Berita

P2 Kimia Tandatangani Kontrak dengan Kemenristekdikti Guna Kembangkan Riset Ekstraktor Artemisinin untuk Obat Malaria


17 April 2018

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Penyakit Malaria di Indonesia masih menjadi ancaman mematikan, terutama di wilayah Indonesia Timur. Menurut data Annual Parasite Incidence (API) per provinsi tahun 2016, ada 6 besar wilayah yang masih endemis malaria dan masuk ke dalam zona merah, seperti Papua (39,93 persen), Papua Barat (10,20 persen), NTT (5,17 persen), Maluku (3,83 persen), Maluku Utara (2,44 persen) dan Bengkulu (1,36 persen). Menghadapi kenyataan ini, Pemerintah mendorong sinergi semua pihak untuk turut memerangi malaria. Kementerian Kesehatan menginisiasi Konsorsium Riset Nasional Kemandirian Bahan Baku Obat Malaria Dihidroartemisinin guna mengembangkan bahan baku obat malaria. Konsorsium ini beranggotakan antara lain badan litbang Kementerian Kesehatan, Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementerian Pertanian, satuan kerja Lembaga ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan PT Indofarma. Di antara satuan kerja LIPI yang terlibat adalah Kebun Raya Cibodas, Pusat Penelitian Biotek dan Pusat Penelitian Kimia. Melalui program pendanaan riset oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), konsorsium mendapatkan dukungan dana penelitian. Sekitar 1-2 Milliar rupiah dana digelontorkan ke konsorsium ini, yang dipecahkan berdasarkan kegiatan masing-masing anggota konsorsium. Pusat Penelitian (P2) Kimia juga memperoleh bantuan dana ini guna pengembangan lebih lanjut ekstraktor artemisinin HFC134 Sistem Tertutup untuk obat malaria. Riset ini dikoordinasi oleh Dr. Arthur Ario Lelono, peneliti bahan baku obat dan farmasi di P2 Kimia. “Ekstraktor yang kami kembangkan bertujuan untuk mengisolasi senyawa bahan baku obat tanpa memerlukan pelarut dan lebih selektif terhadap senyawa yang ditargetkan,“ jelas Arthur yang juga merupakan Kepala Bagian Tata Usaha P2 Kimia LIPI. Lebih lanjut, Arthur mengungkapkan, ekstraktor HFC134 yang timnya kembangkan memiliki keunggulan lain berupa proses ekstraksi yang cepat, aman dan efisien. Di samping itu, ekstraktor ini juga sesuai untuk senyawa yang sensitif terhadap panas sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk senyawa lain termasuk minyak atsiri. “Desain ekstraktor ini memang dikembangkan agar siap untuk diimplementasikan di industri dengan biaya yang ekonomis,“ pungkas pria yang menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 nya di Ehime University, Jepang ini. Penandatangan kontrak riset ini dilakukan dalam program bertajuk “Penandatangan Perjanjian Kerja Sama Pendanaan Inovasi Industri & Inovasi Perguruan Tinggi”. Acara diselenggarakan oleh Kemenristekdikti di Auditorium BPPT Jakarta (17/4). Sejumlah universitas, lembaga litbang dan industri yang proposalnya terpilih turut hadir di kegiatan ini. Dari P2 Kimia, Dr. Agus Haryono selaku Kepala menandatangani kontrak riset dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Medy Eka Suryana, S.IP M.M. “Pendanaan ini makin memperkokoh peran LIPI termasuk P2 Kimia dalam mendukung riset bahan baku obat malaria di Indonesia,“ ujar Agus seusai penandatanganan. Agus menambahkan, ekstraktor yang tengah dikembangkan merupakan alat yang sangat efisien, hampir 40 kali lipat lebih efisien daripada metode ekstraksi solven yang konvensional. <aars/ p2kimia>

Baca

Dorong Hilirisasi Riset, P2 Kimia Gelar Workshop Feasibility Study and Technology Readiness Level


12 April 2018

[Berita P2 Kimia,Serpong] Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin kompetitif, lembaga litbang dituntut untuk semakin inovatif dalam mengembangkan produknya. Hilirisasi atau upaya pemanfaatan hasil-hasil penelitian ke masyarakat dan industri pun menjadi isu penting. Hal ini lah yang mendorong Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI untuk menyelenggarakan workshop sehari “Feasibility Study and Technology Readiness Level”. Bertempat di P2 Kimia, acara ini diadakan pada hari Kamis (12/4). Workshop ini juga terselenggara sebagai bagian dari program Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi ke-2, sebagai salah satu upaya untuk mendorong riset bioetanol ke arah industri. Acara ini dimoderatori langsung oleh Dr. Sri Handayani, S.Farm. Apt. M., ketua panitia acara.  “Riset-riset di P2 Kimia, sebagaimana riset pada umumnya, dilakukan mulai dari skala laboratorium hingga skala pilot plant,“ ujar Dr. Yenny Meliana, Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, saat memberikan sambutan pembuka mewakili Kepala P2 Kimia LIPI. “Riset ini perlu dikelola agar bisa dimanfaatkan ke masyarakat dan industri, salah satunya dengan melakukan kajian kelayakan dan mengakses tingkat kesiapan teknologi nya,“ sambungnya. Feasibility Study Di sesi pertama, Dr. Ir. Syahrul Aiman, peneliti senior P2 Kimia LIPI menyampaikan dua materi utama. Yang pertama adalah kajian-kajian pendukung (Soft Studies) untuk Evaluasi Pelaksanaan Hasil Penelitian. Yang kedua adalah Telaah Kelayakan Suatu Usulan. “Hasil penelitian dapat berupa ilmu pengetahuan, teknologi, dan peningkatan kemampuan/ skill,“ terang peneliti utama bidang Teknik Kimia tersebut saat mulai menjelaskan materi pertama. “Untuk membawa produk ke pengguna, perlu melewati beberapa proses: mulai dari penelitian, alih teknologi serta memperhatikan proses di luar seperti politik, pasar, hukum dan teknologi,“ ujar pria yang menyelesaikan S3 nya di The University of New South Wales, Australia ini. Lebih jauh, Syahrul menggarisbawahi perlunya para peneliti memperhatikan proses yang terjadi di luar. Hal ini dikarenakan seiring berjalannya waktu, penelitian yang dilakukan menjadi tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan perkembangan jaman. Syahrul mencontohkan pengalaman panjang penelitian di P2 Kimia LIPI sejak tahun 90an. Berdasarkan pengalaman tersebut, diperlukan suatu tools menggunakan metode manajemen/ Soft Studies untuk membantu perencanaan pemanfaatan hasil penelitian. Salah satu tool tersebut adalah studi kelayakan (Feasibility Study). “Studi kelayakan mencakup antara lain analisis lingkungan, analisis pasar, analisis  teknis, analisis keuangan, dan analisis sensitivitas,“ rinci peneliti yang pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI 2008-2014 ini. “Studi ini sebaiknya dilakukan sebelum assessmen tingkat kesiapan teknologi, “ jelasnya. Syahrul kemudian menjabarkan masing-masing komponen di atas. Secara khusus, peneliti yang pernah menjadi Kepala Pusat Inovasi LIPI 2001-2008 ini memberikan buku pedoman praktis “Memahami dan Menyiapkan Telaah Kelayakan” yang ditulisnya untuk sekitar 40 peserta dari berbagai instansi di ruangan itu. Menginjak materi kedua, Syahrul mengemukakan pembahasan terkait telaah kelayakan suatu usulan. “Agar kegiatan riset dapat dilakukan baik dan hasilnya dapat berdampak pada ekonomi, sosial dsb., maka (1) kegiatan harus layak dilakukan pengusul, dan (2) menarik/ terkait kebutuhan pasar/ pengguna/ target, “ tekannya. Lebih lanjut, Syahrul menjabarkan metode perencanaan program dan penentuan prioritas riset. Salah satu metode yang dapat dipakai adalah SERP yang dikembangkan US Industrial Research Institute tahun 1984 dan diadopsi LIPI dari CSIRO tahun 1999. Di samping dua materi utama di atas, Syahrul juga menyampaikan materi lain seperti metode valuasi paten di lembaga litbang. Presentasi juga diikuti dengan sesi diskusi tanya jawab dengan peserta. Usai presentasi dan diskusi, Kepala Bidang PDHP menyerahkan piagam apresiasi kepada Dr. Syahrul Aiman dan diiringi tepuk tangan dari para peserta. Technology Readiness Level Usai istirahat makan siang, acara dilanjutkan dengan materi Technology Readiness Level (TRL). Materi dipresentasikan oleh Arief A.R. Setiawan, M.Eng, peneliti bidang Teknik dan Manajemen Industri P2 Kimia. Sebelum materi dimulai, para peserta diberikan pre-test untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terkait TRL.  Ada 10 soal singkat dalam pre-test yang dikerjakan dalam waktu 10 menit. Setelah tes berakhir, dilakukan pemberian kunci soal yang dicocokkan dengan jawaban peserta. Dari pengamatan sepintas, nampak para peserta dapat menjawab sekitar 40-70% soal dengan benar. Para peserta selanjutnya diajak menyimak sekilas terkait video TRL. Video ini memberikan informasi ringkas terkait apa itu TRL, jenjang level dalam TRL dan contohnya. “TRL merupakan pengukuran sistematik untuk mendukung assesmen kesiapan/ kematangan suatu teknologi,“ terang Arief memulai presentasinya. “Sejak disusun NASA tahun 1974, metode TRL terus berkembang dan dipakai di berbagai negara termasuk diadopsi BPPT dan Kemenristekdikti di Indonesia,“ lanjut peneliti yang menyelesaikan studi S2nya di Waseda University, Jepang. Di Indonesia, istilah TRL diterjemahkan sebagai Tingkat Kesiapan Teknologi yang kemudian berubah menjadi Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). Arief kemudian memaparkan 9 tahapan dalam TRL. Tahap terendah adalah level 1 terkait prinsip dasar dari teknologi telah diteliti dan dikembangkan. Sementara tahap tertinggi adalah level 9 yang berarti sistem benar-benar telah teruji/ terbukti melalui keberhasilan pengoperasian. “Assessmen dimulai dari level 1 dan naik ke level di atas nya jika memenuhi prasyarat nilai tertentu,“ jelas peneliti yang juga sebagai Kepala Subbidang Pengelolaan Hasil Penelitian P2 Kimia LIPI ini. “Biasanya nilai yang dipakai adalah 80%,“ lanjutnya. Arief mengungkapkan, penggunaan TRL di Indonesia semakin penting. Apalagi dengan terbitnya berapa peraturan termasuk Permenristekdikti No. 42/2016 tentang Pengukuran dan Penetapan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT). “Di peraturan ini, dijelaskan siapa dan bagaimana yang melakukan pengukuran dan penetapan TKT,“ paparnya. Selanjutnya, Arief memberikan beberapa contoh penggunaan TRL untuk assessmen di P2 Kimia. Menurutnya, TRL ini bermanfaat bagi peneliti untuk mengetahui posisi penelitiannya dan menyusun rencana tindak lanjut. Diantara rencana tersebut adalah dapat diusulkan ke program pendanaan yang sesuai di Kemenristekdikti dan bekerjasama dengan industri. Terakhir, Arief juga menyampaikan topik lanjutan terkait pengembangan TRL di masa mendatang. Beberapa yang dikemukakan diantaranya semakin bervariasinya indikator dalam TRL yang sesuai dengan bidang penelitian, pengembangan “turunan” TRL sebagaimana yang pernah dikajinya, dan isu kompatibilitas TRL dengan alat ukur lain, seperti Innovation Readiness Level, Manufacturing Readiness Level, System Readiness Level, dsb. Acara dilanjutkan dengan simulasi pengukuran TRL menggunakan contoh dari peserta. Setelah melalui beberapa diskusi, acara pun ditutup jam tiga sore oleh Kepala Bidang PDHP. <aars/p2kimia>.

