: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

NAPARBA, Kolaborasi LIPI dengan University of Siegen dan Koc University


29 April 2021

Serpong, Humas LIPI. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 menekankan bahwa pemeriksaan (testing) merupakan hal yang sangat penting dalam mengendalikan penyebaran pandemi suatu penyakit. Keberadaan tes cepat (rapid test) pada masa pandemi COVID-19 menunjukkan betapa pentingnya fungsi dari sebuah tes cepat dalam diagnosis medis. Namun, media diagnostik untuk semua jenis patogen belum sepenuhnya tersedia. Bekerja sama dengan University of Siegen Jerman dan Koc University Turki, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan proyek NAPARBA (nanoparticle-based point-of-care detection of antibiotic-resistant bacteria). Proyek kerja sama riset NAPARBA merupakan kolaborasi dari tiga negara yaitu Indonesia, Jerman dan Turki dengan skema pendanaan dari SouthEastAsia-Europe Joint Funding Scheme (SEA-EU JFS) for Research and Innovation. Melalui Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI, LIPI melakukan kerja sama terkait pendekatan deteksi berbasis nanoteknologi untuk mendeteksi  penyakit yang disebabkan oleh bakteri pathogen secara cepat dan tepat, terutama bakteri yang memiliki resistensi tinggi terhadap antibiotik. “Contoh dari bakteri yang sifatnya resisten terhadap antibiotik adalah Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA), hal ini merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang telah mendunia, sehingga metode deteksi dan screening senyawa-senyawa antimikrobial sangat diperlukan,” ungkap Siti Nurul Aisyiyah Jenie, peneliti dari P2 Kimia LIPI yang mengetuai kerja sama riset NAPARBA. Disayangkan, metode deteksi yang sudah ada saat ini sangat mahal dan membutuhkan fasilitas laboratorium yang canggih serta orang-orang yang terlatih. “Dengan proyek NAPARBA ini diharapkan dapat dikembangkan rapid test yang memiliki kebaruan sehingga dapat mendeteksi bakteri secara selektif dan juga resistensi bakteri tersebut terhadap antibiotik,” terang Ais, panggilan akrabnya. “Dalam rapid test ini digunakan nanopartikel khusus yang memiliki sifat fluoresens, luminesensi, dan magnetik, yang selanjutnya dimodifikasi secara kimiawi sehingga mampu mendeteksi DNA bakteri secara spesifik,” imbuhnya. Ke depannya, metode ini memungkinkan untuk mendeteksi bakteri dan resistensinya yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada pasien hanya dalam beberapa menit, seperti MRSA dan dan bakteri lain pada implan di dalam tubuh seperti katup jantung buatan, alat pacu jantung, dan kateter. Kelebihan dari rapid test berbasis nanopartikel ini adalah penggunaannya yang mudah dan dapat digunakan di mana saja. “Selain itu, metode ini tidak memerlukan peralatan elektrik atau penambahan pelarut tertentu, sehingga dapat digunakan di area yang terpencil terutama di negara-negara berkembang,” ujar Aisyiyah. Pengembangan prototype rapid test NAPARBA ini direncanakan akan selesai pada tahun 2023. (whp/ ed. adl)

Baca

P2 Kimia Ucapkan Selamat Kepada Kepala BRIN


28 April 2021

Keluarga besar Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) mengucapkan selamat atas dilantiknya Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, menjadi Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) pada Rabu, 28 April 2021. Semoga amanah dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Baca

Peneliti Fotokatalis LIPI, Osi Arutanti


28 April 2021

Serpong, Humas LIPI. Osi Arutanti, merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang meneliti tentang riset fotokatalis. Bergabung dengan Pusat Penelitian Kimia LIPI sejak tahun 2018, Osi mengungkapkan tertarik dengan riset fotokatalis karena memanfaatkan cahaya matahari untuk mendegradasi polutan organik. Hal ini menurutnya sangat menarik apalagi di Indonesia yang limpahan sinar mataharinya sangat banyak. “Teknologi fotokatalis dapat dimanfaatkan oleh industri-industri baik rumahan maupun non rumahan, untuk pengelolaan limbah organik sebelum limbah tersebut dibuang,” ungkap peneliti yang meraih gelar doktoral di Teknik Kimia, Hiroshima University, Jepang pada tahun 2015 ini. “Penerapan teknologi fotokatalis untuk industri rumahan atau skala kecil bisa digunakan pada pabrik pengolahan makanan, tahu tempe atau industri batik, sedangkan untuk industri skala besar seperti tekstil atau obat-obatan farmasi,” lanjutnya. Pada tahun 2019, dirinya meraih penghargaan L’Oréal-UNESCO For Women in Science 2019. Ia meraih penghargaan berkat risetnya mengeksplorasi alternatif fotokotalis yang terjangkau, bisa direalisasikan, efisien, dan dapat diaktivasi dengan tenaga surya. “Air yang tercemar dapat menjadi terurai dan aman bagi lingkungan melalui proses fotokatalis yang dapat mendekomposisi polutan organik yang dipecah menjadi karbon dioksida dan H2O,” jelasnya. Saat ini, Osi sedang melakukan projek fotokatalis terkait water treatment (pengolahan air). Pada akhir tahun ia harap bisa menghasilkan produk yang jauh lebih baik dan bisa dimanfaatkan. Menurut perempuan yang menempuh pendidikan S2 dan S3 di Institut Teknologi Bandung ini, ada tiga hal yang sangat penting bagi seorang peneliti. “Yang pertama adalah dukungan moril seperti networking atau kebebasan bagi para peneliti dalam bergerak, yang kedua adalah dana penelitian dan juga fasilitas, karena bagaimanapun untuk mengembangkan penelitian kita tidak bisa lepas dari fasilitas dan ketersediaan material, yang ketiga adalah system,” urainya. Hal yang paling menyenangkan menjadi seorang peneliti menurut Osi adalah diberikannya kebebasan untuk berpikir dan berkreasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan atau bidang yang sesuai dengan keahlian. “Selain itu juga kita bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat atau bidang yang sama agar kita bisa mengembangkan ilmu pengetahuan bersama-sama,” ujarnya. “Peneliti tidak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan dukungan baik itu dari masyarakat maupun pemerintah,” terang Osi. “Harapannya, masyarakat juga dapat memberikan dukungan positif dan pemerintah bisa terus mendukung penelitian-penelitian yang ada di Indonesia, yang bergerak di bidang apapun,” pungkasnya. (whp/ ed. adl)

