Berita

Kyoto University: Riset LCA di P2 Kimia Berlangsung Progresif


19 September 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Rombongan Kyoto University yang dipimpin Prof. Dr. Toshiaki Umezawa dan perwakilan JICA (Japan International Cooperation Agency), Mitani Satoru, berkunjung ke Pusat Penelitian Kimia LIPI pada hari Selasa (19/09/2017). Kunjungan mereka didampingi rekan kerjasama mereka dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Prof. Dr. I Made Sudiana dan Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Prof. Dr. Subyakto. “Kunjungan kami ini untuk melihat sejauh mana LCA bisa diterapkan untuk pengembangan kolaborasi penelitian kami, “ ungkap Mitani Satoru saat menjelaskan latar belakang kunjungan. Mereka memang tengah terlibat dalam kerjasama penelitian terkait revegetasi alang-alang dengan sorghum pada lahan terdegradasi untuk memproduksi bioenergy dan material melalui program SATREPS (Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development) dan tengah mengkaji penerapan LCA untuk pengembangan kegiatan ini. “Kami sangat terbuka untuk kolaborasi kerjasama penelitian di masa mendatang, “ respon Dr. Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian yang membuka acara. Prof. Umezawa, Koordinator kegiatan penelitian SATREPS, kemudian menerangkan sepintas terkait kegiatan mereka. “Kegiatan ini merupakan kerjasama penelitian antara Kyoto University, JICA dan beberapa pusat penelitian di LIPI untuk pengembangan sumber daya alam ramah lingkungan,“ papar profesor enerjik berkacamata tersebut. “Salah satu potensi yang kami kaji adalah analisis LCA nya, “ lanjutnya. Dr. Ajeng Arum Sari, ketua Tim Perencanaan, Monitoring dan Evaluasi (PME) Penelitian P2 Kimia LIPI menguraikan lebih lanjut kegiatan penelitian yang telah dan tengah dilaksanakan di P2 Kimia LIPI. Secara khusus, Dipl. Ing. Haznan Abimanyu, Ph.D. menjabarkan kegiatan penelitian di Kelompok Penelitian Biomass and Environmental Chemistry yang dipimpinnya. “Kegiatan di tempat kami antara lain pengembangan bioetanol generasi kedua, pengolahan limbah dan LCA ini, “ papar Haznan yang merupakan peneliti lulusan Jerman dan Korea Selatan ini. Usai perkenalan dari masing-masing instansi, acara dilanjutkan dengan kajian potensi penggunaan LCA untuk program SATREPS ini. Materi dipresentasikan oleh peneliti senior LCA, Dr. Edi Iswanto Wiloso. “Kajian pendahuluan kami menunjukkan potensi pemakaian LCA untuk beberapa produk berbasis sorghum, “ papar peneliti yang mengambil doktor di bidang LCA di Leiden University, Belanda ini. “Sejumlah data inventori yang ada bisa kita jadikan referensi untuk menunjang penelitian ini, “ lanjutnya. Profesor Umezawa dan para partner tampak menyimak dengan seksama penjelasan Edi. Sesekali mereka mengajukan pertanyaan dan berdiskusi dengan Edi terkait data yang diperlukan untuk analisis LCA. “Kami siap untuk bekerjasama lebih lanjut guna penerapan LCA ini, “ ungkap Prof. Made Sudiana yang diaminkan oleh Prof. Subyakto. “Saya sangat gembira dengan adanya kompetensi LCA dan peluang penerapannya untuk mendukung penelitian ini, “ tambah Prof. Umezawa. “Ini merupakan hal baik yang bisa terus kita kembangkan di masa datang, “ lanjutnya. Di samping dihadiri sejumlah pejabat struktural, peneliti senior dan yunior di P2 Kimia, tampak hadir di acara tersebut para mahasiswa bimbingan seperti mahasiswa magang program S2 dari Leiden University – Delft Technical University, Belanda. Mahasiswa tersebut, Pelle Gerard Sinke, tengah mengambil penelitian lanjutan terkait aspek ketidakpastian dalam kajian LCA yang dibimbing oleh Dr. Edi Wiloso. Di samping itu ada pula mahasiswa S2 Institut Teknologi Bandung yang juga akan penelitian terkait LCA. Tindak lanjut kegiatan ini adalah undangan dari Prof. Umezawa kepada Edi untuk mempresentasikan kegiatan penelitian LCA ini di Kyoto pada bulan November mendatang. <aars/ P2 Kimia>

Baca

Liputan Khusus dari Bangkok: Thailand LAB INTERNATIONAL 2017


07 September 2017

[Liputan P2 Kimia, Bangkok] Masih dalam rangkaian ‘Thailand LAB INTERNATIONAL & BIO Facility Visit Program’, pada Rabu (6/9), Sujarwo selaku Ka. Sub. Bid. Diseminasi dan Kerjasama P2 Kimia mengikuti rangkaian kegiatan Thailand LAB INTERNATIONAL 2017. Acara yang diorganisasikan oleh VNU Exhibition Asia Pasific Co. Ltd. tersebut bertempat di Bangkok International Trade and Exhibition Centre (BITEC). Dibuka oleh Dr. Suthiweth Saengchantara, Director General Departement of Science Services, Ministry of Science and Technology Thailand, rangkaian kegiatan berlangsung dari 6-8 September 2017. Dalam pidato pembukaannya, Suthiweth menyampaikan bahwa Thailand memiliki kebijakan untuk mendorong perekonomian dengan inovasi melalui kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D). “Pemerintah telah menginisiasi banyak program untuk mendukung kebijakan penguatan inovasi. Kami memiliki program seperti Eastern Economic Corridor of Innovation (EECI), Food Innopolis, Innovation Coupon, Talent Mobility Program dan 300% tax exemption on R&D spending,” papar Suthiweth dalam pidatonya.   Secara khusus dalam wawancara ekslusif, Suthiweth memberikan pandangannya terkait peluang dan tantangan yang dihadapi pemerintah Thailand dalam merealisasikan kebijakan-kebijakannya. “Tantangan yang kami hadapi saat ini adalah penyediaan infrastuktur. Seperti kita ketahui, pembangunan infrastruktur untuk R&D membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, perkembangan teknologi juga berjalan sangat cepat. Kita harus berlomba secara global untuk dapat mengikuti perubahan dan perkembangan teknologi. Ini memerlukan kerja keras, kerjasama dan kepemimpinan yang mendukung. Dengan alokasi sekitar 1% dari GDP untuk R&D, kami harus benar-benar memiliki fokus yang jelas. Melalui Thailand 4.0” policy, kami melakukan transformasi terhadap kegiatan industri di Thailand. Policy tersebut mempromosikan penerapan modern innovation, smart idea, dan business connection,” Suthiweth menjelaskan. Even Tahunan Ditemui dalam rangkaian seremoni pembukaan, Mr. Teerayuth Leelakajornkij selaku Direktur Science and Technology Competence VNU Exhibitions Asia Pasific Co. Ltd menerangkan bahwa Thailand LAB INTERNATIONAL merupakan even tahunan yang menjadi leading market place bagi perkembangan sains dan teknologi laboratorium di Asia Tenggara. “Thailand LAB INTERNATIONAL menjadi ajang untuk mempertemukan lebih dari 330 leading exhibitors yang berasal dari 30 negara termasuk ilmuwan, laboratory experts, pelaku industri, dan calon pembeli potensial. Even ini memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk membuka peluang bisnis baru dan berinvestasi di Thailand maupun kawasan (Asia Tenggara red.),” ungkap Teerayuth dalam keterangannya. “Tahun ini kami menyediakan pavilion khusus untuk mitra kami dari Jerman, India, Korea Selatan, dan Taiwan.  Selain itu, kami juga bekerjasama dengan leading conference partners, komunitas ilmiah dan praktisi dari industri untuk menyelenggarakan konferensi ilmiah dan simposium. Tidak kurang dari 50 topik yang menghadirkan lebih dari 160 pembicara mendiskusikan tentang bioteknologi, biofarmasi, toksikologi, teknologi medis, virologi, lab safety, quality control, chemical analysis, inovasi laboratorium, dan lain-lain,” tambahnya. Sarana Promosi Handal Mengunjungi beberapa exhibitor, Sujarwo mencoba menggali manfaat apa saja yang diperoleh mereka terkait partisipasinya dalam even tahunan tersebut. Sebuah perusahaan lokal yang menjadi distributor dan juga menjual reagen kimia produk Thailand mengutarakan bahwa partisipasi dalam Thailand LAB INTERNATIONAL sangat membantu usahanya. Ditemui secara khusus di stannya, Ms. Sukanya Jantarapassvorn dari Saengvith Science Co. Ltd  menyampaikan pendapatnya. “Selain menjadi distributor produk luar negeri, kami juga memasarkan reagen-reagen kimia produksi lokal (Thailand red). Memang kami menemukan kendala terkait kepercayaan konsumen terhadap produk yang baru apalagi buatan lokal. Lebih lagi untuk reagen-reagen kimia. Melalui even inilah kami memperoleh peluang bertemu dengan kolega praktisi laboratorium untuk mengenalkan produk-produk yang kami miliki. Terus terang, partisipasi dalam expho semacam ini sangat membantu bisnis kami. Oleh karena itu, perusahaan kami tidak pernah melewatkan untuk ambil bagian dalam Thailand LAB INTERNATIONAL,” papar wanita yang merupakan Senior Sales Excecutive tersebut. Dalam kesempatan lain di Pavilion Taiwan, Richard Lee yang merupakan General Manager SMOBIO Technology Inc. memberikan komentarnya terkait penyelenggaraan Thailand LAB INTERNATIONAL tahun ini. Pria yang berkantor di Science-Based Industrial Park, Hsinchu City, Taiwan tersebut menyampaikan bahwa terdapat hal spesial dalam pelaksanaan even tahun ini. “Seingat saya, ini merupakan kali ketiga perusahaan kami berpartisipasi dalam even tahunan ini. Setidaknya sampai dengan tahun lalu, belum disediakan pavilion khusus untuk exhibitor asal Taiwan. Tahun ini organizer rupanya menerapkan sesuatu yang berbeda. Ini sangat memudahkan para pengunjung untuk mengenali kami, perusahaan asal Taiwan,” tutur Richard saat berdiskusi. Diskusi Ilmiah Mengikuti rangkaian Thailand LAB INTERNATIONAL, pada hari ketiga, Kamis (7/9), Sujarwo secara khusus berpartisipasi dalam diskusi ilmiah bertajuk ‘Challenges in Natural Product, Drug Discovery and Opportunities for Open Innovation and Policy under Collaboration in Asia Pasific’. Forum ini menghadirkan beberapa pembicara kunci seperti Dr. Mohamed Ibrahim Noordin dari IPHARM Malaysia, Dr. Atsushi Hasuoka dari Takeda Inc. Japan, dan Dr. Korbtham Sathirakul dari Mahidol Univesity Bangkok. Ketiga pembicara memaparkan pandangan masing-masing terkait tantangan dan peluang yang dihadapi dalam penemuan dan pengembangan obat-obatan berbasis bahan alam (natural product). “Penguatan peran institusi riset dalam penemuan dan pengembangan obat-obatan adalah sebuah keniscayaan,” kata Atsushi selaku direktur R&D Takeda Inc., industri farmasi asal Jepang. “Kami sangat menunggu penemuan dan inovasi yang dilakukan oleh institusi riset untuk kemudian dikembangkan menjadi produk bermanfaat dan bernilai ekonomi. Tentunya melalui mekanisme yang disepakati, kolaborasi antara institusi penelitian dengan industri harus difasilitasi,” tambah pria berkacamata tersebut. Networking Reception Untuk menutup rangkaian acara ‘Thailand LAB INTERNATIONAL & BIO Facility Visit Program’, pada Kamis malam (7/9) diselenggarakan Networking Reception. Acara yang bertempat di Liquid Pool Bar Fl. 9 Compass Skyview Hotel Bangkok tersebut menjadi ajang bagi seluruh peserta untuk membangun networking. Seluruh peserta nampak begitu antusias untuk saling bertukar kartu nama dan berdiskusi. Hal ini tentunya tidak dilewatkan oleh Sujarwo untuk membangun jejaring dengan kolega yang berasal dari Jepang, India, Taiwan, Laos, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Thailand, dan negara lainnya. <SJW/ P2 Kimia>

