Berita

Workshop Internasional LCA, Upaya P2 Kimia Dorong Riset yang Ramah Lingkungan


09 Februari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Isu pengembangan produk yang ramah lingkungan telah menjadi kebutuhan global. Oleh karenanya, pengembangan metode untuk mengakses potensi dampak lingkungan produk menjadi penting. Demikian diungkapkan Kepala Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono, saat membuka International Workshop on Life Cycle Assessment (LCA) di P2 Kimia, Jum’at (9/2). “Penelitian LCA dan bioetanol telah berkembang cukup pesat di P2 Kimia dalam beberapa tahun terakhir,“ ujar Agus. “Saya yakin workshop ini dapat menjadi wadah tukar-menukar informasi perkembangan keilmuan terkini,“ sambung pria yang juga merupakan penanggungjawab Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Kedua di P2 Kimia.  Workshop bertemakan bioetanol dan pangan fermentasi ini diselenggarakan oleh P2 Kimia dengan dukungan dari PUI Bioetanol Generasi Kedua dan Indonesian Life Cycle Assesment Network (ILCAN). Workhsop menghadirkan dua orang pembicara dari dalam P2 Kimia dan dari luar negeri. Tak kurang dari 65 peserta hadir di acara ini, dua pertiganya dari luar P2 Kimia. Pendaftar dari luar LIPI diantaranya adalah dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Wageningen University - Belanda, Institut Teknologi Bandung, Universitas Syiah Kuala, Universitas Gadjah Mada, Universitas Pelita Harapan, Universitas Prasetiya Mulya, STT Texmaco, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Universitas Pertahanan, Universitas Teuku Umar, Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), PT Charoen Pokphand Indonesia, dan PT. Pertamina. Acara dimulai dengan pengantar tentang konsep LCA oleh Dr. Edi Iswanto Wiloso, peneliti senior P2 Kimia. Edi yang menyelesaikan S3 nya di Leiden University ini menerangkan tentang kemajuan riset LCA di tanah air. “Riset LCA saat ini sudah semakin banyak, meskipun dibandingkan dengan negara ASEAN kita masih tertinggal,“ jelas Edi yang juga merupakan ketua ILCAN ini. Acara dilanjutkan dengan presentasi pertama yang berjudul potensi LCA untuk bioetanol generasi kedua. Presentasi disampaikan oleh Muryanto, S.T. M.T. dan dimoderatori Dr. Ajeng Arum Sari, Koordinator Kelompok Penelitian Kimia Lingkungan dan Analitik (KLA). Mury yang juga merupakan koordinator PUI 2018 menjelaskan terlebih dahulu penelitian LCA di P2 Kimia dan dilanjutkan perkembangan riset bioetanol skala pilot plant beserta kajian LCA-nya. “Bioetanol ini merupakan riset yang berlangsung sejak 2011 dan mendapatkan pengakuan sejak 2017 sebagai Pusat Unggulan Iptek oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi,” papar Mury di awal presentasinya. “Penelitian LCA ini juga tengah dikembangkan selaras dengan kegiatan pengembangan bioetanol G2 di P2 Kimia dan menjadi salah satu output dari PUI Bioetanol G2,” lanjutnya. Presentasi kedua menghadirkan Pele Sinke, dari Universitas Leiden Belanda. Pele menyampaikan makalah berjudul 'Uncertainty in LCA for Tempeh' dan dimoderatori Dr. Kiman Siregar, pengajar di Universitas Syiah Kuala Aceh. “Tempe adalah makanan khas Indonesia yang sudah diekspor ke berbagai negara termasuk di Belanda,“ ujar pria paruh baya penggemar berat tempe ini. ”Analisis Uncertainty pada LCA tempe dilakukan sebagai kelanjutan penelitian LCA tempe oleh peneliti P2 Kimia, dengan mengambil data di beberapa sentra industri tempe di Jawa Barat dan Banten,“ lanjutnya. Pele selanjutnya menguraikan metodologi untuk melakukan analisis uncertainty pada tempe. Dijelaskan oleh Pele, salah satu rekomendasi dari kajiannya adalah agar industri tempe mengupayakan bahan baku tempe yang bermutu dari dalam negeri, guna mengurangi potensi dampak lingkungan akibat transportasi impor yang jauh. Pada sesi diskusi, muncul beberapa pertanyaan menarik dari peserta. Pertanyaan tersebut diantaranya potensi penerapan bioetanol di industri dan terkait metodologi statistik pada uncertainty. Secara bergantian, Mury dan Pele menerangkan jawaban pertanyaan tersebut. Tak lupa, acara foto bersama dan serah terima plakat kepada pembicara mengakhiri acara workshop ini menjelang sholat Jum’at. <aars/ p2kimia>

Baca

Peserta Raker Pengembangan Pusat Unggulan Iptek 2018 Kemenristekdikti Kunjungi PUI Bioetanol Generasi II P2 Kimia


07 Februari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Direktorat Lembaga Litbang, Kemenristekdikti menggelar Rapat Kerja Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) 2018 di Graha Widya Bhakti PUSPIPTEK Serpong. Acara yang berlangsung selama dua hari tersebut dibuka oleh Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dr. Patdono Suwignjo pada Selasa (06/02). Raker ini diikuti sekitar 300 orang peserta yang terdiri dari 78 lembaga PUI Litbang dan 24 Lembaga PUI Perguruan Tinggi. Ditambah dengan perwakilan dari instansi induk, yaitu 5 LPNK (BPPT, BATAN, LIPI, LAPAN, dan BMKG), 6 LPK (Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian ESDM, dan Kementerian LHK), 2 Litbang Badan Usaha  (PT. Riset Perkebunan Nusantara dan Perum Perhutani), serta perwakilan dari BAPPENAS. Dengan mengusung tema Sinergi Untuk Indonesia: Melangkah Bersama Mengembangkan Keunggukan Riset Indonesia. “Kemenristekdikti menginisiasi penyelenggaraan Rapat Kerja Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) 2018 yang dimaksudkan untuk memperkuat sinergi pelaksanaan rencana kerja PUI 2018, mencakup kegiatan Sourcing Capacity, R&D Capacity, dan Disseminating Capacity,” ujar Ir. Kemal Prihatman, M.Eng yang merupakan Direktur Lembaga Litbang, Kemenristekdikti selaku Ketua Pelaksanaan Raker Pengembangan PUI 2018 tersebut. Memasuki acara hari kedua Rabu (07/02), para peserta Raker diberikan kesempatan untuk mengunjungi Pusat Unggulan yang ada di Kawasan PUSPIPTEK. Tidak ketinggalan, P2 Kimia sebagai ‘Pusat Unggulan Iptek Pengembangan Bioetanol Generasi II’ juga menjadi tempat yang dikunjungi oleh para peserta. Sekitar 25 peserta Raker yang berasal dari berbagai institusi disambut oleh Dr. Yenny Meliana, Kabid. Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian P2 Kimia. Hadir dalam acara tersebut Prof. Yanni Sudiyani, pembina PUI Bioetanol Generasi II, Dr. Dieni Mansur, koordinator Keltian Energi dan Biomassa, dan Muryanto, M.T. selaku koordinator PUI di P2 Kimia. Guna memberikan gambaran PUI Bioetanol Generasi II di P2 Kimia, Prof. Yanni Sudiyani memberikan pemaparannya. Yanni menyampaikan bahwa penelitian terkait pengembangan bioetanol berbasis lignoselulosa telah dilakukan P2 Kimia sejak tahun 2011 silam. “Kami awalnya melakukan penelitian bersama dalam skema kerjasama dengan KOICA. P2 Kimia mendapat hibah pilot plant termasuk instrumen-instrumen pendukung kegiatan laboratorium. Kerjasama dengan KOICA tersebut berlangsung hingga 2013,” papar wanita yang merupakan profesor riset di P2 Kimia itu. Berikutnya Yanni menyampaikan perkembangan yang sudah diraih oleh PUI Bioetanol Generasi II di P2 Kimia. Setelah sesi pemaparan, para peserta memperoleh kesempatan untuk melakukan diskusi. Beberapa hal mengemuka dalam sesi diskusi. Diantaranya bagaimana strategi PUI untuk memperoleh national recognition maupun menjadi national reference. Salah satu peserta dari Balai Besar Industri Agro (BBIA) berkenan membagikan pengalamannya. Sesi diskusi hangat tersebut pun harus diakhiri mengingat terbatasnya waktu kunjungan. Sebagai penutup rangkaian kegiatan pada pagi hingga siang hari itu, para peserta diajak untuk mengunjungi pilot plant bioetanol milik P2 Kimia. Diskusi pun berlanjut di pilot plant bioetanol antara peserta dengan peneliti-peneliti P2 Kimia. Hingga akhirnya panitia meminta kepada seluruh peserta untuk bersiap-siap kembali ke Graha Widya Bhakti PUSPIPTEK guna mengikuti kegiatan berikutnya. Tak lupa, untuk mendokumentasikan kunjungan hari itu dilakukan sesi foto bersama di pilot plant bioetanol P2 Kimia. <sjw/ p2k>

Baca

Komitmen dan Dokumentasi, Kunci Sukses Pelaksanaan RB Guna Dukung Pencapaian Kinerja Satker


02 Februari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Komitmen dan dokumentasi. Dua kata kunci tersebut diucapkan oleh Rr. Widhya Yusi Samirahayu, dari Tim Penerapan Reformasi Birokrasi (RB) Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik (Telimek) LIPI saat menjadi narasumber rapat perdana Tim Penerapan RB tahun 2018 di Pusat Penelitian (P2) Kimia LIPI. “Rapat ini bertujuan untuk memperkuat pelaksanaan RB di P2 Kimia sekaligus akan dilakukan penandatanganan perjanjian kinerja. Jadi silakan Bapak/Ibu Tim Penerapan RB P2 Kimia agar dapat belajar sebanyak-banyaknya dari Bu Yusi dalam kesempatan yang baik ini,” terang Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono, saat membuka acara yang berlangsung Kamis (01/02). Bertempat di Ruang Rapat Utama P2 Kimia, Yusi menyampaikan pengalaman dan kiat-kiat sukses penerapan RB di P2 Telimek. Hadir dalam pertemuan tersebut, Kepala P2 Kimia, Koordinator dan Tim Penerapan RB P2 Kimia, koordinator tim KNAPPP P2 Kimia, koordinator kelompok penelitian, para pejabat struktural dan para peneliti senior. “Penerapan RB di P2 Telimek termasuk yang dinilai paling baik di LIPI, sehingga sangatlah tepat P2 Kimia belajar dari pengalaman mereka. Hari ini kita mengundang Bu Yusi dalam rangka berbagi pengalaman beliau mengelola pelaksanaan RB di P2 Telimek sehingga nantinya dapat diterapkan juga di satker kita tercinta ini,“ ujar Didin Zaenudin, SE selaku koordinator Tim Penerapan RB P2 Kimia yang juga merupakan Kepala Bidang Sarana Penelitian di P2 Kimia ini. Yusi kemudian memaparkan presentasi yang berjudul 'Membangun Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM)'. “Sebenarnya, saya yakin secara administrasi pengalaman penerapan RB di P2 Kimia dan P2 Telimek hampir sama. Namun yang paling penting adalah bagaimana menjaga komitmen dan mendokumentasikan setiap kegiatan,“ ujar wanita yang juga Kepala Bagian Tata Usaha P2 Telimek tersebut. “Tulis apa yang biasa kita lakukan dan lakukan apa yang kita tulis,“ tegasnya. Hal ini diamini oleh Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono. Agus mengungkapkan bahwa di P2 Kimia telah dikembangkan berbagai strategi manajemen mutu seperti ISO 17025, ISO 9001 dan KNAPPP. “Sinergi antar sistem mutu dan komitmen kita semua amat penting guna mendukung pelaksanaan RB di P2 Kimia,“ ungkapnya. Dalam sesi diskusi, terungkap berbagai permasalahan teknis yang terjadi dan beberapa alternatif penyelesaian. Usai diskusi, acara diteruskan dengan penandatangan perjanjian kinerja. Perjanjian kinerja memuat indikator capaian kinerja yang direncanakan dan ditandatangani antara Kepala P2 Kimia dengan para pejabat struktural dan koordinator kelompok penelitian. Isi kinerja ini merupakan salah satu indikator pelaksanaan RB seperti publikasi ilmiah, paten, bimbingan penelitian, pemasyarakatan iptek, pemanfaatan sarana dan prasana, pelaporan administrasi dan sebagainya. Setelah istirahat siang, sesi dilanjutkan dengan rapat teknis internal Tim Penerapan RB P2 Kimia guna membahas aspek administrasi penyusunan dan pendokumentasian SOP dan pelaporan lainnya. <aars/ p2kimia>