Baca

Riset Kartini LIPI dalam Mengatasi Pandemi


21 April 2021

Serpong, Humas LIPI. Memperingati Hari Kartini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan webinar Talk to Scientists dengan tema “Talenta Perempuan untuk Kemajuan Riset Indonesia”, pada Rabu (21/4). Acara ini membahas tentang bagaimana para Kartini riset LIPI menjalankan mimpinya, membagikan pengalaman, dan tantangannya mengeluti bidang riset untuk kemajuan iptek dan inovasi Indonesia. Dalam acara ini, hadir Kartini Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia - LIPI, Tjandrawati Mozef. Tjandra, demikian kerap disapa, ikut berpartisipasi membagikan pengalamannya sebagai peneliti, dengan mengusung tema “Riset Perempuan Peneliti dalam Menguak Potensi Sumber Daya Hayati Indonesia sebagai Sumber Antibiotik dan Antivirus”. Dirinya menyampaikan bahwa menjadi seorang perempuan itu perlu peka dan peduli terhadap masalah di sekitar. “Pada masa R.A. Kartini, kaum perempuan hidup terkekang, baik untuk menempuh pendidikan maupun bersosialisasi,” ungkapnya. “Beliau berusaha mencari solusi dan berkontribusi untuk memecahkan masalah tersebut, terus berjuang untuk tidak menyerah, konsisten dengan konsentrasi dan ketekunan,” lanjutnya. Sebagai peneliti, Tjandra mengungkapkan bahwa riset yang berguna untuk mengatasi masalah penyakit infeksi akibat mikroorganisme patogen sangat penting dan relevan. “Karena faktanya kita hidup berdampingan dengan berbagai makhluk mikro yang bersifat patogen bagi manusia, seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus,” jelasnya. “Belum semua penyakit yang berasal dari mikroorganisme tersebut ada vaksin dan obatnya, sehingga ancaman penyakit infeksi seperti SARS, H1N1, Ebola, MERS-CoV, dan saat ini SARS-CoV-2, sangat tinggi, serta ditambah pula mobilitas manusia yang tinggi pula,” urainya. Lulusan Institut Teknologi Bandung ini lalu menceritakan bahwa di berbagai lokasi di Indonesia memiliki aneka sumber daya hayati yang bisa digunakan sebagai antibiotik. Ada yang berasal dari dalam tanah dan tumbuhan, yang kemudian diidentifikasi kandungannya yang berpotensi sebagai obat. Kemudian di masa pandemi Covid-19, Tjandra dan timnya mengembangkan cara mendeteksi COVID-19 dengan metode RT-LAMP (reverse transcription loop mediated isothermal amplification) Turbidimetri. Metode ini diklaim lebih sederhana namun hasil deteksinya seakurat standar utama RT-PCR (reverse transcriptase polymerase chain reaction). Sebagai penutup, Tjandra menyampaikan bahwa R.A. Kartini juga menuangkan pemikiran-pemikiran baik melalui surat atau pun melalui tulisan, sehingga hasil perjuangan Kartini, kontibusinya berdampak panjang hingga saat ini. “Saat ini kaum perempuan berkesempatan bersekolah maupun berkarya dalam bidang yang disukai dan bisa berkiprah tanpa halangan,” tutur Peneliti Biokimia ini. “Perjuangan Kartini menjadi inspirasi, yakni ketika melakukan perjuangan itu, kita harus menghasilkan sesuatu hasil yang mempunyai kontribusi dan dampaknya panjang,” ucapnya. Dalam acara yang sama, Sekretaris Utama (Sestama) LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan, salah satu inspirasi R.A. Kartini adalah ketekunannya untuk melakukan perubahan. “Karakter beliau sangat relevan untuk kita semua, khususnya saat kita menghadapi Covid-19 dan juga menghadapi perubahan apa pun termasuk di dunia riset,” ujar Nur. “Adaptasi kebiasaan baru menuntut perempuan berperan untuk semakin adaptif meningkatkan peran ganda, berkiprah untuk rumah tangga, keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan untuk pengembangan diri sendiri,” imbuhnya. Di Indonesia, kemajuan riset tidak terlepas dari peran dan kiprah perempuan. Secara nasional, jabatan fungsional perempuan peneliti berjumlah 3.666 orang dari total 7.727 peneliti. Di LIPI sebagai lembaga penelitian terbesar nasional, rasio perempuan peneliti sekitar 48% dari 1.548 peneliti, yaitu 728 orang (data 2019). “Profesi peneliti di Indonesia merupakan profesi pilihan yang banyak digeluti oleh perempuan,” terang Sestama. (hrd/ ed. adl)

Baca

Kiprah Perempuan Indonesia Sebagai Peneliti Nanoemulsi


21 April 2021

Serpong, Humas LIPI. Turut memperingati Hari Kartini, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada Rabu (21/4) mengadakan webinar Hari Kartini 2021: Perempuan Indonesia Memperkuat Bangsa. Para perempuan perlu menyadari potensinya, agar bisa berkontribusi dalam segala bidang dan berperan dalam perkembangan generasi selanjutnya. Yenny Meliana, Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI) menjadi salah satu pembicara perempuan di acara ini. Yenny mengawali pemaparannya dengan menampilkan hasil-hasil risetnya selama berkarir sebagai peneliti di P2 Kimia LIPI. Karena ketertarikannya, Yenny aktif mengembangkan riset dengan sistem emulsi, khusunya nanoemulsi. “Saat ini saya mengembangkan riset untuk produksi dan komersialisasi nano solid parfum aromaterapi berbasis minyak atsiri di Indonesia yang mendapatkan pendanaan dari RISPRO LPDP,” ujarnya. “Doakan semoga nano solid parfum minyak atsiri segera bisa diluncurkan,” lanjutnya. Di masa pandemi COVID-19, Yenny juga turut melakukan riset terkait COVID-19, yaitu hand sanitizer atau antiseptik pembersih tangan. “Kami mengembangkan hand sanitizer berdasarkan formula WHO, namun kami tambahkan dengan minyak atsiri, nanosilver, dan bahan pelengkap lainnya hingga produk tersebut dapat aman dan nyaman digunakan,” jelasnya. Penerima National Fellowship Awards for Women in Sciences - L'Oreal UNESCO ini kemudian menjelaskan gambaran perempuan peneliti di dunia. “Jika berdasarkan survei yang dilakukan UNESCO, perempuan peneliti berjumlah 30 persen, namun ternyata berbeda jika kita melihat kondisi di suatu negara atau kawasan,” ungkapnya. “Bagaimana kondisi di Indonesia, menurut data tahun 2017, jumlah perempuan peneliti di LIPI sebanyak 41 persen dan jumlah dosen perempuan di perguruan tinggi berjumlah 44,2 persen,” ujarnya. “Hal ini cukup menggembirakan bagi kita perempuan peneliti di Indonesia,” imbuhnya. Peneliti Kimia Makromolekul ini lalu menjabarkan apa yang menjadi peluang dan tantangan terbesar bagi perempuan peneliti. “Saat ini sudah cukup baik fasilitas dan infrastruktur, tidak kalah dengan di luar negeri, yang perlu kita tingkatkan adalah bagaimana mengkomunikasikan hasil riset ilmiah dengan cara lebih sederhana, kemudian yang utama adalah hasil inovasi harus bisa dimanfaatkan,” urainya. Yenny melanjutkan dengan kriteria atau prinsip yang harus dimiliki bagi perempuan yang ingin jadi peneliti. “Pertama harus punya kepakaran, mau selalu belajar, tidak pernah merasa diri kita paling pintar, lalu harus punya etos kerja, ikhlas, jujur, dan istiqomah,” tuturnya. “Kunci sukses ada empat, 4T, timing (waktu), team work (koordinasi), targeted and time schedule (target dan jadwal kerja), serta trust (saling percaya),” pesannya. Di akhir presentasi, Yenny memiliki pesan bagi para prempuan di Indonesia. “Untuk rekan-rekan perempuan Indonesia, pesan saya, kalau kita yakin kita bisa, pantang menyerah, insya Allah yang kita lakukan akan berkah, tutup Yenny. (adl)

Baca

P2 Kimia LIPI Gandeng PT KAARLE dan PT GREENIE untuk Pengembangan Produk Asli Indonesia


15 April 2021

Serpong, Humas LIPI. Meskipun di masa pandemi, kolaborasi lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) pemerintah dan swasta atau industri tidak boleh berhenti. Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan hasil inovasi litbang, Pusat Penelitian Kimia - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) menjalin kerja sama dengan PT Kaarle Indonesia dan PT Greenie Alam Indonesia. Kolaborasi tersebut tertuang dalam acara penandatanganan dua buah perjanjian kerja sama (PKS) di Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, pada Kamis (15/4). Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas bukti produktivitas instasinya dan mitra industri. Untuk kerja sama dengan PT KAARLE telah ada beberapa produk turunan kelapa dan bumbu rempah tradisional Indonesia yang sempat diekspor. “Semoga ke depannya produk-produk kerja sama ini bisa sukses, laku di pasaran, ekspornya sukses, tetap semangat, jangan kalah dengan pandemi,” pesannya. Sementara untuk kerja  sama dengan PT GREENIE, Yenny mengucapkan terima kasih atas kerja sama pengembangan produk-produk ramah lingkungan asli Indonesia, seperti dari piring dan alas dari bahan limbah pelepah pinang, yang sudah mulai banyak permintaan, “Semoga lancar produksinya, bahkan bisa diekspor juga, itu merupakan kebanggaan bagi kami”  ujarnya. Sebelum diresmikan kerja sama ini, peneliti P2 Kimia LIPI dan pihak industri secara paralel mulai menjajaki pengembangan proses produksi bersama, baik dengan fasilitas yang ada di P2 Kimia dan yang ada di industri. Semoga dengan adanya legalitas PKS ini, ide-ide yang berasal dari masing-masing pihak bisa disinkronisasi agar terealisasi dengan baik. P2 Kimia LIPI selama pandemi ini telah menghasilkan sejumlah hasil riset, antara lain yang dihasilkan oleh Kelompok Penelitian (Keltian) Kimia Makromolekul dan Kimia Pangan. “Pada umumnya peneliti di P2 Kimia hanya menghasilkan dalam bentuk prototipe, alangkah baiknya jika bisa diproduksi massal baik untuk pasar dalam atau pun luar negeri,” ungkap Akhmad Darmawan, Koordinator Program Penelitian Kimia LIPI. Dalam kesempatan itu, Direktur PT KAARLE, Kiki Puspitasari, dan Direktur PT GREENIE, Ika Juliana, mengungkapkan rasa terima kasih atas kerjasamanya dengan LIPI, dan menyampaikan harapannya agar kerja sama dengan P2 Kimia LIPI ke depannya bisa semakin sukses. (adl)

