: +62 (21) 7560929 | SMS : 0822-9830-5011 English Bahasa Kontak Intra Search

Berita

P2 Kimia LIPI Sinergikan Riset Pengembangan Bioetanol G2 untuk Mewujudkan SDGs


18 November 2019

Serpong, Humas LIPI. Bioetanol generasi dua (G2) merupakan salah satu solusi bahan bakar dari limbah organik untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Indonesia memiliki potensi biomassa lignoselulosa seperti dari tandan kosong kelapa sawit dengan luasnya perkebunan sawit yang dimiliki. Untuk mengetahui perkembangan informasi dan menjalin kolaborasi antar instansi terkait bioetanol G2, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengadakan focus group discussion pada Senin, (18/11) di Hotel Santika BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. “Kegiatan FGD ini dapat menjadi ajang bertukar informasi mengenai kegiatan yang sudah dilakukan tiap lembaga terkait pengembangan teknologi produksi bioethanol generasi dua. Kedepannya diharapkan ada potensi rencana kerja sama,” jelas Raden Arthur Ario Lelono, Ph.D, Plt. Kepala Pusat Penelitian Kimia dalam sambutannya.  Acara focus group discussion (FGD) “Sinergi Riset Pengembangan Bioetanol G2 untuk Mewujudkan SDGs” diawali dengan acara peluncuran buku hasil karya peneliti peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI yang terlibat langsung dalam penguasaan dan pengembangan teknologi produksi Bioethanol generasi dua yang berjudul “Perkembangan Bioetanol G2: Teknologi dan Prospektif”. Prof. Yanni Sudiyani selaku ketua tim penulis mengucapkan terima kasih atas kerja keras tim penulis selama ini. Selanjutnya acara diisi dengan paparan dari para narasumber kunci tentang keunggulan dan tantangan dalam mengembangkan bioetanol G2 di Indonesia. Ditinjau dari ketersediaan bahan baku, tuntutan kebutuhan energi yang ramah lingkungan, serta dukungan dari pemerintah. Dimoderatori oleh Dr. Dieni Mansur, diskusi menghadirkan Paulus Tjakrawan, Edi Wibowo dari BPDP Sawit, dan Darmono Taniwiryono dari MAKSI.  Sesi berikutnya adalah paparan dari sembilan instansi yang selama ini melakukan penelitian di bidang bioetanol G2, yakni P2 Kimia LIPI, P2 Bioteknologi LIPI, P2 Biomaterial LIPI, Lemigas, P3TEK EBTKE ESSDM, Balittas, Balittri, Puslitbanghut, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sesi ini dipandu oleh Dr. Roni Maryana dan Yan Irawan, MT. Ada beberapa contoh teknologi yang kalah bersaing sehingga mulai ditinggalkan seperti plastik sekali pakai, karena perubahan cara pandang masyarakat dunia terhadap kelestarian lingkungan. Cara pandang yang saat ini dikemas dalam Sustainable Development Goals. Bisa jadi saat ini bioetanol belum unggul dibanding bahan bakar berbasis fosil. Namun besar kemungkinan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menyingkap fakta baru yang menunjukkan keunggulan bioetanol dari segi dampak lingkungannya. “Diharapkan kita semua disini terus melakukan pengembangan teknologi bioetanol agar Indonesia unggul dalam persaingan teknologi produksi bioetanol G2,” jelasnya. (adl) Link berita terkait : Ini Dampak Pemindahan Ibukota untuk Penelitian Bioetanol http://www.rmolbanten.com/read/2019/11/18/13068/Ini-Dampak-Pemindahan-Ibukota-Untuk-Penelitian-Bioetanol- LIPI Kembangkan Bahan Bakar Alternatif dari Bahan Limbah http://tangerangnews.com/tekno/read/29199/LIPI-Kembangkan-Bahan-Bakar-Alternatif-dari-Bahan-Limbah P2 Kimia LIPI : Perkembangan Bioetanol G2, Teknologi dan Prospektif https://www.besttangsel.com/p2-kimia-lipi-perkembangan-bioetanol-g2-teknologi-dan-prospektif/ Gelar FGD, LIPI Bahas Riset Pengembangan Bioetanol Generasi 2 https://serpongupdate.com/gelar-fgd-lipi-bahas-riset-pengembangan-bioetanol-generasi-2/ LIPI Bahas Sinergi Pengembangan Bioetanol Generasi 2 https://palapanews.com/2019/11/18/lipi-bahas-sinergi-pengembangan-bioetanol-generasi-2/

Baca

Kunjungan Wisata Iptek SMP Saint John’s School di P2 Kimia - LIPI


13 November 2019

Serpong, Humas LIPI. SMP Saint John’s School, Meruya, Jakarta Barat mengadakan kunjungan Wisata Iptek di Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia - LIPI) di Gedung 452, Puspiptek, Serpong, pada Rabu, (13/11). “Kami memutuskan ke Pusat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) agar siswa dapat apa yang mereka pelajari di sekolah. Tentunya dengan melihat langsung seperti Kimia, Fisika, dan sebagainya,” ungkap Tian, selaku guru pembimbing. Rombongan yang terdiri dari 25 orang siswa dan dua orang guru pembimbing disambut oleh Dr. Sofa Fajriah selaku Koordinator Mutu dan para penelti P2 Kimia – LIPI. Para siswa berkesempatan untuk melihat laboratorium seperti Lab Karakterisasi Material, Lab Gas Chromatography-Mass Spectrometry, Lab High Performance Liquid Chromatography, dan Lab Liquid Chromatography-Mass Spectrometry, Lab Bioetanol, dan Lab cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB). Dalam kunjungan ke laboratorium P2 Kimia – LIPI, Tian berharap agar anak didik bisa lebih mengenal dekat dan lebih terbuka wawasannya. Sehingga hal tersebut membuat mereka tertarik untuk sains juga.  “Semakin siswa melihat langsung ilmu pengatahuan dan teknologi, maka akan membuat mereka lebih fokus untuk mengejar tujuan hidup mereka,” pesan guru musik SMP ini. Salah seorang siswa berpendapat bahwa kami sangat bersemangat menyaksikan fasilitas yng bagus sekali, teknologi yang update, dan produk-produknya yang menarik. Setelah melihat ini saya merasa punya banyak pilihan dalam konsentrasi bidang kedepannya. Selain berkunjung ke P2 Kimia - LIPI, pada waktu yang bersamaan sebagian rombongan SMP Saint John’s School melakukan kunjungan ke P2 Fisika – LIPI, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meliputi: Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan Aeroakustika; Balai Besar Teknologi Konversi Energi; Bioteknologi; dan Balai Teknologi Bahan Bahan dan Teknologi Disain. Sebelumnya seluruh rombongan menyaksikan selayang pandang Puspiptek di Pusat Informasi (PI) Kemenristekdikti. (har/ ed. adl)

Baca

Kunjungan Delegasi CATTC dan Guangxi China ke P2 Kimia LIPI


12 November 2019

Serpong, Humas LIPI. Sebanyak empat orang delegasi dari China-Asean Tehnology Transfer Center (CATTC) dan Guangxi Science and Technology Department, yakni Ms. Wang Bei, Ms. Chen Dan, Ms. Shi Min, dan Ms. Zhang Yue, pada Selasa (13/11) mengunjungi Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Kunjungan tersebut dalam rangka diskusi dan penjajakan kerja sama terkait tanaman obat tradisional.  Rombongan disambut oleh Plt. Kepala P2 Kimia LIPI, Arthur Ario Lelono, Ph.D, yang membuka acara dan dilanjutkan dengan perkenalan anggota tim peneliti dari kelompok penelitian Natural Chemistry dan Medicinal Chemistry. Arthur menjelaskan hasil-hasil penelitian dan fasilitas yang ada di P2 Kimia LIPI.  Sementara perwakilan CATTC dan Guangxi Science and Technology menjelaskan bahwa lembaga mereka berfungsi sebagai jembatan transfer teknologi. Mereka juga bisa sebagai provider riset serta menyediakan program pelatihan bagi young scientist di ASEAN di Guangxi. Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia juga bila berminat dipersilakan untuk mendaftarkan diri. Guangxi terkenal kaya akan sumber bahan alam, sehingga banyak ekplorasi riset untuk dicari bahan aktifnya sebagai tanaman obat tradisional. Selain dari daratan Guangxi, dari lautan juga terdapat sekitar 2000 bahan obat. Oleh karena itu, CATTC dan Guangxi sangat membuka peluang dengan satuan kerja di LIPI untuk berkolaborasi. Peneliti P2 Kimia LIPI bertanya bagaimana cara mendapatkan pendanaan dari pemerintah Guangxi. Langkah awal yang harus dilakukan adalah membuat kerja sama LIPI dengan Guangxi. LIPI dapat membuka jalan kolaborasi dengan mengontak pihak Guangxi. Apabila telah berkomunikasi terkait topik riset, peneliti dapat membuat proposal untuk diajukan ke pihak Guangxi. (adl)

Baca

P2 Kimia - LIPI Selenggarakan Pelatihan Audit Internal Guna Tingkatkan Kualitas Auditor Internal Laboratorium Terakreditasi ISO/IEC 17025:2017


