: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

Halalbihalal, Awal Kegiatan Tatap Muka di Pusat Riset Kimia Maju BRIN


19 Mei 2022

Serpong, Humas BRIN. Pusat Riset Kimia Maju Badan Riset dan Inovasi Nasional (PR KM BRIN), melaksanakan acara halalbihalal yang bertempat di ruang rapat Manganese lantai 2, gedung Pusat Riset Kimia Maju, pada Selasa (16/5).  Dalam acara tersebut turut hadir Ratno Suryadi, Kepala Organisasi Riset (OR) Nanoteknologi dan Material BRIN, serta Haznan Abimanyu, Kepala OR Energi dan Manufaktur BRIN. Halalbihalal diawali dengan sambutan dari Kepala PR KM BRIN, Yenny Meliana. Diungkapkan oleh Yenny, ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah kepada seluruh sivitas Pusat Riset Kimia Maju BRIN dan eks sivitas Pusat Penelitian Kimia LIPI. “Pada pertemuan perdana pasca pandemik ini, para pegawai Pusat Riset Kimia Maju dapat bertatap muka dalam rangka halalbihalal. Hadir dalam acara ini juga eks sivitas Pusat Penelitian Kimia LIPI yang sudah tersebar di berbagai pusat riset dan biro di BRIN. Semoga dengan adanya halalbihalal ini, silaturahmi tetap terus terjalin,” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut diadakan pula acara pelepasan salah satu rekan terbaik,PR KM BRIN, Sri Hartati , yang memasuki masa purna bakti pada tanggal 2 mei 2022. Atas nama instansi, Yenny mengucapkan apresiasi  kepada Sri Hartati yang selama mengabdi ini di BRIN. “Terima kasih atas kontribusinya terhadap perkembanan ilmu pengetahuan, khususnya di lingkungan Pusat Penelitian Kimia dan secara umum di dunia riset,” ucap Kepala PR KM BRIN. Sebagai pegawai yang memasuki masa purnabakti, Sri Hartati menyampaikan pesan agar pegawai BRIN yang masih aktif bekerja mesti terus bersemangat. “Harus menjalin kerja sama dengan sejawat dan pihak luar untuk menghasilkan karya tulis yang spektakuler. Tidak mungkin menguasai semua ilmu, namun bekerja dengan istikamah untuk tugas dan sesuai kepakaran,” tuturnya. Sebagai pamungkas acara, pemotongan nasi tumpeng diberikan kepada Sri Hartati. Dilanjutkan makan siang bersama dengan seluruh sivitas yang hadir. (mf/ ed: adl)

Baca

Yenny Meliana Bagikan Pengalaman Riset Kimia hingga Raih Aneka Penghargaan


09 Maret 2022

Serpong, Humas BRIN. Memperingati hari Perempuan Sedunia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar webinar Talk to Scientist (TTS) yang menghadirkan narasumber para perempuan hebat dalam riset, pada Selasa (8/3) secara virtual. Mereka telah berprestasi dalam memperoleh penghargaan internasional. Dalam acara ini, Yenny Meliana dari Pusat Riset Kimia Maju – BRIN, Yenny Meliana. Melly, demikian kerap disapa merupakan peraih Hitachi Award 2021 – Outstanding Innovation Award. Sebelumnya, Melly merupakan Finalis WAITRO Inovation Award 2021. Plt. Kepala Pusat Riset Kimia Maju ini berbicara tentang aktifitas ilmiah, dan kegiatan riset. Pada tahun 2017 merupakan pertama kali ditunjuk sebagai observer pada acara formil PBB di Roma. “Acara tersebut merupakan salah satu pelajaran berharga buat saya. Saya langsung terpukau bagaimana suatu sidang sekelas PBBmasing-masing menyampaikan argumen dan pendapatnya  dengan sangat bagus, menghormati, menghargai bagaimana pendapat pihak lain maupun negara lain,” kenangnya. Melly menjelaskan bahwa para perwakilan PBB memberi argumentasi berdasarkan fakta dan data secara ilmiah. ”Sejak itu, sayaingin terlibat di acara seperti ini. Kemudian saya masih datang lagi sebagai observer (pengamat), dan tahun 2019 diadakan di Indonesia,” kata anggota Chemical Review Committee untuk Rotterdam Convention tersebut. Kemudian Melly menjelaskan bagaimana salah satu titik ketika mendapatkan penghargaan, bisa menjadi titik untuk meningkatkan istiqomah dan kepercayaan diri. Salah satunya ketika mendapatkan dari L’Oreal For Women in Science tahun 2016. Saat ini, Melly berfokus  pada riset nanoemulsi dengan aplikasinya ke arah kosmetik dari bahan-bahan alam. “Sejak pandemi, pertumbuhan market untuk kosmetik ternyata paling banyak di daerah Asia. Jadi memang di Asia banyak wanita maupun pria Asia paling heboh dengan kosmetik, ungkap pakar nanoemulsi ini. Dari pengalaman ilmiahnya, Melly mengingat faktor kunci sukses dengan 4T, yaitu: Timing work. Melakukan pemilihan waktu yang tepat, dan pemilihan waktu yang sesuai. Jadi seperti saat ini sedang Covid, maka kita bisa berkontribusi riset ke arah Covid dan kalau bisa di-speed up karena kebutuhannya sekarang sehingga temponya kita sesuaikan. Team work. Bekerja akan jauh lebih efektif bersama tim. Termasuk apa yang saya dan teman-teman kerjakan selama dengan cepat ini merupakan hasil dari tim. Target dan Time schedule. Melakukan kegiatan arah riset itu perlu perencanaan dan mitigasi masalah. Trust. Kita tidak takut ilmunya diambil demikian sebaliknya. Terpenting untuk suatu kesuksesan riset adalah saling percaya dengan sesama tim maupun atasan, percaya dengan stakeholder, dan mitra. Karena semua itu untuk kebermanfaatan bersama. Untuk itu Melly mengutip pepatah dari Confucius, ‘if you are the smartest person in the room, then you are in the wrong room’. “Jadi ada banyak manfaat untuk mengelilingi diri kita dengan orang-orang yang lebih pintar dari kita. Jadi kita harus kejar mimpi kita, dengan tetap terus berusaha, belajar, dan meningkatkan kemampuan kita karena ilmu tidak pernah ada habisnya,” tutup Melly. Dalam kesempatan yang sama, Plt. Sekretaris Utama, Nur Tri Aries Suestiningtyas mengatakan bahwa Hari Perempuan Internasional diperingati untuk menyoroti wanita dan hak-hak mereka. “Tujuan utama peringatan ini adalah hari global yang merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik perempuan. Hari Perempuan Internasional kini telah menjadi monumen dalam merayakan seberapa jauh perempuan mempunyai peranan besar dalam masyarakat bahkan peran yang lebih esensial untuk kemajuan global, salah satunya dalam bidang sains dan teknologi,” kata Nur. Nyatanya, lanjut Nur, UNESCO merilis data bahwa partisipasi perempuan dalam bidang ilmu pengetahuan masih kurang dari total 30 persen periset di seluruh dunia. Dengan kehadiran BRIN yang baru dengan proses penggabungan periset di Indonesia, saat ini BRIN memiliki pegawai 12.672 orang, dengan presentase 65% periset pria dan 13% periset perempuan. Transisi organisasi yang menjadikan semua periset di tanah air konsolidasi, diharapkan membangun semangat sinergisme, optimisme, dan produktivitas periset di tanah air. Dengan tata kelola manajemen Iptek yang dibangun dan diniatkan untuk menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang semakin kondusif di tanah air. TTS hari ini mengangkat topik “Women In Sains” dengan tujuan menggali lebih jauh pengalaman dan tantangan para narasumber di risetnya masing-masing, dan menjadi sarana motivasi, inspirasi bagi seluruh periset khususnya perempuan dan generasi muda. “Karena saat ini perbendaan gender di tanah air bukanlah suatu hambatan,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)

Baca

BRIN dan Biosm Luncurkan Produk RT-LAMP Detektor Covid-19


22 Januari 2022

Jakarta - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra PT Biosains Mediaka Indonesia (Biosm) resmi melakukan peluncuran produk RT-LAMP (reverse transcription loop mediated isothermal amplification) sebagai salah satu alat untuk pendeteksi virus Covid-19 pada Jumat (21/1) di Gedung B.J Habibie, Thamrin, Jakarta. RT-LAMP merupakan produk dalam negeri karya anak bangsa yang patut dibanggakan. Para peneliti telah melakukan penelitian mengenai RT-LAMP sejak dua tahun terakhir. Pada bulan Januari ini produk RT-LAMP telah memperoleh izin edar regular yang berlaku selama 5 tahun kedepan. Alat deteksi ini telah mempunyai nomor izin dari Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia, yakni Kemenkes RI AKD 2030322XXXX. Izin edar produk  dengan merek dagang Qi-LAMP-O.  Kepala Pusat Riset dan Inovasi Nasional, Laksana Tri Handoko mengatakan, RT-LAMP ini salah satu bukti nyata kerja keras periset BRIN. “Para periset dari Pusat Riset Kimia, Pusat Riset Fisika, dan Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Daerah Banten yang memiliki kepakaran berbeda, dapat berkolaborasi melakukan penemuan dengan menerapkan kreativitas dan sensitivitas pada peneliti ini sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat,” terangnya. “Tugas saya hanya memfasilitasi teman-teman agar produk ini bisa mencapai proven secara saintifik dan memenuhi standar regulasi. Kepercayaan industri terjadi karena melihat semangat teman-teman dalam membuat inovasi untuk bangsa. Semoga ini jadi awal kolaborasi yang baik untuk ke depannya,” imbuh Handoko pada acara peluncuran RT-LAMP. Saat ini cara pengambilan sampel RT-LAMP sama dengan metode PCR (polymerase chain reaction) yaitu melalui swab hidung maupun tenggorokan. Menggunakan sampel ekstrak RNA yang dapat dideteksi secara kualitatif dan tingkat akurasinya dinilai sangat baik. Hasilnya dapat diperoleh kurang dari satu jam. “Produk ini akan terus dikembangkan oleh para peneliti untuk membuat RT-LAMP versi saliva agar lebih nyaman digunakan oleh masyarakat. Harapannya bisa menjadi golden standard untuk negara ini,” ujar  Agus Haryono selaku Plt. Organisasi  Riset Ilmu Pengetahuan Teknik (OR IPT). Senada dengan hal tersebut, Direktur PT Biosains Medika Indonesia, Rifan Ahmad manyatakan bahwa perusahaannya sangat optimis. “Kami sangat optimis Indonesia bisa mandiri, apalagi ke depannya akan dikembangkan tidak hanya metode swab nasofaring dan orofaring, tapi juga bisa dikembangkan melalui saliva,” ungkapnya. “Biosm berharap dapat bekerja sama dengan BRIN dalam melakukan pengembangan produk RT-LAMP ini, yang tidak hanya untuk covid-19 tetapi juga mendeteksi tuberkolosis atau malaria, agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas dan dapat memenuhi pasar di Indonesia,” pungkas Rifan. Pada acara peluncuran tersebut, dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama lisensi antara Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, Mego Pinandito dan Direktur PT Biosains Medika Indonesia, Rifan Ahmad. Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Kepala BRIN, Plt Kepala OR IPT, Plt Kepala Pusat Penelitian Kimia, dan tim peneliti RT-LAMP. (esw/ ed: adl)

