirkan narasumber I Gede Made Wirabrata dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) ini dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) – LIPI, Yenny Meliana. “Saya berharap dari acara ini kita akan mendapat banyak tambahan ilmu, pengetahuan, dan manfaat bersama,” ujarnya. Deputi IPT LIPI, Agus Haryono, dalam arahan dan sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian. “Kita adakan dalam bentuk seminar sharing session, agar riset-riset yang dilaksanakan oleh LIPI mendapat atensi, feedback, dan masukan dari masyarakat umum,” jelas Agus. I Gede Made Wirabrata menyampaikan presentasi tentang izin edar alat kesehatan (alkes) dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT). Alkes adalah alat yang yang biasanya dibutuhkan dalam melakukan praktek kesehatan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 220/Men.Kes/Per/IX/1976 tertanggal 6 September 1976 alat kesehatan sendiri memiliki arti adalah barang, instrumen aparat atau alat termasuk tiap komponen, bagian atau perlengkapan yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan untuk digunakan dalam: penelitian dan perawatan kesehatan, diagnosis penyembuhan, peringanan atau pencegahan penyakit, kelainan keadaan badan atau gejalanya pada manusia. Sementara PKRT berdasarkan Permenkes RI Nomor 1190/Menkes/Per/VIII/2010 adalah alat, bahan, atau campuran bahan untuk pemeliharaan dan perawatankesehatan untuk manusia, pengendali kutu hewan peliharaan, rumah tangga, dan tempat-tempat umum. “Saat ini alkes dan PKRT di Indonesia 90% masih impor, nilai TKDN (tingkat komponen dalam negeri) untuk satu produk dalam negeri pun menjadi sulit karena memang barang utuhnya saja dari luar negeri adalah 90%,” terang Wira. Dirinya mengatakan ada klasifikasi alat kesehatan A, B, C, D yang ditentukan berdasarkan kesepakatan dan sesuai standar WHO. Selain itu juga ada klasifikasi PKRT kelas 1, 2, dan 3. Wira meyakinkan pihaknya akan siap membantu perizinan edar alkes hingga selesai. “Kami akan terus mengawal termasuk dalam hal pengurusan administrasi,” tutup Direktur Penalkes (Penilaian Alat Kesehatan) – Dirjen Farmalkes (Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan). Sebagai informasi, Sharing Session ketiga via aplikasi Zoom yang diselenggarakan oleh Kedeputian IPT LIPI ini, diikuti oleh para peneliti dan dihadiri masyarakat umum. Lima Peneliti LIPI yang turut mempresentasikan kegiatan riset Covid-19 yaitu Swivano Agmal (P2 Fisika), Siti Nurul Aisyiah Jenie (P2 Kimia), Tjandrawati Mozef (P2 Kimia), serta Dedi dan Robert V. Manurung (P2 Elektronika dan Telekomunikasi), dengan pembawa acara Akhmad Darmawan serta dua orang moderator Roni Maryana dan Ahmad Randy dari P2 Kimia. (har, ed. nh, adl)

Baca

Atasi Pandemi COVID-19 dengan Nanoteknologi


10 Oktober 2020

Serpong, Humas LIPI. Di masa pandemi COVID-19 ini, nanoteknologi memiliki banyak peranan. Silvester Tursiloadi, Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2K – LIPI) membagi pengetahuannya tentang peran nanopartikel sebagai katalis dalam acara MIPA Talk Series #14, yang diselenggarakan oleh Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI) secara daring. Tampil sebagai Pembicara pertama, Tursiloadi menyampaikan presentasi dengan judul Nanoteknologi Katalis untuk Sintesa Farmasi. Tursiloadi menjelaskan prinsip dasar nanoteknologi; bahwa nanomaterial bisa diproduksi menggunakan dua strategi pendekatan yaitu top-down dan bottom-up. “Dalam pendekatan top-down, nanomaterial dibuat dengan memecah bahan curah menggunakan cara seperti mengurangi ukuran obyek yang kompleks ke titik di mana pengurangan skala ini mulai mengubah prinsip yang menjadi dasarnya,” paparnya. Tursiloadi mencontohkan prosedur sintesis dihidroartemisinin dari artemisinin dengan proses hidrogenasi menggunakan katalis Ni/TiO2. Pada preparasi TiO2, keberadaan sulfat sejak awal sintesis dapat menahan laju perubahan fasa dari anatase ke rutile ketika dikalsinasi pada suhu 500-750°C. Di akhir pemaparan, lulusan S3 dari Keio University Jepang ini menyimpulkan bahwa hidroartemisinin dapat digunakan sebagai kandidat anti COVID-19 yang sangat dibutuhkan saat ini. Pembicara kedua, Mochamad Chalid mempresentasikan peranan teknologi polimer di masa pandemik. Chalid menjelaskan tentang polimer dan siklusnya, jenis dan keunikan perilaku polimer, serta pengembangan bahan baku aditif polimer. Dosen Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik UI ini kemudian memaparkan penelitian terbarunya terkait COVID-19, yaitu pembuatan flocked swab stick. Swab stick ini berbentuk seperti lidi, cukup kecil, lentur, sehingga mudah untuk pengambilan sampel pasien di daerah nasofaring. “Flocked swab berbentuk seperti sikat yang berdiri tegak lurus terhadap permukaan swab stick, tetapi mampu menampung sampel cairan dengan memanfaatkan fungsi kapilaritas pada bentukan sikat tersebut,” jelasnya. Sementara Pembicara ketiga, Munawar Khalil, dari Departemen Kimia FMIPA UI memaparkan materi berjudul “Nanoteknologi vs Coronavirus: Strategi untuk Deteksi dan Inaktivasi”. Munawar menjelaskan bahwa nanopartikel dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi virus berdasarkan plasmonic photothermal yang tergantung pada ukuran dan bentuk. Inaktivasi virus dapat dilakukan melalui mekanisme eksternal dan internal stimulus, yakni interaksi nanopartikel yang difungsionalisasi dengan antibodi spesifik yang dapat merusak virus. (nh/ ed. adl)