08 November 2019

Serpong, Humas LIPI. Laboratorium P2 Kimia LIPI telah mendapatkan akreditasi ISO/IEC 17025:2017 sejak Februari 2019 lalu. Akreditasi tersebut mengukuhkan kompetensi P2 Kimia LIPI sebagai laboratorium penguji. Guna meningkatkan kualitas auditor internal, P2 Kimia menyelenggarakan Pelatihan Audit Internal SMM ISO/IEC 17025:2017 pada Kamis-Jumat (7-8/11). Untuk pelaksanaan pelatihan audit internal, P2 Kimia bekerjasama dengan Aljabar Training & Consulting (PT Aljabar Anugrah Selaras) selaku provider pelatihan dan konsultasi Sistem Manajemen Mutu (SMM). Hadir sebagai narasumber yaitu Yohanes Susanto Ridwan, Lead Asessor KAN. Bertempat di ruang Rapat KMK Lt 2, acara dibuka oleh Plt. Kepala P2 Kimia, Arthur Lelono. Dalam sambutannya, Arthur menekankan pentingnya akreditasi ISO/IEC 17025 bagi Laboratorium P2 Kimia. "P2 Kimia memiliki komitmen untuk menjalankan SMM ISO/IEC 17025. Kita sebagai laboratorium penguji milik pemerintah akan terus berupaya memberikan pelayanan kepada stakeholder, sehingga akreditasi ISO/IEC 17025 merupakan sebuah kebutuhan," ujar Arthur dalam pembukaannya. Arthur kemudian menjelaskan tentang program-progam P2 Kimia ke depan yang akan terus menjalin kolaborasi dengan pihak-pihak eksternal sehingga P2 Kimia harus dapat menjaga kepercayaan mitranya. "Akreditasi ISO/IEC 17025 ini merupakan salah satu upaya kita untuk menjaga kepercayaan stakeholder, termasuk kepercayaan diri kita sendiri akan kualitas hasil pengujian," tambahnya. Acara kemudian dipandu oleh Sofa Fajriah selaku Koordinator Mutu di Laboratorium P2 Kimia LIPI. Sofa memperkenalkan tim manajemen yang mengelola Laboratorium P2 Kimia LIPI. Setelah perkenalan, Sofa kemudian mempersilakan narasumber untuk menyampaikan pemaparan materi training yang akan berlangsung selama dua hari tersebut. Pada awal presentasinya, Yohanes Susanto Ridwan yang akrab disapa Santo, memberikan pengantar tentang ISO 19011:2018 sebagai panduan untuk melaksanakan audit sistem manajemen mutu. Selain itu, Santo juga menjelaskan gambaran umum struktur ISO/IEC 17025:2017 untuk memberikan penyegaran kembali kepada para calon auditor internal P2 Kimia. Pada hari kedua, Jumat (8/11) peserta dibagi dalam beberapa kelompok dan diminta untuk melakukan simulasi audit. Setelah simulasi, perwakilan peserta diberikan waktu untuk memberikan pemaparan hasil-hasil temuan selama audit. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan diperoleh beberapa temuan-temuan ketidaksesuaian. Kemudian dilakukan diskusi untuk menyusun laporan audit internal dan rencana tindakan perbaikan dari temuan-temuan audit tersebut. "Temuan ketidaksesuaian merupakan hal yang wajar dalam penyelenggaraan sistem manajemen. Temuan-temuan inilah yang akan menjadi bekal untuk laboratorium dalam upaya melakukan peningkatan secara terus-menerus sesuai prinsip manajemen mutu. Mudah-mudahan kegiatan dua hari ini memberikan bekal kepada rekan-rekan di P2 Kimia sehingga menjadi auditor internal bahkan eksternal yang handal ke depannya," ungkap Santo dalam sesi penutupan di hari itu. (sjw/ ed. adl)  

Baca

Pemanfaatan Repositori Ilmiah Nasional di P2 Kimia - LIPI


06 November 2019

Serpong, Humas LIPI. Bertempat di Gedung 452, Serpong, Tangerang Selatan, para peneliti P2 Kimia – LIPI mengikuti kegiatan “Bimbingan Teknis Repositori Ilmiah Nasional untuk Peneliti” yang diberikan oleh Pusat Data dan Dokumentasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDDI – LIPI), pada Rabu (6/11). Kepala Bidang RIN PDDI – LIPI, Noorika Retno Widuri mengatakan bahwa guna meningkatkan kolaborasi dan sinergi penelitian, diperlukan sistem pengelolaan data penelitian, dan karya ilmiah di Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu pengetahuan dan Teknologi, kewajiban simpan data primer, wajib serah, dan wajib simpan seluruh data primer dan pengeluaran hasil penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan karya ilmiah menjadi amanat undang-undang. Di samping itu ada peraturan kepala LIPI nomor 12 tahun 2016, bahwa PDDI — waktu itu Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) — ditunjuk sebagai pengelola data, penelitian, dan karya ilmiah yang dihasilkan oleh seluruh  peneliti di Indonesia. Sebagai bentuk dukungan undang-undang tersebut, maka LIPI menyediakan infrastruktur penyimpanan data penelitian melalui Repositori Ilmiah Nasional (RIN). Kegiatan ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Menristek/ Kepala BRIN, Bambang Brojonegoro bahwa beliau akan mengawal implementasi undang-undang nomor 11 tahun 2019 UU sisnas IPTEK. Hal ini sebagai wujud dukungan kami kepada pemerintah bahwa kami sudah mengimplementasikan UU tersebut. Di LIPI, PDDI melakukan road show bimbingan teknis (bimtek) di seluruh satker di lingkungan LIPI seperti Serpong, Bandung, Jakarta, Bogor, Cibinong, Lombok, kemudian Kebumen, dan Lampung menyusul. “Kami berharap peneliti juga memanfaatkan infrastruktur itu untuk penyimpanan data primer mereka,” jelas Noorika. Salah seorang peneliti Puslit Kimia – LIPI yang mengikuti bimtek berpendapat bahwa sistem RIN cukup mudah dipahami. “Kami yang ikut di sini semuanya antusias dan adminnya bagus. Mudah-mudahan nanti Repositori Ilmiah Nasional di P2 Kimia ini data-data yang ada menyaingi data-data yang sudah ada, seperti Harvard,” ujarnya. Untuk menyimpan data melalui RIN ini sangat bagus karena memudahkan data peneliti Indonesia dapat dilihat oleh dunia luar.  Ada perbedaan untuk data yang dilakukan oleh peneliti khususnya pada basic science. Umumnya data mereka tidak dipublikasikan terlebih dahulu. Berbeda dengan data di BMKG yang harus dipublikasikan setiap hari agar dapat diakses oleh orang lain.  Bagi peneliti yang dituntut untuk membuat paten, perlu menjaga kerahasiaan data, bisa mengelola datanya sehingga tidak semua data yang disimpan dalam RIN ini bisa diakses publik. Kecuali apabila data tersebut sudah dipublikasikan. (har/ ed. adl)

Baca

Supervisi Kedua, Tim Ristekdikti Apresiasi Sejumlah Kemajuan PUI Bioetanol Generasi Kedua di P2 Kimia - LIPI


30 Oktober 2019

Serpong, Humas LIPI. Pada Rabu, (30/10/2019) Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia - LIPI) menerima kunjungan kedua kalinya dari tim supervisi kegiatan Pusat Unggulan Iptek (PUI) di Ruang Rapat lantai 2, P2 Kimia - LIPI, Puspiptek, Serpong. Tim supervisor yang bertugas sebagai reviewer sebanyak tiga orang, yakni Paulus Tjakrawan dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Tiara Elgi Fienda, dan Mely Maulidiani dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Acara supervisi dimulai dengan sambutan R. Arthur Ario Lelono selaku Plt. Kepala P2 Kimia - LIPI. “Selamat datang di Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kepada Bapak dan Ibu supervisor. Kegiatan supervisi ini bertujuan untuk mengevaluasi capaian kegiatan PUI di tahun terakhir,” kata Arthur. “Kami selaku pihak manajemen sangat mengharapkan saran dari para supervisor untuk perbaikan dan kemajuan kegiatan PUI di tahun mendatang,” imbuhnya. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan Tiara dari Kemenristekdikti, serta paparan laporan dari Koordinator PUI Generasi Kedua 2019, Arief A.R. Setiawan terkait capaian kegiatan PUI Bioetanol G2 pada tahun 2019. “Pada tahun 2019 ini, sejumlah kegiatan dan kemajuan telah dilakukan tim PUI, mulai dari Sourcing and Adsorbsing Capacity, R&D Capacity dan Disseminating Capacity, “ terang Arief. Arief kemudian memaparkan beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh tim, seperti asesmen akreditasi Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP), pelatihan pengembangan kompetisi SDM, pengembangan sistem informasi dan database litbang, penelitian bioetanol skala pilot plant, science show, sosialisasi media massa, dan kerja sama penelitian. “Sejumlah kerja sama nasional dan internasional juga tengah dibangun, baik dengan lembaga riset, universitas, PUI lain, pemerintah daerah dan industri, “ lanjutnya. Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan masukan dari supervisor. Dalam sesi diskusi, Paulus menegaskan pentingnya peran energi terbarukan seperti bioetanol. “Indonesia pada tahun terakhir memiliki tantangan dalam mempercepat penerapan penggunaan bioenergi, khususnya bioetanol di Indonesia. Pilot plant yang sudah dimiliki oleh Pusat Penelitian Kimia memiliki kapasitas produksi sebanyak 10 liter per hari sebaiknya diperkenalkan kepada lembaga-lembaga lain yang ada di kementerian, sehingga semua hambatan dan permasalahan tentang harga jual dari bioetanol dapat diambil kebijakannya.” terang Paulus. Selanjutnya, Paulus juga menekankan pentingnya produksi bioetanol didorong ke arah produksi komersial. Di sisi lain, tim Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) juga menyoroti terkait beberapa indikator capaian yang masih bisa ditingkatkan. “Dalam capaian keberhasilan dari kegiatan PUI terdapat 27 indikator wajib yang harus dipenuhi, dalam hal ini contohnya kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk sertifikasi produk/standardisasi juga perlu tercapai. Self assessment yang sudah dilakukan oleh Tim PUI Bioetanol Generasi 2 sudah bagus, namun bisa dilengkapi dengan menambahkan tabel isian realisasi capaian. Misal kegiatan inisiasi untuk mendapatkan sertifikat standardisasi. Capaian kerjasama non-riset yang bisa dilakukan. Kegiatan dengan Kabupaten Muna dapat dimasukkan dalam capaian kerjasama non-riset, bimbingan/konsultasi mahasiswa.” papar Tiara. Di akhir sesi diskusi, tim PUI Bioetano Generasi Kedua mengapresiasi secara positif kunjungan dan masukan tim supervisi. “Dalam tiga tahun terakhir juga setelah PUI Bioetanol ditetapkan oleh Ristekdikti tahun lalu, bantuan teknis dan non teknis dari Ristekdikti secara signifikan mampu membuat penelitian bioetanol generasi kedua terus berjalan, “ terang Prof. Dr. Yanni Sudiyani, peneliti bioetanol sekaligus koordinator PUI Bioetanol Generasi Kedua Tahun 2017. “Kami sangat berterimakasih atas dukungannya selama ini dan berharap kerjasama yang sangat baik dapat terus dilanjutkan di masa datang, “ imbuhnya. Kegiatan supervisi ini terlaksana dengan baik dan diakhiri dengan penandatangan berita acara hasil kegiatan supervisi ini. (har/ ed. adl)