Baca

Diundang Hadiri Thailand Bio Facility Visit Program, P2 Kimia Jajaki Kerjasama


05 September 2017

[Berita P2 Kimia, Bangkok] Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) mendapat undangan untuk menghadiri “Thailand LAB INTERNATIONAL & BIO Facility Visit Program” dari VNU Exhibition Asia Pasific Co. Ltd. Program tersebut merupakan kerjasama antara VNU Exhibition Asia Pasific Co. Ltd dengan Thailand Center of Excellence for Life Sciences (TCELS). Tujuan utama dari program yang dilaksanakan 5-7 September 2017 adalah untuk memperkenalkan kegiatan Thailand LAB INTERNATIONAL dan fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh pusat-pusat unggulan milik pemerintah Thailand. Sujarwo, selaku Ka Sub. Bid. Diseminasi dan Kerjasama Pusat Penelitian Kimia berkesempatan untuk mewakili P2 Kimia pada program tersebut. Acara hari pertama Selasa (5/9) merupakan rangkaian kunjungan ke beberapa fasilitas riset milik institusi pemerintah Thailand. Kegiatan kunjungan ini diorganisasikan oleh Thailand Center of Excellence for Life Sciences (TCELS), sebuah organisasi publik di bawah Kementrian Sains dan Teknologi Thailand. TCELS yang didirikan sejak 2004 adalah focal point dari semua bisnis, penelitian dan investasi dalam industri life sciences yang saat ini sangat berkembang pesat di Thailand. Center for Cell and Gene Therapy Fasilitas yang dikunjungi pertama yaitu Center for Cell and Gene Therapy. Fasilitas yang terletak di Thailand Science Park, Pathumthani ini merupakan fasilitas tersertifikasi GMP untuk memproduksi sel yang akan digunakan dalam proses terapi medis. Untuk memberikan gambaran tentang aktivitas dari pusat unggulan tersebut, Dr. Kamchorn Balangura selaku Senior Adviser memberikan penjelasan kepada seluruh peserta program. Sembari memberi penjelasan, Kamchorn mengajak seluruh peserta untuk berkeliling di dalam fasilitas yang dimiliki oleh Kementrian Sains dan Teknologi Thailand itu.  “Fasilitas ini didedikasikan oleh pemerintah Thailand untuk mendukung pertumbuhan industri farmasi di negara kami. Kami menyadari bahwa sektor swasta cukup sulit untuk melakukan investasi pada bidang penelitian dan pengembangan. Untuk itu, kami memfasilitasi dan membuka kesempatan kepada mitra industri untuk bekerjasama,” ungkap lelaki yang sering berkunjung ke Bandung terkait pekerjaannya dengan PT. Bio Farma. Dalam kesempatan diskusi, Sujarwo banyak menggali informasi terkait pola-pola kerjasama yang dibangun antara pusat unggulan dengan mitra industri. Dr. Kamchorn Balangura menjelaskan bahwa Thailand Science Park menyediakan inkubator untuk dimanfaatkan oleh mitra industri. Dalam satu tahun tidak kurang dari enam puluh mitra industri memanfaatkan fasilitas yang berada di Kawasan Thamassat University tersebut. Setengah diantaranya merupakan pelaku bisnis pemula (startup company). Excellence Center for Drug Discovery Tempat kedua yang dikunjungi yaitu Excellence Center for Drug Discovery (ECDD) yang terletak di Mahidol University Bangkok. Fasilitas ini merupakan milik Fakultas Sains Mahidol University yang terletak di Rama VI Rd, Bangkok. Peserta program disambut oleh Dr. Tanakorn Osotchan selaku Wakil Dekan Bidang Riset dan Dr. Suparerk Borwornpinyo sebagai Direktur Eksekutif ECDD. Suparerk berkenan memberikan pemaparan sekaligus mengajak seluruh peserta untuk berkeliling di fasilitas yang dipimpinnya tersebut. “Seperti kita tahu bahwa penemuan dan pengembangan obat-obatan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Akan tetapi pekerjaan ini membutuhkan keahlian multidisiplin dan biaya yang sangat mahal. ECDD memiliki fokus untuk melakukan tahapan awal dari proses pengembangan obat-obatan yaitu drug discovery,” papar pria berkacamata yang sangat fasih berbahasa Inggris tersebut. Dengan jenis pekerjaan yang hampir sama antara P2 Kimia dengan ECDD, Sujarwo dan Suparerk berdiskusi banyak terkait tantangan yang dihadapi oleh masing-masing institusi. Salah satu diskusi yang menarik yaitu terkait pengembangan obat tradisional. Suparerk sangat antusias untuk ke depan dapat bekerjasama dengan P2 Kimia. National Biopharmaceutical Facility Terletak di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), National Biopharmaceutical Facility merupakan fasilitas terakhir yang dikunjungi oleh peserta program. Disambut langsung oleh Dr. Solot Suwanayuen, CEO National Biopharmaceutical Facility, seluruh peserta dipersilakan untuk memperoleh pemaparan dan melihat-lihat fasilitas yang juga tersertifikasi GMP tersebut. Secara khusus, Sujarwo diperkenankan untuk berdiskusi dengan Dr. Solot Suwanayeuan. Dalam diskusi tersebut mengemuka bagaimana strategi National Biopharmaceutical Facility menarik stakeholder untuk dapat melakukan kerjasama. “Beruntung kami di Thailand memiliki Asosiasi Industri Farmasi yang cukup aktif. Melalui mereka kami mempromosikan fasilitas yang kami miliki dan mengajak industri untuk bekerjasama dengan kami. Tentunya dalam hal ini pemerintah Thailand sangat mendukung. Bagi industri yang berminat melakukan kerjasama, pemerintah memberikan insentif khusus. Meskipun fasilitas ini sendiri juga sebenarnya sudah merupakan sebuah insentif dari pemerintah,” kata pria yang juga merupakan Vice President KMUTT Bangkhuntien. “Fasilitas kami membantu industri dalam pengembangan produk. Sebagai contoh, apabila meraka ingin membuat produk untuk keperluan uji klinis, kami support mereka. Selain itu kami juga melakukan transfer teknologi dari kegiatan penelitian dan pengembangan yang dihasilkan oleh kampus ini. Juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada pelaku industri farmasi,” lanjut Solot dalam sesi diskusi yang hangat tersebut. “Saya belajar banyak dari rangkaian kunjungan ini. Ini akan menjadi bekal bagi saya khususnya dan institusi saya pada umumnya,” ungkap Sujarwo di akhir kunjungan. <SJW/ P2 Kimia>

Baca

Seru! Pemenang Writingthon Observasi P2 Kimia Hingga Simak Paparan Kapus


25 Agustus 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Di tengah-tengah semaraknya perayaan HUT LIPI ke-50 dan HUT RI ke-72 hari Jum’at (25/8), nampak sejumlah orang yang tengah asyik mengobservasi kegiatan penelitian di Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI. Mereka adalah para pemenang lomba Writingthon yang digelar Pusat Penelitian Iptek (Puspiptek) bekerja sama dengan Bitread.  Writingthon merupakan kompetisi penulisan artikel terkait tokoh iptek atau ilmuwan Indonesia yang digelar dalam rangka Puspiptek Innovation Festival 2017. Dari hasil seleksi telah terpilih 10 orang pemenang yang dikumpulkan di Puspiptek selama tiga hari untuk menyelesaikan karya tulis terkait kegiatan penelitian di Puspiptek. Di hari pertama (Jum’at), siang hari para peserta didampingi panitia disebar di sejumlah pusat penelitian yang ada di Puspiptek. Dua dari para pemenang, Nunik Utami dan Heni Prasetyorini berkunjung ke P2 Kimia LIPI. Mereka diajak berkunjung ke sejumlah fasilitas riset terutama terkait bioenergi didampingi peneliti P2 Kimia, Sudiyarmanto, S.T. M.T. Di samping itu, mereka juga bertemu dengan Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono untuk berdiskusi terkait kebijakan pengembangan riset di P2 Kimia. Sore harinya, para peserta dikumpulkan di Wisma Tamu Puspiptek. Mereka diajak mendengarkan semacam kuliah dari para peneliti berprestasi di Puspiptek. Agus termasuk yang diundang sebagai narasumber di pertemuan tersebut. “Ini merupakan upaya untuk lebih mengenalkan dunia penelitian di Puspiptek kepada masyarakat luas lewat tulisan, “ terang Dwi Wiratno Prasetijo, M.Eng, Kepala Bagian Tata Usaha Puspiptek saat memberikan sambutan. Di acara tersebut, Agus membeberkan pengalamannya, baik sebagai peneliti maupun pemimpin lembaga penelitian kepada para pemenang. “Saat kuliah di Jepang, kegiatan penelitian dilakukan dengan tekun dari pagi hingga dini hari di laboratorium universitas, “ kenang Agus menceritakan pengalamannya saat kuliah di Jepang. “Saat post doctoral di Swiss, kegiatan penelitian dilakukan dengan mengutamakan efektivitas,” lanjutnya membandingkan. “Budaya kerja keras, fokus dan ketekunan yang telah terbentuk tersebut merupakan kunci penting kesuksesan kegiatan penelitian, “ simpul pria yang telah terdaftar dengan 24 paten di Indonesia tersebut. Agus kemudian menceritakan pengalamannya memimpin instansi riset. Menurutnya, dengan keterbatasan anggaran riset dari pemerintah saat ini, para peneliti harus lebih kreatif dalam mencari terobosan pendanaan dari luar. “Alhamdullillah, di tempat saya para peneliti masih mampu melakukan terobosan untuk kegiatan penelitiannya meskipun dengan keterbatasan anggaran, “ ujarnya. Saat sesi diskusi, para peserta tampak bersemangat mengajukan pertanyaan ke para pembicara. Mereka tampak penasaran dengan kiat-kiat yang harus ditempuh agar kegiatan penelitian bisa berjalan. Sejumlah contoh kasus pun dikemukakan untuk mendapatkan inti sari permasalahan dan jawaban. Hasil dari observasi dan diskusi ini akan dituangkan para peserta dalam sebuah buku yang akan diterbitkan di acara puncak Puspiptek Innovation Festival (28/9-1/10). <aars/ p2kimia>.