Baca

Universitas Ahmad Dahlan Kirim Dua Staf Dosen Belajar Pengelolaan Instrumen Laboratorium di P2 Kimia


01 Februari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Setelah sebelumnya dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pusat Penelitian Kimia (P2 Kimia) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dengan Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan, sebagai tindak lanjut, dua staf dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan mengikuti Attachment Training di Laboratorium P2 Kimia. Tujuan Universitas Ahmad Dahlan mengirim dua staf dosennya tersebut adalah untuk mendapat pengalaman melakukan pengelolaan laboratorium dan instrumen pengujian. Kegiatan berlangsung selama tiga hari dimulai Selasa (30/01) sampai Kamis (01/02). Kedua staf dosen Universitas Ahmad Dahlan yaitu Gita Indah Budiarti, ST, MT dan Lukhi Mulia Shitophyta, ST, MT. Pada hari pertama Selasa (30/01), Gita dan Lukhi disambut oleh Manajer Teknis Laboratorium P2 Kimia, Evi Triwulandari, M.Si dan Sujarwo selaku Kasubbid. Diseminasi dan Kerjasama P2 Kimia. Untuk memperkenalkan fasilitas yang dimiliki P2 Kimia, kedua staf dosen dipersilakan untuk berkeliling ke laboratorium-laboratorium yang ada. Kemudian kedua staf dosen melakukan aktivitas di Laboratorium FTIR dengan dipandu oleh Evi Triwulandari. “Pengujian FTIR di P2 Kimia merupakan salah satu yang sudah masuk dalam lingkup akreditasi SNI ISO/IEC 17025. Untuk menjamin validitas data hasil pengujian, secara rutin kami melakukan verifikasi terhadap alat uji FTIR kami. Selain itu, kami juga memastikan kondisi akomodasi lingkungan ruangan ini memenuhi persyaratan untuk melakukan pengujian menggunakan FTIR. Salah satu yang kami perhatikan adalah kelembaban karena pengujian FTIR di kami menggunakan KBr yang higroskopis,” ungkap Evi memberikan penjelasan terkait pengelolaan laboratorium FTIR. Berikutnya Gita dan Lukhi dipersilakan untuk melakukan praktek langsung melakukan pengujian menggunakan instrumen FTIR. Pada siang harinya, keduanya dijelaskan tentang bagaimana melakukan interpretasi data hasil pengujian FTIR. Tidak lupa, Yeni Apriliana Dewi selaku penanggung jawab teknis laboratorium FTIR memberikan informasi terkait perawatan rutin instrumen tersebut. Menjelang berakhirnya jam kerja di P2 Kimia kedua staf dosen Universitas Ahmad Dahlan pun mengakhiri kegiatan mereka di hari pertama. Hari kedua, Rabu (31/01) kegiatan dilanjutkan di Laboratorium Kromatografi P2 Kimia. Kegiatan kali ini dipandu oleh Andreas, M.Si selaku penangung jawab Laboratorium Kromatografi P2 Kimia. Andreas menjelaskan tentang prinsip dasar instrumentasi gas kromatografi, bagian-bagian secara detail, dan cara kerja. “Di laboratorium ini kami memiliki GC dengan detektor FID dan detektor MS. Pada prinsipnya kedua instrumen tersebut memiliki mekanisme kerja yang sama, yang membedakan hanyalah detektornya. Mudah-mudahan dalam sehari ini, Ibu berdua banyak memperoleh informasi dari saya dan teman-teman di sini,” Andreas memberikan penjelasan awal sekaligus menyampaikan harapannya. Kemudian Gita dan Lukhi pun mengikuti aktivitas pengujian GC-MS dan GC-FID. Hari terakhir kegiatan Attachment Training, Kamis (01/02) Gita dan Lukhi beraktivitas di Laboratorium Spektrometri. Keduanya belajar tentang instrumen Atomic Absoption Spectrometry (AAS). Kali ini kegiatan dipandu oleh Zatil Afrah Athaillah, M.Sc selaku penyelia Laboratorium AAS. Untuk mengawali kegiatan pagi itu, Zatil memberikan penjelasan tentang jenis instrumen AAS, bagian-bagian dari instrumen dan peralatan pendukungnya. “Saat ini P2 Kimia memiliki Graphit Furnace AAS (GF-AAS). Instrumen ini dapat mengukur kadar logam sampai dengan ppb (µg/l), sehingga kami aplikasikan untuk pengukuran residu logam berat misalnya dalam air minum serta makanan. Untuk pengujian logam berat dalam air minum, statusnya sudah terakreditasi oleh KAN,” papar Zatil memberikan penjelasan kepada Gita dan Lukhi. Menutup rangkaian kegiatan selama tiga hari, dilakukan pemberian sertifikat sebagai bukti partisipasi aktif kedua staf dosen Universitas Ahmad Dahlan dalam Attachment Training. Saat dimintai kesan dan pesannya selama terlibat dalam kegiatan di Laboratorium P2 Kimia, Gita menyampaikan banyak ilmu dan pengalaman diperolehnya selama tiga hari di P2 Kimia. “Ini akan menjadi bekal untuk saya dan Lukhi dalam menjalani profesi sebagai dosen sekaligus peneliti di Universitas Ahmad Dahlan,” ungkap Gita memberikan kesannya. <sjw/ p2k>

Baca

P2 Kimia Terima Kunjungan Pimpinan dan Staf Dosen FMIPA Universitas Lambung Mangkurat


17 Januari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Sebagai tindak lanjut dari penandatangan nota kesepahaman antara Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia) dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat (FMIPA-ULM), Rabu (17/01) salah satu pimpinan pada FMIPA-ULM beserta seorang staf pengajar Program Studi Kimia mengunjungi P2 Kimia di Serpong. Kunjungan tersebut disambut langsung oleh Dr. Eng. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia. Selain para koordinator penelitian, hadir dalam diskusi tersebut para peneliti senior P2 Kimia diantaranya Prof. Dr. M. Hanafi dan Prof. Dr. S. Tursiloadi. “Saya ucapkan selamat datang kepada Dr. Abdul Gafur dan Dr. Sunardi dari FMIPA-ULM ke kantor sekaligus laboratorium penelitian kami di Kawasan PUSPIPTEK ini. Tentunya kami sangat senang mendapat kunjungan ini mengingat ini merupakan tindak lanjut dari apa yang sudah ditandatangani antara P2 Kimia dengan FMIPA-ULM tahun sebelumnya,” ujar Agus memberikan sambutan mengawali acara kunjungan tersebut. Kemudian Agus juga berharap supaya kerjasama ini dapat meningkatkan peran kedua institusi dalam kontribusinya terhadap pengembangan IPTEK. Dr. Abdul Gafur selaku Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA-ULM juga menyampaikan harapan supaya penandatangan nota kesepahaman yang sudah dilakukan tidak berakhir sebatas di atas kertas. Gafur menginginkan agar ada kegiatan-kegiatan nyata sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani. “Kami berkunjung ke P2 Kimia dalam rangka silaturahmi dengan rekan-rekan peneliti di sini. Dengan diskusi dan melihat langsung aktivitas penelitian di P2 Kimia diharapkan ke depan kita dapat mensinergikan kegiatan-kegiatan penelitian kita. Bukan hanya sebatas mengirimkan mahasiswa tugas akhir ke sini, tetapi dapat terjalinnya kolaborasi penelitian antara peneliti di P2 Kimia dengan dosen di FMIPA-ULM,” Abdul Gafur memberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan kunjungan serta menyampaikan harapannya. Berikutnya rangkaian acara dilanjutkan dengan diskusi bersama peneliti P2 Kimia yang hadir dalam acara tersebut. Mengemuka dalam diskusi diantaranya kolaborasi penelitian terkait bahan alam mengingat Kalimantan Selatan merupakan daerah yang kaya dengan keanekaragam hayati. Prof. Hanafi selaku peneliti senior kimia bahan alam sangat menyambut baik apabila dapat dilakukan penelitian bersama untuk menggali potensi bahan alam yang ada di Kalimantan Selatan. “Saat ini P2 Kimia menekuni penelitian yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Oleh karena itu, kelompok penelitian kimia bahan alam coba menggali potensi tanaman yang mudah didapat dan dibudidayakan. Kolaborasi penelitian antara P2 Kimia dengan FMIPA-ULM akan sangat baik apabila dapat terealisasi. Ke depannya kita dapat berkomunikasi lebih lanjut dengan rekan-rekan dari FMIPA-ULM,” ungkap Hanafi yang juga merupakan profesor riset di P2 Kimia tersebut. Diskusi hangat pun terus berlanjut sampai menjelang istirahat siang. Setelah istirahat siang untuk makan dan sholat, Dr. Abdul Gafur dan Dr. Sunardi dipersilakan untuk berkeliling ke laboratorium dan fasilitas lainnya yang dimiliki P2 Kimia. Tidak lupa, guna mengabadikan acara kunjungan hari itu dilakukan sesi foto bersama. Mengakhiri kunjungan pada siang itu, kedua sivitas FMIPA-ULM pun pamit untuk melanjutkan kunjungan ke P2 Biomaterial di Cibinong pada hari berikutnya. <sjw/ p2k>

Baca

Jajaki Kerjasama Energi Terbarukan, Tim Research and Technology Center Pertamina Kunjungi P2 Kimia