Baca

Melalui Workshop Pengenalan Standard ISO/IEC 17025:2017, Laboratorium P2 Kimia Siapkan Transisi ke Versi Terbaru


06 April 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] ISO/IEC 17025:2017 sebagai standard penyelenggaraan laboratorium pengujian dan kalibrasi telah dikeluarkan oleh ISO. Sebagai laboratorium penguji terakreditasi KAN LP-767-IDN, Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI juga bersiap untuk menyesuaikan dengan standard baru tersebut. Guna memberikan pengenalan terhadap standard yang dikeluarkan ISO pada November 2017 lalu, bertempat di Ruang Rapat Utama P2 Kimia, diadakan ‘Workshop on Introduction of New Standard ISO/IEC 17025:2017’ pada Jum’at (6/4). Hadir sebagai narasumber yaitu Dr. Jahangir Bin Kamaldin dari Universiti Sains Malaysia (USM) yang juga merupakan Lead Advisor for ISO/IEC 17025 Laboratory QMS. Workshop diikuti oleh peserta dari P2 Kimia LIPI, P2 Fisika LIPI, P2 Material dan Metalurgi LIPI, Balai Teknologi Polimer BPPT, dan beberapa utusan dari laboratorium swasta di sekitar Kota Tangerang Selatan. Acara dibuka oleh Dr. Sofa Fajriah selaku Manajer Mutu Laboratorium P2 Kimia. Sofa menyampaikan bahwa kegiatan workshop hari itu diharapkan dapat memberikan gambaran awal kepada personel laboratorium terkait perubahan-perubahan dari versi standard sebelumnya. Hal ini sejalan dengan kebijakan mutu di Laboratorium P2 Kimia untuk secara konsisten menerapkan standard ISO/IEC 17025. “Terima kasih kepada Dr. Jahangir Bin Kamaldin yang berkenan berbagi dengan kami di sini. Kegiatan ini sebenarnya sebagai kelanjutan dari workshop hari sebelumnya bersama dengan rekan-rekan dari USM Malaysia. Mengingat Dr. Jahangir merupakan salah satu WG member di Malaysia berkenaan dengan review standard, saya meminta kesediaan beliau untuk berbagi. Alhamdulillah beliau bersedia dan sambutan dari rekan-rekan di Kawasan PUSPIPTEK juga sangat antusias sehingga workshop hari ini dapat terlaksana,” ungkap Sofa yang juga merupakan peneliti di P2 Kimia tersebut. Berikutnya acara inti pun dimulai. Dr. Jahangir memberikan pemaparan tentang revisi yang terjadi dari versi sebelumnya, ISO/IEC 17025:2005. Selain itu, pria yang juga merupakan dosen senior di USM tersebut memberikan gambaran tentang keterkaitan standard baru dengan ISO 9001:2015. “Standard ISO/IEC 17025:2017 mengedepankan pendekatan Risk Based Thinking. Hal ini sejalan dengan ISO 9001 versi 2015. Selain itu, versi 2017 juga bersifat lebih fleksibel seperti dalam hal penyebutan istilah manajerial,” ujar Dr. Jahangir dalam pemaparan awalnya. Dr. Jahangir Bin Kamaldin pun akhirnya mengupas ISO/IEC 17025 versi baru tersebut. Selama pemaparan, diskusi dan tanya-jawab pun berlangsung hangat. Setelah pemaparan dan diskusi selesai, acara pun dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara narasumber dengan seluruh peserta. Hadir dalam sesi penutupan, Kepala P2 Kimia, Dr. Eng Agus Haryono. Agus menyampaikan bahwa Laboratorium P2 Kimia akan segera menyesuaikan dengan versi terbaru dari ISO/IEC 17025. “Laboratorium Penguji di P2 Kimia baru saja mendapat reakreditasi awal tahun ini. Tentunya manajemen akan berupaya agar segera memperoleh akreditasi untuk ISO/IEC 17025 versi 2017. Kiranya pengenalan ini akan menjadi bekal awal bagi personel laboratorium untuk mengenal, kemudian memahami, dan berikutnya menerapkannya di tempat kami,” terang Agus sekaligus menyampaikan harapannya. “Kepada Dr. Jahangir Bin Kamaldin, saya sampaikan terima kasih telah memberikan sharing yang sangat bermanfaat kepada kami. Dengan ucapan Alhamdulillahirabbil ‘alamin acara hari ini saya tutup,” lanjut Agus sekaligus menutup acara hari itu. <SJW/ p2k>

Baca

P2 Kimia Bersama AMDI Universiti Sains Malaysia Selenggarakan Workshop on Strategic Herbal Research Collaboration


05 April 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI bersama Advance Medical and Dental Institute (AMDI) Universiti Sains Malaysia (USM) menyelenggarakan kegiatan bersama bertajuk 'Workshop on Strategic Herbal Research Collaboration'. Workshop yang dilaksanakan pada Kamis (5/4) tersebut diikuti oleh peserta dari P2 Kimia LIPI, AMDI USM, Pusat Studi Fitofarmaka Tropika IPB, Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, serta Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kemenkes RI. Bertempat di P2 Kimia Kawasan PUSPIPTEK Serpong, acara dibuka oleh Kepala P2 Kimia, Dr. Eng. Agus Haryono. Dalam sambutan pembukaannya, Agus menyampaikan bahwa dia sangat menyambut baik pelaksanaan kegiatan hari itu. "Saya sangat senang bahwa pada akhirnya acara yang sudah direncanakan jauh-jauh hari dapat berlangsung sekarang. Kegiatan ini merupakan upaya bersama antara Indonesia dengan Malaysia guna memperkuat kegiatan penelitian dan pengembangan di Kawasan ASEAN," ujar Agus dalam sambutan pembukaannya. "Hal ini juga sejalan dengan apa yang diamanahkan oleh Pemerintah RI kepada LIPI untuk dapat melakukan akselerasi terhadap hilirisasi hasil riset khususnya pemanfaatan bahan alam sebagai obat tradisional," lanjut pria yang juga merupakan peneliti senior di P2 Kimia tersebut. Berikutnya Dr. Jahangir Bin Kamaldin dari AMDI Universiti Sains Malaysia memberikan sambutan sekaligus perkenalan tim dari USM. Pria yang merupakan Research Leader di AMDI USM tersebut memaparkan bahwa dia bersama tim berharap dapat memperkuat jejaring dengan peneliti-peneliti di Indonesia. Jahangir yakin bahwa kolaborasi merupakan sebuah keniscayaan di tengah persaingan global yang semakin ketat. Sudah seharusnya kerjasama antar-bangsa khususnya anggota ASEAN semakin digalakkan. "Kami jauh-jauh datang dari Penang ingin bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat di sini. Bersama saya ada Dr. Hasni Arshad, Dr. Eshaifol Azam, Dr. Yusmaidie Aziz, dan Dr. Salina Mokhtar. Kiranya ke depan kita dapat mensinergikan kegiatan-kegiatan riset supaya hasilnya lebih signifikan. Apa yang tidak dapat dikerjakan di Malaysia dapat dilakukan di sini, begitu pun sebaliknya," ujar Jahangir sekaligus menyampaikan harapannya. Acara satu hari tersebut diisi dengan kegiatan presentasi dari peneliti di P2 Kimia, peneliti di AMDI USM, dan Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Dari P2 Kimia, hadir sebagai pembicara yaitu Dr. Sofa Fajriah, Prof. Dr. M. Hanafi, Dr. Tjandrawati Mozef, dan Dr. Teni Ernawati. Adapun dari Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional, dr. Danang Ardiyanto menyampaikan pemaparan terkait saintifikasi jamu dan kegiatan-kegiatan di satuan kerjanya yang berada di Tawangmangu tersebut. Menjelang sore hari diadakan diskusi yang dibagi dalam beberapa kelompok untuk membahas peluang kegiatan bersama yang dapat dilakukan. Pada akhir sesi, masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusi. Mengemukan beberapa tema penelitian bersama yang dapat disinergikan baik antara P2 Kimia, AMDI, Pusat Studi Fitofarmaka Tropika IPB, Sekolah Tinggi Farmasi Bandung, serta Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional. Kemudian acara ditutup oleh Kepala P2 Kimia, Dr. Eng. Agus Haryono. Agus berharap apa-apa yang sudah didiskusikan bersama dapat diimplementasikan dengan baik. Dia pun mendorong supaya MoU antara LIPI dengan USM dapat direalisasikan dalam waktu dekat. <ES/ p2k, ed: SJW>