Baca

Kunjungan Wisata Iptek MTs Negeri 1 Pacitan di P2 Kimia - LIPI Tumbuhkan Kecintaan Siswa Terhadap Sains dan Teknologi


30 Oktober 2019

Serpong, Humas LIPI. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Pacitan, Jawa Timur mengadakan kunjungan Wisata Iptek di Pusat Penelitian Kimia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2K-LIPI) di Gedung 452, Puspiptek, Serpong, pada Rabu, (30/10). “Dalam kunjungan ini, tentunya kami ingin menyerap ilmu sebanyak-banyaknya untuk belajar,” ungkap Faza, selaku guru pembimbing. Ke-30 orang siswa dan 1 guru pembimbing  disambut oleh Dr. Sofa Fajriah, selaku Koordinator Mutu dan para personil P2 Kimia - LIPI. Kemudian acara dilanjutkan dengan pemutaran video company profile mengenai fasilitas dan kemampuan laboratorium P2 Kimia – LIPI. Para siswa dengan antusias menyimak tayangan video yang memberikan gambaran kegiatan-kegiatan di P2 Kimia. Dalam kunjungan ke laboratorium P2 Kimia – LIPI, Faza juga menyampaikan bahwa di LIPI banyak sekali ilmu yang bisa diserap oleh para siswa. “Pengetahuan-pengetahuan umum, dan penelitian di sini sangat bagus bagi anak-anak dengan pembelajarannya juga,” kata guru agama MTs Negeri 1 Pacitan. Selain berkunjung ke P2 Kimia - LIPI, pada waktu yang bersamaan sebagian rombongan MTs Negeri 1 Pacitan melakukan kunjungan ke P2 Fisika – LIPI, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meliputi: Balai Besar Teknologi Konversi Energi, Bioteknologi, dan Balai Teknologi Bahan Bahan dan Teknologi Disain. Sebelumnya seluruh rombongan menyaksikan selayang pandang Puspiptek di Pusat Informasi (PI) Kemenristekdikti. (har, ed. adl)

Baca

P2 Kimia - LIPI pada Indonesia Science Expo (ISE) 2019


26 Oktober 2019

Serpong, Humas LIPI. Pada 23-26 Oktober 2019, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali menggelar Indonesia Science Expo (ISE), di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Banten, Indonesia. Pusat Penelitian Fisika pada ISE 2019 ini berperan dengan menunjukkan hasil penelitian, menerima kunjungan para peserta, menjadi dewan juri LKIR, serta salah seorang peneliti meraih LIPI Young Scientist Award (LYSA) 2019. Dalam booth LIPI, P2 Kimia memamerkan hasil penelitian berupa minuman fungsional fermentasi dari sayuran dan buah; fortifikasi asam folat untuk produk makanan bayi; bioplastik dan material maju dari limbah biomassa; tablet hisap ekstrak mengkudu; ekstrak bahan aktif dari alam; sistem cemaran berbasis silica; dan juga teknik analisa senyawa cemaran dalam produk pangan; serta produk teh Gambung untuk anti obesitas yang turut dalam sesi business matching. P2 Kimia - LIPI juga menyelenggarakan International Symposium on Applied Chemistry (ISAC) yang merupakan bagian dari 10 konferensi Internasional yang diselenggarakan paralel pada ISE. Konferensi yang digelar sejak 2014 tersebut menghimpun sekitar 140 peneliti baik di dalam maupun luar negeri di bidang kimia terapan. Menjadi koordinator dalam kegiatan ini, yakni Dr. Osi Arutanti. Hadir dalam konferensi tersebut empat pembicara utama: Prof. Swapandeep Singh Chimni, Ph.D (Guru Nanak Dev University, India), Prof. Satoshi Nakai, Ph.D (Hiroshima University, Japan), Dr. Nur Alia Oktaviani (RIKEN, Japan), dan Prof. Dr. Andreas Kirschning (Leibniz University of Hannover, Germany). Pada ISE 2019 Today and Beyond mengangkat tema “Biodiversity” sebagai bentuk apresiasi kekaguman dan meningkatkan kesadaran untuk menjaga keanekaragaman hayati Indonesia. Sementara tagline Today and Beyond dipilih karena sains tidak hanya untuk hari ini saja namun juga berkelanjutan. Perhelatan sains tahun 2019 tersebut merupakan yang keempat kalinya, setelah penyelenggaraan pada tahun 2015, 2017, dan 2018. Plt. Kepala Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas, Mila Kencana menyampaikan ISE 2019 telah menghimpun 50 eksibisi dari lembaga penelitian, perguruan tinggi, industri, dan UMKM. ISE tahun ini juga mengadakan pameran karya ilmiah remaja dan anak, pameran start-up teknologi, temu bisnis, konferensi ilmiah internasional, workshop, dan beragam ajang edukasi ilmiah untuk publik (science movie, science show, science game, science art) selama empat hari.  “Alhamdulillah, ISE 2019 merupakan penyelenggaraan yang sangat banyak, dan juga dimeriahkan dengan kompetisi ilmiah generasi muda nasional maupun internasional yakni Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), Nasional Young Inventor Award (NYIA), dan International Exhibition for Young Inventor (IEYI). Semangat dan ketekunan mereka patut kita apresiasi, semoga torehan prestasi adik-adik kita dapat menginspirasi dan memotivasi generasi muda Indonesia,” harap Wakil Ketua ISE 2019 tersebut. Ajang ISE 2019 juga menjadi tuan rumah untuk kompetisi inovasi dan invensi remaja tingkat internasional yaitu IEYI. IEYI diikuti 150 proyek penelitian dari 11 partisipan internasional yakni Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Macau, Jepang, Taiwan, Tiongkok, dan Rusia. Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko berharap semoga perhelatan ajang seperti ISE ada kesadaran dari publik, kepedulian dari masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi, serta inovasi sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing kesejahteraan bangsa kita bisa lebih meningkat. “Selain tentu saja bagi para peneliti, bagi adik-adik, ajang ini sekaligus sebagai ajang interaksi, tidak hanya dengan teman-temannya yang satu bidang, tetapi juga dengan masyarakat umum, dan khususnya industri. Bahkan di dalam ajang ini kita bisa melihat karya-karya para peneliti, perekayasa, dosen, inovator, dan bahkan para peneliti cilik yang mengikuti acara ini,” ujar Kepala LIPI. “Ini semua mengingatkan kita bahwa ada harapan yang besar akan masa depan negara kita dengan melihat sedemikian antusiasmenya, sedemikian beragamnya, karya-karya yang telah dihasilkan oleh adik-adik generasi muda kita,” lanjut Handoko. Dengan ajang ISE ini, Handoko juga berharap masyarakat semakin optimis menyongsong masa depan Indonesia, yang semakin maju dengan SDM yang unggul. (har/ ed. adl)

Baca

Puslit Kimia LIPI Kembangkan Produk Pangan Fungsional untuk Cegah Stunting dan Obesitas