Baca

Pemanfaatan Limbah Sawit Bagi Masyarakat


23 Maret 2021

Serpong, Humas LIPI. Secara mengejutkan bulan ini pemerintah mengeluarkan limbah kelapa sawit dari daftar limbah berbahaya dan beracun (B3). Mengapa pemerintah melakukannya? Apakah masyarakat, lingkungan, dan kesehatan tidak menjadi perhatian pemerintah? Kepala Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Yenny Meliana menjelaskan, limbah penyulingan kelapa sawit atau limbah spent bleaching earth (SBE) hanya mengandung alumina, silika, dan CAO yang benar-benar produk alam bumi.  “SBE sudah diekstrak kandungan minyaknya, dari 20-30% menjadi di bawah 3%, sesuai ketentuan KLHK, sehingga termasuk limbah non-B3, dan lebih mudah pemanfaatannya, karena tidak mengandung minyak serta logam berat,” jelasnya di acara siaran langsung Green Talk : Benang Kusut Limbah Berbahaya, Berita Satu TV, pada Senin (22/3). SBE merupakan limbah padat yang berasal dari proses pemurnian minyak kelapa sawit. “Jadi dalam proses kelapa sawit kita punya potensi neraca massa kelapa sawit,” ujar Melly kerap disapa. “Riset yang kami lakukan dari limbah kelapa sawit menghasilkan tandan buah segar, kemudian ada produk utamanya yang akan menghasilkan minyak itu sendiri, lalu ada minyak biji sawit dan juga ada crude palm oil (CPO) minyak sawitnya,” urai peneliti P2 Kimia – LIPI. Menurut Melly, selain produk utama, ada pula produk samping dari kelapa sawit, yakni tandan kosong kelapa sawit, serat, cangkang, limbah cair pomin, dan seterusnya. “Secara riset, semua produk samping dapat langsung dimanfaatkan untuk suatu produk yang lebih berguna,” ungkap Melly. “Terkait serat, para peneliti LIPI telah melakukan riset menghasilkan produk micro fiber cellulose dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS), aplikasinya sebagai serat optik,” sebutnya. “Kami juga melakukan riset TKKS sebagai bahan bakar untuk bioetanol generasi dua yang setara dengan bensin, jadi yang kami lakukan bisa seperti pemanfatan SBE,” lanjut Melly. Dirinya menjabarkan bahwa secara riset, SBE dengan kadar minyak lebih dari tiga persen, bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk energi, selain itu SBE bisa diolah sebagai bahan non-B3 dengan kadar di bawah tiga persen. “SBE bisa dimanfatkan menjadi produk-produk yang bisa digunakan lagi, dengan nilai ekonomi yang lebih, dan layak bagi lingkungan, telah ditentukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa harus di bawah tiga persen,” terangnya. Lulusan program doktor teknik kimia National Taiwan University of Science and Technology ini mendukung tentang masalah limbah SBE untuk dilakukan kajian ke dalam aspek lingkungan, penempatan, dan kesehatannya. “Penempatan limbah ini memang masih tahap pengawasan dan kajian teknisnya akan terus dilakukan, sebelum dapat dibuang langsung ke lingkungan,” tutupnya. (hrd/ ed. adl)

Baca

LIPI Serpong Terima Bantuan Penanggulangan Covid-19


17 Maret 2021

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan  Indonesia (LIPI) Serpong, menerima bantuan penanggulangan penyebaran Covid-19 dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Gedung 456, Puspiptek, Serpong, pada Rabu (17/3). Bantuan tersebut diserahkan oleh Relationship Manager (RM) BRIGuna Serpong, Unang Tri W., kepada perwakilan dari LIPI Serpong, Yenny Meliana. Yenny Meliana menyampaikan terima kasih kepada BRI yang sudah memberikan bantuan dari BRI Peduli Covid-19, beserta masker medis, thermogun, face shield, dan hand sanitizer. “Tentu saja akan sangat bermanfaat terutama untuk para karyawan LIPI yang saat ini banyak bekerja di kantor,” ujarnya. “Semoga ke depan semuanya sehat dan bersemangat selalu dalam berkerja,” lanjut Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI. Senada dengan LIPI, RM BRIGuna, Unang Tri W., turut menyampaikan harapannya dengan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) ini, yakni akan terjalin hubungan yang lebih baik dan bisa menjadi sinergi antara BRI dan LIPI . “Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan BRI membantu untuk pencegahan penyebaran Covid-19 di lingkungan LIPI,” jelasnya. (hrd/ ed. adl)

Baca

Penyintas Covid-19 Kimia LIPI Berbagi Pengalaman


15 Maret 2021

Serpong, Humas LIPI. Di tengah tugas sebagai aparatur sipil negara (ASN), ada potensi terkena Covid-19 yang tidak bisa dihindari. “Pada masa pandemi Covid-19, yang bisa kita lakukan adalah berupaya untuk melakukan pencegahan dan ikhtiar,” jelas jelas Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko, pada pembukaan Webinar LIPI Town Hall Meeting 2021 pada Jumat (12/3). Handoko mengatakan, apabila seorang sivitas ASN terkena Covid-19, yang paling memiliki peran tentu adalah keluarga dan keluarga, baik keluarga inti maupun keluarga besar LIPI. “LIPI menjadi ‘keluarga kedua’ sivitas, sehingga kami juga berupaya untuk memberikan solusi bagi teman-teman yang terkonfirmasi positif, yakni bisa memanfaatkan berbagai fasilitas asrama, wisma tamu, apartemen, dan sebagainya,” ujarnya. “Kita semua berupaya untuk selalu terbuka menyampaikan informasi bahwa tidak menganggap yang terkonfirmasi sebagai suatu hal yang tabu, sehingga harus disampaikan dan sebaliknya teman-teman di sekitarnya harus berupaya membantu sebagai bagian dari keluarga besar LIPI,” lanjutnya. Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas menyampaikan berdasarkan laporan Satgas Covid-19 LIPI, bahwa dari sekitar 3.900 pegawai LIPI hingga saat ini, ada 105 orang yang sudah terkonfirmasi positif dengan total 79 orang sembuh, 20 orang dirawat, dan 6 orang meninggal. “Acara ini dilandasi atas keprihatinan adanya sivitas beserta keluarganya yang terkena Covid-19”, ungkap Nur. “Di sini semua narasumber, termasuk moderator dan host merupkan penyintas Covid dan keluarganya juga terkonfirmasi,” imbuhnya. “Pengalaman mereka berjuang mengatasi Covid penting untuk kita ketahui dan kita petik pelajaran dan pembelajarannya, karena itu bisa terjadi pada siapa saja dan lebih siap jika ada yang terjadi di sekitar kita, serta tentunya selalu berdoa agar kita terbebas dari Covid, tambahnya. Sivitas Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI, Silvester Tursiloadi turut menceritakan pengalamannya terkena Covid-19 dan bagaimana berjuang melawan virus tersebut. Dirinya menghabiskan waktu selama sekitar satu bulan dirawat di rumah sakit setelah hasil tesnya positf. Waktu itu, Silvester bekerja di kantor dan tiba-tiba merasakan badan panas. Kemudian Peneliti P2 Kimia ini ijin pulang cepat. Salah satu anaknya, bertindak cepat untuk diperiksa ketika orang tuanya mengalami gejala panas. "Sebelumnya saya sempat menolak dites karena tidak merasakan gejala apa pun, hanya badan panas 37 derajat Celsius," katanya. “Kemudian kami satu keluarga diperiksa tes antigen dengan dokter dan hampir semua hasilnya positif," imbuhnya. Dirinya tidak mengetahui pasti dari mana mendapatkan infeksi Covid-19. "Mungkin sempat bertemu beberapa orang, pernah belanja ke minimarket, dan di lingkungan sekitar juga ada yang tidakk mengenakan masker," pikir Adi kerap disapa. Sehari-hari di keluarganya, semua anggota keluarga bekerja seperti biasa. Ada yang bekerja dengan mengendarai kendaraan kereta api dan ada juga yang kerja tidak jauh dari rumah. “Kami di keluarga sudah melakukan protokol kesehatan dengan ketat. Seperti melaksanakan tiga M, bahkan mandi dan berganti pakaian sebelum masuk ke rumah,” ucapnya. Meskipun demikian, profesor riset LIPI ini pun akhirnya menjalani perawatan di rumah sakit, yakni UGD (unit gawat darurat), ICU (intensive care unit), dan kamar perawatan. Sementara istri dan anak-anaknya isolasi mandiri di rumah. Dirinya mengucapkan terima kasih atas dukungan dari lingkungan sekitar rumahnya dan P2 Kimia LIPI yang sudah membantu. “Semoga pengalaman ini tidak terulang kembali,” tutupnya. (hrd/ ed. adl)