Baca

Di Pusdiklat Kementrian Perdagangan, Yenny Meliana Bimbing Peserta Diklat Membuat Karya Tulis Ilmiah


04 April 2018

[Berita P2 Kimia, Depok] Balai Diklat Penguji Mutu Barang (BDPMB), Pusdiklat Kementrian Perdagangan RI mengadakan ‘Diklat Pembentukan Jabatan Fungsional Penguji Mutu Barang Kategori Keahlian 2018’. Salah satu pemateri yang diundang dari P2 Kimia adalah Dr. Yenny Meliana. Meli, sapaan akrab wanita yang merupakan Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian di P2 Kimia, memberikan pemaparan terkait Pengembangan Profesi: Karya Tulis Ilmiah.  Acara berlangsung selama dua hari, Selasa (3/4) hingga Rabu (4/4) dan bertempat di Pusdiklat Kementrian Perdagangan RI, Sawangan, Depok. Purwo Sapto Hastoro, MM selaku Kepala Seksi Penyelenggaraan Diklat menyampaikan bahwa fungsional penguji mutu barang tingkat ahli ke depannya akan diwajibkan untuk membuat karya tulis ilmiah. Hal ini sejalan dengan Permendag yang sedang disusun. Oleh karena itu, BDPMB Kemendag mulai memberikan pembekalan kepada calon penguji mutu barang tingkat ahli dalam mebuat karya tulis ilmiah. “Ke depan rekan-rekan pejabat fungsional penguji mutu barang tingkat ahli akan diwajibkan untuk membuat karya tulis ilmiah. Mulai tahun lalu, kami sudah melakukan pembekalan kepada fungsional penguji mutu barang kategori keahlian untuk membuat karya tulis. Kiranya melalui Diklat ini, Bu Meli dapat membagi pengetahuan dan pengalamannya sebagai peneliti di LIPI dalam menulis KTI dan mempublikasikannya,” ungkapnya dalam sambutan pembukaan mata kuliah pengembangan profesi dalam rangkaian diklat tersebut, Selasa (3/4). Selanjutnya Meli memberikan pemaparan tentang jenis-jenis karya tulis ilmiah termasuk bagian-bagian atau strukturnya. Wanita yang juga merupakan peneliti madya di P2 Kimia tersebut mengajak kepada peserta untuk mencoba menulis. Para peserta yang berasal dari berbagai propinsi tampak dengan antusias mengikuti pemaparan yang disampaikan Meli. Diskusi hangat pun berlangsung selama kegiatan diklat. “Biasanya yang berat dalam melakukan kegiatan menulis adalah memulainya. Dalam istilah kimia, perlu energi aktivasi yang tinggi untuk memulai,” ujar Meli. “Tetapi jika kita sudah mencoba memulai menulis, biasanya akan terbawa suasana. Pada akhirnya kita akan asyik dengannya. Untuk itu langkah awal yang harus dilakukan adalah memulai. Jangan takut dan jangan malas untuk memulai,” lanjutnya mencoba memberikan motivasi kepada peserta. Hari kedua, Rabu (4/4), kegiatan diisi dengan workshop pembuatan karya tulis ilmiah. Mulai dari merumuskan ide, mencari literatur, membuat konsep karya tulis, dan lainnya. Para nampak peserta begitu serius melakukan kegiatan hari itu. Tentunya suasana yang menyenangkan terus dibangun oleh Meli sehingga para peserta menikmati aktivitas workshop hari itu. <SJW/p2k>

Baca

L’Cos, Produk P2 Kimia di Indonesia Cosmetics Ingredients 2018


03 April 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] “New Trend of Raw and Packaging Material, Laboratory Equipment and Machineries, for your Creation and Innovation Products in Competitive Asia Market”  Itulah tema pameran Indonesia Cosmetics Ingredients (ICI) 2018 yang digelar di JIExpo Kemayoran Jakarta pada tanggal 3-5 April 2018. Pameran ini memang mengangkat tema tren baru dalam bahan baku dan materi pengemasan, peralatan dan mesin laboratorium untuk kreasi dan inovasi produk di pasar kompetitif Asia. Tak kurang dari 254 peserta, baik perusahaan/instansi dalam negeri maupun luar negeri, turut ambil bagian sebagai pengisi stand. Diantara yang berpartisipasi adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan berbagai inovasi produknya termasuk produk hasil riset Pusat Penelitian Kimia. Pameran ini diselenggarakan oleh Perkosmi (Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia). “Pameran ini diadakan sesuai dengan misi Perkosmi, yaitu untuk menjadi wadah yang mendekatkan antara pemasok bahan dan konsumen khususnya produsen kosmetik, “ ujar Rustam Sulaeman selaku ketua panitia. Lebih lanjut, Ketua Umum Perkosmi Dra. Nurhayati Subakat, Apt mengatakan bahwa trend kosmetika saat ini berubah sangat sepat sehingga diperlukan wadah untuk mendapatkan informasi terkait perkembangan industry kosmetika di Indonesia. “Karena itu, Perkosmi sangat gembira menyambut gelar ICI 2018 ini, “ terangnya. Pusat Penelitian Kimia LIPI turut memeriahkan acara tersebut dengan menggelar hasil-hasil penelitian di bidang kosmetik. Produk unggulannya antara lain seperti serum anti aging dan cream anti selulit berbahan dasar herbal dari ekstrak pegagan dan jahe. Produk yang diberi nama L’cos ini telah bekerjasama dengan PT NHI (Nanotech Herbal Indonesia) dalam hal lisensi teknologinya. Di P2 Kimia, L’Cos dikembangkan oleh Dr. Yenny Meliana dan tim penelitinya. Produk sudah mulai dilirik konsumen dan dipasarkan oleh perusahaan tersebut. Di tempat pameran pameran, terlihat para pengunjung tertarik dan ingin menjajalnya. (ES/P2K)

Baca

Diskusikan Larangan Impor Uni Eropa, Agus Tekankan Penguatan Riset Biofuel Kelapa Sawit Termasuk LCA


29 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Direktorat Ketahanan Industri, Direktorat Jenderal Ketahanan dan Akses Industri Internasional (KPAII), Kementerian Perindustrian menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sehari 'Dampak Pelarangan Penggunaan Biofuel Berbasis Minyak Kelapa Sawit di Uni Eropa terhadap Industri Indonesia'. Bertempat di Gedung Kementerian Perindustrian, acara diselenggarakan pada hari Kamis (29/3). "Acara ini kami adakan untuk menyikapi jajak pendapat parlemen Eropa bulan Januari 2018 yang lalu terkait revisi European Union Directive on Renewable Energy Directives (EU-RED),“ ujar Dody Widodo, Direktur Ketahanan Industri Kementerian Perindustrian saat memberikan pengantarnya. “Salah satu hasil jajak pendapat yang perlu diskusikan adalah terkait rencana pelarangan penggunaan biofuel berbasis minyak kelapa sawit di Uni Eropa pada tahun 2021,“ lanjutnya. Dijelaskan lebih lanjut, Indonesia sebagai penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, perlu mengantisipasi potensi dampaknya terhadap industri dalam negeri. Turut hadir dalam FGD ini, sejumlah akademisi, pengambil kebijakan dan praktisi yang bergerak di industri biofuel kelapa sawit. Para pengambil kebijakan diantaranya berasal dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Luar Negeri. Akademisi yang diundang antara lain berasal dari Universitas Padjajaran, Universitas Trisakti,  Universitas Lampung, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI) dan juga dari Pusat Penelitian (P2) Kimia, LIPI. Sedangkan praktisi yang tampak hadir diantaranya dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI). Presentasi dan diskusi di awal menghadirkan Dr. Rosediana Suharto, narasumber yang berpengalaman terhadap proses penyusunan EU Directives di parlemen Uni Eropa. Ibu Ros, begitu narasumber ini dipanggil, membeberkan perjuangan diplomasi bangsa Indonesia terhadap regulasi biofuel/ kelapa sawit di Uni Eropa. “Proses penyusunan/ perubahan regulasi ini memakan waktu cukup lama dan harus melalui beberapa tahapan proses lagi sebelum disetujui,“ ujar Bu Ros dari Responsible Sustainable Palm Oil Inisiative (RPOI).  Hal ini diamini oleh peneliti dari INDEF, Dr. M. Fadhil Hassan dan Ketua Harian APROBI, Paulus Tjakrawan. Peneliti INDEF yang lain juga mengungkapkan bahwa potensi dampak pelarangan ini terhadap industri di Indonesia relatif kurang signifikan. Hal ini dikarenakan ekspor Indonesia berbentuk biofuel ke negara Eropa juga volumenya cukup kecil. Meski demikian, Indonesia perlu berhati-hati dan menyuarakan sikap menolaknya agar pelarangan ini tidak melebar ke negara lain. Juga agar tidak melebar ke sektor komoditi berbasis kelapa sawit yang lain seperti pangan. Kepala P2 Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono, yang hadir sebagai salah satu narasumber lebih menyoroti ke arah pengembangan penelitian sawit dan publikasinya. P2 Kimia LIPI sendiri sudah lama mengembangkan produk turunan berbasis kelapa sawit seperti surfaktan, plasticizer, biodiesel dan yang terbaru, bioetanol dari limbah tandan kosong kelapa sawit. P2 Kimia LIPI saat ini juga tengah mengembangkan Life Cycle Assessment sebagai salah satu tool untuk menilai potensi dampak lingkungan suatu produk sistem secara menyeluruh. “Mengingat alasan teknis yang dijadikan salah satu landasan pelarangan sawit adalah potensi dampak lingkungan, maka riset terkait evaluasi lingkungan sepeti LCA ini perlu terus dikembangkan dan dipublikasikan secara internasional,“ beber Agus yang didampingi tim peneliti seperti Yan Irawan dan Arief Setiawan. “Hal ini penting agar riset-riset kita dapat dirujuk oleh komunitas internasional termasuk dalam pengambilan kebijakan,“ tegasnya. Saat diskusi, pernyataan Agus ini juga didukung yang lain, termasuk salah seorang pengambil kebijakan dari Kementerian terkait. Dijelaskan olehnya, selama ini Kementerian menyediakan sumber data lapangan namun kurang diolah dalam bentuk publikasi terutama di tingkat internasional. Sehingga, kesempatan publikasinya justru dilakukan oleh peneliti asing. Dari diskusi, Agus merekomendasikan adanya pengelolaan database inventori yang bisa dijadikan riset analisis potensi dampak lingkungan dan dirujuk bersama oleh komunitas akademis, pengambil kebijakan dan praktisi industri. Di samping itu, riset-riset produk turunan kelapa sawit juga perlu dikembangkan untuk menopang kemandirian industri dalam negeri. <aars/p2k>

