: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Perkembangan Riset Nano Herbal LIPI


22 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Nano Center Indonesia menyelenggarakan Webinar Nano Talks Series dengan tema Inspirasi Ilmuan Membangun Masa Depan Indonesia dengan Riset Nano Herbal, Kamis (18/6) melalui aplikasi Zoom dan siaran langsung Youtube pada channel Scienthink. Acara webinar ini disajikan oleh Yenny Meliana (Kepala Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Etik Mardliyati (Peneliti Senior Pusat Teknologi Farmasi dan Medika – Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi). Bertindak sebagai pemandu acara, Azza Harisna, M.Sc., peneliti Food, Health and Pharmaceutical Research Group, Nano Center Indonesia Research Institute. Turut bergabung dalam webinar, peserta dari berbagai kalangan seperti dosen, mahasiswa, praktisi, dan peneliti. Penyaji pertama, Yenny Meliana, berbicara tentang riset nano herbal LIPI untuk kesehatan dan kecantikan. Yenny Meliana menyampaikan salah satu riset di P2 Kimia – LIPI adalah mengembangkan riset melalui aplikasi seperti kosmetik herbal  dan obat herbal, antara lain nanoemulsi berbahan ekstrak pegagan dan jahe berbentuk krim untuk anti selulit. Nanoemulsi juga dikembangkan menjadi nanoenkapsulasi berbahan pegagan ekstrak dan jahe, berbentuk kapsul untuk anti selulit melalui sistem metabolisme pencernaan, dan juga berbentuk krim oles. Nanodispersi bahan ekstrak pegagan dan jahe, nama produk nanoemugel (teknologi nano-emulgel), berbentuk gel, untuk sediaan selulit , nama merek Joza. Selain itu, Yenny dan tim penelitiannya mengembangkan nanocream anti-aging dari ekstrak berbagai varian berbahan baku seperti bahan baku pegagan, timun, manggis, dan tomat. Juga ada solid perfume dalam bentuk emulsion dispersion berbahan wax, surfaktan, dan minyak atsiri. Dengan aroma khas atsiri Indonesia. Penelitian lainnya adalah nanodispersi antemisinin untuk obat anti malaria. Pada umumnya obat anti malaria tidak larut dalam air, jadi dicoba memodifikasi menjadi sesuatu yang larut dalam air. Terkait pandemi COVID-19, ada nanosilver untuk handsanitizer, di sini kami memodifikasi nanosilver denga ditambah minyak atsiri menjadi handsanitizer. “Pada masa pandemi ini, LIPI mendonasi sekitar 5 ton handsanitizer untuk membantu tanggap pandemi virus korona,” jelas Yenny. “Berdasarkan hasil uji di lab, formula nanosilver handsanitizer dengan minyak atsiri isopulegol di sini, tangan tetap bersih dari kuman dan bakteri selama dua jam,” ungkapnya. “Saat ini handsanitizer ini sedang kami uji anti virus ke SARS-Cov-2, jadi teman-teman di lab sini sedang membuat kultur virus Covid-19, berikutnya kami sedang mencoba protokol uji untuk handsanitizer ini apakah bersifat anti virus, mudah-mudahan nanti segera didapat hasilnya,” tambah Kepala P2 Kimia tersebut. “Penelitian nano lain yang masih berjalan saat ini adalah aplikasi nanoemulsi untuk pembasmi hama nabati atau pestisida nabati dari bermacam-macam bahan, antara lain minyak nimba, minyak cengkeh, minyak sereh, yang diformulasi sebagai pestisida nabati yang aplikasinya untuk tanaman organik dan perkebunan organik,” tutupnya. (har/ ed. adl)

Baca

Dinperindag Banyumas Kunjungi P2 Kimia LIPI Bahas Teknologi Alkohol Hand Sanitizer


12 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Kabupaten Banyumas mengadakan kunjungan ke Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia - LIPI), sebagai tidak lanjut dari kerja sama pemanfaatan teknologi bioetanol antara Pemerintah Kabupaten Banyumas dan P2 Kimia LIPI. Bertempat di Pusat Penelitian Kimia, pada Jumat (12/6), Erny Indriastuti, perwakilan Dinperindag Banyumas beserta tim, melakukan diskusi bersama Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, peneliti Yan Irawan, pejabat pembuat komitmen (PPK) Kedeputian Teknik LIPI dan bagian kerja sama LIPI. Dinperindag Banyumas membahas kegiatan yang sudah dilakukan di daerahnya untuk penanganan Covid-19, salah satunya adalah pembuatan hand sanitizer dengan memanfaatkan ciu sebagai bahan baku alkoholnya. Kadar alkohol yang dibutuhkan untuk hand sanitizer 70 persen, oleh karena itu P2 Kimia bekerja sama membuatkan menara destilasi untuk meningkatkan kadar alkohol dari ciu yang berkisar 25-50 persen. Penggunaan ciu atau minuman keras yang ada di Banyumas sebagai bahan baku hand sanitizer merupakan ide dari Bupati Banyumas, Achmad Husein.    Selama pertemuan tersebut, Erny meminta rekomendari dari P2 Kimia LIPI untuk perbaikan pembuatan hand sanitizer di daerahnya. “Kami ke sini bermaksud untuk meminta saran, apakah produk kami sudah layak untuk jadi hand sanitizer? Bagaimana menghadapi pertanyaan pemeriksa yang mempersoalkan bahan baku ciu untuk hand sanitizer? Bagaimana mengelola limbah dari produksi hand sanitizer?” tanya PPK Dinperindag tersebut.  Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny menyarankan agar dokumen kerja sama dengan P2 Kimia yang dilengkapi dengan dokumen pendukung lainnya, seperti surat keputusan (SK), kerangka acuan kinerja (KAK), dan kontrak untuk mendukung legalitas produksi hand sanitizer berbahan baku ciu. “Kami akan membantu membuatkan dokumen pendukung, seperti SK dan KAK. Selama ini kami memang lembaga riset tidak dipermasalahkan mengenai asal-usul bahan kimianya,” jelasnya. "Mengenai pengujian, P2 Kimia bisa membantu untuk uji anti bakterinya," tambahnya. Peneliti Yan memberikan saran untuk pengolahan limbah produksi hand sanitizer dengan menggunakan indikator sistem aerasi dengan kolam ikan. Hasil destilasi yang berupa etanol dan air, dibuang etanolnya ke udara. Dalam mengukur kandungan logam dalam air digunakan BOD dan COD meter. “Pengolahan limbah bisa dilakukan di pendopo Banyumas, karena sudah punya tiga kolam ikan yang bisa dimanfaatkan. Alat pengukur BOD dan COD pun bisa dibeli di toko daring,” terang peneliti yang merakit alat destilasi alkohol tersebut. (adl)

Baca

Inovasi LIPI: Minuman Kesehatan untuk Meningkatkan Imunitas


12 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) sedang mengembangkan suplemen jus jambu biji merah untuk meningkatkan daya tahan tubuh, pada program Halo Indonesia DAAI TV, Kamis (11/6). Jus jambu ini berpotensi menjadikan kandidat suplemen yang dapat membantu imunitas tubuh untuk melawan virus. Keunggulan penelitian suplemen jus jambu terletak pada teknik pembuatan yaitu menggunakan teknik fermentasi probiotik. Kandungan flavonoid pada buah jambu biji merah ditambah dengan SCOBY atau bakteri asam laktat sehingga menghasilkan asam-asam organik dan memiliki vitamin C yang tinggi. Kemudian kandungan yang dihasilkan juga mampu menetralisir racun dan memperkuat sistem imun tubuh. “Khasiat yang dihasilkan dari jus ini yaitu mampu meningkatkan sistem imun karena kandungan senyawa yang dari jambu sendiri juga sudah tinggi, seperti flavonoid, alkaloid, polifenol, anti oksidan, vitamin C, dan serat terlarut. Namun dengan adanya proses fermentasi ini, akan lebih meningkatkan lagi kerja dari bakteri probiotik yang ada. Karena produk akhir fermentasi akan menghasilkan senyawa-senyawa organik yang mampu mendetoksifikasi racun, meningkatkan energi, juga meningkatkan sistem imunitas tubuh kita,” jelas Yati Maryati, Peneliti P2 Kimia – LIPI. Tahap uji coba pembuatan jus jambu fermentsi ini dapat memakan waktu hingga 12 hari. Saat ini penelitian suplemen jus jambu biji fermentasi masih terus dikembangkan. Menurut peneliti pangan tersebut, minuman ini bisa menjadi salah satu kandidat suplemen pencegahan Covid-19, selama belum ditemukan obat maupun vaksin dari virus tersebut. Inovasi ini pun telah sampai tahap uji coba formulasi dan segera memasuki tahap uji klinis. “Kami sampai saat ini masih dalam tahap formulasi dan optimasi proses. Harapannya kami bisa sampai ke uji in vitro dan in vivo, hingga ke uji klinis. Juga bisa dikomersialisasikan melalui kerja sama dengan industri, dan pemegang paten tetap berada di LIPI,” tambah peneliti Yati. (har/ ed. adl)