15 Januari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Tim dari Research and Technology Center PT. Pertamina (Persero) yang dikoordinasi oleh Chief of Renewable Energy Dev. Research, Nindiyo Caroko, bertandang ke P2 Kimia pada hari Senin (15/1). Tim yang terdiri dari tiga orang tersebut bermaksud menjajaki potensi kerjasama pengembangan energi terbarukan khususnya bioetanol generasi kedua. Saat ini kegiatan penelitian dan pengembangan bioetanol generasi kedua di P2 Kimia merupakan salah satu Pusat Unggulan Iptek yang telah dicanangkan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sejak tahun 2017 lalu. Kedatangan rombongan disambut oleh Pembina Tim Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioetanol Generasi Kedua 2018, Prof. Dr. Yanni Sudiyani, Ketua Tim PUI, Muryanto, S.T. M.T. dan sejumlah tim peneliti bioetanol. Selain itu, turut hadir Kabid Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, Dr. Yenny Meliana guna mendiskusikan konsep mekanisme kerjasama yang dapat dilakukan pada masa mendatang. “Kami saat ini tengah mencari berbagai potensi riset untuk mengembangkan energi terbarukan di Indonesia dan mengetahui bahwa P2 Kimia merupakan salah satu yang konsen dengan penelitian bioetanol berbasis lignoselulosa. Oleh karena itu, saya bersama rekan-rekan berinisiatif untuk berkunjung ke Serpong. Mudah-mudahan dari kunjungan ini, ke depan kita dapat melakukan kolaborasi dalam pengembangan energi terbarukan," ujar Nindiyo saat mengawali diskusi. Prof. Yanni menyambut baik rencana Pertamina tersebut. “Ini sangat sesuai dengan apa yang tengah kami lakukan di P2 Kimia,“ ungkap Prof. Yanni dalam saat memberikan sambutannya. Dijelaskan olehnya, saat ini penelitian bioetanol di P2 Kimia sudah sampai pada skala pilot plant. Penelitian yang dikembangkan merupakan bioetanol generasi kedua menggunakan limbah lignoselulosa seperti tandan kosong kelapa sawit. “Beberapa industri juga tengah menjajaki kerjasama komersialisasi hasil riset ini di Indonesia. Tentunya ini merupakan cita-cita kami para peneliti, supaya hasil penelitian kami dapat dimanfaatkan oleh stakeholder,“ sambungnya lebih lanjut. Acara di ruang rapat tersebut pun berlanjut dengan diskusi teknis terkait pengembangan bioetanol dan situasi terkini di tanah air. Diskusi berlangsung dengan hangat sehingga tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Guna mengetahui apa yang sudah dikembangkan dan dicapai oleh P2 Kimia, Muryanto pun menawarkan kepada rombongan dari PT. Pertamina untuk mengunjungi pilot plant bioetanol. Tawaran tersebut pun disambut baik oleh Nindiyo dan rekan-rekan. Berikutnya, mereka dijelaskan langsung proses produksi bioetanol mulai dari pretreatment hingga distilasi. “Bioetanol yang didapatkan sesuai untuk pemakaian kendaraan bermotor di Indonesia,“ terang Sudiyarmanto, MT salah seorang anggota peneliti saat menerangkan proses produksi bioetanol menggunakan pilot plant P2 Kimia. Sesi diskusi pun akhirnya berlanjut antara rombongan dari PT. Pertamina dengan peneliti P2 Kimia di pilot plant bioetanol. Banyak hal yang mengemuka dalam sesi diskusi antara kedua belah pihak tersebut. Diharapkan, dari kunjungan ini dapat ditindaklanjuti dengan kerjasama penelitian dan pengembangan ke depannya. <aars/p2 kimia>

Baca

Semangat Baru 2018: Penganugerahan Peneliti Berprestasi, Sosialisasi SOP dan Manajemen Mutu Berbasis KNAPPP


12 Januari 2018

[Berita P2 Kimia, Serpong] Mengawali lembaran baru di tahun 2018, Pusat Penelitian Kimia-LIPI (P2 Kimia) menggelar pertemuan dengan mengundang seluruh karyawannya. Bertempat di Ruang Rapat Besar lantai 2, acara diadakan pada hari Jum’at, 12 Januari 2018. Acara ini merupakan tindak lanjut kegiatan rapat pimpinan (rapim) yang diadakan 3 Januari 2018 dengan agenda penyusunan SOP, pergantian Tim PME (Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi) serta evaluasi capaian tahun 2017. Di samping para peneliti, hadir pula sejumlah pejabat struktural di acara tersebut. Selain itu, pada kesempatan tersebut juga dilakukan pre-launching penerapan sistem manajemen mutu berbasis Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP). KNAPPP merupakan panduan sistem manajemen mutu yang dikeluarkan oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk diterapkan di instansi pemerintah yang bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan. “Kita sangat bersyukur, berkat kerja keras dan kerjasama semuanya, P2 Kimia memperoleh capaian memuaskan di tahun 2017,” ujar Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono sangat mengawali sambutannya. Dijelaskan oleh Agus, tahun 2017 P2 Kimia LIPI berhasil mencapai 22 paten dan rangking ke-4 se-LIPI dalam pelaksanaan anggaran tahun 2017. “Ini adalah suatu capaian yang membanggakan, sekaligus sebagai pertanggungjawaban kita kepada masyarakat dimana kita merupakan instansi penelitian yang dibiayai APBN. Harapannya kinerja yang baik ini dapat terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan untuk masa yang akan datang,“ ujar Agus lebih lanjut. Di samping itu, sejumlah peneliti juga berhasil mengukirkan prestasinya. Publikasi mereka berhasil menembus indeks Web of Science (Thomson Reuters/ Clarivate Analytics). Para peneliti tersebut diundang ke depan untuk menerima penghargaan. Mereka adalah Prof. Dr. M. Hanafi, Dr. Edi Iswanto Wiloso, Dr. Siti Nurul Aisyiyah Jenie, Dr. Ajeng Arum Sari, Dr. Adid Adep Dwiatmoko dan Dr. Sofa Fajriah. Kepala P2 Kimia secara simbolis memberikan ucapan selamat dan penghargaan kepada para peneliti tersebut. Sebagai informasi, setiap tahun, masing-masing peneliti P2 Kimia diwajibkan untuk mencapai target tertentu sesuai dengan jenjang fungsionalnya. Hal ini juga merupakan salah satu pertanggungjawaban kepada publik sejalan dengan penerapan reformasi birokrasi di LIPI. Ketidaktercapaian target sesuai dengan yang ditetapkan, memberikan konsekuensi kepada peneliti misalnya dengan diberlakukannya pemotongan tunjangan kinerja pada tahun berikutnya kepada peneliti yang bersangkutan. Usai penganugerahan penghargaan, acara dilanjutkan dengan sosialisasi SOP (prosedur operasi standar/ Standard Operating Procedure) dan pre-launching Manajemen Mutu KNAPPP yang diimplementasikan di P2 Kimia. SOP yang disosialisasikan antara lain SOP kegiatan penelitian, analisa kimia, penggunaan peralatan, perjalanan dinas, pengajuan berhalangan kerja dan sebagainya. Para peneliti tampak menyimak pembahasan yang diberikan dan beberapa kali mengajukan pertanyaan atas detail pelaksanaannya. “Diharapkan dengan diterapkannya sistem mutu berbasis KNAPPP ini, kualitas penelitian di P2 Kimia terus meningkat dan dapat terakreditasi tidak lama lagi,“ terang Dr. Galuh Widiyarti selaku koordinator Tim Penerapan Sistem Mutu KNAPPP. Dijelaskannya lebih lanjut, berbagai SOP di P2 Kimia telah dikaji dan diperbaiki guna memenuhi persyaratan sistem manajemen mutu penelitian KNAPPP. Akreditasi KNAPPP ini juga merupakan salah satu target capaian P2 Kimia sebagai Pusat Unggulan Iptek Bioetanol Generasi Kedua. <aars/p2 kimia, add: sjw>.

Baca

Menyapa Ujung Timur Indonesia, LIPI Goes to School Hadir di Madrasah Aliyah DDI Lampu Satu Merauke


13 Desember 2017

[Berita P2 Kimia, Merauke] Sebagai upaya pembinaan ilmiah terhadap generasi muda, LIPI Goes to School kembali diselenggarakan. Ada yang spesial dari pelaksanaan LIPI Goes to School kali ini karena sekolah yang didatangi berada di ujung timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Merauke. Sekolah tersebut yaitu Madrasah Aliyah (MA) Darul Da’wah Islamiyah (DDI) Lampu Satu Kabupaten Merauke. Acara yang merupakan kerjasama antara P2 Kimia dengan MA DDI Lampu Satu tersebut berlangsung pada Selasa (12/12/2017). Selain diikuti oleh siswa/siswi dan guru MA DDI Lampu Satu, kegiatan tersebut juga diikuti perwakilan dari siswa/siswi serta guru dari sekolah lain di Kabupaten Merauke bahkan seorang guru dari Kabupaten Boven Digoel.    Untuk mengawali acara, Umar Latifu, Kepala MA DDI Lampu Satu menyampaikan laporan penyelanggaraan LIPI Goes to School. Pria yang merupakan pengajar bahasa Inggris tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif dirinya setelah sebelumnya mengikuti program yang diadakan oleh Kementerian Agama untuk guru-guru madrasah seluruh Indonesia di awal tahun 2017 yang lalu. “Awalnya saya bertemu dengan rekan-rekan dari LIPI yang menjadi narasumber acara di Kementerian Agama. Lantas, saya meminta kesediaan LIPI untuk berkunjung ke Merauke melalui program LIPI Goes to School. Alhamdulillah, Alloh SWT memudahkan ikhtiar kita bersama sehingga pada hari ini LIPI Goes to School hadir di Merauke, wilayah paling timur tanah air”, Umar menceritakan awal mula penyelenggaraan acara yang berlangsung hari itu. Berikutnya, perwakilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke diminta untuk menyampaikan sambutannya. Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke sangat mengapresiasi kegiatan LIPI Goes to School dan berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat siswa-siswi dalam belajar sains. Selanjutnya sambutan kedua disampaikan oleh Ketua Yayasan DDI Lampu Satu. Ustaz Anwar dalam sambutannya menyampaikan ungkapan terimakasih atas perkenan LIPI mengunjungi Merauke. “Saya sangat berterimakasih kepada LIPI dalam hal ini Pusat Penelitian Kimia yang berkenan jauh-jauh berkunjung ke tempat kami, berbagi ilmu dengan guru dan siswa-siswi kami. Tentunya ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi murid-murid dan staf pengajar baik di MA DDI Lampu Satu maupun rekan-rekan dari sekolah sekitar,” ungkap Ustaz Anwar dalam sambutan singkatnya. Untuk mengenalkan LIPI dan program-program yang dimiliki terkait pembinaan imliah, Dr. Yenny Meliana selaku Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian P2 Kimia memberikan pemaparannya. “LIPI memiliki program tahunan yang bertujuan untuk menumbuhkan minat siswa-siswi maupun guru terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kami memiliki PIRN, Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional yang tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-16 kalinya. NYIA, National Young Inventor Awards, sebagai ajang kompetisi para inovator muda. Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) yang merupakan ajang lomba kreativitas bagi guru dalam upaya pengembangan proses pembelajaran guna mempermudah pemahaman ilmu pengetahuan bagi para peserta didik. Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang menampilkan hasil penelitian remaja sekolah menengah (SMP/SMA/sederajat) di Bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT) dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK). Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI), ajang kompetisi ilmiah bagi mahasiswa perguruan tinggi jenjang S1 dan usia maksimal 24 tahun yang memiliki ketertarikan penelitian di Bidang IPA, IPSK, dan IPT. Dan beberapa program lainnya,” papar Meli panggilan akrab wanita yang juga merupakan peneliti madya di P2 Kimia tersebut. Acara inti hari itu pun dimulai. Kegiatan pertama yaitu praktek pembuatan lotion anti nyamuk yang dibimbing oleh Melati Septiyanti, peneliti yang menggeluti bidang kosmetik. Siswa-siswi dan guru diberikan penjelasan tentang proses pembuatan lotion termasuk reaksi-reaksi apa saja yang berlangsung. Seluruh peserta sangat gembira setelah mereka berhasil membuat lotion dari campuran berbagai bahan-bahan yang disediakan oleh panitia. Menginjak kegiatan kedua yaitu praktikum pembuatan biodiesel dan sabun dari bahan minyak nabati. Kali ini Beuna Bardant, peneliti bidang teknologi proses mendemonstrasikan bagaimana cara membuat biodiesel dari bahan baku minyak sawit. Beuna memaparkan reaksi kimia apa yang berlangsung pada saat minyak sawit dicampur dengan metanol menghasilkan biodiesel. Juga bagaimana proses yang terjadi pada saat minyak sawit direaksikan dengan soda api sehingga menjadi sabun. Siswa-siswi dan guru yang hadir di acara LIPI Goes to School sangat antusias untuk belajar dan bertanya sehingga tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat. Menjelang pukul 4 sore WIT, acara LIPI Goes to School pun diakhiri dengan meminta kesan-pesan khususnya dari guru-guru peserta. Rura, salah seorang guru SMA negeri di Merauke menyampaikan kesan-pesannya mengikuti rangkaian kegiatan hari itu. “Ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi saya selaku staf pengajar. Kami terinspirasi untuk menghadirkan kegiatan pembelajaran yang interaktif kepada siswa-siswi sehingga belajar menjadi sesuatu yang menyenangkan. Secara pribadi saya sangat berterimakasih kepada MA DDI Lampu Satu yang sudah mengundang saya dan siswa-siswi. Juga kepada LIPI yang sudah datang memberikan ilmu kepada kami”, terang Rura saat memberikan kesan-pesannya terhadap kegiatan LIPI Goes to School. <sjw/p2k>