Baca

UII dan Grasindo Jalin Kolaborasi Riset dengan P2 Kimia LIPI


24 Agustus 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Sebagai satuan kerja di LIPI, P2 Kimia terus melakukan fungsi pengembangan riset dan diseminasi hasil-hasilnya. Kamis (24/08), P2 Kimia bersama mitranya melakukan penandatanganan 2 (dua) kerjasama secara berurutan. Yang pertama antara P2 Kimia dengan Program Studi Teknik Kimia – Universitas Islam Indonesia (UII) dan yang kedua adalah antara P2 Kimia dengan PT. Graha Atsiri Indonesia (Grasindo). Bertempat di Ruang Rapat Utama P2 Kimia, dari UII hadir Kepala Program Studi Teknik Kimia beserta sejumlah staf pengajar. Adapun dari PT. Graha Atsiri Indonesia, hadir Mochtar Noor Istizam yang merupakan direktur utama di perusahaan yang fokus pada pengembangan atsiri tersebut. Mengawali rangkaian acara Dr. Agus Haryono selaku Kepala P2 Kimia menyampaikan sambutan sekaligus ucapan selamat datang kepada kolega dari UII dan PT. Grasindo. “Pagi ini merupakan momen yang sangat penting bagi kita bersama karena institusi penelitian, universitas dan industri akan bersepakat untuk melakukan riset dan menerapkan riset tersebut secara nyata di dunia usaha,” buka Agus dalam sambutannya. “Melalui kegiatan penandatangan kerjasama ini sinergi antara akademisi, bisnis dan institusi penelitian akan dapat terjalin. Ini merupakan pola ideal yang diharapkan pemerintah kita selama ini terkait pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita bersama berharap pola-pola semacam ini akan terus berlangsung sehingga kegiatan penelitian dan pengembangan semakin mendapat posisi di Indonesia,” lanjut pria yang juga peneliti senior di P2 Kimia tersebut. Agus lalu memperkenalkan staf dari P2 Kimia yang hadir dalam seremoni penandatangan kerjasama. Prof. Tursiloadi, Prof. Yanni Sudiyani, Dr. Nino Rinaldi, Dr. Rizna Triana, Egi Agustian, M.Eng, Dr. Adep Dwiatmoko merupakan para peneliti yang hadir dalam seremoni tersebut. Selain itu, nampak juga Dr. Yenni Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian (PDHP), serta Sujarwo, Kepala Sub Bid Kerjasama P2 Kimia. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dan pemaparan dari Ketua Program Studi Teknik Kimia UII, Dr. Faisal R. M. “Kami menyampaikan terimakasih atas sambutan hangat dari P2 Kimia. Penandatanganan nota kesepahan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Kepala Pusat Penelitian Kimia yang lalu ke kampus kami,” ungkap Faisal dalam pembukaannya. “Saya berharap, penandatangan ini menjadi awal hubungan baik antara UII dengan LIPI untuk bersinergi dalam kegiatan penelitian dan pengembangan iptek. Selanjutnya, kita akan merealisasikan nota kesepahaman ini ke dalam kerjasama-kerjasama teknis implementatif,” ujar Faisal dalam kesempatan tersebut. Guna memperkenalkan profil P2 Kimia, Dr. Yenni Meliana menyampaikan pemaparan profil P2 Kimia. “Satuan kerja kami terdiri dari bagian, bidang, serta kelompok penelitian. Kelompok penelitian merupakan kelompok jabatan fungsional. Kami memiliki beberapa kelompok penelitian, mulai dari food and analytical chemistry sampai dengan biomass and enviromental chemistry,” papar wanita yang merupakan Kabid PDHP tersebut. Sebagai inti dari kegiatan hari itu, selanjutnya dilakukan seremoni penandatangan. “Untuk penandatangan pertama, kami mengundang Direktur PT. Grasindo dan Kepala P2 Kimia untuk melakukan prosesi penandatanganan. Serta kami undang Prof. Tursiloadi untuk menjadi saksi penandatangan ini,” Sujarwo mempersilakan prosesi penandatanganan antara P2 Kimia dengan PT. Grasindo. Setelah sesi penandatanganan pertama selesai, selanjutnya Sujarwo mempersilakan Ketua Prodi Teknik Kimia UII dan Kepala Pusat Penelitian Kimia untuk melakukan penandatangan nota kesepahaman. “Kami mengundang Ibu Prof. Yanni Sudiyani untuk menjadi saksi penandatanganan nota kesepahaman antara Program Studi Teknik Kimia UII dengan P2 Kimia mengenai pendidikan dan penelitian,” pinta Ka Sub Bid Kerjasama kepada Yanni, Professor sekaligus peneliti senior bidang biomassa dan energi P2 Kimia. Setelah prosesi penandatangan selesai, acara dilanjutkan dengan foto bersama dan tanya-jawab. Usai diskusi yang berlangsung hangat dan akrab tersebut, acara dilanjutkan dengan kunjungan ke beberapa laboratorium serta fasilitas pilot plan bioetanol generasi kedua. Dr. Adep Dwiatmoko memandu rombongan berkeliling di Gedung 452 Kawasan Puspiptek Serpong, tempat P2 Kimia berada. <SJW/ p2kimia>

Baca

Nice Shoot!! Upaya Percantik Visualisasi Produk Riset PP Kimia lewat Kelas VIP Fotografi


21 Agustus 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Hasil penelitian dalam bentuk produk akhir siap pakai seyogyanya adalah masterpiece dari seorang peneliti. Maka perlu dirancang dokumentasi digital dari produk produk digital ini sehingga bisa dengan layak mewakili hasil dari sebuah kerja keras penelitian yang berbulan bulan dan bertahun tahun. Merancang dokumentasi gambar yang menarik adalah juga suatu wujud apresiasi diri dan hasil kerja dari peneliti itu sendiri. Karena itu, peneliti memang perlu untuk sedikit menyisihkan waktu dan tenaganya untuk menghasilkan dokumentasi gambar yang menarik dan cukup mewakili pesan yang ingin disampaikan oleh gambar tersebut. Demikianlah kira-kira yang disampaikan Muhammad Yuniadhi Agung dalam Photogragphy VIP Class di PP Kimia LIPI Serpong pada 21 Agustus 2017. Workshop dihadiri oleh sekitar 30 peserta yang berasal dari UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Indonesia, Universitas Jendral Soedirman dan para peneliti PP Kimia LIPI. Muhammad Yuniadhi Agung, atau yang lebih akrab dipanggil Mas Agung, adalah fotografer liputan harian koran KOMPAS yang sudah menggeluti profesinya selama 15 tahun. Perkenalannya dengan PP Kimia LIPI dimulai saat meliput penerima L’Oreal FWIS Award yang merupakan peneliti muda di PP Kimia LIPI.  “Produk akhir PP Kimia LIPI banyak yang berukuran kecil. Jadi perlu untuk menyediakan lensa makro untuk mendapatkan hasil foto yang lebih fokus. Lensa ini harganya cukup terjangkau karena penggunanya memang tidak terlalu banyak. Saya percaya ini akan jadi investasi yang sangat bagus untuk PP Kimia LIPI agar bisa menghasilkan foto foto yang menarik nantinya.” jelas Mas Agung saat ada peserta yang menanyakan teknik pengambilan gambar dari salah satu foto yang ditampilkannya. “Memang bisa saja kita atur kamera kita untuk menangkap gambar pada resolusi yang paling besar, lalu gambar tersebut kita crop di sebagian benda yang menjadi focus foto kita. Saat ini sudah banyak kamera yang mampu menangkap gambar dengan resolusi besar. Namun hasilnya tidak akan sama dengan lensa makro yang bisa menghasilkan gambar yang fokus pada objek kita dengan latar yang sedikit buram. Saya sangat merekomendasikan PP Kimia punya lensa makro,” lanjutnya. Kemudian Mas Agung menggugah pemahaman peserta tentang seberapa besar peran sebuah gambar dalam menyampaikan pesan. Misalnya saja untuk produk ekstrak herbal sebagai bahan baku obat yang hingga saat ini masih menjjadi produk penelitian unggulan PP Kimia LIPI. Yang dilakukan peneliti PP Kimia saat ini dalam mempresentasikan produk ekstrak herbal adalah dengan mengambil foto produk tersebut, entah itu dalam botol atau kemasan lainnya, di dalam laboratorium atau dengan menggunakan latar berwarna netral, hitam atau putih. Hasil fotonya secara teknik sudah cukup baik, jelas fokusnya dan beberapa sudah diambil dari sudut yang tepat. Untuk menceritakan keunggulan produk tersebut nantinya, misalnya di slide presentasi atau brosur, di sekeliling produk tersebut akan diperkaya dengan tulisan tulisan terkait. Padahal latar belakang dari foto yang diambil bisa digunakan untuk “lebih bercerita”. Misalnya saja jika nilai yang ingin ditonjolkan dari sebuah ekstrak herbal adalah sifatnya yang natural, berasal dari alam. Maka foto bisa diambil dengan latar belakang dedaunan, di atas bebatuan dan di pinggir air yang mengalir. Dengan cara ini pesan bahwa produk berasal dari bahan yang alami tersampaikan dengan lebih elegan. Pelatihan dilanjutkan dengan masing masing peserta mencoba mengambil foto dari produk penelitian mereka masing masing. Pengambilan foto dilakukan baik di dalam maupun di luar ruangan. Berbekal pelatihan singkat ini, pantas dinantikan foto foto produk penelitian PP Kimia LIPI yang akan menghias situs resmi atau slied slide presentasi peneliti LIPI di masa yang akan datang. <TBB/p2kimia>

Baca

Merdeka!! Berbaju Adat, Karyawan P2 Kimia Hadiri Upacara 17 Agustus di Puspiptek


18 Agustus 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Nuansa beraneka ragam nampak mencolok di upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, yang berlangsung di Lapangan Puspiptek, Tangerang Selatan, Kamis (17/8-2017). Para peserta upacara tampak berjejer rapi mengenakan pakaian adat nusantara untuk menunjukkan keberagaman. Ada yang berbaju adat Aceh, Sumatera, Jawa, Sulawesi, NTT, Makassar, dan sebagainya. Tak ketinggalan, para pejabatnya juga tampak atraktif mengenakan beragam baju adat daerah. "Marilah kita bersama membangun bangsa. Saling gotong royong, bahu-membahu dan saling melengkapi untuk Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur," ujara Menteri Ristekdikti, Muhamad Nasir saat memberikan sambutan selaku inspektur upacara. “Saya mengajak kita semua untuk ber-Bhineka Tunggal Ika dan bersama sama menangkal radikalisme, dan membangun bangsa yang penuh integritas” lanjut Menristekdikti yang mengenakan baju adat Betawi Upacara tersebut dihadiri oleh satuan kerja di kawasan Puspiptek, termasuk dari LIPI, BPPT, BATAN dan sebagainya. Beberapa pejabat yang hadir dalam acara itu diantaranya Kepala Puspiptek Dr. Ir. Sri Setiawati, M. A, Kepala. Keamanan Puspiptek Ir. Joko Raharjo, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional/Batan Jarot Sulistyo Wisnu Broto dan Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Dr. Agus Haryono. Di samping itu, tampak hadir pula rombongan paduan suara dari Institut Teknologi Indonesia yang membawakan lagu-lagu nasional dan kemerdekaan. Para karyawan P2 Kimia LIPI tampak kompak mengenakan berbagai baju adat nusantara. Baik para peneliti senior maupun yunior, pejabat, dan staf administrasi berbaur akrab dengan barisan peserta LIPI lainnya. Mereka mengikuti jalannya upacara dengan khidmat dan tertib. Di acara tersebut, Menristekdikti memberikan pula penghargaan Satya Lencana Karya Satya terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdi selama 10-30 tahun di dalam lingkup kawasan Puspiptek. Usai upacara, para peserta tampak berjabat tangan dan berfoto akrab dengan pakaian adat masing-masing. Semuanya tampak indah berbalutkan kebersamaan. “Hari merdeka... nusa dan bangsa... hari lahirnya bangsa Indonesia.. Merdeka!” (Lirik Lagu Hari Merdeka ciptaan H. Mutahar) <aars/p2k>  

