: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Ragam Riset Obat Herbal dan Suplemen Anti Covid-19 LIPI


26 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) telah melakukan beragam riset dan inovasi dalam upaya penanggulangan virus Corona. Berbagai klaster penelitian dibentuk untuk mengklasifikasikan riset-riset dari barbagai satuan kerja di bawah Kedeputian IPT. Guna berbagi informasi perkembangan seputar riset Covid-19, Kedeputian IPT kembali menggelar sharing session dengan narasumber dari eksternal LIPI, sekaligus pemonitoran dan pengevaluasian riset Covid-19 Klaster Obat dan Suplemen Anti Covid-19, pada Kamis (26/11). Sharing session klaster obat dan suplemen anti Covid-19 ini dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia (P2K) LIPI, Yenny Meliana. Yenny mengemukakan harapannya agar acara ini bisa memberikan transparansi ke publik terkait apa yang sudah dilakukan LIPI. Dirinya juga berpesan agar para peneliti tetap semangat, tetap sehat bekerja di masa pandemi. “Semoga riset LIPI dapat memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar,” ujarnya. Di sesi pleno acara ini hadir dua orang narasumber yaitu Tepy Usia dan Chaidir dengan moderator Rizna Triana Dewi. Tepy menjelaskan langkah-langkah strategis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di bidang obat tradisional dalam mendukung penanganan Covid-19. Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik - BPOM ini mengatakan Indonesia sangat kaya akan potensi bahan alam. “Ada 30.000 lebih spesies tanaman, yang menempatkan Indonesia ke dalam lima besar negara megabiodiversitas,” ungkapnya. “Terdapat ramuan 25.821, tumbuhan obat 2.670 spesies tersebar pada 303 etnis di 24 provinsi, serta lebih dari 400 etnis di Indonesia memanfaatkan tumbuhan sebagai obat,” imbuhnya. BPOM melakukan dua strategi dalam mendukung penanganan pandemi Covid-19. Pertama, pendampingan uji pra klinik dan uji klinik. Kedua, komunikasi, informasi, dan edukasi bagi masyarakat dan pelaku usaha. “Kepada pelaku sejak awal sudah disediakan mekanisme pendampingan dengan berlandaskan pada scientific justification dan independensi,” terang Tepy. “BPOM secara terus-menerus melakukan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha dalam rangka pengembangan dan pemanfaatan obat bahan alam termasuk suplemen kesehatan untuk penanggulangan Covid-19, “pungkasnya. Narasumber kedua, Chaidir menyampaikan riset jamu dan obat herbal untuk penanggulangan Covid-19. Kepala Program Teknologi Obat Herbal, Pusat Teknologi Farmasi dan Medika – Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) sekaligus Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Humas BPPT ini mengatakan bahwa belum terdapat vaksin dan antiviral untuk pencegahan dan penanggulangan infeksi SARS-CoV-2. "Dari hasil penelitian tanaman obat menunjukkan ada potensi jamu atau obat herbal dalam pencegahan penyakit akibat infeksi virus," ungkapnya. “Manfaat jamu atau obat herbal merupakan hasil keseluruhan kandungan polikimia metabolit sekunder terhadap berbagai target,“ tambahnya. Sebagai penutup, Chaidir berharap agar LIPI dapat memimpin kegiatan penelitian di Indonesia guna menemukan formula obat anti Covid-19. Selanjutnya di sesi presentasi ada tujuh orang peneliti yang menyampaikan perkembangan kegiatan risetnya yaitu Marissa Angelina (Potensi Ekstrak Daun Ketepeng Badak dan Daun Benalu Sebagai Obat Herbal Anti-viral Covid), Yati Maryati (Pengembangan Minuman Kesehatan Berbasis Jambu Biji Merah untuk Meningkatkan Sistem Imunitas Tubuh), Andria Agusta (Pencarian Anti-virus SARS-CoV-2 dari Kehati Indonesia), Hani Mulyani (Selai Marmalade 2 in 1 dari Rempah Lokal Terfermentasi untuk Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Selama Pandemi Covid-19). Keempatnya merupakan Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI. Tiga presenter berikutnya yaitu Ambar Yoganingrum dari Pusat Penelitian Informatika LIPI (Identifikasi Protein Target pada Kondisi Hyperinflammation Penderita Covid-19: Pendekatan in silico), Diah Ratnaningrum dari Loka Penelitian Teknologi Bersih-LIPI (Pembuatan Hand Sanitizer berdasarkan WHO Berbahan Dasar Alkohol Sebagai Antiseptik dengan Aroma Jeruk) dan Rifki Sadikin dari Pusat Penelitian Informatika LIPI (Komputasi Berkinerja Tinggi untuk Pemodelan Machine Learning, Pemetaan Farmakofor, dan Penambatan Molekuler untuk Penemuan Kandidat Senyawa Potensial Antivirus SARS-CoV-2). Antusiasme peserta sangat terasa dalam sesi diskusi yang dipandu oleh Sofa Fajriah dari P2K-LIPI. Beragam pertanyaan dan tanggapan diajukan guna mencari jawaban persoalan Covid-19. Acara ditutup kembali oleh Yenny Meliana, dengan semangat dan harapan akan perkembangan riset selanjutnya dalam menangani SARS-CoV-2. (nh/ ed. adl)

Baca

P2 Kimia LIPI dengan P2IB – ITI dan PT MPA Kerja Sama Pengembangan Serat Mikro Selulosa dari Limbah Sawit


23 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Indonesia memiliki area perkebunan kelapa sawit yang luas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 14,32 juta hektar. Hasil samping dari perkebunan sawit adalah limbah kelapa sawit. Limbah sawit dapat berupa limbah cair dari industri pengolahan sawit dan limbah padat kelapa sawit dapat berupa tandan kosong, cangkang dan sabut. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dihasilkan dari produksi CPO (crude palm oil) sawit. Saat ini TKKS belum dimanfaatkan secara maksimal, umumnya hanya sebagai kompos. Athanasia Amanda Septevani dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) mengembangkan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) untuk membuat micro fibre cellulose (MFC) atau serat mikro selulosa. Penelitian MFC tersebut sudah teruji dalam skala laboratorium dan memiliki paten terdaftar. Sebagai informasi, P2 Kimia LIPI merupakan Pusat Unggulan IPTEK Bioetanol Generasi 2 yang memiliki pilot plant sebagai fasilitas pengolahan biomassa khususnya lignoselulosa. Dalam rangka mengembangkan risetnya untuk diaplikasikan pada skala industri, maka pada Senin (24/11), di P2 Kimia LIPI Serpong diadakan pertemuan tiga pihak antara P2 Kimia LIPI dengan Pusat Inovasi dan Inkubasi Bisnis Institut Teknologi Indonesia (PI2B - ITI) dan PT Mandiri Palmera Agrindo (PT MPA) untuk kerja sama Pengembangan Produk Micro Fiber Cellulose dari Tandan Kosong Kelapa Sawit. Proses penandatanganan naskah kerja sama tiga pihak ini pun sudah dilakukan melalui sistem desk-to-desk pekan lalu. Acara ini dihadiri oleh Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, peneliti P2 Kimia LIPI Athanasia Amanda Septevani, Yan Irawan, serta Yenny Apriliany Devy. Penanggungjawab pihak P2IB, hadir Dr. Aniek Sri Handayani, yang mendapat amanat dari ITI sebagai Kepala PI2B dan Pak Ismoyo dari Bidang Otomotif ITI. Perwakilan dari PT MPA adalah Freddy Martubongs (Direktur Utama) dan Toni Karnawan (Direktur Keuangan). Turut hadir dalam acara ini bagian Kerja Sama dan Humas Kawasan Serpong LIPI. Dalam sesi perkenalan, masing-masing perwakilan menceritakan peran atau kontribusinya dalam kerja sama. PT MPA bertindak sebagai penyedia bahan baku TKKS dari pabriknya di Sulawesi, PI2B - ITI di bagian pemasaran MFC untuk konsumen industri seperti industri kertas, dan P2 Kimia sebagai pemilik teknologi MFC dari skala laboratorium untuk dikembangkan pada pilot plant Bioetanol G2 P2 Kimia sebelum nanti produk akhirnya diujicobakan pada industri.  Pada sesi diskusi pertemuan ini, dibahas kendala yang mucul dalam proses awal pengolahan TKKS di P2 Kimia yang baru mulai berjalan. Pihak P2IB - ITI dan PT MPA juga P2 Kimia sama-sama berupaya memberikan solusi agar kendala-kendala tersebut bisa diatasi dengan baik. Kemudian, pertemuan ini dilanjutkan dengan ketiga pihak tersebut berfoto bersama dan mengunjungi fasilitas pilot plant Kimia LIPI untuk melihat tahapan awal proses pembuatan MFC. (adl)