Baca

Kunjungi Serpong, Sivitas Universiti Sains Malaysia Berikan Kuliah Tamu dan Diskusi dengan Peneliti P2 Kimia


23 November 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Pada Kamis (23/11/2017) P2 Kimia menerima kunjungan dari sivitas Universiti Sains Malaysia (USM), Dr. Jahangir Bin Kamaldin. Dr. Jahangir Bin Kamaldin merupakan senior lecturer dan lead advisor pada Advance Medical and Dental Institute di Universiti Sains Malaysia. Kehadiran beliau pada kesempatan tersebut yaitu untuk memberikan kuliah tamu dan diskusi dengan kelompok penelitian Natural Product and Phamaceutical Chemistry (NPPC) P2 Kimia. Kedatangan Dr. Jahangir Bin Kamaldin pada Kamis pagi itu disambut hangat oleh Dr. Yenny Meliana selaku Kabid. Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian (PDHP) P2 Kimia. Mengawali rangkaian kegiatan hari itu, acara dibuka oleh koordinator kelompok penelitian NPPC, Prof. Dr. M. Hanafi. Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Hanafi sangat senang karena Dr. Jahangir Bin Kamaldin berkenan berkunjung dan berbagi ilmu serta pengalaman kepada kelompok penelitian NPPC. “Pertama-tama, saya ucapkan selamat datang kepada Dr. Jahangir Bin Kamaldin dan kolega dari Universiti Sains Malaysia. Kami sampaikan salam dari Dr. Agus Haryono, Kepala P2 Kimia karena beliau sedang mengikuti Diklat di LAN. Sebagai koordinator keltian, saya sangat berterimakasih atas kedatangan kolega dari Malaysia ke P2 Kimia. Saya berharap acara hari ini dapat menjadi sarana pertukaran informasi antara peneliti dari USM dan P2 Kimia. Tentunya ke depan harapannya kita dapat bekerjasama dalam pengembangan dan pemanfaatan tanaman-tanaman potensial sebagai herbal medicine seperti tema yang akan disampaikan oleh Dr. Jahangir Bin Kamaldin hari ini,” buka Hanafi sekaligus menyampaikan harapannya. Selanjutnya, acara inti pun dimulai, kuliah tamu dari Dr. Jahangir Bin Kamaldin dengan tema Green2Gold Programme: Sustainable Uplifting of Local Herbs towards Global Medicinal Products. Dalam presentasinya, Dr. Jahangir Bin Kamaldin menyampaikan tentang strategi yang sedang dirancang olehnya bersama tim dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan tanaman-tanaman lokal di Malaysia sebagai obat terstandar. Tentunya muaranya yaitu bagaimana upaya optimalisasi tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kita sebagai negara tropis sudah seharusnya bersyukur atas nikmat keanekaragaman hayati yang dimiliki. Tentunya menjadi tantangan bagi pemerintah kita untuk dapat mengoptimalkan potensi dari kekayaan alam tersebut. Apalagi dunia saat ini sudah sangat menyadari manfaat dari penggunaan bahan-bahan alami untuk obat-obatan. Obat-obatan sintesis mulai tidak disukai oleh masyarakat, termasuk masyarakat barat,” ungkap Jahangir dalam pembukaan kuliahnya. Melanjutkan pemaparannya, Dr. Jahangir Bin Kamaldin menyampaikan pandangan terkait strategi-strategi yang menjadi pemikirannya dalam upaya optimalisasi tanaman-tanaman berpotensi sebagai obat-obatan. Termasuk tantangan apa saja yang dihadapi oleh negara-negara yang konsen dengan upaya tersebut. Di akhir sesi, diskusi hangat pun berlangsung antara Dr. Jahangir Bin Kamaldin dengan para peneliti dari keltian NPPC P2 Kimia. Tidak kurang dari 25 peneliti P2 Kimia turut dengan antusias berpartisipasi aktif dalam kuliah tamu dan diskusi siang itu. Setelah acara pemaparan dan diskusi selesai maka dilanjutkan dengan penyerahan souvenir. Prof. M Hanafi mewakili P2 Kimia menyerahkan souvenir sebagai ucapan terimakasih kepada Dr. Jahangir Bin Kamaldin yang berkenan memberikan kuliah tamu di P2 Kimia.  Untuk menutup acara kuliah tamu dan diskusi hari itu, seluruh peserta melakukan foto bersama. Setelah istirahat siang, Dr. Jahangir Bin Kamaldin bersama koleganya dari Malaysia diajak berkunjung ke laboratorium dan fasilitas penelitian yang dimiliki P2 Kimia. <es/p2k, ed: sjw>

Baca

RCC LIPI Delegation Attended 15th ASEAN Food Conference in Vietnam


17 November 2017

[RCC News, Ho Chi Minh City] The 15th ASEAN Food Conference (AFC), themed "Food Science and Technology: Integration for ASEAN Economic Community Sustainable Development", was held in Sheraton Hotel and Tower of Ho Chi Minh City, Vietnam on 15-17 November 2017. Not less than 400 participants from more than 20 countries, consist of researchers, technologists, business professionals, students, stakeholders in the food industry, and food business owners and managers gathered for the conferences.  Among these participants, it was estimated that about 50 persons came from Indonesia, including delegation from Research Center for Chemistry (RCC), Indonesian Institute of Sciences (LIPI). “This conference introduces recent achievements in food science and technology to strengthen product innovation and connects scientists, managers, and businesses involved in the sector, “ said the Deputy Minister of Science and Technology Tran Quoc Tuan while addressing the opening ceremony.  During the first two-day of the event, discussions around food preservation, food nutrition, food security, food product development, etc. were conducted. As the Indonesian Focal Point for Sub Comittee on Food Science and Technology (SCFST) ASEAN COST, the Director of Research Center for Chemistry LIPI, Dr. Agus Haryono was also invited to attend this biennial conference. Agus brought delegation consists of four persons from research institution, universities and scientific professional society along with him. In addition, the dissemination division, coordinated by Dr. Yenny Meliana, also accompanied this delegation particularly to manage research promotion and cooperation. Researchers from RCC LIPI presented their researches on food science and technology in the poster and oral sessions. Dr. Anny Sulaswatty and Arief A.R. Setiawan, M.Eng had an oral session that introduced “Innovation Readiness Assessment of Surfactants for Food Processing in the Research Centre for Chemistry – Indonesian Institute of Sciences”. While Agus Haryono also presented a research result on “A Study on New Product Development of Food in R&D Institution using Quality Function Deployment (QFD) by Considering Life Cycle Perspective: Case of Research Center for Chemistry -Indonesian Institute of Sciences“. The other researcher, Agustine Susilowati, MM presented poster with the entitled “Fermentation Process Optimization of Soy Beans (Glycine soja L.) and Mung Beans (Phaseolus radiatus L.) using Rhizopus oligosporus-C1 and its Identification as Source of Natural Folic Acid for Functional Food”. In the second day of conference (16/11), Dr. Agus Haryono was acted as session chair of oral presentation in the Ball Room 1 of 3rd floor. There are 5 presenters including keynote speaker moderated by Agus, in the session themed “Food Physics & Chemistry”. The presenters came from various countries such as Japan, Vietnam, Malaysia, Phillippines, and Indonesia. The topics has arisen interestingly and invited further discussion, such as sythesis of fragrant compounds, characterization of Bread Fruit starch, risk assessment of plant food supplements, and detection of Borate. During the mid-afternoon, Agus and supporting delegation from RCC LIPI held a meeting with ASEAN delegation and Indian Delegation. This meeting is to discuss a cooperation initiative between India and ASEAN, focusing on food science and technology. This meeting was also attended by Head of Cooperation Subdivision of RCC LIPI, Sujarwo, who has prepared some promotion materials to distribute in the conference. After a couple of sessions had passed, the closing ceremony was held in the evening. In this event, some awards were given for best graduate student paper presentation, best food court and winner of food bowl competition.  Prof. Dr. Sc. Luu Dzuan, Vice President of Vietnam Association of Food Science and Technology then provided closing remarks and ceremonial turn over to the next host country, i.e. Indonesia. Prof. Dr. Rindit Pambayun, chairman of Indonesian Association of Food Technologist, come to the stages to receives the ASEAN flag. Rindit invited Prof. Dr. Nyoman Semadi Antara from University of Udayana Bali as the local host committee and Dr. Agus Haryono of RCC LIPI as the supporting committee for the next 16th Asean Food Conference 2019 in Bali, Indonesia. Having give some speech, Rindit and other hosts performed Indonesian welcome dance along with supporting delegation from RCC LIPI and other Indonesian participants. Dressing Balinese traditional costums, they perform the dance attractively. Accompanied with theme song “Gemu Famire/ Maumere”, this dance was to invite all participants to come to AFC 2019 in Bali. In the last day of the conference, participants visited food companies in the southern provinces of Binh Duong. They visited rice paper and rice processed products enterprise in Tien Giang and tea processing enterprise in Tay Ninh. <aars/p2k>

Baca

Rombongan Santri Pesantren Tahfidzh Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido Kunjungi P2 Kimia