Baca

Perkaya Materi Perkuliahan, P2 Kimia Fasilitasi Praktikum Mahasiswa International University Liaison Indonesia (IULI)


28 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Mahasiswa dari Food Technology dan Chemical Engineering International University Liaison Indonesia (IULI) berkesempatan mengikuti “One day training on introduction of analytical instrument for chemical analysis” di Laboratorium Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI. Tujuan dari kegiatan sehari ini adalah untuk mengenalkan dan belajar mengoperasikan alat-alat analisa seperti High Performence Liquid Chromatography (HPLC), Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS) dan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). Kegiatan dilaksanakan pada hari Rabu (27/3) dan diikuti oleh 12 peserta yang didampingi 1 orang dosen pendamping dari IULI. Rombongan disambut oleh Hendris Hendarsyah, Kasubbid. Sarana Penelitian Kimia Khusus dan Sujarwo, Kasubbid. Diseminasi dan Kerjasama P2 Kimia. “Kami ucapkan selamat datang kepada Pak Tutun Nugraha dan adik-adik mahasiswa IULI. Kegiatan hari ini merupakan tindak lanjut dari MoU antara P2 Kimia LIPI dengan Faculty of Life Sciences IULI. Mudahan-mudahan dapat memberikan manfaat sebagai bekal adik-adik ke depannya,” buka Sujarwo mengawali kegiatan pagi itu. Kemudian Hendris memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu dan beberapa peraturan umum yang berlaku di Laboratorium P2 Kimia. Hendris berpesan supaya seluruh peserta mengikuti arahan dari instruktur di laboratorium guna kelancaran pelaksanaan acara hari itu.  “Nantinya adik-adik akan dibagi ke dalam tiga kelompok. Masing-masing kelompok akan mencoba melakukan analisa menggunakan HPLC, GCMS dan AAS. Silakan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya dari rekan-rekan kami di laboratorium dan jangan segan untuk bertanya,” ujar Hendris memberikan penjelasan. Berikutnya mahasiswa IULI melakukan kegiatan di masing-masing laboratorium sesuai dengan kelompok yang sudah dibagi. Untuk memandu kelancaran acara, Mahayar Ependi dan Eni Suryani dari Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian mendampingi pelaksanaan kegiatan sehari tersebut. Mahasiswa nampak begitu antusias melakukan praktikum di laboratorium mulai dari menyiapkan larutan standard, membuat kurva kalibrasi sampai dengan melakukan pengukuran menggunakan instrumen. Diskusi hangat pun berlangsung selama praktikum. Setelah kegiatan praktikum selesai, para peserta berkumpul untuk mendiskusikan hasil kegiatan sehari tersebut. Dr. Tutun Nugraha selaku dosen pendamping dari IULI mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswanya. Banyak hal yang dipelajari selama mahasiswa melakukan praktikum di laboratorium. “Atas nama IULI saya sangat berterima kasih kepada P2 Kimia yang telah menyambut dan memfasilitasi anak-anak kami dengan baik. Saya yakin, anak-anak memperoleh banyak pengalaman dalam kegiatan hari ini. Mereka sebenarnya telah memperoleh dasar-dasar teori di kelas. Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat mempraktikan langsung bagaimana menggunakan instrumen analitik,” ungkap Tutun. Saat diminta memberikan komentar dan kesannya, seorang mahasiswa, Bhisma Satya mengungkapkan bahwa praktikum yang sudah dilakukan hari itu sangat bermanfaat untuk dirinya. Bhisma menilai banyak hal serta pengalaman baru diperolehnya di laboratorium. “Kami jadi tahu bagaimana tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menganalisa bahan. Mulai dari persiapan alat, pembuatan kurva kalibrasi, sampai dengan mengolah data. Ini akan menjadi bekal bagi kami yang ke depannya akan melanjutkan penelitian di Jerman untuk menyelesaikan skripsi,” Bhisma memberikan komentar dan kesan berkenaan praktikum sehari yang diikutinya. <ES/ p2k; ed: SJW>   Berita Terkait: https://www.iuli.ac.id/p/iuli-students-at-the-research-center-for-chemistry-in-lipi-puspiptek/

Baca

Hadiri Konferensi ASEAN di Thailand, Nina Jabarkan Riset Pangan Fungsional Indonesia


23 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Bangkok] Pertumbuhan riset terkait bahan alam dan pangan fungsional telah meningkat cukup pesat di berbagai belahan dunia, termasuk di kawasan ASEAN. Sinergitas untuk saling mengidentifikasi potensi dan pemanfaatannya bagi kepentingan bersama pun menjadi isu penting. Hal inilah yang mendorong Kementerian Riset dan Teknologi (MOST) Thailand untuk menyelenggarakan Workshop “ASEAN Biodiversity Resources of Functional Foods for Noncommunicable Diseases (NCDs)”. Bertempat di Royal Orchid Sheraton, Bangkok (20-22 Maret 2018), acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari even “ASEAN Next 2018: Rising STI Networking for Innovative ASEAN” dari tanggal 11-23 Maret 2018. Dalam workshop ini, Pemerintah Thailand mengundang dan membiayai para ilmuwan dari berbagai negara sebagai narasumber pembicara. Mereka diundang untuk membahas perspektif pengembangan riset pangan fungsional guna NCDs di masing-masing negara. Tampak hadir di acara tersebut antara lain pembicara dari negara-negara ASEAN, Jepang, Korea dan Amerika. Masing-masing negara ASEAN mengirimkan dua perwakilan.  Indonesia diwakili oleh Dr. Nina Artanti, peneliti senior bidang bahan alam dan pangan di Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI dan Dr. Ainia Herminiati, peneliti senior dari Pusat Teknologi Tepat Guna LIPI. Dikutip dari laman World Health Organization (WHO), Non Communicable Diseases (NCDs) atau lebih dikenal sebagai penyakit kronis, merupakan penyakit yang muncul sebagai pengaruh genetis, fisiologi, lingkungan dan perilaku. Tipe utama penyakit ini adalah penyakit kardiovaskular (serangan jantung dan stroke), kanker, penyakit pernafasan kronis (seperti asma) dan diabetes. “WHO memperkirakan, lebih dari 40 juta orang meninggal akibat penyakit ini, 30% diantaranya berasal dari negara berpenghasilan menengah ke bawah, termasuk di ASEAN,” ujar Prof. Jintana Sattayai dari Khon Kaen University Thailand yang tampil sebagai salah seorang pembicara kunci. “Tahun 2008, Indonesia, Vietnam dan Thailand merupakan tiga negara dengan jumlah penderita tertinggi penyakit NCDs ini, yang mencapai sekitar 70% kawasan ASEAN, “ lanjutnya. Beberapa faktor telah teridentifikasi untuk menurunkan resiko NCDs melalui pangan, misal melalui asupan buah dan sayuran, ikan serta diet. Salah satu upaya upaya yang tengah digalakkan untuk menekan NCDs adalah lewat pengembangan pangan fungsional. Bentuk pangan fungsional misalnya makanan alami yang kandungannya telah teridentifikasi, atau makanan yang telah diproses seperti diperkaya, dimodifikasi/ diubah, dihilangkan/ dikurangi, diganti, dan sebagainya untuk fungsi kesehatan tertentu.  “Di Indonesia, biodiversitas yang melimpah berpeluang untuk lebih dimanfaatkan dalam pengembangan riset, tren dan peluang pasar pangan fungsional“ papar Dr. Nina Artanti, saat berbicara di hari kedua. “Apalagi dengan tingginya angka NCDs di negara kami, maka pengembangan riset pangan fungsional terkait NCDs menjadi semakin perlu digalakkan, sehingga NCDs dapat dicegah lebih dini“ tegas Koordinator Kelompok Penelitian Kimia Pangan di P2 Kimia LIPI ini. Lebih lanjut, peneliti yang menyelesaikan S3-nya di Ehime University, Jepang ini, bersama dengan Dr. Ainia Herminiati, menceritakan bagaimana kelompok penelitiannya di P2 Kimia LIPI dan kelompok penelitian lainnya di LIPI juga di berbagai litbang dan perguruan tinggi di Indonesia turut aktif dalam memanfaatkan biodiversitas Indonesia baik berupa tanaman, hewan dan mikroba dari daratan dan lautan untuk mengembangkan riset pangan fungsional yang diharapkan dapat menghasilkan produk makanan/minuman fungsional, dan produk nutrasetikal untuk berbagai penyakit degenaratif. Kegiatan ini, diharapkan dapat membantu program prioritas pemerintah Indonesia di bidang pangan dan kesehatan. Setelah menampilkan beberapa pembicara lainnya, acara konferensi ditutup dengan diskusi untuk merangkum jenis penyakit menular utama dan biodiversitas yang digunakan untuk mengatasinya serta masalah yang dialami di negara-negara ASEAN.  Pada hari terakhir, dillakukan studi lapangan ke Thailand Institute of Scientific and Technological Research (TISTR) dan Perusahaan The Mighty Co. <aars/p2 kimia>

Baca

Di Seminar Kesetaraan Gender, Agus Beberkan Potensi Perempuan Terpapar Zat Kimia Saat Daur Ulang Limbah