Baca

Sapa Media, Mengenal Lebih dalam RT-LAMP


19 Januari 2022

Serpong - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Sapa Media secara daring dengan media massa nasional pada Senin (17/1) lalu. Acara yang merupakan kolaborasi Pusat Riset Kimia BRIN dan Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan BRIN ini bertujuan untuk memperkenalkan produk Reverse Transcription Loop Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP), yang telah memperoleh izin edar dalam mendeteksi Covid-19, dan diakui dapat mendeteksi virus varian Delta dan Omicron yang sedang berkembang di beberapa negara termasuk Indonesia. “Saya mengucapkan terimakasih kepada para peneliti maupun majanemen dimana RT-LAMP telah memperoleh izin edar regular yang berlaku lima tahun, hal ini akan mempermudah para peneliti dalam mengembangkan RT-LAMP ini ke tahap selanjutnya yaitu pengujian saliva. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada media yang telah hadir pada acara ini, dengan harapan pemberitaan sampai ke masyarakat, sehingga dapat mengentahui hasil dari penemuan peneliti, yang nantinya akan bermanfaat untuk masyarakat terutama tenaga kesehatan di rumah sakit dalam rangka penanganan Covid-19,” ungkap Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (OR IPT) Agus Haryono. Agus Haryono juga menyampaikan bagaimana industri dapat memanfaatkan hasil riset BRIN. “Banyak industri yang telah membeli lisensi produk kita, sehingga negara mendapatkan royalti sebesar 2,75 miliar pada tahun 2021. Berdasarkan peraturan Kementerian Keuangan, periset berhak mendapatkan royalti dari lisensi yang didapat negara dari hasil penelitian, bahkan ada tim yang mendapatkan imbal hasil sampai 400 juta dalam satu tahun,” ujarnya. Kepala Pusat Riset Kimia BRIN, Yenny Meliana memberi pengantar mengenai fungsi RT-LAMP.  “Adanya izin edar RT-LAMP, maka Indonesia sekarang memiliki alternatif baru untuk mendeteksi Covid-19. Di beberapa negara, metode RT-LAMP ini sudah diakui setara dengan PCR dalam mendeteksi Covid-19,” tuturnya. Peneliti BRIN, Tjandrawati Mozef, menjelaskan bahwa penelitian ini terlaksana karena pada saat awal pandemi kebutuhan akan kit untuk pendeteksi Covid-19 sangat terbatas di pasaran dan harganya cukup mahal. “Berdasarkan hal itu, kami para peneliti memulai penelitian tentang RT-LAMP yang berlangsung selama dua tahun terakhir. RT-LAMP memiliki kelebihan diantaranya tahapan sederhana dalam mendeteksi data, dilakukan secara mudah, dan efektif di lapangan. Keunggulan lainnya adalah hasil reaksi dapat diamati dengan cepat, selama kurang lebih 40 menit, hemat biaya karena proses dilakukan dengan alat dan reagen yang minimum, yang terpenting kit ini dibuat di dalam negeri” penjelasan dari peneliti BRIN Tjandrawati Mozef.  Tjandrawati Mozef menambahkan prinsip kerja RT-LAMP. “Pada prinsipnya sistem kerja RT-LAMP dengan PCR hampir sama, yang membedakan adalah pada saat mendeteksi virus dan proses amplifikasi dengan menggunakan enzim polymerase. Reaksi RT-LAMP berlangsung secara isothermal atau konstan dan dilihat dengan adanya kekeruhan secara visual maupun dengan alat, saat ini kami juga sedang mengembangkan alat untuk melihat kekeruhan sampel,” urainya. Peneliti Kimia ini menambahkan bahwa saat ini riset pengujian melalui saliva sedang dikembangan tetapi masih diperlukan validasi dari sisi klinis untuk memperoleh data yang lebih banyak lagi dari pengujian RT-LAMP, dengan harapan agar metode ini lebih kuat lagi. “Virus tidak dapat dihilang secara 100 persen, sehingga deteksi virus tetap dibutuhkan kedepannya. RT-LAMP bisa sebagai metode alternatif untuk mengujian molekuler dari SARS-Cov-2 dengan keunggulannya,” ucapnya. PT Biosains Medika Indonesia, mitra BRIN, mengembangkan kit tersebut dengan merek dagang Qi-LAMP-O. Selain harga yang diharapkan lebih murah dari PCR dan ketepatan serta hasil deteksinya lebih cepat. Kepala Pusat Riset Kimia berharap RT-LAMP terus dikembangkan terkait mengujian melalui saliva. “Karena kita ingin tingkatkan validasinya. Dikuasainya teknologi kunci ini kita siap menghadapi tantangan apapun kedepannya yang berkenaan dengan virus, bakteri, dan mikroorganisme  yang pasti Indonesia tangguh dan pasti Indonesia bisa,” pungkasnya. (esw/ ed: adl)

Baca

Ciptakan Peluang Kolaborasi Riset Teknik BRIN dan UGM Melalui Program Riset Terbuka


14 Januari 2022

Serpong, Humas BRIN. Dalam rangka membuka peluang kerja sama antara lembaga penelitian dengan perguruan tinggi, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik Badan Riset dan Inovasi Nasional (OR IPT BRIN) melakukan pertemuan dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) pada Kamis (13/1) di Pusat Riset Kimia BRIN, Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan. Acara yang bertema “Membangun Sinergi dalam Aktivitas Penelitian dan Pendidikan” ini dihadiri oleh Kepala Pusat Riset Fisika BRIN, Dr. Rike Yudianti, Kepala Pusat Riset Metalurgi dan Material BRIN, Prof. Nurul Taufiqu Rochman, serta perwakilan Pusat Riset Teknologi Pengujian BRIN, Dwi Mandaris, Ph.D., serta perwakilan dari FT UGM. Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Kimia BRIN, Dr. Yenny Meliana, menyatakan bahwa saat ini ada sembilan grup riset yang sedang dilaksanakan, antara lain kimia pangan, kimia analitik, dan kimia terapan. Yenny menyambut baik kolaboasi dengan UGM. “Di sini kami membuat apa yang sudah menjadi kolaborasi antara BRIN dan UGM menjadi ke arah yang lebih baik lagi ke depan dan terus berkolaborasi,” terangnya. Prof. Selo, ST, MT, M.Sc, Ph.D, Dekan FT UGM, menyampaikan bahwa dirinya dan tim bertujuan membuka peluang kerja sama dalam bidang pendidikan dan  penelitian. Baik melalui pengembangan SDM, kerja sama riset, maupun residensi, karena FT UGM juga mempunyai program Magister Sains. “Kami melihat dan mencari peluang-peluang, terutama di bidang penelitian yang kami kerjakan atau dikerjakan bersama dengan BRIN, agar efesiensi dan efektifitas penelitian di UGM menjadi yang terbaik,” ujar Selo. Pbt. Direktur Manajemen Talenta, Arthur Ario Lelono, Ph.D, mengatakan kegiatan kerja sama antara OR IPT BRIN dan FT UGM ini merupakan langkah yang sangat tepat. “ Kerja sama kolaborasi riset ini bisa menjadi kendaraan untuk berbagi skema pendanaan riset, tidak hanya bagi periset BRIN, tetapi juga dosen dan peneliti dari perguruan tinggi. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi SDM pada kedua institusi,” paparnya. Menurut Arthur, terdapat skema pendanaan riset terbuka yang merupakan program kerja Kedeputian Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, yang mensyaratkan keterlibatan mahasiswa atau periset yang masuk kedalam program manajemen talenta BRIN untuk program S2 dan S3. “Ini kesempatan yang sangat baik, karena salah satu program BRIN skema kerja sama dari mitra, baik akademisi maupun industri. Seperti skema pendanaan multiyears yang mensyaratkan adanya sejumlah publikasi, serta berapa jumlah mahasiswa yang diluluskan,” pungkasnya. (jp, hrd/ ed: adl)