Baca

Manfaat Keanekaragaman Hayati Indonesia sebagai Sumber Pangan Fungsional


20 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Indonesia merupakan negara mega-biodiversitas. Sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar, Indonesia memiliki 17% dari total keanekaragaman hayati di dunia. Keanekaragaman hayati ini berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber pangan fungsional bagi peningkatan kesehatan dan juga kesejahteraan masyarakat. “Keanekaragaraman hayati yang kita miliki dapat kita eksplor untuk pengembangan pangan fungsional di Indonesia”, ungkap Nina Artanti, peneliti Pusat Penelitian Kimia di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menjadi salah satu pembicara utama dalam acara konferensi ilmiah “International Symposium on Applied Chemistry” (ISAC) dengan tema “Natural Medicine and Nutraceutical” pada hari Kamis (19/11).  “Pangan fungsional merupakan bahan pangan yang tidak hanya bernutrisi dan memiliki fungsi gizi tetapi juga memiliki fungsi kesehatan, khususnya untuk pencegahan penyakit,” jelas Profesor Riset LIPI pada acara yang berlangsung secara virtual tersebut. Dirinya menjelaskan sumber pangan fungsional dapat berasal dari sumber daya tumbuhan dan sumber daya hewan di Indonesia.  Dari sumber daya tumbuhan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, kelompok umbi-umbian kurang dimanfaatkan secara maksimal. Padahal umbi-umbian seperti singkong, kentang, ubi, gadung, garut, ganyong, uwi, gembili, gembolo, porang, suweg, walur, iles-iles, dan talas bisa dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional. Umbi-umbian tersebut memiliki nilai fungsional karena mengandung pati resisten, inulin, antosianin, glokomanan, dan indeks glikemik yang rendah, sehingga cocok untuk penderita diabetes. “LIPI melalui Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam dan Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna melakukan riset pada kelompok umbi-umbian untuk dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional,” ungkap Nina.  Selanjutnya, tanaman seperti kucai berguna sebagai anti hipertensi, daun kelor sebagai anti diabetes, pegagan untuk meningkatkan daya ingat, serta labu siam yang bermanfaat untuk penyakit batu ginjal, sistem pernafasan, sistem pencernaaan, dan juga sirkulasi darah karena kaya akan polifenol, asam askorbat, dan karotenoid. Beras hitam, buah merah papua, berbagai jenis pisang dan biji dari buah-buahan eksotis Indonesia lainnya juga bisa dikembangkan menjadi sumber pangan fungsional karena kaya akan protein, serat, dan karbohidrat.  Selain itu, sumber daya hewan juga bisa menjadi sumber pangan fungsional yang memiliki kandungan bioaktif. Misalnya trenggiling yang berpotensi menjadi bahan baku obat dengan kandungan omega-3 dalam EPA dan DHA yang mengurangi risiko kanker, menurunkan peradangan, hipertensi, artritis, serta menjaga fungsi otak. Binatang amfibi lainnya, seperti katak juga memiliki kandungan alkaloid yang dapat digunakan sebagai pengganti morfin untuk menghilangkan nyeri dan juga sebagai obat antidiabetes. Hewan lainnya yang juga memiliki kandungan bioaktif antara lain lebah, ular weling, dan teripang. Makanan hasil fermentasi seperti tempe, kecap, tauco, oncom, tapai, dadih, brem, tuak dan nata juga dapat dijadikan pangan fungsional karena memiliki kandungan asam yang baik untuk tubuh. Beberapa riset pangan fungsional juga telah dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kimia seperti formulasi pangan pintar dengan asam folat untuk bayi dan balita, minyak kelapa dengan teknik fermentasi, ragi tempe, minuman fungsional berbasis sayuran terfermentasi, minuman fermentasi jambu biji merah, dan selai jahe merah. Untuk ke depannya Nina berharap berbagai bahan yang menjadi sumber pangan fungsional dapat berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk makanan dan biomedis. “Semoga kekayaan keanekaragaman hayati di Indonesia dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui hasil penelitian dan adanya kerja sama dari industri” ujarnya. (whp/ ed. adl) Sebagai informasi, acara ISAC 2020 berlangsung pada tanggal 18-19 November 2020. Acara virtual ini menghadirkan 6 pembicara utama yaitu Prof. Dr. Muhammad Iqbal Choudhary dari International Center for Chemical and Biological Sciences, University of Karachi Pakistan, Prof. Dr.rer.nat. Gunawan Indrayanto dari Fakultas Universitas Surabaya, Dr. Ambara Rachmat Pradipta dari Department of Chemical Science and Engineering, Tokyo Institute of Technology Japan, Prof. Dr. Nilesh Nirmal dari Institute of Nutrition, Mahidol University Thailand dan Prof. Dr. Nina Artanti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI.

Baca

Kemenkes Berbagi Perkembangan Inovasi Alat Kesehatan di Acara LIPI


14 November 2020

Serpong, Humas LIPI. Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPT – LIPI) menyelenggarakan Sharing Session riset Covid-19 Kluster Pengujian Covid-19 pada Kamis (12/11). Acara yang menghadirkan narasumber I Gede Made Wirabrata dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) ini dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) – LIPI, Yenny Meliana. “Saya berharap dari acara ini kita akan mendapat banyak tambahan ilmu, pengetahuan, dan manfaat bersama,” ujarnya. Deputi IPT LIPI, Agus Haryono, dalam arahan dan sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian. “Kita adakan dalam bentuk seminar sharing session, agar riset-riset yang dilaksanakan oleh LIPI mendapat atensi, feedback, dan masukan dari masyarakat umum,” jelas Agus. I Gede Made Wirabrata menyampaikan presentasi tentang izin edar alat kesehatan (alkes) dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT). Alkes adalah alat yang yang biasanya dibutuhkan dalam melakukan praktek kesehatan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 220/Men.Kes/Per/IX/1976 tertanggal 6 September 1976 alat kesehatan sendiri memiliki arti adalah barang, instrumen aparat atau alat termasuk tiap komponen, bagian atau perlengkapan yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan untuk digunakan dalam: penelitian dan perawatan kesehatan, diagnosis penyembuhan, peringanan atau pencegahan penyakit, kelainan keadaan badan atau gejalanya pada manusia. Sementara PKRT berdasarkan Permenkes RI Nomor 1190/Menkes/Per/VIII/2010 adalah alat, bahan, atau campuran bahan untuk pemeliharaan dan perawatankesehatan untuk manusia, pengendali kutu hewan peliharaan, rumah tangga, dan tempat-tempat umum. “Saat ini alkes dan PKRT di Indonesia 90% masih impor, nilai TKDN (tingkat komponen dalam negeri) untuk satu produk dalam negeri pun menjadi sulit karena memang barang utuhnya saja dari luar negeri adalah 90%,” terang Wira. Dirinya mengatakan ada klasifikasi alat kesehatan A, B, C, D yang ditentukan berdasarkan kesepakatan dan sesuai standar WHO. Selain itu juga ada klasifikasi PKRT kelas 1, 2, dan 3. Wira meyakinkan pihaknya akan siap membantu perizinan edar alkes hingga selesai. “Kami akan terus mengawal termasuk dalam hal pengurusan administrasi,” tutup Direktur Penalkes (Penilaian Alat Kesehatan) – Dirjen Farmalkes (Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan). Sebagai informasi, Sharing Session ketiga via aplikasi Zoom yang diselenggarakan oleh Kedeputian IPT LIPI ini, diikuti oleh para peneliti dan dihadiri masyarakat umum. Lima Peneliti LIPI yang turut mempresentasikan kegiatan riset Covid-19 yaitu Swivano Agmal (P2 Fisika), Siti Nurul Aisyiah Jenie (P2 Kimia), Tjandrawati Mozef (P2 Kimia), serta Dedi dan Robert V. Manurung (P2 Elektronika dan Telekomunikasi), dengan pembawa acara Akhmad Darmawan serta dua orang moderator Roni Maryana dan Ahmad Randy dari P2 Kimia. (har, ed. nh, adl)