22 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Surabaya] Ketimpangan gender di berbagai sektor pekerjaan masih terjadi di Indonesia. Hal ini tidak terkecuali berlaku juga untuk industri yang terkait plastik dan daur ulang plastik. Demikian kesan yang didapat oleh peneliti P2 Kimia, Dr. Agus Haryono, saat diundang melakukan presentasi dan diskusi di acara Seminar Kesetaraan Gender dalam Pengelolaan Limbah Kerasan (rigid) Plastik. Bertempat di Hotel Luminor Surabaya, Rabu (21/3), even tersebut membuka forum diskusi antar peneliti, pegiat, aktivis sampah, praktisi daur ulang, hingga kelompok PKK. Secara sekilas, peserta seminar didominasi 80% oleh para perempuan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh UNDP (United Nations Development Program) yang bekerjasama dengan Kementerian Perindustrian. Tujuannya adalah untuk mensosialisasikan bahaya PBDEs (polybrominated diphenyl ethers) dan UPOPs (Unintentional Persistent Organic Pollutants) yang sudah dilarang di dunia. “PBDEs adalah zat penghambat nyala api, yang ditambahkan di berbagai alat elektronik, spare part kendaraan, tekstil tahan api dan sebagainya,“ ungkap Agus saat memberikan penjelasan. “Barang-barang bekas seperti komputer, laptop, kabel, sofa, korden tahan api, ketika masuk proses daur ulang, maka ibu-ibu yang bekerja memilah sampah, berpotensi terkena pajanan zat berbahaya PBDEs terlebih dahulu,“ lanjut peneliti madya yang juga Kepala P2 Kimia LIPI ini. “Adapun UPOPs, termasuk dioksin dan furan bisa timbul akibat pembakaran yang tidak sempurna. Ibu-ibu rumah tangga kerap membakar sampah rumah tangga, termasuk plastik, yang jika dibakar berpotensi menimbulkan dioksin dan furan yang beracun, “ pungkas peneliti yang pernah dianugerahi sebagai salah seorang penemu paten terbanyak di Indonesia ini. Di industri daur ulang plastik, jumlah pekerja yang dominan adalah perempuan. Perempuan dinilai lebih teliti dan sabar dalam melakukan pemilahan sampah plastik. Agus selanjutnya memaparkan berbagai potensi senyawa kimia berbahaya dan potensi dampaknya. Diantaranya, berpotensi mengurangi berat bayi waktu lahir, menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak, memperpendek waktu keluarnya ASI dan sebagainya. “Oleh karenanya, para perempuan ini harus diberikan informasi yang cukup agar bisa terhindar dari pajanan bahan kimia yang berbahaya dalam industri daur ulang plastik,“ terang Agus mewanti-wanti. <ARS/ p2k>

Baca

Kunjungan Wisata Iptek SMPS IT Asy Syifa Qolbu Gunung Putri ke Pusat Penelitian Kimia LIPI


20 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Sebanyak 18 siswa dan 1 orang guru pendamping SMP IT Asy Syifa Qolbu Gunung Putri Bogor telah bertandang ke Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI pada hari Selasa (20/3). Kunjungan kali ini bertujuan untuk melihat kegiatan penelitian secara langsung di laboratorium. Selain ke P2 Kimia LIPI, rombongan dari SMP IT Asy Syifa Qolbu juga mengunjungi pusat penelitian dan unit kerja lainnya yang berada di Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Sebagai informasi, Kawasan PUSPIPTEK merupakan tempat beradanya laboratorium-laboratorium penelitian dan pengembangan milik beberapa instansi seperti BPPT, LIPI, KLHK dan BATAN. “Kegiatan ini juga sebagai wisata iptek bagi siswa-siswi kami untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Bapak Adhim, sang guru yang mendampingi kunjungan tersebut. "Harapan kami, setelah melihat dan dapat berdiskusi langsung dengan Bapak/Ibu peneliti di sini, minat siswa-siswi kami untuk belajar semakin meningkat," lanjutnya. Kedatangan rombongan disambut oleh Mahyar Ependi dan Rohmana Taufik dari Bidang Diseminasi dan Kerjasama. Mahyar memaparkan sekilas tentang kegiatan dan pengembangan pembuatan Bioetanol Generasi 2 di Pilot Plant milik P2 Kimia. "Pilot plant ini dapat mengubah limbah tandan kosong sawit menjadi bahan bakar. Saat ini para ilmuwan sedang berusaha mengembangkan bahan bakar yang ramah lingkungan dan terbarukan. Inilah yang sedang dilakukan juga oleh para peneliti di sini melalui pengembangan bioetanol dari limbah biomassa," terang Mahyar memberikan penjelasan kepada peserta. "Nantinya adik-adik juga diharapkan ada yang berminat menjadi peneliti, mengembangkan energi-energi terbarukan lainnya untuk masa depan dunia yang lebih baik," ungkapnya lebih lanjut memberikan motivasi kepada para siswa. Rombongan selanjutnya mengunjungi laboratorium analisa HPLC dan GC-MS. Meskipun ilmu kimia yang dipelajari di sekolah masih tahap awal, para siswa terlihat tetap antusias. Mereka memperhatikan dengan seksama pada saat dijelaskan fungsi dan bagaimana alat-alat instrumen kimia bekerja untuk menganalisa bahan. Beberapa pertanyaan juga dilontarkan oleh siswa/siswi menandakan ketertarikan mereka terhadap ilmu kimia. Tentunya kegiatan kunjungan ini sangat bermanfaat dalam menambah wawasan ilmu pengetahuan para siswa dan menjadi pengalaman yang berharga bagi mereka. (ES/ P2K ed: SJW).

Baca

Prof. Hanafi dan Tim Raih Grant LIPI-JSPS Jepang Guna Kembangkan Senyawa Antivirus Hepatitis B dari Tanaman Indonesia


14 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Salah seorang Profesor Riset di P2 Kimia LIPI, Prof. Dr. Muhammad Hanafi, bersama dengan tim penelitiannya berhasil meraih pendanaan riset bersama dari LIPI dan Japan Society for Promotion of Science (JSPS). Hanafi mendapatkan pendanaan untuk riset berjudul  “Identification and Development of New Antivital Lead Compounds against Hepatitis B from Indonesian Medicinal Plants”. Kegiatan ini merupakan kolaborasi riset bersama antara LIPI dan JSPS untuk tahun anggaran 2018. Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang hati hingga menimbulkan penyakit akut dan kronis. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2017, sebanyak 7,1 persen penduduk Indonesia diduga mengidap penyakit hepatitis B. Hepatitis B merupakan masalah kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 680 ribu orang meninggal dunia tiap tahun akibat komplikasi hepatitis B, seperti sirosis dan kanker hati. Saat ini, Indonesia adalah salah satu negara dengan penderita hepatitis terbanyak, di antara 11 negara di Asia Tenggara. (alodokter.com). Sehingga, pengembangan riset untuk mengobati Hepatitis B menjadi sangat penting dilakukan, termasuk oleh para peneliti di Pusat Penelitian Kimia LIPI. “Terimakasih atas dukungannya semua. Raihan ini merupakan hasil perjalanan yang cukup panjang setelah setahun lebih berjuang melalui berbagai proses, “ ujar profesor riset bidang kimia bahan alam dan farmasi tersebut. Lebih lanjut, Hanafi yang menyelesaikan S3 bidang Kimia Organik di Osaka University ini mengungkapkan berbagai proses yang telah dilalui, seperti penyiapan proposal, penyelesaian perjanjian kerjasama (MoU), penyelesaian perjanjian pengalihan material (MTA- Material Transfer Agreement), pengurusan perizinan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait pengiriman sampel dan pemenuhan persyaratan kode etik riset (eResearch Ethics) dari JSPS. “Capaian ini sangat membanggakan lembaga kita, “ terang Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia LIPI saat memberikan ucapan selamat. “Mudah-mudahan penelitiannya berjalan lancar dan bermanfaat bagi kita semua, “ imbuhnya. Usai mendapatkan kepastian penerimaan grant, Hanafi bersama dengan tim selanjutnya sudah menyelesaikan persyaratan administrasi terkait kode etik riset dan lain-lain. Direncanakan, riset ini akan berjalan selama 3 tahun.  Pengambilan sampel tanaman telah dilakukan di kawasan PUSPIPTEK dan sedang proses untuk  uji aktivitas nya Graduate School of Health Sciences, di Kobe University dengan Dr. Aoki Chie Utsubo sebagai mitra penanggungjawab di Jepang. Penelitian ini untuk mengungkap potensi tumbuhan Indonesia sebagai calon obat antivirus hepatitis B dan menghasilkan senyawa B.  Diharapkan, keluaran ilmiah berupa paten dan publikasi internasional juga dapat terwujud melalui kerjasama ini. <aars/ p2 kimia> Keterangan Foto: Sebelah kiri:  Kunjungan inisiasi kerjasama Dr. Aoki Utsubo Chie (paling kanan) ke Pusat Penelitian Kimia  LIPI  (sumber: dokumen internal) Sebelah kanan: Peresmian kerjasama JSPS dan LIPI  tahun 2017 (sumber: http://jastip.org/en/result/%E3%80%90jastip-news%E3%80%91-jsps-alumni-association-of-indonesia-inauguration-ceremony)

Baca

Sosialisasi Program L’Oréal - UNESCO For Women In Science 2018 di Pusat Penelitian Kimia LIPI