Baca

Peneliti Kimia Jelaskan Bahaya Sampo Palsu di Masyarakat


06 Januari 2022

Serpong, Humas BRIN. Pada Jumat, 31 Desember 2021 kemarin, suatu pabrik di Tangerang digerebek polisi karena memproduksi sampo serta minyak rambut palsu dari merek-merek terkenal. Namun, bahan baku sampo tersebut merupakan campuran dari produk berbahaya seperti soda api, alkohol yang kadarnya hingga 96%, bahan pengawet dan bahan makanan. Lalu, bagaimana konsumen membedakan mana produk yang asli dan yang palsu? Menjawab hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik (OR IPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Agus Haryono diwawancari oleh CNN Indonesia pada Selasa (5/1). Agus mengatakan, yang pertama adalah mengenali kemasannya, karena kemasan dari pabrik besar dan pabrik kecil ini pasti ada perbedaannya. “Kita lihat biasanya kemasan pabrik besar itu biasanya lebih rapi, lebih tertata. Sedangkan pabrikan kecil, seperti yang dilaksanakan oleh pemalsu ini, biasanya tidak rapi. Banyak putus-putus atau berubah-ubah,” kata peneliti kimia ini. “Dari produknya, pasti ada perubahan. Apalagi kalau kita sudah mengenal produknya, sehari-hari memakai maka dari aromanya, baunya, warnanya, serta teksturnya akan berubah bisa lebih encer dibandingkan dengan produk yang asli,” tambah Prof. Agus. Berbicara terkait tekstur, sampo asli lebih kental dan lebih jelas. “Biasanya kalau kita membuat produk hair care seperti sampo memerlukan riset yang cukup panjang untuk menentukan produk yang optimal. Dengan kekentalan yang optimal sehingga dia dapat bertahan lama dalam jangka waktu beberapa tahun,” jelasnya. Agus menyampaikan bahwa  produk-produk rumahan ini, kelemahannya tidak bisa mencapai kondisi yang kosisten, sehinga dalam waktu yang beberapa lama produknya akan lebih encer. Agus menceritakan, bahan-bahan campuran pada sampo palsu dalam kemasan plastik terdapat soda api, bahan pengawet, lem, dan pewarna. “Misalkan dari soda api, soda api ini adalah bahan kimia yang menyebabkan iritasi apalagi jumlahnya melebihi ambang batas dan cukup besar maka kulit kita, bahkan mata bisa terkena iritasi seperti terbakar,” terangnya. Lebih lanjut, dengan jumlah konsentrasinya cukup tinggi, menyebabkan selaput mata menjadi rusak, bahkan menyebabkan kebutaan pada mata. Dan bisa menyebabkan kerusakan pada sel kulit, karena terdapat bahan soda api tersebut. Kemudian untuk bahan pengawet, seperti formalin dan sebagainya. Bahan-bahan tersebut diperbolehkan oleh Badan Pengawas Obat dan Minuman (BPOM)  dengan ambang batas yang diperbolehkan. “Kita perlu berhati-hati dengan bahan formalin karena dapat menyebabkan penyakit kanker,” pesan Agus. Selain itu, ketika perusahaan membuat formula sampo, tentunya membuat aroma-aroma tertentu yang perusahaan teliti. Aroma ini biasanya tidak hanya satu jenis aroma kemudian memformulasi dan menghasilkan aroma-aroma tertentu. “Inilah yang tidak dimiiki oleh pemalsu sampo tersebut. Sehingga dia membuat aroma-aroma tersendiri yang berbeda dengan aroma sampo aslinya dan biasanya karena mereka hanya menggunakan satu atau dua jenis aroma, sehingga baunya lebih menyengat dibandingkan dengan produk yang asli,” ungkapnya. Agus mengatakan, kalau kita melihat , merasakan, biasanya akan berbeda dengan produk aslinya. Karena yang palsu ini lebih menyengat, untuk satu jenis aroma tertentu. “Tidak semua pengawet dan pewarna diperbolehkan oleh badan POM. Nah, ini yang tidak kita tahu jenis pengawet dan pewarna yang digunakan oleh sampo palsu ini, apakah jenis yang diperbolehkan oleh BPOM atau jenis yang sudah dilarang,” jelasnya. Menurutnya, setelah penemuan pabrik sampo palsu dan minyak rambut palsu, maka menjadi tugas kita bersama untuk senantiasa melihat produk-produk di sekitar kita. Secara tugas dan fungsi dari BPOM adalah untuk melihat kondisi pemakaian barang-barang produk yang sudah ada di masyarakat melalui pengawasan. “Dengan temuan-temuan seperti ini, menjadi peringatan penting bagi kita untuk menandai bahwa masih ada pemalsuan-pemalsuan produk di luar sana,” pungkasnya. (hrd/ ed: adl)  

Baca

Sukses Orasi, Profesor Riset Kimia Gelar Syukuran


29 Desember 2021

Serpong, Humas BRIN. Peneliti Pusat Riset Kimia (PRK) BRIN sekaligus menjabat sebagai Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik, Agus Haryono, melakukan acara syukuran atas pengukuhan profesor, pada Selasa (28/12) di ruang rapat PRK BRIN. Agus merupakan salah satu profesor riset yang dilantik BRIN pada Kamis, 23 Desember 2021 dan menjadi profesor riset ke-627. Kepala Pusat Riset Kimia BRIN, Yenny Meliana, membuka acara dengan sambutan singkat yang berisi ucapan selamat untuk Prof. Agus. “Dalam acara hari ini, kami khusus selenggarakan untuk syukuran Prof. Agus yang telah meraih gelar profesor riset. Harapan ke depannya semoga semakin sukses untuk riset-risetnya,“ ucapnya. Selanjutnya, Prof. Agus mengucapkan apresiasinya kepada Pusat Riset Kimia yang telah mendukungnya selama ini. “Terima kasih kepada Kepala Pusat Riset Kimia, para profesor, kelompok penelitian Kimia Makromolekul, para peneliti sivitas kimia yang capaian kinerjanya untuk publikasi selalu tinggi di atas target dan semoga ke depannya bisa lebih baik lagi,” ujarnya. Dipandu oleh periset Akhmad Darmawan, acara syukuran Prof. Agus diisi dengan penyampaian ucapan selamat dari sivitas, diskusi singkat, pengenalan sivitas Kimia BRIN yang baru bergabung, serta pembacaan doa. Di akhir acara, Profesor bidang Kimia Makromolekul tersebut kemudian melakukan pemotongan tumpeng dan foto bersama. (adl)

Baca

Peran Srikandi Kimia BRIN dalam Membangun Riset dan Keluarga


23 Desember 2021

Serpong, Humas BRIN. Memperingati Hari Ibu Nasional dan sebagai bentuk apresiasi kepada periset yang memiliki peran penting dalam keluarga, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadakan talkshow SUPER (Sosok Ibu dan Perempuan Berkarier), pada Rabu (22/12). Edisi perdana ini menghadirkan para Srikandi di Lembaga Riset dengan sejumlah capaian membanggakan sekaligus menjadi peran sebagai ibu. Dalam acara ini, hadir Srikandi Periset dari Pusat Riset Kimia (PR Kimia) BRIN, Athanasia Amanda Septevani. Amanda, demikian kerap disapa merupakan pemenang Enam Terbaik Kategori The Future Leader Anugerah ASN 2021. Di tahun ini juga Amanda meraih juara satu Anugerah MYSA 2021. Dirinya sangat bersyukur mempunyai kesempatan atasan capaian yang sangat membanggakan. “Ini adalah perjalanan yang sangat berharga bagi saya belajar bersama banyak teman dalam proses,” ucapnya. Peneliti muda kimia ini menyampaikan dukungan kepada suami, keluarga, orang tua, dan semuanya yang sangat mendoakan dan mendukungnya secara moral, untuk terus memberikan kontribusi bagi masyarakat. “Karena suami saya juga sedang berjuang dengan Ph.D-nya, saya juga mendukung suami saya. Demikian juga ketika saya butuh dukungan, dia juga siap mendukung saya,” ungkap Amanda. Setelah lulus sarjana, aebelum bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini bergabung ke dalam BRIN, Amanda sempat bekerja di industri selama tiga tahun. Kemudian Amanda mendaftar ke LIPI pada tahun 2010 dan diterima. Salah satu jabatan fungsional yang ada di LIPI pada saat itu adalah peneliti. Kemudian Amanda merasakan bahwa penenelitian itu menyenangkan dan mengasyikkan. Menurutnya, hidup itu adalah sebuah pilihan. “Ketika kita memilih suatu hal, segala konsekuensinya harus dihadapi. Meskipun awalnya saya tak pernah bermimpi menjadi peneliti, kemudian saya juga memahami bahwa ini yang terbaik dan saya memberikan yang terbaik,” tegas 99 Most Inspiring Women in Indonesia by Globe Asia 2019. Setelah menekuni menjadi peneliti, pada tahun 2013  Amanda melanjutkan program magister dan doktor ke Australia.  “Pada tahun 2017 kembali bekerja di LIPI, saya benar-benar mulai aktif dan berkontribusi dengan melakukan beberapa penelitian,” kenangnya. Peneliti yang berperan aktif dalam bidang nanoteknologi berbasis biorefinery ini mengatakan bahwa menjadi peneliti itu pekerjaan utamanya adalah belajar. “Kita terus belajar untuk tetap bisa mengembangkan kepakaran kita masing-masing dan alangkah baiknya apa yang kita pelajari dan kita dapatkan dari ilmu-ilmu sebelumnya kemudian bermanfaat untuk masyarakat,” papar Amanda. “Saya banyak belajar dengan teman-teman sekitar, serta dengan beberapa kolaboran saya di luar negeri, kami bersama-sama membangun penelitian yang benar-benar bermanfaat hingga saat ini,” ucap Amanda. “Jadi beberapa penghargaan yang saya dapatkan adalah hasil karya teman-teman semua yang ikut ‘menghantui’ pencapaian saya,” imbuhnya. Amanda menjelaskan bahwa rasa keingintahuan terhadap sesuatu harus benar-benar besar. “Dengan ingin tahu, maka kita akan banyak bertanya dan juga banyak mencari informasi di luar sana untuk digunakan di penelitian,” terangnya.   Komersialisasi Riset Saat ini, Amanda mengembangkan potensi patennya untuk dikomersialisasikan, yaitu microfiber cellulose (MFC). “MFC inilah yang menjadi salah satu inovasi yang saya kedepankan ketika mendaftar Anugerah ASN 2021,” ujarnya. Pengajuan patennya sudah didaftarkan tahun 2018 ketika mengembangkan riset dari limbah perkebunan kelapa sawit dengan memanfaat salah satunya tandan kosong kelapa sawit. “Selulosanya sudah dalam produksi skala besar dengan fasilitas PR Kimia BRIN dengan kerja sama dengan industri PT Mandiri Palmera Agrindo, dan tahun ini memulai komersialisasi.Tahun depan dalam proses pengalihan alih teknologi lisensi, royalti, dan sebagainya,” urai peneliti nanomaterial tersebut. Amanda mengatakan ada tantangan tersendiri untuk menjadi periset agar tetap berkontribusi di setiap pekerjaan riset maupun yang lainnya. “Saya yakin dengan komitmen, kita tetap bisa terus menjalani kedua peran kita baik, saat bekerja maupun bersama keluarga dengan baik,” kata Amanda.   Pentingnya Berkontribusi   Baginya, segala yang dijalani dalam hidup, seperti keberhasilan dan kesuksesan dalam bekerja merupakan peran dari semua orang, baik keluarga maupun teman-teman di lingkungan kerja. “Semoga dengan ketika kita bersatu ke depannya bisa menghasilkan karya yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita,” harapnya. “Begitu pun BRIN, meski dalam usia yang masih muda, dapat membuktikan bahwa dalam sebuah institusi yang besar, bisa menghasilkan karya-karya yang besar. Amanda berpesan bagi para calon ibu, maupun perempuan-perempuan di luar sana, bahwa wanita itu mempunyai potensi yang besar. “Asalkan kita mempercayai diri sendiri untuk terus berusaha yang terbaik,” tegasnya. “Karena saya percaya, apa pun profesinya, kita semua mempunyai kontribusi bagi lingkungan. Untuk itu harus menyakini bahwa kita mempunyai nilai tinggi dengan memberikan yang terbaik untuk sekitar kita,” yakinnya. Terakhir, Amanda menyampaikan rasa terima kasih atas segala kasih sayang dan kepercayaan ibundanya yang selalu memberikan yang terbaik baginya. “Dengan segala keterbatasan ibu sebagai ibu rumah tangga, beliau adalah ibu yang sangat super dalam mengelola pekerjaan dan mengajarkan segala hal kepada saya,” tutur peraih hibah riset internasional dari KWEF Jepang tahun 2020 ini. (hrd/ ed: adl)