14 November 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Sebanyak 38 santri Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Daarul ‘Uluum Lido, Sukabumi didampingi oleh 5 ustadz pengajar mengunjungi P2 Kimia pada Selasa (14/11/2017). Acara ini terselenggara melalui koordinasi antara Pesantren Daarul ‘Uluum Lido dan PUSPIPTEK. P2 Kimia dan Balai Bioteknologi BP2T menjadi instansi dalam kawasan PUSPIPTEK Serpong yang menjadi pilihan santri dalam kunjungan tersebut. “Adik–adik pasti sudah pernah dengar dong penamaan kimia seperti alkana, alkena dan alkohol. Tapi tahukah adik-adik, sebenarnya awalan 'Al' itu datang darimana?“ tanya Teuku Beuna Bardant M.Sc., mengawali diskusi untuk memancing minat para santri. “Awalan 'Al' itu datang dari awalan 'Al' dalam bahasa Arab yang serupa dengan awalan 'The' pada bahasa Inggris, 'Le' pada bahasa Perancis atau 'La' pada bahasa Spanyol. Mungkin mirip 'Si' dan 'Sang' dalam bahasa Melayu kita. Penamaan ini sebenarnya adalah warisan kekhalifahan islam yang mencerminkan kemajuan pemahaman ilmuwan muslim dalam ilmu kimia. Motivasinya adalah untuk menyempurnakan ibadah. Ilmuwan muslim meneliti cara menguji alkohol untuk bisa menentukan mana minuman halaal dan mana yang haram,” terang peneliti muda P2 Kimia itu di pelataran pilot plant bioethanol P2 Kimia. “Kami turut berbahagia menerima kunjungan para santri hari ini karena jarang ada pesantren yang mengunjungi lembaga penelitian seperti kami. Harapan kami, kunjungan ini bisa membangkitkan gairah adik adik untuk semakin menekuni ilmu pengetahuan bagi kemaslahatan manusia,” sambungnya. Para santri sempat diperkenalkan dengan program-program LIPI untuk remaja yaitu LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja), NYIA (National Young Inventor Awards), PIRN (Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional), dan program teranyar yaitu LIPI Goes to School. Selanjutnya para santri secara bergiliran mengunjungi laboratorium-laboratorium P2 Kimia. Santriwan dan santriwati sangat antusias menanyakan kegunaan dan cara kerja instrumen analisa yang tersedia di P2 Kimia seperti Liquid Chromatography-Mass Spectrophotometer, Gas Chromatography, Bruener-Emmer-Teller Particle Analyzer dan Nuclear Magnetic Resonance Spectrophotometer. “Subhanallah. Kami sangat berterima kasih sekali dengan sambutan dan pengalaman yang kami dapatkan hari ini dari kunjungan ke P2 Kimia. Tujuan awal kami sebenarnya adalah untuk menjalin silaturahim dengan para peneliti dari LIPI. Harapan kami, kunjungan ini bisa menjadi pembuka jalan untuk kerjasama yang lebih bermanfaat di kemudian hari. Kami akan berusaha untuk lebih berpartisipasi pada program-program LIPI untuk remaja,” tutup Mulyadi, salah seorang ustadz yang mendampingi kunjungan santri sebelum berpamitan dan beranjak mengunjungi instansi selanjutnya. <TBB/p2k>

Baca

Peneliti P2 Kimia Kembali Memboyong L’ORÉAL–UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards


09 November 2017

[Berita P2 Kimia, Jakarta] Bertempat di Kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Kamis (9/11/2017), L’Oréal Indonesia bekerjasama dengan dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU Kemendikbud) kembali menganugerahkan penghargaan tahunan L’ORÉAL–UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017 untuk ke-14 kalinya. Kali ini penghargaan diberikan kepada empat orang perempuan peneliti hebat yang mampu berperan mengubah masa depan dunia medis di Indonesia. Adalah Dr. Siti Nurul Aisyiyah Jenie, salah satu peneliti P2 Kimia yang berhasil memboyong penghargaan tersebut. Bertemakan 'Saya ingin berperan dalam mengubah masa depan dunia medis Indonesia', Ais, sapaan akrabnya, menghadirkan sebuah penelitian di bidang material sains yang berjudul Pengembangan nanopartikel berfluoresens berbasis silika alami Indonesia untuk bioimaging optik. Tahun ini acara penganugerahan turut dihadiri oleh Ir. Ira Nurhayati Djarot, M.Sc, Ph.D Direktur Sistem Riset dan Pengembangan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dr. Ir. Bastari Kepala Pusat Data dan Statistik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Marlina Moegijono Putri, SE Kepala Sub Bidang Fasilitas Gender di Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Shahbaz Khan, Ph.D Direktur UNESCO, serta Prof. Dr. Arief Rachman Ketua Harian KNIU Kemendikbud Perwakilan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI). Dalam sambutannya, Prof. Dr. Arief Rachman mengungkapkan posisi peneliti dan penelitian di Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga. “Jumlah peneliti per 1 juta populasi di Malaysia mencapai angka 7.000, diikuti Singapura di angka 2.590, sementara Indonesia hanya berada di angka 1.071. Jumlah peneliti di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Indonesia harus mengejar ketertinggalan tersebut. Menghadapi perkembangan era yang sangat dinamis ini, tuntutan untuk memahami sains dan teknologi semakin tinggi. Dunia pun perlu mengubah pemikirannya bahwa sains, teknologi, teknik, dan matematika bukanlah lahan pria saja. Perempuan pun harus berkecimpung di dunia ini dan memilihnya sebagai karir mereka kedepannya.” Sebagaimana diketahui bersama bahwa efek globalisasi berdampak pada semua aspek kehidupan, termasuk dunia medis. Berbagai penyakit baru dan mematikan muncul tanpa bisa diprediksi akibat gaya hidup dan perubahan lingkungan yang terus berkembang. Tak hanya dunia, Indonesia juga harus menghadapi tantangan ini dan membutuhkan strategi khusus untuk mencegah, mengobati, dan melindungi masyarakat dalam bidang kesehatan. Para perempuan peneliti ini dapat membantu memperbaiki teknik deteksi dini penyakit mematikan, menurunkan biaya pengobatan, mengembangkan prosedur medis yang aman guna peningkatan kualitas hidup. Tentu ini menjadi penting, melihat bagaimana hal tersebut dapat membawa perubahan bagi negara. Ditemui secara terpisah, Kepala P2 Kimia, Dr. Agus Haryono menyampaikan perasaan bangganya kepada Aisyah. "Tentu saya sangat senang bahwa salah satu srikandi dari P2 Kimia kembali memboyong prestasi yang sangat membanggakan ini. Pastinya ini akan mendorong semangat rekan-rekan peneliti lainnya, khususnya peneliti wanita Indonesia untuk terus berkarya dan menorehkan prestasi-prestasinya di kancah global. Sekali lagi saya sampaikan selamat kepada Ais atas pencapaian ini," ungkap Agus sekaligus memberikan harapannya. <es, p2k; ed: sjw>

Baca

Jajaki Kerjasama Pengembangan Bioetanol Generasi Kedua, PT. Rekind Kunjungi P2 Kimia


09 November 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Dalam rangka penjajakan kerjasama penelitian energi terbarukan khususnya pengembangan bioetanol generasi kedua, PT. Rekayasa Industri (Rekind) mengunjungi P2 Kimia pada Rabu (8/11/2017). Rombongan yang dipimpin oleh Iwan Daniel Gultom, AVP Technology Researh PT. Rekind tersebut bermaksud berdiskusi dengan peneliti P2 Kimia khususnya dari Keltian Biomassa dan Lingkungan. Bertempat di Ruang Rapat Utama P2 Kimia, rombongan disambut oleh Kasubbid Diseminasi dan Kerjasama P2 Kimia, Sujarwo. Hadir para peneliti dari P2 Kimia diantaranya Prof. Yanni Sudiyani, Dr. Haznan Abimanyu, Joko Waluyo, Muryanto, Sudiyarmanto, Yan Irawan, Dian Burhani, dan Feni Amriani. “Selamat datang kepada kolega dari PT. Rekind. Kami menyampaikan permohonan maaf dari Kepala P2 Kimia karena tidak dapat hadir dalam acara hari ini. Pak Agus menyampaikan pesan bahwa P2 Kimia sangat menyambut baik inisiasi kerjasama ini dan berharap ke depan P2 Kimia dengan PT. Rekind dapat menjalin kolaborasi riset bersama,” buka Sujarwo mengawali acara kunjungan pagi itu. Guna mengetahui maksud kunjungan PT. Rekind, selanjutnya Iwan Daniel Gultom dipersilakan untuk menyampaikan sambutannya. Iwan menyampaikan bahwa dia bersama tim bermaksud menjajaki peluang kerjasama terkait pengembangan bioetanol generasi kedua. “Sebelumnya kami sampaikan terimakasih atas sambutan yang hangat dari P2 Kimia. Saya bersama rekan-rekan saya, Bu Rina Mariyana dan Pak Andrew Pasaribu bermaksud untuk berdiskusi dengan rekan-rekan peneliti di P2 Kimia. Seperti yang kami ketahui, P2 Kimia sudah melakukan penelitian sejak beberapa tahun yang lalu dalam upaya mengembangkan bioetanol berbasis lignoselulosa. Tentunya sudah banyak hal yang dilakukan oleh P2 Kimia. Oleh karena itu, perusahaan kami sangat berminat untuk melakukan kerjasama riset dan pengembangan bersama P2 Kimia,” ungkap Iwan menyampaikan maksud kunjungannya bersama tim. Dr. Haznan Abimanyu selaku Koordinator Keltian Biomassa dan Lingkungan lalu memaparkan kegiatan-kegiatan apa saja yang sudah dilakukan P2 Kimia dalam pengembangan energi baru dan terbarukan. “Kami bersama dengan kolega dari KIST Korea pada waktu itu bekerjasama untuk mengembangkan bioetanol generasi kedua. Sampai dengan saat ini pun kegiatan penelitian tersebut masih terus dilakukan. Bahkan saat ini P2 Kimia ditunjuk sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) untuk pengembangan bioetanol generasi kedua oleh Kemenristekdikti. Tentu dengan pengalaman dan capaian-capaian yang diperoleh sampai dengan saat ini, kami akan sangat senang apabila dapat berkolaborasi dengan PT. Rekind,” papar pria yang merupakan peneliti madya di P2 Kimia tersebut. Untuk memulai kegiatan diskusi, kemudian Prof. Yanni Sudiyani selaku koordinator kegiatan PUI Bioetanol Generasi Kedua memberikan gambaran umum tentang kegiatan penelitian bioetanol generasi deua di P2 Kimia. Lantas Yanni mengajak kolega dari PT. Rekind untuk melihat secara langsung pilot plant bioetanol generasi kedua yang dimiliki P2 Kimia. “Supaya diskusi lebih interaktif, saya persilakan kawan-kawan dari PT. Rekind untuk mengunjungi pilot plant bioetanol generasi kedua. Di sana nanti kita dapat berdiskusi lebih detail,” pinta wanita yang merupakan profesor riset di P2 Kimia tersebut. Selanjutnya rombongan dipandu oleh Yan Irawan menuju ke pilot plant bioetanol generasi kedua. Selepas kunjungan ke pilot plant bioetanol generasi kedua, sesi diskusi masih terus dilanjutkan antara perwakilan dari PT. Rekind dengan peneliti P2 Kimia. Dalam diskusi yang sangat hangat tersebut, diperoleh beberapa kesepakatan yang akan dituangkan dalam perjanjian kerjasama antara P2 Kimia dengan PT. Rekind. Menjelang istirahat siang, sesi diskusi diakhiri dan seluruh peserta melakukan sesi foto bersama. <sjw, p2k>