Baca

Kolaborasi Peneliti dan Pemprov Banten


04 Maret 2021

Serpong, Humas LIPI. Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) Provinsi Banten menyelenggarakan acara pengukuhan pengurus dan acara webinar dengan topik Peran Peneliti dan Dukungan Riset untuk Pembangunan Daerah pada Rabu (3/3). “Webinar ini dimaksudkan sebagai forum komunikasi dan berbagi informasi antara Provinsi Banten, peneliti, akademisi, dan masyarakat Banten terkait kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dalam pembangunan Provinsi Banten,” terang ketua panitia Salim Mustofa dalam laporannya. Sejak awal berdiri pada 10 Desember 2020, Himpunan Peneliti Indonesia Provinsi Banten (HPB) sudah berkomitmen untuk bersinergi dengan pemerintah daerah Banten dalam menopang pembangunan di Provinsi Banten. Dalam sambutannya, Ketua HPB Lukman Salahuddin, mengungkapkan perlunya memberi kesempatan kepada peneliti untuk berkibar. “Barangkali selama ini banyak peneliti yang tidak tahu ke mana langkah penelitian selanjutnya atau strategis apa yang mesti difokuskan,” ungkapnya. Dirinya berharap agar pemerintah berperan untuk memfasilitasi, menginkubasi, dan membuat kebijakan lain yang mendukung. “Melalui Himpenindo ini, saya berharap peneliti lebih produktif, membanggakan, pemberi solusi permasalahan, dikenal karyanya, dan diapresiasi oleh kepala daerah maupun seluruh pemangku kepentingan,” imbuh Ketua HPB. Sebagai pembukaan, Sekretaris Jenderal Himpenindo Pusat, Husein Avicenna Akil, menyampaikan, dengan adanya Himpenindo Provinsi Banten ini, dapat memberikan manfaat bagi provinsi Banten. “Kita tunjukkan bahwa kita bisa berkerja sama dengan semua ilmuwan yang ada di Provinsi Banten ini,” tegasnya. “Di Banten ini ada kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) yang merupakan gudangnya ilmuwan, maka bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya karena Puspiptek merupakan suatu ikon terbaik yang ada di negara kita, juga menjadi motor untuk kepenelitian bagi peneliti yang ada di Indonesia,” Akil mengingatkan. Menginjak ke acara inti webinar, Peneliti Utama Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Silvester Tursiloadi, memandu paparan dua narasumber, yaitu Linda Al Amin Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Jawa Barat, dan Muhtarom Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Provinsi Banten. Pembicara pertama, Linda Al Amin mengatakan, apa pun yang dilakukan oleh BP2D ini harus jelas kebermanfaatannya dan tujuannya bagi perangkat daerah. “Antara lain BP2D menyusun kajian penelitian yang bisa dimanfaatkan oleh perangkat daerah,” ujarnya mengawali. BP2D adalah penghubung antara pemerintah provinsi dengan berbagai perguruan tinggi, lembaga litbang, masyarakat, media, dan komunitas yang terkait dengan penyediaan kajian, iptek, inovasi, dan penelitian. “Berbagai hasil kajian dari BP2D maupun kolaborasi dari perguruan tinggi dan litbang langsung kami diseminasikan dan disaksikan seluruh perangkat daerah yang ada di Jawa Barat,” jelas Linda. Pembicara kedua, Gubernur Banten diwakili oleh Kepala Bappeda Banten, Muhtarom menyampaikan bahwa Bapak Gubernur ingin agar teman-teman peneliti bisa memberikan sumbangsihnya terkait dengan pembangunan provinsi Banten. Banten hampir memiliki segalanya dalam rangka kesejahteraan masyarakat. Gunung, pantai yang luas, perkebunan yang luas, perikanan, pusat-pusat kajian teknologi, objek wisata agar dapat dikelola dengan baik. “Pengelolaan ini tidak bisa dilakukan secara optimal ketika kita tidak punya dasar yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan,” kata Gubernur Banten melalui Kepala Bappeda. Pengelolaan potensi alam harus dilakukan melalui riset atau hasil penelitian. “Oleh karena itu keberadaan tim peneliti menjadi sangat penting yang berjalan bersama dengan pemerintah provinsi dengan lima misinya, yaitu tata kelola, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan ekonomi,” urainya. “Ketika hasil penelitian secara akurat dapat diandalkan, maka lebih mudah dalam menangani permasalahan-permasalahan pembangunan yang untuk kesejahteraan masyarakat,” tutup Muhtarom. (har/ ed. adl)