Baca

Inovasi LIPI untuk Penanganan Sampah Laut yang Berkelanjutan


11 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Memperingati Memperingati hari laut sedunia 8 Juni 2020, Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKNPSL) menyelenggarakan Diskusi Inovasi dengan tema “Inovasi Penanganan Sampah untuk Laut yang Berkelanjutan” pada Kamis (11/6) melalui media Webinar Zoom dan melalui Live Youtube. Acara webinar peringatan hari laut sedunia disampaikan oleh narasumber Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa (Direktur Riset dan Pengabdian Masyarakat – Kementerian Riset dan Teknologi), Prof. Dr. Akbar Tahir (Leader of Marina Plastic Research Group  - Universitas Hasanuddin), Dr. Devi Dwiyanti (Pusat Riset Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan), Muhammad Ghozali (Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan Andre Kuncoroyekti (STOP Project Muncar – Systemiq). Sebagai pemandu jalannya acara, Prita Laura (Presenter Metro TV) bertindak sebagai moderator. Yang diikuti oleh peserta dari Kementerian, Lembaga, lembaga swadaya masyarakat (LSM), akademisi, dan masyarakat umum. Pembukaan dan sambutan yang disampaikan oleh Muhammad Yusuf  (perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil): Menyampaikan bahwa 8 Juni 2020 bertepatan dengan ‘World Ocean Day’ yang ke 12, kemudian temanya adalah Inovasi dalam laut yang berkelanjutan. “Kita harus menyamakan persepsi bahwa tujuan seminar hari ini adalah membangun kesadaran publik di mana masalah sampah laut adalah masalah yang sangat penting saat ini; perlunya edukasi masyarakat bahwa banyak inovasi yang ada saat ini harus bisa kita terapkan dalam kehidupan kita, kemudian harapan kita para narasumber nanti akan memberikan rekomendasi atau hal-hal yang bisa kita replikasi atau scaling up ke dalam penanganan sampah laut,” terang M. Yusuf. Peneliti Pusat Penelitia Kimia LIPI sebagai Pembicara keempat, Muhammad Ghozali berbagi pandangan lain dari sisi materail plastik yaitu inovasi material alternatif plastik. Muhammad Ghozali menyampaikan bahwa sampah plastik begitu banyak, tetapi sebaiknya kita mengenal dulu apa itu plastik. “Plastik sebenarnya susunannya dari polimer (suatu rangkaian molekul panjang yang terdiri dari molekul sederhana),” jelas Ghozali. “Molekul polimer ini terfragmentasi menjadi potongan kecil-kecil, maka apabila polimer itu ditambahkan suatu aditif maka disebut plastik,” tambahnya. “Bahan baku plastik mudah dimodifikasi dan biaya produksi murah.” ungkap peneliti Kimia Polimer. Aplikasinya luas untuk kemasan, rumah tangga, automotif, tranfortasi, pertanian, medis, dan lain-lain. “Kebutuhan plastik berbanding lurus dengan jumlah penduduk dan kemajuan teknologi,” ungkap Ghozali. Apabila limbah plastik masih dalam lingkaran siklus plastik, maka tidak akan bermasalah untuk lingkungan. Oleh karena dapat didaur ulang dan digunakan lagi pada sebagian produk. Tetapi yang bermasalah adalah bagaimana limbah plastik itu bocor ke lingkungan. Inilah yang membuat masalah di lingkungan kita. Sampah plastik yang bocor ke lingkungan itu yang paling utama adalah kantong kresek. Karena kantong kresek hanya sekali penggunaan dan nilai ekonominya jauh lebih rendah dibanding plastik-plastik lain, sehingga teman-teman pemulung juga tidak tertarik mengumpulkan karena kurang bernilai secara ekonomi. Menurut Ghozali, sampah plastik bisa berawal di jalanan, di sungai, dan bermuara di laut. Bagaimana penaganan limbah plastik? Ghozali menawarkan dua metode, pertama dengan daur ulang, dan yang kedua dengan dijadikan material alternatif Material alternatif merupakan cara preventif. Bagaimana kita mencari material alternatif pengganti plastik? Ghozali menjabarkan bahwa material harus yang ramah lingkungan, jangan sampai kita mencari material alternatif yang justru menimbujlkan masalah lain. Material alternatif yang beredar saat ini atau yang dikenal saat ini adalah bioplastik. Bioplastik adalah material yang bisa digunakan untuk plastik yang berasal dari sumber alam. Ada tiga produk inovasi Material Alternatif Plastik yang di kembangkan di lab P2 Kimia -LIPI antara lain: Pertama, produk inovasi bioplastik diantaranya pelet bioplastik yang kemudian dijadikan kantong plastik siap pakai berfungsi sebagai pengganti kantong kresek atau kemasan sachet dengan berbahan patih, kitosan, selulosa asetat, dan PLA. Inovasi kedua, yaitu biofoam yang dilapisi plastik berkolaborasi dengan Balai Besar Pascapanen Kementan. Biofoam dibuat yang tahan air bahkan dapat digunakan sebagai bungkus mie rebus hingga bertahan lima menit dan tidak bocor. Juga bisa cuci dan digunakan kembali. Kemudian biofoam berbahan limbah dari industri makanan yang tidak merusak lingkungan dan mudah hancur dan terurai (biodegradable). Inovasi ketiga, yaitu biopaper, termasuk biopaper yang dilapisi plastik.(har/ ed. adl)

Baca

Hari Lingkungan Hidup Sedunia, LIPI Cerita Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia


11 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember  (ITS) melalui Pusat Penelitian Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan, menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Biodiversitas, Pandemi & Siklus Kehidupan” pada Rabu (10/6) melalui media Webinar Zoom dan melalui Live Youtube. Acara webinar ITS disampaikan oleh narasumber Ir. Wiratno, M.Sc. (Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosisitem – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI), Dr. Eng. Agus Haryono (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, Plt. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan Drs. Sapto Ciptadi, Dip. Geo Tech, M.Sc. (General Manajer PGE Kamojang – PT Pertamina Geothermal Energi). Sebagai pemandu jalannya acara, Brigita Manohara (Presenter tvOne, Alumni Arsitektur ITS) bertindak sebagai moderator. Acara tersebut diikuti oleh peserta dari pakar, tokoh masyarakat, kepala KPH , KSDA, LIPI, para pemerhati lingkungan, fakultas, penjaga hutan, dan taman nasional. Dalam sambutan dan paparan Wakil Rektor 4 ITS Bidang Kerja Sama dan Hubungan Alumni, Bambang Pramujati S.T. M.Sc.Eng. Ph.D. mengatakan bahwa dirinya sangat konsen terhadap lingkungan karena pembangunan yang harus dilaksanakan adalah pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. “Dengan tema “Biodiversity, Pandemi & Siklus Kehidupan”, mengingatkan kita semua bahwa tahun ini merupakan tahun yang penuh tantangan secara global termasuk di Indonesia,” jelas Bambang. “Tidak hanya masalah lingkungan yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, atau pun kelangkaan air,  namun juga tantangan pandemi COVID-19 yang melanda dunia saat ini,” tambahnya. “Tentunya para ahli juga menyarankan bahwa jika kita tidak mengubah perilaku kita dalam menjaga alam, maka akan meningkatkan jumlah wabah secara global,” teramgnya. Jadi untuk mencegah sionesis, menyebaran penyakit melalui virus, bakteri, dan sebagainya di masa depan, maka kita harus bekerja sama mengatasi berbagai ancaman untuk ekosistem dan satwa liar,” ajak Bambang Pramujati. Sebagi pembicara kedua, Dr. Eng. Agus Haryono menceritakan mengenai keanekaragaman hayati laut Indonesia dan juga status, ancaman dan tantangan, dan langkah ke depan. LIPI mempunyai proyek bernama COREMAP CTI yang meliputi monitoring pada terumbu karang, padang lamun, mangrove, ikan, penyu, mamalia laut. “Ancaman dan tangangan bagi biodiversitas kita, adalah over eksploritasi, penangkapan berlebih, dan sebagainya,” ungkap Agus. “Sekarang banyak sekali ditemukan sampah berupa masker juga sudah masuk ke laut dan ini sudah mengancam keberadaan biota atau biodiversitas laut Indonesia,” jelas Agus Haryono. LIPI perlu dukungan riset agar upaya pelestarian dan pemanfaatannya berbasis data maupun informasi ilmiah. “Bagaimana agar kita bisa mewujudkan ekosistem pembangunan berkelanjutan selain penyediaan data, riset, penegakan hukum, peningkatan kapasitas SDM,” kata Deputi IPK LIPI. LIPI mengajak semua masyarakat, akademisi di universitas agar bersama-sama dengan LIPI untuk melakukan edukasi, monitoring terhadap terumbu karang, mangrove, ikan, dan padang lamun. Melalui proyek COREMAP CTI, LIPI mengajak masyarakat untuk dilatih bersama-sama melakukan monitoring. “Kami akan ikutkan masyarakat bersama melakukan monitoring ke laut-laut seluruh Indonesia, sehinngaJadi setiap tahun ada jutaan hektar laut yang tidak bisa dikerjakan oleh peneliti LIPI saja, tetapi perlu juga melibatkan semua pihak yang ada di Indonesia ini,” jelas Deputi Agus. “Dengan projek ini kami mengajak semua pihak (stakeholder) untuk bersama-sama melakukan penyadaran ke masyarakat, melakukan monitoring kondisi biodiversitas laut kita dengan kemampuan kita semua, sehingga kita bisa bersama-sama menjaga laut di Indonesia. Oleh karena laut adalah masa depan kita, dengan laut kita bisa menghasilkan pangan, obat, dan ,” jelas Agus. segala sesuatu yang meningkatkan perekonomian kita,” tambah Deputi LIPI. “Jika banyak pihak yang membantu melestarikan apa yang ada di negeri kita, keanekaragaman hayati baik di darat, di laut, dan di udara, tentunya keanekaragaman, kekayaan yang kita miliki mudah-mudahan bisa lestari dan bisa terus dinikmati oleh anak cucu kita nantinya,” harap moderator Brigita Manohara. (har/ ed. adl)