Baca

Rambu-rambu Berinovasi Bidang Ilmu Kimia


26 September 2020

Sepong, Humas LIPI. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Kimia LIPI) menaruh perhatian besar pada pembinaan remaja Indonesia, terutama di bidang inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kimia. Indri Badria Adilina, salah satu peneliti Puslit Kimia LIPI, membagikan pengetahuan dan pengalamannya dalam program ‘Ngapel’ (Ngobrol Bareng Peneliti) pada Jumat (25/9). Acara bertema Rambu-rambu Berinovasi di Bidang Ilmu Kimia, disajikan secara live pada melalui kanal Instagram Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) LIPI. Indri menjelaskan bahwa inovasi merupakan suatu pengembangan ide yang memiliki 3 poin yaitu baru, bermanfaaat bagi masyarakat luas, dan mempunyai nilai jual di industri. Tujuan dari inovasi adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini, berbagai inovasi mutlak diperlukan untuk mengatasi wabah agar segera berakhir. “Metode yang tepat dalam berinovasi di masa pandemi adalah menemukan sesuatu yang baru, misalnya obat,” jelas Indri. “Kemudian melihat fasilitas atau bahan yang tersedia di alam, mencari tim yang satu visi, serta penelitian itu hendaknya mudah direplika/diulang oleh orang lain,” lanjutnya. Mengenai bahan alam yang layak dikonsumsi terutama di masa pandemi, Indri memaparkan bahwa bahan alam yang merupakan campuran senyawa harus diekstrak terlebih dahulu dengan berbagai pelarut, lalu difraksinasi, dan dianalisa struktur apa yang diinginkan. Jika sudah diperoleh senyawa murninya, lalu diuji lagi. Hasil yang didapatkan harus aman dan tidak mempunyai efek samping. “Secara kasat mata, bahan alam yang layak dikonsumsi memang tidak terlihat, sehingga harus dilakukan pengkajian secara ilmiah,” ujar pemenang L’Oreal Science Program 2013 ini. Terakhir, Indri menyampaikan pesan dan kesannya untuk generasi sains Indonesia. “Kimia tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, jadi, pastikan inovasi di bidang Kimia bermanfaat untuk peningkatan kualitas hidup dan menjawab pertanyaan saat ini,” pungkasnya. (nh/ ed. adl)

Baca

Alat Deteksi COVID-19 RT-LAMP Buatan LIPI


07 September 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga ilmu pengetahuna indonesia (LIPI) mengembangkan metode alternatif RT-PCR untuk mendeteksi COVID-19 yang bernama RT-LAMP pada program Laptop Si Unyil TRANS 7, Senin (7/9). Dengan alat yang sederhana, metode RT-LAMP mampu mendeteksi keberadaan material genetik virus dalam tubuh. Reverse transcription polymer chain reaction (PCR) atau swab test merupakan metode pertama atau standar utama yang digunakan dunia. Metode ini mendeteksi keberadaan material genetik virus dalam tubuh denganhasil akurat. Tetapi, uji RT-PCR masih membutuhkan peralatan canggih dan biaya yang tidak sedikit. Peneliti LIPI mempunyai inisiatif mengembangkan metode RT-LAMP (reverse transcription loop mediated isothermal amplification). Sama dengan RT-PCR, bahwa metode RT-LAMP juga membutuhkan sampel lendir yang diambil dari pangkal hidung dan pangkal tenggorokan pasien atau yang dikenal dengan swab test. Kemudian sampel pasien diekstrak dan dicampur dengan zat pereaksi atau dikenal dengan reagen. Setelah itu, sampel siap untuk diuji. Sayangnya alat yang digunakan dalam metode RT-PCR bernama thermocycler harganya bisa mencapai ratusan juta. Karena harganya mahal maka tidak semua alat atau rumah sakit mempunyai alat ini dalam metode pengujian PCR. Pada RT-PCR, sampel akan diberi suhu yang berubah-ubah dengan cepat. Dimulai dari suhu 50 0C sampai 96 0C. Oleh karena itu, butuh alat yang canggih untuk melakukan PCR. Dengan metode RT-LAMP, maka sampel hanya akan diberi suhu konstan yaitu 60 0C selama 30 sampai 60 menit. Dengan alat yang sangat sederhana, cukup menggunakan inkubator, water bath atau heat block. Untuk indikator positif atau negatif, dapat dilihat dari perubahan warna pada sampel dengan kasat mata. Apabila berubah menjadi keruh, maka sampel tersebut positif terpapar virus korona. Pengecekannya bisa juga menggunakan alat spektro. Alat ini secara otomatis akan memeriksa sampel mana yang berwarna keruh. Diharapkan dengan metode RT-LAMP, pengujian sampel bisa dilakukan di fasilitas-fasilitas kesehatan sederhana yang tersebar di pelosok Indonesia. (har/ ed. adl)

Baca
ZONA INTEGRITAS