Baca

Reviewer: PUI Bioetanol G-2 Selangkah Lebih Maju


03 Agustus 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Ditunjuk sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Kedua oleh Kemenristekdikti menjadi tantangan tersendiri bagi Pusat Penelitian Kimia (P2K) untuk terus berkiprah di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai upaya pengembangan terus dilakukan guna meningkatkan performa P2K sebagai rujukan institusi penelitian di Indonesia.  Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui monitoring-evaluasi eksternal (monev). Kegiatan monev diadakan hari Selasa (1/8). Tim monev terdiri dari Mely Maulidiani (Kemenristekdikti) dan dua pakar reviewer yaitu Prof. Dr. Bambang Prasetya (Badan Standardisasi Nasional) dan Prof. Dr. Misri Ghozan (Universitas Indonesia). Acara monev dibuka oleh Prof. Dr. M. Hanafi dari P2K dilanjutkan dengan presentasi laporan capaian kegiatan oleh Prof. Dr. Yanni Sudiyani. “Kegiatan ini sangat penting guna merealisasikan desain kegiatan ke arah yang lebih baik lagi sehingga tujuan akhir sebagai status PUI Bioetanol G-2 dapat tercapai” papar Prof. Dr. M. Hanafi. Secara keseluruhan para reviewer tampak memahami semua kegiatan yang telah dipaparkan. “Ada satu masalah penting yang harus diselesaikan oleh P2K dengan mencari pakar-pakar lokal yang mampu memperbaiki peralatan kendali pilot plant”, usul Prof. Dr. Bambang Prasetya di tengah forum diskusi. Sementara itu Prof. Dr. Misri Ghozan menekankan pada strukturisasi hasil kegiatan yang dilaporkan sehingga akan memudahkan untuk mengevaluasi lebih lanjut. Respon dan usulan sangat positif ditanggapi sangat baik oleh koordinator tim PUI, Prof Dr. Yanni Sudiyani. Yanni beserta tim akan menindaklanjuti usulan tersebut dengan mencari pakar lokal dan strukturisasi pelaporan capaian.  Menutup kegiatan Monev, semua peserta kegiatan Monev kemudian berfoto bersama dengan pose khas salam PUI dan dilanjutkan dengan kunjungan ke pilot plant Bioetanol G-2.  Diharapkan, P2K dapat meningkatkan status PUI Bioetanol dari status PUI binaan menjadi status PUI mandiri yang menjadi Research Center for Excellence di Indonesia <FA/ p2kimia>.    

Baca

Jajaki Peluang Kerja Sama, Swiss Contact Kunjungi Pusat Penelitian Kimia


02 Agustus 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Rabu siang (02/8), P2 Kimia menerima kunjungan dari Swiss Contact Perwakilan Indonesia. Swiss Contact merupakan lembaga swadaya masyarakat (NGO) asal Swiss yang berfokus untuk membantu peningkatan ekonomi masyarakat di negara-negara berkembang. Benedikt Mathis selaku project coordinator Swiss Contact Perwakilan Indonesia datang ke P2 Kimia untuk penjajakan kerjasama dalam rangka meningkatkan kualitas minyak atsiri. Kedatangan Ben, sapaan lelaki berkacamata tersebut diterima oleh Sujarwo, Ka. Sub Bid Kerjasama, Arief Setiawan, Ka. Sub Bid Pengelolaan Hasil Penelitian, Dr. Edi Iswanto Wiloso, peneliti senior LCA dan Dr. Anny Sulaswati, peneliti senior minyak atsiri. Di samping itu, turut hadir pula para anggota tim seperti Muryanto dan Egi Agustian. “Kedatangan saya ke P2 Kimia dalam rangka penjajakan kerjasama untuk melakukan kajian LCA dan peningkatan kualitas teknologi pengolahan hasil perkebunan rakyat,” ujar Ben dalam perkenalan awalnya. Selanjutnya Ben memaparkan presentasi tentang Swiss Contact dan kegiatan-kegiatan apas saja yang telah dan sedang dikerjakan khususnya di Indonesia.  “Swiss Contact telah lama bersama-sama dengan masyarakat untuk mengembangkan praktik pertanian yang baik. Sampai sekarang, melalui proyek kami, Swiss Contact memberikan pendampingan kepada petani coklat,“  lanjut Ben dalam pemaparannya. Untuk memperkenalkan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh P2 Kimia khususnya dalam kajian LCA dan pengembangan minyak atsiri, Dr. Edi Wiloso dan Dr. Anny Sulawasti memberikan pemaparannya. Pada kesempatan pertama, Dr. Edi Wiloso yang merupakan ketua tim penelitian LCA P2 Kimia memberikan pemaparannya. “Kami melalui kelompok penelitian Kimia Lingkungan dan Biomassa memang memiliki konsen dalam penelitian LCA,” buka Edi dalam pemaparannya. Kemudian pria yang merupakan peneliti utama di P2 Kimia tersebut meneruskan presentasinya tentang apa saja kegiatan LCA yang telah dilakukan di P2 Kimia. Selain itu, Edi juga memberikan gambaran terkait aspek-aspek kajian LCA khususnya dalam pengolahan hasil perkebunan. Berikutnya, diberikan pemaparan oleh Dr. Anny Sulaswati tentang teknologi-teknologi yang telah dikembangkan P2 Kimia dalam penyulingan minyak atsiri. Anny mengungkapkan bahwa P2 Kimia telah memiliki sejarah dan pengalaman yang panjang dalam pengembangan teknologi tersebut. “Kegiatan penelitian dan pengembangan teknologi penyulingan minyak atsiri di P2 Kimia bukan saja pada skala laboratorium. Bersama dengan stakeholder, kami melakukan pengembangan untuk skala industri. Seperti kegiatan kami di Pamengpeuk, Tasikmalaya, dan Banyumas, yang dapat dilihat pada gambar-gambar di slide saya,” papar Anny dalam presentasinya. “Mudah-mudahan dengan pengalaman kami selama ini, P2 Kimia dapat mendorong upaya Swiss Contact berkontribusi positif di masyarakat,” tutup wanita yang merupakan peneliti utama di P2 Kimia tersebut. Menjelang sore, pertemuan tersebut ditutup. Tidak lupa Sujarwo selaku Ka. Sub. Bid. Kerjasama menyampaikan bahwa P2 Kimia sangat terbuka untuk bekerjasama dengan Swiss Contact. “Pada prinsipnya kami sangat menyambut baik untuk dapat melakukan kerjasama ini. Pembahasan lebih detail tentunya sangat diperlukan untuk menindaklanjuti inisiasi kerjasama ini,” ungkap Sujarwo menutup pertemuan tersebut. <SJW/P2 Kimia>

Baca

Hadirkan Peraih Nobel Perdamaian 2013, P2 Kimia LIPI Tuan Rumah Studium General OPCW


27 Juli 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Dalam beberapa hari terakhir, media nasional ramai memberitakan tentang kunjungan Direktur Jendral Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons/OPCW (Organisasi Pelarangan Senjata Kimia), Ahmet Üzümcü ke tanah air.  "Indonesia telah meratifikasi Konvensi Senjata Kimia sejak tahun 1998 dan telah menjadi pendukung aktif Konvensi Senjata Kimia," demikian Üzümcü dalam pernyataan tertulis Jumat petang atau Sabtu (29/7/2017) WIB sebagaimana dilansir dari kumparan.com.  Diawali kunjungan kerja pada hari Kamis (27/7), Üzümcü bertemu dengan sejumlah pejabat seperti Menteri Luar Negeri RI (Retno L.P. Marsudi), Menteri Perindustrian RI (Airlangga Hartato) dan para pemangku kepentingan lainnya. Selanjutnya Üzümcü menghadiri acara web seminar (webinar) yang diselenggarakan di Jakarta. Webinar ini diadakan LIPI bekerja sama dengan Himpunan Kimia Indonesia (HKI), Responsible Care Indonesia (RCI), Universitas Indonesia, United States Chemical Security Program (US SCP), dan United States Civilian Research and Development Foundation for the Independent States of the Former Soviet Union (US CRDF) Global. Acara ini bertemakan "Chemical Security Webinar for Indonesia-Chemical Management Regulations, Tools and Best Practices".  "Tidak ada alat yang bisa mendeteksi penyalahgunaan bahan kimia berbahaya. Yang ada adalah sistem yang dibuat untuk mengamankannya agar tidak membahayakan masyarakat," kata Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Agus Haryono usai acara webinar tersebut.  Agus menambahkan, bahan kimia yang awalnya bukan merupakan B3 jika dilakukan pencampuran tertentu bisa menjadi B3 atau sebaliknya. Misalnya saja asam sulfat yang bersifat korosif dan melelehkan tulang, atau pestisida yang bisa menjadi senjata kimia.  LIPI berperan mendukung aktivitas otoritas nasional (otnas) KSK Indonesia melalui pengembangan kapasitas laboratorium nasional terkait analisa bahan kimia berbahaya. Selain itu, LIPI juga aktif dalam mendiseminasikan pentingnya keselamatan dan keamanan kimia di Indonesia.  Studium Generale di P2 Kimia LIPI  Pada hari Jum’at (28/7), diplomat senior Turki tersebut menjadi pembicara di acara Studium General di Pusat Penelitian Kimia LIPI. Tema yang diusung di acara studium general tersebut adalah “The Role of Science in the Implementation of Chemical Weapons Convention (Peranan Sains dalam Penerapan Konvensi Pelarangan Senjata Kimia)”.  Acara ini dihadiri oleh tamu undangan khusus yang terdiri dari para pejabat pemerintahan dan industri, termasuk LIPI, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Industri, Responsible Care Indonesia (RCI) dan Federasi Industri Kimia Indonesia (FIKI). Di samping itu, sejumlah peneliti senior dan junior dari P2 Kimia LIPI maupun pusat penelitian lainnya di Kawasan Puspiptek juga turut hadir menyimak kuliah tamu dari Dirjen OPCW tersebut.  Sebelum memberikan ceramahnya, Üzümcü disambut di ruang VIP bersama Wakil Kepala LIPI, Dr. Bambang Subiyanto, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik, Dr. L.T. Handoko, Kepala P2 Kimia dan para tamu undangan khusus. Dirjen OPCW tersebut berdiskusi terkait program terbaru pengembangan dan penerapan konvensi senjata kimia. Dibahas pula beberapa potensi kerjasamanya di masa datang. Usai ramah tamah, rombongan beralih ke ruang seminar utama di lantai 2. Di sini, Üzümcü memberikan kuliahnya terkait “Ethics in Sciences” kepada sekitar 100 orang yang telah hadir.  “His Excellency Ahmet Üzümcü telah menjadi Direktur Jendral OPCW sejak tahun 2009 dan terpilih lagi pada tahun 2013, “ papar moderator Dr. Ir. Wuryani saat membacakan sekilas profil pembicara hari itu. Wuryani sendiri merupakan peneliti senior P2 Kimia LIPI yang aktif terlibat di kegiatan OPCW sejak organisasi tersebut berdiri (tahun 1997). Pada tahun 2013, OPCW tempat Wuryani dan Üzümcü bernaung menerima anugerah nobel perdamaian dari PBB.   “Para ilmuwan bertanggung jawab mengembangkan invensi yang sesuai kode etik dan norma-norma universal, “ tegas Üzümcü. “Dengan demikian kita semua bisa berpartisipasi mewujudkan dunia yang bebas dari senjata kimia, “ harapnya.  Indonesia telah berpartisipasi dalam berbagai upaya pencegahan senjata kimia, diantaranya meratifikasi konvensi senjata kimia dilakukan pada 1998 melalui Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 1998, membentuk Otnas KSK melalui Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2017 dan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2017. Di samping itu, Indonesia telah pula memiliki UU Nomor 9 Tahun 2008 terkait Penggunaan Bahan Kimia dan Pelarangan Bahan Kimia sebagai Senjata Kimia.  Otoritas Nasional Indonesia Senjata Kimia diketuai Menteri Perindustrian berdasar Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2017. LIPI sendiri (Deputi IPT) merupakan salah satu anggota Otnas tersebut bersama Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Pertanian, Kepolisian RI, Kementerian Perdagangan, dan sebagainya.  Usai sesi ceramah dan tanya jawab, kuliah diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta. <aars/ p2 kimia>  Catatan: sumber berita lainnya dapat dilihat antara lain di antaranews.com, Kementerian Luar Negeri RI, LIPI, viva.co.id, kumparan.com, dan lain-lain.