Baca

Riset Zinc Oxide untuk Cek Luka Pasien Diabetes


20 Desember 2021

Serpong, Humas BRIN. Indonesia masih membutuhkan banyak perempuan peneliti karena manfaatnya untuk pengembangan pengetahuan di Indonesia. Terutama sekarang di era pandemi ini peneliti yang akan membantu dalam menemukan berbagai penemuan, sangat bermanfaat bagi teman-teman yang berjuang mengurusi pandemi ini. Demikian ujar Eka Pramita yang memandu acara Cerita Cantika episode yang ke-68, dengan tema ilmu pengetahuan atau Women in Science, pada Jumat (17/12). Kali ini Eka berbincang dengan Peneliti Pusat Riset Kimia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PR Kimia – BRIN), Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti. Siska demikian disapa, meneliti tentang struktur nano Zinc oxide (ZnO) dari pelapisan baja untuk membantu mencegah pertumbuhan bakteri pada luka kronis pada pasien diabetes. Dirinya menceritakan pengalaman pertama tertarik dengan dunia peneliti. Seperti banyak diketahui, bekerja menjadi ilmuwan itu sungguh tidak mudah karena harus sering berada di lapangan, di laboratorium, sehingga waktu juga terbuang banyak. Sewaktu S1 jurusan Kimia, tugas akhir Siska melakukan penelitian di laboratorium (lab). Kemudian mendapat dosen pembimbing yang membuatnya nyaman bekerja di laboratorium. “Kerja di lab itu membuat kita berpikir kritis. Kita berusaha menyelesaikan masalah yang dibuat sendiri, jadi apabila kita melakukan ini, terus kita harus bagaimana?,” kenangnya. Setelah lulus S1, pembimbing menyarankan untuk mendaftar ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang kini bergabung menjadi BRIN, dan diterima. Karena Siska berminat ingin memecahkan dan mencari solusi. “Begitu masuk di LIPI, ternyata dunia penelitian itu menarik. Mulai saat itu sampai sekarang masih betah di sini,” ujarnya. Siska yang merupakan lulusan S1 Universitas Gadjah Mada (UGM) kemudian melanjutkan magister nanaoteknologi di Flinders University of South Australia, lanjut mengambil S3 di bidang ilmu material dan mineral di kampus yang sama. Pada tahun ini, Sisca berkesempatan mengikuti L’Oreal Unesco for Women in Science 2021. Siska pun meneliti tentang nano Zinc oxide (ZnO). “Berdasarkan data World Health Organization (WHO), Indonesia itu adalah nomor dua di dunia untuk penderita diabetesnya. Selain itu masalah diabetes juga memberikan beban finasial bagi penderitanya, khususnya luka kronis, karena lukanya itu sulit disembuhkan bahkan yang parah bisa berujung ke amputasi,” terangnya. Dari latar belakang permasalahan tersebut, Siska melihat apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi terutama beban finasial bagi mereka. Lalu dari segi medis apa juga ada peluang yang bisa dilakukan. “Karena sebenarnya dari segi medis sudah dilakukan cara-cara untuk merawat luka diabetes itu. Sistemnya dengan mengecek derajat keasaman atau pH dari luka. Sekarang masalahnya dari pihak medis masih dengan cara konvensional,” jelasnya. “Dari medis harus membuka perban dari luka, untuk mengecek pH-nya dan itu menimbulkan risiko kontaminasi bakteri untuk luka itu. Kemudian saya juga melihat dari mgobrol sana sini ternyata kita itu masih punya masalah dengan limbah-limbah galvanisasi. Galvanisasi itu limbah dari hasil proses pelapisan baja,” imbuhnya. Menurut peneliti kimia ini, limbah galvanisasi mempunyai  manfat yang baik dari segi nanomaterial dia mempuyai sifat-sifat yang baik termasuk antibakteri pada nano ZnO. “Saya berusaha bagaimana caranya memanfaatkan limbah yang sudah tidak terpakai, tetapi bisa menolong orang lain supaya bisa bermanfaat kembali. Jadi anti bakteri dari ZnO dimanfaatkan untuk mencegah kontaminasi bakteri dimodifikasi dengan yang namanya antosianik. Antosianik itu ruang-ruang alami yang ada di kol berwarna ungu,” jelasnya. Lebih lanjut, karena dari pewarna alami sehingga tidak berbahaya buat manusia, Siska berpikir bagaimana caranya memanfatkan semuanya itu untuk menolong penderita diabetes terutama yang punya luka diabetes. Siska berharap penelitiannya juga bisa membantu pasien mengetahui kalau saat ada kondisi misalnya lukanya sedang kronis. Semacam self monitoring kondisi luka itu sebenarnya membaik atau memburuk. “Pada saat kondisi kita memburuk, maka kita harus pergi ke rumah sakit. Kalau kondisi lukanya stabil dan cenderung membaik maka cukup diam di rumah saja. Jadi bisa mengurangi beban finasial tanpa ke rumah sakit dan juga menghemat waktu,” jelas Siska. Untuk jangka panjang, produknya berbentuk seperti plester. Contohnya model untuk luka yang ada di pasaran, yang ditengah-tengahnya berwarna kuning. Nanti di plester tersebut ditaruh bahan berbasis hidrogel transparan. Kemudian, saat produk transparan tersebut ditempelkan untuk luka, antosianik pencegah bakteri tadi bisa berubah warna. Dengan transparan maka pasien bisa mengamati perubahan warnanya dari luar atau secara langsung, sehingga tidak perlu dibuka perbannya. “Dari situ kelihatan, misalnya dari perban itu menimbulkan warna ungu, artinya dia baik-baik saja. Sedangkan apabila warnanya berubah ke arah biru, berarti lukanya ada suatu kontaminasi bakteri atau progresnya kurang baik. Itu yang harus cepat-cepat ke rumah sakit,” ujarnya. “Jadi target produknya, pengecekan luka secara kasat mata bisa dilakukan oleh orang awam atau siapa pun,” ungkapnya.   Tantangan Menjadi Peneliti Bicara tantangan terkait penelitian, bekerja di lab terkadang tidak selamanya berjalan mulus. “Mau rencana hari ini, mau reaksi apa, ternyata ada kran yang bocor, atau genset tidak menyala. Jadi ada kendala teknis yang terkadang di luar itu,” kata Siska. Dari sisi perempuannya adalah membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Karena terkadang dalam penelitian ada reaksi kimia yang berlangsung sampai 12 jam. Jadi dirinya mesti mengatur waktu bagaimana mengurai reaksi sampai sore kemudian pagi-pagi harus ke kantor melihat reaksinya. “Selain pekerjaan juga masih harus menyiapkan anak sekolah dan menyiapkan bekal buat keluarga, apalagi masa-masa pandemi anak sekolah di rumah,” ucapnya. Siska berpendapat bahwa  kultur peneltian sudah cukup baik mengakomodasi penelti. Seperti misalnya di pusat risetnya, tidak ada yang membedakan antara penelti pria dengan peneliti perempuan. Menurutnya, untuk seorang perempuan jangan takut menjadi peneliti, karena sudah sangat didukung. Jadi tidak masalah gendernya, tetapi lebih pada semangat dan kreatifitas. Mengenai stereotipe peneliti, ada kesan peneliti itu kacamatanya tebal, menginap di lab sampai tidak pulang, serta seperti orang aneh yang tidak pernah bergaul dengan orang lain. “Justru peneliti menjadi rutin bertambah kawan setiap tahun. Misalnya satu kali konferensi, kita bisa bertemu banyak orang dan menambah teman baru,” ujarnya. “Acara konferensi paling tepat untuk mencari koaborasi, update perkembangan penelitian yang sebidang dengan kita,” lanjutnya. Jadi jangan punya stigma negatif, karena profesi apa pun termasuk peneliti juga menyenangkan.   Pada awal pandemi kemarin, Siska mengungkapkan risetnya agak terhambat karena sempat work from home (WFH) total, sehingga semua peneliti memang di rumah kecuali mereka penelitiannya terkait covid. Oleh karena risetnya tidak terkait covid, jadi dirinya otomatis di rumah. “Karena biasanya di lab, kita tetapi harus tetap produktif walaupun dirumah, karena punya capaian dari kantor yang harus terpenuhi. Jadi saya cari-cari ide, membuat tulisan apa yang bisa kita tulis tanpa harus ada riset di lab, seperti membuat literature reviuw, atau membuat tulisan teoritis,” terangnya. “Sekarang kita sudah mulai beraktivitas di kantor secara full, jadi masih banyak waktu di kantor dan penelitian sudah bisa berjalan lagi,” terangnya.   Harapan Perempuan Peneliti di Indonesia Siska berujar bahwa menekuni ilmu pengetahuan bisa juga berkarir yang luas. Terutama terkait dengan sains langsung biasanya jadi dosen. “Saya dulu sempat diterima di bank juga sebelum diterima di LIPI,” ceritanya. “Sebetulnya bank juga membutuhka lulusan kimia. Jadi memang luas area yang bisa menerima orang-orang dengan latar belakang sains. Kalau memang niatnya sebagai peneliti maka jalurnya ke BRIN ini,” terang Siska. Ia mengatakan untuk menjadi peneliti, prospek ke depannya sudah bagus. “Selama kita bisa bekerja dengan optimal, berkinerja, terus produktif dalam bekerja, maka jenjang kariernya juga cepat, serta tunjangan kinerjanya juga semakin menjanjikan,” paparnya. Sekarang ini, penelitian yang dilakukan pada fellowship L’Ooreal Unesco sudah sampai pembuatan ZnO yang dioptimasi, dan tinggal menunggu hasil karakterisasi dari dua instrumen alat lagi yang belum selesai. “Rencanya mulai minggu depan penelitian dimulai ekstraksi ke ungunya, jadi mau ambil antosianin, dan mengekstrak antosianin ke ungu . Siska berharap semakin banyak perempuan yang tertarik di dunia penelitian. Untuk melakukan penelitian yang bisa memberikan manfaat bagi orang banyak ke depannya. “Tetapi jangan lupa, kita juga harus tetap menjaga kelestarian lingkungan. Terutama limbah-limbah dari hasil eksperimen kita, bisa jadi dari limbah itu beranfaat untuk bidang yang lain,” pesannya. (hrd/ ed. adl)