Baca

Baju Hazmat Antimikroba Lapis Nanopartikel


01 Maret 2021

Serpong, Humas LIPI. Sejak pandemi Covid-19, masyarakat Indonesia menjadi familiar dengan istilah baju hazmat (hazardous material suit). Baju hazmat ini wajib digunakan oleh tenaga kesehatan (nakes) sebagai alat pelindung diri (APD), saat menangani pasien Covid-19. Mengamati hal tersebut, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Joddy Arya Laksmono, tertarik melakukan  riset tentang APD, dengan mengenalkan pakaian hazmat yang antimikroba dengan teknologi nano. “Kami menanamkan materi antimikroba pada hazmat tersebut, agar bisa nyaman dipakai sekaligus melindungi dari mikroba-mikroba, khususnya bakteri, jamur, dan virus,” ujar Joddy pada acara dialog To The Point, Radio RRI Pro 3, Minggu, (28/2) via Zoom. Dirinya menjelaskan bahwa umumnya pori-pori pakaian hazmat itu ukurannya sangat kecil, sehingga sirkulasi udara pada hazmat agar terhambat. Pada riset hazmat, bahan yang dikembangkan sifatnya breathable (mudah bernapas), agar selain aman, juga nyaman digunakan oleh para tenaga kesehatan. “Seperti kita ketahui, tenaga medis sekali pakai bisa memakai hazmat sampai 6-7 jam, dan itu cukup menguras tenaga karena panas pada tubuh kurang dapat dikeluarkan pada baju Hazmat, jadi kami kembangkan APD yang sirkulasi udaranya baik,” urainya Dengan dipandu oleh penyiar Desi Natalia, Joddy menggambarkan bahwa kain yang breathable itu memiliki pori-pori. “Kami menggunakan kain yang berpori dengan berdiameter lebih besar dibandingkan bakteri, kemudian kami lindungi pori tersebut dan lapisan pada kainnya menggunakan bahan yang memiliki sifat antimikroba,” terangnya. Menurut Joddy, alat pelindung diri ini sudah siap digunakan oleh para nakes atau dokter yang bekerja di ruang operasi. “Bahan material ini sudah uji SARS-Cov-2 dan memiliki potensi penghambatan terhadap pertumbuhan Covid-19 di atas 80%, artinya kalau kita tanamkan di dalam bahan tekstil atau bahan hazmatnya, saya cukup yakin bisa menghambat pertumbuhan Covid yang berasal dari airborne atau penyebaran lewat udara,” tegas Joddy. Dalam menjalankan kegiatan ini, Joddy yang berlatar berlakang teknik kimia berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu. Baik dari segi biologi, material, virus, dan tekstil yang berasal dari instansi LIPI, ITB, dan UGM. Sementara untuk biaya harga baju hazmat, Joddy menjelaskan biaya produksi bisa di bawah harga normal karena pasokan dalam negeri cukup untuk bahan baku pembuatan pakaian hazmat antimikroba. “Perkiraan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) sekitar 70 persen, jadi ini bisa menekan biaya produksinya, sehingga harganya pun bisa lebih murah,” jelasnya. Bagaimana cara kerja lapisan antimikroba, Joddy menjabarkan secara sederhana proses pelapisan nanopartikel ini melindungi pakaian hazmat. “Dalam komposisi hazmat antimikroba, ada semacam partikel yang terlarut di dalam suatu wadah berbahan dasar air, kemudian hazmat yang akan digunakan dilapiskan dengan menggunakan nanopartikel yang memiliki sifat antimikroba,” terangnya. Sebagain penutup, Joddy menyampaikan bahwa penelitian ini juga bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) yaitu rumah sakit UI yang bersedia untuk dilakukan uji klinis. “Jadi pertama kami akan memproduksi sejumlah hazmat, kemudian kami bagikan kepada para tenaga kesehatan di RS UI, lalu dilihat dan diuji efektivitasnya,” tutup Koordinator kelompok penelitian Kimia Makromolekul ini. (hrd, mfn/ ed. adl)

Baca

Solusi Sampah Plastik Melalui Daur Ulang dan Material Alternatif Ramah Lingkungan


28 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Sampah plastik menjadi masalah global yang krusial. Berangkat dari masalah tersebut, lebih dari 60 negara mengambil langkah praktis dengan melakukan pembatasan penggunaan sampah plastik. Pelarangan plastik idealnya perlu diimbangi dengan pengelolaan sampah dan insentif finansial untuk mengubah kebiasaan konsumen dan pelaku industri, sehingga nantinya dapat didorong terbentuknya model sirkular dalam produksi plastik, dari sampah plastik kembali menjadi plastik lagi. Muhammad Ghozali, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Kimia - LIPI) menyebutkan ada dua solusi dalam mengatasi sampah plastik, yaitu secara kuratif dan preventif. “Cara kuratif meliputi reuse (penggunaan kembali), reduce (pengurangan), recycle (daur ulang), dan bank sampah. Sedangkan cara preventif adalah dengan mengubah kebiasaan masyarakat dengan menerapkan smart behaviour (kebiasaan cerdas) dan mengembangkan material yang bersifat biodegradasi,“ terang Ghozali. Peneliti Kimia Polimer ini menerangkan salah satu inovasi yang telah dikembangkan oleh Puslit Kimia LIPI, yaitu material biodegradasi. Riset yangdilakukan oleh dirinya dan tim menghasilkan produk inovasi ramah lingkungan, diantaranya berupa pelet, kantong plastik yang bisa terbiodegradasi (biodegradable plastic), dan wadah makanan yang terbuat dari biofoam sebagai pengganti sterofoam. Selain itu, kertas hasil dari limbah biomassa (biopaper) juga bisa  dikembangkan menjadi kertas laminasi bioplastik pengganti kertas minyak dan gelas kertas (paper cup). “Dengan adanya inovasi ini, kami berharap bisa mengurangi penebangan hutan di Indonesia yang disebabkan karena produksi pembuatan kertas,” ujarnya. Di Indonesia, sudah cukup banyak yang bergerak di industri daur ulang, termasuk industri daur ulang botol plastik untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat. Salah satunya adalah PT. Plasticpay Teknologi Daurulang yang bergerak dalam bidang pengumpulan sampah botol plastik dengan memakai aplikasi bernama PlasticPay. Suhendra Setiadi, CEO dari PT. Plasticpay Teknologi Daurulang mengatakan tujuan utama dari produk daur ulang adalah memperpanjang siklus hidup dari sebuah produk sehingga bisa dikembangkan kembali menjadi produk lain yang bermanfaat. “Harapan kedepannya adalah ketika fungsi produk telah menjadi tidak seusia dengan tujuan awalnya, akan ada teknologi atau terobosan terbaru dari peneliti-peneliti kita di Indonesia, agar produk tersebut bisa dikembangkan kembali dan tetap bisa bermanfaat,” harapnya. Acara webinar ini diselenggarakan dalam memperingati minggu Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2021, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) mengadakan webinar “Solusi Pengelolaan Sampah Terintegrasi dari Aspek Teknis Melalui Daur Ulang dan Bioplastik” pada hari Kamis (25/2). Topik yang diangkat adalah bagaimana menyelesaikan tantangan sampah plastik melalui pendekatan daur ulang serta bioplastik, baik dalam kapasitas kita sebagai individu maupun sebagai entitas bisnis atau lembaga. (whp/ ed. adl)

Baca

Riset Nanopartikel Perak untuk APD Tenaga Medis


25 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Joddy Arya Laksmono, mengembangkan inovasi nanopartikel perak atau nanosilver, untuk kebutuhan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis. Nanosilver tersebut memiliki bentuk kristal, konsentrasi, stabilitas, dan ukuran partikel yang dikembangkan melalui rekayasa teknologi proses kimia. Dari beberapa literatur penelitian, telah dilakukan investigasi terhadap beberapa jenis material yang mempunyai fungsi sebagai antibakteri. Material-material tersebut diantaranya tembaga, seng, titanium, magnesium, emas, alginat, dan perak. Joddy menyampaikan bahwa nanosilver diketahui mempunyai aktivitas anti bakteri karena memiliki luas permukaan yang besar untuk melakukan kontak dengan sangat baik terhadap mikroorganisme. Selama proses difusi berjalan, nanosilver mendekat pada membran sel bakteri dan melakukan penetrasi ke dalam mikroba. “Dari hasil penelitian, nanosilver memiliki kemampuan antimikroba terhadap bakteri, virus, dan mikroorganisme eukariotik,” ujarnya saat diwawancarai Humas LIPI. Saat ini Joddy dan tim sedang dilakukan proses penelitian mengenai proses impregnasi partikel nanosilver pada kain bahan APD. “Distribusi nanosilver serta proses ikatan kimia-fisik yang terjadi pada permukaan kain APD menjadi hal yang mendapatkan perhatian utama dalam penelitian, karena berkaitan dengan efektivitas dan unjuk kinerja dari nanosilver, sebagai material antimikroba pada permukaan kain APD,” jelasnya. Lebih lanjut, Joddy menjelaskan bahwa membran bakteri mengandung protein, dengan senyawa sulfur sebagai komponen utamanya. Nanosilver melakukan interaksi dengan protein ini, kemudian berinteraksi lagi dengan fosfor yang mengandung senyawa-senyawa seperti DNA. “Pada saat nanosilver masuk ke dalam sel mikroorganisme, terbentuk daerah dengan berat molekul yang rendah di tengah gumpalan bakteri, gumpalan ini berfungsi untuk melindungi DNA. Selanjutnya nanosilver melakukan difusi dan menyerang rantai pernafasan mikroorganisme, hingga pada akhirnya sel tersebut menjadi mati,” urai Joddy. Partikel perak dengan ukuran nano atau nanosilver ini memiliki sifat yang unik karena pengaruh dari ukuran kuantum dan permukaannya. “Dengan sifat yang unik ini, aplikasi dari nanosilver sangat luas seperti untuk tekstil antibakteri, sedangkan polimer yang mengandung nanosilver dapat diaplikasikan pada kulkas, penanak nasi, film plastik, botol vakum, kontainer plastik, dan tempat sampah, selain itu juga dapat diaplikasikan pada bidang optik mikroskop, “ terang lulusan program doktoral dari Universitas Indonesia ini. (har/ ed. adl)