13 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) LIPI kembali menjadi ajang pertemuan para peneliti perempuan muda nasional. Dihadiri oleh tak kurang 40 peserta dari berbagai instansi seperti BBPT, BATAN, dan LIPI, mereka berkumpul untuk acara Sosialisasi Program L’Oréal – UNESCO For Women In Science 2018. Acara diselenggarakan pada hari Selasa (13/3), di Ruang Rapat Utama P2 Kimia. “P2 Kimia merasa terhormat sebagai tuan rumah acara ini,“ ujar Dr. Arthur A. Lelono saat membuka acara mewakili Kepala P2 Kimia. “Ini merupakan kesempatan emas guna membangun jaringan dan semangat para peneliti perempuan Indonesia,“ lanjut pria yang merupakan Kepala Bagian Tata Usaha di P2 Kimia itu. Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd. selaku Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) yang berkedudukan di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan selanjutnya memberikan sambutan pengantar. “Acara sosialisasi semacam ini sangat sesuai dan didukung penuh oleh UNESCO,“ terang Prof. Arief yang didampingi 4 orang stafnya ini. “Sebab hal ini sejalan dengan tujuan UNESCO untuk memberikan kontribusi pada pembangunan perdamaian, pemberantasan kemiskinan, pembangunan berkelanjutan dan dialog antarbudaya melalui pendidikan, ilmu pengetahuan alam, ilmu sosial dan manusia, budaya, komunikasi dan informasi,“ paparnya. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ibu Melani Masriel, Head of Corporate Communication PT L’Oréal Indonesia. Melanie mengungkapkan, L’Oreal meyakini perempuan memiliki andil besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Oleh karenanya, program FWIS (For Women In science) yang diluncurkan tahun 1998 atas kemitraan dengan UNESCO bertujuan untuk mengakui, menyemangati dan mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmuwan perempuan pada khususnya. “Dunia membutuhkan sains dan sains membutuhkan perempuan,” tegasnya. Dr. Neni Shinta Wardani, peneliti senior di P2 Kimia sebagai salah satu juri pada penilaian penelitian perempuan muda ini di kesempatan berikutnya memberikan trik-triknya untuk bisa mengikuti kompetisi. “Kriteria penilaian kami antara lain originality, research impact to Indonesia, problem statement & methodology, track record & publications dan presentation & writing,“ terangnya. Dalam acara tersebut, ditampilkan pula kesan-kesan para pemenang peneliti perempuan sebelumnya, seperti Dr. Siti Nurul Aisyiyah Jenie, Dr. Yuliati Herbani, Dr. Dieni Mansur, Dr. Yenny Meliana dan Dr.Eni Sugiarti. Mereka sepakat bahwa mengikuti kompetisi FWIS dapat membangun networking menjadi lebih luas, sehingga dalam dunia penelitian bisa berkolaborasi dengan instansi lainnya. Panitia acara mengingatkan kepada para calon peserta untuk mengikuti L’Oréal – UNESCO for Women in Science tahun 2018 yang pendaftarannya dimulai 20 April 2018 dan batas penerimaan aplikasi pada 9 September 2018. Sebagai akhir dari kegiatan sehari tersebut, acara kemudian ditutup oleh Dr. Arthur Aryo Lelono.  (ES/P2K; ed: SJW).

Baca

Aisyiah, Peneliti P2 Kimia Turut Berbagi Pesan Inspiratif di Diskusi Publik Peringatan Hari Perempuan Internasional 2018


12 Maret 2018

“LlPI selalu mendorong peneliti perempuan untuk meningkatkan kompetensi mereka. Saat ini terdapat 779 peneliti perempuan yang tersebar di satuan kerja LIPI di seluruh Indonesia.” jelas Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati di Diskusi Publik Peringatan Hari Perempuan Internasional 2018 di Jakarta. Menurut Enny, para peneliti perempuan LIPI didorong untuk menonjolkan bidang kepakaran yang unik di jejaring ilmiah dunia. “Hal ini untuk membuktikan kemampuan peneliti dan memberi motivasi perempuan Indonesia untuk berkarya,” jelas Enny.   Tanggal 8 Maret 2018 sendiri merupakan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) yang perayaan globalnya telah dimulai sejak 1977. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memaknai peringatan hari tersebut dalam kaitannya dengan peran perempuan di dunia riset dan ilmu pengetahuan. Untuk mengupas lebih jauh tentang hal tersebut, LIPI menggelar Diskusi Publik Peringatan Hari Perempuan Internasional 2018 “Perempuan dalam Transformasi Iptek” di Media Center LIPI.   Diskusi kali ini menghadirkan tiga peneliti berprestasi LIPI. Ketiganya adalah Siti Nurul Aisyiyah Jenie, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, yang juga penerima L’ORÉAL – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 kategori Material Sciences; Yuliati Herbani, peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, yang juga penerima L’ORÉAL – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 kategori Engineering Sciences; dan Sri Rahayu, peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI, yang telah mempublikasikan dua spesies baru, (Hoya undulata SRahayu & Rodda dan  Hoya rintzii Rodda, Simmonsson & Srahayu), dan tiga paten/PVT (PVT Aeschynanthus "Soedjana Kassan",  PVT Aeschynanthus "Mahligai", dan  PVT Hoya "Kusnoto").   “Ada tantangan sebagai berkarir sebagai peneliti, perempuan istri, dan ibu. Bukan sesuatu yang taken for granted tapi dari hasil belajar dari waktu ke  waktu,” ujar Siti Nurul Aisyiah Jenie, peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI. Memulai karier peneliti sejak tahun 2007, perempuan yang akrab disapa Ais ini adalah peraih L’ORÉAL – UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 kategori Material Sciences lewat proposal peneltian deteksi dini kanker lewat material silika alam Indonesia. “Selama ini deteksi baru bisa dilakukan di rumah sakit setelah stadium akhir. Penelitian saya merancang semacam testpack deteksi dini kanker seperti tes kehamilan sehingga bisa dimanfaatkan masyarakat umum,” papar Ais. Menurut perempuan yang sangat menyukai matematika ini, keterbatasan dan halangan jangan menjadikan perempuan menyerah. “Semuanya jadi tantangan buat saya. Intinya perempuan bisa maju jika diberi kesempatan yang sama,” ungkapnya. <tbb/ p2kimia>

Baca

“K-I-M-I-A”: Moto Baru Menuju Reformasi Birokrasi yang Semakin Sukses


09 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Komitmen, semangat, sukses! Tiga kata tersebut menjadi slogan untuk meningkatkan semangat sivitas Pusat Penelitian Kimia LIPI (P2 Kimia) menuju penerapan reformasi birokrasi (RB) di P2 Kimia. Slogan ini diperkenalkan oleh Didin Zaenudin, SE, koordinator Tim Penerapan RB P2 Kimia 2018, di kegiatan Sosialisasi Kegiatan Reformasi Birokrasi dan Zona Integritas. Kegiatan diadakan pada hari Jum’at (9/3) di ruang pilot plant bioetanol P2 Kimia. Selain itu, dicanangkan pula moto P2 Kimia untuk menuju RB dan Zona Integritas (ZI) yang semakin sukses. “Moto baru kita adalah “K-I-M-I-A”. Komitmen, Integritas, Melayani, Inisiatif, Andal (KIMIA),” terang Kepala P2 Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono saat memberikan sambutan acara. Sebagai bagian dari lembaga riset negara, P2 Kimia berkomitmen menjalankan reformasi birokrasi untuk lebih meningkatkan perannya dalam pemerintahan, pembangunan nasional, dan pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan pembangunan zona integritas di lingkungan P2 Kimia dimaksudkan untuk mewujudkan wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM). Didin juga memaparkan roadmap RB/ZI di P2 Kimia sebagai strategi terwujudnya tujuan reformasi birokrasi. Khusus tahun tahun 2018, P2 Kimia ingin mencapai birokrasi yang efektif, efisien, akuntabel, dan bersih melalui predikat WBM. Selanjutnya Didin juga menjabarkan peran-peran yang bisa dilakukan oleh individu-individu P2 Kimia untuk ikut serta dalam mewujudkan RB. Dalam acara ini juga diperkenalkan agen-agen perubahan di P2 Kimia LIPI yang akan bertugas sebagai pelopor sekaligus role model dalam penerapan RB. Agen perubahan baru di tahun 2018 dilantik langsung oleh Kepala P2 Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono. Dengan dilantiknya agen perubahan baru, sampai sekarang sudah ada 36 orang agen perubahan di P2 Kimia. Didin menjelaskan bahwa agen jumlah agen perubahan dapat terus bertambah hingga diharapkan semua sivitas P2 Kimia dapat menjadi agen perubahan, “Paling tidak kita mengharapkan 50% dari sivitas P2 Kimia akan berstatus sebagai agen perubahan”, ungkap Didin yang juga merupakan Kabid Sarana Penelitian P2 Kimia ini. Bersama dengan acara ini, juga dilakukan acara penghargaan Pegawai Terbaik Februari 2018 dan pelepasan purnabakti P2 Kimia. Rusmana dihargai sebagai Pegawai Terbaik Februari 2018 atas dedikasi dan kinerjanya yang inspiratif sebagai staff keuangan P2 Kimia. Pelepasan purnabakti diadakan untuk Drs. Tigor Nauli dan Ir. Ruslan Effendi M.S. Drs. Tigor telah bekerja selama 38 tahun, dan beliau adalah salah satu pelopor bidang penelitian kimia pangan di P2 Kimia. Ir. Ruslan telah bekerja selama 32 tahun, dan terlibat dalam berbagai proyek penelitian nasional selama masa baktinya di P2 Kimia. <ar/ p2kimia>

Baca

Dukung Industri Obat Tradisional, Pusat Penelitian Kimia LIPI Siapkan Fasilitas Riset Berstandard CPOTB