Baca

Prof. M. Hanafi dan Agus Haryono Terima Penghargaan Paten Terbanyak


25 Oktober 2017

(Liputan Peran Serta P2 Kimia LIPI di ISE2017 Bagian 5) [Berita P2 Kimia, Serpong] Di hari ketiga ISE 2017 (25/10), bertepatan dengan penyelenggaraan The 2nd Indonesia International Conference on Science and Technology Park dan Seminar Nasional Teknopreneurship dan Alih Teknologi, dua orang peneliti P2 Kimia diundang untuk menerima penghargaan. Dua orang peneliti tersebut adalah Prof. Dr. M. Hanafi dan Dr. Agus Haryono. “Selamat kepada dua orang peneliti ini atas capaiannya sebagai penemu invensi paten terbanyak se-Indonesia,“ ujar Plt. Kepala LIPI, Prof. Dr. Bambang Subiyanto, M.Sc. saat memberikan sambutannya. Professor Muhammad Hanafi adalah peneliti senior di bidang bahan alam, pangan dan farmasi di P2 Kimia LIPI yang sudah menghasilkan 27 paten, sementara Dr. Agus Haryono adalah peneliti bidang polimer sekaligus Kepala P2 Kimia LIPI dengan hasil paten sebanyak 23 buah. Di samping paten, keduanya juga telah menghasilkan banyak publikasi terindeks nasional dan internasional, buku dan kerjasama penelitian. Beberapa produk penelitian Prof. M. Hanafi diantaranya terkait obat anti diabetes, anti kardiovaskuler, anti hepatitis dan anti kolesterol seperti LIPIStatin. Sementara penelitian yang pernah dipatenkan Dr. Agus misalnya plasticizer (antara lain untuk kantong darah), adjuvan vaksin, marka jalan dan polimer biosida. "Penghargaan ini semakin memotivasi kami untuk semakin berkontribusi dalam mengembangkan iptek dan tentunya mendorong penerapannya di Indonesia," ujar Prof. M. Hanafi saat diwawancara seusai menerima penghargaan. Turut hadir dalam penganugerahan itu adalah Kepala Pusat Inovasi LIPI, Prof. Dr. Nurul Taufikurrahman dan Staf Ahli Kemenristekdikti, Ir. Hari Purwanto, M.Sc. Di samping, itu hadir pula sejumlah pembicara luar negeri yang mengisi acara konferensi internasional itu. Konferensi ini diselenggarakan oleh Pusat Inovasi LIPI sebagai rangkaian acara Indonesian Science Expo 2017. <aars/ p2 kimia>

Baca

Malam Puncak ISE 2017, Yenny dan Tim Terima Anugerah Alih Teknologi LIPI Award


25 Oktober 2017

(Liputan Peran Serta P2 Kimia LIPI di ISE2017 Bagian 4) [Berita P2 Kimia, Jakarta]. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan malam anugerah di acara puncak Indonesian Science Expo (ISE) 2017 yang diadakan Rabu sore hingga malam hari (25/10). Acara malam anugerah ini diisi dengan penganugerahan penghargaan terhadap industri pengembang inovasi, alih teknologi LIPI Awards, kompetisi ilmiah remaja, National Young Inventor Awards (NYIA), Indonesian Youth Science Fair (IYSF) 2017 dan Special Awards. Untuk kategori Alih Teknologi Awards, tim peneliti bidang polimer Pusat Penelitian Kimia LIPI yang dimotori Dr. Yenny Meliana, berhasil meraih penghargaan tersebut bersama dengan mitranya, Novan dari PT Nanotech Herbal Indonesia. Mereka mendapatkan penghargaan atas alih teknologi untuk krim anti selulit berbasis herbal. Di samping mereka, terdapat pula tiga pasang peneliti-industri lainnya yang dipanggil ke depan untuk menerima penghargaan di kategori yang sama. “Penghargaan ini membuktikan bahwa hasil penelitian LIPI mampu mendapatkan kepercayaan dari industri, “ ujar Yenny tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Yenny yang saat itu didampingi salah seorang anggota timnya, Melati Septiyanti, memang sudah cukup lama mengembangkan kosmetik berbahan baku pegagan tersebut. Kosmetik hasil temuan mereka bahkan sudah dipatenkan. Dan usaha mereka tidak sia-sia tatkala mitra industri tertarik mengembangkan produk mereka ke skala komersial. Usai penghargaan Alih Teknologi Award, acara pun dilanjutkan dengan anugerah untuk para remaja sekolah yang mengikuti kompetisi ilmiah remaja. Beberapa sekolah peserta lomba ini juga dibimbing oleh para peneliti P2 Kimia LIPI. Daftar pemenang lengkap dapat dilihat di website LIPI: http://lipi.go.id/berita/Selamat-Ini-Para-Pemenang-dan-Penerima-Anugerah-Penghargaan-di-ISE-2017/19288 <aars/ p2 kimia>

Baca

Memeriahkan Gelaran ISE 2017, P2 Kimia Suguhkan Talkshow Senjata Kimia


25 Oktober 2017

(Liputan Peran Serta P2 Kimia LIPI di ISE2017 Bagian 3) [Berita P2 Kimia, Jakarta] Rangkain Indonesia Science Expo (ISE) 2017 hari kedua, Selasa (24/10), P2 Kimia menghadirkan Talkshow Chemical Safety and Security. Talkshow bertema ‘An introduction of chemical weapons and its prevention’ tersebut menghadirkan tiga narasumber yaitu Wuri Wuryani, Ph.D, Kombes Pol. Drs. Andi Firdaus, dan Dr. Agus Haryono. Dimoderatori oleh Dr. Herry Yogaswara dari P2 Kependudukan LIPI, acara berlangsung dari pukul 15.00 sampai dengan 16.00. Pemaparan pertama disampaikan oleh Wuri Wuryani, wanita yang pernah berkarir sebagai peneliti di P2 Kimia dari 1982-2012. Wuri menyampaikan bagaimana dunia secara bersama-sama melalui Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons (OPCW) berusaha untuk melarang penggunaan senjata kimia dalam rangka menciptakan perdamaian. “Saya berkarir sebagai inspektur OPCW sejak 1999 hingga 2009. OPCW bersama dengan negara-negara di dunia bersepakat untuk melarang penggunaan senjata kimia. Tentunya Indonesia juga sudah melakukan ratifikasi terhadap konvensi pelarangan penggunaan senjata kimia atau disebut sebagai negara pihak”, terang Wuri dalam pembukaannya. Selanjutnya, Wuri memberikan penjelasan tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh sebuah negara pihak dalam komitmennya melakukan pelarangan penggunaan senjata kimia. Wuri juga memberikan motivasi kepada para hadirin yang sebagian besar merupakan generasi muda untuk dapat mengikuti kiprahnya dalam turut serta menjaga perdamaian dunia. Ditanya oleh moderator terkait suka-duka menjadi inspektur OPCW, wanita yang berkontribusi dalam peraihan penghargaan Nobel Perdamian yang diperoleh OPCW tahun 2014 itu menyampaikan kisahnya. “Terus terang tidak banyak wanita yang menjadi inspektur OPCW. Tentunya hal ini karena kami harus siap bertugas di daerah-daerah konflik. Bahkan kebanyakan diantaranya daerah yang tidak ada dalam peta. Suatu kali saya pernah dikirim ke daerah bekas Uni Soviet dimana suhu udara di sana sangat ekstrim hampir -34oC. Kami beranggotakan enam orang harus mampu bertahan di sana selama lebih-kurang enam minggu. Sebagai wanita yang secara fisik lebih lemah dari pria, pastinya kami memiliki tantangan tersendiri. Tetapi, sisi unggul dari wanita yaitu dalam hal diplomasi. Dari pengalaman saya, ketika diplomasi dengan suatu otoritas mentok, maka para inspektur wanita inilah yang dapat menyelesaikannya”, terang wanita yang memperoleh gelar doktornya di Inggris tersebut. Berikutnya sesi pemaparan disampaikan oleh Kombes Pol. Drs. Andi Firdaus. Pria yang merupakan Kepala Bidang Kimia dan Biologi di Puslabfor Bareskrim POLRI tersebut menjelaskan tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh POLRI dalam pencegahan penggunaan bahan kimia berbahaya untuk kejahatan. “POLRI sebagai salah satu institusi penegak hukum cukup konsen terhadap peredaran bahan kimia berbahaya. Meskipun otorisasi tersebut pada prinsipnya ada di kementrian teknis semisal Kemenperin dan Kemendag”, papar Andi. Lalu Andi memberikan gambaran tentang potensi penggunaan bahan sehari-hari untuk digunakan dalam kejahatan termasuk upaya pencegahan yang dilakukan oleh POLRI. “Berbicara potensi penyalahgunaan bahan kimia untuk kejahatan, kami pernah menemukan kasus dimana kejahatan dilakukan menggunakan bahan yang biasa digunakan sehari-hari. Tentunya kita mengenal bleaching atau pemutih. Bahan tersebut sangat mungkin untuk dimanfaatkan dalam aksi kejahatan karena kandungan klorinnya yang tinggi”, lanjut pria yang sehari-hari berkantor di Kalimalang tersebut. Pemaparan terakhir disampaikan oleh Agus Haryono. Agus selaku Kepala P2 Kimia menyampaikan tentang aspek-aspek keselamatan dan keamanan bekerja dengan bahan kimia. Agus menyampaikan bahwa kini kedua hal tersebut, yaitu keselamatan dan keamanan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. “Dahulu mungkin praktisi laboratorium lebih konsen kepada aspek keselamatan dalam berkerja menggunakan bahan kimia. Tetapi, semenjak banyaknya aksi kejahatan dengan menyalahgunakan penggunaan bahan kimia, sekarang aspek keamanan juga menjadi hal yang sangat diperhatikan. Keamanan (security) di sini dimaksudkan untuk menjamin bahwa bahan-bahan kimia, khususnya yang berbahaya terkendali dengan baik. Hal ini untuk memastikan bahwa bahan kimia tersebut tidak jatuh kepada orang yang tidak tepat. Sehingga potensi untuk disalah gunakan terminimalisir”, ungkap pria yang merupakan peneliti madya di P2 Kimia itu. Sebetulnya selama sesi pemaparan, Herry sebagai moderator memberikan kesempatan kepada peserta talkshow untuk menyampaikan pertanyaan. Antusiasme para peserta yang diantaranya merupakan mahasiswa, peneliti, siswa-siswi sekolah, termasuk perwira kepolisian dari BNPT sangat tinggi. Sehingga tanpa terasa, talkshow yang berlokasi di Stage A arena ISE 2017 di Balai Kartini tersebut telah berlalu hampir satu jam. Moderator pun menutup talkshow meskipun masih menyisakan beberapa hadirin yang ingin menyampaikan pertanyaan. Talkshow ditutup dengan pemberian cinderamata oleh Kepala P2 Kimia kepada narasumber dan moderator. <sjw/ p2k>