Baca

Diskusikan Riset, Sivitas Tsukuba University Kunjungi Peneliti P2 Kimia LIPI


25 Juli 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Selasa pagi (25/07), sebuah mobil MPV putih berhenti di lobi P2 Kimia, Kawasan Puspiptek Serpong. Sebanyak enam orang berwajah khas Asia Timur keluar dari mobil dan disambut oleh Ka Sub Bid Kerjasama P2 Kimia, Sujarwo. Mereka adalah tamu dari Tsukuba University-Jepang yang terdiri dari tiga profesor dan empat mahasiswanya. Satu dari mahasiswa tersebut adalah Hakikie Melanie, peneliti muda P2 Kimia LIPI yang tengah mengambil studi doktoral. Prof. Mitsutoshi Nakajima selaku pimpinan dan rombongan kemudian dipersilakan untuk menuju ruangan Kepala P2 Kimia guna beramah-tamah dengan pimpinan P2 Kimia, Dr. Agus Haryono. Setelah ramah-tamah, para tamu dipersilakan untuk menuju ruang rapat lantai 2 yang disana sudah menanti para koordinator penelitian, peneliti senior, dan peneliti junior P2 Kimia. Untuk mengawali acara kunjungan selama setengah hari itu, Kepala P2 Kimia menyampaikan sambutan sekaligus pemaparan terkait profil instansi yang dipimpinnya. “Selamat datang saya ucapkan kepada kolega dari Tsukuba di P2 Kimia. Sebuah kehormatan bagi P2 Kimia mendapat kunjungan ini. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk dapat melakukan kolaborasi antara LIPI dengan Tsukuba University,” ungkap Agus mengawali sambutan dan pemaparannya. “P2 Kimia sebagai bagian dari LIPI merupakan satuan kerja dengan fokus utama melakukan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kami memiliki beberapa kelompok penelitian, mulai dari food and analytical chemistry sampai dengan biomass and enviromental chemistry,” lanjut pria yang dari sarjana sampai doktoralnya ditempuh di Jepang tersebut. Lalu Agus memberikan pemaparan lebih detail tentang profil P2 Kimia, kegiatan-kegiatan penelitian, dan hasil-hasil apa saja yang sudah diperoleh P2 Kimia selama ini. Selanjutnya, Prof. Mitsutoshi Nakamija selaku ketua rombongan dipersilakan untuk memberikan pemaparan terkait profil Tsukuba University khususnya Food and Seawed Science and Engineering Research Group tempatnya memimpin kelompok penelitian tersebut. “Saya selaku pimpinan rombongan menyampaikan terimakasih atas sambutan yang hangat dari P2 Kimia. Saya bersama Prof. Sosaku Ichikawa, Prof. Kiyokazu Ujiie, dan empat mahasiswa saya Yuki Maruyama, Sota Matsumoto, Satoshi Matsumoto dan Hakikie Melanie sedang dalam rangkaian kunjungan kami ke Indonesia. Instansi yang sudah kami kunjungi adalah P2 Oseanografi LIPI, sekarang ke P2 Kimia dan selanjutnya ke Universitas Hassanudin Makassar,” terang Nakajima dalam pemaparan awalnya. Nakajima kemudian memberikan pemaparan tentang Tsukuba University dan kegiatan-kegiatan penelitian yang beliau lakukan bersama dengan tim. Dalam presentasinya, pria berkacama tersebut juga menjelaskan tentang teknologi-teknologi yang telah dikembangkan oleh universitasnya dalam bidang pangan. Untuk memperkenalkan kegiatan penelitian pangan di P2 Kimia, Zatil Athaillah, peneliti dari kelompok penelitian pangan dan kimia analitik kemudian memberikan pemaparannya. “Saya mewakili kelompok penelitian pangan menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran koordinator kelompok penelitian kami karena ada kegiatan lain. Keltian pangan telah mengembangkan makanan fungsional (functional food). Kami juga mencoba melakukan inovasi dengan membuat eskrim berbahan baku tempe. Hal ini dilakukan supaya anak-anak penyuka eskrim memperoleh manfaat dari kandungan gizi tempe,” ungkap Zatil dalam presentasinya. Kemudian dia memaparkan rencana kegiatan kelompok penelitian pangan sampai dengan 2019. Selain kelompok penelitian pangan, diberikan juga pemaparan tentang penelitian biomassa oleh koordinator kelompok penelitian Biomassa dan Kimia Lingkungan P2 Kimia, Dr. Haznan Abimanyu. Dalam presentasinya, Haznan memberikan informasi tentang kegiatan apa saja yang sudah dilakukan P2 Kimia khususnya dalam pemanfaatan biomassa untuk energi. Pria yang merupakan peneliti senior tersebut juga memaparkan kegiatan pengembangan bioetanol generasi ke-2 berbahan baku tandan kosong kelapa sawit. “Kami melakukan kerjasama dengan KIST-Korea melalui KOICA dalam pengembangan teknologi pembuatan bioetanol. Saat ini, penelitian bioetanol di P2 Kimia juga merupakan salah satu Pusat Unggulan Iptek binaan Kemenristekdikti,” papar Haznan dalam kesempatan tersebut. Setelah sesi pemaparan, berikutnya dilakukan tanya-jawab dari kedua belah pihak untuk menggali lebih dalam kegiatan penelitian masing-masing. Nampak begitu antusias para peserta kunjungan tersebut dalam melakukan tanya-jawab. Hadir dalam sesi diskusi tersebut diantaranya Prof. M Hanafi, koordinator kelompok penelitian bahan alam dan farmasi P2 Kimia, Dr. Anny Sulaswati, peneliti utama yang juga melakukan penelitian pangan. Selain itu, para peneliti madya dan peneliti muda dari berbagai kelompok penelitian di P2 Kimia. Sebelum melakukan kunjungan ke beberapa laboratorium sebagai akhir dari rangkaian kunjungan, dilakukan penyerahan kenang-kenangan dari kedua belah pihak dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Kemudian rombongan dari Tsukuba University berkeliling melihat fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh P2 Kimia, baik laboratorium maupun fasilitas lainnya. Menjelang tengah hari, rangkaian acara kunjungan berakhir dengan ramah-tamah dan jamuan makan siang di ruang rapat Utama P2 Kimia. <SJW/p2kimia>

Baca

Rakor LIPI dengan Pemprov Aceh, P2 Kimia Paparkan Teknologi Pengolahan Minyak Atsiri


19 Juli 2017

[Berita P2 Kimia, Banda Aceh] Sebagai bagian dari rangkaian acara “Rapat Koordinasi dan Pengembangan Pemerintah Aceh dan Tindak Lanjut Kerjasama LIPI dengan Pemerintah Provinsi Aceh” yang dilaksanakan di Banda Aceh 10-11 Juli 2017, Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) diminta  untuk memberikan pemaparan terkait standard pengolahan minyak nilam. Rapat koordinasi tersebut berlangsung di Kantor Bappeda Provinsi Aceh, dimana pada hari pertama, Senin (10/7) dibuka oleh Sekretaris Daerah Propinsi Aceh. Hari kedua, Selasa (11/7) merupakan sesi diskusi teknis antara pemangku kebijakan di Pemerintah Provinsi Aceh baik dari Bappeda maupun dinas-dinas terkait dengan para peneliti dari LIPI. Dari P2 Kimia, hadir dalam sesi diskusi ini yaitu Dr. Yenni Meliana selaku Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, Teuku Beuna Bardant yang merupakan peneliti muda di P2 Kimia, dan Sujarwo, Ka Sub Bid Kerjasama. Sesi diskusi diawali dengan pemaparan yang merupakan panel antara P2 Kimia dengan Atsiri Research Center Universitas Syah Kuala. Yenni Meliana, mewakili P2 Kimia menyampaikan pemaparan mulai dari sejarah minyak nilam sampai dengan kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh P2 Kimia dalam pengembangan teknologi penyulingan minyak atsiri. “P2 Kimia sudah lama melakukan penelitian dan pengembangan teknologi penyulingan minyak atsiri melalui bidang teknis yaitu bidang teknologi proses dan katalisis,” jelas Meli dalam pemaparannya. “Selain itu, kerjasama dengan berbagai stakeholder juga sudah kami lakukan baik dengan koperasi masyarakat maupun industri. Kami melakukan kerjasama pengolah minyak atsiri dengan stakeholder di Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan sampai luar jawa mulai dari skala kecil sampai dengan skala industri,” tambah wanita yang juga merupakan peneliti madya di P2 Kimia. Dalam pemaparannya, Meli juga menjelaskan secara teknis bagaimana pengembangan yang sudah dilakukan oleh peneliti-peneliti di P2 Kimia untuk memperoleh ekstrak yang optimal dan berkualitas. “Tentunya, P2 Kimia juga sangat terbuka untuk melakukan kerjasama dengan Pemprov Aceh dalam pengembangan minyak nilam ke depannya,” tutupnya. Masih dalam sesi yang sama pada kesempatan berikutnya, disampaikan pemaparan oleh Direktur Atsiri Research Center, Dr. Syaifullah Muhammad terkait potensi minyak nilam di Provinsi Aceh. “Jika kita membaca literatur, maka minyak nilam dari Aceh ini merupakan minyak nilam dengan kualitas terbaik. Tetapi hal ini tidak berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani nilam,” papar Syaifullah dalam presentasinya. “Hal ini terjadi karena kita tidak memberikan perhatian secara khusus kepada sektor ini, terutama dalam hal tata niaga dan pengembangan produk. Minyak nilam petani dibeli dengan harga yang sama padahal kualitasnya berbeda-beda. Dalam hal ini petani tidak memiliki daya tawar apapun,” tambah pria yang juga merupakan dosen senior di Jurusan Teknik Kimia Universitas Syah Kuala Banda Aceh. Syaiful menceritakan bagaimana perjuangan yang dia bersama tim lakukan mulai dari awal pendirian Atsiri Research Center sampai dengan upaya untuk melakukan alih teknologi kepada masyarakat. “Bukan hal yang mudah untuk mentransformasi teknologi kepada masyarakat, kita harus menyesuaikan dengan kondisi real dan daya dukung yang ada di masyarakat. Untuk itu kita, baik akademisi, peneliti dan pemangku kebijakan harus terjun bersama secara telaten atau istiqomah dalam mendampingi masyarakat. Bukan hanya melakukan kegiatan sebatas seremonial, misalnya memberikan bantuan kemudian masyarakat kita tinggalkan tanpa pendampingan, hasilnya tidak akan ada,” jelas Syaiful dalam pemaparannya. Setelah para narasumber menyampaikan pemaparan, seluruh peserta diperkenankan untuk memberikan pertanyaan. Para peserta begitu antusias menyampaikan pertanyaannya kepada narasumber. Adapun pertanyaan-pertanyaan tersebut pun dijawab dengan baik oleh para narasumber. Untuk mengakhiri kegiatan yang berlangsung dari pagi sampai siang itu, dilakukan sesi foto bersama antara para narasumber. Acarapun ditutup oleh Kepala Bappeda Provinsi Aceh seiring berkumandangnya azan dhuhur dari Masjid Bappeda Provinsi Aceh. <SJW/p2kimia>