08 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Indonesia dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati, memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman dan banyak di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat atau digunakan sebagai bahan obat. Keanekaragaman hayati Indonesia ini diperkirakan terkaya kedua di dunia setelah Brazil dan terutama tersebar di masing-masing pulau-pulau besar di Indonesia. Pengembangan obat alami ini memang patut mendapatkan perhatian yang lebih besar, mengingat praktek pemanfaatan obat tradisional telah mengakar di masyarakat Indonesia. Disamping itu potensi pengembangannya sangat terbuka, dan permintaan pasar akan bahan baku obat tradisional terus meningkat untuk kebutuhan domestik maupun internasional. Oleh karena itu diperlukan fasilitas penelitian obat tradisional untuk menjawab permasalahan kesehatan serta mendukung kemandirian bahan baku obat secara nasional. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Paket Kebijakan Ekonomi ke-11 tentang pengembangan industri kefarmasian dan alat kesehatan. Kamis (8/3), bertempat di Pusat Penelitian Kimia LIPI, Serpong, Tangerang Selatan diadakan ‘Peletakan Batu Pertama Pembangunan Fasilitas Pengembangan Obat Tradisional dengan Standard Cara Pembuatan Obat Tradisonal yang Baik (CPOTB)’ yang merupakan kegiatan Prioritas Nasional LIPI tahun 2018. Pengembangan fasilitas tersebut bertujuan untuk percepatan hilirisasi hasil penelitian kesehatan dan obat yang telah dikembangkan selama ini, serta memberikan dukungan terkait riset dan pengembangan produk kepada mitra industri. Pelaksana Tugas Kepala LIPI, Bambang Subiyanto mengungkapkan bahwa LIPI menaruh perhatian besar dalam penelitian dan pengembangan kesehatan obat. Hal ini dimplementasikan LIPI dalam kegiatan kompetitif serta unggulan yang menitikberatkan pada eksplorasi serta kajian komprehensif terkait penggunaan tanaman obat serta bahan aktifnya untuk bahan baku obat. “Hingga saat ini, hampir 95% bahan baku industri farmasi kita masih bergantung dari impor luar negeri. Sementara kita memiliki 1.247 industri dan usaha obat tradisional di Indonesia termasuk 10 perusahaan merupakan industri obat tradisional skala besar. Namun, industri obat tradisional (IOT), usaha kecil obat tradisional (UKOT) dan usaha mikro obat tradisional (UMOT) banyak yang tidak memiliki fasilitas CPOTB sehingga mengalami kesulitan dalam membuat produk berstandar CPOTB,” ungkap Bambang Subiyanto saat memberikan sambutannya. “Oleh karena itu, fasilitas yang akan dibangun ini diharapkan dapat menjadi percontohan laboratorium CPOTB dalam rangka memfasilitasi industri kecil dan menengah guna mempercepat pengembangan produk obat tradisional di tanah air,” lanjutnya. Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Agus Haryono menerangkan bahwa satuan kerja yang dipimpinnya sangat fokus dalam pengembangan obat tradisonal. Melalui kegiatan penelitan yang dilakukan, telah banyak ditemukan senyawa-senyawa baru dari ekstrak tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai anti kanker, anti diabet, anti malaria, serta antioksidan. “Saya yakin, melalui fasilitas riset pengembangan obat tradisional dengan standard CPOTB, hasil-hasil penelitian kami akan lebih berkualitas dan mudah diterima oleh industri,” papar Agus menjelaskan arti penting fasilitas yang sedang dibangun tersebut. Selain dihadiri oleh pejabat struktural dan fungsional di lingkungan LIPI, turut hadir dalam acara tersebut yaitu Direktur Pengawasan Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan BPOM serta Kepala Puspiptek Kementrian Ristekdikti. <sjw, p2 kimia>   Berita Terkait: http://lipi.go.id/siaranpress/LIPI-Resmikan-Fasilitas-Pengembangan-Obat-Tradisional-dengan-Standard-Cara-Pembuatan-Obat-Tradisional-yang-Baik-CPOTB/20041 http://litbang.kemendagri.go.id/website/lipi-resmikan-fasilitas-penelitian-berstandar-agar-riset-mudah-diterima-industri/ http://www.beritasatu.com/nasional/482153-lipi-bangun-fasilitas-pengembangan-obat-tradisonal-terstandar.html https://www.antaranews.com/berita/691267/lipi-bangun-fasilitas-pengembangan-obat-tradisional http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/03/08/p595fs284-lipi-bangun-fasilitas-pengembangan-obat-tradisional https://www.gatra.com/rubrik/kesehatan/311673-lipi-resmikan-fasilitas-penelitian-berstandar-agar-riset-mudah-diterima-industri http://www.mirajnews.com/2018/03/lipi-bangun-fasilitas-pengembangan-obat-tradisional.html http://www.koran-jakarta.com/lipi-bangun-fasilitas-pengembangan-obat-tradisional/ http://mediaindonesia.com/news/read/148636/lipi-bangun-fasilitas-riset-obat-tradisional/2018-03-09 https://kompas.id/baca/ilmu-pengetahuan-teknologi/2018/03/08/lipi-akan-membangun-fasilitas-pengembangan-obat-tradisional/ http://www.harianterbit.com/m/iptek/read/2018/03/08/94557/0/22/Hilirisasi-Hasil-Riset-LIPI-Bangun-Fasilitas-Pengembangan-Obat https://news.trubus.id/post/lipi-siap-resmikan-fasilitas-pengembangan-pembuatan-obat-tradisional-7953 http://voinews.id/indonesian/index.php/component/k2/item/1553-lipi-bangun-fasilitas-pengembangan-obat-tradisional http://www.victorynews.id/lipi-bangun-fasilitas-riset-obat-tradisional/ http://www.sumselnian.com/lipi-dukung-riset-dan-pengembangan-obat-tradisional http://eksposnews.com/kesehatan/Mengembangkan-Obat-Tradisional

Baca

Sosialisasikan Prosedur Operasional Kerja (POK) 2018 di Kedeputian IPT LIPI, Deputi Tekankan Target Kinerja Peneliti


08 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Di tengah semakin dituntutnya disiplin dan kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN), Pusat Penelitian Kimia LIPI pada hari Kamis (8/3) mengadakan 'Sosialisasi Prosedur Operasional Kerja Kedeputian IPT'. Acara yang dilaksanakan pada jam 08.30–10.00 WIB ini bertujuan untuk menciptakan suasana yang semakin kondusif, transparan, dan berkeadilan khususnya di Kedeputian IPT LIPI. Acara ini dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI Dr. Agus Haryono dan dihadiri 60 orang terdiri dari Kepala Bagian/Bidang, Kepala Sub Bagian/Bidang, Peneliti dan Kandidat Peneliti. Hadir sebagai pembicara utama adalah Deputi IPT LIPI Dr. Laksana T. Handoko yang memaparkan presentasi tentang ‘Perhitungan Penilaian Tunjangan Kinerja Berbasis Indikator Keluaran'. Handoko menyampaikan bahwa sebagai wujud nyata dari implementasi Reformasi Birokrasi (RB), dirinya telah merumuskan sasaran kerja yang harus dicapai oleh seluruh staf di Lingkungan Kedeputian IPT. Khusus untuk peneliti, Handoko memberikan target supaya setiap peneliti dapat menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal terindeks global di akhir tahun kegiatan. “Ruang lingkup Prosedur Operasional Kerja (POK) ini adalah berlaku untuk seluruh personil di Lingkungan Kedeputian IPT dengan SKP berbasis kegiatan penelitian. Diharapkan POK ini akan memacu kinerja seluruh personil dan memberikan acuan yang jelas terkait sasaran kinerja yang harus dicapai,“ ungkap Handoko. Dalam sesi diskusi tanya jawab, dapat disimpulkan bahwa indikator keluaran baik sendiri atau bersama-sama terekam di publikasi tahun terkait. Deputi akan mengecek secara langsung hasil kerja dari personil di Lingkungan Kedeputian IPT. Hasil pengecekan ini akan menjadi dasar penetapan reward dan punishment di tahun yang akan datang. “Peneliti tidak boleh bermental hanya siap kerja dan kerja saja, tetapi harus bermental Professor yaitu memiliki ide penelitian untuk dikerjakan sendiri atau bersama-sama dan bisa mencarikan dana penelitiannya,“ pesan Handoko yang saat ini juga menjabat sebagai Plt. Sekretaris Utama LIPI. Diskusi tidak dapat berlangsung lama karena Deputi IPT LIPI harus mengikuti acara lain yaitu Peletakan Batu Pertama Gedung CPOTB (Cara Pembuatan Obat Yang baik) di tempat sama di Pusat Penelitian Kimia LIPI bersama Plt. Kepala LIPI, dan undangan. (ES/P2K)

Baca

Diskusikan Biofuel, Delegasi Republik Korea dan ASEAN Kunjungi Pusat Unggulan Iptek Bioetanol G2 di P2 Kimia


02 Maret 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] The 2nd Seminar of Biofuel and IP Policy Consultation yang diadakan oleh KIPA dan LIPI berlangsung di Jakarta dari Selasa (27/2) sampai Kamis (1/3). Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, di hari ketiga, Kamis (1/3) para peserta mengunjungi Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Bioetanol G2 - Pusat Penelitian Kimia LIPI di Kawasan PUSPIPTEK Serpong. Kunjungan diterima oleh Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Dr. Eng. Agus Haryono. “Indonesia adalah negara besar yang memiliki sumber daya biomassa yang melimpah sebagai bahan baku untuk produksi bioethanol generasi ke 2. Selain itu, Bioetanol adalah bahan bakar alternatif yang terbarukan dan ramah lingkungan,” terang Agus Haryono, dalam sambutannya. Kemudian, Agus memaparkan gambaran tentang pusat penelitian yang dipimpinnya serta kegiatan-kegiatan apa saja yang sedang dan telah dilakukan. Pada kesempatan tersebut Dr. Haznan Abimanyu selaku peneliti senior bidang energi biomassa menjelaskan hasil-hasil riset dan pengembangan Bioetanol G2 yang sudah dicapai oleh Pusat Penelitian Kimia LIPI. Dalam presentasinya, Haznan memaparkan sejarah pengembangan bietanol G2 di Pusat Penelitian Kimia serta proses yang terjadi dari mulai bahan baku sampai dengan diperoleh bioetanol. Presentasi yang bertempat di Pilot Plant Bioetanol G2 berlangsung dengan interaktif meskipun diiringi guyuran hujan yang sangat lebat di Serpong. “Kami telah berhasil mengembangkan proses pembuatan bioetanol berbahan baku tandan kosong sawit (TKS) dengan kapasitas 160 liter/ton TKS. Bioetanol yang dihasilkan memiliki konsentrasi 99,5% yang siap digunakan untuk bahan bakar pengganti bensin,” ungkap Haznan kepada peserta yang datang dari 10 negara anggota ASEAN dan Republic of Korea (ROK). “Pilot plant bioetanol G2 kami merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia dan menjadi bench-mark untuk proses produksi bioetanol berbasis lignoselulosa. Selain itu kami juga mengembangkan produk-produk samping untuk meningkatkan nilai ekonomi proses produksi bioetanol,” lanjut pria yang merupakan peneliti madya di Pusat Penelitian Kimia LIPI tersebut. Sebagai informasi, Pusat Penelitian Kimia LIPI telah memiliki paten-paten terkait produk samping pengembangan bioetanol G2. Paten tersebut seperti karbon aktif dari lignin, senyawa antioksidan glutathione untuk kosmetik, dan proses pengolahan limbah bioetanol. Paten-paten yang dihasilkan dikelola oleh Pusat Inovasi LIPI sebagai aset Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dan terus diupayakan untuk dapat digunakan oleh industri. Melimpahnya biomassa, khususnya lignoselulosa di Indonesia membuka kesempatan besar terwujudnya bahan bakar yang dapat terbarukan dan ramah lingkungan. Oleh karena itu Pusat Penelitian Kimia LIPI terus mengembangkan riset-riset bioefuel berbahan baku biomassa yang lebih cost-effective. Melalui kunjungan peserta The 2nd Seminar of Biofuel and IP Policy Consultation diharapkan terjalin kolaborasi antar negara ASEAN dan Republik Korea dalam penelitian dan pengembangan biofuel. <mrt&sjw; p2 kimia>   Berita terkait: http://lipi.go.id/siaranpress/Delegasi-Korea-ASEAN-Kunjungi-LIPI-Terkait-Bioetanol-Generasi-ke-2/19992 http://lipi.go.id/berita/Bioetanol-Generasi-ke-2-LIPI-Sumber-Energi-Baru-dari-Limbah-Kelapa-Sawit/20037 http://voinews.id/index.php/component/k2/item/858-lipi-successfully-develops-bioethanol-as-fuel-substitute http://rri.co.id/post/berita/497224/teknologi/delegasi_koreaasean_kunjungi_lipi_terkait_bioetanol_generasi_ke_2.html http://www.mirajnews.com/2018/03/delegasi-korea-asean-kunjungi-pusat-penelitian-kimia-lipi.html http://www.mirajnews.com/2018/03/lipi-berhasil-kembangkan-bioetanol-berbahan-baku-tandan-kosong-sawit.html