Baca

Peneliti Kimia BRIN Raih Merck Young Scientist Award 2021


14 Desember 2021

Serpong, Humas BRIN. Merck, sebuah grup perusahaan sains dan teknologi yang memiliki keahlian bidang kesehatan, ilmu hayati, dan elektronik, mengumumkan peraih Merck Young Scientist Award (MYSA) Indonesia pada Sabtu (11/12). Peneliti muda Pusat Riset Kimia Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Athanasia Amanda Septevani, mendapatkan anugerah MYSA 2021 sebagai juara satu. Acara yang diselenggarakan tiap dua tahun tersebut merupakan pengakuan atas kontribusi para ilmuwan di Indonesia. Sejak tahun 2018, MYSA Indonesia bertujuan memberikan penghargaan kepada ilmuwan muda Indonesia berusia maksimum 40 tahun, yang membuat terobosan dan dampak yang bermanfaat bagi masyarakat. Melalui penelitian ilmiah yang inovatif untuk memecahkan masalah yang ada, dengan berkolaborasi dengan komunitas ilmiah. Pada tahun ini, MYSA memberikan penghargaan kepada lima finalis peneliti dari suatu lembaga penelitian pemerintah, universitas, dan rumah sakit, dengan latar pendidikan mulai dari sarjana (S1), magister (S2), hingga doktor (S3). Topik penelitian yang dikompetisikan yaitu aplikasi ilmu biologi, ilmu kimia, dan terkait covid-19.  Peneliti Pusat Riset Kimia BRIN, Athanasia Amanda Septevani, mengusulkan judul penelitian Advancement of Green Biorefinery: Lignin derived from Biomass Black Liquor Sludge towards Eco-friendly and High-Performance of Flame Retardant. Tujuan dari riset ini adalah untuk mengembangkan lignin dengan karakteristik tahan api yang ramah lingkungan dan berkinerja tinggi yang sesuai dengan berbagai polimer. Amanda menyampaikan apresiasinya atas perolehan penghargaan ini. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas penghargaan dari Merck Indonesia melalui ajang Merck Young Scientist Award 2021. Saya sungguh tidak menyangka mendapatkan peringkat ke-1 karena finalis Top 5 MYSA adalah peneliti-peneliti muda hebat dengan segala keunikan dan kontribusinya masing-masing. Menurut saya, kita lima besar finalis adalah pemenang atas hasil kerja keras dan dedikasi,” ujarnya. Peneliti muda ini berharap agar ajang dan apresiasi MYSA ini menjadi motivasi bagi seluruh finalis untuk melanjutkan dan mendiseminasikan hasil inovasi penelitian agar bisa bermanfaat nyata bagi masyarakat. “Semoga penghargaan ini juga menjadi penyemangat baru untuk para peneliti lainnya untuk terus berkarya dan berkontribusi untuk kemajuan IPTEK di Indonesia,” pesannya. (adl)

Baca

Kimia BRIN Jalin Kerja Sama dengan Warwick University, UI, dan UNJA


08 Desember 2021

Serpong, Humas LIPI. Kepala Pusat Riset Kimia Badan Riset dan Inovasi Nasional (PR Kimia BRIN), Yenny Meliana, melakukan proses tanda tangan kerja sama dengan Warwick University, Universitas Indonesia, dan Universitas Jambi, secara desk-to-desk pada Senin (6/12). Kerja sama empat pihak ini mengambil topik Advanced Materials for Future Energy and Environmental Applications in Indonesia. Perjanjian kolaborasi riset tersebut merupakan proyek yang didanai oleh Newton Institutional Links. Newton Institutional Links adalah bagian dari Newton Fund. Program ini merupakan bagian dari dana Official Development Assistance (ODA). Newton Institutional Links menyediakan dana untuk kolaborasi pembangunan riset dan inovasi antara Inggris dan Indonesia. Pendanaan ini dibuat untuk menyediakan dana skala kecil yang bertujuan untuk memulai dan mengembangkan kolaborasi antar akademik dan grup riset, department dan institusi di negara mitra dan Inggris, mendukung pertukaran ahli dan ilmu riset, serta membangun pusat kepakaran dan inovasi. Skema pemberian dana hibah tersebut berlangsung selama dua tahun, mulai Februari tahun 2020 hingga Februari 2022. Turut hadir dalam penandatangan naskah tersebut, koordinator kegiatan dari PR Kimia BRIN, peneliti Indri Badria Adilina, serta tim pelaksana Kerja Sama Kawasan Serpong. (adl)

Baca

Peneliti Kimia BRIN Raih L’Oreal-UNESCO in Science National Award 2021


11 November 2021

Serpong - Peneliti Pusat Riset Kimia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PR Kimia – BRIN), Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti menjadi pemenang L’Oreal-UNESCO For Women in Science 2021 di tingkat Indonesia bersama Febty Febriani (PR Fisika BRIN), Peni Ahmadi (PR Bioteknologi BRIN), dan Magdalena Lenny Situmorang (Institut Teknologi Bandung). Hal ini disampaikan pada Penganugerahan Inaugurasi Pemenang L’Oreal-UNESCO FWIS 2021 yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (10/11). Fransiska Sri Herwahyu Krismastuti menyampaikan risetnya berjudul ‘Zinc oxide Nanostructures from Galvanization Waste as Chronic Wound Prognostics’. “Di Indonesia ada 10,7 juta penderita diabetes yang menempatkan Indonesia pada peringkat tujuh di dunia. “Apabila penderita diabetes yang mempunyai luka dan tidak mendapat perawatan yang tepat akan menyebabkan luka kronis yang tentu saja ini memberikan beban keuangan bagi pasien,” ujarnya. Menurut peneliti kimia ini, di sisi lain, ada potensi limbah galvanisasi yang belum termanfaatkan, padahal limbah ini mengandung zinc yang dapat diolah menjadi nano Zinc oxide (ZnO) yang mempunyai sifat antibakteri dan dapat dikompositkan dengan material lain, misalnya pewarna alami dari kubis ungu. “Kubis ungu ini mempunyai sifat yang unik karena mempunyai sensitivitas terhadap perubahan pH, sehingga memiliki peluang untuk digunakan sebagai platform monitoring perubahan pH secara visual. pH merupakan salah satu penanda progres penyembuhan luka kronis,” jelas Fransiska. Dirinya mengatakan bahwa pada penelitiannya ini, akan dilakukan pembuatan nanokomposit ZnO dan pewarna alami dari kubis ungu untuk mencegah berkembangnya bakteri yang dapat menghambat proses penyembuhan luka dan juga monitoring pH pada luka yang dapat dilakukan oleh pasien diabetes itu sendiri. “Keuntungan dari penelitian ini antara lain; bahan baku yang melimpah dan murah karena ZnO disintesis dari hasil samping dari industri dan juga aman karena pewarna yang digunakan diekstrak dari bahan alami,” ucapnya. Melanie Masriel, Direktur Komunikasi, Hubungan Publik dan Keberlanjutan L’Oreal Indonesia mengatakan, sudah menjadi komitmen kami di Loreal new create the beauty that moves the world atau menggerakkan Indonesia maju melalui L’Oreal Indoesia Science programs. “Kami berusaha untuk mendukung Indonesia maju dengan turut memajukan dunia science serta mendorong kemajuan ilmuwan perempuan di Indonesia. Karena kami percaya bahwa ‘The World Needs Science and Science Needs Women’,” jelas Melanie Program Loreal-UNESCO FWIS merupakan program yang diselenggarakan secara internasional selama lebih dari 20 tahun dan diadakan lebih dari 52 negara. Di Indonesia sudah dijalankan program sejak tahun 2004 dan bekerja sama dengan komisi nasional indonesia untuk UNESCO serta didukung oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan riset dan teknologi, serta kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Program ini bertujuan untuk mengakui, menyemangati, juga mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmuwan perempuan pada khususnya. Hingga tahun 2021 ini, program L’Oreal-UNESCO FWIS nasional sudah akan memberikan fellowship dan dukungan pendanaan riset kepada 63 ilmuwan perempuan yang diantaranya sudah memenangkan fellowship di tingkat internasional. Dalam penyelenggaraan tahun ini, L’Oreal-Unesco FWIS kembali memberikan dukungan pendanaan riset senilai Rp 100 juta kepada masing-masing empat ilmuwan perempuan dan diharapkan bisa memberikan kontribusi penting pada dunia sains. (hrd/ ed. adl)