Baca

LAFI – PUSKESAD Kunjungi P2 Kimia LIPI untuk Implementasi Kerja Sama Riset Bahan Alam


11 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Farmasi Pusat Kesehatan Angkatan Darat (LAFI – PUSKESAD) yang diwakili oleh TPH. Simorangkir. dan dua orang tim mengunjungi Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia - LIPI) pada Kamis (11/6) dalam rangka kerja sama riset bahan alam. Tim LAFI – PUSKESAD disambut oleh Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, Koordinator Penelitian Kimia Bahan Alam P2 Kimia LIPI, Rizna Triana Dewi , perwakilan peneliti terkait riset bahan alam dan nano teknologi P2 Kimia LIPI, serta bagian Kerja Sama dan Humas LIPI. Kerja sama riset bahan alam untuk obat herbal merupakan inisiasi dari LAFIAD yang mengajak LIPI bekerja sama menggunakan sumber daya dan fasilitas yang ada di LIPI berdasarkan kandidat obat herbal dari LAFIAD. Jadwal pelaksanaan yang akan dikerjasamakan oleh LAFIAD dan LIPI dimulai pada pertengahan tahun 2020 hingga akhir tahun 2020. “Tujuan besar pengembangan obat herbal ini adalah untuk alternatif pengobatan dalam rangka ketahanan dan kedaulatan obat Indonesia,” terang Simorangkir. Dalam pertemuan tersebut dilakukan diskusi lanjutan pembahasan draft kerja sama teknis hingga menghasilkan dokumen Perjanjian Kerja Sama. Selain itu, dibahas juga rencana penelitian dan pengembangan untuk tiga tahun ke depan. “Semoga kerja sama antara pihak TNI AD dan LIPI ini bisa berjalan dengan baik,” harap Yenny. (adl)

Baca

Upaya Preventif LIPI Cegah COVID-19 lewat Riset Kimia dan Fisika


06 Juni 2020

Serpong, Humas LIPI. Belum usainya pandemi COVID-19 mendorong berbagai pihak terus berkontribusi untuk mengatasi permasalahan ini. Beberapa hasil penelitian yang sedang dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah alat deteksi virus SARS-CoV-2 menggunakan metode RT-LAMP, minuman kesehatan fermentasi dari jambu biji merah, dan masker kain disinfektor lapis tembaga anti-COVID-19.“Produk-produk riset dari LIPI diharapkan dapat membantu mengurangi resiko paparan virus terutama di fase kenormalan baru ini,” jelas Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono dalam “Webinar Talk to Scientists: Riset Kimia dan Fisika LIPI Antisipasi COVID-19” pada Kamis (4/6). Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Tjandrawati Mozef dan timnya mengembangkan penelitian deteksi RNA virus COVID-19 dengan teknik RT-LAMP (reverse transcription loop-mediated isothermal amplification) Turbidimetri. “Teknik reverse transcription polymerase chain reaction atau RT-PCR yang umum dipakai saat ini relatif lama prosesnya dan penanganannya lebih sulit. Sementara melalui RT-LAMP Turbidimetri ini dapat diperoleh hasil secara cepat dan akurat, dengan metode yang lebih sederhana,” jelasnya. Oleh karena itu, lanjutnya, seseorang dapat diketahui apakah terinfeksi atau tidak secara lebih dini. Pencegahan penularan COVID-19 diperlukan juga suplemen untuk meningkatkan imunitas tubuh. Yati Maryati dan tim peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI mengembangkan riset buah jambu biji merah yang diproses menjadi minuman suplemen daya tahan tubuh. “Dengan proses fermentasi ini terjadi peningkatan antioksidan dan polifenol, penurunan pH dan peningkatan asam organik. Asam-asam organik inilah yang bermanfaat bagi imunitas tubuh kita,” papar Yati.Selain deteksi dini dan minuman suplemen, perlindungan diri juga penting dilakukan dalam upaya pencegahan COVID-19. Deni Shidqi Khaerudini dari Pusat Penelitian Fisika mengembangan masker kain disinfektor yang berbasis lapisan tembaga. “Material aktif tembaga berperan sebagai contact killer sekaligus mereduksi ukuran pori masker kain,” ujar Deni. Pengaplikasian tembaga dilakukan dengan cara pelapisan langsung atau penyisipan lembaran tembaga ke dalam masker kain. (nh, adl/ed: fz)

Baca

Maaf Lahir Batin di Masa Pandemi P2 Kimia LIPI


29 Mei 2020

Serpong, Humas LIPI. Lebaran telah usai, namun pandemi COVID-19 belum juga usai. Oleh karenanya, pada Jumat (29/5), Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) mengadakan pertemuan virtual melalui fasilitas Zoom. Bertindak sebagai pemandu acara, Akhmad Darmawan, PME P2 Kimia. Mengawali acara, Adid Adep Dwiatmoko membacakan seuntai doa. “Kami berharap agar Allah mengampuni dosa-dosa dan juga berharap maaf dari rekan-rekan sekalian, baik sengaja atau tidak disengaja,” doanya. “Semoga Allah mengangkat musibah di negeri Indonesia dan negeri-negeri lainnya,” tambahnya. “Serta memberikan kemudahan bagi rekan-rekan yang bertugas, serta memudahkan urusan para pemimpin dan rakyat semuanya,” pintanya. Acara dilanjutkan oleh Yenny Meliana selaku Kepala P2 Kimia LIPI, menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri. “Setelah kurang lebih 2,5 bulan WFH (wrk from home), dalam nuansa Idul Fitri ini, saya mengucapkan mohon maaf lahir batin, semoga pandemi segera berlalu,” ujarnya. Dalam acara tersebut Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI hadir memberikan sambutan. “Terima kasih untuk peneliti yang bekerja dengan topik riset COVID-19, jika sebelumnya topik riset adalah alat kesehatan, berikutnya adalah sarana dan prasarana normal baru (new normal),” jelasnya. “Diharapkan produk riset seperti disinfektan, hand sanitizer, APD, dan alat-alat lain di LIPI bisa membantu interaksi pegawai bekerja tapi tetap terlindungi,” imbuhnya.  “Prosedur normal baru bagi ASN LIPI adalah rata-rata pegawai sebanyak 20% diminta hadir, pembagian WFO (work from office) dan WFH diserahkan ke unit kerja masing-masing,” jelas Deputi. “Rapat online akan berlanjut, kegiatan berlanjut tapi tetap dalam protol kesehatan,” tambahnya. “Tugas kita sebagai ASN adalah bertugas untuk menghadapi hasil karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” pesannya. Deputi menyampaikan trik ABCDE selama masa pandemi COVID-19. A : Amati perkembangan Covid-19 dan teknologi yang ada dari rumah masing-masing. B : Belajar, inpirasi dari peneliti terbaik. C : Cari kolaborator sebanyak-banyaknya, saat bekerja di rumah lebih mudah untuk diskusi dalam dan luar negeri. D : Dengarkan masukan, jangan sungkan, baik dari junior maupun senior. E : Evaluasi seluruhnya, mungkin ada hal yang dianggap tidak bermanfaat untuk mengatasi COVID-19, namun ternyata bisa bermanfaat. Perwakilan peneliti Andria Agusta turut menyampaikan pesan dalam rangka Idul Fitri. “Kita diminta oleh pemerintah untuk tidak berkumpul, tapi situasi tersebut diharapkan kita tidak jauh secara batin,” ujarnya. “Ada pengalaman baru seperti bapak-bapak pertama kali jadi imam tarawih, juga bersalam-salaman yang biasanya dilakukan ketika lebaran, tidak dilakukan,” ungkapnya. “Perihal thaun atau wabah menurut hadits adalah rahmat bagi orang beriman, penelitian COVID-19 sebagai ikhtiar kita,” tambahnya. Acara selanjutnya adalah paparan dari Yenny Meliana, mengenai bagaimana kondisi normal baru di P2 Kimia LIPI yang dilanjutkan dengan diskusi. (adl)