Baca

Ratusan Peserta PIRN Praktik Buat Sabun


17 Juli 2017

Ratusan siswa SMA sederajat se-Indonesia yang menjadi peserta Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) XVI praktik membuat sabun (batang) dan biodiesel. Agenda hari ke-4 PIRN 2017 yang bernama "Science Show" itu berlangsung pada Kamis (13/7/2017) sore di halaman SMA Negeri Modal Bangsa, Cot Geundreut, Aceh Besar. Sebanyak 400 siswa SMA dibagi ke dalam 20 kelompok dimana setiap kelompok terdiri atas 17 siswa. Setiap kelompok mendapat satu meja yang telah terisi dengan bahan eksperimen seperti minyak goreng, methanol, soda api, minyak atsiri, air mineral, dan alat untuk memanaskan. Peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Yenny Meliana kepada Serambi mengatakan, sabun dan biodiesel merupakan produk yang sangat berguna yang dapat diciptakan melalui proses sederhana. "Setiap kelompok siswa membuat sabun dari bahan sederhana. Sedangkan untuk biodiesel dicontohkan oleh instruktur," ujarnya. Yenny mengatakan, bahan untuk membuat sabun sangat sederhana yaitu minyak goreng, gula tebu, soda api (pembersih), dan glicerol (pengental). Sedangkan untuk biodiesel, bahan yang digunakan yakni minyak goreng dan methanol. Kedua percobaan direaksikan dengan cara dipanaskan di dalam panci berisi air. "Proses membuat sabun cepat, yang lama menunggu sabun itu membeku. Kalau biodiesel prosesnya sekitar 45 menit sampai 2 jam tergantung banyaknya bahan," jelas Dr Yenny, yang kesehariannya meneliti nano emulsi untuk pembuatan kosmetik, obat, dan cat di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang. Dr Yenny menambahkan, aroma sabun bisa disesuaikan dengan selera penggunanya. Apalagi katanya, Aceh terkenal kaya dengan minyak atsirinya seperti serai, pala, mawar, kenanga, melati, dan nilam. "Nilam bahkan lebih bagus sebagai pengikat aroma. Sehingga aroma sabunnya bisa tahan lama," ujarnya. Sementara Kepala Subbagian Pengayaan Ilmiah Masyarakat Biro Kerjasama Hukum dan Humas LIPI, Yutainten mengatakan, para peserta mendapat banyak pengalaman dalam kegiatan yang berlangsung dari 9 sampai 16 Juli 2017 di Aceh. "Mereka belajar selama satu minggu dari pemberian materi di kelas, ambil sampel, wawancara sumber, dan observasi lapangan," ujarnya. Dia mengatakan, karya ilmiah para siswa se-Indonesia itu akan diserahkan ke Pemerintah Aceh pada penutupan PIRN 2017, Jumat (14/7) di SMAN Modal Bangsa. "Ada sekitar 60 karya ilmiah gabungan siswa dan guru, hasil penelitian siswa di Lhokseudu, Lampulo, Lampisang, Lampaya, Lhoknga, dan Lamlhom," kata Yutainten. (*)   sumber : http://aceh.tribunnews.com/2017/07/14/ratusan-peserta-pirn-praktik-buat-sabun

Baca

Tandatangani Kerjasama, P2 Kimia dan BBPPTOOT Gali Potensi Tanaman Obat di Indonesia


21 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Bogor] Sabtu pagi (17/6) yang cerah, bertempat di Aula Kebun Tanaman Obat Citeureup Kabupaten Bogor, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan  Kementrian Kesehatan (Balitbangkes) membuka acara penandatanganan nota kesepahaman antara Balitbangkes dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan penandatanganan kerjasama antara Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BBPPTOOT). Sambutan dan pembukaan ini menjadi awal rangkaian acara yang berlangsung sampai tengah hari tersebut. Dalam sambutannya, Kepala Balitbangkes, Dr. Siswanto mengungkapkan kebahagiaannya mengingat acara tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam rangka mendukung program-program Kementrian Kesehatan untuk memberikan yang terbaik kepada masyarakat. “Saya sangat bahagia Sabtu pagi ini, meskipun seharusnya libur, kita semua masih semangat untuk berkumpul dengan kolega-kolega. Ada yang datang dari jauh, dari Purwokerto, Tawangmangu dan dari Serpong untuk bersama-sama membangun masa depan kesehatan di Indonesia melalui pemanfaatan tanaman obat-obatan. Kita tahu bersama bahwa negeri kita tercinta diberikan anugerah dengan kekakayaan keanegaraman hayati yang banyak diantaranya berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai obat,” ungkap Pak Sis, sapaan akrab Kepala Balitbangkes. Selanjutnya Siswanto melanjutkan dengan memberikan pemaparan terkait kebijakan dan strategi Kementrian Kesehatan khususnya dalam pengembangan tanaman obat dan obat tradisional. Pada kesempatan kedua disampaikan sambutan sekaligus pempaparan oleh Dr. H. Syamsuhadi Irsyad, MH selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Syamsuhadi mengungkapkan harapannya terhadap Balitbangkes untuk membuka kesempatan kepada UMP agar dapat memberikan perannya dalam pengembangan dunia kesehatan di Indonesia. “Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang baru saja memiliki Fakultas Kedokteran sangat berharap agar dapat berperan dalam pengembangan dunia kesehatan. Tentunya kami sangat terbuka apabila lembaga-lembaga penelitian baik di Kemenkes maupun LIPI ingin bekerjasama dengan universitas kami. Apalagi saat ini di dunia kedokteran sudah mulai ada yang mengarah kepada pengobatan secara alami, dalam artian memanfaatkan tanaman-tanaman obat. Barangkali ke depannya, UMP memiliki arah untuk ke sana juga,” papar rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia-LIPI, Dr. Eng Agus Haryono yang menyampaikan presentasi tentang kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh P2 Kimia khususnya dalam pengembangan obat melalui Kelompok Keahlian Kimia Bahan Alam dan Farmasi. “Satuan kerja kami telah menempuh jalan yang panjang dan berliku dalam pengembangan obat, khususnya ekstrak tanaman-tanaman asli Indonesia untuk dapat dikembangkan sebagai bahan baku obat. Beberapa hasil penelitian dan pengembangan di P2 Kimia telah siap untuk memasuki studi klinis,” terang Agus dalam pemaparannya. Agus juga menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi oleh lembaga riset untuk membawa hasil penelitian obat yang dilakukan oleh para peneliti menjadi produk yang siap digunakan, mengingat biaya yang diperlukan sangat besar dan juga regulasi yang sangat ketat. “Kendala yang dihadapi oleh lembaga litbang seperti di LIPI dalam mengembangkan obat adalah saat memasuki studi klinis. Karena untuk pelaksanaannya memerlukan biaya yang sangat besar. Adapun untuk melakukan kerjasama dengan industri, di kita masih sangat terbatas industri farmasi yang siap mengalokasikan dananya untuk melakukan riset bersama dengan lembaga litbang. Untuk itu, kami berupaya terus mendekati industri dan mencoba meyakinkan mereka tentang hasil-hasil yang telah diperoleh. Seperti tahun ini, kami memulai kerjasama dengan salah satu perusahaan farmasi melalui pembiayaan yang diperoleh dari Kementrian Ristekdikti. Kami berharap, inisiasi semacam ini didukung dan diperkuat oleh Kemenkes sehingga semakin banyak hasil-hasil litbang yang termanfaatkan,” lanjut Agus yang juga merupakan peneliti dalam bidang polimer di P2 Kimia. Setelah pemaparan dari Kepala P2 Kimia, rangkaian acara memasuki agenda inti yaitu penandatanganan nota kesepahaman antara Balitbangkes dengan Universitas Muhammadiyan Purwokerto dan penandatangan kerjasama teknis antara Pusat Penelitian Kimia dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (BBPPTOOT). Adapun penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto dengan Kepala Balitbangkes, sedangkan penandatangan kerjasama teknis dilakukan oleh Kepala P2 Kimia dengan Kepala BBPPTOOT. Untuk mengakhiri rangkaian acara dari pagi hingga siang itu, dilakukan foto bersama semua pihak yang terlibat dalam kerjasama. Nampak hadir dalam penandatangan tersebut diantaranya Prof. Muhamad Hanafi, peneliti senior yang juga merupakan koordinator Kelompok Penelitian Kimia Bahan Alam dan Farmasi di P2 Kimia. Setelah itu, seluruh hadirin dipersilakan untuk berkeliling di Kebun Tanaman Obat Citeureup untuk melihat koleksi tanaman obat yang tersedia di area seluas kurang lebih 3 hektar tersebut. <SJW/p2kimia>

Baca

Optimalkan Eksplorasi Minyak, Peneliti P2 Kimia Paparkan Penelitian Teknologi EOR