Baca

Penanganan Sampah Medis Plastik dengan Rekristalisasi


23 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Sampah medis plastik berupa alat pelindung diri seperti masker, pelindung wajah, sarung tangan, penutup kepala, dan sebagainya sangat mewabah di era pandemi Covid-19. Lalu penanganan apa yang harus dilakukan? Dyah, salah satu teman pemilah, dari Instagram (IG) @pilahsampah tertarik sekali membaca artikel yang terbit di harian Kompas, 15 Februari 2021, mengenai bagaimana mengolah sampah medis plastik dengan metode rekristalisasi. Di dalam artikel disebutkan metode rekristalisasi dinilai mudah dan tidak membutuhkan energi tinggi. Komunitas pilah sampah sendiri selama ini programnya adalah mengajak masyarakat  untuk turut serta dalam memilah dan mengolah sampahnya dari lingkungan masing-masing. Menurut Dyah, saat ini banyak dari teman pemilah yang bertanya-tanya tentang sampah medis terutama masker, yang merupakan barang wajib dikenakan hampir sepanjang hari. Menjawab hal tersebut, salah satu peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI Sunit Hendrana memberikan pencerahan mengenai teknologi yang dikembangkan di akhir tahun 2020 kemarin. Sunit menjelaskan, sampah medis semacam masker terbuat dari bahan plastik. Maka kalau kita buang dapat menimbulkan masalah lain selain kuantitasnya, juga menimbulkan masalah mikroplastik. Metode rekristalisasi bisa dijadikan salah satu alternatif dalam pengolahan sampah medis plastik. Teknologi ini berfungsi memurnikan plastik menjadi serbuk seperti kristal dan bisa digunakan kembali sebagai sumber bahan baku ulang untuk produk plastik karena tingkat kemurniannya di atas 90%. Metode ini dapat diterapkan pada hampir semua jenis plastik, selain masker medis yang berjenis poripropilena (PP), juga GeNose berbahan poliviniklorida (PVC) dan polietilana (PE), busa berbahan polistirena (PS), dan sampel lainnya. “Semua limbah medis yang unsur penyusunnya adalah senyawa plastik PE (polietilen), PP (polipropilen), PVC (poli vinil klorida), PS (polistirena), PMMA (poli metil metakrilat), PC (polikarbonat), itu bisa diolah dengan rekristalisasi kecuali polietilena tereftalat (PET) karena akan kesulitan mendapatkan pelarut yang sesuai,” tambah Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Penelitian Kimia Makromolekul. Dalam menangani sampah plastik atau menonaktifkan virus sampah, menurutnya yang perlu diperhatikan adalah dengan tahap penguapan yaitu menyediakan toples atau wadah yang tertutup dan transparan, agar matahari bisa masuk, dan antiseptik, kemudian dipanaskan hingga menguap. Sementara ini, Sunit menyarankan sampah medis  yang sudah dikumpulkan, dipilah agar dapat disalurkan dengan metode rekristalisasi di skala komunitas atau lingkungan sendiri, sehingga tidak harus tersentral, tetapi desentralisasi pengolahan sampah. “Artinya kita bisa mengolah sampah medis plastik yang kita hasilkan dari kita sendiri, lingkungan komunitas, sehingga tidak harus ke pusat pengolahan sampah medis yang jaraknya jauh dan sebagainya,” ujarnya. Metode teknologi rekristalisasi sebenarnya bukanlah temuan baru, melainkan teknologi di tahun 1970-an. Dari teknologi inilah Sunit dan tim memberikan sentuhan inovasi, dengan aplikasinya untuk memurnikan plastik. Yakni memisahkan plastik dan memurnikan plastik dengan cara dilarutkan dan diendapkan. “Jadi dari sampel-sampel seperti masker medis yang direkristalisasi, kita bisa menentukan bagaimana bentuk produk akhirnya, jika ingin bentuk serbuknya halus atau kasar, kita bisa mengatur di dalam proses,” terang pakar polimer ini dalam IG Live @pilahsampah pada Rabu (17/2). (hrd/ ed. adl)

Baca

Perkembangan Teknologi dan Regulasi Bioetanol


23 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Saat ini sekitar 40% kebutuhan bahan bakar minyak di Indonesia berasal dari impor, terutama jenis bensin. Hal ini memberikan kontribusi terhadap CAD (current account defisit) nasional sebesar 9.3 Billion US dolar pada tahun 2019. Sementara itu, Indonesia dikaruniai jumlah biomassa yang melimpah, diantaranya biomassa sawit yang potensial menjadi bahan green gasoline dan bioetanol. Dalam rangka menginformasikan potensi bioetanol tersebut, maka Pusat Unggulan Iptek (PUI) Pusat Penelitian Bioetanol G2 – Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) dan PT Mipcon Group menggelar Webinar Series 1 bertema “The Latest Improvement, Regulation & Technology Development for Global Bioethanol and Industry,” pada Senin (22/2) secara virtual. Sebagai pembukaan, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono, menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian aktivitas di LIPI dan menjadi pusat unggulan bioetanol generasi kedua. Forum ini dapat mempertemukan para peneliti, praktisi, akademisi, dan indsutri untuk saing berbagi informasi dan hasil penelitian. “Kami berharap kegiatan ini menjadi akselerasi penelitian dan inovasi yang berkelanjutan, khususnya untuk industri bioetanol dan biofuel,” ujarnya. “Tidak hanya berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bioetanol dan biofuel, tetapi juga menjadi kesempatan baru dalam meningkatkan penelitian dan pengembangan teknologi masa depan, serta peluang kolaborasi masa depan antara para akademi, peneliti, dan industri,” lanjutnya. Senada dengan Deputi, President Director PT Mipcon Konsultan Utama Imam Baehaqi turut menyampaikan bahwa pengembangan energi terbarukan khususnya bioetanol untuk bahan bakar sudah lama dibicarakan dan disinggung oleh banyak pihak. Meskipun pada kenyataannya selalu  ada pertentangan yang harus dihadapi untuk bisa secara berkelanjutan menjadi alternatif sumber bahan energi terbarukan. “Kami menyadari bahwa banyak tantangan yang harus dipecahkan, oleh karena itu riset-riset yang mendukung pengembangan teknologi untuk industri bioetanol menjadi ikut berkembang hingga saat ini. Baik yang berfokus kepada intensifikasi proses yakni bagaimana membuat proses produksi bioetanol menjadi efektif, maupun yang berfokus kepada ekstensifikasi proses yakni memperbanyak varian-varian bahan baku, agar produk bioetanol menjadi lebih kompetitif sebagai sumber energi,” urai Imam. “Kita semua mengharapkan agar webinar ini bisa menumbuhkan keyakinan bersama semua praktisi, peneliti, akademisi bahwa bioetanol ini bisa menjadi sumber energi terbarukan dan berkelanjutan di negara Republik Indonesia,” tambahnya. Pada kesempatan yang sama Yanni Sudiyani dari P2 Kimia LIPI mengatakan bahwa Bioetanol adalah sumber energi potesial untuk mengurangi bensin untuk pemanfaatan transportasi. Kegiatan penelitian dari aspek bahan baku, lingkungan, dan ekonomi telah dilakukan di banyak negara juga di Indonesia. “Industri bioetanol Indonesia ada yang memanfaatkan bahan pangan sebagai bahan baku, sementara itu, perguruan tinggi, dan lembaga peneltian dan pengembangan telah melakukan penelitian untuk menghasilkan bioetanol generasi kedua atau ketiga,” ungkapnya. “Rencana pemerintah Indonesia adalah meningkatkan pemanfaatan campuran bioetanol dan bensin untuk transportasi hingga 15% pada tahun 2025. Perkembangan teknologi di setiap generasi merupakan tantangan bagi lembaga penelitian dan pengembangan lokal dalam mengembangkan teknologi produksi bioetanol dengan memanfaatkan biomassa lokal,” imbuh Profesor Riset LIPI tersebut. Pada webinar yang digagas oleh P2 Kimia LIPI dan PT Mipcon juga menampilkan oleh beberapa narasumber yaitu Dadang Kusdiana (Director General of EBTKE Ministry of Energy and Mineral Resources), Noguchi Ryozo (Faculty of Life and Environmental Sciences, Jepang), dan Lakhadive Umesh Ramesh (Director, Crab & Taur Pte. Ltd, Singapura). Acara ini dipandu oleh pembawa acara Wijayanti Herlis (BKHH LIPI) serta moderator Roni Maryana (P2 Kimia LIPI) dan Muhammad Rizal (PT Mipcon). (hrd/ ed. adl)