Baca

Ngabuburit Bicara Covid-19: “Munasain, Tradisional Knowledge, and Science”


20 Mei 2020

Serpong, Humas LIPI. Memperingati “Hari jadi Museum Etnobotani Indonesia (sekarang Munasain) dan Hari Museum Internasional” yang jatuh pada 18 Mei, Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia (Munasain) melaksanakan kegiatan ngabuburit tahun 2020 yang diisi acara bincang-bincang atau “talkshow” dengan tema Covid-19: Munasain, Traditional Knowledge, and Science, pada Senin (18/5), melalui media Webinar Zoom dan melalui Live Youtube. Webinar ini disampaikan oleh pembicara Prof. Dr. Andria Agusta, Profesor Riset Kimia Bahan Alam, Pusat Penelitian Kimia LIPI, membagi informasi tentang "Bisakah Obat Herbal Mengatasi Covid-19"?, dan Dr. Herry Yogaswara, Doktor Ekologi Manusia, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, memaparkan tentang "Strategi Masyarakat Adat Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19: Dari Ritual Hingga Pengetahuan Tradisional Pengobatan". Sebagai pemandu jalannya acara, Pranata Humas Madya – Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI, Ir. Sugiarti bertindak sebagai moderator. Acara ngabuburit Munasain diikuti oleh lembaga riset, lembaga pemerintah, lembaga swasta, perguruan tinggi, universitas negeri, sekolah, komunitas, rumah sakit, umum, dan rekan media. Dalam sambutan dan paparan Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dr. Atit Kanti mengucapkan  selamat kepada tim pengelola Munasain, yang dulunya bernama sejarah alam Indonesia kini berusia ke-38 tahun. Munasain selama empat tahun ini sudah melakukan transformasi menjadi “museum yang lebih modern” dengan konten berbagai macam pendekatan yang didukung oleh banyak pihak. Sekarang, pengelolaan Munasain sudah digandengkan dengan mitra Dyandra. Kapuslit Atit berharap ini menjadi salah satu titik tolak ukur Munasain menjadi lebih dikenal. Beliau menitipkan pesan kepada humas LIPI untuk bersama-sama mempromosikan Munasain. Kapus P2 Biologi mengucapkan terima kasih kepada narasumber Prof. Dr. Andria Agusta. Beliau sudah sangat lama bekerja dengan berbagai macam bahan alam yang membantu Indonesia menemukan jenis-jenis obat yang baru dalam berbagai macam bentuk. Kemudian Dr. Herry Yogaswara yang menyampaikan bagaimana ilmu pengetahuan tradisional (traditional knowledge) bergandengan dengan ilmu ilmiah (science). Jadi kedua topik tersebut melihat Covid dari dua sisi yang berbeda. “Mari kita lupakan sejenak bagaimana Covid merusak kehidupan dunia, bagaimana virus ini tidak dapat dikendalikan, bagaimana kita tidak bisa mengendalikan manusia untuk diam di rumah. Acara ini salah satu webinar yang pola dan coraknya sangat menarik,” terangnya. Sebagai informasi, LIPI turut membantu pemerintah dalam program penuntasan Covid-19. Yaitu dengan dengan berbagai program, seperti pelatihan (training), proses deteksi, bergabung dengan tim deteksi Covid-19 Indonesia, dan melakukan proses deteksi virus dengan bekerja sama dengan rumah sakit. Selain itu, LIPI juga mengembangkan obat tradisional, peralatan-peralatan sterilisasi, vaksin, dan RT VCR lab. Dari segi sains akhirnya manusia tergiring untuk mencoba beradaptasi dengan penyakit. Sementara dari sisi sosial di tengah kepanikan orang, ternyata kreatifitas peneliti juga bisa dipacu dengan sangat cepat. Dengan dukungan pimpinan LIPI, LIPI siap bekerja sama dengan seluruh stakeholder baik universitas, perusahaan swasta, media, para pelajar universitas, untuk ikut berperan bersama-sama mengembangkan dan mempelajari apa sebenarnya Covid-19 dari berbagai macam aspek. Pembicara pertama, Prof Adria Agusta menjelaskan tentang obat herbal untuk Covid-19, kemudian secara rinci bagaimana proses kimia, metode untuk mengatasi Covid-19, obat maupun pengetahuan tradisional di Indonesia. Berdasarkan website dari WHO, bahwa saat ini belum ada obat yang bisa digunakan untuk mencegah maupun untuk mengobati Covid-19. Pemanfaatan herbal untuk mengatasi Covid-19 sudah diterapkan di Indonesia oleh masyarakat. Contohnya di Maluku, ada tradisi baukup/bertangas yang merupakan metode pencegahan Covid-19 dengan menggunakan bahan herbal berupa daun pala, buah pala, daun nangka belanda, daun cengkih, daun kayu putih, kayu putih, lengkuas, dan jahe. Sementara Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan sebuah produk tumbuhan kayu putih atau melaleuca leucadendron yang diklaim dapat menjadi obat untuk mengatasi Covid-19. Herbal melaleuca leucadendron telah diujikan pada virus influenza dan virus beta atau gamma corona, tapi belum diujikan pada SARS-Cov-2. Kemudian pada laman media sosial, sangat banyak herbal lainnya yang diklaim dapat mengatasi Covid-19 seperti herbal yang mengandung kurkumin, yang disebut empon-empon seperti kunyit, temulawak, dan sejenisnya. Selain itu ada kulit jeruk, jambu biji merah, daun kelor mengkudu; meniran; jintan hitam. Khasiat herbal tersebut diklaim sebatas berdasarkan docking study yaitu dari simulasi dengan komputer. Prof. Andria berkesimpulan bahwa banyak bahan obat alami/obat herbal yang diklaim dapat digunakan untuk mengatasi infeksi SARS-Cov-2 penyebab Covid-19, baik dari peneliti di institusi resmi maupun masyarakat umum. Namun pada kenyataannya klaim tersebut didasarkan pada data dengan uji menggunakan virus yang berbeda sama sekali. “Sangat perlu dipahami bahwa tidak ada suatu bahan obat yang bersifat universal yang dapat membunuh atau pun menghambat replikasi segala macam virus. Oleh karena itu pengujian dengan menggunakan virus SARS-Cov-2 adalah sangat penting untuk dibuktikan dan segera dilakukan,” tambahnya. Pembicara kedua, Dr. Herry Yogaswara sebagai social scientist (peneliti sosial) menceritakan bahwa tugasnya adalah menjelaskan hal yang rumit seperti sains dari sisi kimia atau biologi, secara lebih mudah kepada masyarakat tradisional. “Jangan sampai hal-hal yang sifatnya ilmu pengetahuan dipertentangkan dengan pengetahuan lokal. Kita saling belajar, antara para ahli ilmu sosial dengan penduduk lokal, kemudian dari teman-teman ilmu alam, ilmu teknik,” ujar Dr. Herry. Bagaimana masyarakat yang kental dengan herbal, diterjemahkan oleh peneliti ilmu sosial, antroplogi, sosiologi. Tentang fungsi-fungsi yang ada di masyarakat dijelaskan kepada publik yang lebih luas. Pada isu tentang masyarakat adat dan Covid-19, masyarakat adat di berbagai negara, berbagai tempat, kehidupan kesehariannya termasuk rentan. Sebagai contoh, ada ritual keseharian yang seringkali menggunakan asap. Hal itu bisa merusak sistem pernapasan.  Oleh karena itu, LIPI hadir di tempat masyarakat adat untuk menyampaikan bagaimana nilai-nilai tradisional yang baik. Misalnya bagaimana membangun rumah tradisional yang secara arsitektural diterima masyarakat adat namun juga sehat. Masyarakat adat umumnya terbatas terhadap akses kesehatan karena mereka hidup di lokasi yang terisolasi. Akses air juga sangat terbatas. Bagi peneliti sosial, yang terpenting adalah memberikan edukasi publik kepada masyarakat adat. Bagaimana ketika mereka melakukan ritual, juga harus melaksanakan jaga jarak (social distancing) dalam kelompok. Selain itu, penggunaan herbal di lokasi masyarakat menjadi penting untuk dipromosikan. Masyarakat adat bisa bertahan hingga saat ini karena adanya pengetahuan berdasarkan kearifan lokal. Contohnya masyarakat tradisional di Banten yang mempunyai sistem pertanian yang tidak monokultur. Mereka menggarap pertanian lahan kering, lahan sawah, pertanian kebun campuran dan talun. Perubahan itu akan selalu hadir di dalam masyarakat adat, termasuk yang sangat tradisional sekali pun. Berupa ‘kearifan lokal dalam dunia yang dinamis”. (har/ ed. adl)