Baca

Dampak Pestisida terhadap Kesehatan dan Lingkungan


04 November 2021

Serpong – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (OR IPT BRIN), Dr. Agus Haryono, M.Sc., menyampaikan kuliah umum secara virtual di Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), pada Rabu (3/11). Acara ini merupakan bagian dari Program Webinar dalam Rangka Peningkatan Reputasi Akademik Departemen Kimia FMIPA UI. Topik kuliah yang disajikan yaitu Dampak Penggunaan Pestisida Kimia terhadap Kesehatan dan Lingkungan. Mengawali pemaparan, Agus menjelaskan tentang pestisida menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43 Tahun 2019.  “Pestisida yang berarti semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus memiliki delapan fungsi, yaitu, pertama untuk memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit yang merusak tanaman, kedua untuk memberantas rerumputan, ketiga untuk mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan, keempat untuk mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman, kelima untuk  memberantas hama luar pada hewan piaraan dan ternak, keenam untuk memberantas hama air, ketujuh untuk  memberantas hama dalam rumah tangga, bangunan, dan alat-alat pengangkutan, dan terakhir untuk memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi,” jelasnya. Selanjutnya Agus menerangkan istiliah yang ada dalam pengawasan pestisida. “Pengawasan pestisida serangkaian kegiatan pemeriksaan terhadap produksi, peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida agar terjamin mutu dan efektivitasnya, tidak mengganggu kesehatan dan keselamatan manusia serta kelestarian lingkungan hidup dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ungkap Kepala OR IPT BRIN. Peneliti Ahli Utama ini mengatakan bahwa formulasi dan bahan aktif dalam pestisida itu penting untuk diawasi kandungannya. “Formulasi adalah campuran bahan aktif dengan bahan lainnya dengan kadar dan bentuk tertentu yang mempunyai daya kerja sebagai pestisida sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Sementara bahan aktif adalah bahan kimia sintetik atau bahan lalami yang terkandung dalam bahan teknis atau formulasi pestisida yang memiliki daya racun atau pengaruh biologis lain terhadap organisme sasaran. Dalam menguji kadar bahan aktif pestisida inilah diperlukan bahan aktif standar yang murni sebagai pembanding dalam proses analisis,” urainya. Lulusan Doktor dari dari Jepang ini menjelaskan bahwa banyak bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan dalam perdagangan internasional. “Ada Konvensi Stockholm yang mengatur polutan organik resisten yang dilarang, juga ada Konvensi Rotterdam yang mengatur tentang peredaran pestisida yang berbahaya namun masih belum dilarang di dunia internasional,” ujarnya. “Misalnya jika negara A ingin mengekspor ke negara B harus ada perjanjian dulu apakah negara B itu bisa menerima. Tujuannya adalah agar distribusi pestisida yang dampaknya bahaya itu bisa teratur dan tercatat dengan baik,” imbuhnya. Dirinya menjelaskan bahwa pestisida memiliki dampak bagi kesehatan apabila digunakan dalam jangka panjang. Misalnya penggunaan pestisida berlebihan yang di daerah pertanian bisa menyebabkan munculnya penyakit kanker. Namun menurut Agus, saat ini semakin tinggi kesadaran masyarakat akan bahaya pestisida kimia, maka peluang riset biopestisida atau pestisida nabati semakin meningkat. “Peluang pasar bagi industri biopestisida semakin baik serta ditambah dengan dukungan pemerintah,” terangnya. Sebagai peneliti, dirinya berpesan agar para peserta mahasiswa juga bisa meneliti formula pestisida yang ramah lingkungan. “Agar industri tidak hanya menggunakan lisensi formula yang diimpor dari luar negeri,” pesannya. (mfn, adl)

Baca

Bioplastik Pengganti Plastik Konvensional


24 Oktober 2021

Serpong - Peneliti Bioplastik M. Ghozali menjadi narasumber pada sesi acara Indonesia Menyapa, Radio RRI Pro 3 FM yang disiarkan secara podcast. Diungkapkan oleh Ghozali, bioplastik terbuat dari bahan baku biomassa. Biomassa adalah bahan baku yang terbuat dari sari pati singkong, sari pati jagung, sari pati aren, atau kayu. Setelah itu sari pati atau kayu diubah menjadi selulosa dan akhirnya terbentuk menjadi bioplastik. “Bioplastik dapat diolah dari  bahan baku pisang, atau dari tanaman lain yang  mengandung sari pati. Semua dapat diolah menjadi  bioplastik. Pada masa kini  bioplastik  sudah mengalami perkembangan dan sudah beredar secara luas di Indonesia,” jelas Ghozali. Ditambahkan oleh Ghozali, kegunaan bioplastik yaitu sebagai single use (sekali pakai). “Ke depannya diiharapkan bioplastik dapat digunakan masyarakat, untuk  menggantikan plastik konvensional. Bioplastik single use, pada masa sekarang ini masih dalam tahap diarahkan ke arah sekunder (riset untuk mengganti plastik konvensional yang sudah ada). Belum sampai di tahap akhir, yaitu sebagai bioplastik yang dapat digunakan sebagai kemasan pembungkus makanan sehari hari,” urainya. Perbedaan plastik dan bioplastik, yaitu bioplastik dapat terurai. Sedangkan plastik konvensional memerlukan waktu yang lama untuk terurai di alam. “Penting ditumbuhkan kesadaran di masyarakat untuk mengurangi atau meninggalkan plastik konvensional sekali pakai karena sulit terurai,” ungkap Ghozali. Dirinya mengharapkan perlunya pihak pemerintah untuk membuat sistem yang bagus tentang pengolahan kembali plastik konvesional di masyarakat. “Yaitu dengan cara setelah plastik konvesional selesai digunakan, langsung dikumpulkan untuk didaur ulang, sehingga berubah bentuk menjadi barang lain,” ucap peneliti Pusat Riset Kimia Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kini riset bioplastik di BRIN sudah dapat membuat bioplastik, namun dalam skala kecil. Bukan diproduksi dalam skala besar untuk industri. Menurut Ghozali, saat ini pembuatan bioplastik untuk riset dan sektor rumahan mudah dilakukan karena hanya diperlukan peralatan tertentu sampai terbentuk bioplastik. “Pembuatan ini hanya untuk digunakan sendiri, bukan untuk digunakan oleh masyarakat umum. Karena jika ingin mengolah bioplastik yang dapat digunakan oleh masyarakat umum, bioplastiknya harus memenuhi syarat tertentu sesuai aturan pemerintah,” terangnya. Dari segi biaya pembuatan, Ghozali berpendapat bahwa lebih mahal untuk membuat biolastik. “Hal ini disebabkan pada proses pembuatan bioplastik dari biomassa jenis polietilen (PE) dan polipropilen (PP), sari pati harus dicampur dengan beberapa bahan baku lain. Sedangkan untuk pembuatan plastic konvensional, hanya perlu sejenis bahan baku saja. Namun dari segi kualitas, bioplastik yang terbuat dari tandan sawit , memiliki kualitas lebih tinggi dari plastik konvensional,” ujarnya. Dipaparkan Ghozali, sudah ada negara lain yang telah memanfaatkan bioplastik dalam kehidupan sehari hari. Yaitu Eropa dan Amerika Selatan. Sedangkan negara Brazil sudah mendirikan pabrik bioplastik. Meskipun dalam pembuatan plastik konvensional memerlukan bahan bakar sedikit saja, namun plastik konvensional memerlukan waktu terurai yang lama. Hal ini yang menyebakan plastik konvensional menjadi kurang ramah lingkungan. “Sementara pembuatan bioplastik memerlukan bahan bakar yang lebih banyak, namun lebih ramah lingkungan karena mudah terurai dan tidak merusak lingkungan,” kata Ghozali. Baginya, masih ada kendala dalam penggunaan bioplastik dalam skala besar di kehidupan sehari-hari sebagai pembungkus makanan. Karena belum adanya dukungan dari pemerintah berupa kebijakan. Kebijakan  tersebut diperlukan agar dapat dilaksanakan oleh semua elemen masyarakat. Ghozali bertekad untuk mengembangkan riset bioplastik dan tidak ada kata terlambat. “Jika sudah berhasil, saya akan terus meneruskan risetnya. Diharapkan masyarakat lebih bijak jika memakai plastik dan pihak industri mau memakai riset yang telah dilakukan oleh peneliti,” pungkas Ghozali. (mfn/ ed. adl)

Baca

Pentingnya Tikus Putih dan Mencit untuk Penelitian


30 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Meski kerap dianggap sebagai hama, siapa sangka tikus berperan penting pada ilmu pengetahuan. Satwa pengerat ini sering dipakai sebagai media percobaan bagi para peneliti untuk merumuskan obat bagi penyakit hingga pengujian suplemen makanan. Redaksi CNN Indonesia dengan Rosella Mencit dan LIPI meliput mengenai pentingnya Tikus Putih dan Mencit, pada lembaga penelitian dan bagaimana dan bagaiamana proses produksi atau pengembangbiakan. Acara yang dipandu oleh Ryan Fernando, Produser Lapangan CNN Indonesia, menampilkan lika-liku berternak tikus putih dan mencit dalam segmen sehari menjadi, pada Minggu (29/8) melalui CNN-Indonesia dan Trans 7. Tikus putih atau Norway Rat berasal dari Tiongkok dan menyebar ke Asia Tenggara. Mengutip data Foundation for Biomedical Research Amerika Serikat, 95% hewan percobaan di laboratorium adalah tikus. “Uji tikus itu sebagai uji keamanan suatu kandidat obat atau  kandidat vaksin. Kita akan membedah atau dibuka hewan itu dan kita akan melihat pengaruhnya terhadap organ hati, organ ginjal, paru bahkan memang dia kalau kita bedah hewan ini memiliki kemiripan morpologi tetapi ukurannya kecil,” jelas Marissa Angelina Peneliti Madya P2 Kimia – LIPI. Selain tikus putih, juga ada mencit. Hewan dengan nama latin Mus musculus adalah anggota dari Muridae atau tikus-tikusan yang berukuran kecil. Ukuran tikus putih bisa mencapai 40 sentimeter. Namun ukuran mencit jauh lebih kecil dengan panjang 12 hingga 20 sentimeter. Tidak ada makanan khusus untuk tikus putih, karena hewat pengerat ini merupakan omnivora alias pemakan segala. Makan tikus harus mengandung karbohidrat, protein, lemak, serta serat kasar. Ada dua cara pengembangbiakan tikus putih yaitu inbreeding atau outbreeding. Inbreeding atau perkawinan sedarah yang biasanya dihindari oleh para peternak karena presentase terjadi kecacatan lebih tinggi dibanding perkawinan tidak sedarah atau outbreeding. Namun ada juga peneliti yang membutuhkan tikus jenis ini salah satunya untuk meneliti tikus dengan imun lebih lemah dari tikus kebanyakan. Tikus yang digunakan untuk penelitian minimal berusia 3 bulan atau masuk kategori dewasa. Tikus putih yang dijual ke laboratorium berbobot 150 - 200 gram per ekor, sementara Mencit memiliki bobot 20 - 30 gram per ekor. Sejumlah lembaga penelitian masih menggunakan tikus sebagai salah satu media penelitian. Marissa menyebut, beberapa penelitian yang dilakukan diantaranya adalah ingin melihat apakah daun ketepeng badak dapat meningkatkan imunitas seseorang. “Sebelumnya kita ujikan pada mencit sebelum kita berikan kepada manusia. Selain itu kita juga melakukan uji terhadap tanaman mengkudu sebagai anti hipertensi,“ pungkasnya. (hrd)