Baca

Hari Perdana ISE 2017, Minyak Atsiri dan Lotion Anti Selulit Jadi Primadona Science Show


23 Oktober 2017

(Liputan Peran Serta P2 Kimia LIPI di ISE2017 Bagian 2) [Berita P2 Kimia, Jakarta] Dalam rangkaian kegiatan Indonesian Science Expo (ISE) 2017, Science Show dirancang penyelenggara sebagai salah satu ajang penarik perhatian para pengujung terutama anak sekolah dan mitra industri. Bertempat di Balai Kartini, acara Science Show ISE 2017 diselenggarakan selama empat hari berturut–turut mulai 23 hingga 26 Oktober 2017. Pameran dan Science Show ini dapat dikatakan sebagai media sosialisasi yang bersifat umum untuk penjelasan teknologi yang telah dikembangkan LIPI selama 50 tahun mengabdi untuk negeri. Sementara sarana sosialisasi yang bersifat lebih ilmiah bagi akademisi dan komunitas ilmiah internasional memiliki ruangnya tersendiri dalam bentuk seminar imiah seperti International Symposium on Applied Chemistry (ISAC). P2 Kimia diberi kehormatan menjadi salah satu pengisi Science Show di hari perdana rangkaian acara ISE 2017. Proses ekstraksi minyak atsiri dan lotion anti selulit diusung sebagai teknologi tepat guna yang diperkenalkan P2 Kimia. Alat soxchlet atsiri yang dipajang di tengah panggung oleh peneliti muda P2 Kimia, Egi Agustian M.Eng, mengundang rasa ingin tahu pengujung untuk menyimak lebih lanjut. Dipandu oleh Ivan, acara Science Show menjadi lebih interaktif. Egi menjelaskan bahwa soxchlet adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengambil minyak atsiri dari suatu bahan alam di laboratorium. “Minyak atsiri itu sebenarnya apa sich kak Egi?” Tanya Ivan mewakili para penonton yang ternyata masih asing dengan kata atsiri. Egi menjelaskan bahwa minyak atsiri adalah bahan kimia yang mudah menguap yang terdapat di bagian bagian tumbuhan seperti bunga, daun, batang atau kulit kayu. “Bahan kimia ini bisa kita pindahkan dari bagian tumbuhan ke dalam zat cair tertentu lewat proses yang dinamakan ekstraksi sehingga diperoleh apa yang disebut minyak atsiri, “ terangnya. “Sederhananya, proses ekstraksi serupa dengan memisahkan tannin dari daun teh kering ke dalam air yang kemudian kita sebut sebagai minuman teh,” lanjutnya. Indonesia sebagai negara tropis yang kaya akan biodiversitas merupakan gudangnya tumbuhan yang memiliki minyak atsiri. Sebagian besar tumbuhan yang memiliki minyak atsiri lebih dikenal sebagai rempah. Maka sejatinya minyak atsiri pula lah yang mengundang negara kolonial jauh jauh datang ke Indonesia, untuk berdagang kemudian menjajah. Jika masyarakat Indonesia tidak menyadari kekayaan yang dimilikinya, bukan tidak mungkin minyak atsiri Indonesia memasuki jaman penjajahan gaya baru di mana proses ekstraksi dan pemasarannya dimonopoli oleh negara asing. Kuis-kuis seru digelar oleh Egi dan Ivan untuk menguji pengetahuan minyak atsiri pengunjung. Pengunjung diminta mencium beberapa botol berisi minyak atsiri lalu menebak dari tumbuhan apa minyak ini berasal. Para pengunjung yang berhasil menebak dengan benar mendapatkan cinderamata berupa sabun transparan beraroma minyak atsiri. Pengunjung semakin antusias mengikuti acara untuk mendapatkan sabun minyak atsiri. Sayembara pun diperluas menjadi tanya-jawab mengenai daerah di Indonesia yang memiliki banyak tumbuhan minyak atsiri tersebut. Ternyata banyak juga pengunjung yang tahu bahwa Aceh punya banyak nilam namun baru kali ini mencium minyak nilam. Sebaliknya, banyak yang langsung kenal aroma cengkeh tetapi baru tahu kalau Sulawesi memiliki kebun cengkeh yang luas. “Naah... Kalau cendana ada dimana?” tanya Egi kemudian. Sebagian menjawab Nusa Tenggara. “Salaah... Cendana adanya di Jakarta, rumah Pak Harto dulu”. Celetukan Ivan disambut gelak tawa para pengunjung. Peragaan kedua Science Show: Lotion Anti Selulit Melati Septiyanti S.T. M.T., peneliti muda lainnya dari P2 Kimia kemudian menyampaikan bahwa penggunaan minyak atsiri tidak hanya pada sabun transparan. Melati kemudian menjelaskan bagaimana membuat bahan dasar lotion sebagai salah satu media untuk menerapkan penggunaan minyak atsiri.  Misalnya saja minyak sereh wangi bisa digunakan sebagai campuran lotion untuk kemudian dijual sebagai lotion pengusir nyamuk. Namun kali ini, komponen aktif yang digunakan dalam lotion bukan minyak sereh, tetapi ekstrak daun pegagan. Lotion ekstrak daun pegagan telah teruji secara klinis mampu mengurangi selulit pada pada kulit. Masih berusaha memperkenalkan pegagan, Melati menampilkan foto daun pegagan. “Saya tadi melihat ada anjungan di pameran ini yang memamerkan daun pegagan. Siapa yang bisa mengambil foto daun pegagan dan menunjukkannya pada saya, akan mendapatkan hadiah lotion anti selulit“ kata Melati sambil menunjukkan lotion dalam kemasan cantik di tangannya. Pengunjung yang sebagian adalah siswa sekolah menengah langsung berlarian berkeliling mencari pohon pegagan yang dimaksud. “Selulit itu biasa juga disebut stretch mark, begitu khan kak Melati?” tanya Ivan menggali penjelasan. Setelah diamini Melati, Ivan lebih yakin dalam menjelaskan lebih lanjut apa itu selulit. “Jadi biasanya, saat kulit kita tertarik lalu dikembalikan ke keadaan awal, misalnya dulunya gemuk lalu sekarang kurus, seperti ibu-ibu yang hamil lalu melahirkan, maka permukaan kulit tidak lagi semulus sebelum tertarik, “ terangnya. Selulit tidak hanya pada perempuan. Selulit juga bisa terjadi pada laki-laki misalnya yang sering melakukan olah raga seperti push-up. Di bagian pangkal lengan juga bisa terbentuk kerutan kerutan selulit. Karena itu mengapa binaragawan melaburi kulitnya dengan minyak sebelum bertanding. Dibantu Sri Harmami, asisten peneliti, Melati kemudian menunjukkan bahwa meracik lotion bisa dilakukan menggunakan alat-alat rumah tangga sederhana. Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan antara tiga komponen utama, air, minyak, dan komponen yang menjaga air dan minyak tetap stabil dalam campuran emulsi yang dinamakan surfaktan. Pencampuran bisa dilakukan dengan pengaduk listrik (mixer) rumah tangga. Semakin kencang putarannya maka semakin kecil partikel koloid dalam emulsi sehingga semakin mudah menyelusup ke dalam pori kulit. Di laboratorium, Melati menggunakan kecepatan putar 10.000 rpm sehingga ukuran partikel koloid yang diperoleh sepersejuta meter, yang dikenal dengan nanoemulsi. Kemeriahan Science Show diakhiri dengan pembagian lotion yang diracik di atas panggung. Para pengunjung terlihat antusias untuk memperoleh lotion anti selulit. Melalui sabun transparan dan lotion anti selulit, semoga pesan utama dari kedua produk P2 Kimia ini sampai ke rumah dan hati para pengunjung. Bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang menunggu keberanian rakyatnya untuk memanfaatkannya demi meningkatkan kesejahteraan karena ternyata teknologi dan peralatan yang diperlukan bisa dikuasai oleh anak bangsa. Semoga. <TBB /p2k>

Baca

Melalui Kegiatan 'The 3rd ISAC 2017', P2 Kimia Promosikan Kerjasama Internasional


23 Oktober 2017

(Liputan Peran Serta P2 Kimia LIPI di ISE2017 Bagian 1) [Berita P2 Kimia, Jakarta] Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar perhelatan akbar Indonesia Science Expo (ISE) 2017. ISE 2017 dimulai Senin (23/10) di Balai Kartini Jakarta, dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Menko PMK, Puan Maharani dalam sambutan pembukaan mengatakan, saat ini pembangunan infrastruktur akan lebih baik apabila didukung riset inovatif.  “Bisa dibayangkan riset yang inovatif dan kreatif bisa dilakukan apabila ada wadah yang tepat untuk menyetimulasinya sehingga Iptek kita bisa maju,” katanya. Menurutnya lagi, ajang ISE bisa menjadi wadah untuk pemanfaatan Iptek ini. ISE mampu menghadirkan berbagai kalangan mulai dari industri, ilmuwan, swasta, pemerintah hingga pemangku kepentingan lainnya untuk bertemu dan bersinergi dalam pembangunan nasional. Selain berisi kegiatan pameran sains dan teknologi, ISE 2017 juga menyelenggarakan berbagai seminar dan simposium ilmiah, talkshow, science show, temu bisnis, serta pemberian berbagai penghargaan kepada pelaku Iptek. Sebagai satuan kerja dari LIPI, P2 Kimia ambil bagian dengan menyelenggarakan The 3rd International Symposium on Applied Chemistry (ISAC) 2017. ISAC 2017 ini memfasilitasi berbagi gagasan dan pengalaman penelitian terkini dan aplikasinya di bidang terkait kimia, serta untuk mempromosikan kerja sama internasional antar peserta. Peneliti, dosen, mahasiswa, praktisi industri dan perwakilan instansi pemerintah berpartisipasi dalam acara ini sebagai pemakalah maupun peserta. Kegiatan yang berlangsung di Balai Kartini Senin-Selasa (23-24/10) tersebut menghadirkan pembicara kunci diantaranya Prof. Dr. David Lennon (University of Glasgow, United Kingdom), Prof. Dr. Hisao Kokusen (Tokyo Gakugei University, Jepang), Dr. Ir. Syahrul Aiman (P2 Kimia LIPI), Prof. Dr. Silvester Tursiloadi (P2 Kimia LIPI), Prof. Dr. Ing. Misri Gozan, M.Tech (Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia), Prof. Dr. Karna Wijaya (Departemen Kimia UGM), Prof. Dr. Joachim Wink (Helmholtz Centre for Infection Research, Jerman). Ditemui usai sesi pembukaan, Dr. Adep Dwiatmoko selaku ketua panitia ISAC 2017 mengungkapkan bahwa kegiatan tahunan yang sudah dimulai sejak 2015 lalu selalu mengundang antusiasme yang tinggi. “Saya sangat senang bahwa antusiasme dari kolega-kolega sangat tinggi untuk berpartisipasi dalam ISAC. Tercatat selalu lebih dari seratus peserta berpartisipasi sejak pertama kali diselenggarakan di Bandung 2015 lalu. Hal ini tentunya tidak terlepas dari upaya kami untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan simposium ini dari tahun ke tahun”, ungkap Adep yang merupakan salah satu peneliti muda di P2 Kimia tersebut. “Selain itu, pada kesempatan tahun ini, ISAC juga dilengkapi dengan workshop terkait karakterisasi material dan analisis kimia yang akan diselenggarakan di laboratorium kami di Serpong pada 25 Oktober mendatang. Ini merupakan salah satu bentuk peningkatan yang kami lakukan”, lanjut Adep memberikan penjelasan. Makalah yang dipresentasikan oleh peserta dalam ISAC 2017 selanjutnya akan dipublikasikan dalam American Institute of Physic (AIP) Conference Proceeding, sebuah prosiding terindeks Scopus. Lebih dari itu, beberapa makalah terpilih akan dipublikasikan dalam International Journal on Advance Science, Engineering and Information Technology (IJASEIT), Chemistry and Chemical Technology (ChemChem Technol), serta Communications in Science and Technology (CIST). Dikutip dari situs resmi The 3rd International Symposium on Applied Chemistry (ISAC) 2017, tercatat sebanyak 186 orang mendaftar dalam simposium yang bertemakan 'Advances in suistainable energy and chemical feedstocks' tersebut. Adapun sejumlah 97 peserta mempresentasikan makalah secara oral, sedangkan 59 peserta mempresentasikan makalah dalam bentuk poster. Topik-topik yang dipresentasikan oleh pemakalah meliputi food science/technology, organic chemistry, analytical chemistry, inorganic chemistry, material chemistry, environmental chemistry, green chemistry, medicinal chemistry, chemical biology, biochemistry, chemical engineering, electrochemistry, computational chemistry, dan physical Chemistry. <sjw/ p2k>