Baca

LIPI Sampaikan Metode Screening untuk Kandidat Obat Herbal Covid-19 dalam Webinar Tematik ICTS


11 Mei 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Innovation Centre for Tropical Sciences (ICTS) berinisiasi menyelenggarakan webinar tematik bertema “Potensi Sumber Daya Genetik Tanaman Lokal Indonesia untuk Penanggulangan Covid-19”, pada Minggu (10/5), melalui media Webinar Zoom dan melalui Live Youtube. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menyampaikan temuan dan pengembangan riset dan teknologi kepada masyarakat dan para praktisi. Webinar ini disampaikan oleh oleh pemateri Akhmad Saikhu (Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Kementerian Kesehatan), dan Teni Ernawati (Peneliti Pusat Penelitian Kimia – LIPI). Sebagai pemandu jalannya acara, peneliti Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian, Aqwin Polosoro bertindak sebagai moderator. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, antara lain lembaga penelitian, perguruan tinggi, industri, kementerian pertanian, dan para praktisi. Pembicara pertama, Akhmad Saikhu menyampaikan informasi-informasi dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan oleh kementerian kesehatan seperti riset tanaman obat dan jamu (ristoja), serta potensi-potensi obat sebagai immunodulator dan antiviral. “Dalam masa pandemi Covid-19 ini perlu dilakukan penelitian dan kajian secara cepat dan tepat, agar bisa menurunkan angka kesakitan maupun kematian akibat virus ini dengan memanfaatkan tanaman obat asli Indonesia sebagai bagian dari upaya penanggulangan Covid-19,” jelas Akhmad Saikhu. Akhmad Saikhu menginformasikan tanaman obat maupun terapi yang sangat dibutuhkan. Tanaman obat yang berpotensi untuk penelitian diantaranya sambiloto, kunyit, temulawak, meniran, jambu biji, timi, vitex, jeruk, tanaman br-katekin, kelor, serta ramuan SJ untuk kebugaran. Untuk efek terapi yang dituju untuk penanganan Covid-19 adalah sebagai antivirus, imunomodulator, antioksidan, dan ekspektoran peningkat permeabilitas pembuluh darah. Beliau berpesan bahwa dalam pandemi ini harus berkolaborasi dan bekerja sama, sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat, menemukan kandidat-kandidat obat baru, kandidat-kandidat ramuan baru yang dapat digunakan masyarakat Indonesia. Pembicara kedua, Teni Ernawati memberikan pemaparan tentang metode screening senyawa aktif dalam herbal sebagai kandidat obat Covid-19. Sebelum memasuki metode screening, Teni memapaparkan bagaiman penelitian dan pengembangan obat herbal antara lain penemuan dan pengembangan obat baru, pengujian praklinis, pengujian klinis, persetujuan BPOM (Badan Pengawasa Obat dan Makanan), hingga monitoring keamanan obat di pasaran. Selanjutnya tahapan-tahapan screening yang dimulai dari pemilihan, menemukan/mengidentifikasi, mengkarakterisasi, pengujian praklinis, hingga pengujian klinis. “Sejak difasilitasi oleh CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) di P2 Kimia LIPI, produk herbal itu akan diproduksi atau diedarkan ke masyarakat, sebaiknya dari awal penelitian dari mulai praklinis harus mulai konsultasi dan pendampingan dengan BPOM agar riset yang dilakukan itu tidak mengulang lagi, karena biaya yang dikeluarkan cukup besar, sehingga ketika memulai praklinis, membuat protokol yang bisa dilihat oleh BPOM,” ungkap peneliti Puslit Kimia LIPI. Kemudian tahap pengujian klinis adalah ranahnya para dokter. Jadi pengujian klinis ini setelah diteliti, harus dikonsultasikan dengan dokter, bagaimana membuatnya untuk masuk ke tubuh pasien, serta tahap monitoring dan keamanan obat. Selanjutnya Teni memaparkan pendekatan maupun metode screening dalam penemuan obat yang digunakan secara ilmiah dalam tahapan-tahapan tersebut. Dalam metode screening, yang umum digunakan pertama adalah Hingh-throughput screening (HTS). Metode ini menggunakan sampel dan herbal untuk Covid-19. Dalam penelitian, LIPI menggunakan daun benalu dan daun keteteng. Kedua, mengunakan penapisan komputansi/insilico virtual screening yang tidak memerlukan herbal, tetapi dengan screening senyawa-senyawa secara komputasi. Di tempat lain seperti Unair dan UI, telah melakukan screening dari herbal-herbal yang ada untuk senyawa-senyawa yang memiliki aktifitas sebagai Covid-19. Sedangkan di P2 Kimia – LIPI untuk mempersempit penelitiannya, LIPI melakukan screening dari hasil yang telah Unair dan UI lakukan,  sehingga mempersempit lagi ruang lingkupnya dari database yang sudah dilakukan. Keuntungan yang menggunakan insilico adalah tidak menggunakan bahan-bahan herbal, tetapi dikonfirmasi dari hasil lab. Hal ini untuk mempermudah dan mempercepat proses penelitian dan pengembangan di bidang herbal. Untuk kandidat Covid-19 ini, LIPI menggunakan protein-protein SARS-Cov-2, yang tersedia di Protein Data Bank, diantaranya 6lu7, 2GTB, 5R7Y, 6YB7, 3M3, dan lain-lain. Kemudian karena virus itu bermutasi, bisa juga dilihat di mana terjadi perubahan mutasi tersebut menggunakan hemoglobin modeling. Peneliti Teni berharap dengan program percepatan BPOM, konsultasi, bimbingan, pengembangan produk herbal akan lebih cepat lagi. Selain itu, dalam penelitian herbal ini membutuhkan konsorsium agar semakin banyak institusi yang ikut bergabung untuk mempercepat proses mendapatkan produk herbal untuk Covid-19. “Kami juga membuka peluang kerja sama penelitian guna mendukung proses penelitian herbal dengan para stakeholder, baik industri, perguruan tinggi, maupun lembaga yang terkait dengan penelitian herbal,” tambahnya. (har/ ed. adl)

Baca

Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Selenggarakan Webinar Reformasi Birokrasi Pertama Guna Meningkatkan Kinerja Peneliti