Baca

Pertamina dan P2 Kimia Rumuskan Kerjasama Pemanfaatan Limbah Biomasa untuk Energi Terbarukan


15 Februari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Kamis (15/02) P2 Kimia kembali menyambut kedatangan tim litbang dari PT. Pertamina (Persero) di ruang rapat utama P2 Kimia LIPI. Tujuan pertemuan kali ini sebagai pendalaman lebih lanjut mekanisme kerjasama penelitian yang disepakati pada pertemuan sebelumnya. Seiring dengan semakin terbatasnya bahan bakar berbasis fosil dan meningkatnya kesadaran energi yang ramah lingkungan, maka pengembangan energi terbarukan menjadi semakin penting. Oleh karenanya, dalam pertemuan tersebut, pengembangan energi terbarukan berbasis limbah biomasa, yaitu bioethanol generasi kedua, menjadi topik utama kerjasama penelitian. Kedatangan tim Pertamina disambut hangat oleh Kasubbid Diseminasi dan Kerjasama P2 Kimia, Sujarwo S.Si. Rapat dipimpin langsung oleh Prof. Yanni Sudiyani selaku Pembina Tim Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Bioetanol Generasi Kedua 2018. Hadir dalam acara ini, para peneliti P2 Kimia yang mewakili kelompok penelitian yang berkaitan, diantaranya Yan Irawan, M.T., Dr. Nino Rinaldi, Dian Burhani M.T. Muryanto M.T. Pertemuan juga dihadiri oleh Dr. Rr Trisanti Anindiyawati dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, dan para peneliti lainnya. “Dalam pertemuan ini, kami akan memaparkan program kerja serta sejauh mana penelitian tentang pengembangan bioethanol generasi kedua di P2 Kimia LIPI telah dilakukan,” ujar Prof. Dr. Yanni Sudiyani saat membuka pertemuan. Selanjutnya, masing-masing perwakilan kelompok penelitian di P2 Kimia mempresentasikan penelitiannya. Yan Irawan sebagai presenter pertama memaparkan penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Sistem Kontinyu Delignifikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit”. Dilanjutkan oleh Dr. Nino Rinaldi yang menyampaikan penelitiannya yang berjudul “Pengembangan Teknologi Konversi Katalitik Etanol menjadi Butanol”. Sebagai presenter ketiga, Dian Burhani M.T memaparkan tentang “Proses Fermentasi Bioetanol”. Dilanjutkan dengan Muryanto M.T. yang menyampaikan penelitiannya berjudul “Life Cycle Assessment Bioetanol Generasi Kedua”. Dan terakhir, Dr. Rr Trisanti Anindiyawati menyajikan penelitiannya dari sudut pandang yang berbeda, yaitu tentang “Produksi Enzim Rekombinan Selulose”. Pihak Pertamina sangat antusias menyimak setiap materi yang disampaikan sehingga terjadi diskusi yang sangat kondusif. Dr. Septhian Marno mempresentasikan latar belakang hingga mekanisme kerjasama yang disepakati oleh kedua belah pihak. Diskusi hangatpun berlangsung agar terhindar dari miskonsepsi dan mispersepsi. Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Setelah kurang lebih 3 jam, pertemuan selesai dan ditutup oleh pemimpin rapat. Diharapkan, pertemuan kali ini membawa LIPI selangkah lebih maju untuk berkontribusi dalam mengembangkan energi terbarukan. Tidak hanya untuk LIPI atau Pertamina, tetapi kerjasama ini juga bermanfaat bagi bangsa Indonesia secara umum. <OA/P2 Kimia>

Baca

Workshop Internasional LCA, Upaya P2 Kimia Dorong Riset yang Ramah Lingkungan


09 Februari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Isu pengembangan produk yang ramah lingkungan telah menjadi kebutuhan global. Oleh karenanya, pengembangan metode untuk mengakses potensi dampak lingkungan produk menjadi penting. Demikian diungkapkan Kepala Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono, saat membuka International Workshop on Life Cycle Assessment (LCA) di P2 Kimia, Jum’at (9/2). “Penelitian LCA dan bioetanol telah berkembang cukup pesat di P2 Kimia dalam beberapa tahun terakhir,“ ujar Agus. “Saya yakin workshop ini dapat menjadi wadah tukar-menukar informasi perkembangan keilmuan terkini,“ sambung pria yang juga merupakan penanggungjawab Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Kedua di P2 Kimia.  Workshop bertemakan bioetanol dan pangan fermentasi ini diselenggarakan oleh P2 Kimia dengan dukungan dari PUI Bioetanol Generasi Kedua dan Indonesian Life Cycle Assesment Network (ILCAN). Workhsop menghadirkan dua orang pembicara dari dalam P2 Kimia dan dari luar negeri. Tak kurang dari 65 peserta hadir di acara ini, dua pertiganya dari luar P2 Kimia. Pendaftar dari luar LIPI diantaranya adalah dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Wageningen University - Belanda, Institut Teknologi Bandung, Universitas Syiah Kuala, Universitas Gadjah Mada, Universitas Pelita Harapan, Universitas Prasetiya Mulya, STT Texmaco, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Universitas Pertahanan, Universitas Teuku Umar, Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), PT Charoen Pokphand Indonesia, dan PT. Pertamina. Acara dimulai dengan pengantar tentang konsep LCA oleh Dr. Edi Iswanto Wiloso, peneliti senior P2 Kimia. Edi yang menyelesaikan S3 nya di Leiden University ini menerangkan tentang kemajuan riset LCA di tanah air. “Riset LCA saat ini sudah semakin banyak, meskipun dibandingkan dengan negara ASEAN kita masih tertinggal,“ jelas Edi yang juga merupakan ketua ILCAN ini. Acara dilanjutkan dengan presentasi pertama yang berjudul potensi LCA untuk bioetanol generasi kedua. Presentasi disampaikan oleh Muryanto, S.T. M.T. dan dimoderatori Dr. Ajeng Arum Sari, Koordinator Kelompok Penelitian Kimia Lingkungan dan Analitik (KLA). Mury yang juga merupakan koordinator PUI 2018 menjelaskan terlebih dahulu penelitian LCA di P2 Kimia dan dilanjutkan perkembangan riset bioetanol skala pilot plant beserta kajian LCA-nya. “Bioetanol ini merupakan riset yang berlangsung sejak 2011 dan mendapatkan pengakuan sejak 2017 sebagai Pusat Unggulan Iptek oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi,” papar Mury di awal presentasinya. “Penelitian LCA ini juga tengah dikembangkan selaras dengan kegiatan pengembangan bioetanol G2 di P2 Kimia dan menjadi salah satu output dari PUI Bioetanol G2,” lanjutnya. Presentasi kedua menghadirkan Pele Sinke, dari Universitas Leiden Belanda. Pele menyampaikan makalah berjudul 'Uncertainty in LCA for Tempeh' dan dimoderatori Dr. Kiman Siregar, pengajar di Universitas Syiah Kuala Aceh. “Tempe adalah makanan khas Indonesia yang sudah diekspor ke berbagai negara termasuk di Belanda,“ ujar pria paruh baya penggemar berat tempe ini. ”Analisis Uncertainty pada LCA tempe dilakukan sebagai kelanjutan penelitian LCA tempe oleh peneliti P2 Kimia, dengan mengambil data di beberapa sentra industri tempe di Jawa Barat dan Banten,“ lanjutnya. Pele selanjutnya menguraikan metodologi untuk melakukan analisis uncertainty pada tempe. Dijelaskan oleh Pele, salah satu rekomendasi dari kajiannya adalah agar industri tempe mengupayakan bahan baku tempe yang bermutu dari dalam negeri, guna mengurangi potensi dampak lingkungan akibat transportasi impor yang jauh. Pada sesi diskusi, muncul beberapa pertanyaan menarik dari peserta. Pertanyaan tersebut diantaranya potensi penerapan bioetanol di industri dan terkait metodologi statistik pada uncertainty. Secara bergantian, Mury dan Pele menerangkan jawaban pertanyaan tersebut. Tak lupa, acara foto bersama dan serah terima plakat kepada pembicara mengakhiri acara workshop ini menjelang sholat Jum’at. <aars/ p2kimia>

Baca
ZONA INTEGRITAS