11 Oktober 2019

Serpong, Humas LIPI. Sumber daya manusia terutama anak-anak merupakan aset yang berharga bagi bangsa dan negara Indonesia. Sayangnya, angka stunting di Indonesia masih masuk kategori sangat tinggi menurut standar WHO. Selain itu, permasalahan obesitas juga perlu mendapat perhatian karena angkanya termasuk tinggi di Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui Pusat Penelitian Kimia mengembangkan produk pangan fungsional yang memenuhi kebutuhan gizi berfungsi untuk kesehatan tubuh. Hasil-hasil pengembangan penelitian ditampilkan dalam kegiatan Media Briefing P2 Kimia LIPI pada Kamis (10/10) di Tangerang Selatan. Acara ini diselenggarakan dalam rangka LIPI menjadi focal point dalam acara ASEAN Food Conference di Bali pada 15-18 Oktober 2018. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang bisa dialami oleh anak-anak yang mendapatkan gizi buruk atau infeksi berulang. Seorang anak dikatakan stunting ketika pertumbuhan tinggi badannya tak sesuai grafik pertumbuhan badan. Dampak stunting selain tinggi badan anak juga terkait pertumbuhan otak. Salah satu cara untuk mencegah stunting adalah dengan memperbaiki sistem imun atau kekebalan tubuh dalam tubuh anak. Caranya adalah dengan mengkonsumsi pangan fungsional yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh. Pangan tersebut beragam dan mengandung berbagai vitamin dan mineral. “ Potensi pangan di Indonesia sangat kaya dan melimpah, bisa berasal dari pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan/kelautan,” jelas Raden Arthur Ario Lelono, Plt. Kepala P2 Kimia - LIPI. Salah satu pangan yang berfungsi sebagai imunomodulator alami adalah Caulerpa lentilifera atau rumput laut hijau. Pangan ini dapat dimakan sebagai lalapan serta sudah dibudidayakan di Indonesia, yakni di Takalar, Sulawesi Selatan. Oleh Pusat Penelitian Kimia LIPI, rumput laut ini dikembangkan menjadi produk biskuit yang berfungsi sebagai penguat sistem imun. “Kami bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Farmasi dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam pembuatan biskuit rumput laut ini,” jelas Sofa Fajriah, peneliti Kimia. Asupan gizi yang optimal juga dapat dilakukan untuk pencegahan stunting sehingga tercipta kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Salah satu nutrisi yang penting adalah asam folat. Asam folat (folacin, vitamin B9) merupakan vitamin penting untuk tumbuh kembang bayi semasa dalam kandungan, pada wanita hamil dan anak-anak. Pusat Penelitian Kimia melakukan formulasi dan identifikasi asam folat dari campuran nikstamal jagung kuning/putih, bayam/brokoli terfermentasi dan tempe kedele/kacang hijau. “Formulasi tersebut diaplikasikan pada pembuatan pangan pintar berupa biskuit, bubur dan sup bayi dengan variasi jenis dan konsentrasi fortifikan yang berbeda dalam formulasi produk MP-ASI,” terang Arthur pada produk hasil karya peneliti Kimia Agustine. Sementara itu, permasalahan obesitas di Indonesia juga termasuk tinggi. Hal ini kebanyakan dikarenakan oleh gaya hidup yang kurang aktif. Dalam jangka panjang, pada usia dewasa yang gaya hidupnya kurang aktif cenderung akan menjadi gemuk (obese), dan berpeluang menderita penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi, diabetes, kanker, dan lain-lain. Salah satu pangan yang bisa mengurangi risiko obesitas adalah teh. Indonesia berpotensi untuk mengembangkan teh karena saat ini menjadi pengekspor teh nomor tujuh dunia. Teh sangat baik untuk diet, selain itu berfungsi sebagai anti oksidan, penurun kolesterol, peningkat metabolisme tubuh, penjaga kesehatan tulang, dan pencegah diabetes. Pusat Penelitian Kimia mengembangkan produk teh klon seri Gamboeng untuk obesitas. Hasil epigallokatekin gallat (EGCG) yang merupakan senyawa aktif antiobesitas lebih tinggi dari produk di pasaran. “Produk yang dikembangkan adalah teh  hijau serbuk effervescent dan minuman ready to drink,” tutur Nino Rinaldi peneliti Kimia. Teh klon unggul seri Gamboeng berpolifenol tinggi cocok digunakan sebagai bahan baku minuman fungsional untuk menurunkan risiko obesitas. Oleh karena teh hijau ini ini pahit dan tidak enak untuk dikonsumsi rutin, maka dibuatlah fortofikasi dengan rasa lebih baik dan bisa dikonsumsi rutin layaknya teh pada umumnya. Penambahan daun salam sebagai salah satu pengawet alami (anti bakteri). Penam.bahan daun atau kayumanis untuk meningkatkan keterterimaan rasa dari konsumen. Dalam proses produksinya, kami memiliki kendala dalam ketersediaan daun kayu manis, sehingga solusinya diganti dengan batang kayu manis”, jelas Hani Mulyani peneliti Kimia. Produk pangan berbasis polifenol berbentuk minuman selain teh yang saat ini sedang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kimia adalah kombucha. Dengan formulasi sayuran dan buah pisang yang difermentasi, telah dihasilkan minuman yang berfungsi sebagai penurun kolesterol dan penunjang kesehatan. "Produk minuman ini sangat potensial dikembangkan di Indonesia karena bahan bakunya mudah didapat, yakni katuk dan aneka jenis pisang," jelas peneliti Kimia, Yati Maryati. “Kedepannya kami ingin agar produk-produk pangan fungsional ini bisa masuk ke skala industri,” tutup Arthur. (adl) Kliping Berita Media Briefing P2 Kimia, 10 Oktober 20191. Cegah Stunting, LIPI Kembangkan Pangan dari Rumput Laut dan Tehhttps://indopos.co.id/read/2019/10/10/199883/cegah-stunting-lipi-kembangkan-pangan-dari-rumput-laut-dan-teh/2. LIPI Kembangkan Olahan Pangan Pencegahan Stuntinghttps://www.gatra.com/detail/news/450036/teknologi/lipi-kembangkan-olahan-pangan-pencegahan-stunting3. LIPI kembangkan pangan rumput laut dan teh cegah stunting dan obesitashttps://www.antaranews.com/berita/1105714/lipi-kembangkan-pangan-rumput-laut-dan-teh-cegah-stunting-dan-obesitas4. LIPI Kembangkan Pangan Rumput Laut dan Teh Cegah Stunting dan Obesitashttps://bengkulu.antaranews.com/nasional/berita/1105714/lipi-kembangkan-pangan-rumput-laut-dan-teh-cegah-stunting-dan-obesitas?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews5. Tekan Prevalensi Stunting LIPI Kembangkan Produk Pangan dari Rumput Lauthttps://news.trubus.id/baca/32415/tekan-prevalensi-stunting-lipi-kembangkan-produk-pangan-dari-rumput-laut6. LIPI Kembangkan Teh Hijau Cegah Obesitas Hingga Turunkan Kolesterolhttps://news.trubus.id/baca/32422/lipi-kembangkan-teh-hijau-cegah-obesitas-hingga-turunkan-kolesterol7. Pusat Penelitian Kimia LIPI Hasilkan Produk Pangan Fungsional untuk Perbaikan Gizi dan Kesehatanhttps://www.besttangsel.com/pusat-penelitian-kimia-lipi-hasilkan-produk-pangan-fungsional-untuk-perbaikan-gizi-dan-kesehatan/8. LIPI Kembangkan Bahan Pangan Rumput Laut dan Tehhttps://palapanews.com/2019/10/11/lipi-kembangkan-bahan-pangan-rumput-laut-dan-teh/9. Cegah Stunting dan Obesitas dengan Rumput Laut dan Teh https://today.line.me/id/pc/article/Cegah+Stunting+dan+Obesitas+dengan+Rumput+Laut+dan+Teh-1Rx7Dv10. Cegah Stunting dan Obesitas dengan Rumput Laut dan Teh https://gaya.tempo.co/read/1258092/cegah-stunting-dan-obesitas-dengan-rumput-laut-dan-teh 11. LIPI Kembangkan Pangan Rumput Laut dan Teh Cegah Stuntinghttps://trendtek.republika.co.id/berita/pz5gjj423/lipi-kembangkan-pangan-rumput-laut-dan-teh-cegah-emstuntingem 12. LIPI Kembangkan Produk Pangan dari Teh untuk Kurangi Obesitas dan Rumput Laut Cegah Stunting http://lipi.go.id/siaranpress/pengembangan-produk-pangan-fungsional-dari-rumput-laut-dan-teh-untuk-cegah-stunting-dan-obesitas/21806

Baca

Puslit Kimia LIPI Hadir dalam Puspiptek Innovation Festival (PIF) 2019


11 Oktober 2019

Serpong, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia terus menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga yang kosisten menghasilkan riset bermanfat nyata bagi masyarakat. Pada 3-6 Oktober 2019 di kawasan Puspiptek, Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) pada kegiatan Puspiptek Innovation Festival (PIF) 2019 mewakili LIPI. Pada PIF 2019, P2 Kimia – LIPI menunjukkan hasil penelitian bioetanol, bioplastik, biokomposit, polymer based gun frame, Joza Kosmetik, dan beberapa produk pangan fungsional. P2 Kimia juga mengadakan perlombaan Du Nouy Challenge bagi siswa SD, Bubble Challenge bagi siswa SMP, Kreasi Sabun Bioetanol bagi siswa SMA, dan Origami Dinoetanol untuk umum. Puspiptek Innovation Festival tahun 2019 ini adalah event yang ketiga sejak dimulai tahun 2017. Kegiatan ini ditunggu-tunggu oleh masyarakat dari tahun ke tahun, sehingga Pusat Penelitian Kimia terus mencoba untuk terus dapat berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Puspiptek sebagai sebuah event untuk dapat mendiseminasikan hasil penelitian dan menyebarluaskan informasi. Tujuannya agar meningkatkan kesadaran akan pentingnya iptek dan inovasi dalam kehidupan masyarakat. Pada akhirnya akan terwujud budaya inovasi pada kalangan generasi muda penerus bangsa.  Sesuai dengan fungsi sebuah Sains Techno Park, Puspiptek berupaya bagaimana mengaitkan semua unsur kepentingan dalam membangun sebuah ekosistem inovasi. Goverment, akademisi, bisnis, masyarakat, dan sebagainya. Semuanya berpartisipasi dalam upaya membangun suasana yang kondusif dalam budaya inovasi.  Tahun 2019 PIF mengangkat tema Innovations Without Limits menampilkan ‘highlight’ pengembangan karya inovasi bagi perempuan dengan sub-tema “Perempuan Bicara Inovasi, Perempuan yang Menginspirasi”. “Inovations Without Limits berarti tidak ada batasan setiap manusia, setiap individu, untuk bagaimana melakukan inovasi. Karena inovasi dapat dilakukan dari berbagai segi. Oleh karena itu tidak ada hambatan bagi kita semua untuk melakukan inovasi,” kata Kepala Puspiptek, Sri Setiawati saat membuka kegiatan PIF. Selama empat hari, banyak kegiatan yang dilakukan dalam PIF 2019, ada Puspiptek Expo yang diikuti 60 booth yang terdiri UMKM, startup, maupun hasil-hasil penelitian yang ada di kawasan Puspiptek maupun pemerintah daerah. Diselenggarakannya berbagai seminar dan workshop, ada seminar berkaitan dengan games workshop games, animasi, dan pembuatan VIV 360, workhop komunikasi satelit, women innovation, workhop entrepreneurship, business matching, kompetisi inovasi, eksplor Puspiptek, dan kompetisi mural dengan tema B.J. Habibie. Dalam penutupan PIF pada 6 Oktober 2019, Kepala Puspiptek kembali menegaskan bahwa bahwa sesuai slogan Innovation Without Limits, artinya tidak ada inovasi yang tidak dapat dihasilkan oleh siapapun. Siapa pun berhak berinovasi. Untuk usulan kegiatan acara PIF di tahun mendatang, Puspiptek sangat terbuka akan ide-ide yang inovatif. (har/ ed. adl)