23 April 2020

Jakarta, Humas LIPI. Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPT – LIPI) menyelenggarakan Webinar Kedeputian IPT – LIPI: Seri Pembinaan Reformasi Birokrasi (RB) - 1, pada Kamis (23/4), guna meningkatkan kinerja para peneliti untuk capai target Reformasi Birokrasi (RB) LIPI tahun 2020-2024. Webinar RB ini disampaikan oleh pembicara yaitu Agus Haryono (Deputi IPT LIPI), Haznan Abimanyu (Kepala Puslit Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI), dan Nurul Taufiqu Rochman (Kepala Puslit Metalurgi dan Material LIPI). Acara ini dipandu oleh Dr. Didi Rosiyadi dari Puslit Informatika LIPI. Webinar seri pembinaan reformasi birokrasi diikuti oleh para kepala satuan kerja dan loka di kedeputian IPT, serta para sivitas kedeputian IPT yang berlokasi di berbagai kota, seperti Jakarta, Serpong, Bandung, Subang, dan Lampung. Forum ini dilakukan secara virtual melalui aplikasi Zoom sehubungan dengan kondisi pandemi COVID-19 di Indonesia saat ini. Dalam sambutannya, Deputi IPT - LIPI, Agus Haryono, menyampaikan terima kasih kepada seluruh tim RB di kedeputian IPT yang telah menggagas acara ini dalam rangka rangkaian sosialisasi dan penyampaian tindak lanjut RB di LIPI maupun khususnya di kedeputian IPT. “Saya harap meski pun kita harus bekerja di rumah, tetapi menjalankan tugas secara efektif, menunjukkan kinerja yang baik, dapat menunjukkan output yang membanggakan bagi kita semua, sehingga apa pun kondisinya kita bisa tetap memberikan manfat bagi bangsa Indonesia,” jelas Agus. Sebagai pembicara pertama, Agus Haryono memaparkan target road map RB LIPI tahun 2020-2024, bagaimana caranya dapat diimplementasikan di kedeputian IPT, agar sivitas yang ada di kedeputian IPT dapat berkonstribusi guna mencapai target-target dari RB di LIPI. Kemudian, Agus menyampaikan agar peneliti bersikap profesional, berintegritas, kreatif, inovatis, dan netral. Kendala pandemi COVID-19 saat ini merupakan pembelajaran bagi semua bahwa pelayanan publik harus tetap terlaksana meskipun kondisi tidak mengharuskan secara fisik hadir di lokasi kerja, yakni melalui online. Pada reformasi pelayanan pubik, LIPI perlu memperkuat ekosistem inovasi yang ada di kedeputian IPT, sehingga hasil riset yang ada di kedeputian IPT bisa dimanfaatkan oleh stakeholder yang mampu melayani publik, melalui hasil penelitian yang dilaksanakan oleh para peneliti kedeputian IPT. “Untuk itu, para peneliti di Kedeputian IPT diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak publikasi ilmiah dan meningkatkan sitasi di jurnal ilmiah dan juga lisensi inovasi riset guna mencapai target road map RB LIPI,” lanjutnya. Strategi yang dilakukan LIPI adalah melalui penguatan-penguatan, baik melalui ASN yang berkualitas, lembaga yang tertata, kinerja yang mudah dinilai, serta akuntabilitas dapat terlihat secara transparan pada kualitas pelayanan publik yang baik. Pembicara kedua, Haznan Abimanyu menyampaikan tentang Niat Ikhlas: Awal Reformasi Birokrasi. Semua komponen dalam diri seorang ASN harus diajak di dalam bekerja. Agar semua kerja didapatkan dari kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Seseorang tidak melulu menggunakan otot dan pikiran sehingga kerjanya asal-asalan, tetapi juga ikhlas. Jika tidak bekerja dengan ikhlas dengan hati, maka bisa menyakiti hati orang lain. Ikhlas itu sendiri artinya mensucikan hati kepada sang pencipta. “Apa pun hasilnya pekerjaan kita, bagaimana kita bekerja itu akan dikembalikan kepada Allah SWT, karena Allah-lah yang akan menilai pekerjaan kita di dunia ini,” terang Haznan.  Bagaimana caranya? Dengan bersyukur di tempat pekerjaan, niat yang lurus, selalu berdoa dalam melakukan pekerjaan, mengubah paradigma bahwa bekerja untuk berkontribusi terhadap lembaga dan negara. Lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan, sesuai dengan kapasitas ilmu, tidak menunda pekerjaan, mengingat sasaran dan tujuan dalam bekerja, serta mengingat Allah dan keluarga di rumah. Sementara pembicara ketiga Nurul Taufiqu Rochman mengangkat topik Menjadi Kaya Melalui Alih Teknologi. “Jika anda peneliti yang baik, anda bisa jadi kaya,” ungkap Nurul. Ternyata memang pada kehidupan orang-orang besar bahwa ada lompatan-lompatan quantum pada kehidupan mereka. Sebagai ASN, sepanjang melakukan sesuatu yang profesional, dari situlah akan terjadi lompatan quantum pada kehidupan. Dalam menjadi besar, perlu perjalanan yang panjang. Disitulah tidak menutup kemungkinan kalau seseorang bergerak bagus atau profesional, bisa menjadikan sekian banyak pekerjaannya menjadi profesional. Dia akan membuat suatu lompatan dalam kehidupan dengan mengindentifikasi kemampuan diri. Di akhir kegiatan webinar pembinaan ASN, sebelum tanya jawab, diadakan penyerahan penghargaan peneliti teladan (role model) IPT 2020 yang dianugerahkan kepada Abdi Wira Septama dari Pusat Penelitian Kimia – LIPI. Penyerahan ini dilakukan secara simbolis dan virtual oleh Deputi IPT. Abdi yang baru diangkat menjadi PNS LIPI, telah berhasil meraih anggaran riset ASEAN-Eropa dan melakukan sejumlah publikasi internasional. “Semoga ini juga dapat menumbuhkan semangat dan kreativitas bagi kita semua untuk meningkatkan kinerja para peneliti di kedeputian IPT,” harap Deputi. (har, whp/ ed. adl)

Baca

Webinar Hari Bumi untuk Penanganan Sampah/Limbah Medis Covid-19


23 April 2020

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Tim Teknis Komisi Pestisida RI, menyelenggarakan Webinar Hari Bumi: Penanganan Sampah/Limbah Medis Terkait Covid-19, pada Rabu (22/4). Webinar ini disampaikan oleh beberapa pembicara yaitu Rosa Vivien Ratnawati (Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Ajeng Arum Sari (Kepala Loka Penelitian Teknologi Bersih -  LIPI), Taufikurahman (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati - Institut Teknologi Bandung/Anggota Tim Teknis Komisi Pestisida RI), dan Yusuf Nur Wiajayanto (Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI). Sebagai pemandu jalannya acara, peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Deni Shidqi Khaerudini , bertindak sebagai moderator. Acara yang bertepatan dengan Hari Bumi tersebut diikuti oleh praktisi lingkungan hidup, peneliti, dosen, dan mahasiswa. Deputi Ilmu Pengetahuan Bidang Teknik LIPI, Agus Haryono, dalam sambutannya berpendapat bahwa Limbah infeksius berdampak menularkan penyakit yang dapat mengganggu pelayanan kesehatan ke masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan antisipasi dampak negatif dari limbah infeksius. “Di sungai atau di pantai yang tadinya tidak ada limbah masker, sekarang ditemukan. Di sinilah diperlukan peran kita untuk meringankan beban masyarakat dan negara dalam penanganan COVID-19,” ujar Deputi IPT. Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) mengkategorikan limbah infeksius selain dari fasilitas pelayanan kesehatan. Kategori tersebut adalah limbah infeksius yang berasal dari rumah tangga yang terdapat Orang Dalam Pemantauan (ODP) serta sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Berdasarkan penggolongan tersebut, sampah masker dan sarung tangan sekali pakai tidak hanya mencemari lingkungan namun dapat mengancam 300 ribu petugas persampahan yang bertugas di rumah-rumah warga dan 600 ribu pemulung. “Perlu pengelolaan dengan standar tertentu agar tidak menimbulkan permasalahan baru,” jelas Agus. Pembicara pertama, Ajeng Arum Sari menyampaikan tentang Teknologi Thermal untuk Pemusnahan Limbah Penanganan Covid-19. Bahwa cara pengelolaan limbah infeksius di fasilitas pelayanan kesehatan tentu berbeda dengan di lingkungan perumahan. “Limbah infekius fasillitas pelayanan kesehatan harus disimpan dalam kemasan tertutup paling lama dua hari setelah dihasilkan,” ungkapnya. “Limbah ini setelah disimpan harus dimusnahkan dengan fasilitas insinerator dengan suhu pembakaran 800 derajat celcius. Pemusnahan juga dapat menggunakan autoclave dengan pembakaran pada suhu 56°C/75°C/120-140°C. Teknologi ini direkomendasikan karena tidak menimbulkan kerugian dan tidak mahal,” ujar Ajeng. Sementara pada lingkungan perumahan, sampah masker, tisu, dan sarung tangan dipisahkan dari sampah biasa lalu digunting. “Sampah tersebut kemudian direndam di dalam larutan disinfektan sebelum dikemas khusus, lalu diberi tanda, dan dibuang,” tambahnya. Pembicara kedua, Rosa Vivien Ratnawati menyampaikan mengenai Penanganan Sampah/Limbah Medis Covid-19. “Di seluruh Indonesia hanya ada 110 rumah sakit yang memiliki insenerator sesuai standar dan telah berizin padahal pengelolaan limbah infeksius sangat penting di masa pandemi,” jelas Dirjen KLHK tersebut. “Banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak memiliki insinerator karena tidak adanya lahan juga terlalu dekat dengan masyarakat sehingga dikuatirkan menimbulkan emisi yang mengganggu. Kendala-kendala ini diminimalisir oleh pemerintah salah satunya lewat kemitraan dengan Badan Usaha Milik Negara,” jelas Vivien. “Selain itu, kami mendorong percepatan izin insenerator oleh rumah sakit dan mengoptimalisasikan pengolahan limbah oleh jasa pengangkut dan pengolah B3,” tutupnya. Pembicara berikutnya adalah Taufikurahman dari SITH – ITB/Anggota Tim Teknis Komisi Pestisida RI dengan tema ‘Mitigasi Risiko Penggunaan Disinfektan Kimia untuk Sterilisasi Virus SARS-Cov-2’. Bahan kimia perlu ditangani dengan benar, karena banyak masyarakat yang meracik bahan disinfektan sendiri. Kebanyakan material yang digunakan untuk disinfektan dinyatakan oleh WHO memiliki efek samping untuk kesehatan manusia seperti alkohol, klorin, atau hidrogen peroksida. Saat ini marak di Indonesia penggunaan disinfektan dalam bilik sterilisasi atau sterilization chamber. Fenomena ini dipicu keberhasilan negara lain seperti di Vietnam. “Penggunaan bahan disinfektan kimia pada bilik sterilisasi yang tidak sesuai, bisa berdampak pada kesehatan apabila digunakan dalam jangka panjang,” terang Taufikurahman. Pembicara terakhir adalah Yusuf Nur Wijayanto dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI dengan topik ‘Sinar UV-C untuk Sterilisasi Limbah Penanganan COVID-19’. Teknologi yang dikembangkan di laboratoriumnya ini diberi nama Simple Smart UV-C Sanitizer (SiSUSAN). SiSusan merupakan alat strelisasi ruangan portable yang dapat dikendalikan dengan ponsel pintar. SiSUSAN dikembangkan secara sederhana dengan memanfaatkan sinar UV untuk membunuh virus atau bakteri. “Tidak hanya mudah digunakan, SiSUSAN juga murah, sehingga cocok digunakan di lingkungan rumah tangga, puskesmas, sekolah, dan kantor,” ujar Yusuf. (har, adl/ ed. adl)