Baca

Atasi Pandemi COVID-19 dengan Nanoteknologi


10 Oktober 2020

Serpong, Humas LIPI. Di masa pandemi COVID-19 ini, nanoteknologi memiliki banyak peranan. Silvester Tursiloadi, Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2K – LIPI) membagi pengetahuannya tentang peran nanopartikel sebagai katalis dalam acara MIPA Talk Series #14, yang diselenggarakan oleh Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI) secara daring. Tampil sebagai Pembicara pertama, Tursiloadi menyampaikan presentasi dengan judul Nanoteknologi Katalis untuk Sintesa Farmasi. Tursiloadi menjelaskan prinsip dasar nanoteknologi; bahwa nanomaterial bisa diproduksi menggunakan dua strategi pendekatan yaitu top-down dan bottom-up. “Dalam pendekatan top-down, nanomaterial dibuat dengan memecah bahan curah menggunakan cara seperti mengurangi ukuran obyek yang kompleks ke titik di mana pengurangan skala ini mulai mengubah prinsip yang menjadi dasarnya,” paparnya. Tursiloadi mencontohkan prosedur sintesis dihidroartemisinin dari artemisinin dengan proses hidrogenasi menggunakan katalis Ni/TiO2. Pada preparasi TiO2, keberadaan sulfat sejak awal sintesis dapat menahan laju perubahan fasa dari anatase ke rutile ketika dikalsinasi pada suhu 500-750°C. Di akhir pemaparan, lulusan S3 dari Keio University Jepang ini menyimpulkan bahwa hidroartemisinin dapat digunakan sebagai kandidat anti COVID-19 yang sangat dibutuhkan saat ini. Pembicara kedua, Mochamad Chalid mempresentasikan peranan teknologi polimer di masa pandemik. Chalid menjelaskan tentang polimer dan siklusnya, jenis dan keunikan perilaku polimer, serta pengembangan bahan baku aditif polimer. Dosen Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik UI ini kemudian memaparkan penelitian terbarunya terkait COVID-19, yaitu pembuatan flocked swab stick. Swab stick ini berbentuk seperti lidi, cukup kecil, lentur, sehingga mudah untuk pengambilan sampel pasien di daerah nasofaring. “Flocked swab berbentuk seperti sikat yang berdiri tegak lurus terhadap permukaan swab stick, tetapi mampu menampung sampel cairan dengan memanfaatkan fungsi kapilaritas pada bentukan sikat tersebut,” jelasnya. Sementara Pembicara ketiga, Munawar Khalil, dari Departemen Kimia FMIPA UI memaparkan materi berjudul “Nanoteknologi vs Coronavirus: Strategi untuk Deteksi dan Inaktivasi”. Munawar menjelaskan bahwa nanopartikel dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi virus berdasarkan plasmonic photothermal yang tergantung pada ukuran dan bentuk. Inaktivasi virus dapat dilakukan melalui mekanisme eksternal dan internal stimulus, yakni interaksi nanopartikel yang difungsionalisasi dengan antibodi spesifik yang dapat merusak virus. (nh/ ed. adl)

Baca

Rambu-rambu Berinovasi Bidang Ilmu Kimia


26 September 2020

Sepong, Humas LIPI. Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslit Kimia LIPI) menaruh perhatian besar pada pembinaan remaja Indonesia, terutama di bidang inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi bidang kimia. Indri Badria Adilina, salah satu peneliti Puslit Kimia LIPI, membagikan pengetahuan dan pengalamannya dalam program ‘Ngapel’ (Ngobrol Bareng Peneliti) pada Jumat (25/9). Acara bertema Rambu-rambu Berinovasi di Bidang Ilmu Kimia, disajikan secara live pada melalui kanal Instagram Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) LIPI. Indri menjelaskan bahwa inovasi merupakan suatu pengembangan ide yang memiliki 3 poin yaitu baru, bermanfaaat bagi masyarakat luas, dan mempunyai nilai jual di industri. Tujuan dari inovasi adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi di masa pandemi seperti saat ini, berbagai inovasi mutlak diperlukan untuk mengatasi wabah agar segera berakhir. “Metode yang tepat dalam berinovasi di masa pandemi adalah menemukan sesuatu yang baru, misalnya obat,” jelas Indri. “Kemudian melihat fasilitas atau bahan yang tersedia di alam, mencari tim yang satu visi, serta penelitian itu hendaknya mudah direplika/diulang oleh orang lain,” lanjutnya. Mengenai bahan alam yang layak dikonsumsi terutama di masa pandemi, Indri memaparkan bahwa bahan alam yang merupakan campuran senyawa harus diekstrak terlebih dahulu dengan berbagai pelarut, lalu difraksinasi, dan dianalisa struktur apa yang diinginkan. Jika sudah diperoleh senyawa murninya, lalu diuji lagi. Hasil yang didapatkan harus aman dan tidak mempunyai efek samping. “Secara kasat mata, bahan alam yang layak dikonsumsi memang tidak terlihat, sehingga harus dilakukan pengkajian secara ilmiah,” ujar pemenang L’Oreal Science Program 2013 ini. Terakhir, Indri menyampaikan pesan dan kesannya untuk generasi sains Indonesia. “Kimia tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, jadi, pastikan inovasi di bidang Kimia bermanfaat untuk peningkatan kualitas hidup dan menjawab pertanyaan saat ini,” pungkasnya. (nh/ ed. adl)

Baca

Alat Deteksi COVID-19 RT-LAMP Buatan LIPI


07 September 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga ilmu pengetahuna indonesia (LIPI) mengembangkan metode alternatif RT-PCR untuk mendeteksi COVID-19 yang bernama RT-LAMP pada program Laptop Si Unyil TRANS 7, Senin (7/9). Dengan alat yang sederhana, metode RT-LAMP mampu mendeteksi keberadaan material genetik virus dalam tubuh. Reverse transcription polymer chain reaction (PCR) atau swab test merupakan metode pertama atau standar utama yang digunakan dunia. Metode ini mendeteksi keberadaan material genetik virus dalam tubuh denganhasil akurat. Tetapi, uji RT-PCR masih membutuhkan peralatan canggih dan biaya yang tidak sedikit. Peneliti LIPI mempunyai inisiatif mengembangkan metode RT-LAMP (reverse transcription loop mediated isothermal amplification). Sama dengan RT-PCR, bahwa metode RT-LAMP juga membutuhkan sampel lendir yang diambil dari pangkal hidung dan pangkal tenggorokan pasien atau yang dikenal dengan swab test. Kemudian sampel pasien diekstrak dan dicampur dengan zat pereaksi atau dikenal dengan reagen. Setelah itu, sampel siap untuk diuji. Sayangnya alat yang digunakan dalam metode RT-PCR bernama thermocycler harganya bisa mencapai ratusan juta. Karena harganya mahal maka tidak semua alat atau rumah sakit mempunyai alat ini dalam metode pengujian PCR. Pada RT-PCR, sampel akan diberi suhu yang berubah-ubah dengan cepat. Dimulai dari suhu 50 0C sampai 96 0C. Oleh karena itu, butuh alat yang canggih untuk melakukan PCR. Dengan metode RT-LAMP, maka sampel hanya akan diberi suhu konstan yaitu 60 0C selama 30 sampai 60 menit. Dengan alat yang sangat sederhana, cukup menggunakan inkubator, water bath atau heat block. Untuk indikator positif atau negatif, dapat dilihat dari perubahan warna pada sampel dengan kasat mata. Apabila berubah menjadi keruh, maka sampel tersebut positif terpapar virus korona. Pengecekannya bisa juga menggunakan alat spektro. Alat ini secara otomatis akan memeriksa sampel mana yang berwarna keruh. Diharapkan dengan metode RT-LAMP, pengujian sampel bisa dilakukan di fasilitas-fasilitas kesehatan sederhana yang tersebar di pelosok Indonesia. (har/ ed. adl)