21 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Indonesia terkenal akan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah termasuk diantaranya adalah minyak bumi yang menjadi komoditi energi terbesar Indonesia. Namun, sebagai sumber energi yang tidak terbarukan (Non-renewable energy sources) dan isu berkembang menipisnya cadangan minyak bumi, maka penting adanya teknologi yang dapat mengubah paradigma teknologi dengan memaksimalkan hasil pengeksploran melalui teknologi baru yang disebut Enhanced Oil Recovery (EOR). Pusat Penelitian Kimia (P2K) LIPI memberikan kontribusinya melalui kerjasama yang dilakukan bersama-sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS untuk mengembangkan surfaktan yang diaplikasikan untuk teknologi EOR. Pada Senin (19/06), Tim Peneliti P2K LIPI yang terlibat dalam penelitian kerjasama pengembangan surfaktan untuk teknologi EOR yaitu Yan Irawan, M. Si, Egi Agustian, M. Eng dan M. Ghozali, M. T,  mempresentasikan kemajuan hasil penelitian yang berjudul “Bahan Aktif Permukaan Alkoksi Sulfonat Berbasis Nabati untuk Injeksi Kimia” dalam acara I-on-I meeting kegiatan Litbang Migas. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Lemigas dan berlangsung selama satu hari pada pukul 09.00 – 12.00 WIB. Audiensi dari pertemuan  tersebut berasal dari beberapa lembaga diantaranya : Lemigas, SKK Migas, Dirjen Migas, Pertamina, dan PPIK ITB. "Surfaktan yang kami kembangkan telah diujicoba di kilang minyak dan menunjukkan hasil positif," papar Yan selaku koordinator kegiatan penelitian. "Untuk mengoptimalkan hasil, perlu dilakukan pengembangan lebih lanjutan seperti pengujian laboratorium, skrining formula surfaktan untuk injeksi kimia, pengembangan pada skala reaktor, serta penngembangan teknologi pada skala industri, " lanjutnya. Keikutsertaan P2K LIPI menunjukkan kontribusi LIPI sebagai lembaga penelitian pemerintah yang turut mendukung optimalisasi eksplorasi minyak sebagai sumber energi dan komoditi terbesar Indonesia. Ini juga menunjukkan eksistensi peran P2K LIPI bekerjasama dengan lembaga pemerintah lainnya demi pencapaian tujuan nasional untuk memajukan sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia.  (FA/ p2kimia)

Baca

Kiprah Peneliti-Peneliti Bertabur Paten


09 Juni 2017

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) punya seabrek peneliti. Total 1.666 orang. Ada yang sangat produktif dan menghasilkan banyak paten. TURUN dari mobil Toyota Innova hitam, Agus Haryono bergegas menuju ruang kerjanya di Pusat Penelitian (Puslit) Kimia LIPI di Serpong, Tangerang Selatan (12/5). Setelah menaruh tas, dia bergabung dengan beberapa koleganya untuk membahas riset-riset terkini di bidang kimia. Agus kini menjabat kepala Puslit Kimia LIPI. Pria kelahiran Pamekasan, 21 Februari 1969, itu adalah satu di antara top five peneliti LIPI dengan paten terbanyak. Hingga saat ini, Agus sudah mengantongi 22 hak paten dari riset yang dilakukannya. ’’Ada juga yang tim bersama teman-teman,’’ kata alumnus SMAN 2 Lumajang, Jawa Timur, tersebut. Putra mantan Bupati Bojonegoro Atlan itu mengawali karir di LIPI dengan berbekal ijazah SMA. Sebagai penerima beasiswa Habibie, Agus mendapat kesempatan kuliah ke luar negeri. Pilihannya Jepang atau Prancis. ’’Alasannya karena tidak terlalu menguasai bahasa Inggris,’’ tuturnya, lantas tertawa. Agus lolos seleksi dan kuliah di Waseda University, Jepang. Dia menempuh jurusan kimia. Dari jenjang S-1, dia melanjutkan sampai S-3 di Negeri Sakura. Agus mendapatkan lima paten selama di Jepang. Salah satunya adalah teknologi mereduksi kadar oksigen dalam sel bahan bakar (fuel cell). Teknologi itu mencegah kerusakan pada mesin dan membuat aliran listrik jadi maksimal. Bapak empat putra dan dua putri tersebut pulang ke tanah air pada 2002. Dua tahun kemudian Agus mendapatkan paten untuk sistem pelunak atau pengelastis plastik. ’’Paten saya membuat pelunak atau pelembut plastik dengan bahan dari minyak sawit,’’ jelasnya. Paten itu sudah diuji coba oleh perusahaan. Namun, kurang menguntungkan dari sisi bisnis. Cost-nya lebih besar daripada produk serupa yang berbahan minyak bumi. Agus juga menghasilkan paten tentang surfaktan berbahan sawit. Surfaktan adalah zat yang bisa menyatukan minyak dan air. Produk itu sudah diuji Pertamina untuk mengangkat sisa minyak yang menempel di sela-sela bebatuan. Bagi peneliti seperti Agus, paten sangat penting. ’’Untuk melindungi temuan. Perkara dipakai atau tidak oleh industri, itu belakangan,’’ katanya. Spesialis Paten Pangan Sosok hebat lainnya adalah Mukhammad Angwar. Dia peneliti senior di Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) LIPI di Jogjakarta. Angwar menjadi pegawai LIPI sejak 1979. Pria kelahiran Cirebon, 27 September 1958, itu spesialis riset bahan pangan. Dia memegang 14 paten. Paten pertama suami Cucu Herliani tersebut berkaitan dengan minuman seduh berbahan lidah buaya dan rosela (2005). Dia mengolah lidah buaya atau bunga rosela menjadi serbuk siap seduh. Rosela punya kandungan vitamin C tinggi. Bunga berwarna merah itu memproteksi kristal-kristal kolestrol sehingga tidak menyumbat pembuluh darah. Salah satu paten Angwar yang segera diakui internasional adalah teknologi pembuatan biskuit dengan bahan dasar tepung dari tempe. Riset yang sekarang berjalan adalah pengolahan kue pukis kaya serat. Bahan dasarnya mocaf atau tepung singkong yang difermentasi. Pukis kaya serat itu nanti menjadi camilan sehat. Khususnya bagi orang diet. ’’Cocok karena makan sedikit saja sudah cepat merasa kenyang,’’ jelasnya. Angwar bahagia ketika riset-risetnya bersinggungan dan dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Minuman siap seduh rosela, misalnya, memacu masyarakat untuk menanam rosela. Sementara itu, teknologi tepung dari tempe dapat meningkatkan derajat konsumsi tempe dari sekadar digoreng atau dikukus. Seperti peneliti lainnya, lulusan S-1 Universitas Pasundan dan S-2 UGM itu sulit menghilirkan inovasinya ke dunia industri. Hilirisasi penelitiannya yang paling maju terkait dengan pemanfaatan tempe untuk sari kental manis. ’’Kita sampai sudah siapkan business plan-nya,’’ jelasnya. Namun, pihak industri meminta waktu untuk tes pasar. Jika laku, sangat mungkin diambil. Sebaliknya, jika tak laku, Angwar harus mendekati pelaku usaha lainnya. Tipe industri itu memang beda-beda. Ada yang ingin cepat balik modal. Caranya, menjual atau memanfaatkan teknologi yang sudah berkembang di pasaran. Di sisi lain, ada industri yang nekat memulai dari nol. Baik itu produk yang dijual maupun teknologinya. Separo Patennya Laku Lain lagi cerita Nurul Taufiqu Rochman. Dia telah memiliki 16 paten. Hebatnya, separo dari paten tersebut berhasil dikomersialkan. Salah satunya adalah yang berbasis teknologi nano. Nurul memiliki cara unik dalam mengomersialkan patennya. Yakni, membuat perusahaan pemula (start-up) sendiri. Namanya Nanotech Inovasi Indonesia. Karyawannya muda-muda. Di bawah 30 tahun. ’’Mereka saya rekrut awalnya dengan pemberian beasiswa,’’ ungkapnya. Setelah lulus, diangkat jadi pegawai. Jika kinerja bagus, promosi menjadi direktur. Setelah itu, jika kinerjanya moncer, dipasrahi perusahaan sendiri. Nanotech merambah berbagai usaha. Termasuk properti. Dua di kawasan Serpong dan satu di Serang. Nilai usaha Nanotech mencapai Rp 30 miliar. ’’Rekan-rekan mengira saya yang mengerjakan semuanya. Padahal tidak. Peran saya sedikit sekali,’’ kata peraih B.J. Habibie Technology Award 2014 itu. Pria kelahiran Malang, 5 Agustus 1970, tersebut mengungkapkan, ada investor yang menanamkan modal Rp 10 miliar. Tidak semua bisnis yang dikelola Nurul sukses. ’’Namanya orang usaha atau bisnis, risiko tidak untung itu selalu ada,’’ ujarnya. Lulusan S-1, S-2, dan S-3 Kagoshima University tersebut mendapatkan banyak ilmu soal komersialisasi hasil riset semasa di Jepang. Saat itu dia bekerja di lembaga riset milik pemerintah Kagoshima yang membidangi hilirisasi hasil riset ke 5.000 unit usaha kecil dan menengah. (*/c10/ca)     Sumber : http://www.jawapos.com/read/2017/05/15/130125/kiprah-peneliti-peneliti-bertabur-paten

Baca

Di Depan Perwakilan Pengajar Madrasah Se-Indonesia, Yenny Tekankan Pentingnya Riset Menjadi Bagian dari Kurikulum