Baca

Terus Berkolaborasi Guna Cegah Penyebaran COVID-19, LIPI Serahkan Hand Sanitizer dan Disinfektan kepada Danone Indonesia


17 April 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Danone Indonesia telah bekerja sama mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19) dengan melakukan produksi dan pembagian hand sanitizer dan disinfektan. Pada hari Kamis (16/4) LIPI menyerahkan sebanyak 4050 botol hand sanitizer berukuran 250 mililiter (1 ton) dan 15 drum disinfektan berukuran 200 liter (3 ton) kepada Danone Indonesia di Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Kepala P2 Kimia LIPI, Yenny Meliana, menjelaskan bahwa kerja sama LIPI dengan Danone Indonesia ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antara lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah dengan pihak swasta dalam berkontribusi membantu pencegahan penyebaran virus Corona di Indonesia. “Ini merupakan upaya kita untuk membantu dalam menghadapi pandemi COVID-19, harapan kedepannya mudah-mudahan ini bisa bermanfaat di masyarakat,” terang Meliana. LIPI dengan dukungan Danone Indonesia telah memproduksi hand sanitizer dan disinfektan di fasilitas pilot plant laboratorium P2 Kimia LIPI. Egi Agustian dan Yan Irawan, peneliti yang turut memproduksi kedua produk tersebut, menambahkan bahwa hingga hari LIPI telah memproduksi lebih dari 5 ton hand santizer dan 37 ton disinfektan.   Murtijo selaku Senior External Relation Danone Indonesia mengungkapkan bahwa kerja sama ini merupakan salah satu bentuk kepedulian dari Danone dan LIPI untuk berkontribusi mengurangi beban masyarakat di bidang kesehatan. “Untuk pendistribusian selanjutnya kami akan menyalurkannya ke Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan, dan Gugus Tugas COVID-19 di masing-masing kabupaten, sebagian juga akan diberikan ke puskesmas dan juga instansi-instansi pemerintah yang membutuhkan, sedangkan disinfektan akan disalurkan ke wilayah terdekat,” jelasnya. Dalam rangka berkontribusi dalam kegiatan penanggulangan COVID-19, Pusat Penelitian Kimia LIPI terus melakukan penelitian dan pengembangan terkait dengan kesehatan, seperti nanosilver, antibakteri untuk alat pelindung diri (APD), obat herbal terstandar (OHT), penambah daya tahan tubuh, dan juga rapid test kit. Tujuannya agar bisa segera dimanfaatkan oleh masyarakat. (whp/ ed. adl)  

Baca

Cegah Penyebaran COVID-19, LIPI Serahkan 4000 Botol Hand Sanitizer Kepada BNPB


06 April 2020

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional memberikan 4000 botol hand sanitizer atau pembersih tangan antiseptik berukuran 250 mililiter kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang berada di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Balai Kota Jakarta, Senin (6/4). Hand sanitizer ini merupakan hasil inovasi dari LIPI dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang dibuat sesuai dengan standar World Health Organization (WHO). Kepala Pusat Penelitian LIPI, Yenny Meliana, mengungkapkan bahwa hal ini sebagai bentuk dukungan dari para peneliti LIPI untuk garda terdepan dalam menanggulangi pandemi COVID-19. “Kita saling bahu membahu dengan apa yang kita mampu sesuai dengan kompetensi masing-masing, sehingga dengan bantuan hand sanitizer ini diharapkan dapat membantu mencegah penyebaran virus corona,” ujarnya. Bantuan tersebut diterima oleh Kepala Subbidang Kedaruratan Dan Penanganan Pengungsi BPBD Provinsi DKI Jakarta, Wardaya dan jajaran BPBD Provinsi DKI Jakarta. Wardaya mengungkapkan rasa terima kasih dan apresiasi atas bantuan ini. “Atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kami menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi terhadap LIPI atas pemberian hand sanitizer ini,” ungkapnya. Dirinya mengatakan, dalam situasi sekarang ini hand sanitizer merupakan hal yang paling banyak diminta dan dibutuhkan masyarakat DKI Jakarta. “Saat ini kebutuhan alat pelindung diri seperti masker kain dan hand sanitizer untuk mencegah penyebaran virus corona COVID-19 memang paling banyak diminta dan dibutuhkan publik dari Pemprov DKI, selain bantuan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari," jelas Wardaya. Selanjutnya, Pemprov DKI Jakarta akan berkoordinasi dengan aparat jajaran di bawahnya untuk mendistribusikan hand sanitizer ini ke masyarakat. “Kami akan berkoordinasi dengan biro pemerintah yang membawahi seluruh camat dan lurah di Jakarta guna mengetahui data jumlah masyarakat yang membutuhkan hand sanitizer,” jelasnya. (whp/ ed. adl)

Baca

LIPI Donasikan Hand Sanitizer ke Pokja Wartawan Tangerang Selatan


04 April 2020

Serpong, Humas LIPI. Menghadapi wabah virus corona atau Covid-19, peran media dalam memberikan informasi tepat sasaran sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Apalagi dengan tingkat mobilitas media yang cukup tinggi dalam mendapatkan informasi menjadikan awak media cukup rentan terhadap penyebaran virus corona. Untuk membantu mengurangi kemungkinan tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberikan 442 botol hand sanitizer atau pembersih tangan antiseptik berukuran 250 mililiter kepada Pokja (kelompok kerja) Wartawan Harian Tangerang Selatan (PWHTS). “Peran media sangat penting yang mana termasuk dalam garda terdepan dalam menghadapi Covid-19 dengan memberikan informasi kepada masyarakat. Oleh karena itu perlu kita dukung dan kita berharap hand sanitizer ini dapat bermanfaat saat awak media bertugas,” jelas Deputi lmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono, pada hari Sabtu (4/4). Kepala Pusat Penelitian LIPI, Yenny Meliana, juga berharap kontribusi LIPI ini bisa membantu dan bermanfaat. “Dengan memberikan produk hand sanitizer ini mudah-mudahan bisa membantu dan bermanfaat bagi rekan-rekan wartawan yang memiliki profesi dengan mobilitas cukup tinggi,” ujarnya. Sementara Ketua PWHTS, Ahmad Rizki Suhaedi mengungkapkan rasa terima kasihnya atas perhatian LIPI kepada rekan-rekan wartawan di Tangerang Selatan. "Apa yang diberikan tentunya akan sangat berguna dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh para wartawan, mengingat penggunaan hand sanitizer di lapangan sangat dibutuhkan dalam kondisi darurat pandemi Covid-19 ini," ungkapnya. LIPI diketahui telah memproduksi tiga ton hand sanitizer sejak pekan kedua Maret 2020, untuk didistribusikan ke pihak internal LIPI dan eksternal LIPI di sekitar wilayah Puspiptek Serpong, yakni ke sekolah, kantor layanan masyarakat, dan masjid. LIPI melalui koordinasi Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional mendonasikan 4000 botol ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Rencananya Pokja Wartawan Harian Tangerang Selatan akan membagikan hand sanitizer ini ke 60 lebih pers dan lingkungan sekretariat Pokja Wartawan Tangsel yang membutuhkan. (whp/ ed. adl)