Baca

Ekstraksi Benalu Menjadi Obat 


12 September 2019

  Hasil uji bioaktivitas menjadi pembuktian ilmiah penunjang data empiris.    Indonesia memiliki banyak bahan herbal yang telah digunakan secara turun-temurun. Tapi ihwal khasiatnya baru sebatas "katanya". Nina Artanti, peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan uji bioaktivitas diperlukan untuk membuktikan khasiat bahan herbal tersebut secara ilmiah.  "Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting, baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal maupun dalam pengembangan sebagai obat," kata Nina, Senin lalu. Ada berbagai macam uji bioaktivitas, yakni antioksidan, anti-diabetes, sitotoksik, dan anti-bakteri.  Nina menjelaskan bahwa kebanyakan penelitian mengenai manfaat obat herbal dilakukan dengan ekstraksi memakai pelarut organik. Adapun cara tradisional adalah diseduh dan direbus. "Penelitian memakai ekstrak air perlu dilakukan. Sebab, kandungan senyawa yang terekstrak dalam air mungkin berbeda dengan pelarut organik."  Salah satu materi herbal yang banyak dipakai untuk pengobatan alternatif penyakit kanker adalah benalu. Hasil penelitian terhadap ekstrak air benalu nangka (Macrosolen cochinchinensis) menunjukkan aktivitas antioksidan in vitro serta anti-kanker in vitro dan in vivo.  Ekstrak ini relatif tidak toksik berdasarkan hasil uji toksisitas in vitro dengan metode brine shrimp lethality test (BSLT) dan toksisitas akut in vivo pada mencit.  "Meski M. cochinchinensis satu famili dengan Dendrophthoe pentandra, yaitu Loranthaceae, tak terdapat kandungan senyawa utama quercitrin (quercetin-3-ramnosida) saat tumbuh pada inang nangka atau inang lainnya," kata Nina.  Hasil hidrolisis ekstrak air benalu nangka menunjukkan terbentuknya quercetin, yang berarti ekstrak air ini mengandung glikosida quercetin lainnya. Di Eropa, benalu spesies Viscum album digunakan sebagai obat alternatif kanker.  "Obat-obatan ini bahkan sudah bermerek dagang, seperti Iscador, Helixor, dan Eurixor, yang sudah dalam tahap uji klinis," ujar dia.  Dalam penelitian sebelumnya, beberapa ekstrak air mendidih atau ekstrak pelarut organik benalu Indonesia (Dendrophthoe pentandra) menunjukkan berbagai bioaktivitas, seperti antioksidan, anti-diabetes, dan sitotoksik, terhadap sel kanker ataupun larva udang.  "Sedangkan ekstrak pelarut organik selaginella (cakar ayam) menunjukkan bioaktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara," kata Nina.  Uji bioaktivitas menggunakan pendekatan langsung preparasi seduhan dan rebusan sebagai sampel yang diuji tanpa melalui proses pengeringan ekstrak akan membantu memberi gambaran langsung aktivitas herbal tersebut.  "Hasil analisis empat sampel seduhan daun benalu dari famili Loranthaceae dan satu sampel seduhan cakar ayam (Selaginella sp.) menunjukkan semua sampel benalu memiliki aktivitas antioksidan, anti-diabetes, dan sitotoksisitas tinggi," ucap Nina.  Sementara itu, sampel cakar ayam menunjukkan aktivitas yang secara signifikan lebih rendah pada benalu. "Benalu dari famili Loranthaceae dan cakar ayam menunjukkan aktivitas antioksidan, anti-diabetes, dan anti-kanker."  Tumbuhan ini sudah lama digunakan, sehingga aman diformulasi sebagai obat herbal ataupun minuman kesehatan. Selain itu, seduhan dan rebusan campuran benalu (D. curvata) dan cakar ayam menunjukkan aktivitas anti-kanker in vitro sehingga dapat dikembangkan sebagai teh herbal pencegah kanker.  Nina menjelaskan, untuk keanekaragaman hayati yang secara umum telah dikonsumsi oleh masyarakat sebagai obat herbal, seperti benalu dan cakar ayam, hasil uji bioaktivitas dapat menjadi pembuktian ilmiah yang menunjang data empiris.  "Hal ini akan membuat manfaat obat herbal lebih meyakinkan untuk dipromosikan sehingga dapat meningkatkan nilai komersial," ujar dia. (Afrilia Suryanis/Koran Tempo) Link terkait : http://koran.tempo.co/read/445738/ekstraksi-benalu-menjadi-obat      

Baca

Teknik Baru Ekstraksi Atsiri


10 September 2019

Teknologi konvensional memburuhkan waktu lama, tak ramah lingkungan. dan merusak senyawa.   Di alam terdapat tiga golongan minyak, yakni mineral. nabati dan hewani, serta atsiri. Yang terakhir berupa cairan lembut, kental di suhu ruangan, tapi mudah menguap sehingga memberi aroma khas sebagai bahan dasar wangi-wangian. "Minyak ini diperoleh dan ekstrak atau penyulingan bunga, biji, daun, kulit batang, kayu, dan akar tumbuh-tumbuhan,“ kata peneliti dari Pusat Penelitian kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan lndonesia, Anny Sulaswatty, kepada Tempo, Ahad lalu. Senyawa utama atsiri seperti eugenol, sitronelal, sitronelol, geraniol, isopulegol, patchouli alcohol, sinamaldehid, miristisin, vetiverol, dan gingerol dapat digunakan dalam berbagai sektor komersial, antara lain pangan, farmasi, kosmetik, dan industri kimia. "Ini menandakan bahwa kebutuhan adanya metode yang tepat dan memiliki standar dalam memurnikan berbagai komponen utama atsiri diperlukan sehingga dapat dikembangkan menjadi bahan aktif lainnya,“ ujar Anny. Menurut Anny, teknologi konvensional yang ada saat ini umumnya membutuhkan waktu lama, kurang ramah lingkungan, dan berpotensi memicu kerusakan senyawa. Sementara itu, beberapa metode alternatif terbaru yang ada cukup stabil. “Tapi sampai saat ini tidak ada metode tunggal yang dianggap sebagai standar untuk mengekstrak senyawa utama dari tumbuhan dan bahan alam, termasuk atsiri," kata dia. Ekstraksi komponen utama atsiri dapat dilakukan dengan berbagai prosedur. Salah satunya melalui metode non-konvensiunal lebih ramah lingkungan dengan penurunan penggunaan bahan kimia sintetis dan organik. Waktu operasional berkurang serta kualitasnya lebih baik. Upaya ini telah dikembangkan selama 20 tahun untuk meningkatkan hasil keseluruhan dan selektivitas komponen utama dari bahan alam, "Pada saat yang sama, ekstraksi metode konvensional, seperti Soxhlet, masih dianggap sebagai salah satu metode referensi untuk membandingkan keberhasilan metodologi yang baru dikembangkan," kata Anny. Penelitian untuk meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi ekstraksi atsiri ini dilakukan di LIPl sejak 1990. Harapannya, indonesia dapat menjadi pelaku industri atsiri yang efektif, efisien, dan berdaya guna. ”Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri lndonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, bahan aditif makanan, serta perasa makanan," ujar Anny. Masalah utama ekstraksi konvensional adalah lamanya waktu yang dibutuhkan dan persyaratan kemurnian pelarut yang mahal. "Juga penguapan bahan pelarut, selektivitas ekstraksi yang rendah, dari dekomposisi termal dari senyawa termolabil.“ Untuk mengatasi masalah ini, Anny menjelaskan, teknik ekstraksi baru dan prospektif mulaigencar diperkenalkan. Teknik-teknik ini disebut teknik ekstraksi non-konvensional. Beberapa teknik yang cukup prospektif adalah teknik ekstraksi perlakuan awal ultrasonikasi atau ekstraksi yang dibantu enzim, ekstraksi dengan bantuan gelombang mikro, ekstraksi fluida superkritis, dan ekstraksi fluida bertekanan. "Beberapa teknik ini dianggap sebagai 'teknik hijau' sesuai dengan standar Environmental Protection Agency, Amerika Serikat." ujar dia. Pemanfaatan teknologi non-konvensional, menurut Anny. perlu diterapkan melalui kerja sama dengan industri, "Salah satunya telah dilakukan pengembangan green additives berbasis turunan minyak atsiri yang dapat menurunkan kadar air dalam solar iungga is persen dan menghemat bahan bakar hingga 8 persen," kata dia.  (Afrilia Suryanis/Koran Tempo)   Sumber : http://koran.tempo.co/read/445664/teknik-baru-ekstraksi-atsiri

Baca

Jalan Sehat 52 Tahun LIPI Serpong


23 Agustus 2019

Serpong, Humas LIPI. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang jatuh pada Jumat, 23 Agustus 2019, LIPI Kawasan Serpong mengadakan Jalan Sehat 52 Tahun LIPI, di Gedung 456, Kawasan LIPI Serpong. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik – LIPI, Agus Haryono mengatakan agar sivitas LIPI untuk  selalu menjaga kesehatan dan kebugaran, juga mohon bersenang-senang di sini, dan bersilaturahmi. “Masing-masing dapat saling berkenalan, saling mengetahui siapa yang bekerja di kawasan. Karena fungsi kawasan ini sangat penting, mereka membantu untuk kebutuhan sivitas yang lain dalam keseharian beraktifitas”, ujar Deputi. Kemudian Deputi memimpin Jalan Sehat sepanjang 5,84 km yang dimulai dari Gedung 456 Kawasan Serpong, melewati pelataran jalan Puslit Kimia-LIPI, Puslit Fisika-LIPI, Puslit Teknologi Pengujian-LIPI, dan juga melalui kebun provinsi, dan berakhir di Gedung 456 Kawasan LIPI Serpong. Dalam kegiatan tersebut, peserta yang mengenakan atribut didominasi warna merah-putih, diberikan hiburan berupa doorprize dari sponsor. (har/ ed. adl)