Baca

Penyematan Jabatan Fungsional serta Satyalancana di Puspiptek untuk Lingkungan BRIN


27 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Pada Jumat (27/8), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan Pelantikan dan Pengambilan Sumpah/Janji Jabatan Fungsional serta Penyematan Satyalanca Karya Satya  (SLKS) di Auditorium Pusat Pendidikan  dan Pelatihan, Puspiptek, Serpong. Pengambilan Sumpah/Janji tersebut dipimpin oleh Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dan turut disaksikan oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dalam arahannya, Kepala BRIN menuntut para peserta yang telah dilantik dapat bekerja secara baik. “Saya berharap saudara-saudara sekalian dapat bekerja secara profesional, sesuai dengan kompetensi kemampuan, dan kepakarannya demi mewujudkan merah putih yang lebih prima, melalui badan riset dan inovasi nasional, bagi kepentingan bangsa dan negara kita,” pesannya. Ada 66 pejabat fungsional yaitu 31 dari LAPAN, 14 dari BATAN, 11 dari LIPI, dan 10 dari BRIN. Terdiri dari tiga pejabat fungsional Ahli Utama, empat Ahli Madya, 14 Ahli Muda , 30 Ahli Pertama, serta 13 Tunjangan Keterampilan . “Khusus Kepada fungsional Ahli Utama saya ucapkan selamat  sehingga telah mampu mencapai karier tertinggi, bagi seorang pejabat fungsional. Di satu sisi pencapaian karier tertinggi ini adalah bentuk perhatian terhadap kemampuan, kapasitas, dan kompetensi,” ujar Handoko di hadapan para peserta pelantikan. Dirinya melanjutkan bahwa hal tersebut memberikan tanggung jawab tambahan untuk membina generasi di bawahnya. “Di sisi lain, kepakaran bapak ibu yang telah memasuki dan mengikuti jenjang karier utama, harus dapat membina para pejabat fungsional dengan jejang di bawahnya sehingga kelak akan mampu menjadi penerus yang memiliki kapasitas dan kompetensi yang lebih baik sebagai seorang ASN,” tambahnya. Handoko berharap kepada para pejabat yang baru dilantik dapat segera menjalankan tugas dan fungsinya dengan lebih semangat dan penuh tanggung jawab. “Terlebih di dalam upaya kita dalam BRIN untuk membangun riset dan inovasi yang lebih baik kiprahnya tidak hanya bagi BRIN tetapi juga komunitas secara nasional. Bangsa dan negara kita saat ini sedang menunggu kiprah dari bapak ibu yang ada di BRIN,” tegasnya Dalam acara tersebut juga ada penyerahan penghargaan Satyalancana Karya Satya di lingkungan BRIN, BPPT, LIPI, dan BATAN. “Saya juga mengucapkan selamat kepada penerima SLKS, atas pengabdiannya selama 10, 20, 30 tahun secara terus menerus kepada bangsa dan negara kita,” ucapnya. Dari BRIN, BATAN, BPPT, dan LIPI berjumlah 842 orang . 481 orang diantaranya untuk masa bakti 10 tahun, 88 orang  masa bakti 20 tahun, dan 232 orang dengan masa bakti 30 tahun. Sementara untuk penerima SLKS kepada LAPAN telah dilaksanakan pada 17 Agustus 2021 yang lalu. Dalam acara tersebut yang diselenggarakan melalui daring dan luring, terdapat perwakilan penerima penghargaan dari Pusat Penelitian Kimia. Sivitas Nino Rinaldi mewakili pelantikan jabatan fungsional Peneliti Ahli Utama dan Arthur Ario Lelono mewakili penerima Satyalanca Karya Satya. (hrd/ ed. adl)

Baca

Sivitas Kimia LIPI Raih Penganugerahan Penghargaan di Acara HUT LIPI ke-54


27 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Memperingati hari ulang tahun ke-54, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyeleggarakan acara “Kiprah LIPI di usia 54 Tahun” yang digelar pada Kamis (26/8) secara virtual. Tema pada diusung pada peringatan hari  ulang tahun LIPI kali ini adalah “Semangat Inovasi, Solusi untuk Negeri”. Salah satu rangkaian acaranya adalah Penganugerahan Penghargaan bagi Pegawai Di Lingkungan LIPI Tahun 2021. Dua orang sivitas Pusat Penelitian Kimia LIPI, yakni Siti Nurul Aisyiyah Jenie dan Athanasia Amanda Septevani berhasil meraih penghargaan tersebut. Siti Nurul Aisyiyah Jenie, yang akrab dipanggil Ais, memperoleh Penghargaan Kategori PNS Inspiratif di Kedeputian Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) LIPI. Dirinya mengungkapkan rasa terima kasih atas penghargaan yang ia terima. “Saya mengucapkan terima kasih kepada LIPI, khususnya Pusat Penelitian Kimia di Kedeputian IPT, yang telah memberikan kepercayaannya kepada saya dan tim untuk terus berkarya,” ungkap Ais. Peneliti yang berperan aktif dalam bidang Kimia Material dan Nanoteknologi itu telah menghasilkan  206 sitasi publikasi internasional (h-index 8) dan 3 paten granted. “ Ia juga pernah meraih Toray ISTF Research Grant 2021, ASEAN-EU Joint Funding Scheme (JFS)/LPDP kolaborasi Internasional 2020, Loreal-Unesco Fellowship 2017, Best Paper Asia Future Conference 2018 dan Penghargaan Peneliti Terbaik III LIPI 2017. Menanggapi tantangan di masa banyak perubahan dan transformasi organisasi serta pandemi seperti sekarang ini, Ais menyampaikan, “Sebagai peneliti, kami masih terus difasilitasi dan diberikan ruang untuk menghasilkan ide-ide dan inovasi baru yang diharapkan bisa menjadi solusi untuk negeri ini,” ujarnya. “Justru dengan adanya kendala dan perubahan-perubahan inilah, akan lahir peneliti-peneliti tangguh dengan semangat pantang menyerah untuk Indonesia tumbuh dan terus maju,” dirinya melanjutkan. Ia berharap karya-karya ilmiah yang dihasilkan dapat berdampak tidak hanya untuk komunitas lingkungan akademis saja tapi juga untuk masyarakat luas pada umumnya. “Semoga dengan penghargaan ini kami menjadi insan yang lebih baik, lebih bermanfaat dan menghasilkan karya-larya ilmiah yang lebih optimal lagi,” harap Ais. Sementara itu, Athanasia Amanda Septevani berhasil mendapatkan Penghargaan Kategori PNS The Future Leader di Kedeputian IPT LIPI. “Saya sangat berterima kasih dan bersyukur atas kepercayaan yang diberikan LIPI untuk menerima penghargaan ini. Apresiasi ini memberikan semangat baru sekaligus tantangan untuk terus berkarya di dunia penelitian dalam menghasilkan suatu manfaat bagi komunitas akademisi bahkan masyarakat,” ungkap Amanda. Peneliti yang berperan aktif dalam bidang Nanoteknologi berbasis Biorefinery ini telah menghasilkan 356 sitasi internasional (h-index 7) dan 7 paten tersertifikasi dan produk inovasi Micro Fibre Cellulose skala komersial 1 Ton. Ia juga pernah mengukir prestasi dalam Penghargaan 99 Most Inspiring Women in Indonesia by GlobeAsia - 2019 dan  L’Oreal UNESCO for Woman in Science National Fellowship Awards – 2018 serta memperoleh research grant internasional dari KWEF–Jepang 2020, IAS–UK 2019, dan Global Research Project IERI–Korea Selatan 2019. Amanda berharap agar riset di Indonesia semakin maju dan inovatif. "Karena riset merupakan salah satu landasan penting pertumbuhan dan daya saing ekonomi suatu negara, yang diharapkan mampu menjadi solusi aktif dan inovatif dalam menjawab perubahan kebutuhan masyarakat yang sangat pesat di era revolusi industri 4.0," ungkapnya. Menurutnya, hal ini menjadi tanggung jawab dari semua pihak, termasuk dukungan pemerintah untuk menjadikan penelitian sebuah sektor prioritas dengan memperbesar anggaran untuk penelitian. Serta juga didukung peran aktif pihak industri dalam mengembangkan bersama berbagai produk inovatif berbasis hasil riset di Indonesia. “Dalam kiprah LIPI di usianya yang ke 54 tahun, semoga semangat inovasi dan bakti LIPI semakin dikenal dan bermanfaat untuk masyarakat Indonesia maupun internasional,” pungkas Amanda. (whp)