Baca

Inovasi LIPI Alat Deteksi COVID-19 RT-LAMP


04 September 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan inovasi sistem deteksi virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 berbasis metode RT-LAMP, sebagai metode alternatif deteksi virus yang menggunakan RT-PCR pada program Halo Indonesia DAAI TV, Rabu (27/8). Metode RT-LAMP mampu  mendeteksi adanya virus pada inividu dalam waktu kurang lebih satu jam. Deteksi virus Covid-19 secara masif dan akurat tanpa tergantung alat PCR yang sedang dikembangkan oleh tim peneliti Bidang Biokimia/Farmasi LIPI bekerja sama dengan PT Biosains Medika Indonesia menggunakan metode RT-LAMP atau reverse transcription loop mediated isothermal amplification. Metode ini dapat dijadikan alternatif pengujian virus Covid -19 yang umumnya menggunakan metode RT-PCR (reverse transcription polymerase chain reaction). Kit RT-LAMP yang dikembangkan terdiri dari enzim (reverse transcriptase, polymerase), reagent mix (Primer, dNTP, MgSO4), larutan buffer, kontrol positif dan kontrol negatif. Sampel pasien yang digunakan adalah ekstrak RNA pasien. Reaksi LAMP berlangsung pada suhu konstan, sehingga dapat  menggunakan alat sederhana yang lazim ada di laboratorium seperti inkubator, water bath, atau heat-block. Dr. Tjandrawati Mozef menuturkan bahwa dirinya mempunyai inisiatif untuk mengembangkan sistem alternatif untuk mendeteksi RNA virus SARS-Cov-2, karena adanya kebutuhan dan urgensi terkait sistem deteksi yang ada  menggunakan RT-PCR. sementara alat RT-PCR yang ada di Indonesia sangat terbatas, dan hanya terdapat di lab-lab tertentu mengingat harga alat tersebut yang mencapai ratusan juta rupiah. “Selain itu reagen-reagen yang digunakan untuk uji PCR merupakan 100% impor,” sambung peneliti Pusat Penelitian Kimia - LIPI. Ketika terjadi wabah di dunia maka pasokan reagen RT-PCR dari luar menjadi terkendala. Metode RT-LAMP menggunakan reagen yang berbeda dari RT-PCR sehingga pasokan tidak terkendala. Selain itu dibandingkan reagen RT-PCR, reagen RT-LAMP ini lebih murah sehingga biaya uji bisa ditekan. Sistem RT-Lamp LIPI ini dirancang untuk bisa diakses secara luas oleh laboratorium yang memiliki fasilitas uji terbatas dan tidak memiliki alat PCR. Tjandrawati menjelaskan teknik deteksinya. "Prinsipnya kami siapkan reagen-regennya untuk menguji sample yang diperoleh dari hasil swab, setelah itu diinkubasi selama satu jam dengan suhu 60 0C," jelasnya. Kemudian hasil yang diperoleh dibandingkan dengan kontrol positif dan kontrol negatif yang disediakan dalam kit. Apabila sampel tersebut mengandung gen virus, maka terjadi amplifikasi dari gen virus tersebut yang kemudian dideteksi baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sistem yang dikembangkan oleh Tjandrawati dan tim adalah berdasarkan kekeruhan dan berdasarkan emisi fluoresensi. "Bila tampak adanya kekeruhan atau emisi fluoresensi, maka sampel tersebut positif mengandung gen virus SARS-Cov-2" ungkapnya. Metode temuan LIPI yang dikembangkan sejak bulan Mei 2020 sudah diterima oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional. Dan tinggal menunggu tahap validasi. Saat ini LIPI sedang membutuhkah sampel tes RNA dari pasien yang lebih banyak untuk menyempurnakan metode RT-LAMP. (har/ ed. adl)

Baca

P2 Kimia LIPI Ikuti Peringatan HUT LIPI ke-53 Secara Virtual


25 Agustus 2020

Serpong, Humas LIPI. Kemeriahan puncak acara peringatan ulang tahun LIPI pada Selasa (25/8) tampak di kawasan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Serpong. Diawali senam bersama di area parkir Gedung 456 Kantor Pengelola Kawasan LIPI Serpong, sivitas LIPI yang sedang melakukan aktivitas work from office tampak hadir dengan baju olah raga bernuansa putih dilengkapi masker. Seremonial ulang tahun LIPI berlanjut dengan acara penganugerahan penghargaan Satyalancana Karya Satya X, XX, dan XXX tahun bagi pegawai LIPI yang dilakukan secara paralel di tiap-tiap satker LIPI. Di P2 Kimia acara dilakukan di ruang rapat Manganese, lt. 2. Pegawai P2 Kimia yang mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya X tahun adalah Anis Kristiani, Athanasia Amanda Septevani, Eka Dian Pusfitasari, EkaTriwahyuni, Sylvia Santoso, Nandang Sutiana, Lili Hermawan, dan Dedi Supriadi. Sementara yang mendapatkan penghargaan Satyalancana Karya Satya XXX tahun adalah Dr. Sunit Hendrana. Penyematan pin Satyalancana karena masih dalam masa pandemi COVID-19, maka dilakukan oleh masing-masing peserta, dengan mengikuti komando pembawa acara dari Kebun Raya Bogor secara virtual lewat aplikasi Zoom Meeting. Kepala Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) - LIPI, Yenny Meliana, yang turut hadir dalam acara peringatan HUT LIPI di Serpong mengungkapkan kesannya, “dalam masa pandemi COVID-19 ini, menjaga kesehatan sangat penting, energi dan ketekunan mengalahkan segalanya.” (adl)

Baca

Siswa Kursus Asathan RI XIV Kunjungi Puslit Kimia LIPI


06 Agustus 2020

Serpong, Humas LIPI. Pusat Penelitian Kimia Lembaga Indonesia (Puslit Kimia LIPI) pada Rabu (5/8), menerima kunjungan dari siswa kursus Asathan (Asisten Atase Pertahanan) RI Angkatan XIV TA 2020, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Peserta dari unit pelaksana Tentara Nasional Indonesia (TNI) ini berjumlah 20 orang, yakni 12 orang peserta dan 8 orang pendamping. Kunjungan ini termasuk dalam salah satu program kursus Asathan yaitu kuliah kerja nyata untuk menyelesaikan program tersebut. Hadir menyambut kunjungan, Kepala Puslit Kimia, Yenny Meliana dan Kepala Bidang Pengelolaan Penelitian, Akhmad Darmawan. Setelah sambutan singkat Kapuslit Kimia dan pemberian cenderamata, peserta kursus diajak mengunjungi laboratorium-laboratorium yang ada di Puslit Kimia LIPI seperti laboratorium pembuatan Bioetanol dan Laboratorium CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik). Selama berkunjung ke laboratorium-laboratorium tersebut terjalin komunikasi antara peserta kunjungan dengan peneliti-peneliti di laboratorium tersebut. Kunjungan diakhiri dengan foto bersama antara peserta kunjungan, peneliti, dan manajemen Puslit Kimia. (ip/ ed. adl)

Baca

LIPI Siapkan Garda Depan dalam Penanganan SARS-CoV-2


06 Agustus 2020

Serpong, Humas LIPI. Sejak pertama kali terkonfirmasi di Indonesia pada 2 Maret 2020, kasus positif Covid-19 terus meningkat hingga mencapai lebih dari 100.000 kasus pada akhir Juli 2020. Dalam rangka mempercepat penanganan Covid-19, Presiden Joko Widodo mengamanatkan kolaborasi dan sinergi antar Kementrian/Lembaga dan Pemerintah daerah. Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) lalu berkoordinasi dengan berbagai pihak melalui konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19. Para Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan berbagai penelitian dan inovasi baik produk maupun kajian untuk mendukung konsorsium tersebut. LIPI juga menginisiasi program Indonesia Memanggil dan menjadi koordinator pelatihan untuk pemenuhan kebutuhan SDM terlatih dalam penanganan SARS-CoV-2 Dengan kerja sama antar lembaga penelitian, perguruan tinggi, kementerian, BUMN, sektor swasta, dan perusahaan rintisan di bidang kesehatan, Program Indonesia Memanggil telah memberikan pelatihan deteksi SARS-CoV-2 bagi peserta Tahap 1 Kelompok 1 pada Kamis (30/7) dan dilanjutkan pada Kamis (6/8) di Laboratorium Pusat Penelitian Kimia-LIPI, Serpong. Melalui adanya pelatihan ini, diharapkan akan semakin banyak SDM terampil yang bisa berkontribusi dan berperan menjadi tim garda depan dalam penanganan Covid-19, utamanya terkait deteksi virus. (nh/adl)

Baca

LIPI Latih Penanganan SARS Cov-2 (Covid-19)