Baca

Pusat Penelitian Kimia Selenggarakan International Workshop on Biomass for Biofuels


19 Oktober 2017

Bahan bakar nabati (BBN) dianggap memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi karena menggunakan bahan baku limbah pertanian dan kehutanan. BBN ini juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mampu mengeliminasi emisi gas penyebab efek rumah kaca. [Berita P2 Kimia, Serpong] Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia melalui peraturan No. 12 tahun 2015 telah menetapkan bahwa pemanfaatan bahan bakar nabati atau biofules yaitu biodiesel, bioetanol, khususnya bioetanol (E100) sebagai campuran bahan bakar minyak di tahun 2020 pada berbagai jenis sektor yang terdiri dari usaha mikro, usaha perikanan, usaha pertanian, transportasi dan pelayanan umum (PSO), transportasi non PSO dan Industri dan komersial adalah masing-masing sebanyak 20%. Hal ini meningkatkan gairah dan animo peneliti dan pelaku industri di bidang bahan bakar nabati untuk lebih mempercepat implementasi penggunaan bioetanol, salah satunya sebagai bahan bakar nabati. Prof. Dr. Yanni Sudiyani, Peneliti Utama Bioetanol Biomassa Lignoselulosa dari Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengungkapkan bahwa peningkatan penggunaan bahan bakar nabati (BBN) di Indonesia yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah memperlihatkan dukungan dan keseriusan pemerintah yang begitu besar terhadap pemanfaatan bahan bakar nabati di Indonesia.     “Pada saat ini, biofuels khususnya biodiesel dan bioetanol memang menjadi primadona. Orang-orang sudah mulai concern terhadap lingkungan. Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Kandungan oksigen yang tinggi (35 %), emisi gas karbon monoksidanya juga lebih rendah 19-25 % sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer”, ungkap wanita yang merupakan profesor riset tersebut.    Melimpahnya biomassa, khususnya lignoselulosa di Indonesia membuka kesempatan besar terwujudnya bahan bakar yang lebih cost-effective. Karena bahan bakunya bioetanol generasi dua ini adalah limbah pertanian dan kehutanan yang nota bene adalah sampah.  Berbeda dengan bioetanol generasi satu yang dihasilkan dari pati yang terdapat dalam bahan pangan, bioetanol generasi dua dari lignoselulosa tidak akan menyebabkan krisis harga bahan baku. Walaupun memang teknologi proses bioetanol generasi satu lebih mudah dan murah karena tidak memerlukan perlakuan awal. Struktur lignoselulosa yang kompleks memerlukan perlakuan awal yang cukup sulit dan tidak murah. Pusat penelitian Kimia LIPI sedang mengembangkan teknologi kilang hayati (Biorefinery) dengan cara memanfaatkan limbah produksi menjadi bahan kimia adi dengan nilai tambah (added value). Dengan teknologi ini, diharapkan dapat menekan biaya produksi seminimal mungkin.  Sejak tahun 2011, dengan menggunakan Pilot Plant berkapasitas 10 liter/hari, Pusat Penelitian Kimia sudah berhasil memproduksi bioetanol kemurnian tinggi sebesar 99,5%. Kemudian mulai 2017 ini, Kementerian RISTEK DIKTI menunjuk Pusat Penelitian Kimia sebagai Pusat Unggulan IPTEK (PUI) Bioetanol Genereasi Dua. Pusat Penelitian Kimia bekerjasama dengan Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri (PPBBI) dan dukungan dari Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menyelenggarakan International Workshop on Biomass for Biofuels dengan tema “Future Prospects of Biomass Towards Sustainable Energy”. Workshop diselenggarakan selama dua hari dari Kamis sampai Jumat (19–20/10/2017) di Gedung Graha Widya Bakti PUSPIPTEK dan Pusat Penelitian Kimia. Kegiatan yang diikuti oleh peserta dari kalangan peneliti, akademisi dan pelaku industri tersebut berisi lecture dari para pakar biofuel, salah satunya adalah Prof. M. J. Taherzadeh dari University of Boras, Swedia. Pembicara kunci lainnya yaitu Prof. Yutaka Nakashima dari Hiroshima University-Jepang, Dr. Paripok Phitsuwan dari King Mongkut's University-Thailand,  Ir. Rida Mulyana, M.Sc. dari Kementrian ESDM, Prof. Dr. Ir. Erliza Hambali dari IPB, Dr. Tito Prakoso dari ITB, Dr. Haznan Abimanyu dan Dr. Edi Wiloso dari Pusat Penelitian Kimia. Untuk lebih mengenalkan kegiatan penelitian pengembangan biofuel di Pusat Penelitian Kimia, dilakukan juga demo pilot plant untuk memproduksi bioetanol dari tandan kosong kelapa sawit. Tidak hanya untuk memperkenalkan prospek teknologi bioenergi dari biomassa lignoselulosa, workshop ini diharapkan menjadi ajang pertemuan para akademisi, peneliti dan pelaku industri dalam dan luar negeri untuk saling sharing informasi dan berkolaborasi dalam pengembangan teknologi produksi biofuels di masa yang akan datang. <db/ p2k>

Baca

Inisiasi Kolaborasi Riset, Staf Pengajar King Mongkut’s University Thailand Kunjungi P2 Kimia


18 Oktober 2017

[Berita P2 Kimia, Serpong] Selasa (17/10), P2 Kimia mendapat kunjungan dari Dr. Paripok Phitsuwan staf pengajar King Mongkut’s Univeristy of Technology Thonburi (KMUTT) Thailand. Paripok merupakan staf di School of Bioresources and Technology KMUTT. Kunjungan tersebut dalam rangka inisiasi kerjasama pengembangan bioetanol berbasis lignin. Disambut oleh Dr. Arthur Lelono selaku Plh. Kepala P2 Kimia, acara berlangsung di Ruang Rapat Lt. 1 P2 Kimia. Hadir dalam pertemuan tersebut diantaranya Prof. Dr. Yani Sudiyani, Dr. Haznan Abimanyu, Feni Amriani, Muryanto, dan beberapa staf peneliti P2 Kimia lainnya. “Selamat datang di P2 Kimia kepada Dr. Paripok Phitsuwan. Merupakan sebuah kehormatan bagi kami atas kunjungan ini. Kami harapkan ke depan kedua institusi dapat melakukan kerjasama yang erat. Saya yakin banyak hal yang dapat kita lakukan bersama bukan hanya terbatas pada pengembangan bioetanol saja,” buka Arthur mengawali acara pagi itu. Selanjutnya Arthur memaparkan gambaran umum tentang P2 Kimia. Dalam presentasinya, pria yang juga merupakan peneliti kimia bahan alam tersebut menekankan tentang kegiatan apa saja yang sudah dilakukan oleh P2 Kimia dalam pengembangan energi alternatif. Selain itu, Arthur juga memaparkan tentang kegiatan-kegitan lain di P2 Kimia yang dilakukan oleh kelompok-kelompok penelitian. “Kami telah bekerjasama dengan KIST Korea dalam pengembangan bioetanol generasi 2. Silakan nanti bersama dengan rekan-rekan peneliti kami Dr. Paripok dapat mengunjungi pilot plan. Tentunya juga melihat fasilitas kami lainnya,” ujar Arthur kepada Paripok. Untuk mengetahui  School of Bioresources and Technology KMUTT, kemudian Paripok dipersilakan memberikan pemaparannya. Dalam presentasinya Paripok menjelaskan kegiatan-kegiatan penelitian apa saja yang menjadi konsen di School of Bioresources and Technology khususnya. Pria yang memiliki fokus penelitian dalam pengembangan bioetanol tersebut menyampaikan bahwa dia bersama dengan rekan-rekannya sangat antusias untuk dapat berkolaborasi dengan P2 Kimia. “Dekan kami saat ini memang sangat aktif untuk dapat berkolaborasi dengan Indonesia. Dalam satu tahun ini, beliau sudah tiga kali berkunjung ke Indonesia khususnya ke kampus-kampus. Selain untuk menawarkan peluang studi di KMUTT, kami juga sangat tertarik untuk dapat melakukan penelitian bersama dengan kolega-kolega peneliti di sini. Saya sangat tertarik dengan P2 Kimia sebab ternyata kita memiliki salah satu fokus penelitian yang sama,” ungkap Paripok dalam sesi presentasinya. Lalu Paripok memberikan penjelasan secara lebih rinci tentang penelitian apa saja yang sudah dilakukannya bersama dengan tim di Thailand. Diskusi berlangsung hangat antara kedua belah pihak. Nampak Prof. Yanni Sudiyani dan tim begitu antusias untuk menggali potensi-potensi yang dapat disinergikan antara kelompok penelitiannya dengan kelompok penelitian Paripok. Begitu juga dengan Dr. Haznan Abimanyu selaku koordinator kelompok penelitian biomassa dan kimia lingkungan di P2 Kimia. Sehingga tanpa terasa waktu istirahat siang telah tiba. Setelah istirahat dan makan siang, Paripok dipersilakan untuk melihat fasilitas-fasilitas yang ada di P2 Kimia. Dipandu oleh Feni Amriani, peneliti bidang biomassa di P2 Kimia, kunjungan dimulai dari pilot plan bioetanol. Berikutnya, Feni mengajak Paripok untuk berkunjung ke fasilitas lain diantaranya laboratorium pengujian. Mengakhiri acara kunjungan tersebut, dilakukan foto bersama di depan lobi P2 Kimia. <sjw/ p2k>

Baca
ZONA INTEGRITAS