Baca

LIPI Uji Fungsi Reaktor Destilasi Bioetanol di Kabupaten Banyumas


01 April 2020

Banyumas, Humas LIPI. Pada Rabu, (1/4), Yan Irawan peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia LIPI) dan tim sudah berada di Kabupaten Banyumas guna merakit instalasi alat destilasi bioethanol kapasitas 100 liter/batch yang dipasang di Pendopo Kabupaten Banyumas. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut pertemuan dan diskusi antara Bupati Banyumas dan Kepala P2 Kimia LIPI, serta peneliti terkait proses bioetanol di Serpong pada hari Senin, (2/3). Oleh karena itu, terjalin kerja sama teknologi pembuatan alat destilasi bioetanol di Kabupaten Banyumas. Ahmad Husein sebagai Bupati Banyumas banyak berharap pada alat LIPI ini untuk membantu proses pembuatan bioetanol dari sorgum yang banyak dibudidayakan di daerah Banyumas, sehingga bisa meningkatkan perekonomian dan mengentaskan kemiskinan rakyat yang dipimpinnya.  Selama ini daerah Banyumas telah mampu membuat bioetanol dari sorgum dengan kadar 40-60%. Dengan alat destilasi yang dibuat LIPI diharapkan dapat meningkatkan bioethanol sampai 99,5%, sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. (es/ ed. adl)

Baca

Kolaborasi LIPI dan Stakeholder Hadapi Covid-19 di Wilayah Setu, Tangerang Selatan


31 Maret 2020

Serpong, Humas LIPI. Menghadapi wabah Corona Virus Disease tahun 2019 (Covid-19), LIPI bersama dengan Polsek Cisauk mengadakan penyemprotan disinfektan di wilayah hukum Polres Cisauk Polresta Tangerang Selatan (31/3). Acara pelepasan dimulai dengan apel bersama yang dilaksanakan di lapangan upacara di depan Gedung Kantor Kecamatan Setu, Tangerang Selatan. Kepala Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI), Yenny Meliana mengatakan bahwa instansi LIPI mengerjakan kegiatan ini dengan senang hati, karena didukung pula oleh Kapolsek Cisauk serta Camat untuk wilayah sekitar Puspiptek.  “Kami bantu apa yang kami mampu dan punya, demi merah putih, semua semangatnya sama,” ujarnya. Kepala Kecamatan Setu, Hamdani HS menyampaikan penghargaannya terkait dengan penyemprotan disinfektan di wilayahnya. “Saya sangat berterima kasih kepada P2 Kimia – LIPI yang sudah memfasilitasi semuanya dan ini sebagai aksi kita kepada masyarakat, kita peduli, melakukan langkah-langkah preventif masyarakat terhindar dari virus corona,” ucapnya. “Kami melibatkan semua stakeholder diantaranya LIPI, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Musfika), Komando Raya Militer (Koranmil), Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek), Kelompok Sadar Kamtibnas (KSK), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Dinas Perhubungan, Kepala Bidang Keamanan dan Keselamatan Puspiptek besera jajarannya, kemudian unsur kewilayahan seperti camat, lurah, warga RT dan RW,” jelas Hamdani. Kapolsek Cisauk, Rolando Hutajulu menjelaskan bahwa semua yang hadir dalam acara tersebut sudah sesuai dengan yang diinstruksikan Wakil Kepala Polisi Republik Indonesia (Wakapolri) di wilayah khususnya Setu untuk pencegahan virus corona. “Semoga kegiatan ini, masyarakat terhindar dari Coronavirus disease (Covid-19). Lebih baik di rumah, jaga kebersihan, jaga hubungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kemudian dengan adanya Covid-19 ini – bisa lebih dekat lagi dengan keluarga, juga bisa melakukan sesuatu yang lebih berharga,” pesan Rolando. Kepala DPRD Tangerang Selatan, Abdul Rosyid menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan gerakan sosial yang dibangun untuk persoalan corona yang tidak bisa ditangani oleh satu pihak, tetapi seluruh potensi kekuatan masyarakat harus bergerak. “Kami berharap betul tingkat kedisiplinan masyarakat tinggi dalam pencegahan corona, karena kita sama-sama mengetahui kapasitas serta fasilitas yang kita miliki itu sangat terbatas,” harapnya. Dirinya mengajak kepada seluruh masyarakat bersama-sama jangan pernah lelah untuk selalu saling menghimbau dan mengingatkan untuk patuh dan taat terhadap himbauan pemerintah. Kepala Bidang Keamanan dan Keselamatan Kawasan Puspiptek, Joko Raharjo mengungkapkan apresiasinya atas respon LIPI yang sangat cepat untuk membantu masyarakat. Tim dari Puspiptek dilibatkan untuk bahu-membahu menyemprotkan disinfektan menggunakan mobil pemadam kebakaran Puspiptek. “Penyemprotan dimulai dari Gedung DPRD, SMP, SMA,  perempatan Muncul, pintu gerbang perumahan Puspiptek, kemudian arah Pamulang menuju pertigaan ITI, ITI, kelurahan Setu, sampai dengan sekitar viktor,” jelas Joko. (har/ ed. adl)

Baca

Lawan Covid-19, LIPI Lakukan Penyemprotan Disinfektan di Serpong


24 Maret 2020

Serpong, Humas LIPI. Sebagai bentuk perlawanan terhadap Coronavirus disease (Covid-19), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Garuda Karya Mandiri melakukan penyemprotan cairan disinfektan di kawasan Serpong (24/3). Aksi cepat tanggap tersebut mendisinfeksi kantor Pusat Penelitian (P2) Kimia, P2 Fisika, P2 Teknologi Pengujian, P2 Metalurgi dan Material, serta Gedung Pengelola Kawasan. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI, Agus Haryono, menyampaikan kegiatan penyemprotan disinfektan perlu dilakukan secara berkala terhadap fasilitas LIPI yang berpotensi terpapar virus corona. “Hal ini untuk menjaga sivitas LIPI yang bertugas dapat bekerja dengan tetap sehat,” jelasnya. Penyemprotan disinfektan dimulai dari ruangan luar berupa ruang teras, kemuadian ruang tamu, ruang informasi, ruang kerja, ruang rapat, ruang ibadah, dan kamar mandi. Tiap-tiap ruangan disemprot dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona. Selain aksi penyemprotan disinfektan di area kerja dan masjid sekitar Puspiptek, LIPI juga mengadakan berbagai aksi peduli terkait Covid-19 dengan memproduksi dan membagikan hand sanitizer di lingkungan internal dan eksternal LIPI, seperti ke sekolah, masjid, pesantren, kantor pemerintah daerah, balai kesehatan, hingga ke kepolisian sekitar Puspiptek Serpong. LIPI terus berupaya menggunakan infarstruktur dan kepakaran peneliti untuk membantu masyarakat hingga pandemi corona berakhir. Semoga kondisi Indonesia bisa segera kondusif. Publik sehat dan pulih dari corona sehingga dapat kembali beraktivitas dan berkarya. (har/ ed. adl)

Baca

Peduli COVID-19, LIPI Kembali Bagikan Hand Sanitizer


23 Maret 2020

Serpong, Humas LIPI. Pada masa pandemi Corona virus disease (COVID)-19, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) termasuk instansi yang melakukan upaya bekerja di rumah atau work from home (WFH). Sebagai bentuk kepedulian LIPI pada para profesi yang masih harus bekerja di luar rumah, pada Senin, (23/3), LIPI kembali membagikan hand sanitizer yang diproduksi pada Jumat (20/3) ke sekitar wilayah Puspiptek. Diwakili oleh Rokip Hasim, perwakilan dari P2 Kimia LIPI, beliau mendistribusikan hand sanitizer ke pos satpam kawasan perkantoran Puspiptek, pos satpam perumahan Puspiptek, Balai Kesehatan Puspiptek, kantor Polsek Setu, dan masjid perumahan Batan Indah. “Ini sebagai amal jariah,” ujarnya yang berprofesi sebagai teknisi penelitian dan perekayasa (litkayasa). (adl)

Baca

Tanggap Covid-19, LIPI Bagikan Hand Sanitizer ke Kantor Pelayanan Masyarakat


18 Maret 2020

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kimia memproduksi dan membagikan hand sanitizer ke kantor Kelurahan Setu dan Kantor Urusan Agama, Setu, Tangerang Selatan, pada Selasa (17/3). Hal ini untuk mendukung kesehatan bagi pegawai dan pengguna kantor pelayanan masyarakat di masa wabah global corona virus disease 19 (COVID-19). Kepala P2 Kimia – LIPI, Yenny Meliana, mengatakan bahwa LIPI membagi hand sanitizer ke tempat pelayanan masyarakat. Diutamakan karena memang dibutuhkan dan kelangkaan produknya pada masyarakat. “Mudah-mudahan kegiatan berbagi dapat membantu kita bersama menjaga diri dari penyebaran COVID-19, terutama jika kita sedang beraktivitas di luar rumah ,” harap Kepala P2 Kimia – LIPI. Melly, demikian akrab disapa, menjelaskan bahwa penting untuk bekerja namun dengan mengutamakan kesehatan dan keselamatan. “Tetap berkarya dan jaga diri untuk kita, untuk satu kata, demi merah putih,” pesannya. (har/ ed. adl)

Baca
ZONA INTEGRITAS