30 Juli 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui  Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan (Pusbindiklat) melaksanakan Pelatihan Tim Pemeriksa Covid-19 di Fasilitas Bio Safety Level-3, LIPI pada program Indonesia memanggil di Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI, Serpong (30/7 dan 6/8). Pelatihan ini diikuti oleh Perguruan Tinggi, Kementerian, dan Umum. Kepala P2 Kimia – LIPI, Yenny Meliana mengatakan kegiatan ini merupakan salah satu tugas yang ditugaskan kepada P2 Kimia menjadi tempat untuk praktikum di laboratorium pada kegiatan Indonesia memanggil. Kedepan jika peserta mau berkonsultasi setelah pelaksanaan pelatihan para fasilitator sangat terbuka. “Selamat pelatihan Indonesia Memanggil, mudah-mudahan apa yang dilakukan hari ini menjadi berkah dan bermanfaat bagi kita semua, juga dapat membantu Indonesia dalam situasi yang sulit pada masa pandemi global ini,” pesan Kapus Melly sapaan akrabnya. Selama dua hari pelatihan SARS-Cov-2 disampaikan oleh narasumber Marissa Angelina, Ahmad Randy, Dian Muzdalifah, dan Lucia Dwi Antika dengan materi hari pertama, 30 Juli 2020 adalah pemakaian APD dan simulasi penanganan sampel tumpah, briefing Ekstraksi RNA, serta simulasi Ekstraksi RNA. Sementara hari kedua, 6 Agusutus 2020 adalah briefing RT-PCR, simulasi RT-PCR deteksi SARS-Cov-2, dan pembahasan data RT-PCR. (har/ ed. adl)

Baca

Penandatanganan Kerja Sama Riset Deteksi COVID-19 RT-LAMP LIPI dan BioSM


30 Juli 2020

Serpong, Humas LIPI. Bermaksud melegalkan kerja sama yang sudah berjalan, Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) dan PT Biosains Medika Indonesia (BioSM) mengadakan pertemuan penandatanganan perjanjian kerja sama di ruang rapat Mangenese, lantai 2, Pusat Penelitian Kimia, Serpong, pada Kamis (30/7). Hadir dari BioSM Rifan, Direktur, dan Arief, Manajer Pengembangan Bisnis, dari dari P2 Kimia Yenny Meliana dan peneliti Tjandrawati, serta dari Kerja Sama dan Humas Kawasan Serpong LIPI. Selain acara penandatanganan, pertemuan itu untuk membahas rencana pengembangan alat deteksi COVID-19 RT-LAMP (reverse transcription loop-mediated isothermal amplification) yang risetnya dilakukan oleh Tjandrawati dan tim P2 Kimia, serta BioSM. RT-LAMP termasuk produk riset unggulan LIPI yang saat ini terus ditunggu progresnya hingga siap diproduksi massal, dan diluncurkan ke pasar. RT-LAMP akan diposisikan sebagai alternatif standar pengujian di bawah RT-PCR (reverse transcription polymerase chain reaction) yang saat ini menjadi standar rujukan utama, dengan akurasi yang akan bisa menyamai. Dalam proses pengembangan RT-LAMP, LIPI dan BioSM membutuhkan arahan dan dukungan dari instansi-instansi terkait, seperti Kemenristek/BRIN, Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan lembaga uji lainnya.  Rifan dari BioSM yang bergerak di bidang penyedia alat kesehatan dan laboratorium tersebut mengungkapkan bahwa dirinya bangga bisa bekerja sama dengan LIPI. Dirinya menambahkan bahwa dengan adanya PKS ini bisa jadi payung untuk kegiatan riset yang lain. (adl)

Baca

Teknologi Hidrogel Nanoselulosa di Bidang Biomedis


15 Juli 2020

Serpong, Humas LIPI. Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Indonesia menyelenggarakan Webinar Series 2 dengan tema “Millenial Talk on The Contribution of Nanotechnology on Biomedical”, Senin (13/7) melalui aplikasi Zoom, siaran langsung Youtube pada kanal PI2B ITI Official, siaran langsung Facebook pada kanal Institute Teknologi Indonesia. Kegiatan webinar ini disampaikan oleh para pembicara Athanasia Amanda Septevani, Ph.D. (Peneliti Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan W. Kurniawan, SRPharms.,Ph.Dcand. (Cancer Nanomedicine Department Bioquimica Fisiologia Universitas de Barcelona, Spain & Alumni Teknik Kimia Institut Teknologi Indonesia). Athanasia Amanda Septevani, Ph.D. sebagai pembicara LIPI, membagikan topik penelitian di bidang nanoselulosa terkait biomedik. Nanoselulosa merupakan salah satu ilmu di bidang nanoteknologi spesifikasi nanomaterial. Selulosa dapat ditemukan di alam sekitar baik dalam ukuran makro, mikro, hingga nano. “Nanoselulosa merupakan senyawa organik yang ada pada tumbuhan, pohon-pohonan, kayu dan beberapa tumbuhan lainnya. Memiliki peran penting dalam mempertahankan kokohnya batang tumbuhan dengan bersenyawa dengan material lain seperti lignin dan hemiselulosa,” jelas Amanda. Dirinya menjelaskan terdapat tiga metode yang digunakan untuk pembuatan nanoselulosa, yaitu metode kimia, metode mekanik, dan metode biologis.  Fokus penelitian digolongkan menjadi dua tipe, yaitu selulosa nano-kristal, dan selulosa nano-fibrils. Di Pusat Penelitian Kimia – LIPI, Amanda dan tim memulai dari hal yang dianggap tidak mempunyai nilai, yakni limbah yang bisa mengganggu lingkungan. Tim risetnya berusaha mengeksplorasi sumber nano-selulosa limbah. “Limbah-limbah di Indonesia kami harapkan dapat diubah menjadi sesuatu material yang inovatif yang bisa diaplikasikan ke berbagai macam produk, selain meningkatkan nilai tambah juga membantu dalam mencegah pencemaran lingkungan,” terangnya. Dua limbah yang dieksplorasi di LIPI adalah limbah dari industri kelapa sawit dan industri tahu. Indonesia adalah negara berpenghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Semakin besar minyak sawit yang dihasilkan, maka limbahnya pun semakin besar. “Dari tandan segar kelapa sawit, sekitar 25 % adalah limbah dalam bentuk tandan kosong kelapa sawit. Tandan kosong ini mengandung selulosa yang cukup besar yaitu hampir 40%, sehingga kita bisa mengisolasi selulosa itu untuk membuat nano-selulosa dan produk-produk lainnya,” ungkap Amanda. “Sementara limbah dari industri pangan, limbah tahu berpotensi mengembangbiakkan bakteri dan menghasilkan bakteri selulosa,” tambahnya. Puslit Kimia - LIPI yang merupakan Pusat Unggulan IPTEK memiliki fasilitas pilot plan skala 100 kg per hari untuk limbah bio-massa, seperti tandan kosong kelapa sawit. Ada beberapa metoda kimia yang dikembangkan di Puslit Kimia – LIPI untuk pengolahan limbah biomassa, yaitu hilelosa kimia dan metode mekanik. “Dua metode tersebut berpotensi untuk dikembangkan menjadi skala besar, baik digunakan salah satu atau kombinasi dari kedua metode tersebut,” ujar peneliti nanomaterial tersebut. Menurut Amanda, nanoselulosa dapat diaplikasikan di dunia biomedis atau kesehatan terutama dalam bentuk hidrogel. “Hidrogel adalah polimer matriks tiga dimensi yang memungkinkan mengabsorbsi air dalam jumlah yang besar, bahkan dapat memperbesar volumenya hingga 450 kali dari volume awal. Hidrogel syaratnya harus kompatibel dengan berbgai biologis, dan diharapkan agen-agen medis yang terkandung di dalam matriks hidrogel bisa tepat sasaran,” paparnya. Dirinya menerangkan bahwa bentuk hidrogel masih mempunyai tantangan dari sifat mekanisnya, karena sifatnya yang mudah sekali rapuh sehingga perlu dicermati dan dikontrol kandungan mekanisnya. Penggunaan nano-selulosa dapat memperbaiki sifat mekanik dari produk hidrogel. Di masa pandemi COVID-19 saat ini dan masa datang pemanfaatan nanoteknologi seperti hidrogel nanoselulosa memiliki keunggulan kompetitif untuk produk kesehatan dengan sifat material yang baik, biaya proses efektif, bahan baku lokal, dengan dukungan kolaborasi multidisplin. “Nanoselulosa hdrogel dapat memberikan manfaat pada material biomedis diantaranya pemberian obat (drug delivery), material alat pelindung diri (APD), rekayasa jaringan (tissue engineering), dan diagnostik,” terangnya. (har/ ed. adl)  