Baca

Riset Bioetanol dan Co-firing Biomassa untuk Ketahanan Energi


01 Agustus 2021

Serpong, Humas LIPI. Yenny Meliana, dari Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI), menyampaikan materi dengan judul “Riset Biomassa di LIPI untuk Pemanfaatan Energi: Bioetanol dan Co-firing” dalam Webinar Pekan Inovasi Energi Baru Terbarukan Indonesia, BPPT, pada Kamis, (29/7). Yenny Meliana berbagi tentang biomassa di LIPI untuk mendukung ketahanan energi dalam riset bioetanol dan co-firing. Yenny berbicara mengenai biomassa untuk energi yang jenisnya sangat banyak. “Ada yang ke arah bioetanol, biodisel, bioavtur, dan juga implementasi co-firing atau pencampuran biomassa berupa wood pellet (pelet kayu) dan saw dust (serbuk gergaji),” jelasnya. Kepala P2 Kimia – LIPI mengungkapkan, kebijakan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) masih 11%  untuk target tahun 2025. Seperti yang dijelaskan oleh Menteri ESDM (energi dan sumber daya mineral), bagaimana mencapai pembauran energi sebesar 23% pada tahun 2025. Berdasarkan analisis outlook energy, Indonesia hanya mencapai 13,3% pada tahun 2020, dan diprediksi pada tahun 2025, masih hanya 14,6%. Hal ini jauh dari target Indonesia yang berharap mencapai 23%. Lebih lanjut Yenny menjabarkan bagaimana mengakselerasi bauran tersebut, apalagi untuk menuju net zero emmision (nol bersih emisi) pada tahun 2060. Salah satu caranya adalah dengan penggunaan biomassa di dalam co-firing PLTU (pembangkit listrik tenaga uap). “Di P2 Kimia LIPI sebagai unggulan iptek untuk bioetanol generasi kedua (G2), kami banyak melakukan riset ke arah bioetanol dari tandan kelapa sawit. Bagaimana konversi dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS) telah dapat memproduksi bioetanol hingga mencapai kemurnian > 99,5%,” ujarnya. Selain itu, Yenny menyampaikan di P2 Biomaterial LIPI melakukan riset biopelet yang merupakan limbah biomassa dari serbuk kayu, kakao, minyak sawit, dan limbah kopi. “Limbah biopelet ini rendah emisi, tinggi kalori, dan rendah biaya dengan efesiensi 40% dibandingkan dengan penggunan biogas,” ucapnya. Menurutnya, potensi biomassa terbesar masih berasal dari residu pertanian, seperti kelapa sawit, kelapa, karet, tebu, jagung, dan limah biomassa padat. “Teman-teman LIPI sudah mengkaji berapa banyak potensi biomassa seperti jerami padi, sekam, bagas tebu, tongkol jagung, dan pelepah sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang memiliki potensi yang paling besar,” ungkap Yenny. “Ke depannya, dari TKKS bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk co-firing dari batubara. Potensi biomassa industri sawit itu mulai dari tandan, pelepah, sabuk, TKKS, daun, palm oil mill effluent (POME), dan cangkangnya,” ucap doktor lulusan National Taiwan University of Science and Technology. Sementara itu, LIPI juga melakukan riset LCA co-firing, yaitu studi produksi pelet sorgum untuk pembangkit listrik di Indonesia dengan metode LCA. “Untuk studi LCA ini, dilakukan evaluasi potensi penghematan gas rumah kaca, dan terjadi pengurangan emisi dari gas rumah kaca dalam pembangkit listrik batu bara,” pungkas peneliti teknik kimia polimer ini. (hrd/ ed. adl)

Baca

Material Bahan Anorganik Menjadi Platform Deteksi


28 Juli 2021

  Saat ini nanopartikel telah banyak dimanfaatkan untuk bidang tekstil, biomedis, perawatan kesehatan, industri, elektronika, lingkungan, pertanian dan pangan, serta energi terbarukan. Tim peneliti dari Pusat Penelitian Kimia LIPI tengah mengembangkan bahan material anorganik berbasis nanopartikel untuk menjadi platform deteksi dibidang biosensor dan lingkungan. Nanopartikel yang digunakan menjadi platform deteksi ini memiliki banyak keunggulan, diantaranya proses deteksi yang simple, dapat digunakan portable, materialnya yang stabil, selektif, sensitif, dan dapat mengefisienkan waktu dan biaya. Dalam bidang biomedis, tengah dilakukan pengembangan dan optimasi dari sistem deteksi cepat (rapid test) antibody COVID-19 menggunakan lateral flow immunoassay (LFIA) detection kit yang telah dimodifikasi dengan Nanopartikel Silika Berfluoresensi (FSNP). Rapid test antibody COVID-19 ini diharapkan dapat langsung digunakan pada sampel darah orang yang terduga terinfeksi COVID-19. Di bidang lingkungan, telah dikembangkan sensor kolorimetri berbasis Nanopartikel Emas (AuNPs) yang dapat digunakan untuk mendeteksi dengan cepat (< 5 menit) dan selektif Fe3+. AuNPs dimodifikasi dengan turunan benzoat yang berperan ganda yakni sebagai reduktor dan stabilisator. Sensor ini menunjukkan presisi dan akurasi yang baik untuk mendeteksi Fe3+ di air sawah, sungai, dan laut. (ASA)

Baca

Potensi Nanomaterial Berbasis Silika Alam sebagai Platform Biosensor


23 Juli 2021

Serpong, Humas LIPI. Siti Nurul Aisyiyah Jenie, peneliti Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI), menyampaikan materi dengan judul “Aplikasi Nanomaterial Berbasis Silika Alam sebagai Platform Biosensor: Potensi dan Tantangannya” dalam Webinar Series ke-3 IBASC Departemen Teknik Kimia Mesin – Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Jumat, (23/7). Aisyiyah Jenie menjelaskan apa itu nanoteknologi dan juga penerapannya dalam biosensor juga nano material berbasis silika. Biosensor menurut IUPAC tahun 1999 adalah sebuah perangkat yang menggunakan reaksi biokimia tertentu yang dimediasi oleh enzim terisolasi, sistem imun, jaringan, organel atau seluruh sel untuk mendeteksi senyawa kimia biasanya dengan sinyal listrik, termal atau optik. Aisyiyah Jenie mengatakan bahwa biosensor sudah banyak digunakan di berbagai aplikasi seperti in-situ bio dan pemrosesan kimia, homeland security, pemantauan lingkungan, teknologi pangan, dan yang paling besar adalah medis dan bioteknologi.  ”Biosensor saat ini sangat dibutuhkan di bidang medis dan bioteknologi. Kebutuhan di bidang tersebut didorong karena dua hal yaitu kebutuhan kesehatan (clinical needs) dan keinginan market (market drive),” ujar Ais kerap disapa. Ais menjelaskan, clinical needs menginginkan biosensor yang bisa mengembangkan metode on site screening, bisa menghasilkan diagnosis awal, memperoleh info yang sedetail dan sesensitif mungkin tentang obat apa yang akan masuk ke tubuh kita, dan memantau kondisi kesehatan kita seperti herd immunity (kekebalan kawanan) yang akan tercapai dengan bisa dibantu oleh keberadaan biosensor. Selain itu ada market drive-nya juga. “Sebenarnya industri menginginkan biosensor yang seperti apa? Industri menginginkan biosensor yang mudah digunakan untuk masyarakat, tidak hanya digunakan di rumah sakit, tidak hanya dokter, perawat, tetapi bisa digunakan oleh orang awam,” terangnya. Ada sensor yang sudah diimplankan ke dalam tubuh. ”Karena sifatnya sudah masuk ke dalam tubuh kita, yaitu perlu material yang khusus apabila kita ingin mengembangkan implantable sensor,” ujar Ais. “Juga ada, point of care (POC) yaitu mengambil sampel dari tubuh kita kemudian ditaruh ke dalam biosensor itu contohnya seperti rapid test antigen atau rapid test anti body. Jadi seperti sensor glucose, sensor rapid test anti body, dan sebagainya,” urainya. Ditambah dengan metode high throughput analysis. yang artinya bisa dianalisis sekaligus dengan jumlah sampel yang banyak dan waktu yang cepat. “Dengan semua sifat-sifat superior ini, berati kita harus mengembangkan semua badan sensor dengan platform material yang cerdas. Di sinilah nanoteknologi bermain,” paparnya.  Jadi biosensor yang diinginkan itu, biasanya sifat atau parameternya antara lain rapid, cepat, ultra sensitif, ultra selektif, akurat (sesuai dengan kegunaan dan waktu yang digunakan). Kemudian harganya terjangkau (economical), dan bisa diproduksi berulang-ulang dengan jangka waktu yang lama dan metode yang lama. Kuncinya ada di pengembangan nanoplatform atau nanomaterial yang bisa digunakan atau diaplikasikan sebagai biosensor disebut nano-biosensor. Nano-biosensor adalah metode alternatif yang lebih bernilai dibandingkan dengan metode konvensional yang dikembangkan di laboratorium untuk analisis klinis maupun analisis lingkungan (Sumber: Weis, C, et al, 2020, ACS Nano)  “Agar bisa mengembangkan nanobiosensor, kita harus bekerja sama dengan orang-orang di bidang biologi, bioteknologi, teknik kimia, teknik material, ilmu komputansi, dan fisika,” ungkap Koordinator Kelompok Penelitian Bahan Kimia dan Katalis. Dasar dari nano-biosensor adalah bahan organik yang difungsionalisasikan dengan materi biologis seperti enzim, antibodi, juga dengan DNA/RNA. Kemudian alat tersebut dapat mengetahui atau menerjemahkan menjadi sebuah sistem deteksi berupa elektrokimia, optik, mass sensitive, kemudian menjadi sebuah sistem deteksi sendiri. Sistem dari nano-biosensor terdiri dari target analisis sebagai sampel uji seperti darah, air liur, dan urin yang akan dikenal biomarker-nya seperti DNA/RNA, enzim, antibodi, atau bahkan sampai sel. Kemudian target dari analisis akan ditangkap oleh materi anorganik atau nano material yang dimodifikasi dengan bio-recognation element (elemen bio-rekognisi) yang diterjemahkan pada sistem deteksi yaitu electrochemical, optical, mass sensitive, yang dapat diinterpretasikan dalam bentuk data kemudian dimasukkan dalam bentuk angka. Klasifikasi dari nano-biosensor bisa berdasarkan mekanisme transduksi atau bisa juga berdasarkan elemen bio-rekognisi. Kalau berdasarkan sistem deteksinya berupa elektrokimia, optik, mass sensitive. Jika berdasarkan biorecognition elements atau elemen apa yang akan difungsikan di atas nano-material, berupa enzyme based biosensor, DNA/RNA based biosensor, immune based nano-biosensor, atau cells based nano-biosensor untuk mengenali sel secara keseluruhan. Ais menjelaskan bahwa penelitiannya berfokus pada diagnosis berbasis silika (nanomaterial berbasis silika). Hal ini sebagai alternatif yang menjanjikan untuk polimer dan bahan nano lainnya, untuk aplikasi biomedis karena sifat fisik, kimia, dan optiknya yang unik. (hrd/ ed. adl)

Baca
ZONA INTEGRITAS