Baca

Tiga Peneliti Kimia LIPI Dikukuhkan sebagai Profesor Riset


20 Agustus 2019

Jakarta, Humas LIPI. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengukuhkan tiga orang peneliti Pusat Penelitian Kimia menjadi Profesor Riset. Bersamaan dengan Dr. Ignasius Dwi Atmana Sutapa dari Pusat Penelitian Limnologi LIPI. Tiga peneliti Kimia yang dikukuhkan tersebut adalah Dr. Ir. Nina Artanti, M. Sc, Dr. Jamilah, M. Si, Dr. Anny Sulaswatty, M. Eng. Orasi Pengukuhan Profesor Riset akan disampaikan pada, Selasa 20 Agustus 2019 di Auditorium Utama LIPI Jakarta. Ketiga peneliti yang akan dikukuhkan sebagai profesor riset masing-masing berasal dari bidang keilmuan kimia organik, biokima, dan teknik kimia. Dalam orasi berjudul “Peran Uji Bioaktivitas untuk Penelitian Herbal dan Bahan Aktif untuk Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati, Nina Artanti mengungkapkan pengalaman historis manusia dengan tumbuhan sebagai bahan terapi telah membantu memperkenalkan senyawa kimia tunggal dalam engobatan modern yang ada sekarang. “Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal atau pun dalam penemuan dan pengembangan obat. Ada berbagai macam uji bioaktivitas yang dapat dimanfaatkan yaitu bioaktivitas antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri,” jelas Nina. Sementara orasi dari Jamilah adalah “Penemuan Senyawa Aktif Baru dari Calophyllum spp sebagai Bahan Baku Obat Antikanker dan Antimalaria”. Dirinya menjelaskan, kanker merupakan penyebab kematian dan kejangkitan yang terbesar di dunia dibandingkan penyakit lain dan jumlahnya meningkat hingga 70% dalam dua dekade. “Sementara malaria adalah penyakit infeksi yang mematikan nomor lima setelah penyakit infeksi saluran nafas, HIV/AIDS, diare, dan TBC,” terangnya. Dirinya mengungkapkan, tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai sumber bahan baku obat kanker dan malaria. “Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen, dan steroid yang memiliki aktivitas antiimflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antiplatelet, antitumor, antimalaria dan antibakteri serta antiTBC,” jelas Jamilah. Dirinya menjelaskan, peluang Calophyllum untuk pengembangan obat antikanker dan antimalaria sebagai pengganti obat impor masih terbuka lebar. Di orasi berjudul “Penerapan Teknologi Non-Konvensional dalam Ekstraksi Komponen Utama Atsiri dan Produk Turunannya di Indonesia”, Anny Sulaswatty mengungkapkan pentingnya memperluas penerapan penelitian fraksinasi, pemurnian, serta perbaikan teknologi ekstraksi untuk meningkatkan nilai jual produk mintak atsiri. “Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri Indonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, food additives, serta perasa makanan,” ungkap Anny. Dirinya menjelaskan, pemanfaatan teknologi non-konvensional perlu diimplementasikan melalui kerjasama dengan industri, salah satunya telah dilakukan pengembangan green-additives berbasis turunan minyak atsiri yang dapat menurunkan kadar air dalam solar hingga 15% dan menghemat bahan bakar hingga 8%.  Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI Kliping Berita Terkait : 1. Empat Peneliti LIPI Dikukuhkan sebagai Profesor Riset http://lipi.go.id/siaranpress/Empat-Peneliti-LIPI-Dikukuhkan-sebagai-Profesor-Riset/21743 2. LIPI Tambah Empat Profesor Riset https://kompas.id/baca/humaniora/2019/08/20/lipi-tambah-4-profesor-riset 3. Profesor Riset Diharapkan Mampu Bawa LIPI Mengglobal dan Memasyarakat http://lipi.go.id/berita/Profesor-Riset-Diharapkan-Mampu-Bawa-LIPI-Mengglobal-dan-Memasyarakat/21746 4. LIPI kukuhkan empat profesor riset https://www.antaranews.com/berita/1020974/lipi-kukuhkan-empat-profesor-riset 5. LIPI: Pengembangan zat aditif penghemat BBM minyak atsiri ditingkatkan https://www.antaranews.com/berita/1021996/lipi-pengembangan-zat-aditif-penghemat-bbm-minyak-atsiri-ditingkatkan 6. LIPI: Indonesia berpotensi jadi pemain utama bisnis minyak atsiri https://www.antaranews.com/berita/1021960/lipi-indonesia-berpotensi-jadi-pemain-utama-bisnis-minyak-atsiri 7. LIPI Kukuhkan Empat Profesor Riset https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/zNAVXe3b-lipi-kukuhkan-empat-profesor-riset 8. Prosedur Pengajuan Profesor Riset Cukup Dua Bulan Saja https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/VNnQOGXK-prosedur-pengajuan-profesor-riset-cukup-dua-bulan-saja 9. LIPI Dorong Penambahan Pengukuhan Profesor Riset https://www.gatra.com/detail/news/438820/technology/lipi-dorong-penambahan-pengukuhan-profesor-riset 10. Indonesia Sumber Potensi Penemuan Obat Baru http://www.galamedianews.com/nasional/231695/indonesia-sumber-potensi-penemuan-obat-baru.html 11. Peneliti LIPI: Indonesia sumber potensial penemuan obat baru https://www.antaranews.com/berita/1021826/peneliti-lipi-indonesia-sumber-potensial-penemuan-obat-baru 12. Peneliti LIPI: Tumbuhan Indonesia Mengandung Senyawa Antikanker dan Antimalaria https://news.trubus.id/baca/30978/peneliti-lipi-tumbuhan-indonesia-mengandung-senyawa-antikanker-dan-antimalaria 13. Peneliti LIPI temukan bahan baku obat anti kanker https://www.antaranews.com/berita/1021760/peneliti-lipi-temukan-bahan-baku-obat-anti-kanker 14. Peneliti LIPI ubah air gambut jadi layak dikonsumsi https://bengkulu.antaranews.com/nasional/berita/1021740/peneliti-lipi-ubah-air-gambut-jadi-layak-dikonsumsi?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews 15. Peneliti LIPI Kembangkan Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati Indonesia https://news.trubus.id/baca/30975/peneliti-lipi-kembangkan-obat-berbasis-keanekaragaman-hayati-indonesia 16. LIPI Siap Fasilitasi Para Peneliti dalam Lakukan Riset https://akurat.co/iptek/id-731675-read-lipi-siap-fasilitasi-para-peneliti-dalam-lakukan-riset 17. Peneliti LIPI Rancang Instalasi Pengolahan Air Gambut Jadi Air Baku https://news.trubus.id/baca/30969/peneliti-lipi-rancang-instalasi-pengolahan-air-gambut-jadi-air-baku 18. Tumbuhan Indonesia Miliki Senyawa Antikanker dan Antimalaria https://www.beritasatu.com/nasional/570618/tumbuhan-indonesia-miliki-senyawa-antikanker-dan-antimalaria 19. Peneliti LIPI Ungkap Rumitnya Penelitian pada Tumbuhan untuk Bahan Baku Obat https://www.liputan6.com/health/read/4042488/peneliti-lipi-ungkap-rumitnya-penelitian-pada-tumbuhan-untuk-bahan-baku-obat?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer= 20. Peneliti LIPI Temukan Bahan Baku Obat Kanker http://www.koran-jakarta.com/peneliti-lipi-temukan-bahan-baku-obat-kanker/ 21. Senyawa Tanaman yang Ada di Indonesia Ini Berpotensi Jadi Obat Kanker https://www.liputan6.com/health/read/4042442/senyawa-tanaman-yang-ada-di-indonesia-ini-berpotensi-jadi-obat-kanker?related=dable&utm_expid=.9Z4i5ypGQeGiS7w9arwTvQ.1&utm_referrer= 22. LIPI: Calophyllum Mengandung Senyawa Aktif Antikanker https://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/19/08/20/pwjat5414-lipi-calophyllum-mengandung-senyawa-aktif-antikanker   23. LIPI Kukuhkan Empat Peneliti Jadi Profesor Riset https://serpongupdate.com/lipi-kukuhkan-4-peneliti-jadi-profesor-riset/   24. Peneliti LIPI Temukan Bahan Baku Obat Anti Kanker https://infoteknologi.suarasurabaya.net/news/2019/224964-Peneliti-LIPI-Temukan-Bahan-Baku-Obat-Anti-Kanker 25. Peneliti LIPI Temukan Bahan Baku Obat Anti Kanker Salah Satunya dari Gunung Kerinci https://metrojambi.com/read/2019/08/20/46512/peneliti-lipi-temukan-bahan-baku-obat-anti-kanker-salah-satunya-dari-gunung-kerinci 26. Bahan Alam untuk Obat Herbal Antikanker http://lipi.go.id/berita/Bahan-Alam-untuk-Obat-Herbal-Antikanker/21750