Baca

Sistem Deteksi Cepat Covid-19 Berbasis Nanopartikel Fluoresensi


10 Juli 2020

Serpong, Humas LIPI. Fakultas Farmasi Universitas Jember menyelenggarakan Webinar Series Pharmaceutical Science and Technology for New Normal Era dengan tema Biosensor untuk Deteksi Cepat COVID-19, Jumat (10/7) melalui aplikasi Zoom dan siaran langsung pada kanal Fakultas Farmasi UNEJ Official. Acar webinar ini disajikan oleh Siti Nurul Aisyiyah Jenie, Ph.D (Pusat Penelitian Kimia - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia); Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si. (Univrsitas Gajah Mada); dan Prof. Bambang Kuswandi, Ph.D. (Universitas Jember) Penyaji pertama, S.N. Aisyiyah Jenie, Ph.D. menjelaskan tentang Pengembangan Sistem Deteksi Cepat (Rapid Test) untuk Antibodi COVID-19 Berbasis Nanopartikel Fluoresensi. Riset tersebut sedang dikembangkan di Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan kolaborasi multi disiplin yang melibatkan beberapa pusat penelitian di LIPI. Adanya pandemi COVID-19 ini sudah sangat mengkhawatirkan. Hal ini memacu para peneliti untuk semakin menguasai bagaimana teknologi dianosis dan teknologi perawatan dalam mitigasi COVID-19. Saat ini, dianosis menjadi standar rujukan utama (gold standard) adalah diagnosis berbasis PCR (polymerase chain reaction) atau swab test. Sampel swab test diambil dari area hidung atau area mulut tempat virus bisa bersarang. Sampel tersebut kemudian diekstrak DNA/RNA-nya atau materi genetiknya lalu dimasukkan ke dalam mesin reverse transcription polymerase chain reaction (RT – PCR) dan dilihat apakah hasilnya positif atau negatif. PCR bersifat sangat sensitif, sangat akurat, dan menjadi rujukan dari WHO (World Health Organization) maupun BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Meski menjadi standar acuan untuk tes COVID-19, PCR mempunyai kelemahan, karena harus dioperasikan oleh tenaga laboratorium yang terlatih, harga produknya mahal, juga waktu proses respon hasilnya lama, apalagi ditambah dengan banyaknya sampel yang masuk. Oleh karena itu, di masa kondisi pandemi ini dibutuhkan beberapa metode diagnosa untuk mendukung PCR. Teknologi yang dilakukan untuk diagnosis COVID-19 ada yang berbasis biosensor seperti RT- PCR (gold standard), RT – Lamp, Lateral flow/rapid test for antibody/antigen, Elisa method. Teknologi lainnya seperti CT – Scan, Torax Rontgen, Lung USG, Laboratory blood test. Aisyiyah Jenie menjelaskan bahwa penelitiannya di P2 Kimia - LIPI berfokus pada diagnosis berbasis teknologi nano biosensor yang berfokus pada lateral flow/rapid test untuk antibody/antigen yang lebih dikenal dengan alat deteksi cepat (rapid test). Keuntungannya yaitu waktu respon yang cepat, tidak perlu dimasukkan ke dalam buku, tidak perlu pelatihan khusus dan analisis khusus, serta dapat dioperasikan sendiri seperti alat uji kehamilan. “Tantangan rapid test yakni pada akurasi maupun sensitivitasnya banyak dipertanyakan, apakah dengan alat ini benar-benar terdeteksi virusnya atau tidak dan apakah anti bodinya terbentuk atau tidak,” jelas Ais, panggilan akrabnya. “Tantangan lainnya adalah bagaimana kita bisa mengurangi impor, karena sekarang semua alat rapid test itu didatangkan dari luar negeri. Juga ada permasalahan pada biaya, karena sudah ada Surat Edaran dari Kementerian Kesehatan bahwa semua rapid test yang beredar di Indonesia maksimal berbiaya Rp 150 ribu. Jadi ini tantangan yang harus dijawab untuk pengembangan alat rapid test di Indonesia,” paparnya. Salah satu cara untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan pendekatan teknologi nano (nanoteknologi) dengan biosensor disebut nano-biosensor. “Nano-biosensor adalah metode alternatif yang lebih bernilai dibandingkan dengan metode konvensional yang dikembangkan di laboratorium untuk analisis klinis maupun analisis lingkungan. Agar hasilnya akurat, nano-biosensor ini memerlukan persepektif dari berbagai macam disiplin ilmu, seperti sudut pandang virologi, biologi, kesehatan, teknik kimia, bahan (material science), dan juga ilmu komputasi,” ungkap peneliti nano material tersebut. Dasar dari nano-biosensor adalah bahan organik yang difungsionalisasikan dengan materi biologis seperti enzim, antibodi, juga dengan DNA/RNA. Kemudian alat tersebut dapat mengetahui atau menerjemahkan menjadi sebuah sistem deteksi berupa electrochemical, optical, mass sensitive, kemudian menjadi sebuah sistem deteksi sendiri. Inti dari nano-biosensor adalah target analisis sebagai sampel uji seperti darah, air liur, dan urin. Kemudian target dari analisis akan ditangkap oleh materi anorganik yang diterjemahkan pada sebuah deteksi. Klasifisikasi dari nano-biosensor ada yang berdasarkan sistem deteksinya berupa Electrochemical Nano-Biosensor, Mechanical Nano-Biosensor, dan Biorecognition elements. Contohnya enzyme based Nano-Biosensor (berbasis enzim) dan immune based Nano-Biosensor (berbasis antibodi). Sistem deteksi yang dikembangkan di grup penelitian Aisyiyah Jenie adalah Fluorescent Silica Nano-Particles (FSNP). Sistem silika nano-partikel atau fluorescent silica nanoparticle (FSNP) mekanismenya sama seperti ‘rapid test’ dan berbahan baku lokal. Silika nano-partikel memiliki sensitivitas dan selektivitas yang baik dari RT-PCR, dengan respon yang lebih cepat, dan dengan biaya lebih ekonomis. “Harus dimulai dari sekarang kalau kita ingin menguasai teknologi pengembangan rapid test yang secara mandiri,” ujar peneliti Puslit Kimia – LIPI tersebut. (har/ed. adl)

Baca

Profesor Hanafi, Peneliti Kimia LIPI yang Berprestasi


10 Juli 2020

Serpong, Humas LIPI. Dalam rangka mengapresiasi peneliti Indonesia yang memberikan sumbangsih dalam penerbitan jurnal bereputasi internasional, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) mengumumkan 500 peneliti terbaik Indonesia berdasarkan Science Technology Index (SINTA) dengan penyelenggaraan SINTA Series Tahun 2020. Dalam ajang ini, peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Hanafi, terpilih dalam 500 besar peneliti terbaik Indonesia.  Peneliti yang menekuni bidang penelitian kimia bahan alam dan medisinal ini meraih peringkat ke 228 berdasarkan jumlah artikel yang dipublikasikan di SINTA dan jurnal-jurnal terindeks di Scopus dan/atau pengutipan di Scopus dan Google Cendikia selama tiga tahun terakhir sejak 2017 hingga 2019. Ia berhasil mengumpulkan skor sebesar 1.727,5 dengan total skor sebesar 5.650. Hanafi menyampaikan bahwa untuk mencapai hasil tersebut, selain kompetensi, komitmen dalam bekerja sama dengan berbagai pihak diperlukan pula oleh seorang peneliti. “Kita perlu kerja sama dengan berbagai peneliti dari berbagai perguruan tinggi khususnya dalam bimbingan mahasiswa,” ujarnya. Bidang penelitian yang Hanafi tekuni berkaitan dengan identifikasi struktur senyawa aktif dari berbagai sumber bahan alam (tanaman, mikroba) dan modifikasi struktur untuk peningkatan aktivitas. Saat ini Hanafi bekerja sama dengan Kobe University Jepang dalam skrining berbagai ekstrak tanaman yang ada Kebun Provinsi Puspiptek dan Kebun Raya Bogor untuk antiviral hepatitis B. Sebelumnya, dirinya telah bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Japan International Cooperation Agency (JICA) menghasilkan ekstrak tanaman kayu kapur dan daun jengkol aktif sebagai antiviral Hepatitis B. Ia juga telah menghasilkan turunan lovastatin yaitu dehidrolovastatin (LIPIstatin) yang selain sebagai penurun kolesterol, juga mempunyai aktivitas antivital terhadap Hepatitis C.   Profil Muhammad Hanafi  Muhammad Hanafi menyelesaikan jenjang pendidikannya di Indonesia dan Jepang. Ia mengambil Jurusan Kimia di Universitas Indonesia untuk gelar sarjana hingga tahun 1985. Seusai studi, Hanafi kemudian memulai kiprahnya di LIPI pada tahun 1987. Hanafi melanjutkan jenjang magister Organic Chemistry di Osaka University, Jepang hingga tahun 1993 yang dilanjutkan ke jenjang doktoral di universitas yang sama hingga tahun 1996.  Atas kerja kerasnya, Hanafi menerima beberapa penghargaan, diantaranya Peneliti LIPI dengan Jumlah Publikasi Jurnal Terbanyak dalam Tiga Tahun Terakhir berdasarkan data Scopus (2017-2019), Inventor Terproduktif Award - LIPI (2017) dan termasuk dalam 106 Inovasi Indonesia Prospektif-Kemenristek (2014).  Selain itu, hasil penelitiannya terekam dalam publikasi sebanyak 106 jurnal internasional, 44 jurnal nasional, 1 buku internasional, 2 buku nasional, 55 prosiding internasional, 29 prosiding nasional, dan 40 paten. (whp/ ed. adl)