Baca

Rekristalisasi untuk Daur Ulang Limbah Masker Sekali Pakai


17 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Sunit Hendrana Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memaparkan salah satu pengembangan LIPI tentang Metode Daur Ulang Limbah Medis Plastik dengan Rekristalisasi dalam webinar ‘Pengelolaan Limbah Masker Di Masa Pandemi Covid-19!’: Jangan Buang Maskermu pada Selasa (16/2). “Dengan cara rekristalisasi maka hasil daur ulang sampah seperti masker, APD dan sebagainya  dapat kembali digunakan kembali dengan kualitas yang sama,” ujarnya. Sunit yang berasal dari Kelompok Penelitian Kimia Polimer ini mengungkapkan bahwa dirinya dan tim telah biasa melakukan pemurnian plastik dengan cara rekristalisasi. “Ketika kami melakukan penelitian dengan plastik, harus bisa dipastikan sampel plastik itu murni tidak ada bahan aditif dan lainnya, oleh karena itu kami melakukan rekristalisasi untuk memurnikan,” terangnya. Pada Oktober tahun 2020, tim Sunit memulai melakukan rekristalisasi sampah medis karena sampah jenis ini lebih memiliki potensi berbahaya menjadi sampah mikroplastik dan juga mencemari ekosistem sampah lautan lainnya. “Proses daur ulang plastik dengan rekristalisasi ini meliputi pemotongan plastik, pelarutan plastik, pencampuran dengan anti pelarut, pengendapan pada anti pelarut, serta pemisahan pelarut dan anti pelarut, maka akan diperoleh suatu plastik murni tanpa degradasi yang memiliki manfaat dan fungsi sebagai plastik dengan kualitas serupa,” urai peneliti ahli utama ini. Terdapat sejumlah jenis plastik limbah medis yang dapat didaur ulang menggunakan metode rekristalisasi menurut Sunit. “Yang dapat diterapkan melalui metode rekristalisasi adalah jenis plastik polyyethylene (PE), polypropylene (PP), polyvinyl chloride (PC), dan polystyrene (PS),” ungkap peneliti lulusan The  University of Queensland, Australia ini. Sunit Hendrana menjadi salah satu narasumber dalam webinar yang diselenggarakan untuk menyongsong Hari Peduli Sampah Nasional tahun 2021 yang jatuh pada Hari Sabtu 20 Februari 2021. Belum usainya pandemi Covid-19, LIPI bekerja sama dengan Satuan Tugas Penanganan Covid nasional dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, serta Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), membahas banyaknya limbah medis yang dihasilkan dari penanganan Covid-19. Seiring meningkatnya angka penyebaran penyakit Covid-19, limbah medis pun turut meningkat. Hal ini tidak hanya dihasilkan dari aktivitas fasilitas kesehatan namun juga dari penggunaan alat pelindung diri (APD) di masyarakat sehari-hari, seperti masker sekali pakai. Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas berharap, gerakan peduli sampah medis nasional menjelang hari peduli sampah ini, bisa menjadi gerakan bersama seluruh lapisan masyarakat, yang dimulai dari sampah rumah tangga di sekitar kita. Hal ini harus menjadi gerakan seperti halnya beberapa tahun terakhir masyarakat berupaya mengurangi pemakaian plastik. Kampanye penggunaan plastik dan pengelolaan limbah secara bijak ini sudah harus menjadi gaya hidup kita semua. Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI Ajeng Arum Sari menyampaikan bahwa hal yang perlu diperhatikan adalah masih minimnya pengetahuan dan sarana pengelolaan limbah APD dari masyarakat. Dua hal tersebut bisa memungkinkan munculnya risiko pencemaran lingkungan dan meningkatkan penyebaran virus SARS-Cov-2. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Agus Haryono, mengajak para pemangku kepentingan untuk melakukan sinergi. Masker merupakan polemik karena jika dibuang merupakan bahan plastik yang terurainya membutuhkan waktu ratusan tahun, tetapi kalau dikumpulkan bagaimana menghindari potensi infeksiusnya. Melalui webinar ini diharapkan dapat terbentuk konsep pengelolaan limbah masker yang dipahami masyarakat, rumusan akselerasi penerapan riset dan inovasi teknologi pengelolaan limbah masker di masyarakat dan industri, serta dapat memberikan peluang kerja sama antara peneliti dan masyarakat, serta industri untuk penerapan teknologi pengelolaan limbah masker. Sebagai informasi, panelis yang turut hadir dalam webinar ini adalah Lia Partakusuma (Satgas BNPB), Akbar Hanif Dawam A. (Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI), Arifin Nur (Puslit Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI), Herlian Eriska Putra (Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI), Prima Mayaningtias (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat), Hery Yusmandra (Manajer Program Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia), serta Ratih Asmana Ningrum (Puslit Bioteknologi LIPI). Acara ini dipandu oleh pembawa acara Suci Rahayu dan Dyah R. Sugiyanto selaku moderator dari Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI. (har, ed. adl)

Baca

Info Webinar Bioetanol Seri 1 Kolaborasi LIPI - MIPCON


16 Februari 2021

UndanganWebinar Series 1 Pusat Unggulan IPTEK Bioetanol G2 - Pusat Penelitian Kimia LIPI dan MIPCON Group yang didukung oleh Katzen, mengundang partisipasi Bapak/Ibu/Saudara untuk mengikuti webinar : "The Latest Improvement, Regulator & Technology Development for Global Bioethanol and Biofuel Industry"  Pembicara : Dr. Dadan KusdianaDirector General of EBTKE, Ministry of Energy and Mineral Resources, Indonesia Ryozo Noguchi, Ph.DAssociate Professor, University of Tsukuba, Japan Prof. Dr. Yanni SudiyaniResearch Professor, Research Center for Chemistry LIPI, Indonesia Lakhadive Umesh RameshDirector, Crab & Taur Pte.Ltd, Singapore Moderator : Roni Maryana, Ph.D (LIPI) Muhammad Rizal, ST (MIPCON) Waktu Pelaksanaan : Senin, 22 Februari 2021, Pkl. 08.30-13.00 WIB via ZOOM  Live Streaming di YouTube Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Channel Registrasi Gratis :http://bit.ly/LIPI-MIPCON-WEBINAR Link Zoom akan diberikan pada H-3 (Jumat, 19 Februari 2021) via e-mail / WA masing-masing Benefit : e-certificate Doorprize (buku, voucher, merchandise) Terima kasih atas partisipasinya.. #bioetanol #energi #iptek #inovasi