Baca

34 PNS LIPI Serpong Terima Satyalancana Karya Satya


19 Agustus 2019

Serpong, Humas LIPI. Sebanyak 34 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) LIPI kawasan Serpong menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya (SLKS). Pemberian tanda kehormatan tersebut diberikan oleh Deputi Bidang Jasa ilmiah Mego Pinandito, di Puspiptek, Serpong, Banten, pada Sabtu (17/8). “Penghargaan SLKS adalah sebuah penghargaan dari Presiden RI, Joko Widodo langsung ditandatangani oleh beliau kepada bapak ibu semuanya. Karena bapak ibu telah berkarya untuk LIPI dengan jujur, semangat, dan penuh prestasi,” ujar Mego. Di LIPI kawasan Serpong disampaikan tanda kehormatan bagi 34 orang PNS, dengan perincian empat orang peraih tanda kehormatan XXX tahun, enam orang tanda kehoramtan XX tahun, dan 24 orang tanda kehormatan X tahun. Bagi penerima anugrah SLKS, Mego berharap tetap semangat karena masih ada tugas lain, masih ada tantangan-tantangan ke depan agar semua bisa memberikan yang terbaik. LIPI juga mengharapkan pimpinan-pimpinan satuan kerja, pejabat-pejabat struktural, pejabat fungsional, dapat memberikan arahan sebuah penyemangat untuk lebih berkarya. “Mari bersama-sama bergandengan tangan, bersinergi untuk mencari hasil-hasil yang lebih baik lagi. Mendapatkan sebuah capaian-capaian kinerja yang seharusnya ekselen, menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita semua,” ujarnya. (har, ed. adl)

Baca

LIPI Kembangkan Produksi Etanol di Muna


12 Agustus 2019

Raha - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Muna, untuk mengembangkan produksi nira aren menjadi etanol. Diwawancarai jurnalis koran ini, Senin (9/8), Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Arthur Ario Lelono, Ph.D mengatakan, Muna memiliki potensi komoditi aren yang cukup melipah untuk dieksplorasi, bukan hanya menghasilkan alkohol semata namun dapat ditingkatkan kegunaannya untuk subsidi bahan bakar energi gas atau minyak maupun untuk kebutuhan farmasi. Tahun ini kata Arthur, LIPI bekerja sama dengan Pemkab Muna melalui pemanfaatan teknologi pengolahan (penyaringan) nira aren menjadi bioetanol untuk mendapatkan kualitas etanol yang lebih baik. LIPI adalah provider teknologi, kita menyiapkan teknologi pengolahan nira aren menjadi etanol. Jika penyulingan di masyarakat saat ini kualitas etanol hanya diperoleh 5 - 10 persen saja, maka dengan adanya teknologi dari LIPI, maka konsentrasi etanolnya dapat kita tingkatkan sampai 40 persen sehingga akan menambah nilai tambah bagi produksi etanol di masyarakat," kata Arthur. Sementara itu Pemkab Muna melaui Plt. Sekda Muna. Ali Basa, sangat menyambut positif kerja sama ini. Ia berharap potensi sumber daya alam Kabupaten Muua utamanya aren, mete, dan komoditi lainnya dapat ditingkatkan nilainya melalui teknologi pengolahan yang akan digagas bersama LIPI. "Kalau selamani nira aren kebanyakan diproduksi menjadi arak, maka kita berharap masuknya teknologi dari LIPI ini akan merubah cari berfikir masyarakat, di mana nira aren ini dapat dikembangan untuk etanol," harap Ali Basa. (sra/ ed. fn) Sumber : Sultra Raya (08 Agustus 2910)  

Baca

Ghozali Peneliti Kimia LIPI Kupas Plastik Kresek untuk Daging Qurban


12 Agustus 2019

Serpong, Humas LIPI. Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI dengan bidang Kimia Polimer, Muhammad Ghozali, kupas mengenai plastik kresek konvensional yang digunakan untuk membungkus daging qurban di masyarakat. Berikut empat artikel Ghozali yang diwawancarai oleh detikHealth. Bungkus Daging Kurban dengan Kresek Hitam Bisa Picu Kanker? Ini Faktanya Bungkus daging kurban dengan kresek. Foto: Masjid Al Azhar Bagikan Daging Kurban ke 2.000 Orang (Yulida-detikcom) Jakarta - Perayaan Idul Adha biasanya identik dengan pembagian daging kurban. Biasanya bungkusan daging akan dibagikan ke setiap rumah warga dengan menggunakan kantong kresek. Tapi tunggu dulu, coba perhatikan warna kantong kresek yang Anda terima, apakah berwarna hitam?Pemprov DKI Jakarta mengeluarkan larangan mengenai penggunaan kresek hitam saat pembagian daging kurban. Selain tidak ramah untuk lingkungan juga bisa berbahaya untuk kesehatan. Peneliti Bioplastik Muhammad Ghozali, MT dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia mengatakan, dalam pelentur plastik terdapat zat karsinogen yang merupakan zat pemicu kanker. "Biasanya kanker, zat ini termasuk dalam pelentur plastik. Karena memang paling cocok dan ideal untuk pelentur plastik," katanya saat diwawancarai detikHealth. Jumat (2/8/2019). Semua kresek apapun warnanya memiliki zat pelentur agar bisa elastis. Tapi kenapa kresek hitam lebih berbahaya dibanding kresek warna lainnya? "Sebenarnya plastik itu warnanya bening dari awal. Kresek hitam ini sudah mengalami 4 sampai 5 recycle. Makanya warnanya jadi hitam, kasar-kasar dan baunya busuk," kata Ghozali.Ia juga menambahkan, kantong kresek hitam biasanya berbahan HDPE (High Density Polyethylene) yang memang tidak dianjurkan untuk bersentuhan langsung dengan makanan. Karena ditakutkan ada migrasi zat-zat berbahaya dari kresek hitam ke daging kurban. (Kintan Nabila) https://health.detik.com/read/2019/08/09/072153/4658463/763/bungkus-daging-kurban-dengan-kresek-hitam-bisa-picu-kanker-ini-faktanya   Benarkah Kresek Hitam Lebih Berbahaya dari Kresek Warna Lainnya?   Kresek hitam lebih tidak sehat dibanding kresek warna lain? (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)   Jakarta - Kresek hitam tidak dianjurkan sebagai pembungkus makanan karena mengandung zat pemicu kanker. Lantas bagaimana dengan warna kresek lainnya, apakah sama bahayanya? Lalu kresek warna apa yang aman untuk wadah makanan? Peneliti Bioplastik Muhammad Ghozali, MT dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia mengatakan, sebetulnya warna bukan acuan pasti apakah kresek tergolong aman atau berbahaya sebagai pembungkus makanan. Sebagian besar kantong kresek biasanya jenis HDPE (High Density Polyethylene) dan telah berkali-kali mengalami proses daur ulang. Seberapa bahanyanya kresek tersebut bisa dilihat dari teksturnya yang semakin tebal, tidak elastis atau mudah sobek, kasar, dan berbau. "Kita kan tidak tahu saat di recycle itu bahannya dari mana. Walaupun sudah dicuci tapi ditakutkan ada migrasi zat-zat dari recycle tersebut," katanya saat diwawancarai detikHealth baru-baru ini.Kresek hitam biasanya sudah didaur ulang sebanyak 4 sampai 5 kali. Sementara proses daur ulang kresek berwarna tidak sesering kresek hitam."Itu kan sudah ditambah zat pewarna, bahannya HDPE juga. Kresek warna merah atau belang-belang juga berbahaya, tapi tidak seberbahaya yang warna hitam," katanya.Lantas, plastik jenis apa yang paling aman untuk pembungkus makanan? Ghozali menyarankan, plastik jenis LDPE (Low Density Polyethylene) atau HDPE grade satu. Jenis plastik ini masih virgin dan belum ada campuran zat apapun dari proses daur ulang."Plastik yang bening putih itukan biasanya bahannya LDPE, itu enggak apa-apa aman. Karena plastikya sudah foodgrade dari awal dan memang khusus untuk makanan," pungkasnya. (Kintan Nabila) https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4660270/benarkah-kresek-hitam-lebih-berbahaya-dari-kresek-warna-lainnya   Alasan Ilmiah di Balik Larangan Kresek Hitam untuk Bungkus Daging      Plastik hitam bukan untuk membungkus makanan, termasuk daging kurban. (Foto: Thinkstock)   Jakarta - Pembagian daging kurban menjadi momen yang ditunggu-tunggu di hari raya Idul Adha ini. Namun, beberapa orang mungkin khawatir akan menerima daging dengan kresek hitam. Faktanya, pembungkus makanan yang paling aman adalah wadah yang berbahan food grade. Apakah kresek hitam termasuk food grade? "Banyak plastik yang beredar, yang kresek hitam itu, bukan food grade. Artinya kalau dia kontak dengan makanan maka komponen dari plastik itu pun, yang digunakan untuk membuat plastik akan terlucuti dan masuk ke dalam makanan," tutur ahli teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi. Food grade, artinya bahan tersebut memang dibuat khusus untuk bersentuhan langsung dengan pangan. Makanan yang ditempatkan dengan wadah food grade teksturnya akan tetap baik dan tidak membahayakan kesehatan, karena tidak adanya kandungan zat berbahaya yang bermigrasi ke dalam makanan.  Zat-zat apa saja yang ada di kantong kresek hitam? Kresek hitam biasanya berbahan polivinil klorida yang secara internasional telah dianggap sebagai zat berbahaya bagi kesehatan. Selain itu zat yang ada dalam pelenturnya juga tak kalah berbahaya. Peneliti Bioplastik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia, Muhammad Ghozali, MT, mengatakan bahwa dalam pelentur plastik terdapat zat karsinogen yang merupakan zat pemicu kanker."Biasanya kanker, zat ini termasuk dalam pelentur plastik. Karena memang paling cocok dan ideal untuk pelentur plastik," katanya.Selain itu, kantong kresek hitam biasanya sudah di didaur ulang sebanyak empat sampai lima kali. Penggunaan sebelumnya pun seringkali tidak diketahui. Bisa jadi dari wadah pestisida, limbah, logam berat, dan sebagainya. Semakin sering kresek di daur ulang, teksturnya akan menjadi tebal, tidak elastis atau mudah sobek, kasar, dan berbau.  https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4661137/alasan-ilmiah-di-balik-larangan-kresek-hitam-untuk-bungkus-daging Bioplastik Ramah Lingkungan, Tapi Tetap Bukan untuk Bungkus Daging Kurban   Daging kurban yang dibungkus plastik. Foto: Lamhot Aritonang   Jakarta - Bioplastik adalah plastik ramah lingkungan yang dibuat dari bahan alami organik, seperti serat singkong, sawit atau minyak nabati. Plastik ini ramah lingkungan karena hanya memerlukan waktu singkat untuk terurai. Namun faktanya, bioplastik ternyata berbahaya untuk digunakan sebagai pembungkus makanan.Peneliti Bioplastik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Kimia, Muhammad Ghozali, MT mengatakan bahwa plastik dari singkong sebenarnya bukan jenis plastik yang disarankan untuk bersentuhan langsung dengan makanan, apa alasannya?Bioplastik rentan terhadap air dan kelembapan karena ia bisa terurai lebih cepat dari plastik pada umumnya. Saat terurai, daging akan menyerap zat-zat berbahaya yang terkandung dalam plastik."Itu kan dibungkusnya lama, sore atau malemnya baru dibagiin. Nah plastiknya pasti sudah terdegradasi juga dan zat nya bermigrasi ke daging," katanya pada detikHealth baru-baru ini.Biarpun disebut ramah lingkungan, komposisi bioplastik ini tidak hanya bahan organik seperti singkong saja namun tetap ditambahkan pelentur dan zat aditifnya.Untuk pembungkus daging kurban, Ghozali menyarankan agar masyarakat menggunakan plastik berbasis foodgrade seperti jenis LDPE (Low Density Polyethylene) yang memang khusus dibuat untuk makanan."Biarpun kurang ramah lingkungan, plastik bening LDPE aman. Tapi kalo misalkan kita mau peduli lingkungan bisa bawa sendiri dari besek atau mangkok," pungkasnya. (Kintan Nabila) https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4661407/bioplastik-ramah-lingkungan-tapi-tetap-bukan-untuk-bungkus-daging-kurban