Baca

Potensi Teknologi Nanoselulosa di Bidang Kesehatan untuk Penanganan COVID-19


09 Juli 2020

Serpong, Humas LIPI. Nanoselulosa adalah salah satu inovasi nanomaterial berbasis polimer alam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di berbagai bidang. Sektor kesehatan terutama, karena ketersediaannya yang melimpah, bersifat biokompatibel, tidak beracun, dan stabil di alam. Dengan karakteristik sifat mekanik, fisik, dan kimia yang sangat unggul, nanoselulosa mampu mendukung peningkatan kualitas produk hasil.  Sebagai salah satu penghasil serat selulosa terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan penelitian dalam menjawab tantangan kebutuhan produk-produk kesehatan. Berkontribusi dalam menghasilkan inovasi dalam penaggulangan pandemi COVID-19 saat ini. Dalam webinar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bertema Nanocellulose in Health Sector and the Potential Insight into COVID-19 Countermeasures pada Kamis (9/7), Athanasia Amanda Septevani, peneliti Pusat Penelitian Kimia – LIPI, mengungkapkan potensi nanoselulosa dalam aplikasi biomedis di tengah pandemi yang terjadi saat ini. “Banyak sekali keuntungan yang diperoleh dari nanoselulosa ini, apalagi selulosa sejauh ini merupakan sumber biopolimer terbanyak yang tersedia di bumi, baik dari tanaman maupun bukan”, jelasnya. Pratheep Kumar Annamalai dari The University of Queensland, Australia menjelaskan bahwa nanoselulosa merupakan bahan aditif fungsional yang berkelanjutan untuk material pelindung. “Material pelindung ini bisa dimanfaatkan dalam pembuatan APD (Alat Pelindung Diri) yang sangat dibutuhkan saat ini terutama oleh tenaga medis untuk mencegah penularan COVID-19”, ungkapnya. Selain itu, nanoselulosa ini juga dapat dimanfaatkan dalam kemasan pangan pintar, guna menjaga kesegaran makanan yang lebih lama. Saharman Gea dari Universitas Sumatera Utara, memberikan penjelasan tambahan bahwa bakteri selulosa juga berguna dalam aplikasi biomedis. Seiring dengan adanya inovasi di bidang nanoselulosa ini, diperlukan juga peralatan canggih yang memadai sebagai sarana pendukung. Dhaval Patel dari Waters pacific Pte Ltd menjelaskan berbagai peralatan yang dapat digunakan untuk menganalisis karakterisasi polimer yang berguna dalam penelitian dan pengembangan di bidang nanoselulosa. Penyelenggaraan webinar ini merupakan salah satu upaya LIPI dalam mengungkap potensi nanoselulosa di Indonesia terutama dalam bidang kesehatan serta prospeknya dalam membantu penanganan COVID-19 yang juga didukung dengan teknik karakterisasi analitik baru untuk pemahaman sifat material polimer terkait. (nh/ ed. adl)

Baca

Perkembangan Riset Nano Herbal LIPI


22 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Nano Center Indonesia menyelenggarakan Webinar Nano Talks Series dengan tema Inspirasi Ilmuan Membangun Masa Depan Indonesia dengan Riset Nano Herbal, Kamis (18/6) melalui aplikasi Zoom dan siaran langsung Youtube pada channel Scienthink. Acara webinar ini disajikan oleh Yenny Meliana (Kepala Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Etik Mardliyati (Peneliti Senior Pusat Teknologi Farmasi dan Medika – Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi). Bertindak sebagai pemandu acara, Azza Harisna, M.Sc., peneliti Food, Health and Pharmaceutical Research Group, Nano Center Indonesia Research Institute. Turut bergabung dalam webinar, peserta dari berbagai kalangan seperti dosen, mahasiswa, praktisi, dan peneliti. Penyaji pertama, Yenny Meliana, berbicara tentang riset nano herbal LIPI untuk kesehatan dan kecantikan. Yenny Meliana menyampaikan salah satu riset di P2 Kimia – LIPI adalah mengembangkan riset melalui aplikasi seperti kosmetik herbal  dan obat herbal, antara lain nanoemulsi berbahan ekstrak pegagan dan jahe berbentuk krim untuk anti selulit. Nanoemulsi juga dikembangkan menjadi nanoenkapsulasi berbahan pegagan ekstrak dan jahe, berbentuk kapsul untuk anti selulit melalui sistem metabolisme pencernaan, dan juga berbentuk krim oles. Nanodispersi bahan ekstrak pegagan dan jahe, nama produk nanoemugel (teknologi nano-emulgel), berbentuk gel, untuk sediaan selulit , nama merek Joza. Selain itu, Yenny dan tim penelitiannya mengembangkan nanocream anti-aging dari ekstrak berbagai varian berbahan baku seperti bahan baku pegagan, timun, manggis, dan tomat. Juga ada solid perfume dalam bentuk emulsion dispersion berbahan wax, surfaktan, dan minyak atsiri. Dengan aroma khas atsiri Indonesia. Penelitian lainnya adalah nanodispersi antemisinin untuk obat anti malaria. Pada umumnya obat anti malaria tidak larut dalam air, jadi dicoba memodifikasi menjadi sesuatu yang larut dalam air. Terkait pandemi COVID-19, ada nanosilver untuk handsanitizer, di sini kami memodifikasi nanosilver denga ditambah minyak atsiri menjadi handsanitizer. “Pada masa pandemi ini, LIPI mendonasi sekitar 5 ton handsanitizer untuk membantu tanggap pandemi virus korona,” jelas Yenny. “Berdasarkan hasil uji di lab, formula nanosilver handsanitizer dengan minyak atsiri isopulegol di sini, tangan tetap bersih dari kuman dan bakteri selama dua jam,” ungkapnya. “Saat ini handsanitizer ini sedang kami uji anti virus ke SARS-Cov-2, jadi teman-teman di lab sini sedang membuat kultur virus Covid-19, berikutnya kami sedang mencoba protokol uji untuk handsanitizer ini apakah bersifat anti virus, mudah-mudahan nanti segera didapat hasilnya,” tambah Kepala P2 Kimia tersebut. “Penelitian nano lain yang masih berjalan saat ini adalah aplikasi nanoemulsi untuk pembasmi hama nabati atau pestisida nabati dari bermacam-macam bahan, antara lain minyak nimba, minyak cengkeh, minyak sereh, yang diformulasi sebagai pestisida nabati yang aplikasinya untuk tanaman organik dan perkebunan organik,” tutupnya. (har/ ed. adl)

Baca

Riset Covid-19 Fisika dan Kimia – LIPI Tampil di People & Inspiration Berita Satu