06 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] “Kreativitas anak sering membuat kita terkagum kagum. Membuat kita semakin yakin bahwa cara berfikir lateral mereka perlu diwadahi dan diarahkan melalui dukungan., “ papar Dr. Yenni Meliana, peneliti madya Pusat Penelitian Kimia LIPI. “Misalnya saja salah satu juara Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diadakan LIPI tahun lalu, yaitu SMAN 80 Jakarta. Awalnya mereka datang dengan keinginan meneliti sampai seberapa besar cicak bisa menahan stress hingga akhirnya cicak tersebut memutuskan ekornya” lanjut Yenni saat memaparkan pentingnya pengembangan minat riset siswa. Yenni mengungkapkan hal tersebut saat menjadi pembicara acara “Pengembangan Kurikulum Madrasah Berasrama dan Riset” di Serpong, 31 Mei 2017. Acara ini diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama dan dihadiri oleh perwakilan guru guru dari madrasah tingkat Tsanawiyah dan Aliyah dari seluruh Indonesia. Dalam acara tersebut turut hadir para pejabat eselon IV yang menjadi Kepala kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi Subdirektorat Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, yaitu Kepala Seksi untuk tingkat Raudhatul Athfal, Dra Nanik Puji Hastuti M.Sc, untuk tingkat Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, Imam Buchori M.Pd dan untuk tingkat Aliyah , Dr. H. Suwardi M.Pd. Yenni pun selanjutnya memaparkan perjuangan siswa SMAN 80 lebih lanjut. Dijelaskan olehnya, proposal siswa SMAN 80 Jakarta tersebut dinilai menarik oleh panelis LKIR LIPI. LIPI kemudian menunjuk salah seorang peneliti senior Pusat Penelitian Biologi yang merupakan pakar binatang melata, Dr Evy Ayu Arida, untuk membimbing mereka. Ibu Evy kemudian menyusun ulang metode riset siswa tersebut agar menjadi lebih beradab. Karena jika yang diukur adalah seberapa besar cicak bisa menahan stress, maka dalam melaksanakan penelitiannya cicak cicak tersebut akan disiksa sedemikian rupa hingga akhirnya mereka memutuskan ekornya. Dan itu adalah tindakan “biadab” terhadap cicak. Riset mereka kemudian berubah wujud menjadi Studi Pendahuluan Hubungan Daya Rekat Lamella Cicak Rumah Terhadap Tingkat Kekasaran Media Pijak Melalui Pengamatan Perilaku. Dalam judul baru ini, mereka berhasil menjadi juara II LKIR Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati. “Cerita tersebut salah satu bukti bahwa riset sangat perlu dicematkan secara erat di dalam kurikulum” lanjut Yenni. “Jika riset sudah menjadi bagian yang menyatu dengan kurikulum, maka siswa punya wadah yang sehat dalam menyalurkan ide ide kreatif mereka namun tidak keluar dari nilai nilai manusia yang beradab dan yang lebih utama lagi, tidak keluar dari nilai nilai Islam” simpul Yenni yang tampil bersahaja dalam kerudung putih. Hal ini sangat disetujui oleh ibu Nanik yang menjadi moderator dalam sesi pemaparan Yenni. “Kita memang sedang mengembangkan madrasah madrasah berasrama yang salah satu keunggulannya adalah pengembangan riset oleh siswa. Siswa yang tinggal di asrama memiliki keleluasaan lebih dari segi waktu dalam melaksanakan riset, tidak terbatas hanya jam sekolah dan di siang hari. Harapannya kelak hasil riset siswa siswa madrasah ini bisa bersaing di kancah nasional atau bahkan internasional” ungkap Nanik. Selanjutnya tim peneliti PP Kimia LIPI memperagakan beberapa percobaan kimia sederhana yang bisa dilakukan oleh para guru di sekolah mereka masing masing. Para guru diajak untuk ikut serta secara aktif dalam percobaan pembuatan sabun dan mengamati reaksi trans-esterifikasi dalam proses produksi biodiesel dari minyak goreng. Percobaan yang dilakukan menggunakan peralatan peralatan yang sangat mudah diperoleh seperti gelas plastic dan sumpit. Bahan yang digunakan juga adalah bahan bahan umum seperti minyak goreng, soda api, pewarna makanan, etanol dan methanol yang tidak harus dibeli di toko khusus menjual bahan kimia. Di akhir kegiatan percobaan kimia, tim peneliti PP Kimia LIPI menunjukkan bahwa melalui penelitian, kita juga dapat semakin meyakini kemuliaan ayat ayat Al Qur’an yang seyogyanya lebih dipahami oleh para guru madrasah daripada para peneliti. Hal ini terasa semakin khidmat karena disampaikan bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 35, Allaah mengibaratkan sebuah cahaya yang sangat terang dihasilkan dari sebuah lentera yang menyala dengan menggunakan bahan bakar dari minyak zaitun. Minyak zaitun, bukan minyak bumi. Sekiranya cukuplah pengibaratan tersebut menjadi pemandu dan pemicu semangat kita untuk mengembangkan bahan bakar dari sumber daya terbarukan, dari tumbuhan. Sebagaimana produksi biodiesel yang baru saja dicontohkan. “Allaah (Pemberi) Cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allaah adalah seperti sebuah ruang yang tidak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya (saja) hampir hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis lapis). Allaah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allaah memperbuat perumpamaan perumpamaan bagi manusia, dan Allaah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Qur’an Surat An Nuur ayat 35). &lt;TBB/ p2kimia&gt;

Baca

Kunjungan IPB Bogor dan SMA Santa Ursula BSD ke P2 Kimia LIPI


06 Juni 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Rabu, 24 Mei 2017 Pusat Penelitian Kimia LIPI menerima kunjungan dari dua rombongan berbeda pada saat bersamaan. Rombongan pertama adalah 32 mahasiswa yang didampingi 2 dosen dari Departemen Kimia, Institut Pertanian Bogor (IPB). Sedangkan rombongan kedua terdiri dari 22 sista dan 3 guru pendamping dari SMA Santa Ursula BSD.  Rombongan dikumpulkan di ruang rapat utama lantai 2 untuk menerima informasi profil P2 Kimia LIPI secara umum. Mereka diputarkan video profil P2 Kimia yang dipandu oleh Eni Suryani. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh Dr. Heru Susanto, pejabat struktural dari P2 Kimia. Usai sambutan, dosen IPB dan Guru SMA Santa Ursula juga memberikan beberapa pengantar terkait tujuan kunjungan. Acara di ruang rapat dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab. Acara diteruskan dengan kunjungan ke laboratorium instrumen kimia. Beberapa laboratorium yang dikunjungi adalah NMR, FTIR, GCMS, TG/DTA, dan HPLC. Rombongan dibagi menjadi 5 kelompok yang masing-masing didampingi peneliti dari Pusat penelitian kimia LIPI. Tiap kelompok mengunjungi 5 laboratorium secara bergiliran. Di setiap laboratorium, mereka mendapat penjelasan dari peneliti terkait selama kurang lebih 15 menit. Acara diakhiri dengan foto bersama antara mahasiswa, siswa dan peneliti P2 Kimia. <ES/ p2 kimia>    

Baca

LIPI GOES TO SCHOOL 2: Pembuatan Lotion di SMAN 28 Jakarta


29 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Rabu pagi, 17 Mei 2017, di ruang Aula SMAN 28 Jakarta telah nampak kerumunan orang yang berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Mereka dengan antusias mengikuti aba-aba irama yang dipimpin oleh salah seorang siswi SMA tersebut.   “Kami sangat berbahagia dengan hadirnya science show LIPI di sekolah kami, “ ujar Dra. Hj. Endang Sri Hartini M.Si., Kepala Sekolah SMAN 28. “Mudah-mudahan acara ini dapat memotivasi para siswa guna mengangkat kembali prestasi SMAN 28 yang sedikit menurun tahun lalu, “ imbuhnya seraya membuka acara secara resmi.   Biro Kerjasama, Hukum, dan Humas (BKHH) LIPI memulai rangkaian acara dengan pemutaran video profil terkait LIPI dan pembinaan kompetisi ilmiah oleh LIPI. Diiringi selingan pertanyaan, tepuk LIPI PASTI serta berbagai hadiah souvenir menarik, acara pun berlangsung semakin meriah.  Tidak hanya tuan rumah SMAN 28 saja yang mengikuti acara ini, tetapi juga SMA lain di sekitarnya, seperti SMAN 38, SMAN 48, SMAN 60 dan SMAN 90.   Acara dilanjutkan dengan inspirational talk: “Berpikir kritis untuk menemukan ide/topic penelitian”.  Narasumbernya berasal dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, yaitu Dr. Lisman Suryanegara.  Dalam pidatonya, Lisman mengilustrasikan bagaimana imajinasi sangat berperan dalam membantu penelitian, sebagaimana yang ia kutipkan dari Albert Einstein. Presentasi beliau diakhiri dengan pemberian hadiah kepada siswa-siswi yang telah berhasil menemukan ide praktis untuk penelitian setelah pemaparan. Beberapa diantaranya mengusulkan ide alat pendeteksi kepedasan, chip pada kendaraan bermotor supaya subsidi bbm tepat sasaran, ide pembuatan portal di perempatan jalan, kacamata elastis tidak patah saat terbawa tidur.   Acara selanjutnya adalah science show dari peneliti P2 Kimia LIPI, yaitu pembuatan lotion anti nyamuk yang dipandu oleh Melati Septianti, M.T. Peserta dibagi menjadi 10 kelompok siswa dan masing-masing kelompok telah disediakan alat dan dan bahan serta prosedur untuk membuat lotion. Melati mengarahkan para peserta dibantu anggota tim yaitu Teuku Beuna Bardant, Sudiyarmanto, Eni Suryani dan Arief Setiawan.   Pada sesi ini para siswa diajak untuk berperan aktif dalam pembuatan lotion anti nyamuk. Bahan dasar berupa sereh dapur diekstrak dengan menggunakan air panas. Bahan lain yang dipersiapkan terdiri dari fasa minyak berupa campuran setil alkohol, asam stearat, gliserin dan minyak kelapa. Lotion dihasilkan dengan cara mencampurkan fasa minyak ke dalam ekstrak sereh dapur yang sudah ditambahkan propilen glikol. Para siswa mengaduk secara bergantian sampai terbentuk lotion yang kental. Dengan cekatan mereka membagi tugas memotong bahan dan memeras, memipet bahan lain, mengaduk, dan seterusnya. Akhirnya semua kelompok dapat melakukan percobaan. Pembuatan lotion anti nyamuk yang berhasil membuat mereka bersorak kegirangan, karena merasa mampu melakukan dengan baik.   Sebelum Sholat Dhuhur dan makan siang, acara ditutup oleh Pak Arif yang mewakili kepala sekolah SMAN 28 Jakarta.  Acara diakhiri dengan foto bersama dan makan siang sambil beramah-tamah. (ES, ed: SJW/ p2 kimia)

Baca

Studi Lapangan FKIP UKI di P2 Kimia


22 Mei 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Rabu, 10 Mei 2017, 23 mahasiswa dan 5 dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia (FKIP UKI) mengunjungi P2 Kimia LIPI di kawasan Puspiptek Serpong-Tangerang Selatan. Mereka datang untuk mengenal lebih dekat laboratorium analisa instrumen kimia yang ada di P2 Kimia LIPI.   Acara tersebut diselenggarakan mengacu kepada Peraturan Mendikbud no. 73 tahun 2013 tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang Pendidikan Tinggi, dimana dalam pelaksanaan proses pembelajaran berpusat kepada mahasiswa (Student Centered Learning/SCL).   “Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UKI merupakan salah satu bentuk pembelajarannya yakni memberikan pengalaman dalam pembuktian secara langsung di lapangan/dunia nyata tentang teori yang terdapat dalam materi perkuliahan, “ ujar Nova salah seorang dosen yang mendampingi mereka.   Intrument analisa kimia yang diperkenalkan yaitu NMR, FTIR, DT/TGA, HPLC, dan GCMS.  Para mahasiswa calon guru ini menyimak dengan seksama setiap detil penjelasan dari operator alat – alat tersebut sehingga mereka paham fungsi dan cara kerjanya.   23 mahasiswa dibagi menjadi 5 kelompok dan setiap kelompok didampingi 1 orang dosen, dan pemandu P2 Kimia LIPI. Para pemandu itu yaitu Luthfiana, Feni Amriani, M. Arifudin Fitriady, Rohmana Taufik dan Eni Suryani yang mengantarkan tiap kelompok ke masing-masing laboratorium secara bergantian. Di masing-masing instrument, sudah siap peneliti P2 Kimia yang menjelaskan Fungsi dan kegunaan alat-alat tersebut, NMR dijelaskan oleh Megawati, DT/TGA oleh Fauzan Aulia, FTIR oleh Yenni Apriliani, HPLC oleh Asri Lestari dan GCMS oleh Salahudin.   Acara pun diakhiri dengan penyerahan plakat dari UKI dan berfoto bersama. <ES/ p2 kimia>

Baca
ZONA INTEGRITAS