Baca

Komisi VII DPR RI Tinjau dan Apresiasi Produk Riset Mutakhir LIPI


15 Februari 2021

Cibinong. Humas LIPI. Di Masa Persidangan III Tahun Sidang 2020-2021, Anggota Dewan dari Komisi VII DPR RI, dipimpin langsung oleh Ketuanya, Sugeng Suparwoto meninjau produk riset mutakhir LIPI yang sudah memiliki paten dan siap untuk dikomersialisasi di Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK (PPII) LIPI,  Kompleks Cibinong Science Center-Botanical Garden (CSC-BG), pada Kamis (11/2). “Apresiasi terhadap kinerja yang tengah dan akan dilakukan oleh LIPI,” tutur Haeny Laela Relawati RIni W., anggota Komisi VII DPR RI. “Namun demikian, masih ada tantangan terutama korelasi dengan Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk pemetaan detail kawasan dan rencana tata ruang LIPI untuk memperdalam aspek antara budidaya tumbuh kembang dan reklamasi kawasan pantai,” tambahnya. Sebagai informasi, tinjauan Komisi VII DPR RI ke PPII LIPI adalah kelanjutan tinjauan pada pagi harinya di Badan Informasi Geospasial (BIG), masih di Kompleks CSC-BG LIPI. Pada kesempatan tersebut, Kepala LIPI LT. Handoko memberikan penjelasan tentang pengelolaan Kawasan CSC dan riset di bidang energi, pembangunan dan pengembangan infrastruktur strategis IPTEK di beberapa kampus LIPI. “LIPI sedang membangun dan mengembangkan fasilitas Cibinong Science Technopark (C-STP), Kawasan Geodiversitas (Karangsambung), Laboratorium Teknologi Tepat Guna (TTG) Subang, Infrastruktur Basic Bandung, Green house Biodiversitas Cibinong, pengelolan armada kapal riset, hasil penelitian energi dan energi terbarukan, dan alat-alat kesehatan dalam penanganan Covid-19,” papar Handoko. Saat tinjauan ke PPII LIPI, Handoko kembali menjelaskan kepada seluruh Tim Komisi VII DPR RI terkait produk-produk hasil riset yang berasal dari beberapa satuan kerja di LIPI yang dipamerkan antara lain dari Pusat Penelitian (Puslit) Biomaterial yaitu bambu laminasi, biodegradable food, biopelet, bioinsektisida, beton poros, dan bioplastic. Sementara dari Puslit Bioteknologi LIPI yaitu produk riset kultur artemisia annua, tepung dan mie mocaf kaya betakaroten, padi gogo, starter inoka, pribiomix T-10, imonumodulator, dan teripang. Tak ketinggalan produk riset dari Puslit Biologi yaitu pupuk POH dan monascus. Tak kalah menariknya adalah produk riset Puslit Limnologi yaitu budi daya udang galah yang cukup menyita perhatian. Udang yang juga dikenal sebagai lobster air tawar tersebut  ditempatkan dalam aquarium besar yang disebut apartement seperti dituturkan penelitinya, Bambang Teguh. Selain itu produk mutakhir LIPI lainnya yang berasal dari Puslit Fisika, Kimia dan Metalurgi LIPI pun dipamerkan, yakni ATTACT, RT LAMP dan yang termutakhir adalah Destromed, alat penghancur limbah jarum suntik. Pada kesempatan yang sama hadir mendampingi Kepala LIPI, Plt. Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Yan Rianto sekaligu Kepala Pusat Pemanfaatan dan Inovasi IPTEK LIPI. Selain itu hadir pula Plt. Deputi Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Ristek/BRIN, Muhammad Dimyati dan Sekretaris Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kementerian Ristek/BRIN, Lanjar. (YL ed SL)  

Baca

Dialog Riset Rekristalisasi untuk Daur Ulang Limbah Plastik Medis


08 Februari 2021

Serpong, Humas LIPI. Jumlah limbah plastik medis meningkat semenjak pandemi. Selama ini metode pengolahan limbah plastik dengan cara dilelehkan. Melalui metode ini plastik dibakar dan dijadikan pelet. Sementara Peneliti Utama Pusat Penelitian Kimia LIPI Sunit Hendrana melakukannya dengan metode rekristalisasi. Metode ini diklaim lebih murah, lebih mudah, dan hasil daur ulang plastiknya baik. Bagaimana cara mengolah sampah plastik medis ini dengan metode rekristalisasi? Berikut rekaman dialog Sunit Hendrana tentang risetnya bersama penyiar RRI Pro 3 FM dapat didengarkan pada link berikut : https://drive.google.com/file/d/1F2MoFkj2YVVEatDeOvf_KznGYGjn8QR_/view?usp=sharing (mfn, adl)

Baca

Daur Ulang Limbah Medis COVID-19


25 Januari 2021

Serpong, Humas LIPI. Peningkatan jumlah kasus COVID-19 memicu peningkatan sampah medis. Terjadi kenaikan jumlah limbah medis sebanyak 30% di masa pandemi ini, dengan kisaran produksi limbah medis tiap rumah sakit rata-rata 1 kilogram per harinya.  Sementara itu penanganan limbah medis di Indonesia masih menemui permasalahan karena terbatasnya fasilitas pengolahan. Limbah medis COVID-19- tidak hanya mempunyai risiko penularan terhadap orang lain, tetapi juga dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Untuk mengatasi lonjakan limbah infeksius tersebut, peneliti Pusat Penelitan Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sunit Hendrana menawarkan solusi untuk penanganan limbah medis COVID-19.  Sunit menyebutkan limbah medis yang terbuat dari plastik seperti masker berpotensi menimbulkan pencemaran yang sanggat besar terutama microkplastik. Umur plastik bisa mencapai puluhan bahkan ratusan tahun. “Solusinya adalah dengan pengolahan recycle melalui cara kristalisasi polimer untuk mendapatkan kembali plastik aslinya, agar bisa didaur ulang kembali,” ungkap Sunit dalam siaran virtual Trijaya Hot Topic Petang Virtual pada hari Jumat (22/1) .  Dirinya menjelaskan bahwa Pusat Penelitian Kimia LIPI telah mengembangkan pengolahan limbah dengan metode kristalisasi polimer skala laboratorium, untuk mendaur ulang limbah plastik medis dengan cara aman, hasilnya bernilai, dan dengan dampak lingkungan yang minim. “Menggunakan prinsip sifat plastik secara umum, kristalisasi polimer akan dapat membunuh virus dengan melalui dua tahapan, yaitu pemanasan dalam suhu 115 derajat Celsius dan pencampuran pelarut berupa alkohol,” jelasnya.  Dengan metode kristalisasi polimer, lapisan atas dan bawah masker yang mengandung plastik bisa didaur ulang. “Kualitas plastik hasil daur ulang yang berupa serbuk plastik ini masih baik dan bisa diolah kembali, secara prinsip polimer, metode ini juga bisa dilakukan pada baju APD, selang infus, botol infus dan bagian plastik jarum plastik,” imbuhnya.  Lia G. Partakusuma, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), mendukung pengembangan pengolahan limbah tersebut selama teruji aman dan efektif membunuh kuman. "Selama secara ilmiah bisa dibuktikan, kami siap mendukung, karena selain bisa berguna dan lebih efisien, dapat mengurangi biaya pengolahan limbah medis, mengingat pengolahan menggunakan insinerator yang cukup mahal,” terang Lia. Dari sisi regulasi, Sinta Saptarina Siemiarno, Direktur Penilaian Kinerja Pengolaan Limbah BS3 dan Limbah Non B3 dan Limbah Non B3 KLHK, juga mendukung teknik pengolahan limbah dari LIPI. “Kami sangat terbuka dengan adanya teknologi pengolahan yang lebih baik dan dengan pencemaran yang lebih minimal. Kalaupun ada izin atau ketentuan-ketentuan yang belum dipenuhi di masa pandemi ini, kami dapat memberikan diskresi selama ada justifikasi ilmiah,” tuturnya,  Sunit menegaskan bahwa LIPI sudah memulai dan siap untuk mengembangkan teknologi pengolahan limbah medis yang lebih efektif dan efisien. “Hal ini kami lakukan supaya bisa mengurangi dampak limbah plastik, baik dari risiko penularan maupun dampaknya terhadap lingkungan,” jelas Peneliti Ahli Utama bidang Polimer ini. (whp/ ed. adl)  

Baca
ZONA INTEGRITAS