15 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Di masa pandemi ini ada banyak inovasi untuk menyelesaikan berbagai macam permasalahan di bidang kesehatan.  Bertajuk “Lawan COVID-19 dengan Pengetahuan”, program People & Inspiration Berita Satu mewawancarai peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI): Dr. Eng. Deni Shidqi Khaerudini (Puslit Fisika) dan Yati Maryati, M.Si. (Puslit Kimia), juga dr. Theresia Monica R., Sp.AN., KIC., MSi. (Direktur Klinik Utama sekaligus sebagai Dokter Spesialis anestesi) melalui video conference, Sabtu (13/6). Acara yang dipandu presenter Rolando Sambuaga, Berita Satu meminta para peneliti keren untuk bercerita tentang hasil, proses, dan penelitiannya. Ada yang meneliti tentang penggunaan plasma darah untuk pengobatan pasien Covid-19, membuat masker kain disinfektan, juga minuman penambah daya tahan tubuh. Tentang penelitian masker kain disinfektan, Peneliti Deni menjelaskan dalam kondisi pandemi Covid-19 ini  masyarakat juga diresahkan. Sekarang pemerintah sudah menerapkan new normal atau aktivitas kebiasaan baru. Agar masyarakat dapat berkativitas dengan nyaman  tentu harus dilengkapi dengan alat-alat kesehatan termasuk masker. Tetapi untuk masker medis, pemerintah menyarankan untuk digunakan hanya bagi para tenaga medis. Sedangkan untuk masyarakat umum diharapkan menggunakan masker jenis kain yang bisa digunakan berulang (reusable). Oleh karena itu, Deni dan tim terinspirasi untuk melakukan riset dari masker kain tetapi memiliki kemampuan anti bakterial atau pun memiliki kemampuan seperti masker medis. “Pada masker lapisan tembaga ada lapisan aktif yang kami sebut sebagai ‘contact killer’, yang nantinya apabila ada bakteri atau virus dalam periode waktu tertentu, dia akan terurai atau dia akan mati,” detil Deni. Pada perkembangan penelitian masker dan uji selanjutnya akan dilakukan uji aktivitas terhadap anti viral atau anti virusnya. Di mana penelitian akan dilakukan di Laboratorium Biosafety Level-3 (BSL-3) LIPI yang ada di Cibinong. “Masker kain disinfektor tentu memiliki lapisan aktif dibanding dengan masker kain biasa. Selanjutnya ukuran pori tadi rata-rata jauh lebih kecil dibandingkan dengan masker kain biasa. Karena ukuan pori mengecil tentu peluang virus atau bakteri untuk terhisap atau kemampuan filternya menjadi lebih meningkat,” tambahnya. Total dari persiapan hingga efektif penelitian adalah sekitar tiga bulan hingga saat ini. Tim pengembang masker kain disinfektor terdiri dari tiga peneliti yang terlibat diantaranya Dr. Eng. Deni Shidqi Kaerudini, Gerald Ensang Timuda S.Si., M.Eng., dan Swivano Agmal, S.Si. Selanjutnya, Yati Maryati menjelaskan bahwa penelitian jus jambu merah adalah untuk mendukung penanggulangan pencegah Covid-19. Yati dan tim mengembangkan riset terkait minuman kesehatan melalui teknik fermentasi sebagai upaya untuk pencegahan Covid-19 sebagai kandidat potensial dalam meningkatkan imunitas tubuh. “Sebelumnya kami juga telah melakukan riset terkait pengembangan pangan fungsional berbasis polifenol untuk pencegahan penyakit regeneratif. Maka, kami melihat bahwa jambu itu memiliki anti oksidan yang tinggi. Begitu pula dengan buah-buahan lainya. Namun, Jambu memiliki anti oksidan yang hampir 90%. Dari situlah kami mengambil riset ini untuk turut serta dalam upaya pencegahan Covid-19,” ungkap Yati Maryati. “Jus jambu biasa juga sudah memiliki aktivitas anti oksidan yang tinggi, flavonoid yang tinggi, polifenol yang tinggi, namun dengan teknik yang kami gunakan, yaitu teknik fermentasi yang mampu meningkatkan lebih tinggi lagi aktifitas anti oksidan. Penelitian pendahuluan telah kami lakukan di mana dengan berjalannya waktu fermentasi semakin meningkatnya aktifitas anti oksidan, juga polifenol,” papar Yati. Peneliti Yati juga menjelaskan teknik Fermentasi dan proses pembuatan bagaimana penelitian jus jambu berjalan. Penelitian ini telah dilakukan sejak bulan Maret setelah diketahui adanya kasus pandemi Covid-19 pertama di Indonesia. Saat ini penelitian pada tahap optimasi dan formulasi untuk mendapatkan kondisi proses yang maksimal atau optimal. Agar dari hasil tersebut benar-benar mampu meningkatkan respons imun ketika diuji in-vitro dan in-vivo. Peneliti jus jambu merah ini berjumlah tujuh orang dari Keltian kimia pangan dan satu orang dari teknologi proses, yakni Yati Maryati, M.Si., Hakiki Melanie, Ph.D., Hani Mulyani, M. Farm., Setyani Budiari, M.Si., Euis Filailla, Ir. Agustine Susilowati, M.M., Ir. Aspiyanto, dan Adid Adep Dwiamoko, Ph.D. Selain dua peneliti LIPI, dalam acara People and Inspiration kali ini ada narasumber dr Theresia Monica R. Beliau menjelaskan terapi plasma darah konvalesen (TPK) yang merupakan suatu terapi dengan memindahkan plasma darah dari penderita Covid yang sudah sembuh kemudian dipindahkan ke penderita Covid yang masih sakit. Pada antibodi yang terdapat dalam plasma darah tersebut dapat membantu antibodi pasien Covid-19 yang masih sakit untuk membasmi atau melawan virus Covid-19, sehingga memperbesar kesempatan untuk sembuh. (har/ ed. adl)

Baca

Dinperindag Banyumas Kunjungi P2 Kimia LIPI Bahas Teknologi Alkohol Hand Sanitizer


12 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas mengadakan kunjungan ke Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia - LIPI), sebagai tidak lanjut dari kerja sama pemanfaatan teknologi bioetanol antara Pemerintah Kabupaten Banyumas dan P2 Kimia LIPI. Bertempat di Pusat Penelitian Kimia, pada Jumat (12/6), Erny Indriastuti, perwakilan Dinperindag Banyumas beserta tim, melakukan diskusi bersama Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, peneliti Yan Irawan, pejabat pembuat komitmen (PPK) Kedeputian Teknik LIPI dan bagian kerja sama LIPI. Dinperindag Banyumas membahas kegiatan yang sudah dilakukan di daerahnya untuk penanganan Covid-19, salah satunya adalah pembuatan hand sanitizer dengan memanfaatkan ciu sebagai bahan baku alkoholnya. Kadar alkohol yang dibutuhkan untuk hand sanitizer 70 persen, oleh karena itu P2 Kimia bekerja sama membuatkan menara destilasi untuk meningkatkan kadar alkohol dari ciu yang berkisar 25-50 persen. Penggunaan ciu atau minuman keras yang ada di Banyumas sebagai bahan baku hand sanitizer merupakan ide dari Bupati Banyumas, Achmad Husein.    Selama pertemuan tersebut, Erny meminta rekomendari dari P2 Kimia LIPI untuk perbaikan pembuatan hand sanitizer di daerahnya. “Kami ke sini bermaksud untuk meminta saran, apakah produk kami sudah layak untuk jadi hand sanitizer? Bagaimana menghadapi pertanyaan pemeriksa yang mempersoalkan bahan baku ciu untuk hand sanitizer? Bagaimana mengelola limbah dari produksi hand sanitizer?” tanya PPK Dinperindag tersebut.  Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny menyarankan agar dokumen kerja sama dengan P2 Kimia yang dilengkapi dengan dokumen pendukung lainnya, seperti surat keputusan (SK), kerangka acuan kinerja (KAK), dan kontrak untuk mendukung legalitas produksi hand sanitizer berbahan baku ciu. “Kami akan membantu membuatkan dokumen pendukung, seperti SK dan KAK. Selama ini kami memang lembaga riset tidak dipermasalahkan mengenai asal-usul bahan kimianya,” jelasnya. "Mengenai pengujian, P2 Kimia bisa membantu untuk uji anti bakterinya," tambahnya. Peneliti Yan memberikan saran untuk pengolahan limbah produksi hand sanitizer dengan menggunakan indikator sistem aerasi dengan kolam ikan. Hasil destilasi yang berupa etanol dan air, dibuang etanolnya ke udara. Dalam mengukur kandungan logam dalam air digunakan BOD dan COD meter. “Pengolahan limbah bisa dilakukan di pendopo Banyumas, karena sudah punya tiga kolam ikan yang bisa dimanfaatkan. Alat pengukur BOD dan COD pun bisa dibeli di toko daring,” terang peneliti yang merakit alat destilasi alkohol tersebut. (adl)

Baca
ZONA INTEGRITAS