Baca

Peneliti Kimia LIPI Tampilkan Hasil Riset dan Isi Talkshow dalam ITD Expo 2019


25 Juli 2019

Jakarta, Humas LIPI. Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar acara pameran hasil-hasil penelitian skala laboratorium dan skala industri yang didanai dari Program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (INSINAS) dan Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) di Main Atrium LIPPO Mall Puri, Jakarta Barat. Acara yang bertajuk “Industrial Technology Development (ITD) Expo 2019” berlangsung selama dua hari, 24 - 25 Juli 2019. Beberapa hasil riset satker LIPI Kawasan Serpong turut berpartisipasi dalam pameran tersebut. “JOZA, krim antiselulit”, hasil penelitian Dr. Yenny Meliana dari Pusat Penelitian Kimia LIPI. Sementara dari Pusat Penelitian Fisika menampilkan “Sensor Kebencanaan, penelitian Optoelektronik”, hasil penelitian Dr. Bambang Widiyatmoko, “Baterai Lithium Merah Putih”, hasil penelitian Dr. Bambang Prihandoko, dan Nanobubble hasil penelitian Prof. Nurul Taufiqu Rochman. Selain berpartisipasi dalam pameran, Yenny Meliana yang merupakan anggota tim pengkaji bahan kimia di Konvensi Rotterdam PBB, menjadi salah satu narasumber yang tampil pada acara talkshow ‘Industry x Research’. Yenny berbagi kisah melakukan penelitian krim antiselulit dari bahan alami ekstrak jahe dan pegagan dari mulai merintis, uji coba dan uji klinis formulasi penelitian tersebut sampai 5 tahun, hingga menjadi produk yang siap dipasarkan bersama mitra industri PT Nanotech Herbal Indonesia. Dengan diadakannya acara pameran dan talkshow di LIPPO Mall Puri ini diharapkan masyarakat bisa memperoleh pengetahuan tambahan terkait kebijakan dan program pemerintah yang selalu mendorong kegiatan penelitian, demikian Muhammad Dimyati selaku Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti mengungkapkan dalam pembukaan acara. (es/ ed. adl)

Baca

IHT Public Speaking dan MC di P2 Kimia - LIPI


25 Juli 2019

Serpong, Humas LIPI. Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia – LIPI) menyelenggarakan In House Training (IHT) “Public Speaking and MC” di Puspiptek Serpong, pada Selasa hingga Kamis (23-35/7). “Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan presentasi peneliti terkait penelitiannya di depan audiens yang bukan dari kalangan ilmiah. Kami juga berharap perlu menambah personel yang bisa memandu acara atau master of ceremony (MC), agar tidak terlalu bergantung dengan humas kawasan”, sebut Dini Chandra Sekar, selaku Kasubbagian Tata Usaha dalam sambutannya. IHT “Public Speaking dan MC” diikuti oleh 30 orang peserta yang terdiri dari para peneliti P2 Kimia – LIPI dan bagian administrasi. Selama pelatihan, peserta didampingi oleh dua fasilitator dari Tutur Indonesia yaitu Izzaty Zephaniah yang menyampaikan ‘Public Speaking for Beginners’ dan ‘Becoming a Great Master Ceremonies Course: English and Indonesian’, serta Arif Irshadi yang menyampaikan ‘Business English Communication Skiils Course: Presentation’. Fasilitator Izzaty Zephaniah berpendapat bahwa peserta LIPI, baik yang bekerja sebagai staf karyawan maupun sebagai peneliti, sangat membutuhkan public speaking, karena akan sering berkesempatan untuk berbicara di depan publik. Berbagi tentang berbagai materi. “Public speaking penting dan bukan hanya bisa, tetapi juga betul-betul mampu untuk mempunyai kemampuan mempersuasi audiensnya, mengedukasi, bahkan sesekali menghibur. Jadi bukan serta-merta sekedar berbicara, tetapi ada tujuan-tujuan lain yang lebih spesial,” jelas Izzaty.  Sementara terkait MC, peserta LIPI diperkenalkan agar dapat menambah keahlian baru. “Siapa tahu kedepannya bisa berkesempatan untuk memandu acara-acara LIPI, sehingga jejaring atau relasinya bisa bertambah karena  pekerjaan MC yang dilakukan,” terang Izzaty.   Izzaty berharap mereka yang tidak begitu tertarik dengan kemampuan berkomunikasi (communication skill), sekarang menjadi tertarik dan mau bahkan untuk mendalami. Dalam tiga hari pelatihan ini, peserta memang tidak diberikan materi terlalu mendalam karena waktunya yang singkat. Paling tidak peserta bisa menjadi lebih menyadari akan pentingnya kemampuan berkomunikasi yang baik.  “Semoga peserta LIPI di sini bisa mengajak atau mempengaruhi teman-teman LIPI yang lain, khususnya untuk juga mengembangkan kemampuan komunikasinya. Karena kemampuan komunikasi bukan hanya dipunyai oleh orang komunikasi atau pun praktisi komunikasi, tetapi untuk semua orang,” tambahnya. Pada kesempatan tersebut, salah seorang peserta mengungkapkan bahwa dirinya menyambut baik adanya pelatihan ini. “Sebagai peneliti, biasanya berfokus pada penelitian, studi literatur, kemudian menerbitkan jurnal. Tugas penelitian juga untuk mendiseminasi hasil penelitian kami ke masyarakat umumnya, sehingga butuh kemampuan public speaking. Selain itu kemampuan public speaking itu sangat perlu ketika presentasi untuk monitoring dan evaluasi (monev), konferensi, atau ketika diundang sebagai pembicara,” terangnya. Jika ada pelatihan lagi, salah seorang peserta menginginkan kelas intensif dengan durasi yang lebih lama dan lebih banyak praktik. Ditambahkan juga pelatihan teknik wawancara, karena sebagai peneliti mendapat sumber data wawancara. Topik yang dikupas selama tiga hari adalah praktik presentasi dalam bahasa Indonesia, presentasi dalam bahasa Inggris, kemudian ditambah dengan MC. Respons peserta sangat positif, jika pada awalnya ada yang mengikuti pelatihan karena diminta hadir, hari berikutnya datang karena kemauan sendiri, dan ingin menimba ilmu komunikasi di lain kesempatan. (har/ ed. adl)

Baca

Yenny Meliana Tampil dalam Epiode Wanita Penemu di MTLB


18 Juli 2019

Jakarta, Humas LIPI. Dr. Yenny Meliana yang akrab dipanggil Melly, pada Rabu (17/07) melakukan syuting rekaman di Studio 3, Rajawali Televisi (RTV), Jakarta dalam acara Michael Tjandra Luar Biasa. Melly bersama bintang tamu yang lainnya, Dewi Nur Aisyah, peneliti dan travel blogger, berbagi kisah bagaimana menjadi ilmuwan perempuan. Dalam acara bincang-bincang dengan host Michael, Melly menceritakan topik penelitiannya mengenai formulasi bahan baku antimalaria dari tanaman Artmeisia annua. Dengan teknologi nano, Melly dan tim risetnya berupaya membuat bahan baku obat yang berkualitas namun dengan harga produksi yang lebih rendah. Dalam sesi berikutnya, Melly mengajarkan Michael cara membuat ekstrak dari bahan alami yang mudah ditemui sehari-hari, seperti semangka, manggis, dan serai. Praktik mengekstrak tersebut menggunakan peralatan gelas sederhana dari laboratorium. Pada akhir acara, Melly berpesan kepada audiens yang umumnya pelajar dan mahasiswa agar tidak mudah menyerah. Dia pun mengakui bahwa lebih banyak menemui kegagalan saat melakukan formulasi di lab. “Namun  saat formula kita berhasil, semua kegagalan itu akan terbayarkan,” ujar Melly. (adl)

Baca
ZONA INTEGRITAS